Title : Die, Decay and Vanish
Author : Ulqui Schiffer / Seiran Akari / Cielo Vespertilio
DoC : Tuesday, August 18th, 2009
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Rating : 13+
Characters :
1. Zeno © Ulqui Schiffer
2. Claire Villian Reisvoust © Oza Hoshikami
Author's Note : FINALLY! Chapter 4! YUHU~~ Give applause to Ulqui! *applause terus ditabok* XD Inilah kesimpulan dari 3 chapter sebelumnya.. Hehe.... Kalau bisa baca sambil dengerin Sakura Rock by Cherryblossom. Pas deh liriknya =]]

===================

Chapter 4

Tanggal 1 Desember, setahun setelah Zeno bertemu Claire, tepatnya sekarang mereka kelas 12. Zeno sedang duduk goyang kaki di kantin menunggu Claire datang menghampirinya. Untuk melepas kejenuhan, ia membuka tutup yoghurtnya dan mengambil sebuah sendok lalu mulai melahap yoghurt cairnya. Tak lama berselang, Claire datang menghampirinya dengan sepiring sushi dan the botol *PM lagi ngidam*. Pokoknya apa pun makanannya, minumnya teh botol sosro *Digeplak, promosi*

Claire meletakan nampannya perlahan dan duduk berhadapan dengan Zeno. Ia menyiapkan sumpitnya "Zeno, kau ingat janji hari ini nggak?"

Cowok ini menatap mata coklat Claire dengan penuh kebingungan. "Jan.. Janji?"

Mata Claire langsung menajam, seolah-olah ingin ngomel panjang lebar tetapi ia tahan "Lupakanlah"

Zeno benar-benar tidak tahu. Mungkin juga ia lupa total. Tapi sebenarnya janji apa? Zeno bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengapa ia sampai lupa total seperti ini? Ah.. Claire jadi kesal dan marah dengannya. "Ohh... ya... Janji itu" Zeno memutuskan untuk berbohong sekaligus memancing Claire.

Raut wajah Claire seketika berubah. "Oke, kutunggu ya! Jam 6 sore, jangan telat!" Claire pergi sambil melambai-lambaikan tangannya.

Zeno hanya balas melambai. Apa yang dilakukan Zeno setelahnya? Termenung, bergonta-ganti posisi duduk dan akhirnya mengacak-acak rambut silvernya. Prekiraan Zeno, Claire akan berkata "Oke, kutunggu di [lokasi] ya! Jam 6 sore!" semacam itu. Sehingga Zeno tahu lokasi dan waktu janjian mereka. Skearang? Pupus sudah harapan Zeno.

Claire pasti membenciku. Mungkin saja ia menjauhiku, soalnya.. Dia tampak sangat semangat dengan janji yang satu ini.... AHHH!!!

Zeno menggila. Batas waktu yang ia miliki hanya sampai jam 6 sore sementara sekarang om jam telah menunjukan pukul 1 siang. Kesimpulannya, Zeno hanya memiliki sisa waktu 5 jam untuk mengingat kembali atau mencari informasi.

Di sekolah? No idea. Di rumah kaca? No idea at all. Di perjalanan pulang? Nothing obvious.. Di tempat kerja part time? DEADLINE! It's 5.45 now.

Zeno punya ide. Mungkin ia dapat menelpon ke rumah Claire dan bertanya kemana gadis manis itu pergi. Ia pun mengambil telepon genggamnya dan mulai menekan nomor rumah Claire. Tak perlu lihat di kontak! Dia sudah hafal.

"Zeno-kun! Aku ada janji penting dengan teman kerjaku. Tolong jaga toko ya, nanti gajimu kutambah" Boss langsung ngeloyor pergi tanpa persetujuan.

Tamat sudah riwayatku. Hubungan baik dan tenteram [?] dengan Claire yang kubina dengan susah payah dan dalam waktu yang tidak singkat, sudah tak berarti apa-apa..

Mau tak mau dan left without any choice, Zeno lembur. Sudah 3 jam lebih berlalu sejak waktu mereka janjian. Alasan apa yang mau Zeno gunakan? Kerjaan lembur? Bisa-bisa toko ini dipaksa tutup oleh Claire. Skenario terburuk, jika Claire tidak lagi mememandang Zeno.

I am nothing without you. Just the dew in the morning which will eventually disappear soon.

Salju mulai turun. Indahnya.. Zeno hanya dapat memandanginya lewat jendela. Andai saja ia dapat melihatnya bersama-sama dengan Claire. Tunggu dulu, salju? AH! Itu dia! Arena ice-skating! Zeno segera meraih sweaternya sewaktu sosok boss terlihat dari jendela. Ia langsung berlari di atas tanah yang mulai membeku.

Ditapakannya kakinya secepat mungkin. Ia tahu, Claire tak mungkin masih ada di sana. Ia pasti sudah pulang dan berada di depan perapian daripada nggak jelas menunggu di tengah-tengah taman es.

Nafas Zeno tersengal-sengal. Cowok nggak modal ini harus berlari dari tempat kerjanya ke arena ice-skating yang terpaut jauh. Ditambah lagi dengan cuaca dingin dan payahnya stamina cowok ini.

Sesosok makhluk mungil berambut biru tua tertidur dengan lelap di kursi taman.

"C.. Claire!" Zeno langsung bergegas ke sana. Disentuhnya tangan gadis itu, dingin.. Ia lepaskan sweater dan syal yang ia gunakan lalu segera ia pakaikan pada Claire. "Hei" Zeno menepuk-nepuk pipi Claire pelan.

Claire membuka matanya, dilihatnya wajah Zeno yang sangat panik. Ia tersenyum.

Zeno menghela nafas merasa lega, untung tak terjadi apa-apa padanya. "Mengapa kau menungguku? Seharusnya kau pulang saja, abaikan saja janjimu denganku yang tak bertanggung jawab ini" Zeno menggenggam pergelangan tangan Claire yang dingin. Gadis itu tidak mengenakan sweater..

Claire merogoh sakunya, tangnnya yang dingin memberikan sebuah kotak kecil kepada Zeno. "Happy birthday" ia tersenyum hangat ke Zeno. " Kau selalu melupakan hari lahirmu sendiri" Claire menjitak Zeno pelan, sangat pelan dan tak bertenaga.

Shock, itulah hal pertama yang dirasakan Zeno. Ia selalu ingat ulang tahun orang lain [sampai barang sekali pun]. Sedangkah ulang tahunnya sendiri? Tak pernah ia ingat dan takkan pernah mau ia ingat. "Terima kasih" perasaan Zeno campur aduk, ia menatap Claire dengan kedua mata birunya lekat-lekat.

Kian lama, jarak antara mereka makin dekat. Terus mendekat hingga jarak antara bibir mereka tinggal 1 cm. Keduanya menutup mata mereka masing-masing.

"Claire-oujousama!" Seseorang meneriaki nama Claire dari belakang. "Anda tidak kedinginan? Meninggalkan sweater anda" Pelayan itu menyodorkan sepotong sweater dan syal kepada Claire.

Secara otomatis, Zeno dan Claire langsung menjaga jarak. Wajah mereka memerah dan tak memiliki keberanian untuk menatap satu sama lain.

Claire menunjukkan wajah tidak senang pada pelayannya itu. Ia mengambil sweater ungu tersebut dan melemparkannya ke Zeno. "Ayo pergi" Claire langsung ngibrit meninggalkan Zeno.

Zeno bengong. Claire bukannya mengembalikan sweater miliknya malah Zeno diberikan sweater ungu milik Claire. Tampaknya Claire mengingini sweater dan syal milik Zeno. Boleh lah, Zeno ge er. XD

Hadiah dari Claire! Dibukalah kotak kecil itu dan... Tada! Sebuah jam pasir. Zeno tersenyum, Claire tahu saja, ia menyukai jam apapun wujudnya. Di bagian bawah jam terdapat tulisan 'Zeno' di bagian paling kiri dan 'Claire' di bagian paling kanan. Zeno mengambil sebuah spidol permanent merah dari sakunya dan menggambar hati dii antara kedua tulisan dan tersenyum hangat mengingat hal yang terjadi barusan.

Keesokan harinya, tepatnya tanggal 2 Desember 20xx. Semua murid sekolahan kembali masuk seperti biasa, ya tentu saja karena hari itu adalah hari sekolah *PM dibejek, geje*

"Claire-chan~" Zeno ingin memanggil Claire untuk membicarakan masalah tugas mereka.

"AH! Jangan gunakan -chan, Zeno-chii!" Claire tidak terima dan membalas perkataan Zeno.

"-chii... Jelek amat.. Jangan -chii, Claire-kyon!" Zeno panik sendiri, tambahan -chii di belakang hanya merusak imagenya.

"Sekali lagi pake embel-embel yang aneh-aneh, kuledakan kau, Zeno-nyuu" Claire mengancam dengan keahliannya.

"Tidak, tidak! Jangan -nyuu, Claire-" 'DHUAR!' Zeno pun pingsan akibat dari ledakan.

She is my life's flavor. Spicy, bitter, sweet, salty, sour which complete my life. Once more, If I haven't ever meet her, I will die, decay and vanish...

The End