Chapter 8

Aku kembali melangkahkan kakiku dengan tubuhku yang berbalut baju penjara putih kusam itu ke ruang control di Ptolomaios dan semua orang langsung menunjukkan wajah lega . Ternyata mereka khawatir akanku .

"Mileina , kamu tidak apa-apa , Kan?" Sumeragi langsung bertanya dengan antusias padaku . Ia mengecekku dengan melihat dari atas sampai bawah .

"Mileina tidak apa-apa , Kok" Aku senang mereka memperhatikanku .

"Semuanya … Terima kasih ya sudah perhatian sama Mileina" Aku tersenyum di depan mereka semua .

Ian masuk ke dalam ruangan itu dan langsung memelukku dengan khawatir.

"Mileina , aku luaaar biasa khawatir akan kamu . Kamu tidak apa-apa, Kan?" Ia memegang bahu kecilku dan melihatku dari atas sampai bawah .

"Papa! Mileina tidak apa-apa kok!" Kataku pada papa dengan senyum . Aku bahagia sekali mereka perhatian padaku .

"Ya sudah , sekarang kamu mandi sekarang" Papa mengelus rambutku dan mendorongku dengan lembut ke arah pintu keluar .

"Syukurlah kamu tidak apa-apa" Kata Allelujah yang menuntunku keluar .

"Terima kasih!" Aku langsung berjalan dengan antusias ke arah kamarku .


Aku menyalakan shower di kamar mandi itu . Membasuh rambut dan tubuhku dengan air hangat . Nyaman sekali , aku senyum-senyum terus .

Hari ini , meskipun menegangkan aku senang sekali , mungkin karena aku bisa secara jelas melihat banyak orang yang mengkhawatirkanku .

Aku jadi teringat Tieria . Dia menerimaku atau tidak , ya ?

Hemmm…. Tapi responnya baik sekali . Dia TERSENYUM!

Aku sayang dia . Bukan , aku cinta dia . Dia adalah lelaki unik yang juga sangat keren ! Dia melebihi semua laki-laki yang pernah kutemui .

Dia bukan salah satu dari laki-laki berpikiran "dangkal" . Dia adalah salah satu dari laki-laki yang unik dan open-minded . Dia laki-laki yang tidak akan asal berpacaran .

Duh! Jantungku jadi berdebar-debar .

Aku menyelesaikan acara mandiku . Aku mengeringkan rambutku yang basah dengan handuk . Sambil menatap kaca .

Aku terus berpikir , tipe perempuan apa yang disuka oleh Tieria .

Apa yang kecil dan imut-imut ?

Atau yang tinggi langsing?

Atau mungkin yang berisi ?

Dia suka perempuan dengan kulit putih atau kecoklatan(baca : tanned) ?

Aku terus-terusan memandang kaca , berusaha meyakinkan diriku bahwa aku cukup cantik untuk Tieria .

Tubuhku masih belum bertumbuh , masih kecil dimana-mana. Tapi , aku ingin punya tubuh wanita , bukan anak kecil . Aku ingin punya lekukan seperti Miss Sumeragi .

Kalau di lihat-lihat Miss Sumeragi itu cantik banget ya …

Rambutnya brunette bergelombang alami , acak tapi tetap rapi . Matanya besar dan

Coklat dan bentuk wajahnya lembut tapi tegas . Tubuhnya , tak terkatakan sih …

Aku yakin diam-diam laki-laki di kapal ini membicarakannya .

Serena Jenkin Al Wrone . Mom ! Kok aku bisa lupa mom . Dia itu cantik banget . Dari atas sampai bawah , nggak punya cacat . Yah , mungkin perilakunya kurang baik . Tapi , toh semua orang punya kekurangan .

Aku ingin bisa secantik Mom . Dia itu perfect .

Aku langsung mengeringkan rambutku dengan hair dryer dan mengenakan baju seragamku .

"Kriiiing!" Telepon di kamarku berbunyi .

Aku melihat wajah yang tertera di situ .

Aaaaaaw! Itu Tieria . Aku jadi deg-degan . Langsung aku merapikan rambutku .

"Mileina , uhhm …Setelah mandi , kamu tidur saja …Aku yakin kamu pasti lelah"

Yaaaa … Dia cuma memberitahuku hal itu . Nggak penting .

Tapi , aku menuruti kata-kata Tieria . Aku langsung mengganti bajuku dengan baju tidur , piyama pink berbahan satin .

Aku merebahkan tubuhku di atas kasur nan-empuk itu . Nyaman sekali . Setelah sekian lama di kasur penjara yang tidak enak dan keras .

Tieria . Tieria . Tieria .

Esok paginya , aku menjadi orang yang bangun paling pagi .

Yeah , di luar angkasa kita tida pernah tau jam berapa kecuali kita benar-benar melihat jam .

Aku kelaparan . Aku langsung pergi ke cafetaria sambil membawa kotak kecil yang di berikan Dad padaku . Aku berencana membukanya di sana .

Aku berjalan cepat ke cafetaria . Aku meletakkan box itu di atas meja makan dan mengambil susu dan fruity pebbles di kulkas .

Aku menuangkan fruity pebbles diikuti dengan susu putih ke dalam mangkok itu . Satu sendok susu dingin dengan fruity pebbles itu terasa sangat enak di dalam mulut dan mengalir dengan nyaman di tenggorokanku . ENAK! Setelah sekian hari makan makanan penjara yang super duper tidak enak .

Aku langsung kepikiran untuk membuka kotak itu . Aku mengambil gunting daging dan dengan mudah aku mencongkel gembok dari kotak tua itu .

"Mileina , kamu ngapain?" Tieria yang juga masih menggunakan kaus putih dan trainer biru tua itu(dan tetap terlihat tampan tanpa kacamata) ternyata melihatku dengan kondisi seperti ini . TIDAK ! Aku masih acak-acakan baru bangun tidur ! Secepat kilat aku merapikan rambutku dan dengan menjatuhkan gunting itu dengan sembarangan aku melukai tanganku . Dari tanganku keluar darah .

"Ah , Mileina ..." Tieria langsung mengambil alkohol dan kapas dari kotak P3K yang ada di dapur . Ia mengelap lukaku dengan kapas yang di basahi alkohol dan meletakkan obat merah di atasnya , menutupnya dengan plester dengan lembut .

"Nah , it's done" Aku tak bisa berhenti menatapnya dengan wajah memerah .

"Udah tidak apa-apa , kan?" Tieria tersenyum padaku , menatapku dengan wajah tampannya . Aduuuh ...

"Ehm ... Mileina tidak apa-apa , kok" Kataku padanya dengan tergugup-gugup . Wajahku masih memerah dan pasti memerah terus kecuali dia pergi dari sini .

Aku langsung kembali ke duduk , memakan serealku . Sementara mataku juga tak lepas darinya , mengawasinya bergerak mengambil roti tawar dan mengolesinya dengan selai nanas .

"Kamu mau?" Tanyanya padaku .

"Nggak . Aku mau makan sereal saja" Aku terus melanjutkan makan serealku . Ia bergerak duduk di depanku , membuatku makin sulit untuk berkonsentrasi .

"Boleh aku tau itu kotak apa?" Tieria tersenyum padaku . Sebuah kotak kecil berisi impian-impian Dad tentangku . Kotak kecil itu sudah kusam , agak tua dan berwarna cokelat . Tapi , kotak itu masih bagus . Kotak itu berbentuk seperti peti harta karun .

"Aku belum buka kotak itu . Katanya itu kotak memori" Aku asal jawab saja . Karena aku takut Tieria akan menganggapnya benda yang mengancam .

Ia bergerak mendekati kotak itu . Ia membukanya perlahan .

Tieria membukanya , ada beberapa tumpuk post-card di situ . Tapi , dengan tanda tahun yang berbeda . Di situ juga terdapat 14 kartu ulang tahun . Satu persatu kukeluarkan kartu itu bersama Tieria , lembaran kartu-kartu berwarna pastel , dari pink muda sampai biru muda . Dengan gambar pelangi , bintang , kue tart bahkan cupcakes berwarna kuning . Juga ada buku cerita bergambar dengan ukuran kecil , menceritakan tentang Cinderella . Sebuah gantungan kunci minnie mouse berwarna merah . Di antara benda-benda tersebut post-card lah yang menarik perhatianku . Satu-persatu di bacanya post-card itu berurutan sesuai tahunnya .

"Ini hari ulang tahunmu yang pertama , aku harap aku bisa mengajarimu berjalan"

Tieria membacanya dengan lembut dan perlahan , dengan tubuh yang bersandar di meja. Aku terkejut ketika aku mendengarnya . Dad ,aku tidak sangka ternyata kau begitu perhatian padaku .

"Ini hari ulang tahunmu yang kedua , aku harap aku bisa ikut mengajarimu baca tulis"

Tieria melanjutkan membacanya , ia juga mulai terpusat pada kalimat-kalimatnya . Dad ,aku diajari baca tulis oleh Linda .


"Ini hari ulang tahunmu yang ketiga , aku harap aku bisa menemanimu masuk TK"

Tieria sudah mulai curiga . Tapi , ia terus membacanya . TK? Hahahaha . Aku masuk TK kok. Dengan Linda dan Ian yang mengantarku .


"Ini hari ulang tahunmu yang keempat , seandainya aku bisa membacakan cerita sebelum tidur padamu"

Cerita sebelum tidur . Hahahahaha . Aku jadi ingat Linda , si munafik itu .

Tieria berhenti sejenak .

"Mileina ,boleh aku tau ini apa?" Tieria sudah mulai tampak bitchy .

"Aku belum pernah membukanya . Tapi , yang pasti kotak itu berisi impian-impian ayah biologisku tentangku" Aku berusaha agar tenang .

"Ayah Biologis?Maksudmu Ian bukan benar-benar ayahmu?" Matanya bergerak melirik dengan tajam padaku .

"Iya . Tapi ini rahasia kita berdua , ya …" Aku hanya bisa tersenyum .

Ia terkejut untuk sejenak . Lalu kembali tersenyum .


"Hari ulang tahun Mileina yang kelima , aku ingin mengandengmu masuk ke pintu gedung SD"

Dad , aku masuk SD di antar papa Ian . Well , hari itu cukup menyenagkan . Aku masih ingat sekali hari itu aku begitu bersemangat .


"Mileina sudah umur 6 , seandainya aku bisa mengajarimu naik sepeda"

Sampai sekarang aku masih agak bodoh dalam hal naik sepeda . Dad , engkau begitu perhatian padaku .


"Tahun ini umurmu 7 , dan aku pergi ke Tokyo , aku harap aku bisa mengajakmu pergi ke Disney Land di sana"

Kartu Pos itu bergambar Tokyo Disney Land . Tieria mengambilkanku gantungan kunci Minnie Mouse dari kotak itu . Ketika aku menyentuhnya , mataku sudah berkaca-kaca .

"Aku tidak menyangka dia begitu perhatian padaku" Aku berkata begitu , Tieria hanya tersenyum mendengarnya .

"Kamu mau melanjutkan ini?" Tieria sudah siap untuk membuka kartu post selanjutnya .


"Aku harap di umurmu yang ke 8 ini aku bisa mendampingimu meniup lilin-lilin kecil itu"

Kali ini post-cardnya berwarna biru muda , dengan gambar kue tart kartun dan ia menuliskan angka 8 dengan spidol pink . Sepertinya sebentar lagi aku akan banjir air mata . Aku sudah mengusap mataku dengan tanganku .


"Umurmu 9 , tahun ini . Aku berharap aku bisa berjalan bersamamu menonton film atau sirkus sambil menikmati popcorn hangat"

Air mata mengalir sejenak membasahi pipiku . Aku tak bisa menahannya lagi . Aku membayangkan hangatnya popcorn caramel yang renyah ,meleleh di lidahku . Aku membayangkan serunya nonton singa yang bisa menari , gajah dan orang-orang sirkus yang berbadan lentur itu , atau mungki menonton film Thriller atau bahkan yang simpel , film-film anak kecil yang manis , film kartun sekalipun , yang bisa membuatku tertawa bersamanya .

Tiba-tiba , dengan lembut Tieria mengusap air mataku dengan tissue bersih .

"Tidak apa-apa , ini berarti dia sayang sama kamu" Kata Tieria padaku .

Papa Ian dan Mama Linda tak pernah membawaku nonton film apalagi sirkus. Aku yakin hal ini pasti menyenangkan .


"Umurmu 10 tahun , aku harap aku bisa berbingung ria bersamamu mencari SMP mana yang harus kau masuki"

Aku kembali mengusap air mataku dengan tissue yang diberikan Tieria . Aku jadi melankolis begini . Aku memang masuk SMP , tapi cuma sebentar , sisanya aku belajar secara otodidak di Celestial Being bersama papa Ian dan mama Linda . Aku di juruskan oleh papa Ian , aku tidak bingung .

"Ayah biologismu baik sekali . Dia pasti ingin kamu masuk sekolah terbaik dan berarti segala sesuatu yang terbaik" Tieria kembali merenung dengan dirinya sendiri .

"Tieria , aku masih ingin lanjut" Kataku , membangunkan lamunannya .


" sekarang kau hampir mau menginjak remaja , 11 tahun . Aku harap aku bisa mengajarimu bagaimana bersikap baik dan benar sebagai seorang gadis muda supaya kau tak dipandang rendah oleh laki-laki dan juga menemani kamu belajar untuk kenaikkan kelasmu"

Aku tak bisa berkata-kata lagi . Aku memang tak pernah mengalami pelecehan seksual karena ada mama dan papa di sampingku . Tapi mereka tak pernah memberiku benar-benar sexual education dan bagaimana bertindak sebagai seorang remaja perempuan yang terhormat . Aku banyak belajar dari Feldt dan Ms. Sumeragi akhir-akhir ini .

"Ha! Dia benar-benar seorang ayah" Tieria mengomentari kata-katanya .


"12 . Aku ingin memarahimu supaya kau tidak ikut perang , meskipun aku adalah seorang tentara"

Aku terkejut .

"Dia tentara , dia bilang dia tentara . Apa kamu menemukannya di A-lAWS?" Tieria secara tiba-tiba terlihat tidak bersahabat .

"Uhm… Iya" Aku hanya bisa mengangguk . Aku jadi takut melihatnya .

"Siapa dia?Apa laki-laki yang kutembak tadi?" Bingo . Aku kena .

Aku hanya bisa mengangguk – angguk .

"Tapi , kumohon ... Jangan sakiti dia dan percayalah , aku pasti akan tetap bekerja secara penuh hati pada Celestial Being!" Aku memohon pada Tieria .

Dia menanggapinya dengan tidak enak .

"13 . Kau benar-benar remaja sekarang , aku ingin menjauhkanmu dari beberapa laki-laki yang berniat jelek padamu"

Dia membacanya dengan lebih cepat . Aku tak sempat berpikir apapun tentang statement ini.


"Empat belas tahun aku tak menemuimu , aku harap aku bisa bertemu denganmu dan memelukmu , karena aku tak pernah melakukan itu"

Dad . Kau benar-benar membuatku menangis . Aku tak bisa berhenti mengeluarkan air mataku , terus-terusan membasahi pipiku .

Tapi , di tiap surat itu selalu di tutup oleh

Her dad , Graham Aker .

Pikiranku terpusat oleh dad , dad dan dad .

Aku menyadari aku merasakan perasaan 'terbuang' . Tapi , setelah membacanya , aku benar-benar tersentuh . Ini tidak mungkin dibuat-buat . Ini ASLI . Dad , aku senang sekali .

Aku masih terus menangis . Sementara sereal-ku belum habis-habis .

"Mileina , aku masih memikirkan 3 kata ajaib itu" Tieria meredamkan perasaan kesalnya .

"3 kata ajaib?I love you itu?" Oops! Aku keceplosan .

Ia tersenyum , dan kembali memakan rotinya .

"Iya . Aku juga sayang kamu , kok" Kata Tieria . Yes! Berarti aku di terima donk?

"Tapi ... Ini bukan kasih sayang layaknya Lockon mencintai Anew maupun Allelujah mencintai gadis itu" Tieria mengehela nafas .

Ia bergerak mendekati aku , mengelus rambutku . Matanya begitu dekat denganku .

Lalu ia bergerak lebih dekat lagi . Ia memegang pipiku .

"Mileina , aku bukan pria yang pantas untukmu, aku bukan laki-laki yang pantas kau cintai . Iya , aku sayang kamu . Aku tidak mau kamu terluka . Maka itu , aku tidak mau kamu mencintaiku" Ia mengehela nafasnya , begitu intim . Ia begitu dekat denganku , aku bisa merasakan nafasnya .

Ia memelukku dan jantungku berdegup makin kencang .

Wajahnya bergerak ke arah samping . Bibirnya terletak tepat di sebelah telingaku .

"Aku bukan laki-laki yang pantas untukmu . Aku juga tak bisa menerimamu sementara hatiku masih terisi oleh laki-laki lain" Ia mengehela nafasya yang hangat .

Hah??Laki-laki lain? Tidak salah?

Tieria sadar aku terkejut . Mataku mulai berair .

"Mileina ngerti , kan?" Ia mencium keningku , sementara pipiku mulai basah akan air mata .

"Mileina , aku memang tidak pantas untuk kau cintai" Ia memelukku lebih erat lalu melepaskannya secara perlahan .

Tieria mengambil tissue lalu mengusapkannya pada pipiku , supaya pipiku tidak basah oleh air mata .

"Erde-san ... Mileina ... Mileina ...Mileina ..." Tangisku sudah mulai sesunggukan .

Tieria memelukku begitu erat .

"Tidak apa-apa . Bagaimanapun juga aku akan tetap sayang kamu , aku janji aku akan selalu melindungimu" Kata-katanya sama sekali tak menenangkanku .

Aku rasanya ingin mati . Ini rasanya tertolak , rasanya kalah telak . Rasanya putus harapan .

"Mileina..." Ia melepaskan pelukannya . Tapi , aku tidak tahan rasanya kalah telak begini .

Aku langsung menempelkan bibirku ke bibirnya . Manis , mungkin karena dia makan selai nanas tadi .

"Erde-san . Mileina benar-benar cinta dengan Erde-san"

"Mileina ... Aku tak mau membohongi diriku !" Ia tampak tak nyaman .

"Jadi , Erde-san benar-benar ..." Aku takut .

"Mileina ... Aku tidak mungkin jadi pacarmu!" Tieria berteriak padaku .

Ciuman itu . First kiss dengan first love . Tampaknya romantis . Padahal Tieria tidak cinta aku . Dia sayang aku sebagai adik bukan kekasih .

Aku langsung berlari ke kamar . Menangis sekencang-kencangnya . Sulit untukku menerima kenyataan pahit ini .

Dengan mata yang sembab aku melihat ke arah jam dinding digital .

6.10.25 A.M.

Masih pagi . Aku langsung memejamkan mataku . Kembali tertidur .

Hari ini aku terlalu banyak menangis . Tangis haru dan tangis sedih . Semuanya bercampur jadi satu .


Author's note:

Rencananya mau bikin yang agak happy , ternyata jadinya begini . Yah , sudahlah ...

Ku usahakan nanti chapter 9 akan jaaaauuh lebih happy daripada ini!