"Aku tidak mempermainkanmu!" Karin nyaris saja berteriak dan matanya semakin berkaca- kaca.

Dari sekian banyak ketidak cakapan yang dimilikinya, Naruto sudah sadar diri sejak lama jika komunikasi adalah kelemahan terbesarnya. Mulutnya jarang sekali mengatakan sesuatu hal yang tidak menimbulkan kesalahan presepsi pada lawan bicara. Dan entah kenapa, dari sekian jenis lawan bicara, perempuan adalah jenis yang paling sulit dihadapinya.

Atau barangkali masalahnya bukan pada lawan bicara, melainkan dirinya sendiri? Banyak yang beranggapan perempuan menilai dengan perasaan, sedangkan Naruto meyakini keberadaan hati di dalam tubuhya hanya untuk memenuhi fungsi fisiologis ketimbang psike.

Karin menatap tajam setelah membentaknya dengan kalimat singkat bernada tinggi, sebenarnya nyaris terdengar seperti menjerit. Meski begitu, Naruto masih tidak menemukan letak permasalahan yang semula dia rasa sepele rupanya menjadi pelik nan emosional.

.

.

Perlahan Naruto merosot sambil menekuk leher sementara tangannya tenggelam dalam saku celana, lebih memilih melihat sepatu ketsnya dari pada menoleh pada Karin yang seolah membakarnya hanya dengan tatapan mata.

"Kenapa kau bisa berfikir aku mempermainkanmu?" Karin terdengar mulai tenang meski tetap saja alisnya masih mengkerut tidak terima.

"Apa yang membuatmu jadi begitu marah?" Naruto menjawabnya dengan suara tenang, berharap tidak akan menimbulkan kesalah pahaman lain.

Naruto menyadari jika perkataannya memang provokatif, tapi tetap saja.. Karin meledak marah dan hal itu jauh berbeda dari apa yang Naruto bayangkan, perkiraannya Karin hanya akan 'sedikit' marah dan sudah pasti tersinggung sambil menyungkinkan senyuman sinis atau, pokoknya hal selain jeritan. Membuat Naruto kembali tersadar, jika mereka memang tidak saling mengenal, sedangkan Karin yang dibayangkannya hanyalah rekaan dari egonya sendiri.

"Kau tak menjawab pertanyaanku,"Karin kembali mengalami krisis kesabaran, terdengar dari nada bicaranya yang menuntut meski terdengar tenang.

Naruto menoleh, membalas tatapan Karin tepat dimata sambil menyusun kalimat dalam kepalanya. Mempertimbangkan beberapa kemungkinan yang bisa dipikirkan oleh otaknya yang tidak sejenius Shikamaru.

"Karena aku tidak mengerti apa sebenarnya kau pikirkan,"

Seketika membuat kerutan di kening Karin bertambah dan sebelum Karin menyemburkan emosinya lagi, Naruto mengangkat telapak tangannya untuk membuat jeda tanpa mengubah ekspresi tenang di wajahnya sebisa mungkin.

"Aku sudah memikirkan berbagai kemungkinan, tapi tampaknya tidak satupun yang mendekati kebenaran- kecuali.. Jika kau benar- benar perempuan sinting seperti yang kuperkirakan. Kau.. kau memaksaku terikat denganmu tanpa alasan, tanpa mengetahui opsi lain yang barang kali bisa ku pilih selain diam dan setuju,"

Naruto segera menelan ludah demi membasahi kerongkongannya yang mendadak kering, dia masih tetap saja merasa ngeri tiap kali mengatakan sesuatu yang berhubungan tentang pernikahan ataupun romansa. Karena itu pilihannya jatuh pada kata terikat ketimbang menikah. Karin berkedip bingung tanpa sedikitpun memudarkan kerutan di dahinya, membuat Naruto memperhalus decihannya dengan helaan nafas dari mulut.

"Sedari awal aku tidak mengenalmu, apalagi Sasuke.. Tapi kau menempatkanku di posisi seolah-olah.. Seolah aku ada di dalam lingkaran kalian sejak awal, dan mengetahui segalanya tanpa kau harus mengatakannya padaku. Aku memang bodoh mengingat nama dan rumus matematika, tapi aku tidak begitu tololnya melupkan wajah seorang kenalan yang pernah berbincang singkat denganku. Apa lagi jelas sekali kau punya rambut merah yang gampang sekali diingat."

Menilik Karin yang tak bereaksi atas ucapannya membuat Naruto semakin yakin, omongannya memang sulit dimengerti.

"Karin.. sebelum aku bertemu dengan Tayuya apa lagi denganmu, kita berdua.. Kau, bagiku adalah orang asing yang tidak ku kenal. Karena itu aku tidak mengerti, kenapa aku bisa terlibat denganmu? Aku sudah memikirkan berbagai hal, tapi tetap saja aku tidak- Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya!"

"Eh?"

Saat itu juga Karin terjolak, merubah drastis mimik wajahnya yang semula kecut. Mengerjap dengan polosnya, seolah dia baru saja menyadari jika otaknya yang selama ini dia yakini berada di dalam tengkoraknya ternyata dia temukan sendiri terkubur di dalam bak pasir.

Reaksi Karin yang terlalu kasual menyulut rasa kesal yang berusaha Naruto tahan,"Aku tidak mampu memahaminya, apa yang tujuanmu sebenarnya. Kau merajuk kerena masalah yang tidak ku mengerti seolah- olah aku sudah seharusnya tahu apa salahku, selalu menempel seolah tak ingin mengerti jika aku ingin privasi, terkadang aku merasa kau mengasihaniku, tapi terkadang kau menatapku dengan rasa bersalah,"

Karin memang membingungkan, namun jika dibandingkan dengan Shion Naruto belum merasa kesulita untuk menghadapi Karin. Jenis perempuan menyulitkan itu masih tersemat untuk Shion sekalipun Naruto cukup lama mengenalnya, Naruto tetap tidak memahami jalan pikir Shion. Terkadang Shion bisa tampak sangat lugu sampai akhirnya Naruto menyadari Shion sedang merencanakan sesuatu tapi Naruto sudah terlanjur terjerumus di dalamnya.

Karena itu, Naruto merasa perlu memastikannya. Jika Karin memang semenyulitkan Shion, sebaiknya Naruto segara melarikan diri sesegera mungkin.

Alih- alih menjawab, setelah tersentak Karin malah memalingkan wajah sambil menggembungkan pipinya meski pandangan matanya mulai melembut. Membuat Naruto kembali membenamkan punggunggnya pada sandaran kursi berbahan kulit, terpicu rasa kesal namun tidak tahu apa yang harus dia katakan.

Naruto menunggu, tapi setelah beberapa waktu Karin tidak menanggapinya lagi.

"Karena itu.. aku tidak mengerti. Menurutku kau bukan perempuan yang menyulitkan, tapi kau.. aku berusaha untuk memikirkan berbagai alasan tapi tetap saja, aku tidak memahami maksud dan tujuanmu yang sebenarnya. Aku memang bodoh, jadi aku benar- benar tidak mengerti."

Dan akhirnya memaksa Naruto benar- benar mengatakannya, Karin hanya menatapanya dengan tatapan lesu seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada satupun perkataan yang bisa diucapkannya. Menyisakan kesunyian meski mereka di lingkupi kemarahan di awal, dan sekali lagi mengakhiri pembicaraan tanpa menyelesaikan apapun.

.

.

Disclaimer: Karakter pinjaman dan Naruto jelas bukan milikku

Naruto milik Masasi Kishimoto.

Garis Darah by Itzhuma Hikio

.

.

Untuk suatu alasan yang tidak ingin Naruto pahami, saat ini dia sedang saaangat ingin berbuat onar, membuat masalah tanpa memperdulikan resiko ganti rugi ataupun kerusakan seperti Naruto yang biasanya rasional dan terlalu perhitungan. Sambil membalik- balikkan telapak tangan seolah ada mulut di sana yang dapat berbincang dengannya, menimbang- menimbang. Naruto sedang tidak merasa marah atapun kesal.. malah sebaliknya, rasanya begitu tenang. Jenis ketenangan yang sangat mengganggu dan rasanya tidak enak, memberinya dorongan kuat untuk berbuat kerusuhan atau apalah yang menghebohkan demi bisa merasakan hal selain ketenangan.

"Jangan mengikutiku!" Bentakannya meletup begitu saja saat Naruto memutar badan, sambil merasa bersyukur mendapati ada objek yang bisa diamuknya.

"Maafkan saya, tapi menjadi tugas saya untuk menjaga anda."

Setengah membungkuk, Kidomaru dengan sangat sadar dan sabar menjawabnya. Memancing emosi Naruto yang sebelumnya di balut kapas ketenangan.

Posisi Kidomaru yang setengah membungkuk memberikan peluang besar pada Naruto untuk mencengkram bagian kepala belakang Kidomaru, menekannya kebawah dengan kuat sementara lulutnya mengayun kedepan untuk mematahkan hidung Kidomaru. Hantaman keras di kepala Kidomaru membuatnya tersungkur, mempermudah Naruto menginjak punggungnya dengan leluasa, karena dari awal Kidomaru memang tidak siap menghadapi serangan. Menginjaknya lagi, lagi, dan lagi.. terus menginjaknya seolah Kidomaru hanya kelabang kecil di bawah sepatunya.

Tapi jangankan kelabang, nyatanya Naruto hanya bersendekap tangan sambil memicing benci kearah Kidomaru sembari menyungginkan senyum jijik seolah sedang melihat kotoran kerbau, bukan berarti Naruto pernah melihat wujud nyata kerbau apalagi kotorannya. Dan bukannya tersungkur, Kidomaru masih berdiri tegak menjulang di hadapan Naruto. Tidak tersentuh barang seujung kuku, karena adegan menyenangkan itu hanya rekaan imajinasi otak Naruto yang sangat rasional sekaligus delusive disaat bersamaan.

Terlalu rasional malah, sampai.. meskipun sedang saaangat ingin menghajar seseorang sekalipun, rasionalitas membuat Naruto sadar jika tidak ada manfaat nyata dari menghajar Kidomaru. Lagi pula memukuli seseorang di luar ring tinju bisa disebut sebagai penganiayaan dan termasuk tindakan kriminal.

Karena itu dari pada menghajar kepala Kidomaru, sebenarnya Naruto lebih tertarik menghajar kepalanya sendiri hingga mengalami amnesia sehingga bisa melupakan siapa dirinya yang memang bukan siapa- siapa. Tapi sayang sekali, dia bukan shinobi yang bisa membuat kage bunshin untuk mewujudkan ambisi terpendamnya.

"Kurasa kau bukan manusia tolol sampai tidak bisa membedakan antara menjaga dan mengekori seseorang seperti anjing dungu-" Seketika Naruto menggertakan rahang dan menajamkan sorot matanya pada Kidomaru yang baru buka mulut, mengangkat dagu menantang seolah dirinya lebih superior dan berkuasa padahal Kidomaru menjulang kekar dan lebih tinggi dari pada tubuh remaja Naruto.

"Aku ada di sana, dan Karin tidak mengatakan apapun untuk mengikutiku.. jadi menyingkir dari hadapanku, pergi- jangan mencoba untuk mengikutiku." Akhirnya Naruto tersadar, meski rasionalitas otaknya mampu menahan tangan dan kakinya.. rupanya tetap tidak sanggup mengontrol lidahnya untuk tidak menyakiti perasaan manusia beradab. Namun entah kenapa, Naruto tidak sedikitpun pernah menyesalkannya.

Meski enggan Kidomaru segera melaksanakan perintah Naruto setelah sekali lagi membungkuk, meninggalkan Naruto yang sekali lagi disergap perasaan tenang namun terasa meresahkan. Naruto sedang merasa tidak memahami dirinya sendiri, sementara terik matahari terasa mulai menyengat ubun- ubun kepalanya.. dan akhirnya Naruto sepenuhnya merasa kesal.

Setidaknya rasa kesal membuat Naruto berderap lebih cepat dan menghetak meski di sisi lain juga membuatnya jadi terlihat lebih bodoh dari biasanya.

Tanpa rencana menghabiskan sepanjang sore bergelung di bawah pohon rindang seperti seekor kucing liar, rasa tenang itu juga belum hilang namun perasaan kesal yang menyesakinya juga belum surut. Sementara sebagian dirinya yang lain berusaha berkelit dari kenyataan jika dia terlelap berjam- jam karena rasa melankolis yang tidak ingin diakuinya. Rasa terbebas dari kekangan mengingatkannya akan berhasilnya meninggalkan panti asuhan di masa kecilnya, hanya saja kali ini euforianya tidak bertahan lama.

Sementara lembayung senja mulai menggelap, Naruto duduk termangu dengan rasa bimbang menggelayutinya.

'Jadi sekarang kau kecewa?'

Saat itu juga otot- otot tubuhnya menegang, membuatnya bangkit seketika.. melangkahkan kaki tanpa Naruto sadari kemana arah tujuannya, intinya dirinya tak ingin terhenti atau berdiam diri. Bukan berarti meninggalkan Karin membuatnya depresi atau semacamnya, hanyaa.. tantangan berupa bencana berwujud Karin rupanya cukup merepotkan, sekaligus tak ingin Naruto akui selingan yang cukup menghibur dan mulai terbiasa akan keberadaanya.

Lalu dalam waktu singkat kembali pada kehidupannya yang datar, menjemukan, dan biasa- biasa saja. Kembali menjadi seperti udang yang hanya mengikuti arus, membosankan sekali.. sekalinya udang tetaplah udang, meskipun kehidupan salmon yang berenang melawan arus terlihat keren dan penuh tantangan, Naruto tidak tertarik untuk mencobanya… Soalnya yang biasanya berenang melawan arus cuma salmon betina, dan sekalipun tidak bermaksud seksis Naruto sangat bersyukur terlahir sebagai laki- la-

"Okyaku-sama?"

Suara terkejut lolos dari tenggorokannya untuk merespon seorang pelayan di depannya. Tiba- tiba saja Naruto sudah berada di sebuah restoran, dan begitu kesadarannya kembali seorang pelayan menanyainya dengan sedikit membungkuk dan bersuara gugup.

"Eh? Aku bawa uang kok!" Seketika tanpa dicerna otaknya yang baru saja tersadar,

"Saya menanyakan, di mana anda ingin duduk?" Semakin bertambah gugup, tapi si pelayan juga menunjukan raut jengkel

Merasa tidak enak Naruto tertawa gugup,"Pokoknya di atas." Mengakhirinya dengan cengiran sambil menunjuk- nunjuk langit- langit tanpa mengalihkan pandangan dari pelayan yang akhirnya menghembuskan nafas berusaha tidak terlihat kesal.

Entah karena rasa bersalahnya pada pelayan atau rasa kesal yang menggelayutinya, Naruto memesan paket menu paling mahal yang tertanggap indra penglihatannya. Semula Naruto merebahkan kepala di atas meja berbantal lengannya sendiri, namun tanpa disadari.. tubuhnya tergeletak di atas tatami memunggungi pintu sementara suara langkah- langkah kaki datang dan pergi ke dalam ruang makan yang di tempatinya.

Untungnya restoran yang dipilihnya tanpa perhitungan menyediakan ruang yang bisa memberikannya privasi tanpa membuat pelanggan lain merasa terganggu dengan aktifitas bermalas- malasannya, tapi memang menu makannya sangat mahal. Dan memang nyaman..

Sampai rasanya, sepertinya Naruto kembali tertidur untuk beberapa saat. Telinganya sama sekali belum mendengar langkah kaki pelayan, namun aroma dan suara gemerisik lemak daging terbakar, jelas terdengar dari mejanya.

"Geh!" Naruto terlalu terkejut, sekalipun berhasil menjaga tubuhnya untuk tidak terlonjak. Tapi jelas suara aneh lolos dari bibirnya.

Penampakan yang tertangkap indera pengelihatannya cukup sulit dipercaya, tapi Naruto juga ragu jika otaknya sanggup menciptakan halusinasi yang tidak menghibur sama sekali.

Tidak mungkin dirinya mengkhayalan Karin tengah duduk tersenyum di seberang meja sambil membalik wagyu di atas panggangan, kenapa pula Naruto merasa perlu mengkhayalkan Karin?! Jadi kecil kemungkinan dirinya mengalami halusinasi.

Lalu bagaimana Karin bisa berada di depannya begitu saja?

Tidak, bukan sesuatu yang tidak mungkin jika Karin bisa menemukannya sewaktu- waktu tanpa diduga. Beberapa waktu belakangan terbukti Karin memang sering muncul dihadapannya begitu saja. Tidak juga! malah memang sejak awal dirinya bisa bertemu Karin sudah sangat tidak masuk akal.

Karin tidak masuk akal

Karin tidak normal

Karin mencurigakan

Karin menjengkelkan

Dan akhirnya Naruto kembali merasa kesal. Demi memuaskan rasa penasarannya yang tidak relevan, Naruto melempar dompetnya dengan cukup keras.. jenis benda paling aman yang tidak akan menimbulkan kerusakan besar tapi juga tidak terlalu lembut untuk menimbulkan rasa sakit. Masih sulit mempercayai Karin di depan matanya bukan cuma khayalan tembus pandang.

"Ouch!"

Karin mengerang dan menyuarakan protesnya saat Naruto menatap ngeri kenyataan yang terpampang di bawah hidungnya. Padahal Naruto telah berhasil membuat sekenario singkat kehidupan barunya, tentunya berkat Karin yang menyadarkan dirinya akan potensi diri yang sama sekali belum terfikir olehnya sama sekali.. tentunya menjadi gigolo.

Meskipun begitu, apa lagi yang bisa Naruto lakukan? Sekali lagi Karin menggampar kesarannya hanya dengan kehadirannya saja.

Karin bergumam, menggerutu pelan merasa tidak digubris karena Naruto lebih tertarik mendongak, menatap langit- langit kayu yang membosankan, namun kali ini menghela nafas terang- terangan.

"Aku sudah nyaris tidak bisa lagi terkejut saat kau tiba- tiba saja muncul di depanku-"

"Jangan salah paham.. Aku hanya memberi Naruto waktu untuk menyendiri," Seulas senyum tipis terulas di bibir Karin, namun seketika itu memudar."Begitukan yang Naruto pikirkan? Jika Karin sudah membiarkanmu pergi,"

Semakin kehilangan semangat, Naruto jadi ingin berbalik dan kembali menggulung tubuh di atas tatami.. hanya saja melakukannya akan memberi kesan jika dirinya telah kalah, entah kalah dari apa. Jadi tangannya menarik segelas limun demi meredam keinginanya untuk kembali bergelung tidur, jelas- jelas otaknya jadi sinting.

Karin menggebrak meja, barangkali karena merasa diabaikan menimbulkan denting nyaring dari perlengkapan makan yang tak bersalah. Tahu- tahu berdiri tanpa melepas tatapan matanya dari Naruto yang jelas- jelas baru saja terjolak kaget sambil perlahan – lahan merayap mundur saat Karin berjalan menyeberangi meja lalu menghentikan langkah tepat di depan Naruto.

Uzumaki Naruto, berandalan keras kepala suka berbuat onar.. berkelahi untuk mengisi waktu luang, mulutnya tak tahu sopan santun dan dari sorot matanya tercermin rasa permusuhan abadi. Jenis sinopsis singkat tentang si bocah pirang kurang ajar yang sering digambarkan orang- orang tentang dirinya, sedangkan Naruto merasa tidak perlu meralat apa pun tentang apa yang dipikirkan orang- orang tentangnya. Hanya membuang- buang waktu dan tenaga dalam kesia- siaan saat orang lain lebih memilih percaya mentah mentah pada sesuatu tanpa berusaha mencari pembuktian.

Jadi Naruto tidak pernah mempermasalahkan dan tidak ambil pusing setiap permintaan maaf yang digumamkan kepadanya dalam nada setengah hati, gerak- gerik yang tidak mencerminkan rasa penyesalan, setiap cengiran yang membuat kalimat itu hanya terasa seperti candaan. Mungkin karena itu juga, Naruto merasa menjadi lebih mudah beradaptasi karena lambat laun menganggap segala hal telah kembali seperti sediakala, menjadi sama seperti biasanya yang biasa- biasa saja. Sama seperti hidupnya yang hanya mengikuti kemana arus membawanya, jadi masalahpun lambat laun akan berlalu begitu saja jika Naruto mengabaikannya.

Tapi meski begitu, bukan berarti Naruto tidak pernah terkejut akan suatu hal baru yang belum pernah dialaminya.

Seperti saat mengira akan mendapat cakaran, jambakan, atau tamparan. Jenis perkelahian perempuan yang tidak mampu Naruto tangani, tapi Karin malah jatuh berlutut yang menyebabkan menjalarnya aliran rasa dingin di punggung Naruto. Begitu Karin bersujud dogeza sambil mengatakan rasa penyesalan dan permintaan maaf lalu memperkenalkan dirinya seolah menghadiri acara perjodohan, punggung Naruto telah melekat di tembok sambil memegangi kerah bajunya karena merasa ngeri.

Jantungnya berdentam entah terkejut entah takut, yang jelas Naruto tidak menyukai situasinya saat ini.

"Tidak.. tidak.. tolong berhenti, maksudku.. jangan seperti itu, bisa tolong berhenti? Aku bukannya ingin mempermasalahkan soal itu-" Sambil mengibas- ngibaskan sebelah tangan seolah mengusir komodo berbisa, tidak.. komodo tidak berbisa tapi liurnya penuh bakteri mematikan. Bukan pula karena Karin mirip komodo meski memang Karin diam- diam menyergap dan terkadang Karin memang mengigit, hanya saja kepala Naruto sedang panik karena situasi yang mengerikan menurutnya.

Meski menyadari raut penyesalan dan bingung terpampang di wajah Karin begitu menegakkan punggung, rasanya Naruto masih sulit menghapus ringisan ngeri di wajahnya. Dan baru setelah merasa jika dirinya benar- benar terlihat tolol, Naruto berdehem untuk menguasai diri sambil membuat catatan jika ada seseorang berusaha meminta maaf dengan cara itu sebaiknya naruto segera berlari pergi.

"Tapi.. yang Naruto katakan memang benar, jika Karin belum pernah mengenalkan dirinya dengan benar. Dan terlalu egois sampai tidak menyadarinya,"

Sentakan rasa bersalah kembali menghantamnya setelah Karin bersujud penuh nestapa kemudian menyalahkan dirinya sendiri, bahkan meski posisi Naruto benar tetap saja membuatnya merasa bersalah. Naruto terbiasanya menyalahkan dirinya sendiri sebelum seseorang membuat alasan untuk menyalahkanya, tapi melihat bangaimana orang lain menyalahkan diri sendiri di depan matanya.. rasanya? Naruto merasa agak jijik. Jadi barang kali itu juga alasan kenapa orang lain enggan berdekatan dengannya, Uzumaki Naruto akhirnya membuat catatan baru di kepalanya. Menyalahkan diri sendiri ternyata terlihat menjijikan.

"Bukan.. tidak, maksudku.. Jika pun dulu Kau melakukannya, ku rasa aku tidak akan menyukainya.. hal formal seperti itu rasanya konyol sekali," Rasa terkejut Naruto masih belum benar- benar reda sampai kesulitan menyusun kalimatnya,

Karin mengernyit bingung.

Naruto tertawa gugup, perlahan rasa kesalnya menyusut,"Kurasa karena.. Kau tau? Ini seperti kebanyakan orang pada umumnya, kufikir apa yang dilakukan seseorang akan selalu salah dimata orang lain sekalipun yang kau lakukan sudah tepat. Dan sepertinya aku memang melakukannya juga, jadi ku rasa sebaiknya kau melupakan apa yang ku katakan. Aku hanyaa,- memang sedang kesal dan mencari- cari hal sepele untuk dipermasalahkan." Perasaaanya sepenuhnya telah tergantikan rasa bersalah.

Awalnya Karin melebarkan mata seperti hendak mengatakan sesuatu namun terhenti, hanya memandang Naruto penuh selidik sebelum akhirnya bergumam tanpa arti disertai senyuman setipis kertas. Atau barang kali Naruto berhalusinasi jika Karin tersenyum.

"Naruto~ ternyata tidak segitunya berhati dingin seperti yang dia~ kira,"

Naruto merinding mendengar nada bicara Karin,"Aku sudah pernah memperingatkanmu jika kau salah orang."

Karin menggeleng pelan sembari bergerak mendekat dengan seulas senyum menerangi wajahnya, saat Naruto hanya bergeming di tempat karena jalan mundurnya telah terblokir tembok masif. Berusaha keras agar tidak terlihat ketakutan, padahal tengkuk Naruto meremang penuh kekhawatiran.

Menghadapi sesama laki- laki rasanya lebih mudah dan simple. Jika kau dipukul, kau tidak akan dipersalahkan karena membela diri. Dianggap pemberani jika berani membalas. Tapi menghadapi perempuan? Rasanya sangat merepotkan, jika melarikan diri kau pasti merasa seperti pecundang tapi jika berusaha melawan.. kecil kemungkinan kau tidak akan tidak dianggap sebagai seorang bangsat. Baiklah, memang terdengar melebih- lebihkan..

Jadi yang bisa dilakukan Naruto saat ini hanya terpaku di tempat, namun anehnya kali ini Karin seolah diselimuti ketenangan. Biasanya Karin akan berusaha mendempet, mengganggu, dan memaksa-

Tidak, bukan sebuah ciuman seperti yang Naruto kira. Karin hanya mendekat dengan senyum jahil lalu sepenuhnya beralih pada daging di atas panggangan, meninggalkan Naruto yang sedang mencaci maki dan menertawai dirinya sendiri dalam diam.

Namun menyebut Karin tenang, rasanya juga bukan kata yang tepat. Naruto tidak bisa memikirkan kata yang lebih tepat saat tiba- tiba saja Karin terlihat lebih damai, tak tergoyahkan, dewasa, dan dengan sikap seperti itu rasanya Naruto akan kesulitan untuk membantah Karin dengan mudah. Dan dari sekian banyak sifat buruknya, Naruto jarang sekali menyadari, jika matanya sering terpaku pada suatu objek saat sedang dilanda rasa penasaran.

Sampai Karin menoleh padanya dengan seulas senyuman tipis yang manis, Naruto jadi ingin meninju dadanya hingga organ dalamnya rontok. Sial!

.

.

To Be Continued. . .

Ola minna- san.. It's been a while,

Tanpa perlu banyak kata, terimaksih karena telah dengan sabar menunggu.

Sayang sekali, kalian harus melihat fic ini kembali update

karingiya777 : Tolong jangan terlalu berharap untuk keteraturan update, karena ak bukan penulis fulltime, jadi ketika ak mulai menulis.. sebenarnya hal itu bukan pertanda bagus karena sebenernya moodku lagi buruk.

IJN Noshiro : halo masih disana? Nih lanjutannya

WelPlay : bukannya muncul konflik baru sih, Cuma konflik gk kelar- kelar

Rawna : thanks a lot! You hit my point! Ak memang menggunakan chara Naruto disini untuk mereduksi pikiran gk penting yang sering mampir dikepala.

kyuu can : terimakasih sudah menunggu dan mengingatkan untuk update, meski butuh satu tahun untuk 3000 word. hahaha

Hafure : serius kalau ak memang penulis amatiran, Cuma dulu memang silent reader jaman masih rame dan bergelimang author2 yg tulisannya enak dibaca. Nulis ini juga hasil dari terpengaruh gaya bahasa beliau beliau. Gk sadar ya? Ff sekarang dah kek kuburan. Hahaha

Dan tanpa merasa bersalah. See you!

3/5/23