Title
: Die,
Decay and Vanish
Author
:
Ulqui Schiffer / Seiran Akari / Cielo Vespertilio
DoC
: Saturday,
August 15th
, 2009
Genre
: Romance,
Hurt/Comfort
Rating
:
13+
Characters
:
1.
Zeno © Ulqui Schiffer
2. Claire Villian Reisvoust © Oza
Hoshikami
Author's
Note :
Yes! Akhirnya selesai juga, udah dipending berhari-hari sampe Zeno
ngomel. Jadi, silahkan baca sambil denger Life is Like a Boat by Rie
Fu. Komen, kritik dan saran~ XD
===================
Chapter 3.
I will absolutely do whatever I want! You people don't have any rights to rule over me. I will surely move my feet and chase the freedom! I am free now. No one in this world is able to lock me in a room. Or else I will struggle 'til the end of my rebellion, which means my dead. Even though I have acquired freedom, I feel nothing inside. Even though I am able to fight everything in this world, only loneliness alone I can't overcome. I miss a person who can order me around, miss an angel who can tell me to restrict my legs' movements…
Seorang cowok berambut silver lewat di tengah kerumunan banyak orang. Secara otomatis tanpa diperintah orang-orang membuka jalan baginya. Mengapa hal seperti ini dapat terjadi? Tentu saja karena Zeno, sang pemimpin sebuah geng berandalan atau dapat disebut preman sedang lewat. Walaupun mereka berandalan, mereka sangat jago ngeband dan skateboarding.
Kerjaan geng ini sehari-hari hanyalah berjalan-jalan keliling kota sekaligus ngeband dan skateboarding. Terkadang juga mereka pergi ke game center untuk menguasai seluruh bangunan.
Meskipun Zeno merupakan pemimpin dari geng yang paling ditakuti sekota ini, faktanya ia merupakan anggota termuda di geng. Anggota-anggotanya, yang sangat menghormati Zeno saja ternyata adalah senior Zeno, rata-rata umur mereka adalah 19 tahun. Fakta lainnya mengenai sang pemimpin geng ini, ia putus sekolah setahunan yang lalu. Alasannya? Ia terlalu depresi karena sebuah kejadian yang sangat membekas di hatinya dan akhirnya ia mengambil jalan yang salah.
Tanggal 28 Oktober 20xx. Hari sudah gelap saat Zeno kembali ke apartemennya. Apartemen yang paling kotor dan berantakan sekompleks. Apartemen yang paling tak terurus sekompleks, tak pernah dikunci karena orang-orang pun segan untuk memasukinya. Di deretan teratas rak sepatu, ada sesuatu yang janggal. Rak sepatu yang seharusnya berisi berbagai sepatu dan sandal tak berbentuk dan berwarna, menampung sepasang sandal berhak putih bersih dan imut.
Tanpa melepas sepatu yang ia kenakan, Zeno berjalan di atas tumpukan sampah ulahnya. Sesosok tubuh mungil menarik perhatian Zeno, ia terbangun dari tidurnya.
Gadis itu mengusap-usap matanya dan menatap Zeno, "Ungg… Tante sudah pulang?" Kali ini gadis itu menguap. Dengan santainya ia duduk tanpa mengetahui sang tuan rumah yang sesungguhnya.
Zeno terbengong-bengong memperhatikan si gadis yang merasa apartemen Zeno bak rumah sendiri dan lagi, Zeno yang jelas-jelas laki-laki dipanggil 'tante'. Tebakan pertama, gadis ini pasti salah alamat dan masuk seenaknya ke apartemen Zeno yang tak terkunci.
Si nona salah alamat mengamati Zeno dengan seksama, "Lho, bukan tante.. Kau siapa?" Dia tampak kebingungan dan sedikit panik, mungkin ia akan lebih panik jika mengetahui bahwa sang pemimpin berandalan ada di hadapannya.
Cowok tak sabaran ini jadi kesal, harusnya si nona salah alamat ini dulu yang memperkenalkan diri. "Zeno, pemilik apartemen ini" ia memperkenalkan diri dengan nada yang sangat tak bersahabat.
Gadis itu melihat ke sekelilingnya sekali lagi dan juga melihat keluar jendela, hari telah gelap gulita. "Ung... Boleh aku menginap di sini? Sudah malam" pintanya dengan nada memelas. Sangat memelas.
Puppy eyes-nya manjur, Zeno paling nggak tahan sama hal beginian. "Yasudah.."
"Yes! Kalau begitu, bersihkan ruangan ini sekarang juga. Bersama-sama tentunya" Gadis itu memaksa Zeno untuk merapikan plus membershikan seluruh penjuru ruangannya. Zeno? Tak bisa menolak sama sekali.
Alhasil, apartemen yang kotor dan tak berbentuk itu akhirnya menjadi apartemen yang kinclong dan bersihnya bukan main. Entah pembersih merek apaan yang digunakan gadis itu. Perasaan Zeno ketika melihat apartemennya jadi konclong seperti itu tentu saja.
Terkejut
Senang
Tidak menyangka
Tidak percaya
Intinya, Zeno tidak pernah berpikir apartemennya jadi seperti itu.
"Balkonnya bersih banget.. Wuih, bunga" si gadis itu menuju balkon apartemen Zeno, tempat paling terawat seapartemennya. Di tempat itu, bunga carnation merah bermekaran dengan indahnya. "Lebih terawat dari orangnya yah. Hahaha" gadis itu mentertawakan Zeno dengan membandingkannya dengan si bunga.
Zeno tidak bisa membantah omongan gadis itu. Memang, kecintaannya pada bunga melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri.
Tugas berikutnya adalah mengantar si gadis mencari apartemen tantenya yang sesungguhnya. Mereka berjalan-jalan dari satu jalan ke yang lainnya. Sering sekali mereka dicegat oleh anak buah Zeno, mengajak ini dan itu. Saat Zeno menolak, gadis itu malah menyuruh Zeno melakukannya. Setelah selesai, gadis itu pasti memuji Zeno. Pujian tulus memang selamanya enak didengar.
It has been a long time since the last time someone smile honestly for me alone. It has been a long time since I like someone...
Akhirnya mereka tiba di depan sebuah apartemen yang mewah dan megah. Memang dari penampilannya gadis itu tampak seperti anak konglomerat.
Di ambang pintu, gadis itu berhenti melangkah dan kembali berjalan ke Zeno. "Aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Claire Villian Reisvoust" Dia senyum-senyum. "Oh ya, kau tidak sekolah? Aku sih hari ini bolos. Hahaha"
Zeno menggeleng saja. Reisvoust? Gadis itu Reisvoust? Keluarga yang telah lama Zeno tinggalkan? Memang, Zeno adalah seorang pengecut yang hanya bisa lari dari masalah tanpa memecahkannya sedikit pun.
Fate is mocking me. It is laughing above my misery, my suffering, all my bad lucks.
"Sekolah saja! Aku jamin kau bisa! Oh, bagaimana dengan Latowidge? Sekolahku?" setelah mengatakan seruntutan kalimat, ia menghilang di balik pintu. Mungkin sarannya dapat dicoba walau Zeno telah kehilangan 2 tahun. Latowidge? Dia pasti bercanda, sekolah elit itu untuk Zeno? Hahaha, konyol.
I believed she is an angel who has been ordered to tell me everything I'm lacking of. I have to give thanks about it. An angel who can restrict me, the wildest horse on the field. If I haven't ever meet her, I will surely die, decay and vanish....
The End
