Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Pairing : SasuXNaru Slight SasuXFemNaru.
Let's go to the last Chapter, Minna!!
0o0o0oXxXo0o0o0
TWIN HEART
"Aku pulang!" Seru seseorang dari balik pintu.
Wajahnya terlihat berbinar, garis-garis kebahagiaan nampak di kedua bola matanya. Dia tersenyum.
"Nii-Chan sudah pulang?" Sapa Naru begitu Ia melihat saudara kembarnya tengah berjalan mendekatinya.
"Iya." Balas Naruto sembari tersenyum tulus kearah Naru. "Nii-Chan mau ke kamar dulu, ya..." Lanjutnya seraya berjalan menuju lantai dua.
"Hm." Naru mengangguk.
-
Naruto's Pov___
Hari ini benar-benar menyenangkan. Aku tak menyangka akan menjadi sedekat ini dengan Sasuke. Padahal, aku sendiri tak mengharapkan hal itu. Aku tidak ingin kedekatanku dengan Sasuke malah akan menjadi suatu penyesalan.
Aku merebahkan diriku di atas kasur. Hmm, rasanya benar-benar nyaman. Sudah lama aku tak merasakan tidur di atas kasurku sendiri semenjak aku pindah di luar negeri. Apa ada yang berbeda ya?
Aku berjalan menuju cermin yang menggantung dengan indah di dinding kamarku. Ku perhatikan wajahku baik-baik setiap sudut yang terpantul dari cermin itu. Pucat? Ah, tidak mungkin!
"Uhuk! Uhuk!"
Aku tertegun melihat apa yang ada di tanganku. Cairan kental berwarna merah memenuhi pandangan mataku sekarang. Darah? Oh tuhan...jangan sekarang!
Aku berlari menuju toilet kamar yang tak jauh dari ranjang. Cepat-cepat ku bersihkan mulut beserta tanganku yang ternodai oleh cairan kental yang tak mengenakkan itu. Lagi-lagi! Aku tidak suka jika harus begini terus! Aku tidak mau semua mengetahuinya!
"Uhuk uhuk! Uhuek!"
'Sial!'Umpatku dalam hati ketika masih saja terlihat cairan kental merah yang mewarnai pandanganku.
'Mataku...mataku...berkunang-kunang...'Ucapku sebelum akhirnya pandanganku di selimuti oleh kegelapan. Dan terjatuh.
End of Naruto's Pov___
"Naru....!!" Panggil seseorang dari arah ruang keluarga.
Mendengar namanya di panggil, lekas Naru menuju ke arah sumber suara dan mendapati Ibunya sedang berdiri di sisi telpon sambil memegang gagang telpon itu sendiri.
"Ada apa, Bu...?" Jawab Naru.
Kushina memandang Naru dengan seulas senyum terkembang di sana, "Sasuke menelponmu..."
Kata-kata Kushina membuat orang yang berdiri di hadapannya pun ikut mengembangkan senyumannya. Entah perasaan apa yang sekarang menghinggapi hati Naru. Dengan segera, Naru mengambil gagang telpon dari Ibunya dan menjawab Sasuke yang ada di seberang sana.
"Halo?" Panggil Naru berusaha memastikan masih ada jawaban yang tersambung dari sana.
"Hn, disini Sasuke. Oh ya, Naru...sekarang kau ada waktu? Aku mau mengajakmu ke tempat yang dulu..." Ucap Sasuke.
"Ha? Untuk apa?" Tanya Naru meminta penjelasan yang masih belum dapat Ia mengerti.
"Membayar hutangku yang telah lalu..." Ungkap Sasuke dengan nada yang berbeda.
"Tapi kan...." Naru tak sempat meneruskan ucapannya.
"No buts or anything! Cepat datang! Kutunggu kau di tempat seperti biasanya!" Ucap Sasuke dan dengan seketika sambungan dari telpon itu pun terputus.
Naru menutup gagang telponnya dengan kesal. Bisa-bisanya Ia di suruh-suruh seperti ini. lagipula siapa yang meminta untuk membayar hutang yang telah lalu? Tidak ada kan? Ok, sekarang lebih baik Naru cepat-cepat pergi jika tidak ingin mendapatkan semburan dari Uchiha berhati dingin itu.
0o0o0oXxXo0o0o0
Di depan Stasiun...
Naru's Pov___
Ya. Sekarang aku sudah duduk di depan stasiun ini sekitar setengah jam. Hanya menunggu kedatangan seseorang yang seharusnya tidak kulakukan. Aku heran, kenapa Sasuke jadi tidak tepat waktu seperti ini? Sejak kapan dia mengganti jadwal kedisiplinannya itu? Baik, kurasa ini bukanlah saat yang tepat untuk marah pada si Teme itu! Lagipula waktu juga masih panjang, tak perlu repot menghabiskan tenaga untuk mengomel.
'Nah, panjang umur dia...'Semenit setelah omelanku padanya, akhirnya Ia menampakkan muka juga. Sebal aku kalau terus-terusan begini! Untung pelatihan Taek Won do-nya diliburkan sementara waktu. Huuf!
"Lama sekali? Dandan dulu?" Sindirku padanya.
"Hei, Aku tidak seperti mukamu yang perlu di poles layaknya seorang badut!" Sindirnya tak kalah hebat kepadaku. Kesal sekali telah mengatakan hal itu kepadanya. Seharusnya aku juga harus berpikir dua kali sebelum berbicara dengannya. Dia itu tipe orang yang tak kehabisan kata-kata sedikitpun. Buktinya? Ia juga bisa membalas perkataanku tadi. Menyebalkan!
"Hah...tak perlu banyak bicara lagi. Ayo, kita pergi!" Ucapnya sembari menggeret tanganku.
-
"Hei!" Panggilku kepada muka stoic yang berdiri tepat di samping kananku.
"Kenapa kau mengajakku kemari lagi? Aku tidak mau ke taman hiburan!" Seruku kesal. Kenapa aku susah-susah harus berkata seperti ini? yah, aku tahu alasannya. Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi seperti dulu. Sudah cukup bagiku untuk melihatnya terluka.
"Bersenang-senang." Ucapnya enteng. Seolah tak pernah ada rasa ketakutan lagi yang menghantui dirinya, Dia mengajakku untuk segera menjajali wahana-wahana yang ada di sana. Dengan senyum tipis yang samar-samar terlihat olehku, rasanya dia sama sekali tak menyimpan beban. Hebat benar pemuda Uchiha ini.
Satu persatu wahana pun aku jajali semuanya. Hingga menghabiskan waktu yang tak singkat. Sempat Aku muntah-muntah gara-gara si Teme itu memaksaku untuk naik roller coaster. Siapa bilang Aku gadis tomboy? Hei! Secara kepribadian Aku ini juga cewek yang mempunyai sisi kelemahan!
"Teme! Kau gila ya? Hampir saja Aku mati gara-gara ulahmu yang seenaknya menyuruhku untuk menaiki permainan yang benar-benar aku benci!" Ucapku kesal.
"Haha, Lagipula dengan begini, Aku bisa melihat wajahmu yang berkerut itu! Kau jadi punya pengalaman baru kan? Tenang saja!" Balasnya dengan tawa yang mengembang.
Aku terpana melihat sosok itu. Sosok yang telah lama aku cari. Kini dia tepat berada di sampingku. Emm, bukan sosok melainkan senyuman! Senyuman tulusnya itu. Jarang aku melihatnya seceria ini.
Dia menangkap basah aku yang sedang melamun sambil menatapnya dengan pandangan aneh. Cepat-cepat dia usir lamunanku itu, dengan menjitak kepalaku pelan.
"Awch! Teme! Sakit!" Bentakku.
"Kau sih, melamun terus!" Jawabnya. Sempat kulihat matanya yang menerawang sinar kebahagiaan. Bibirnya kembali terbuka. Rasanya dia ingin mengatakan sesuatu.
"Umm...Naru!" Panggilnya.
"Ya?" Responku.
Dia menghela napas panjang, "Aku....menyukai....kakakmu!"
Dan seketika itu, darahku serasa berhenti mengalir, jantungku serasa berhenti berdetak. Takdir ini....membawaku pada jurang hitam tak berdasar. Jangan bodoh! Sasuke menyukai...Nii-Chan? Kenyataan macam apa ini?
"Ka-kau...bercanda...?" Aku butuh kepastian. Sasuke yang selama ini kukenal, tak pernah menganggap cinta itu ada. Apa mungkin itu alasan mengapa Ia sering menolak perempuan yang terkagum-kagum dengannya?
"Apa mimik mukaku terlihat seperti itu?" Ucapnya serius.
Aku membuang muka. Tak dapat melihat matanya yang memiliki 'ketajaman' itu. Kurasa dia mengatakannya dengan jujur. Aku menghela napas, berusaha tersenyum ke arahnya, walaupun mukaku tak kelihatan seperti itu. Tapi, aku berusaha agar senyumanku dapat menutupi semua kepalsuan dan kepura-puraan kondisi hatiku sekarang.
"Iya, selamat ya..." Ucap ku masih memasang wajah palsu.
Selamat? Memangnya acara resmi apa yang tengah berlangsung? Pernikahan? Ucapan selamat bukan kata-kata yang pantas untuk mewakili isi hatimu, Naru!
Aku memejamkan mata. Berharap ini cepat berakhir. Tapi, aku cepat-cepat membuka mataku saat ku dapati pertengkaran hebat terjadi tak jauh dari tempatku berada.
Kulihat seorang gadis tengah menjerit melihat ada dua orang....preman...? Preman itu kelihatannya sedang mengancam gadis itu. Aku menggigit bibir bawahku dan mengepalkan tanganku. Hal ini tak boleh terjadi! Apalagi preman itu kalau tidak salah preman gadungan yang sering nongkrong di taman hiburan ini.
Sasuke juga melihat semua kejadian itu. Tapi, dia tak segera beranjak untuk menyelamatkan gadis itu. Aku sebagai seorang perempuan pasti juga merasakan hal yang sama jika harga diriku terinjak-injak di bawah preman gadungan seperti itu. Lagi-lagi! Orang-orang di sekitar sini juga bertindak bodoh! Hanya bisa memandang kelakuan preman-preman itu tanpa berpikir untuk meyelamatkannya? Huh!
Tanpa banyak pikir lagi, aku segera beranjak menuju tempat gadis itu berada. Tanpa ku hiraukan Sasuke yang terus memanggilku dari sana.
"Hhh...Hhh..." Nafasku terengah-engah, aku menelan ludah ketika dua preman itu mengalihkan pandangannya ke arahku. Mereka menatap garang kepadaku. Pelan-pelan kuusir rasa takutku ini. Tidak ada gunanya mengikuti pelatihan Taek Won do jika kau tidak mempunyai keberanian dalam diri.
"Hei! Beraninya ngelawan perempuan! Ayo, hadapi aku jika kalian punya 100 % keberanian untuk berhadapan denganku!" Seruku mengguncang.
Mereka meludah tepat di hadapan gadis itu, "Cih! Apa kelebihanmu? Dasar bocah ingusan!"
Salah satu preman memulai serangan pertama dengan menghajar tepat ke arah mukaku, tapi dengan segera serangan itu dapat aku tangkis, dan balik menghajarnya dengan keras tepat di selangkangannya. Preman itu meringis kesakitan sambil memegangi alat vitalnya.
Satu preman yang lain melancarkan pukulannya dari arah belakang, hampir saja aku terkena serangannya, sebelum akhirnya aku mengunci serangannya dan membantingnya keras-keras di tanah. Biar dia tahu rasa bagaimana jika harga dirinya di permalukan oleh seorang wanita!
"Kau kira aku perempuan yang lemah?" Ucapku sembari mengepalkan kedua tanganku tepat ke arah preman-preman gadungan itu.
"Naru!" Seseorang memanggilku dari belakang. Ah! Sasuke! Dia datang ke tempatku dengan membawa....dua orang petugas?
Kulihat preman-preman itu meludah sebelum akhirnya mereka kabur dari tempat. Tapi, dua orang petugas itu dengan sigap menangkap mereka berdua yang tengah berlari menjauh untuk kabur. Hah...Syukurlah!
Aku menengok ke arah gadis itu. Dia menangis sesenggukan. Lantas, aku mendekat ke arahnya.
"Umm...anda tidak apa-apa?" Tanyaku.
Gadis itu memandang ke arahku, seulas senyum terlukis indah di bibirnya. Sempat kulihat matanya yang sembab karena kebanyakan menangis. Gadis itu mengangguk.
"Syukurlah! Lain kali...hati-hati ya...!" Ucapku menenangkannya.
"Terima kasih banyak..." Ucapnya sembari menunduk hormat ke arahku. Aduh, rasanya tidak enak jika diperlakukan seperti ini. Apalagi aku Cuma orang biasa.
Perlahan gadis itu berjalan menjauh, tapi dia sempat melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum. Akupun balas tersenyum ke arahnya.
"Kau...gadis bar-bar..." Ucap seseorang yang dengan sukses membuatku naik pitam. Aku menoleh ke arah sumber suara. Hei, Sasuke? Pantas saja rasanya aku mengenal suara ini dengan jelas.
"Apa kau bilang?" Ucapku meminta penjelasan.
"Kau gadis bar-bar....sombong sekali kau! Memangnya kau menganggapku laki-laki yang lemah?" Tuturnya.
Sasuke mendekat ke arahku dan mengusap rambutku, "Jadi, Apa gunanya aku ada di sini sebagai laki-laki?"
"Aku juga bisa berguna! Sudah lupakan! Oh, yang tadi itu...atraksimu bagus! Kenapa tiba-tiba kau jadi pintar berkelahi, dobe?" Ucapnya dengan memasang muka curiga.
Aku menggeleng cepat. Rasanya ada ruginya juga telah mengenal seorang Sasuke yang pintarnya minta ampun.
"Kebetulan saja, aku jadi kuat!" Ucapku ngeles.
Sasuke menarik nafas panjang. Aku tahu persis ekspresi wajahnya itu. Pasti dia menahan marah karena tindakanku yang tadi.
End of Naru's Pov___
0o0o0oXxXo0o0o0
"Naruto....kau dimana, sayang?" Ucap Kushina yang sedari tadi memanggil nama Naruto, tapi tak ada balasan apapun yang Ia dengar.
Kushina mulai khawatir, Ia kemudian bergerak mencari keberadaan Naruto. 'Mungkin Naruto ada dikamarnya' . Kushina membuka kenop pintu kamar Naruto, senyum yang semulanya menghiasi wajah Kushina hilang begitu saja setelah Ia mengetahui Orang yang Ia cari tak ada di kamarnya. Lantas Ia pun mencari di seluruh penjuru kamar Naruto. Hingga akhirnya Ia sampai pada satu tempat terakhir yang belum Ia kunjungi, kamar mandi.
Sesaat setelah Ia membuka pintu kamar mandi, Kushina terdiam melihat sosok yang begitu Ia kenal tergeletak tak berdaya di bawah wastafel.
"Naruto...!!" Jerit Kushina akhirnya.
0o0o0oXxXo0o0o0
"Sasuke...kita nggak balik?" Tanya Naru yang sedang asyik menyeruput minuman kalengnya.
"Ya...itu terserah kau." Jawab Sasuke.
Drrrtttt...Drrrrtttt
Naru hampir saja memuntahkan isi minuman dari mulutnya ketika dirasakannya Hp-nya bergetar di saku celananya. Cuma hampir. Tak sampai di semprotkan di depan wajah stoic itu.
Naru segera mengangkat telponnya ketika mengetahui bahwa Ibunya-lah yang tengah menelponnya.
"Ya, Ada apa, Bu...?" Ucap Naru langsung.
Terdengar isakan tangis yang tak henti-hentinya memenuhi gendang telinga Naru. Naru mengerutkan keningnya, pikirannya sedang terkonsentrasi pada apa yang Ia dengar sekarang.
"Ibu...Ibu kenapa?" Tanya Naru dengan nada khawatir plus panik.
"Na...Naru...cepatlah ke rumah sakit sekarang." Pinta Ibu Naru. Dengan begitu terputuslah sambungan telepon seketika itu juga, yang mengharuskan Naru untuk segera memenuhi permintaan Ibunya langsung.
"Sasuke, Ayo kita ke rumah sakit! Sepertinya ada yang tidak beres sekarang!" Tanpa aba-aba, Naru langsung menggeret tangan Sasuke untuk segera beranjak ke tempat yang Ia tuju.
0o0o0oXxXo0o0o0
Konoha International Hospital...
Naru berlari terengah-engah, Ia tak memikirkan Orang-orang yang sudah ditabraknya tadi. Pikirannya hanya terpusat pada keadaan yang sekarang terjadi pada Ibunya. 'Ibu...ada apa?' Pikiran Naru kalut.
Di ujung ruangan, Naru bisa melihat Ibunya tengah duduk dengan lemas di tempat tunggu. Naru dan Sasuke segera menghampirinya. Naru tak tahu apa yang sedang terjadi sekarang ini.
"Ibu..." Panggil Naru. Kushina menoleh ketika suara anaknya terdengar sampai ketelinganya. Kushina segera berlari menghampiri Naru dan memeluknya erat. Naru hanya bisa heran dan bingung mendapati reaksi yang tak biasa dari Ibunya. Lalu, jika bukan Ibunya yang sakit, terus siapa yang di rawat di sini...? Jangan-jangan....
"Ibu...Nii-Chan mana?" Tanya Naru kemudian.
Kushina masih sesenggukan di dalam dekapan Naru, dengan sekuat tenaga Ia mulai menjelaskan apa yang terjadi.
"Nii-Chan masih di rawat di rumah sakit. Tadi, Ibu melihatnya tergeletak tak sadarkan diri di kamar mandi." Jelas Kushina. Baik Naru maupun Sasuke, kedua-keduanya sama-sama tercengang mendengar penjelasan dari Kushina. Pikiran mereka sama-sama tertuju pada satu kalimat 'Apa yang terjadi pada Naruto?'
Sementara mereka masih tenggelam dalam pikiran masing-masing, sang Dokter yang telah dinanti-nanti akhirnya keluar dari ruang perawatan dimana Naruto masih di rawat di sana.
"Dokter! Bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Kushina cemas.
"Keluarga Naruto diharap ikut saya sebentar." Pinta sang Dokter. Kushina dan Naru sempat saling berpandangan, kemudian mereka mengangguk dan menuruti perintah sang Dokter. Tapi, sebelum itu, Kushina menanyakan sesuatu hal pada sang Dokter dan akhirnya Dokter itupun mengangguk.
Kushina menatap Sasuke dan melangkah pelan ke arahnya, "Sasuke, tolong jaga Naruto baik-baik ya! Kau boleh masuk ke ruang perawatan. Dokter telah mengizinkan." Ucap Kushina seraya meninggalkan Sasuke di tempat.
Sasuke memandang kepergian Kushina dan Naru hingga jauh. Kemudian Sasuke lekas masuk di tempat Naruto berada.
Perlahan Sasuke membuka pintunya, Dia bisa melihat seseorang yang tak lama di kenalnya sedang terbaring lemah di atas kasur. Raut wajah Sasuke berubah iba. Dia khawatir terhadap kondisi Naruto. Pelan tapi pasti, Sasuke mendekat ke arah Naruto. Di sentuhnya kulit pucat pasi itu dan di elusnya rambut Naruto yang pirang acak-acakan. Sebulir air mata jatuh membasahi pipi Sasuke, air mata itu terus mengalir hingga sampai dagu dan akhirnya jatuh begitu saja di kening Naruto.
Sasuke terus saja menangis melihat Naruto yang terkulai lemah saat ini, dan tanpa Ia sadari sepasang bola mata biru itu terbuka, menampakkan keindahan langit yang terlukis jelas di sana. Naruto bisa melihat Sasuke menangis di hadapannya, samar-samar memang, tapi itu tak bisa menjadikan penghalang bagi Naruto untuk mengetahui keadaan sekitar.
Sasuke memandang Naruto, sedangkan Naruto hanya membalasnya dengan senyuman.
"Kau...tidak apa-apa, Naruto?" Tanya Sasuke yang masih dalam keadaan menangis.
Naruto menggeleng lemah. Ia sadar, kalau orang yang ada di hadapannya bukanlah pemuda yang berhati dingin dan kasar.
0o0o0oXxXo0o0o0
"Jadi, begini, apa anda sudah tahu penyakit apa yang anak anda derita?" Dokter bertanya pada dua orang yang ada di hadapannya. Sedangkan mereka hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa yang anda maksudkan Tsunade-san?" Tanya Kushina agak khawatir.
Dokter yang akrab dipanggil Tsunade tersebut menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjelaskan semua pada Kushina, "Anak anda terkena penyakit kanker otak. Dan inipun sudah stadium akhir. Apa anda sama sekali tidak mengetahui hal ini? dan...maaf, saya tidak bisa memastikan apakah anak anda masih kuat untuk menjalankan hidup atau tidak. Karena penyakit ini sudah menyebar di seluruh tubuhnya, menyerang saraf-saraf pada otak yang menyebabkan orang itu..." Kata-kata Tsunade menggantung. Ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Kushina dan Naru tercengang, air mata mulai turun dari kedua kelopak mata Kushina. Dia menutupi mulutnya dan segera berlari meninggalkan Tsunade.
0o0o0oXxXo0o0o0
"Sasuke, jangan bersedih." Pinta Naruto sembari menghapus air mata Sasuke yang meleleh. Sasuke menggenggam telapak tangan Naruto dan menciuminya. "Kenapa kau tak memberitahuku tentang hal ini?" Ucap Sasuke di sela-sela tangisannya.
Naruto menggeleng lemah, "Aku sengaja merahasiakan semua ini agar Ibu tidak khawatir pada-..Uhuk! Uhuk!" Sasuke menggenggam tangan Naruto erat, "Kau tak usah banyak bicara, istirahatlah!" Ujar Sasuke. Naruto masih saja keras kepala dan menggeleng, "Aku tidak apa-apa! Sasuke..."
Sasuke menatap Naruto lekat-lekat, "Ya?"
"Kau tahu? Dokter memvonisku bahwa hidupku tak akan lama lagi. Dan itu kejadiannya sudah lama sekali...mungkin ini saatnya untukku..." Sasuke menutup mulut Naruto, mencegahnya untuk berkata lebih jauh. "Ssstt...Dokter tidak akan pernah memvonismu apapun, Naruto..."
Naruto menggenggam tangan Sasuke kuat, "Tapi, kejadiannya sudah lama sekali. Dan...aku di Vonis oleh seorang Dokter yang berada di luar negeri. Kau tahu kan? Aku takut nantinya jika aku mengenalmu hanya akan ada buah penyesalan saja."
"Aku mencintaimu, Naruto...apapun yang terjadi." Sasuke tak dapat membendung perasaannya. Kenapa di saat kebahagiaan yang baru Ia dapatkan justru kebahagiaan itu kembali kepada pemiliknya?
Naruto mengangguk, "Ya. Aku tahu itu. Tapi, percuma Sasuke...."
Terdengar suara pintu terbuka, dengan cepat Sasuke dan Naruto menoleh ke arah datangnya suara itu. Mereka mendapati Kushina yang berdiri dengan air yang menggenang di pelupuk matanya. Kemudian Kushina berlari dan mendekap Naruto erat.
"Bodoh! Naruto bodoh! Kenapa kau tidak pernah mengatakan kalau kau terkena penyakit kanker otak, Hah??!!" Seru Kushina tepat di telinga Naruto. Kushina dapat merasakan Naruto tersenyum dalam dekapannya.
"Aku tidak ingin Ibu khawatir..." Ucap Naruto lemah. "Kalau kau begini, malah akhirnya akan membuat Ibu tambah khawatir, Naruto!!" Seru Kushina yang telah melepas dekapannya pada Naruto.
"Maafkan aku, bu..." Ucap Naruto penuh nada penyesalan, "Dan sekarang...aku ingin mengatakan kalau aku benar-benar menyukai Sasuke...itu kenapa aku berusaha menyembunyikan penyakit ini. tapi, memang sepintar-pintar orang menyembunyikan bangkai pasti baunya tercium juga..." Ucap Naruto di akhiri dengan senyuman terindah yang terlukis di sana.
Naru yang mendengarnya pun menundukkan kepalanya, Ia tak sanggup melihat hal seperti ini. Melihat tingkah laku Naru yang begitu, Naruto membulatkan tekadnya untuk mengatakan sesuatu yang selama ini terpendam pada Sasuke, "Umm...Sasuke...aku boleh meminta satu permohonan?" Pintanya.
Sasuke mengangguk, "Ya, apapun Naruto..." Ucapnya sembari menggenggam tangan Naruto.
"Tolong, kau jaga Naru baik-baik ya...! Jangan sampai kau melukai hati adikku yang benar-benar aku sayangi." Ucap Naruto dibarengi dengan senyumannya. Sasuke terpaku mendengarnya, sedangkan Naru melihat ke arah Naruto. Biru laut bertemu Biru laut.
"Nii...Chan..." Ucap Naru. "Naruto..." Sela Sasuke.
Naruto semakin melebarkan senyumannya. "Besok, pasti cerah!"
Kushina memandang heran ke arah Naruto, Cuaca memang agak sulit di perkirakan, tapi, Naruto dengan mantap mengatakan kalau cuaca besok akan cerah, secerah mata birunya kini.
'Siiiing'
Tiba-tiba kepala Naruto pusing berat. Ia tak kuat, sementara matanya juga semakin meredup. Dia kehilangan akalnya. Sasuke yang mengetahui ini semua langsung mengambil langkah siaga.
"Naruto, kau tidak apa-apa?" Tanya Sasuke memastikan.
Naruto menggeleng lemah, "Tidak, Aku hanya mengantuk saja. Hmm, Ibu, nanti sore tolong bangunkan Naruto ya..." Pintanya, "Sasuke...aku mau tidur dulu. Jangan lupa pesanku tadi..." Ucap Naruto sebelum akhirnya mata itu terpejam bersamaan dengan melemasnya cengkeraman Naruto pada tangan Sasuke.
Sasuke curiga dengan gelagatan Naruto kali ini, 'Jangan-jangan...'
"Naruto!! Bangunlah!!" Seru Sasuke sembari mengguncang tubuh Naruto.
"....." Tidak ada respon.
Sasuke, Naru dan Kushina tak percaya dengan kenyataan ini. Kushina hanya bisa menangisi semua takdir yang terjadi di hadapannya, Naru juga ikut menangis menerima kenyataan ini, sementara hati Sasuke menjerit. Dia tak mau kehilangan orang yang begitu di kasihinya.
"Naruto!! Ayo bangun!!!" Seru Sasuke sekali lagi. Namun nihil, tak ada respon sama sekali, dan dengan begitu Sasuke langsung menghambur dalam pelukan Naruto. Meneriaki namanya berulang kali.
"Naruto!! Ayo Bangun!!!" Seru Sasuke lagi.
"Bangun Naruto!!! Naruto!!!" Seru Sasuke berulang-ulang. Naru merasa prihatin melihat keadaan Sasuke, Naru kemudian menghampiri Sasuke dan memintanya untuk menerima kenyataan ini. Tapi, cara itu sama sekali tidak berhasil, Sasuke memberontak.
"Hentikan! Naruto masih hidup!! Ayo bangun Naruto!!" Seru Sasuke hingga akhirnya Ia kehabisan tenaga dan terduduk lemas tepat di samping Naruto.
Sasuke membisikkan sesuatu tepat di telinga Naruto, "Naruto bangunlah..." Ucapnya lemas, "Aku mencintaimu..." Lanjutnya sembari mencium bibir Naruto lembut.
0o0o0oXxXo0o0o0
Rintik hujan turun membasahi permukaan tanah desa konoha. Tangis pilu pun menyertai jatuhnya hujan dari langit. Di atas langit, awan hitam berbaris laksana siap untuk menumpahkan ratusan hujan yang tertampung disana. Seolah langit juga ingin menangisi kepergian salah satu malaikat bumi yang meninggalkan kehidupannya dan juga kebahagiaannya.
Puluhan orang dengan memakai baju hitam dan sebuah payung yang setia melindungi kepalanya turut berduka di bawah dinginnya hujan dan suramnya langit saat itu.
Sasuke terduduk tepat di bawah batu nisan yang terukir nama 'Naruto' di sana. Sasuke menangis. Tapi, tangisannya tak dapat di ketahui oleh orang-orang sekitar karena air hujan yang mengguyur seluruh badannya. Ia tak mau memakai payung atau segala macam alat yang bisa melindungi tubuhnya dari air hujan itu. Ia membiarkan dirinya tersentuh oleh dinginnya air hujan.
Sasuke mengusap-usap nama yang terukir pada batu nisan tersebut, "Aishiteru...Naruto..."
Lama Sasuke terduduk di sana, semua orang telah pergi meninggalkan tempat yang penuh duka itu. Hingga akhirnya Naru mengajak Sasuke untuk kembali ke rumahnya, "Sasuke...ayo, kita pulang..." Ucapnya lembut.
Sasuke menggelengkan kepalanya, baginya berat untuk meninggalkan tempat dimana orang yang sangat Ia cintai tertanam di sana untuk selamanya. Sasuke menoleh ke arah Naru, "Naru...maafkan aku..." Ucapnya memelas.
Naruto ikut terduduk di samping Sasuke dan memandang mata onyx Sasuke yang sembab itu, "Iya, Sasuke..." Sasuke kemudian tersenyum penuh arti pada Naru dan memeluknya dengan hangat. 'Naruto...aku akan menjaga baik-baik pesanmu itu. Tapi, harus selalu kau ingat, aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun.'
May be Smile can change all this world, but…someone will never change my heart for you. If you can hear my whisper and my heart, I will say Love you forever…and my heart will go on.
-The End-
Backsong :
Westlife – Seasons In the Sun
Celine Dion – My Heart will go on
0o0o0oXxXo0o0o0
Huuf! Selesai juga nih fict! Ayo, Minna kumpulin semua uneg-uneg minna tentang Fict Yuki ini lewat RIPIU/FLAME??!! Yuki terima kok. XD
Eh, btw kalau anak kembar gugur satu, gugur dua-duanya nggak ya...? *digigit* -Lu kira perang? Pakai gugur2 segala!-
Gomen, kalau alurnya kecepetan atau Story-nya membosankan. Hehe...
Eh, Yuki nyelipin judul lagunya Celine Dion di kata-kata terakhir tuh! 'My Heart will go on' sengaja Yuki tulis di situ karena kalimat itu mengartikan hati Sasuke yang tak akan berubah cintanya, selalu teguh dan selamanya hanya untuk Naruto seorang. –lebay!-
Yup! Akhir kata, REVIEW! YEP!
Arigatou!
15
