"Mimpi... apa- ya..."
"Ssst... Papa... bobo."
Diskusi samar sepasang anak kembar perlahan-lahan mengusik bunga tidur Changbin. Ia pun terbangun, memosisikan kepalanya ke arah jam dinding, mengabaikan dua orang balita yang tengah menilik papanya di sebelah ranjang.
Dua anak itu mengenakan kemeja putih berlengan pendek dipadukan celana hitam selutut, dilengkapi bretel serta dasi kupu-kupu berwarna senada dengan celana mereka.
"Selamat pagi, Papa!" Junior mencolek siku adik kembarnya. "Bokkie tidak ucap salam?"
"Pagi, Pa," sapa Yongbok.
Changbin tidak menanggapi sapaan keduanya. Ia merenggangkan badannya, mengambil handuk, dan segera masuk ke kamar mandi di seberang kamar Felix.
Tersisa si kembar di dalam kamar, Junior menduduki ujung kasur daddy-nya. "Bokkie, cini duduk."
Yongbok menempati sisi kasur yang ditepuk Junior. Dua balita identik itu kemudian berkomunikasi menggunakan bahasa rahasia mereka berdua sambil mengayun-ayunkan kaki mereka. Selang berapa belas menit, Junior melompat dari kasur, menuju pintu kamar yang hendelnya digerakkan turun oleh seseorang.
"Papa!"
Pria berpakaian serba hitam melewati Junior, merapikan rambutnya di depan cermin gantung. Jangankan menanggapi, melirik mereka pun tidak Changbin lakukan, seolah-olah dua anak kembar itu tidak ada bersamanya.
"Kak Changbin." Jisung memanggil dari lantai dasar. "Bawa Junior dan Yongbok sarapan."
Tak mengucapkan sepatah kata, Changbin diikuti dua anak ayam turun ke dapur, mengisi perut lapar mereka.
Pukul sepuluh lewat empat puluh dua menit, jenazah Felix dikuburkan di Pemakaman Umum Waverley yang terletak di pinggiran Timur kota Sydney. Tak banyak orang yang mengunjungi pemakaman seluas 17 hektar itu, mengingat upacara pemakaman Felix dilaksanakan pada hari kerja. Upacara pemakamannya berlangsung secara singkat dan tertutup, dihadiri keluarga inti beserta seorang pastor untuk mendoakan jiwa yang telah berpulang.
Di hadapan anak-anak Felix, Minho dan Jisung sepakat untuk tidak menitikkan air mata mereka, beda halnya dengan Changbin yang terang-terangan memperlihatkan kesedihannya. Tak peduli sekecewa apa pun dirinya, kepedihan atas kematian Felix mengalahkan amarahnya terhadap perselingkuhan sang kekasih.
"Papa." Sentuhan halus terasa di salah satu telapak tangan pria bermarga Seo. "Mengapa Papa menangis?"
Pria tersebut menyeka tetesan air di kedua sudut matanya tanpa menjawab pertanyaan si adik kembar.
"Papamu menangis bahagia karena daddy-mu menunggu pangerannya di tempat seindah ini." Minho menunjuk lautan lepas di belakang makam adiknya. "Lihatlah pemandangan itu, bukankah laut di situ sangat indah?"
Dipandanginya lautan biru yang hampir serupa dengan warna langit, dibatasi oleh horizon dan gumpalan awan Cumulus. Gemuruh ombak laut menderu, menghantam bebatuan di tepi pemakaman. Semilir angin meniru ombak, menerjang kulit seluruh insan yang hadir di sana.
"Paman benar, lautnya sangat indah." Yongbok membenarkan ucapan Minho.
"By, Pastor Matthew mau bicara sama kamu," celetuk Jisung.
"Ada apa, Father Matt?" Minho bergabung ke dalam perbincangan ringan antara suaminya dengan pastor yang memimpin upacara pemakaman Felix.
"Papa, Juniol pengen pipis." Junior mencengkeram celana bahan papanya.
"Kak, antar Junior. Obrolan kita masih lama kelarnya." Jisung memberikan ultimatum kepada kekasih adik iparnya.
Changbin terpaksa menemani Junior ke toilet umum yang letaknya lumayan jauh dari makam Felix. Selama perjalanan melintasi Coastal Walk, bisikan menyesatkan mencecar kuping Changbin.
"Tinggalkan mereka di sini. Mereka bukan darah dagingmu!"
"Persetan penyesalan Felix, ia telah menghianatimu!"
"Tinggalkan, tinggalkan mereka, tinggalkan anak haram itu, Seo Chaaangbiinnn!"
Bisikan iblis mencuci otak Changbin, mendesaknya merampungkan rencananya detik itu juga.
"Junior, kau mau melihat-lihat area sekitar sini?"
Junior teramat sangat senang, papanya berbicara padanya duluan. Ia mencampakkan keinginan buang air kecilnya, tak mengendus niat jahat Changbin.
"Asal belsama Papa, ke mana pun Juniol mau!"
Changbin menggenggam tangan Junior, menyusuri Coastal Walk ke bagian terbawahnya. Tak ada siapa-siapa di sekeliling mereka, ia membebaskan tangan Junior, berbalik pergi meninggalkannya.
"Papa? Tungguin Juniol." Kakak kembar menyusul papanya. Naasnya, langkah kaki papanya lebih panjang dibandingkan dirinya.
Tuk. Ia tersandung anak tangga akibat tergesa-gesa mengejar papanya.
Kesempatan tak datang dua kali, Changbin melarikan diri sekuat tenaga.
"Hue! Sakit." Junior pelan-pelan bangkit secara mandiri, ia memaksakan kakinya yang terluka buat mengejar sang ayah. "Papa! Tungguin Juniol!"
Sang ayah tak berhenti melangkah, tiada belas kasihan dengan teriakan serak 'anaknya' yang ditenggelamkan deruan ombak.
Tuk. Junior terjatuh lagi, tersandung kakinya sendiri. Lengannya lebam terbentur lantai kayu, cairan merah mewarnai dua lutut lecetnya. Ia meneriaki sosok ayahnya yang kian mengecil dalam penglihatannya, "PAPAAA!"
•
•
•
Napas Changbin memburu, puluhan menit telah ia habiskan dengan berlari di bawah terik mentari. Tanpa merasa bersalah, ia menetralkan detak jantungnya, berjalan santai ke makam Felix.
"Tinggalkan saudara kembar anak haram itu."
Bisikan iblis mulai menghasut Changbin saat ia mendapati target yang berpijak sendirian di depan makam Felix.
"Pa, Junior ke mana?" Yongbok celingak-celinguk, tak menemukan batang hidung saudara kembarnya.
"Tinggalkan dia di sini. Tinggalkan dia, tinggalkan dia!"
"Papa mengapa diam saja? " Adik kembar mengamati papanya yang tampaknya sedang berpikiran rumit.
"Tunggu apa lagi? Tinggalkan dia!"
"Yongbok, kau mau melihat-"
"Kak- hosh- Changbin!" Kedua pasang mata mereka terarah pada Jisung dan Minho yang berjarak lima jengkal dari makam Felix. "Kau keterlaluan."
"Hiks..." Junior menangis sesenggukkan di dekapan paman Minho-nya. "Kenapa Papa tidak menunggu Juniol?"
Kulit mukanya memerah kepanasan, terbakar sinar matahari. Dasi kupu-kupunya hilang, bretelnya terlepas, kemejanya lembap sekaligus kotor. Goresan-goresan luka terukir di lutut, lengan, dan keningnya, entah sudah berapa kali tubuhnya mencium tanah.
"Kalau Juniol ada buat salah, hiks Juniol minta maaf. Hiks."
Penampilan memprihatinkan Junior maupun permintaan maafnya tidak mampu meleburkan kebencian Changbin sepenuhnya.
"Seo Changbin. Bisakah Anda memperlakukan Felixkecilsayalebihlembutkali berikutnya?" Minho menekankan kalimatnya.
Jleb. Perkataan Minho langsung meninju akal sehat kawan lamanya. Felix kecil saya, sebutan Minho untuk adik semata wayangnya.
Termakan kebenciannya, Changbin melupakan Minho yang turut merasakan kesedihan mendalam atas kepergian adiknya. Ia melupakan paman-paman yang tulus mencintai si kembar!
"Yongbok, mari kita pulang." Jisung melayangkan lirikan kecewa sebelum mereka membelakangi sang pelaku.
Changbin membuntuti keluarga Lee ke tempat mereka memarkirkan mobilnya masing-masing. Semua yang bermarga Lee menaiki mobil Minho. Dilajukannya mobil toska itu tanpa melemparkan aba-aba pada oknum bermarga Seo.
Changbin menaiki mobil hitam metalik miliknya. Ia memasang seat belt, meremas erat setir mobilnya.
"Dasar bodoh! Anak-anak itu tidak salah apa-apa, kau ultra bodoh, Seo Changbin!"
Suara hati nurani merutukinya yang tergoda oleh bisikan iblis.
"Musnahkan mereka-"
"BERISIK, BERISIK, BERISIK! BRENGSEK!"
Ia memerangi bisikan iblis tersebut, membenturkan dahinya ke atas setir mobil berkali-kali. Mentalnya lagi tidak baik-baik saja. Beraneka ragam emosi berkecamuk, saling berkelut mengungguli satu sama lain.
Bulan purnama disertai taburan bintang menukarkan posisi matahari di angkasa. Changbin mendatangi kediaman keluarga Lee, medengarkan kata hati nuraninya. Bunyi bip mobil dikunci memunculkan kepala keluarga di ambang pintu teras rumah. Jelas terlihat bahwa kunjungan Changbin telah dinantikan oleh tuan rumah.
"Kak." Jisung muncul dibalik bahu Minho. "Kau kejam sekali. Kau sengaja menelantarkan Junior!"
Changbin tak menggubris omelan Jisung, ia terduduk di bangku teras, bermuram durja.
"By. Kecilkan suaramu. Biarkan aku yang menceramahi mantan kekasih adik kita."
"Jangan hanya diceramahi, hajar dia, By! Aku tahan si kembar di kamar mereka," perintah Jisung sembari melesat naik ke lantai dua.
"Sebenci-bencinya kau pada si kembar, tidak sepatutnya kau menelantarkan Junior," tegur Minho, tak melaksanakan perintah suaminya.
Bukan karena ia berhati malaikat, makanya tak tega menghajar temannya. Minho tahu, mental Changbin sedang terguncang. Lagi pula, main hakim sendiri tidak pernah tertuang di kamusnya.
Yang ditegur menggosok mukanya frustasi. Ia yakin dirinya tak'kan bisa menganggap anak kembar itu sebagai darah dagingnya.
"... aku tidak dapat menyayangi mereka, Ho."
"Aku tidak memintamu menyayangi mereka. Yang kami minta itu perlakukan mereka selayaknya anakmu sendiri!" Minho sedikit terbawa emosi. "Orang tua macam mana yang menelantarkan anaknya di pemakaman?"
"Kau dan Jisung juga menelantarkan saudara kembarnya."
"Kami tidak menelantarkan Yongbok! Kami kira kau tersesat, ternyata Junior yang kau telantarkan."
Pasangan Lee itu mengira Changbin dan Junior tersesat dalam perjalanan mereka ke toilet umum. Sialnya, Changbin tidak membawa ponselnya. Jisung ikut berpencar mencari keberadaan ayah dan anak agar Minho dapat beristirahat di rumah secepatnya. Dengan berat hati, mereka menyuruh Yongbok menunggu sendirian di depan makam Felix. Tepat di penghubung Coastal Walk dan Pemakaman Waverley, Minho menemukan Junior yang melangkah tertatih-tatih ke kawasan pemakaman. Mencemaskan nasib Yongbok, ia dan suaminya lari terbirit-birit ke makam Felix.
"Kau tak perlu menghujani si kembar dengan cinta palsumu, kau cukup merespons perkataan mereka. Layaknya sikap tenggang rasa pada sesama umat manusia," pungkas Minho.
Merasa ini waktu yang pas untuk membicarakan masalah Felix, Changbin menyurihkan topik pembicaraan, "Ho... apa yang terjadi pada Felix?"
"Kata rekan kerjanya, Felix dieksekusi di tempat musuh, mayatnya dikirimkan ke kantor polisi cabang ia bertugas. Semacam wujud gertakan kelompok teroris bersangkutan kepada pihak kepolisian."
"Pesan terakhirnya?"
"Tidak ada pesan khusus untukmu, adanya pesan teruntuk kita semua. Cuma dua kata, teruslah hidup. Oleh karena itulah, rekan kerjanya mengabari kondisi Felix seadanya. Ia tak ingin melibatkan kita dalam risiko pekerjaannya."
Teruslah hidup? Changbin menyunggingkan senyuman tipis. Ia sekarang paham, alasan Felix masih bergentayangan di dunia.
"Ho, apa aku boleh menginap di rumahmu untuk waktu yang tak menentu?"
"Ya, sesukamu saja. Dengan satu syarat, kau harus merespons setiap perkataan si kembar."
Changbin menyanggupi syarat tuan rumah. Ia membuka kunci mobilnya, mengeluarkan koper besar dari bagasi, lalu mengangkatnya masuk ke rumah keluarga Lee.
"Bin. Pikirkan matang-matang tindakan yang hendak kau perbuat. Sebab, kau akan menyesali segala perbuatan burukmu itu." Minho menasehati Changbin yang melewatinya di ambang pintu.
Inilah bentuk penebusan rasa menyesalnya. Changbin memutuskan buat membantu Felix menuntaskan penyesalannya, terlepas dari amarahnya yang belum mereda.
-TBC-
Sedikit Keterangan:
Cumulus = Awan dengan bentuk seperti gumpalan atau timbunan menumpuk (kayak di gambar pemakaman yang kedua).
Coastal Walk = Semacam jembatan/jalan setapak di tepi laut.
Tenggang rasa = Sikap menghargai dan menghormati orang lain tanpa pandang bulu (termasuk orang yang dibenci).
Bagi yang kepo/mau lihat peta lokasinya (fyi, posisi makamnya ada di area Digging a grave), silakan kunjungi: . .au/cemeteries/homepage_featured_boxes/interactive_map
