Tapi . Tiap labirin punya celah untuk di tembus , maupun ruang kosong yang longgar di atasnya . Dan , ketika kau bisa terbang atau mungkin ada seorang malaikat mengangkatmu , kau bisa lebih cepat sampai di sana .

Mileina .

Dia menemukanku .

Aku menemukannya .

Sama saja , semua begitu berbeda dan sedikit absurd ketika aku berjumpa dengannya .

Kali ini aku berada di dalam ruang penjara itu berdua bersamanya . Seorang lelaki all-American blonde dengan guratan-guratan yang cukup besar di sekitar matanya , menutupi rona mata hijaunya yang ada bagaikan rumput yang ada di padang stepa . Gabungan antara singa jantan yang mencari mangsanya dan oase yang terkena cahaya matahari dan pepohonan yang begitu menenangkan . Ia berambut pirang dan bertubuh tinggi dan agak kurus .

Graham Acre atau Mr. Bushido . Apapun namanya , ia sekarang sedang duduk di depanku , dengan bersila . Aku lebih senang memanggilnya dad , tak peduli siapa namanya . Ia sedang tersenyum di depanku . Ia belum bicara apapun sejak ia melepas pelukannya .

Ia mengamatiku yang pastinya , sama seperti aku mengamati dia .

"Matamu , mirip ibumu ya…" Kata Dad padaku dengan telunjuk dan mengarah ke mataku .

"Tapi , kulitmu dan hidungmu mirip aku.." Sebelum aku siap untuk berbicara , dad kembali berbicara .

"Iya , Mileina juga punya rahang Dad" Aku mulai berbicara .

"Mirip ya dengan suara ibumu" Katanya padaku dengan tutur kata yang lembut .

"Hah? Sebenarnya …Mileina belum pernah bertemu dia" Aku pernah berpapasan dengannya , tapi aku tak pernah berbicara dengannya .

"Dia…" Dad menghentikan kata-katanya . Membuatku semakin penasaran tentang wanita itu .

"Dia kenapa? Mileina benar-benar tidak tahu sama sekali tentangnya!" Aku tau sedikit , cuma penampilannya saja .

"Sudahlah…Yang pasti dia bukan seorang wanita yang keibuan , ataupun wanita yang kauharapkan…" Katanya padaku . Sepertinya ia ingin menjauhkanku dari wanita itu , meyakinkanku layaknya wanita itu adalah wanita yang jahat . Tapi , bagaimanapun juga dia ibuku , aku yakin dia masih punya hati .

"Boleh aku tahu penampilan fisiknya saja???Please…" Kuakhiri kata-kataku dengan wajah memelas .

"Dia brunette dengan mata ungu , sepertimu … Ia … kalau tidak salah dia pernah bilang ke Dad tingginya 160-an centi meter . Ia juga punya rambut sepertimu , roll yang besar-besar" Dad berkata padaku dengan senyum kecilnya .

Tapi , ia kembali melihat jam . Lalu ,ia kembali menggunakan topengnya dan coat merahnya .

"Mileina , aku akan usahakan supaya kamu bisa keluar dari sini , secepatnya" Kata Dad padaku .

"Dad.."

Ia keluar dari tempat itu , sedikit menoleh padaku . Lalu ia melanjutkan tapakan kakinya keluar dari tempat itu dengan wajah yang serius ,layaknya detik-detik pertama ia masuk ke dalam ruangan penjara ini .

Ia sepertinya pria yang baik . Aku sadar bahwa ia masih muda sekali dan sepertinya ia sangat menyayangiku . Ia menatapku bagaikan aku adalah sesuatu yang sangat indah , sebuah berkat baginya .

Tetapi , setelah dia keluar . Aku kembali ke dalam kesepian , di dalam penjara yang suram dan mengerikan ini . Begitu dingin , aku hanya bisa berbaring di ranjang kapuk ini.

Dad , selamatkan aku ya…

------------------------------------------------------------------------------------------

Laki-laki pirang itu berjalan ke kepala penjara itu , mengagetkan kepala penjara yang ngantuk itu .

"Heeem… Kenapa Mr. Bushido?" Tanya kepala penjara itu . Semua menghormati Mr. Bushido , tidak ada yang berani padanya .

"Aku butuh bantuanmu" Kata laki-laki pirang itu , ia membisikkan sesuatu di telinga kepala penjara itu .

"Anak itu tahanan khusus . Tak mungkin ku bebaskan begitu saja , kecuali jika aku mendapat izin dari kolonel Manequinn!" Kata kepala penjara itu .

"Oh , jadi wanita itu kuncinya?" Pria pirang itu menanyakan untuk penjelasan lebih jelas lagi sambil melipat kedua tangannya .

Pria kulit hitam itu hanya mengiyakan . Lalu pria pirang itu pergi meninggalkan kepala penjara itu , bergerak menuju tempat sahabat terbaiknya di situ .

Graham

Bagaimanapun juga aku harus dapat anak itu! Akan kuperjuangkan sampai titik darah penghabisanku .

Tapi , Kati Mannequinn , aku butuh dia . Wanita itu . Dia orang yang strict , pasti agak sulit untuk meraihnya , ditambah lagi dengan jadwal kerjanya yang padat , membuatnya sulit di temui . Ia juga tidak berada di headquarter sekarang .

Aku yakin aku akan butuh beberapa langkah untuk meraihnya .

Billy Katagiri . Semenjak dia teman baikku dan orang yang dahulu 1 kuliah dengan Manequinn , aku yakin dia bisa di gunakan untuk meraih wanita itu .

Aku langsung pergi ke Billy Katagiri setelah dari penjara itu . Masuk ke ruang lab itu tanpa memberikan tanda apapun .

"Billy , aku tidak bisa mengeluarkan anak itu" Aku bersender di tembok sambil mengatakannya .

"Jadi , benar Milei..na Vashti itu anakmu?" Tanya Billy yang sedikit lupa nama anakku dan mengambilkan kopi untukku dan untuknya .

Aku hanya bisa mengangguk . Aku membuka topengku . Topeng ini agak basah , karena tangisanku tadi , tidak baik kalau ku pakai terus .

"Graham…Aku tidak menyangka ada kisah sepertimu dalam sejarah hidupmu" Billy membuang nafasnya . Ia mengatakanya sambil mengeluarkan file-file tentang aku dan Mileina .

"Aku tidak butuh file-file itu" Kataku padanya , aku tahu dia berusaha membantuku . Tapi , itu tidak penting . Yang penting adalah bagaimana mendapat rasa iba Kati Manequinn .

"Ya sudah …Aku rasa kau ke sini bukan karena masalah Masurao" Billy memang teman baikku yang pandai . Ia begitu pandai dalam menebakku .

"Aku ke sini karena anakku . Aku butuh izin Kati Manequinn untuk mengeluarkannya" Aku bilang dengan singkat, jelas dan padat .

"Kati Manequinn ? Aku bisa bujuk dia … Itu masalah kecil" Laki-laki itu tampak meyakinkan buatku . Tapi , tetap saja .


"Kamu yakin? Tapi , Kati Manequinn sekarang agak sulit di temui"
Anak itu harus kudapatkan dengan berbagai cara .

"Mau di coba tidak?" Lelaki itu menaikkan nada bicaranya , seakan mengatakan bahwa aku tidak percaya padanya .

Aku menyetujuinya , ketika ia menelepon Kati Manequinn . Sepertinya Kati tidak setuju dengan hal ini , ia mendengar hal ini layaknya mendengar bahwa aku adalah pengkhianat .

"Nanti kupikiran …" Itu kata penutup yang diucapkan wanita itu dengan tidak menyenangkan .

"Billy , kamu bilang saja kalau kamu mau pinjam anak itu untuk penelitianmu" Aku tiba-tiba seperti mendapatkan ide dari iblis , si bapa pendusta.

"Kalau itu sih , aku bilang sama penjaganya saja aku sudah dapat izin seminggu atas dia , Graham" Katanya padaku , dengan santai layaknya seorang teman baik .

"Ya sudah . Paling tidak aku jadi punya waktu seminggu untuk terus bertemu dia"

Alasan yang sangat simple dan kepala penjara yang begitu bodoh . Padahal yang perlu di teliti hanyalah sel darahnya saja , itu sudah cukup banyak info yang bisa di dapat . Atau mungkin sel tulangnya .

Dengan mudah aku bisa mendapatkan Mileina-ku . Putriku satu-satunya . Berkat terindah yang pernah di berikan kepadaku . Hal terbaik yang pernah terjadi di hidupku .

Mileina tapi harus tinggal diam di laboratorium pribadi Billy dan agak sulit , memang .

Tapi , paling tidak aku bisa mengunjunginya setiap hari dalam 1 minggu itu .

Mileina

"Kamu mau di teliti oleh Prof. Billy Katagiri" Kata penjaga penjara itu padaku , ia menarikku keluar dengan tangannya yang hitam dan besar . Tapi , di sebelah Billy Katagiri , ada Dad , meskipun dengan topeng , aku masih bisa melihat matanya yang begitu bahagia melihatku , meskipun dia tidak menunjukan banyak ekspresi .

Lelaki berambut panjang yang di sebut Prof. Billy Katagiri itu menarikku dengan lembut , meskipun tangannya cukup kuat .

Ia membawaku ke sebuah tempat , yang penuh dengan computer dan peralatan laboratorium . Bau alcohol dan bau gosong menyengat hidungku . Aku kurang nyaman berada di sana , di sana begitu banyak hal-hal sains yang tak kumengerti .

Dad mempersilahkan aku duduk di bangku kecil yang sudah di sediakannya . Ia menatapku sebentar tanpa berbicara apapun , tanpa berbicara sepatah katapun . Ia berhenti menatapku ketika aku melihatnya kembali dengan tatapan aneh .

"Banyak sekali hal-hal yang ada di kamu yang mengingatkan aku dengan Serena" Katanya padaku dengan mata yang berbinar-binar .

"Serena?Siapa Serena?" Aku bertanya padanya ketika ia menyebutkan nama wanita itu .

"Ibumu . Bukan , wanita yang melahirkan anakku ." Dad menceritakannya layaknya ia benci dengan Serena , atau mungkin lebih tepatnya ku panggil Mom .

"Aku masih ingat sekali kenangan-kenanganku bersamanya …" Dad berkata seakan Serena wanita yang jahat , tapi ia begitu tak terlupakan .

FLASHBACK IN GRAHAM POV :

Hari itu hari sabtu malam . Aku masih ingat sekali kalau DESMONE club New York mengadakan pesta ulang tahunnya dan aku yang masih begitu awamnya dan polosnya bisa masuk ke klub itu karena di temani oleh anggota yang lebih tua , si Kapten Miller .

Kapten Miller bilang kalau aku bisa kehilangan keperjakaanku hari itu juga , karena di kelab itu banyak sekali godaannya . DESMONE bukan kelab malam yang mahal , bisa di bilang DESMONE cumalah sebuah kelab malam dengan sedikit servis rumah bordil , yang dikemas dengan rapi dan baik . Dengan lampu yang gemerlap dan musik dengan remix yang benar-benar tidak keren sama sekali , DESMONE mampu memikat pelanggan-pelanggannya dengan pelacur-pelacur yang cantik dan terselubung .

Tetapi , aku kehilangan keperjakaanku bukan karena pelacur-pelacur itu , keperjakaanku hilang karena seorang wanita muda , yang sangat cantik . Aku masih ingat bau parfum dengan musk yang begitu kuat , tubuh langsing berisi yang di balut dress ketat selutut berwarna shocking pink dan sepatu hak tinggi lancip berwarna hitam yang di pakainya . Rambutnya tergerai panjang dengan indah rambutnya bergelombang – gelombang , ditambah dengan mata ungunya yang begitu memikat .

Ia menghampiriku dan membelikanku segelas martini dan dari bagaimana ia mengigit buah Cherry itu dan menunjukkan leher jenjangnya aku benar-benar terpana , aku tak bisa melepas pandanganku ketika aku melihat leher dan bahu wanita muda itu .

Ia berjalan mendekat ke aku dan membisikkan di telingaku .

"Namamu siapa ?" Ia bertanya padaku dan hal itu begitu kuat sehingga bisa membuatku salah tingkah .

"Graham .... Graham Acre" Aku mengatakannya tanpa cara-cara yang di sebut seksi atau apapun juga .

"Di sini terlalu berisik , seharusnya kita keluar ke kafe dekat sini untuk berbicara"

Wanita itu terlihat begitu cantik di bawah sinar rembulan yang sangat terang malam itu .

Ia mengajakku ke taman yang terletak di belakang kelab itu . Taman yang sudah usang dan tua . Hanya ada jungkat-jungkit dan ayunan , dengan tanaman merambat di taman itu .

"Kamu kaget yah? kalau di belakang sebuah kelab malam ada taman?" Tanya wanita itu bagaikan anak kecil yang wicked . Matanya bersinar , meskipun itu berwarna ungu , mirip dengan mawar ungu yang ada di taman itu .

"Namaku Serena , Serena Jenkins" Kami berkenalan seperti anak kecil yang baru berkenalan , ia menyalami tanganku .

Wanita itu duduk di ayunan yang ada , dan dengan tangannya ia memberi tanda agar aku duduk di ayunan di sampingnya .

"Namamu siapa?" Aku tak tahan untuk tidak menatap wajahnya yang cantik dan matanya itu .

"Graham , Graham Acre" Pertama kalinya aku tidak percaya diri memberitahukan namaku . Aku tergagap-gagap melihatnya .

Tapi , perlahan-lahan Serena membuatku nyaman berada bersamanya . Ia berbicara banyak hal , tapi tetap bisa mengeluarkan aura misteriusnya .

Aku jatuh cinta pada Serena Jenkins .

Saat itu umurku baru 16 tahun dan hal itu sangat gila . Hampir setiap hari , aku berusaha untuk menemuinya .

Ia memberikanku kebahagiaan yang sangat passionate . Memilikinya bagaikan memiliki kupu-kupu yang sangat langka . Bahasa yang ia gunakan begitu memikat , indah dan puitis . Meskipun ia kadang-kadang menyumpah di depanku .

Juga , kepada wanita itu , aku menyerahkan keperjakaanku . Dia juga adalah pacar pertamaku , juga orang yang menimbulkan trauma mendalam padaku .

Serena bukan wanita yang baik . Aku tahu itu dari pertama kali menyatakan pada dunia bahwa kami 'jadian' . Ia memang lebih tua dari aku , ia berbeda 3 tahun dariku . Tapi , aku menikmati berpacaran dengan wanita yang lebih tua , aku menikmati bagaimana ia memanjakanku dan menganggapku sebagai anak kecil yang butuh perhatian .

Serena itu wicked . Ia termasuk orang yang egois . Ia akan mengeyampingkan segala hal yang merugikannya . Saat itu pula aku sadar bahwa ia hanya mempermainkanku .

Serena bukan datang dari keluarga miskin . Ia datang dari keluarga berkecukupan , berbeda denganku . Seorang yatim piatu dan juga seorang anak yang adopsi sekolah militer .

Aku masih ingat sekali hari itu , ketika kita sedang berbicara di kafe sambil makan donat dan kopi .

"Graham , kamu tahu kan aku hamil?" Ia berkata dengan santainya padaku . Sementara aku sangat terkejut mendengarnya .

"Kamu bercanda, Ya?" Aku sangat luar biasa terkejut .

"Memang kenapa ?" Katanya padaku , bertanya dengan santainya .

"Sebenarnya aku ingin kita putus …" Ia membuatku 2 kali terkejut . Dia benar-benar gila .

"Lalu , bayi yang ada di rahimmu itu?" Tanyaku padanya , membuatnya berhenti menyedot kopi yang di minumnya .

"Iya . Aku akan mengugurkannya , gampang kan?" Pernyataannya membuatku terkejut .

"Kamu tidak ada rasa kasihan sama janin yang ada di kandunganmu?" Aku tidak ingin dia menggugurkan bayi itu . Bagaimanapun juga bayi itu anakku , darah dagingku .

"Jangan naïf , deh ! Aku sudah sekitar 4 kali menggugurkan kandungan . Daripada bayi ini harus lahir? " Serena mengatakannya dengan sangat-sangat menyebalkan .

Aku benar-benar ingin menamparnya .

Aku menarik tangannya untuk keluar sebentar ke daerah lorong sepi di samping kafe itu .

"Lepaskan!" Serena menarik tangannya dari aku.

"Plak!" Pipi Serena memerah karena tamparanku .

"Bayi itu anakku" Aku tidak berteriak padanya , aku mengatakannya dengan datar . Tapi , aku benar-benar tak bisa mengizinkan Serena menggugurkan bayi itu .

"Plak!" Serena balik menamparku .

"Kamu harus ingat! Ini semua menyangkut masa depan kita .

Satu , kita masih remaja dan aku ingin masa depan yang baik .

Kedua , kita tidak bisa merawatnya . Jujur , kalau sampai bayi itu lahir , aku tak mau merawatnya .

Ketiga , kamu seorang tentara , ORANG MILITER . Kamu pasti jarang pulang dan bisa merawat anak itu" Ia mengatakannya dengan baik-baik , tenang dan dari matanya tersirat ketenangan tapi juga keseriusan . Ia benar-benar serius mengenai hal ini .

Aku menyerah . Bayi itu tak mungkin kupertahankan . Aku benar-benar minta maaf . anakku . Aku benar-benar tak akan bisa merawatnya . Tapi ,aku tidak mau anak itu menjadi anak yatim piatu seperti aku .

Minggu berikutnya , dengan berani aku menyerahkan diriku pada ayah Serena .

Ia menamparku sampai aku terjatuh . Ia seperti mau membunuhku . Sampai akhirnya Serena mendapatkan ide untuk memberikan bayi itu ke orang lain setelah bayi itu lahir .

Aku dan Serena menjadi sangat sibuk seketika . Aku orang yang lumayan perfeksionis dan aku sayang anak itu . Aku harus mencarikan orang tua yang terbaik untuk anak itu.

Bob dan Carrie Jules. Pasangan Amerika biasa , mereka tinggal di New York .

Tyler dan Jessica Smith . Pasangan Amerika yang sebentar lagi akan pergi ke Sierra Leone , Afrika .

Al dan Clementine Lovette . Mereka memang bukan orang Amerika . Tapi , mereka termasuk keluarga kaya yang sepertinya bisa menjamin bayi itu dengan baik .

Pilihan kami jatuh ke Bob dan Carrie Jules . Mereka keluarga yang simpel dan berkecukupan . Aku merasa bayi itu bisa tumbuh dengan tenang dengan keluarga seperti itu .

Pada bulan ke sembilan , Serena melahirkan . Tapi , sialnya Bob dan Carrie Jules membatalkan transaksi kita , karena Carrie hamil oleh bayi tabung . Shit!

Tapi , bayi yang kuberi nama Mileina itu memberiku pencerahan dari kegilaan dalam 1 hari itu. Di antara kecemasanku tentang hidup bayi ini dan erat hubungannya dengan orang tua asuh Mileina .

Pertama kali aku melihatnya di ruang bayi , tangisannya seperti tangisan sebuah malaikat . Matanya berwarna ungu dan seindah batu ametis yang paling baik , ia seperti hal terbaik yang pernah terjadi padaku . Seseorang , di mana darahku mengalir di nadinya , di mana di jantungnya di pompa darahku . Dalam waktu singkat , pikiranku berkelana di alam mimpi . Mengharapkan agar anak itu menjadi anak yang pandai , ceria dan cantik , membayangkannya berada di genggamanku , menyusuri taman bermain . Membuatku makin sedih , ketika mengetahui bahwa ia tidak akan pernah ada padaku lagi .

Ian Vashti . Pria yang akhirnya menerima Mileina sebagai anaknya . Serena yang memaksaku untuk menyerahkan padanya , meskipun dari mata laki-laki itu cukup meyakinkan bahwa ia bisa merawat Mileina dengan baik .

Dalam waktu 1 bulan , aku tak bisa tidur dengan nyenyak . Hampir tiap hari aku bermimpi tentang bayi itu , mengenai masa kecilnya , mengenai masa remajanya , mengenai masa dewasanya . Terkadang Mileina kecil terlihat buram dan kacau , aku memimpikannya sebagai anak yang sering di-bully oleh teman-temannya ,tapi kadang-kadang aku memimpikannya sedang bermain di padang barley dengan bahagia . Begitu juga tentang masa remaja dan masa dewasanya , yang dipenuhi oleh perkerjaan dan laki-laki yang menyayanginya .

Mimpi mengerikan itu berakhir ketika aku mulai membeli sebuah kotak kecil berbentuk kotak harta karun . Kotak itu begitu sederhana , kotak itu cuma terbuat dari kayu . Tapi , aku yakin itu kotak yang kuat .

Tiap hari ulang tahunnya aku menulis uneg-unegku di kertas pos dan segala kata-kata itu kutujukan bagi dia , Mileina . Aku juga menaruh barang-barang kecil yang bisa kubelikan bagi dia sebagai ayah . Karena , aku percaya , suatu saat aku akan bertemu anak itu .

END OF FLASH BACK

Anak itu menatapku dengan kagum , matanya berbinar-binar .

"Bagaimana dengan mom? Serena maksudku" Dengan nada yang childish , ia berkata padaku .

"Dia sepertinya sudah menikah dengan lelaki kaya itu , ia tinggal di Swiss mungkin . Aku tak pernah menghubunginya lagi setelah ia berangkat ke Swiss" Iya , setelah Serena pergi ke Swiss , hubungan kami kandas seketika .

"Dad , apakah mom adalah orang yang jahat?" Ia bertanya dengan sangat tenang dengan isi pertanyaan yang sangat-sangat polos , seperti anak kecil .

"Hem … Dia cuma egois dan bitchy , itu saja sepertinya …" Aku tidak pernah punya rasa benci pada Serena . Tapi , aku sangat kesal akan tingkah lakunya , seorang gadis muda yang egois dan manja . Tapi , ia juga sangat keren dan seksi dalam berbagai arti .

"Dad , kotak itu di mana?Aku ingin baca!" Mileina sepertinya bersemangat akan kotak itu .

"Nanti , kamu akan ku kasih , tenang saja . Sekarang masih ada yang ingin ku tambahkan" Aku ingin memberikannya salah satu barang milik Serena yang ia berikan kepadaku , paling tidak dia akan terus mengingat Serena .

"Dad…" Tiba-tiba ia terlihat sentimental.

"Dad , terima kasih ya …" Mileina mengatakannya dengan senyum kecil .

Iya , Mileina sayang . Terima kasih juga sudah menjadi bidadari kecilku .