CHAPTER 7

JERUJI


Mileina .

Satu minggu penuh aku bersama dad tanpa gangguan . Si Billy Katagiri itu ternyata baik juga yah …

Aku memang tidur di penjara , tapi bisa setiap hari aku berada di ruangan lab itu , memang baunya tidak enak , bau gosong , dan bau beberapa bahan kimia yang tidak enak . Billy menyebutnya Elektrokimia , dan jika dad ingin menyekolahkanku , aku tidak mau belajar itu .

Tapi , dalam waktu 1 minggu ini , aku ingin supaya aku bisa bertemu mom juga . Aku ingin bertemu ibuku yang sebenarnya , wanita yang melahirkanku , bukan wanita yang membesarkanku dengan tidak tulus itu

Meskipun dad bilang bahwa Serena adalah wanita yang tidak baik sekali . Aku yakin ia pasti punya perasaan 'keibuan' dari dalam hatinya , bagaimanapun juga aku adalah anaknya .

Mmm…Billy Katagiri , dia teman baik dad dan dia memang sangat baik , sampai-sampai ia sengaja mencari alasan untuk membawaku check-up di rumah sakit , supaya aku bisa keluar dari sini bersama dad , jalan-jalan dalam waktu seminggu ini .

Tapi , hari ini . Dad sedang sibuk , sehingga ia hanya bisa sebentar saja mengunjungiku . Jadi , Billy yang menemaniku dan hari ini ia sangat sangat menyebalkan . Dia bertanya terus-menerus mengenai Sumeragi .

Saat itu , saar aku sedang duduk-duduk saja di private lab miliknya dan tiba-tiba , sambil mengetik dan mengecek kabel-kabel yang error , dia mulai berbicara .

"Mileina , kamu kenal Leesa Kujoh ? Sumeragi maksudku" Ia bertanya padaku .

"Kok om tiba-tiba tanya begitu?" Bagaimanapun juga aku harus menyimpan rahasia untuk CB.

"Kujoh , Sumeragi maksudku . Selama 4 tahun dia tinggal bersamaku" Kata-katanya membuatku berasumsi bahwa ia sepertinya pacar Sumeragi .

"Ms. Sumeragi itu mantan pacar om Billy?" Tanyaku , seperti biasa . Dari caranya berbicara , aku merasa bahwa om Billy pernah jatuh cinta sama Ms. Sumeragi .

"Aku tidak pernah jadi pacarnya , dia selalu mengambil keuntungan dariku" Om Billy terlihat benci sekali pada Ms. Sumeragi , dia sampai-sampai mengerutkan dahinya dan mengepalkan tangannya /

Mileina belajar satu hal lagu, bahwa cinta tidak selalu berhasil . Ada yang di sebut cinta yang bertepuk sebelah tangan . Di mana salah satu pihak tidak saling mencintai pihak yang mencintainya .

"Empat tahun ini aku merasakan menjadi lelaki yang sangat-sangat bodoh" Billy mengatakannya dengan penekanan di kata-kata "sangat-sangat" . Menyatakan bahwa hal ini benar-benar terjadi dan sangat-sangat serius .

Hal pertama yang muncul di pikiran Mileina adalah

"Apakah Ms. Sumeragi sejahat itu?"

"Atau Om Billy yang terlalu menambah-nambahkan cerita?"

Aku mau percaya pada Ms. Sumeragi . Om Billy adalah orang baru , tapi ia adalah teman terdekat Dad dan aku percaya betul pada dad . Selama ini , om Billy juga selalu berlaku baik padaku . Ia termasuk dalam orang yang mengusahakan keamanan dan kenyamananku .

"Memang Ms. Sumeragi berlaku apa?Selama ini dia selalu baik sama Mileina" Aku bertanya hanya sebagai tanda responku pada Om Billy .

"Empat tahun ia tinggal di rumahku , menghabiskan uangku untuk kegiatan mabuk-mabukkannya dan sama sekali tidak menunjukan respek padaku" Om Billy mengatakannya seperti orang yang berbohong , selama ini aku tak pernah melihat Ms. Sumeragi mabuk-mabukkan kok , ia mungkin peminum , tapi tidak separah itu !

"Dia tahu aku mencintainya , tapi ia terus menerus menolak , dengan berbagai alasan dan 4 tahun ini dia benar-benar memanfaatkan cintaku padanya ! Dia wanita yang cruel!" Aduh! Mileina jadi ingin dengar cerita lanjutannya . Mungkin , memang menjelek-jelekkan Ms. Sumeragi , tapi pada dasarnya Mileina itu gadis remaja biasa yang suka gossip sih . Ini bukan gossip sih , lebih tepatnya pendapat dari sisi lain .

"Jadi ,sejak dahulu Om Billy jatuh cinta sama Ms. Sumeragi?" Aku yang bertanya tentunya .

"Itu dahulu . Tapi , sekarang tidak lagi . Aku muak dengannya ! Well , aku masih bisa toleransi tentang alasan karirnya atau Emilio-lah , atau apapun juga . Tapi , sampai laki-laki Asia berkulit gelap itu mengambil Kujoh dan mengatakan bahwa ia adalah anggota Celestial Being . Hal itu seketika membuatku muak padanya!"

Ia bisa juga berkata panjang lebar padaku , betapa ia muak akan Ms. Sumeragi .

"Emilio siapa?" Sebenarnya hal itu termasuk hal yang 'nyangkut' di pikiranku .

"Emilio , mantan pacar Kujoh . Dia tewas saat perang AEU dan pada saat itu tactical forecaster-nya adalah Leesa Kujoh . Tetapi , aku masih kecewa dan bingung kenapa dia bisa masuk CB?Apa yang menjadi alasannya?" Om Billy tiba-tiba bisa melihat hal lain dari sisi Kujoh .

"Mileina , kenapa kamu masuk CB?" Tiba-tiba saja ia bertanya padaku .

"Karena Papa dan Mama ada si situ … dan Mileina merasa CB punya tujuan yang baik"

Aku hanya bisa menjawab seperti itu . Tapi , Mileina sendiri merasa bahwa hal yang baik . Mereka lebih menggunakan prinsip yang lebih liberal daripada A-LAWS .

"Karena papa dan mama? Kamu tidak salah?Itu alasan yang sangat dangkal!"

Om Billy terlihat tidak percaya padaku , tapi aku memang anak yang follower pada orang tuaku .

"Mileina tidak tahu harus ke mana lagi . Mileina tidak mungkin bersekolah layaknya anak-anak biasa , sulit untukku sekolah dalam kondisi seperti ini" Iya , aku dari kecil sudah tinggal di dalam Celestial Being , semuanya kupelajari a la home schooling . Tapi , aku sadar bahwa aku bisa di bilang anak yang cukup pandai dan feelingku kuat pula .

"Graham pasti tidak mengizinkanmu , dia tidak mungkin mengizinkanmu ikut perang" Aku percaya kata-katanya secara dialah teman terbaik dad dan aku lihat mood-nya bertambah baik .

"Ia pasti lebih setuju menyekolahkanmu seperti anak-anak biasanya di banding memasukkanmu ke dalam militer . Dunia Militer ini dunia yang berat , nak!"

Om Billy mengatakannya dengan serius , matanya memandang ke dalam mata unguku ,dan hal itu membuatku sedikit merinding .

Aku tahu ini dunia yang berat . Tapi aku harus menyelesaikan apapun yang aku mulai , sampai akhir . Sampai garis finis , entah aku menang ataupun kalah .

Hari berikutnya

Yay! Hari ini dad sudah janji untuk membuatku bertemu dengan mom Serena . Aku benar-benar bersemangat !

Graham .

Di antara misi-misi yang ku ambil dan Mileina .

Cuma satu hal yang kupikirkan , untuk membuat anak itu hidup bahagia dan memiliki masa depan cerah .

Tapi , ada langkah-langkah yang harus aku lakukan .

Aku harus mengeluarkannya dari Celestial Being ! Itu HARUS ! Anak itu tidak boleh ada di kawasan militer .

Anak itu harus masuk sekolah biasa , aku ingin dia punya masa depan yang cerah dan 'normal' .

Anak itu tidak boleh di-eksekusi bagaimanapun caranya . Aku harus membujuk kolonel Kati Manequinn , dengan segala cara anak itu harus tetap hidup dan punya masa depan

Tapi , beberapa hari lalu anak itu meminta agar ia bisa bertemu dengan Serena . Itu yang membuatku bingung , yang bisa kulakukan hanyalah mengiriminya e-mail , karena secara teleponnya sulit untuk dihubungi . Ia mungkin ada di Beverly Hills berhura-hura , atau mungkin menikmati liburan di Alpen atau Hawaii .

To : Serena Jenkins Al Wrone(serena_)

From : Graham Aker(graham_)

Subject : It's about our daughter!

"Serena , it's me , Graham . I really need you ,to show up in New York . I found our daughter and she need to meet you . Please reply this message. I am very fuckin' serious about this"

Itu isi e-mailku pada Serena , dan untungnya di membalas e-mail itu .

From : Serena Jenkins

Subject : Re : It's about our daughter!

"Well . Actually , I'm not pretty sure about this … But , c u then EVE café"

Pendek sekali balasannya . Tapi , kata-kata 'tidak yakin' itu membuatku galau . Ibu apa itu ? Dia malah tidak mau bertemu anaknya sendiri!

Dan aku menemuinya di EVE café . Sementara Mileina jalan-jalan bersama Billy di Times Square .

EVE café

Sudah 15 menit aku duduk di atas kursi putih yang tidak terlalu nyaman ini . Serena belum juga datang .

Aku terus-terusan melihat jam tanganku . Hari ini aku tidak berpakaian seperti biasa , sebagai Mr. Bushido . Hari ini , aku menjadi seorang Graham Aker , laki-laki pirang yang all American man . Aku tak memakai topeng , membiarkan lukaku ini terlihat dan aku mengenakan jas klasik yang biasanya kugunakan sehari-hari dulu , kali ini dengan dalaman berwarana merah darah dengan dasi hitam .

Aku sudah menghabiskan setengah cangkir kopi hitam yang ku pesan dan wanita itu belum juga muncul .

Tapi , 5 menit kemudian , Serena muncul . Layaknya seorang selebriti . Ia datang dengan

begitu sparkling dan flamboyan , meskipun hanya menggunakan kemeja putih , jeans pas

badan dan tas tangan besar yang mengkilap miliknya . Ia menggunakan high heels berwarna silver yang lancip dan ia tampak jauh lebih kurus di banding dahulu , saat dia masih remaja .

Rambutnya berwarna pirang dengan gelombang-gelombang naturalnya , membingkai wajahnya yang cantik , dengan kulit sehalus porselen meskipun memperlihatkan akar rambutnya yang berwarna kecoklatan .

Ia duduk , menyilangkan kakinya dan meletakkan tasnya di kursi kecil sebelah tempat duduknya . Sekarang ,aku melihat wanita itu persis di depanku .

"Oh My God!" Itu ekspresi pertama yang dia tunjukkan padaku setelah sekian lama .

"Wajahmu … Kenapa?" Dia memandang dengan terkejut .

"Aku punya kenalan dokter yang bisa menyembuhkan luka baker seperti itu . Mungkin …"

"Serena , aku tidak butuh." Aku memotong pembicaraannya dengan cepat , terkadang ia terdengar terlalu cerewet .

"Okay , aku cuma nggak tahan lihat wajahmu seperti itu" Serena seperti biasa berbicara bersama dengan tangannya dengan nadanya yang agak tinggi.

"Mileina , dia ada bersamaku sekarang dan dia ingin bertemu denganmu" Aku menyatakannya dengan tegas , tanpa bertele-tele .

"Mileina?Hah , itu siapa?" Serena , Serena . Kamu memperlakukan gadis itu selayaknya bukan anakmu . Aku yang 15 tahun lalu bilang ke kamu soal nama anak itu dan kamu melupakannya .

"Serena , itu bidadari kecil kita …" Dia benar-benar parah .

"Graham … Aku jadi ingat tiap kali kamu memujiku dengan vocab-mu yang tidak biasa itu…" Serena . Terus saja berbicara yang tidak penting .

"Okay . Jadi apa mau anak itu?" Tanyanya dengan singkat, jelas dan padat .

"Dia cuma ingin bertemu ibunya , itu saja, dia tidak minta yang aneh-aneh . Memangnya kamu tidak rindu padanya?" Aku yakin dia pasti punya rasa sayang pada anak itu .

"Hem .. Sebenarnya kalau bisa memilih aku tidak mau bertemu dia , dia bisa membangkitkan kenangan buruk" Wanita egois .

"Graham , ini bidadari kecilmu…" Billy tiba-tiba datang dan menepuk bahuku . Di sampingnya , Mileina , dalam balutan t-shirt kuning dengan gambar m & m hijau , sneakers putih dengan sol tebal dan denim overall berwarna biru muda , ia terlihat manis , seperti anak kecil .

Billy tak henti-hentinya terpana menatap Serena . Aku yakin ia pasti berpikir bahwa Serena adalah wanita super-cantik dengan rambut pirang . Salah satu warga upper east side yang begitu mewah dan mengagumkan .

"Kamu pasti Billy Katagiri , teman baik Graham , bukan?" Serena memang paling bisa menembak orang , melempar pancing , menangkapnya , lalu melepasnya lagi .

"Ehm…Iya , Billy Katagiri , UNION scientist . Seperti yang kamu tahu , teman baik Graham Aker" Billy terlihat cangung bertemu wanita seperti Serena.

"Saya Serena Jenkins Al Wrone , sungguh pengalaman yang baik untuk bertemu denganmu" Ia tersenyum dengan elegan , membuat dirinya sebagai seorang wanita cantik yang irresistible .

"Dad…Ini mom?" Mileina tampak terpana , sekaligus bingung . Ia melihat seorang wanita yang punya hubungan darah dengannya , begitu glamour , cantik dan merupakan impian semua gadis kecil .

"Graham … Kamu bisa biarkan aku berdua saja yang berbicara dengan anak ini?" Serena memintaku agar aku bisa keluar dari pen-indoktrinasi-an anak itu .

"Baiklah" Mau tidak mau aku harus keluar . Biarkan saja anak itu bersama mamanya , si wicked witch of the west itu .

Aku langsung pindah tempat duduk . Aku duduk di situ bersama Billy , dimana mataku tak bisa berpaling dari Serena dan Mileina .

"Hey!" Billy menjentikkan jarinya di depan wajahku.

"Kenapa?" Tanyaku .

"Serena . Dia itu cantik sekali , yah …" Intuisiku selalu tepat , dia naksir Serena .

"Coba saja rebut dia dari suami kayanya" Kataku padanya .

"Dia sudah bersuami?Wow!Dia masih cantik sekali . Kamu kok dulu tidak kejar dia ,sih?" Billy tidak pernah tau apa yang ada di belakang kulit mulus itu .

"Kamu saja kejar dia . Dia terlalu cantik untukku . Tidak menutup kemungkinan , dia mungkin mau selingkuh denganmu" Serena , dia itu wanita sosialita yang 'liar' . Itu sudah pasti . Suaminya workaholic , kerja Serena hanyalah berpesta ria . Aku yakin ia cukup 'liar' untuk pergi ke host-club .

"Kamu gila , yah?" Billy mendorong bahuku dengan tangannya .

"Nggak . Kalau kamu tipe-nya , dengan mudah kamu pasti akan 'dipakai' olehnya" Serena wanita yang liar , Billy .

"Cantik sekali , dia seperti Scarlett Johansson …" Sepertinya ia terkesima akan Serena .

"Scarlett?Teruslah memujinya" Aku yakin Billy juga pasti muak padanya , kalau ia sudah cukup lama 'jadian' dengannya .

"Kamu juga jatuh cinta padanya karena dia cantik dan seksi kan??" Billy , aduh . Iya , sih . Tapi , itu tidak bertahan lama .

"Semua berubah ketika aku sudah pacaran dengannya dalam waktu yang agak lama , dia bukan lagi Scarlett Johansson dalam imajinasimu" Sebenarnya sih terserah Billy kalau dia mau mengejar Serena .

"Aku tidak akan mengejarnya , aku terlalu gila jika aku mengejarnya , secara dia sudah punya suami" Billy bilang padaku

Mileina

Mom . Wanita yang luaaar biasa cantik , impianku kalau Mileina sudah besar nanti . Mileina ingin secantik dan sekeren mom .

Serena Jenkin Al Wrone . Itu namanya , salah satu warga Upper East Side yang wow . Dia adalah salah satu dari tante-tante berambut pirang yang cantiiiik sekali .

Jauh sekali dari Ms. Sumeragi yang tampilannya depresi dan Linda yang sok baik .

Meskipun ku akui Ms. Sumeragi memang cantik , ditambah lagi dengan tubuhnya yang sangat 'wanita' itu . Tapi, ia tidak seberkarisma Mom . Mom itu wanita yang benar-benar idaman .

"Mileina ,kamu sudah besar yah .Tapi , kapan kamu bertemu Graham untuk pertama kalinya?" Ia bertanya padaku sambil memainkan sedotannya , dengan senyum kecil .

"Mileina baru bertemu dad minggu lalu" Apa yang kukatakan mengejutkan wanita itu , tapi ia tidak pernah berekspresi berlebihan .

"Heem …Sepertinya dalam waktu 1 minggu , dia sudah cerita banyak ke kamu" Ia berbicara dengan senyum di wajahnya . Mom begitu ceria . Tapi , yang menarik perhatianku adalah kalung platina dengan liontin dengan berlian mungil yang berwarna pink , bagus sekali . Seumur-umur , aku tak pernah menyentuh berlian .

"Kamu suka kalung ini?" Ia langsung tahu bahwa aku menginginkan kalung itu .

Aku hanya mengangguk .

"Kalung ini memang cantik" Ia langsung melepas kalung itu dari lehernya , membuka kepalan tanganku dan meletakkan kalung itu di tanganku .

"Ini milikmu sekarang" Wow! Itu kan mahal sekali ! Ia mengatakannya tanpa adanya keberatan dan ia menutupnya dengan senyum pula!!!

"Milik Mileina?Mom tidak salah?" Aku senang sekali . Mileina senang sekali . Mom baik sekali . Ia benar-benar seorang ibu yang selama ini ingin kupunya . Aku tak bisa berhenti melihat berlian mungil berwarna merah muda yang berbentuk bulat itu , begitu bagus sekali , mengkilap dan dari bawahnya seperti menyemburkan sinar yang begitu mewah sekali . Aku menyentuh berlian itu , aduuuuh! Aku senang sekali ! Baru pertama kali aku menyentuh berlian . Selama ini Ian dan Linda tidak pernah punya berlian , apalagi yang secantik ini .

"Simpalah atau pakailah , supaya Mileina selalu ingat selalu sama Mom" Serena tidak terkejut sedikitpun akan sikapku yang agak berlebihan terhadap berlian itu . Ia justru tersenyum , karena aku senang akan berlian itu .

"Ian tak pernah membelikanmu berlian?" Mungkin Mom menggangap kalau Ian adalah orang yang cukup kaya untuk membeli berlian .

"Papa bukan orang kaya . Tapi , dia sayang Mileina" Aku sayang papa Ian . Dia selalu bersikap baik padakku .

"Kamu anak yang manis , seandaianya saja aku bisa merawatmu …" Matanya sedikit berkaca-kaca , dan air matanya keluar dari matanya . Tapi , ia langsung mengusapnya dengan tissue . Karena ia tahu kalau ia menangis pasti maskaranya luntur.

Mom , ini begitu menyedihkan . Tapi , dahulu kau membuangku , karena keegoisan dirimu .

"Mileina , aku menyesal sekali" Aku jadi ikut sedih , melihat wajahnya yang mau menangis itu . Ia menyentuh pipiku dan daguku , mengigit bibirnya sendiri agar ia bisa menahan air matanya .

Mom orang yang baik . Beda dengan apa yang di ceritakan Dad padaku . Dia wanita yang baik .

Graham .

Yeah!yeah!yeah ! Air matamu ... Aku sedikit meragukkannya , air mata buaya , seperti yang biasa kau lakukan untuk memainkan perasaan orang sesuai keinginanmu .

"Graham , kamu tak bisa melepas pandanganmu pada Serena" Billy mengganggu konsentrasiku dalam mengawasi Serena .

"Ssshh…" Aku menyuruhnya untuk diam .

"Apa benar , kau memang masih suka dengan Serena?" Tanya Billy padaku , sambil tersenyum . Hal itu mengagetkanku ketika dia bertanya seperti itu . Aku hanya bisa menatapnya dan menyingkirkan tanganku yang ada di daguku ke meja .

"Benar ya?Kamu masih sangat perhatian padanya" Ia kembali berkata-kata , di tutup dengan senyum kecil . Kalau saja dia bukan temanku , mungkin aku akan menjawabnya dengan kasar . Aku menghiraukan kata-katanya . Mungkin aku masih menaruh perasaan pada wanita egois itu . Tapi , aku tidak mungkin memacarinya lagi .

"Benar , Kan?" Dia mendesakku untuk mengakui hal yang tidak pasti .

"Sssh .. Tidak mungkin aku mencintai wanita seperti itu" Aku menyuruhnya diam dan mengklasifikasi keraguanku . Padahal aku sendiri mungkin masih sayang padanya .

Billy hanya tersenyum melihatku memperhatikan Serena yang cantik itu tanpa berkedip sama sekali .

Serena .

Tuhan , aku berada di antara menyesal dan tidak menyesal .

Menyesal , karena Mileina ternyata adalah anak yang sangat sangat manis . Aku melihat ia punya mataku , mata berwarna ungu yang selama ini kubangga-banggakan . Ia seharusnya menjadi seorang gadis dengan masa depan yang cerah . Bukan , ikut terjun dalam dunia perang yang membahayakan jiwanya .

Tidak menyesal , karena aku sekarang bisa memeliki puluhan tas Versace dan Prada di lemariku dan puluhan pasang Jimmy Choo di lemariku . Memiliki suami kaya yang dihormati , menjadi seorang wanita yang punya status superior .

Setiap pagi , aku bisa bangun di kasur yang empuk dan nyaman dan besar . Kalau aku mau , setiap pagi aku bisa merasakan breakfast in bed , dengan makanan a la hotel bintang 5 . Aku bisa punya chef pribadi dan bisa membeli semua barang yang aku mau tanpa bersusah payah .

Tapi , setiap pagi itu pula selalu ada hal kurang pada diriku . Terutama ketika aku menemani si kecil sarapan , aku selalu membayangkan diri anak itu yang ada di bangku kecil itu .

"Mom , aku hidup di dunia militer" Sebuah kalimat yang membuat hatiku serasa di tusuk oleh seribu panah . Aku inginmenangis rasanya dan kali ini air mata itu tidak di buat-buat . Aku berdosa sekali ketika mengetahui ini .

Mileina , seharusnya adalah anak yang ada di sekolah SMP atau SMA , yang kerjanya belajar , hang out bersama teman-temanya dan merasakan cinta pertama . Bukan di dunia militer yang keras ini .

Aku tidak kuat untuk menahan ini sendiri . Dengan alasan permisi ke toilet , aku meninggalkannya sendirian , menarik lengan Graham supaya aku bisa berbicara padanya . Aku dan Graham pergi ke bagian belakang restoran itu , di mana aku dan dia bisa mengobrol tanpa di ganggu .

"Aku merasa bersalah sekali" Aku bilang begitu padanya . Tapi , Graham tidak menenangkanku , ia hanya melipat tangannya , menyandarkan diri di tembok dan menatapku .

"Sudah kubilang , kita tidak pernah tahu apa yang terjadi padanya kalau kita membuangnya" Graham membalasku dengan mata yang menatap tajam padaku , yang membuatku tidak memperhatikan guratan-guratan mengerikan di wajahnya .

"Setelah ini , jangan sampai dia masuk medan perang lagi!" Aku mengatakannya dengan keras pada Graham .

"Tolong kamu rawat anak itu dengan baik . Karena aku tidak bisa merawatnya . Aku mempercayakan anak itu padamu" Tiba-tiba saja pandangan Graham padaku berubah seketika . Ia sedikit terkejut , ia mengubah ekspresi wajahnya , ia tersenyum padaku .

"Ternyata kamu punya sisi keibuan juga" Ternyata selama ini Graham menggangapku sebagai wanita yang agak jahat . Tapi , aku tidak peduli .

Ia berjalan meninggalkanku . Tapi , aku memanggilnya .

"Graham , jauhkan anak itu dari perang dan aku ingin dia hidup seperti anak biasa!"

"Aku akan menyekolahkan anak itu layaknya anak-anak lain" Ia menengok kebelakang sebentar , lalu melanjutkan jalannya .

TIME SKIP ….

Mileina.

Mom memang wanita yang mengagumkan . Sayangnya , aku tak bisa memiliki dia sebagai seorang ibu.

Besok adalah hari eksekusiku . Tapi , dengan segala cara Dad berusaha untuk merayu Kati Manekin , Arba Lindt dan Arthur Goodman dengan alasan bahwa aku masih pantas hidup . Dad , kumohon selamatkan aku , aku belum ingin mati …

Aku berada di dalam penjara yang lembab , gelap dan keras . Aku cuma bisa berharap dan menangis .

Mom , apa mom bisa menyelamatkan Mileina ? Mileina takut sekali berada di sini .

Entah kenapa , aku jadi ingat papa Ian dan mama Linda . Mungkin mereka masih ingat aku … Atau mereka sudah lupa aku ? Apa mereka menggangap aku telah mati ?

AKU BELUM MATI . AKU MASIH MAU HIDUP .

Graham .

"Mr. Bushido , di Burma ada Gundam menghadang di point 089" Anak Russia itu memanggilku lewat telepon .

"Aku tidak tertarik" Aku langsung menutup teleponku .

Bagaimana mungkin aku memikirkan Gundam sementara anakku ada di sini , dimana besok ia akan di hukum mati .

Gundam , memang begitu memikat . Layaknya seorang Aurora , putri tidur yang perlu di bangunkan dengan ciuman hangat yang memikat . Tapi , di sini ada bidadari kecil yang harus kulindungi . Aku tidak mau anak itu mengalami tragedi dalam hidupnya .

Aku lahir sebagai anak yatim piatu . Orang tuaku membuangku di panti asuhan dan untungnya pihak militer mengambilku karena aku punya potensi untuk itu .

Ironis . Aku juga membuat darah dagingku sendiri mengalami hidup yang tidak kalah keras denganku . Padahal tujuanku memberikannya pada orang tua yang lebih baik adalah supaya ia bisa hidup sebagai anak normal .

Ian Vashti . Aku masih ingat namamu . Kenapa kau masukkan anakku ke dalam medan perang ? Apa kau tidak bisa membiarkan dia sebagai anak normal?

"Dooooong! Jreeeng!" Ringtone klasik bunyi gong Jepang dari Handphoneku berbunyi , aku langsung mengangkatnya .

"Graham!Aku tidak bisa meminta Kati Manekin atau siapapun untuk menggagalkan rencana death sentence-nya" Billy bilang padaku dengan nada serius dan aku tahu ini pasti benar.

"Apa tidak ada cara lain?" Tanyaku padanya , aku masih berharap agar anak itu selamat dari death-sentence.

"Mungkin kalau kamu bawa kabur anak itu dan datamu akan masuk dalam list WANTED" Billy sedikit bercanda padaku .

"Aku akan lakukan apapun demi anak itu" Aku berencana masuk ke dalam list WANTED . Aku harus membebaskan anak itu dengan berbagai cara !

Tapi , sebelumnya aku mengambil kotak kayu yang berisi mimpi-mimpiku akan anak itu . Aku ingin dia membacanya seandainya dia bisa pergi dari sini dan aku tak bisa .

Mileina .

Aku langsung semangat ketika melihat Dad berbicarapada kepala penjara di depanku. Kepala penjara itu memegang sebuah kotak kayu tua yang cukup kecil . Ia membukanya dan mengeceknya . Aku melihat bayak kartu pos , tapi aku tak tahu itu apa isinya .

Aku langsung cemberut . Ternyata Dad tidak masuk ke dalam ruangan ini . Malah si kepala penjara itu masuk ke sini dan dengan pelan memberikanku kotak kayu itu .

Kotak kayu itu di gembok kecil . Gembok itu terlihat begitu rapuh , dengan obeng saja aku bisa langsung buka . Tapi , sekarang tidak bisa karena aku tidak sekuat itu untuk membukanya .

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar .

"Gawat ! Ada Gundam masuk ke dalam base ini!"

Yes!!! Terima kasih papa mama . Kalian tidak lupa aku .

Dad yang ada di dekat situ merusak CCTV-nya dan memukul pingsan kepala penjara itu . Ia langsung membukakan pintu penjaraku dan menarikku keluar .

"Dad , dimana kau akan menyembunyikanku?" Tanyaku padanya sambil berlari membawa kotak kayu itu .

Ia terlalu sibuk untuk berjaga dengan pistolnya dan menarik tanganku untuk berlari dengannya .

"STOP!" Aku mendengar suara yang familiar dari belakang . Aku langsung menoleh .

"Mileina..." Dad juga ikut menoleh dan juga menodongkan pistol ke arah suara itu .

"Tieria ..." Aku sudah melangkah cepat ke arahnya , tapi Dad menarik tanganku .

Dad menodongkan pistol ke Tieria . Tieria juga balas menodongkan pistol ke Dad .

Terjadi keheningan dalam beberapa detik , sampai akhirnya

"Dorr!" Suara pistol terdengar dan darah mengalir .

Tanpa berkata-kara apapun , Tieria menembak kaki Dad dan Tieria langsung menarik tanganku dan mengajakku berlari dengannya .

Aku menoleh ke kebelakang , Dad menunjukan senyum kecilnya dan mata hijaunya yang berkaca-kaca dengan tubuh yang tersungkur karena kakinya yang terluka . Gerak bibirnya seperti berkata bahwa aku harus hidup dan selamatkan diriku sendiri . Ia tidak menembak Tieria dan membiarkanku pergi .

Aku dan Tieria berlari secepat mungkin ke Gundam Seravee ,dengan sedikit gangguan dan tembak menembak dengan beberapa orang A-LAWS .


Di dalam Gundam Seravee .

Aku Cuma berudaan di dalam kokpit nan-kecil ini bersama Tieria . Jantungku berdegup begitu kencang . Bagaimana ini ????

Tapi , mulutku sudah tidak kuat lagi .

"Tieria Erde ... Aku cinta kamu"

Tieria langsung menoleh padaku dengan terkejut . Ia tersenyum padaku dan mengelus kepalaku dengan lembut .

Ia kembali menoleh ke depan dengan senyum tanpa memberikan jawabannya padaku .

Yang kutanyakan sekarang adalah :

"Tuhan , apa ini berarti dia menerimaku?"


YOUR REVIEWS ARE MY PLEASURE .