Disclaimer : Masashi Kishimoto.

Pairing : SasuXNaru

Warning : This fic is fact YAOI !! bagi mereka yang anti dengan kata itu, di harap untuk lekas meninggalkan halaman ini. DON'T LIKE DON'T READ!!

0o0o0oXxXo0o0o0

TWIN HEART

Chapter 4

20 Hari kemudian...

-

Di Konoha High School...

'Ting-Tong-Teng-Tong'

Bel istirahat berbunyi, diikuti dengan ribuan nafas lega yang keluar dari lubang pernafasan setiap murid-murid di sana.

Terlihat sangat jelas sekali sosok seorang perempuan yang tidak asing lagi di pandang oleh kedua bola mata telanjang murid-murid tengah berjalan dengan pemuda yang bisa dikategorikan sebagai cowok paling cool se Konoha, ya, siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke.

Semua murid-murid di Konoha High School sudah paham benar seberapa jauh hubungan kedua insan itu. Yang di maksud hubungan di sini bukanlah hubungan seperti sepasang kekasih, melainkan hubungan persahabatan yang amat kentara sekali terjalin di antara mereka. Hubungan yang mungkin tidak akan terlepas meskipun ajal memisahkan mereka berdua. Tapi, entah seberapa lama mereka masih bisa mengukuhkan hubungan itu ketika seseorang datang menyapa di kehidupan mereka.

Mereka terus berjalan berdampingan, sampai memasuki sebuah tempat yang biasa mereka kunjungi di saat jam istirahat seperti ini. ya, tidak lain yaitu taman belakang sekolah. Tempat yang paling nyaman, yang paling indah, dan mungkin tempat yang paling di rasa cocok untuk mencurahkan isi hati.

Naru mengambil posisi duduk di bawah pohon besar yang rindang, diikuti dengan Sasuke yang duduk di sebelahnya.

"Sasuke..." Panggil Naru

"Hn" Jawab pemuda itu singkat.

"Kau tahu, kakakku akan pulang hari ini!!" Ucap Naru bersemangat.

Sasuke yang belum mempersiapkan jantungnya untuk menerima tindakan Naru yang terlewat semangat, akhirnya jatuh juga mendengar nada suara Naru yang bisa di bilang mampu untuk di gunakan sebagai pengganti mic. Benar-benar tidak menampilkan ciri khas keluarga Uchiha.

"Dobe!! Kalau mau ngomong mikir sedikit nggak, sih?" Ucap Sasuke lantang.

"Ma-maaf...lagipula gimana adiknya tidak ceria kalau kakaknya akan pulang?" Naruto menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Sasuke membuang nafas panjang melihat kelakuan Naru yang dinilainya kekanak-kanakan. Tapi, justru sifat itulah yang Sasuke sukai dari Naru selama ini.

"Yah...ini bukan salahmu. Memang ada benarnya kalau seorang adik pastilah sangat senang bahwa kakaknya akan pulang dari negara yang jauh di sana." Ucap Sasuke yang kini tengah mengangkat wajah Naru dan menatap bola mata birunya lekat-lekat.

"Kapan?" Tanya Sasuke

"Apanya yang kapan?" Tanya Naru balik

"Hhh...kau bilang kakakmu akan pulang?"

Naru tersenyum kecil, "Hari ini"

"Jam?"

"Aku tidak tahu tepatnya, Mungkin nanti setelah pulang sekolah"

"Terus?"

"Aku akan langsung pulang"

"Dengan apa?"

"Kaki"

"Lalu?"

Naru mulai jengkel mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang terlontar dari mulut Sasuke, "Teruskan sendiri, Teme!! Kau kan punya otak!!" Jawab Naru kesal.

"Hah...Dobe...kau ini jahat sekali sih? Heran, kenapa aku mau berteman denganmu ya?" Ucap Sasuke memancing.

"Ap-... Teme!!!!!" Seru Naru.

0o0o0oXxXo0o0o0

'Ting-Tong-Teng-Tong'

Bel usainya pelajaran telah berbunyi. Membangkitkan kembali semangat murid-murid yang tengah menunggu berjam-jam bunyi bel yang di nanti-nanti. Tak terkecuali semangat Naru yang sedari tadi menahan rasa keinginannya untuk cepat-cepat berlari menuju istananya, menunggu sang saudara kembarnya yang telah lama di nanti pulang kembali.

"Hore....!! Waktunya untuk pulang!!" Seru Naru bersemangat.

"Naru...ngomongnya kenceng banget sih?" Tegur Ino.

Sakura ikut nimbrung, "Iya nih...! Pantes aja Naru menyandang predikat cewek paling hiperaktif di sekolah ini!" Ucap Sakura dengan pandangan sinis.

"Kalian diem aja lah...! Memangnya kalian tahu arti dari semangatku tadi?" Tanya Naru yang diikuti dengan gelengan dari kedua temannya.

"Kakakku....akan pulang...!!!!" Jawab Naru kembali bersemangat.

"Hah??!!!" Teriak Ino dan Sakura bebarengan.

"Se-sejak kapan kau punya kakak, Naru?" Tanya Ino.

Tiba-tiba Sasuke datang dan mengikuti pembicaraan mereka bertiga, " Sejak Naru dilahirkan di dunia ini, dia memang sudah punya kakak!"

"Eh, Sasuke-kun....mau pulang bareng?" Ajak Sakura yang mulai bertingkah genit.

"Ayo kita pulang, Naru! Aku ikut denganmu!" Ucap Sasuke cuek menanggapi ajakan dari Sakura.

"Yosh!! Aku pulang dulu ya, teman-teman!!" Ucap Naru sembari melambai-lambaikan tangannya pada kedua temannya yang masih terbengong-bengong menatap Naru. Apalagi Sakura yang sudah membatu di tempat karena ajakannya tidak di pedulikan oleh Sasuke.

"Heh!! Kau ini kenapa membatu begini?" Ucap Ino yang sudah memukulkan palunya di atas kepala Sakura.

"Ino!! Kau ini apa-apaan??" Omel Sakura sambil memegangi kepalanya. " Oh ya, apa benar Sasuke dan Naru pacaran?"

"Aku tidak tahu! Tapi, kalau dilihat-lihat sih, mereka seperti pasangan yang serasi ya?" Ujar Ino meminta pendapat pada perempuan di sebelahnya.

"Hei-hei, bukannya dulu kau sangat mengagumi Sasuke?" Protes Sakura.

"Memangnya iya? Aku rasa tidak tuh!! Bukannya kamu yang terlalu menaruh harapan pada Sasuke? Kalau aku sih, jangan di tanya..." Balas Ino enteng.

Sakura hanya membuang nafas kesal melihat tingkah teman yang satunya ini. dalam lubuk hati Sakura yang paling dalam, Ia sangat terpukul. Rasanya hatinya sakit dan perih menerima kenyataan ini. pemuda yang dulu Ia sukai sejak SD ternyata malah menyukai rivalnya diam-diam. Ya. Sakura menganggap Naru adalah rival masa kecilnya dalam hal memperebutkan hati Sasuke. Saking terobsesinya akan memiliki hati Sasuke, dia malah menjadikan sahabatnya sebagai rival sejatinya. Sungguh, teman yang tidak berperasaan.

"Yah...biarlah!! Ayo, kita pulang Ino!!" Ajak Sakura pada akhirnya.

0o0o0oXxXo0o0o0

"Teme! Kau mau ikut pulang ke rumahku?" Tanya Naru pada pemuda di sampingnya.

"Hn, kalau kau mengizinkan" Jawab Sasuke.

"Kenapa pakai izin segala? Kapan saja kau mau datang ke rumahku silahkan! Karena rumahku, rumahmu juga!" Ucap Naru blak-blakan.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya, "Benarkah? Kalau begitu, nanti malam aku boleh datang ke rumahmu? Tepatnya di kamarmu?"

"Eh!! Kau ini gila ya? Tidak boleh kalau begitu!!" Seru Naru kesal.

"Hmpph..."

"Jangan tertawa, Teme!!"

"Tenang saja, aku hanya menggodamu, kok!" Balas Sasuke iseng.

"TEME SIALAAAAN!!" Seru Naru sembari berlari melewati Sasuke.

0o0o0oXxXo0o0o0

"Hhh...Hhh....sudah sampai!!" Ucap Naru dengan nafas tersenggal-senggal.

"Hhhh...kau ini, kenapa pakai lari segala sih?" Keluh Sasuke.

"Cuma peregangan otot!" Balas Naru sekenanya.

"Apa? Aku tidak salah dengar? Cewek lari alasannya peregangan otot? Seperti ikut latihan karate saja kau, Dobe..." Ujar Sasuke.

"Be-...Ups!!" Naru menutupi mulutnya. Hampir saja Naru akan mengatakan 'benar'.

Mendengar ucapan Naru yang terpotong, Sasuke mengangkat sebelah alisnya dan melepaskan tangan Naru dari mulutnya.

"Kau tadi mau bilang apa?" Tanya Sasuke.

"Ah! Hehe...aku tidak bilang apa-apa kok! Telingamu kemasukan kecoa kali...!" Ucap Naru sembarangan.

"Dasar aneh..." Ejek Sasuke.

"hehe..." Tawa Naru datar.

Sekian kali tawa datar Naru tak henti-hentinya keluar dari bibirnya. Mencoba untuk menghapus kebohongannya yang terukir jelas di raut wajahnya. Tapi, Sasuke sama sekali tak terpengaruh dengan itu, dia tahu, pasti Naru menyembunyikan sesuatu darinya. Mungkin, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakan yang sejujurnya, lain waktu pasti bisa di tebak.

Karena terlalu berkonsentrasi pada Sasuke yang ada di hadapannya, Naru sama sekali tak berkonsentrasi pada gerakan pintu rumah yang telah di buka oleh seseorang. Begitu sebaliknya, Sasuke juga tak memperdulikan sesuatu hal yang ada di sekitarnya, pikirannya hanya tertuju pada raut wajah Naru saat ini.

Seseorang tengah menatap kedua insan di balik pintu rumahnya sedari tadi. Ia menangkap dengan mata biru indahnya, sosok perempuan yang sangat lekat sekali dengan kehidupannya, sosok perempuan yang sangat mirip dengannya, dan sosok perempuan yang sangat Ia kenal sedang bercengkrama dan bersenda gurau dengan pemuda yang ada di hadapannya.

"Na...ru..." Panggil sosok tersebut dari arah teras rumah Naru.

Merasa dirinya di panggil oleh seseorang, Naru kemudian berbalik dan mendapati sosok seseorang yang amat persis dengannya tengah menatap dirinya sambil menitikkan air mata.

"Nii...Nii...Chan..." Respon Naru setelah melihat siapakah sosok yang telah memanggilnya tersebut.

Tanpa banyak bicara lagi, Naru langsung berlari ke arah kakaknya berada dan menghambur ke dalam pelukannya.

"Nii-Chan....sudah lama sekali Naru tidak melihat wajah Nii-Chan....hiks...hiks..." Ucap Naru di sela-sela tangisannya.

"Nii-Chan juga..." Balas kakak Naru sembari melepaskan pelukannya dari Naru. "Lihat, kau tambah manis saja"

"Ah~...Nii-Chan jangan begitu! Justru Naru tambah jelek! Nii-Chan yang tambah manis..." Jawab Naru manja.

Naru sadar akan keberadaan seseorang yang sedari tadi Ia tinggalkan. Kemudian Ia melirik ke arah Sasuke, hampir saja Naru lupa sepenuhnya akan keberadaan Sasuke di sini. Naru kemudian menoleh ke arah Sasuke berada dan mengajak kakaknya untuk berkenalan dengannya.

"Sasuke...!! Kenalkan ini kakakku, Namanya Naruto Nii-Chan...!" Ucap Naru kegirangan, " Nii-Chan, ini temanku, Namanya Uchiha Sasuke."

"Oh...jadi kamu yang namanya Sasuke? Naru sering menceritakan tentang dirimu lewat surat. Perkenalkan, aku Uzumaki Naruto." Ungkap pemuda bernama Naruto sembari mengulurkan tangannya.

Sasuke terpaku melihat sosok yang berdiri di hadapannya, wajahnya benar-benar damai, terlihat sangat manis di tambah dengan tiga garis yang menghiasi kedua pipi kecoklatannya.

Entah sejak kapan hatinya mulai terpikat dengan sosok pemuda itu? Yang jelas, Ia tidak akan bisa menjawabnya.

Perlahan Sasuke meraih uluran itu dan menyambutnya dengan halus, "Aku Uchiha Sasuke, senang berkenalan denganmu..." Ucap Sasuke, wajahnya terlihat sedikit merona merah.

"Iya, senang berkenalan denganmu juga...." Balas Naruto diikuti dengan senyuman termanisnya. Jikalau Naruto tahu bahwa senyumannya sangatlah menggoda untuk pemuda di hadapannya, Naruto pasti mati-matian untuk menjaga sikap di depan pemuda itu.

"Ayo masuk! Dari tadi aku melihat kalian ngobrol terus di luar. Mendingan kita masuk saja. Ibu juga sudah menunggu kedatanganmu dari tadi, Naru..." Ajak Naruto.

"Iya!" Jawab Naru bersemangat.

"Kau juga, Sasuke! Ibu pasti senang melihatmu disini." Kata Naruto.

"Hn" Sasuke balas mengangguk.

Sesampainya di dalam rumah Naru yang terbilang cukup sederhana, Kushina menyapa mereka bertiga.

"Naru...Naruto...dan...Sasuke! Kalian bertemu di depan tadi?" Sapa Kushina.

"Iya, bu..." Jawab Naru.

"Oh ya, Sasuke mendingan duduk di sofa saja dulu. Biar aku buatkan minuman, Naru tolong temani Sasuke ya..." Ujar Naruto.

"Ah, mendingan Naru saja yang buatkan minum untuk Sasuke. Nii-Chan ngobrol-ngobrol saja dulu sama Sasuke." Ucap Naru yang langsung lari ke dapur.

"Ibu mau menyiapkan makan siang dulu ya..." Ucap Kushina.

Hening. Itulah kata yang pantas di ucapkan untuk menggambarkan suasana di ruang tamu kali ini. Kushina sedang sibuk berkutat dengan panci dan bahan masakan yang lain, sedangkan Naru sibuk menyiapkan minuman untuk Sasuke.

Semuanya serba sibuk, terkecuali dua orang yang sedang sibuk menyiapkan kata-kata yang pantas untuk memecah keheningan di antara mereka.

"Se..." Ucap Naruto dan Sasuke bebarengan, membuat kedua wajah mereka ikut bersemu merah juga.

"Kau duluan." Kata Sasuke sengaja untuk mengalah.

"Emm...sejak kapan kau mengenal Naru?" Tanya Naruto.

"Aku mengenal Naru sejak kecil. Kalau tidak salah saat kami berumur 6 tahun." Jelas Sasuke.

"Oh...begitu, kalau kau sendiri mau ngomong apa?" Tanya Naruto lagi.

"Sejak kapan kau datang kemari?" Tanya Sasuke.

"Dari jam sebelas tadi." Balas Naruto.

"Oh..."

Hening lagi. Rasanya hanya perkataan itulah yang mampu di ucapkan mereka berdua. Keadaan ini masih terus saja berlanjut, sampai akhirnya Naru datang membawa tiga gelas minuman yang sudah terisi penuh dengan jus jeruk.

"Nah...ini dia minumannya. Maaf menunggu." Ucap Naru sembari menaruh nampan itu di meja.

"Hei, Dobe. Kenapa jus jeruk semua? Untukku yang jus tomat mana? Kau kan tahu kesukaanku?" Protes Sasuke.

"Sasuke, kau ini jangan minum jus tomat terus! lama-lama matamu itu terlewat sehat, kalau terlewat sehat, lama kelamaan matamu itu bisa melihat tembus pandang! Kan malu jadinya!" Ucap Naru asal.

Spontan wajah Sasuke memerah mendengar ucapan Naru. Sempat Ia dengar pula tawa Naruto yang pelan, membuat wajah Sasuke semakin memerah.

"Naru...kau ini jangan begitu ah!! Kan bagus minum jus tomat terus? Di sana malah banyak orang-orang yang menyukai jus tomat dari pada jus jeruk." Ujar Naruto bergurau.

"Yah...kalau sudah terlanjur mau di apakan lagi? Maaf ya, Sasuke. Kali ini kau terpaksa minum jus jeruk dulu, karena Nii-Chan juga menyukai jus jeruk, jadi biar lebih cocok semuanya aku pakai jus jeruk, Oke!" Ucap Naru sambil mengacungkan ibu jarinya tepat di depan muka Sasuke.

Sasuke hanya bisa membuang nafas panjang menerima perlakuan temannya itu. Sedangkan Naruto hanya bisa tertawa renyah melihat tingkah keduanya.

"Oh ya, ujian akhirmu kapan, Naru?" Tanya Naruto.

"Kalau tidak salah empat bulan lagi, doakan aku lulus ya, Nii-Chan!" Balas Naru.

"Siip...!! Tapi, belajarnya harus yang rajin ya...!"

"Tenang saja, Nii! Ada Sasuke yang siap menemani. Dia kan selalau mendapatkan juara umum! Dia juga siswa teladan lho...!" Ucap Naru bangga.

"Oh ya? Bagus dong! Tapi, jangan bergantung sama Sasuke terus! Kau juga harus belajar sendiri yang tekun!"

"Iya Nii-Chan..."

Sasuke menatap Naruto yang sedang tertawa girang melihat sikap adiknya itu, wajah Sasuke kembali memerah. Entah, sampai kapan dia harus menghadapi degupan jantung ini ketika berhadapan dengan senyuman manis Naruto. Sasuke jadi berimajinasi untuk memiliki senyuman itu.

"Ah! Tidak mungkin!!" Ucap Sasuke tiba-tiba yang dengan sukses menyita perhatian saudara kembar yang tengah mengobrol dengan asyiknya.

"Kau kenapa, Sasuke? Tidak boleh minum jus jeruk ya?" Tanya Naruto polos.

"Bu-bukan...maksudku...i-itu..." Ucap Sasuke gelagapan.

Naru mengangkat sebelah alisnya, ' Tidak seperti Sasuke yang biasanya? Kenapa Sasuke jadi segugup ini ya?' Batin Naru penasaran.

"Ah, aku pulang dulu, permisi!" Ucap Sasuke yang langsung pergi meninggalkan mereka berdua.

"Nah...makan siangnya sudah jadi...!! Ayo, Sasuke juga ikut makan. Lho?" Kushina heran saat di tatapnya seseorang yang di bicarakan ternyata telah menghilang.

"Sasuke sudah pulang duluan, bu..." Ujar Naruto.

"Yah...padahal Ibu sudah membuat masakan yang enak hari ini." Keluh Kushina.

"Gimana lagi? Sasuke sudah ngacir duluan." Ucap Naru sembari menunjuk ke arah pintu rumah.

"Ya...sudahlah." Ucap Kushina.

0o0o0oXxXo0o0o0

Malam mulai menjemput, menggantikan tugas sang dewa matahari untuk di pindah tugaskan menjadi tugas sang dewi bulan. Langit pun mulai di penuhi dengan berbagai gemerlap bintang, memberikan cahayanya tersendiri untuk malam yang hangat ini.

Terlihat sosok pemuda yang tengah berbaring santai di kasurnya, memikirkan segala kejadian tadi siang bersama dengan salah satu pemuda yang baru Ia kenal.

"Sasuke ya..." Gumam Naruto.

Naruto sama sekali tak bisa menghilangkan bayangan wajah pemuda itu dari siang. Ia terus memikirkannya. Wajahnya saat bersemu merah itu terlihat sangat manis sekali.

"Eh...? Sejak kapan aku jadi tertarik dengan laki-laki seperti ini ya?" Ucap Naruto berpikir.

Naruto jadi ingat akan tingkah Sasuke tadi siang di rumahnya. Sebenarnya ada apa ya? Kenapa Sasuke menjadi segugup itu? Jika di pikir-pikir terus mungkin jawabannya tidak akan cepat di ketahui. Dengan segala keberanian, Naruto memantapkan diri untuk pergi ke rumah Sasuke, malam ini juga!

0o0o0oXxXo0o0o0

Di kediaman Uchiha...

Sasuke tengah berada di balkon kamar tidurnya. Memang saat-saat memandang ribuan bintang di langit adalah saat yang paling indah. Apalagi jika melihat dengan seseorang yang kau sukai. Sasuke jadi teringat kejadian tadi siang bersama dengan Naruto.

'Hah...aku ini benar-benar bodoh. Hanya karena Naruto, aku jadi tidak bisa mengendalikan perasaanku! Jangan gila, Sasuke!' Batin Sasuke sembari memukul-mukul pelan kepalanya sendiri.

"Naruto..." Gumam Sasuke.

Sementara itu...

"Apa benar ini rumahnya? Wah...besar sekali!!" Ucap Naruto kagum setelah mendapati sebuah bangunan rumah yang amat megah.

Tanpa ragu, Naruto kemudian melangkahkan kakinya menuju pagar pembatas halaman depan. Di sana, Naruto dapat melihat dua orang penjaga yang was-was dengan gerak-gerik langkah Naruto.

Naruto mulai berbicara, "Ma-Maaf...apa benar, ini kediaman Uchiha Sasuke?"

Salah satu penjaga itu mulai angkat bicara, "Ya benar. Ada perlu apa?"

"Saya ingin bertemu dengan Sasuke-sama..."

"Siapa namamu?"

"Uzumaki Naruto..."

"Baiklah, tunggu sebentar"

Penjaga itu kemudian memencet tombol otomatis yang dapat tersalurkan langsung dengan sang pemilik rumah. Sempat Naruto menangkap pembicaraan penjaga itu dengan seseorang. Agak samar-samar memang, tapi Naruto dapat mendengar kalau namanya baru saja di sebut.

Setelah penjaga itu sibuk berkutat dengan seseorang di seberang sana, akhirnya penjaga itu berbalik ke arah Naruto berada.

"Baik, kau boleh masuk sekarang." Penjaga itu mempersilahkan Naruto untuk masuk ke kediaman Uchiha yang megah itu. Dengan otomatis pagar besar itu terbuka, mungkin semuanya di gerakkan oleh teknologi komputer? Yah, mengingat zaman ini memang sudah semakin canggih.

"Terimakasih" Balas Naruto sopan.

Naruto melangkahkan setiap kakinya untuk memasuki bangunan yang Ia tuju. Terlihat sekali banyak bunga-bunga indah yang tertanam di sana. Dari berbagai jenis semuanya ada, mungkin hampir di kategorikan lengkap. Dalam hati, Naruto berpikir, mungkin Sasuke sangat mencintai bunga, sampai-sampai dia menanam semua jenis bunga di halaman depannya yang luas.

Naruto tersenyum simpul melihat keunikan pemuda yang bernama Sasuke itu.

Setelah sampai di depan pintu utama, dua orang penjaga di sana siap untuk membukakan pintu.

Pintu utama berhasil terbuka, Naruto membelalakkan matanya mendapati sosok yang Ia temui di balik pintu itu. Tak lain dan tak bukan adalah sang pemilik rumah sendiri. Uchiha Sasuke.

"Sa...Sasuke..." Ucap Naruto.

"Naruto..." Ucap Sasuke.

0o0o0oXxXo0o0o0

Sasuke dan Naruto berjalan berdampingan menuju lantai atas, tepatnya di kamar tidur sang Uchiha.

"Rumahmu...megah ya." Ucap Naruto memulai pembicaraan.

"Hn"

"Kau sendirian?"

"Hn"

"Oh...! Ngomong-ngomong 'Hn' itu artinya apa sih?" Tanya Naruto penasaran.

Sasuke hampir saja meledakkan tawanya keras-keras mendengar pertanyaan Naruto yang polos dan lugu itu.

"'Hn' itu bisa di artikan sebagai 'Ya'" Jelas Sasuke.

"Oh..."

"Nah...kita sudah sampai."

Sasuke membuka pintu kamarnya perlahan. Naruto benar-benar tak dapat menyembunyikan kekagumannya melihat kamar tidur yang begitu kental dengan jiwa seni. Kamarnya begitu rapi, dan indah. Mungkin sang Uchiha satu ini mempunyai jiwa yang suka dengan kebersihan.

"Masuklah..." Ajak Sasuke.

"Ya..."

Naruto berjalan membuntuti Sasuke, kemudian duduk di sofa yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya.

"Kau mau minum apa?" Tanya Sasuke.

"Ah, tidak usah. Terima kasih."

"Kau yakin?"

"Ya."

"Emm....Kau datang ke sini ada perlu apa?"

"Tidak apa-apa, hanya mampir sebentar."

"Tidak ada maksud lain?"

Naruto menelan ludah, bingung apa yang harus di katakannya kali ini.

"Sebenarnya, aku ingin menanyakan padamu soal tadi siang. Tapi, kurasa tidak akan ada artinya juga."

"Soal aku yang buru-buru pulang?" Tanya Sasuke memastikan.

Naruto hanya mengangguk pelan.

"Itu karena aku ada urusan, jadinya aku tidak bisa berlama-lama di sana." Jelas Sasuke sembari membuang muka ke arah lain.

"Begitu ya..."

"Kau sudah makan?"

"Ya"

Naruto kehabisan kata-kata sekarang, Ia memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya.

"Umm...Sasuke, aku permisi pulang dulu..."

"Biar aku antar ya! Ini kan sudah jam delapan malam." Pinta Sasuke.

"Tidak usah, aku bisa sendiri"

"Kalau begitu, biar aku antar sampai depan rumah"

Sasuke kemudian mengantarkan Naruto sampai ke depan pintu utama. Sesampainya di sana, di bukanya pintu itu. Sasuke terlonjak kaget mendapati apa yang terjadi di luar sana. Hujan. Sangat aneh, bukannya ini masih musim panas? Kenapa malah ada hujan?

"Wah, hujan!" Seru Sasuke.

"Kenapa bisa? Ini masih Musim panas kan?" Tanya Naruto heran.

"Memang cuaca tak bisa di perkirakan. Terkadang di musim panas juga ada hujan." Terang Sasuke.

"Lalu, bagaimana?"

"Kalau begitu kita tunggu hujannya sampai reda, dikamarku saja." Ucap Sasuke.

Sasuke dan Naruto kembali menuju kamar tidur Sasuke. Menunggu hujannya kembali reda. Tapi, mungkin hal lain akan terjadi di luar pemikiran mereka.

Satu jam berlalu, Naruto masih duduk di sofa di temani oleh Sasuke di sampingnya menunggu dan berharap hujan itu akan berhenti sekarang juga. Sudah cukup lama Ia berada di kamar ini bersama Sasuke sejak hujan turun. Tapi, hujan itu sama sekali tidak menandakan akan berhenti menitikkan airnya.

"Naruto...hujannya masih belum reda. Kalau hujannya belum juga berhenti, lebih baik kamu menginap saja di sini." Ucap Sasuke.

"Tapi..."

"Dari pada kamu jatuh sakit karena kehujanan, lebih baik kamu di sini saja. Nanti biar Naru aku beritahu kalau kau akan menginap."

"Ya"

CTAARR!!

Suara petir begitu menggelegar. Membuat Naruto terlonjak kaget dan tanpa sadar merangkul pemuda di sampingnya. Wajah Sasuke bersemu merah ketika mendapatkan perlakuan ini pada Naruto.

"Sasuke...aku takut!" Ucap Naruto gemetaran.

"Tenang saja, di sini ada aku." Balas Sasuke menenangkan.

Tanpa di duga oleh Sasuke maupun Naruto, tiba-tiba kediaman Uchiha mati lampu. Hal ini benar-benar membuat Naruto makin ketakutan, dan membuatnya semakin mempererat pelukannya pada Sasuke.

"Sasuke...kenapa mati lampu?" Tanya Naruto.

"A-Aku...tidak tahu..."

"Sasuke...aku takut..."

"Sssttt....tidak akan terjadi apa-apa selama aku ada di sini."

Sasuke memeluk erat tubuh Naruto yang ketakutan, memberikan rasa hangat dan nyaman tersendiri bagi Naruto.

Seluruh tempat di selubungi oleh kegelapan, membuat kinerja mata tak berfungsi apa-apa untuk melihat sekitarnya. Hanya kegelapan yang memenuhi ruang tangkap bola mata mereka berdua.

Naruto mencoba untuk mendongak melihat ke arah Sasuke. Alhasil, bukan karena kesalahannya sendiri tidak melihat sekitar, bibir Naruto bertemu dengan bibir dingin Sasuke. Karena kegelapanlah Naruto memeluk erat tubuh Sasuke saat ini, dan karena kegelapanlah bibirnya bertemu dengan bibir Sasuke.

Kegiatan itu terus berlanjut. Tak ada satupun dari mereka yang ingin melepas ciuman mereka masing-masing, walaupun ciuman itu semata-mata hanyalah unsur ketidak sengajaan. Tapi, mereka berdua begitu menikmatinya.

Beberapa menit berlalu, Naruto akhirnya melepaskan ciumannya dari Sasuke.

"Ma-Maaf...Aku tidak sengaja." Ucap Naruto sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam.

"Naruto..."

Sasuke mulai terhanyut dalam suasana yang begitu menggairahkan, dipikirnya kesempatan ini adalah yang terbaik untuknya untuk bisa memiliki Naruto sepenuhnya.

Dalam kegelapan yang menemani mereka, Sasuke mengangkat wajah Naruto yang samar-samar dilihatnya.

"Apa kau mencintaiku?" Tanya Sasuke.

Naruto terlonjak kaget mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Sasuke. Sejujurnya Naruto memang mengerti jawaban atas pertanyaan Sasuke, tapi Ia sama sekali tidak mempuyai keberanian untuk mengatakannya.

"Jawab Naruto..." Ucap Sasuke.

"Iya"

"Apa aku boleh memilikimu sekarang?"

Kali ini Naruto benar-benar kehilangan kendali. Pikirannya kosong, Ia sama sekali tidak bisa mencerna apa yang di maksud oleh pemuda di hadapannya itu.

"Sasuke...apa maksudmu?" Tanya Naruto.

"Jika kau memang mencintaiku, apa aku boleh menjadikanmu sebagai milikku seutuhnya?" Tanya Sasuke.

"Hn, mungkin hanya kau yang bisa merebut hatiku, Sasuke. Jadikan aku milikmu seutuhnya." Jawab Naruto yakin.

Setelah mendengar jawaban dari Naruto, Sasuke kemudian memindahkan Naruto di atas kasurnya. Menjadikan Naruto hanyalah miliknya seorang, tak peduli apa anggapan orang tentang dirinya. Semuanya memang bisa terjadi, jika cinta telah mempersatukan mereka.

Sasuke membuka kaos yang dikenakan Naruto dan meraba pelan dada bidangnya.

"Apa kau siap, Naruto?"

"Hmmhh..."

"Kau bersedia menyerahkan tubuhmu padaku?"

"Sasuke..."

Suara petir dan hujan bukanlah suara yang menganggu bagi kedua insan yang sedang bercinta malam ini. Di temani oleh kegelapan dan langit yang hitam kelam, disertai dengan bintang-bintang yang ikut membagikan cahanya bagi kedua insan itu.

0o0o0oXxXo0o0o0

Pagi mulai menyambut, suara kicauan burung pun tak kalah semangatnya dengan pagi yang menyapa hari ini. Udara juga terasa sangat dingin, mengingat tadi malam hujan lebat menghajar tanah desa ini.

Terlihat kedua insan sedang tertidur pulas di dalam dekapan kekasihnya. Kedamaian jelas terpancar di wajah mereka, senyuman tak hilangnya terukir indah di sudut bibir kedua insan tersebut. Dilihat, bola mata biru itu mulai terbuka. Menampilkan lukisan langit cerah tergambar jelas di warna bola matanya. Sang pemilik bola mata biru itu terbangun dari tidur panjangnya. Ia menarik selimut yang Ia pakai sampai sebatas dada.

Di pandang kekasihnya yang masih tertidur dengan manisnya. Kejadian tadi malam, memang menjadi nilai bersejarah bagi dirinya. Kejadian dimana saat-saat Ia bercinta dengan pemuda yang telah menarik perhatiannya. Kejadian yang benar-benar tak terduga dan tak akan terlupakan.

Dilihatnya kekasihnya mulai membuka kelopak matanya. Menampilkan kedua bola matanya yang berwarna hitam kelam. Sang kekasih tersenyum melihat sosok yang ada di hadapannya.

"Selamat pagi, Sasuke..." Ucap Naruto.

"Selamat pagi, Naruto..."

Naruto kemudian memeluk erat Sasuke, menumpahkan segala isi hatinya, cintanya, dan kasih sayangnya pada satu-satunya seseorang yang berhasil menangkapnya, dan merenggut hatinya.

Sasuke balas memeluk kekasihnya. Sasuke sempat tersenyum melihat Naruto yang masih belum memakai busana apapun sejak kejadian tadi malam.

"Kau mau apa?" Tanya Naruto yang sudah merasakan gelagatan aneh dari kekasihnya.

"Tidak. Hanya ingin tanya, siapkah untuk putaran berikutnya?" Ucap Sasuke menggoda.

"Jangan bodoh! Aku lelah Sasuke..."

"Ya...baiklah...! Istirahatlah kalau begitu."

Tampaknya, Sasuke telah menemukan seseorang yang di rasa cocok untuknya. Tak ada lagi kata-kata yang mengatakan kalau selama ini dia tidak pernah menyukai siapapun. Orang yang Ia sukai memang ada, tapi mungkin tidak sembarang orang yang bisa merebut hatinya seperti ini.

To be continued...

0o0o0oXxXo0o0o0

Okey, Yuki benar-benar takut sekali dengan hasil fic Yuki kali ini. karena apa? Seseorang telah mengintimidasi Yuki untuk membuat fic Lemon!! Ketahuilah wahai temanku, kalau Yuki nggak ahli dalam pembuatan fic Lemon!

Yuki sekarang lagi ngambek sama Hazuki-Chan!! Teman Yuki yang paling hentai!! Yang paling ingin tahu urusan orang!! Dasar Hazuki jelek!! *di tendang Hazuki*

fic Yuki terkesan agak gimanaaaa gituuu...?? Tolong beri masukan lewat ripiu yach,,, minna-san yang baik!! soalnya Yuki merasa kalau di fic ini Sasuke napsuan!! masa baru ketemu langsung hajar Naruto??

dengan segala hormat, Yuki minta ripiu nya dari Minna-San tentang kekurangan dari fic Yuki ini.

Buat minna-san jangan lupa mereview yach...!! dan maafkan Yuki kalau ada salah kata atau apalah itu, Yuki minta maaf yang sebesar-besarnya. -m( _ _ )m-

Arigatou buat yang udah baca dan mau mereview fic Yuki, dan terima kasih pula bagi yang udah baca tapi nggak mereview. Lho(??)

Akhir kata, REVIEW!!!