Title : Die, Decay and Vanish

Author : Ulqui Schiffer / Seiran Akari / Cielo Vespertilio

DoC : Monday, August 10th , 2009

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Rating : 13+

Characters :

Zeno © Ulqui Schiffer

Claire Villian Reisvoust © Oza Hoshikami

Author's Note : Nyaaan, ini proyek keempat tanggal 8 Agustus 2009. Ini berdasarkan FRP yang Future XD. Capek mengetiknya, ngetik kilat pula, lebih memilih tulis tangan ini mah.. *Dibacok* XD. Kalau bisa, bacanya sambil dengerin lagu 'Pemuja Rahasia' by Sheila on 7. Okeeey? Ah, kok theme song nya lagu local semua, Ulqui lagi aneh~ XD Jangan lupa komentar, kritik dan sarannya. X3

Chapter 2.

Observing the vast sky is relaxing and calming for me, who is all by himself. The good for nothing me who is hated by everyone. I'm just able to ignore them and live by myself. Humans are social beings so they need another to survive is what sociology book says. How about us who is thrown by others? I'm so angry but can't do anything! My only support, my parents have just passed away because of a silly accident. I'm in a deep sorrow and can't change my attitude.. The sky is so vast, maybe I desired it to always accompany me by my side..

Seorang cowok keren, Zeno adalah seorang siswa yang dikucilkan dan sulit bergaul, dia lumayan pemalu dan introvert. Memiliki dunianya sendiri, dunia pikirannya. Cowok bermata biru ini dikucilkan karena ia selalu suram setiap saat. Tentu saja teman-temannya menjauh, jika dekat-dekat, mereka pasti akan terbawa suasana.

Dibalik kesuraman Zeno, tentu saja ada alasan yang sangat kuat! Mustahil seseorang bisa sesuram Zeno tanpa suatu alasan kuat yang sangat membekas. Sekitar dua tahun yang lalu, Zeno kehilangan kedua orangtuanya dan 'zeeep' ia langsung berubah drastis dan membenci keluarganya sendiri. Zeno menghapus nama keluarganya dan meninggalkan tempat tinggal asalnya. Hitori dake...

Meskipun demikian, para guru menyukai cowok pintar nan jenius ini. Sudah berprestasi di bidang akademik mana pun, ia juga ahli dalam hal praktek, sempurna sudah nilai akademik Zeno. Mungkin saja kendala bagi Zeno hanyalah saat bekerja kelompok. Sulit untuk mencari anggotanya. Zeno selalu memutuskan untuk membolos saat ada tugas kelompok ke atas atap untuk tidur siang.

Walaupun ia membolos pelajaran seperti itu. Di atas atap Zeno sering menatap ke atas langit dan memikirkan berbagai masalahnya. Ia selalu merasa kesepian dan sendiri walaupun pada permukaan ia tampak acuh tak acuh mengenai persahabatan ataupun hubungan.

Tanggal 28 Oktober 20xx. Zeno terlalu sibuk mengobservasi tugas biologinya di sekolah. Tak ia sadari waktu telah berlalu berjam-jam. Memang baginya mengamati bunga adalah hal terbaik. Kecintaan Zeno pada bunga sudah melebihi kecintaannya pada dirinya sendiri. Ya memang Zeno membenci dirinya sendiri sih.. Lelahnya bukan main.. Ingin rasanya goyang kaki sambil minum es kopi di kantin, sayangnya kantin telah tutup.

'DHUAR!' terdengar sebuah suara ledakan yang sangatlah keras. Tebakan pertama, mungkin asalnya dari laboratorium kimia. Kaki Zeno secara tiba-tiba langsung bergerak, berlari ke arah sana. Kedua kakinya bergerak di luar perintah Zeno, entah apa yang terjadi pada dirinya. Apakah ini pertanda sebuah peristiwa akan terjadi? Apakah peristiwa baik atau.. buruk?

"Apa yang terjadi di sini?!" Zeno membuka pintu secara paksa. Asap berhamburan keluar dari ruangan tersebut. Zeno menahan nafasnya menunggu asapnya menipis.

"AH! GAGAL!" ujar seorang cewek dari dalam, sepertinya dialah sang biang kerok.

Dilihat oleh Zeno, cewek tersebut memakai seragam yang sama dengannya dan sebuah jubah putih sekolah. "Ada peraturan yang melarang murid menggunakan fasilitas sekolah di luar jam sekolah tanpa izin" Zeno benar-benar hafal seluruh peraturan sekolah di luar kepala.

Cewek itu menatap Zeno sebentar. Dalam hati Zeno, pasti cewek itu mengabaikan omongannya seperti siswa-siswi lainnya. "Ah, kau Zeno kan? Murid terpintar di kelas? BANTU AKU!" Cewek tersebut memaksa Zeno untuk membantunya dan tak menerima kata tidak dari Zeno.

"Hah?" Zeno kaget, balasannya tak seperti yang ia kira. Biasanya orang-orang akan mengabaikannya dan melanjutkan kegiatan mereka.

"Aku tidak ingin mendengar balasan 'hah', oh mungkin kau tak mengenaliku. Aku Claire Villian Reisvoust. Sekarang yang kumau kau membantu aku menyelesaikan eksperimen ini" Claire menunjuk-nunjuk buku kimianya, yang pasti bukan buku dari sekolah.

Zeno melihat buku itu sekilas tanpa rasa tertarik sedikit pun. Dia paling hanya tertarik pada cewek itu. "Ah, ini kan mudah" Zeno langsung mencampurkan berbagai zat berwarna-warni tak jelas. Pmnya oon jadi nggak tahu. XD

Claire melihat hasil yang eksperimen Zeno. "Cih, ternyata hanya salah di bagian itu. Segitu doang sih aku masih bisa" Claire tak mau kalah dengan Zeno. Claire membawa bukunya dan beranjak keluar laboratorium. "Besok-besok bantu aku lagi ya, Zeno!"

Claire meninggalkan Zeno yang terbengong-bengong. Ini pertama kalinya ia berbincang dengan seorang murid. Perasaan Zeno sangat membaik, mungkin sebagian lukanya sudah mulai sembuh. Dan kenyataan mengatakan ia berguna bagi orang lain juga sepertinya ia menyukai gadis itu. Memang cinta tak bisa ditebak dan dipikir secara logika. Tetapi, Reisvoust? Claire sekeluarga dengan Zeno walau tanpa hubungan darah yang dekat. Reisvoust, yaa Zeno telah membuangnya sekitar 2 tahun yang lalu.

Fate is playing with me. It is the chaser and I am the victim. One thing that I can do is struggle..

Tanggal 12 November 20xx, salah satu hari yang tidak disukai Zeno. Hari ini adalah hari Rabu yang memiliki arti, ada pelajaran kimia. Zeno tidak menyukai gurunya karena orang itu sering mengadakan kerja kelompok yang paling ia benci. Tepat hari itu juga, Zeno memiliki rencana untuk membolos dan tidur di atap menikmati langit cerah..

Jam pelajaran keenam, tepatnya kimia. Zeno berbelok menuju tangga dan naik perlahan-lahan ke atap. Setelah menutup pintu, ia berbaring di atas atap yang dingin melakukan kegiatan favoritnya, memandangi langit, sangat menyenangkan, sangat menenangkan..

Tibat-tiba Zeno teringat masa kecilnya. Masa-masa terbahagia seumur hidupnya. Ia masih tinggal di rumah yang megah dan besar, halaman rumah yang dipenuhi bunga-bunga, perpustakaan yang lengkap dari A-Z.. Orangtuanya masih hidup dan rumah selalu dipenuhi tawa canda, teman-teman yang jujur dan setia kawan, menerima Zeno apa adanya. Sayang semuanya harus terbakar karena peristiwa yang akan selalu terukir di hati Zeno, selamanya..

"Hei!" Claire, gadis yang kemarin itu datang lagi menemui Zeno. Wajahnya memblokir sinar matahari bagi Zeno. "Enak sekali tidur di sini selama pelajaran berlangsung?"

Zeno menguap, dia baru saja bangun setelah mengingat masa kecilnya sebleum tertidur. Zeno merapikan rambutnya dan seragamnya dan duduk bersandar ke tembok. Tak memperdulikan omongan Claire.

Claire sedang sibuk menyirami bunga sementara Zeno memeperhatikannya dari kejauhan. Jarang-jarang ada murid yang rajin menyirami bunga.

"Hei Zeno, bunga-bunga ini sepertinya ingin selalu menjadi kuncup" Claire menyentuh bunga-bunga yang belum bermekaran itu. "Soalnya kalau sudah mekar mereka akan dipotong kan? Dijual ke para manusia"

Zeno hanya mengangguk malas. Dia benar-benar sedang malas berbicara.

"Tetapi kalau hanya sebatang bunga yang belum mekar, masih kuncup.. Dia tak akan terlalu berguna bagi manusia kan? Makanya ia mekar" Claire membetulkan posisi bunga-bunga tersebut.

Perkataan Claire langsung menusuk hati Zeno. Rugi sekali ia baru sadar sekarang. Zeno sebenarnya takut untuk berubah. Padahal dengan berubah justru ia akan menjadi lebih berguna dan dipandang. Ya, Zeno selalu ingin berada di masa lalu padahal manusia tak punya daya apapun untuk melakukan hal itu.

I have already comprehended my problems, I also have the solutions. That is what I'm lacking of. I let grass grew under my feet, I have longed these problem much. First step, I have to claw everything back. Thanks my sky, you really are my life shade place.. If I haven't ever meet you, I'll just die, decay and vanish...

The End