Look and Lock 16

by

acyanokouji

All Naruto's characters are belong to Masashi Kishimoto.

Warning: OOC, typo(s), crack couple, lemon!

.

.

"Naruto Uzumaki?" Naruto berdeham begitu namanya dipanggil. "Namaku Sasuke Uchiha. Bisa kita bicara di dalam?" begitu mendengar ucapan pria asing di depannya, Naruto mengernyit heran. Nama pria itu seperti tidak asing, terlebih marganya kalau tidak salah adalah Uchiha. Masih setengah sadar, Naruto memandang curiga. Uchiha? Uchiha yang mana?

"Maaf, ada perlu denganku? Kalau kau ingin menawariku asuransi, aku sudah mempunyainya dari bibiku."

Naruto menunjuk dengan bahunya, seolah meminta pria asing bernama Sasuke Uchiha untuk segera pergi dari hadapannya. Sementara Sasuke masih berwajah datar meskipun ia merasa heran dan sedikit kesal.

"Aku Sasuke Uchiha, wakil direktur perusahaan Uchiha. Kalau kau lupa, bibimu, Karin Uzumaki bekerja denganku."

Naruto berdeham heran sebentar. Mencoba memproses informasi sembari menggaruk lehernya. Beberapa detik setelahnya, Naruto membelalak. "Bosnya Bibi Karin?!" teriaknya agak histeris, bahkan mengagetkan anak tetangga yang sedang makan es krim sepulang sekolah. "Si-Silakan masuk, Tuan Uchiha." Naruto menggeser tubuhnya dan membiarkan Sasuke memasuki kediamannya.

Suasananya sangat canggung. Sasuke dan Naruto duduk berseberangan. Pemuda pirang itu duduk gusar sembari merapatkan kakinya. Ia bingung dan takut di saat yang bersamaan. Bos bibinya datang, bagaimana bisa Naruto tidak berpikiran negatif? Dalam hati ia berdoa kepada Tuhan, katanya ia belum punya keponakan.

"A-Ah, apakah kau ingin meminum sesuatu? Aku tidak bisa menyajikan apa-apa selain soda dingin." Naruto berusaha untuk mencairkan suasana. Masih dengan kedua kaki yang merapat dan menggaruk belakang lehernya, Naruto tertawa kikuk. "Boleh. Sekaleng soda dingin di siang hari tidak buruk juga."

Naruto bangkit. Ia pergi ke dapur untuk mengambil dua kaleng soda dingin. Tapi sebelumnya, ia berhenti di kran air untuk membasuh wajahnya yang baru bangun tidur. Setelah kembali, Naruto menyodorkan satu kaleng dingin pada Sasuke. Kemudian, ia mulai membuka dan meminum kaleng soda untuk dirinya sendiri. "Ahhh segarnya!" Naruto menghela napas lega, kesadarannya telah kembali.

Suasananya sedikit lebih santai sekarang, Naruto duduk dengan dua kakinya yang agak berjarak. Di seberangnya Sasuke juga meminum kaleng soda dengan tenang.

"Ah, Tuan Uchiha. Maaf menyambutmu seperti ini. Pamanku sedang tidak di rumah dan bibiku juga seharunya bekerja di perusahaan Uchiha. Boleh kutanya maksud kedatanganmu? Apa sesuatu terjadi pada bibiku?" tanya Naruto setelah menaruh kaleng soda yang sisa setengah di atas meja. Kali ini, ia kelihatan lebih fokus dan serius.

"Tidak ada. Bibimu baik-baik saja." Naruto menghela napas lega, pikirannya tidak benar. "Aku datang ke sini sebagai kekasih dari Hinata Hyuuga." pandangan Naruto yang sebelumnya menunduk pun terangkat. Matanya membola, melebihi sebelumnya.

"Aku sudah punya pacar."

Ingatannya kembali pada ucapan Hinata lalu. Mulut Naruto sedikit terbuka-tertutup selama beberapa saat. "Jadi, itu benar?" gumamnya pelan sembari tersenyum miris. "Aku ke sini untuk menemuimu, Naruto. Kudengar kau adalah mantan pacar Hinata dulu."

Naruto mengambil napas panjang. Ia balas menatap Sasuke yang ada di depannya. Suasana di antara keduanya kini malah kembali memburuk. Lebih dari canggung, terasa sedikit sengit. Sekilas Naruto mengernyit, bertanya tentang alasan kekasih baru Hinata datang menemuinya. "Juga, kau adalah orang yang mengadukan Hinata pada kakaknya sendiri."

Mata Naruto membola lagi. Jadi itu? Hinata mengadukannya. Tapi hei, Naruto tidak tahu jika Hinata punya pacar saat itu.

"Dan keperluanmu denganku?" tanya Naruto berani, ini hanya soal mantan pacar dan pacar baru. "Aku sudah meluruskan masalahku dengan Hinata. Kalau kau khawatir, aku berjanji tidak akan mengusik Hinata lagi, Tuan Uchiha."

Dalam hati Naruto berpikir, keren juga Hinata bisa berpacaran dengan pimpinan Uchiha. Perempuan itu baru magang satu bulan lebih, yang ia dengar dari anak kampus pun katanya Hinata tidak sedang dekat dengan siapa-siapa. Jadi, bagaimana bisa? Apa Hinata magang di sana karena ada kekasihnya?

"Ya, seharusnya memang begitu, Naruto. Tapi kenyataannya tidak semudah itu." Naruto mengernyit, ditatapnya Sasuke yang mengeluarkan tab mini dari dalam jas kerjanya. "Semuanya menjadi kacau, karena tindakanmu."

Sasuke memberikan tab mini pada Naruto. Dari layar tab mini tersebut terlihat cuplikan video dari saluran gosip yang tengah ramai. Videonya hanya berdurasi satu menit, tapi jelas mampu membuat Naruto tercengang dengan pemberitaan yang sedang menggemparkan itu. "Ba-bagaimana..." Naruto tercekat setelah melihat berita yang mungkin ia lewatkan selama tidurnya. "Hinata... Bagaimana dia..."

"Seperti yang kau lihat, keadaan sedang kacau saat ini. Hinata tidak sedang baik-baik saja. Sebagai kekasihnya aku sangat marah. Tapi, aku tidak bisa sembarangan menuntutmu." Naruto meneguk lidah, perlahan menaruh tab mini di atas meja. "Hinata pun sangat membencimu, tapi dia tidak setega itu padamu." napas Naruto terasa sesak. Selama ini, Hinata selalu mengalah padanya, bahkan saat diputuskan sepihak tahun lalu.

"Aku datang ke sini hanya untuk bicara denganmu. Ketahuilah statusmu. Bersikaplah sebagai seorang pria dewasa. Tolong jangan ganggu Hinata lagi. Berdamailah dengan dirimu sendiri."

Di depannya Naruto hanya terdiam. Pria itu pelan-pelan menundukkan kepalanya di setiap kalimat yang Sasuke ucapan. "Sekali lagi, lepaskan Hinata, dia sudah menjadi kekasihku." Sasuke kembali mempertegas posisinya, tak akan ia biarkan lelaki manapun mendekati Hinata hanya untuk menyakitinya.

"Terima kasih atas minuman sodanya. Aku pergi." tanpa menunggu Naruto menjawab atau sekadar mendongakkan kepalanya, Sasuke bangkit dari duduk. Ia meraih tab mininya dan kemudian melangkah pergi meninggalkan kediaman Naruto.

.

.

Kriet. "Hei," Hinata menoleh pada sapaan seseorang yang membuka pintu kamarnya. "Boleh aku masuk?" sedikit samar, Hinata mengenali pria yang menyembul dari celah pintu. Seulas senyum muncul di wajahnya. Sedikit mengangguk, Hinata mengizinkan pria itu mendekat padanya.

Setelah menutup pintu kamar Hinata dengan hati-hati, Sasuke mendekati Hinata yang duduk di pinggir kasur. Ranjang sedikit berderit saat Sasuke ikut duduk di samping kekasihnya. "Kau sudah baikan?" ditatapnya wajah Hinata yang sedikit lebih segar dibandingkan beberapa jam yang lalu. Anggukan pelan menjadi jawaban. "Sudah sore, belum mau keluar kamar?"

"Aku..." Hinata menundukkan pandangannya. "Aku masih ingin di sini." Lalu ia mengangkat pandangannya lagi dan menatap iris gelap Sasuke. "Baiklah, aku akan menemanimu."

Sasuke menggeser duduknya, lebih mendekat pada Hinata. Ia meraih tubuh Hinata dan memeluknya dari samping setelah membetulkan posisinya. Satu kaki terlipat dengan lutut ke tengah kasur, menarik Hinata agar mendekat untuk menyandarkan kepalanya di puncak kepala Hinata.

"Semuanya akan baik-baik saja." Sasuke mengelus pelan lengan Hinata. Beberapa kali mengecup singkat puncak kepala wanitanya. "Apa kau tidak marah padaku?" Sasuke berdeham heran sembari menghirup aroma Hinata.

"Aku adalah seorang model lingerie. Meskipun tidak secara resmi, aku memamerkan tubuhku pada orang banyak. Orang-orang bergosip tentang perempuan yang dekat denganmu. Juga..." Hinata menoleh. "Aku membentakmu tadi pagi."

Sasuke sedikit meregangkan pelukannya, ditatapnya mata Hinata dengan lekat. "Bukankah aku sudah bilang, aku tidak peduli. Malah, berkat model lingerie itu aku mengenalmu, 'kan? Aku mencintaimu, Hinata."

Hinata mengangkat sebelah alisnya. "Mencintaiku? Atau tubuhku?" Sasuke terdiam sebentar. "Apa bedanya?" sebuah decakan menunjukkan ketidakpuasan Hinata.

"Hei." Sasuke membingkai sebelah wajah Hinata. "Kau tidak salah apapun. Aku pun tidak masalah dengan bentakanmu tadi pagi. Aku tahu, kita masih terlalu awal. Terlalu banyak hal yang terjadi. Tapi, kumohon izinkan aku untuk mengenalmu, Hinata."

Usapan halus dirasakan Hinata di sisi kiri wajahnya. Perlahan, Hinata mengangkat tangannya dan menyentuh tangan Sasuke yang membelainya. "Apakah... tidak apa-apa? Jika aku bersamamu?"

"Tentu. Kita akan melaluinya bersama, oke?"

Senyuman tipis di wajah Sasuke membuat Hinata ikut tersenyum. Beberapa detik mereka bertukar pandangan, kemudian Sasuke sedikit menunduk dan menyandarkan kepalanya di bahu kanan Hinata. Kedua tangannya sudah kembali melingkari tubuh Hinata. Untuk beberapa saat, mereka hanya diam dan berpelukan hingga mata Sasuke kembali salah fokus.

"Hinata, bisakah kita..." Sasuke menghentikan tangannya yang agak merambat naik. "Kenapa?" Hinata terbingung karena Sasuke menjauhkan tubuhnya. "Tidak. Aku hanya ingin menciummu."

Mata Hinata sedikit terbelalak, Sasuke kembali blak-balakan. "Di sini?" si laki-laki malah berdeham dengan santai. "Ta-tapi ada Kak Shika di luar." cegahnya. "Dia di luar, 'kan? Hanya kecupan singkat, aku janji. Ayolah, Hinata."

Sasuke sedikit merajuk agak manja. Hinata dibuat gugup sembari berdeham berulang-ulang. "Hanya ciuman singkat, 'kan?" Sasuke berdeham singkat untuk menanggapinya. Lalu, Hinata mulai menutup matanya. Pelan tapi pasti, Sasuke menundukkan kepalanya pada Hinata yang tengadah. Sedikit demi sedikit mengikis jarak di antara keduanya.

"Hinata! Kau baik-baik –sa...ja?" pintu kamar terbuka tiba-tiba. Sosok perempuan berambut pirang agak ikal datang dengan terburu. Ia terdiam dengan pintu terbuka lebar, melihat sesuatu yang baru saja akan terjadi. "Oh, apakah aku mengganggu?"

Sontak Hinata membuka mata, mendorong tubuh Sasuke yang hampir menyentuh bibirnya. Ia segera menjauhkan diri dan merapikan rambutnya dengan gugup.

"Ada apa, Temari?" Shikamaru ikut menyusul karena melihat kekasihnya berhenti di depan pintu masuk kamar Hinata. "Ah, tidak. Sepertinya aku mengganggu kegiatan Hinata dan kekasihnya."

"Hah?" Shikamaru melotot, jarak Sasuke dan Hinata terlalu dekat. "Hinata, kenapa kau duduk di ranjang bersamanya? Oi, Tuan Uchiha, menjauhlah! Hinata masih dalam keadaan shock!" agak terburu, Shikamaru berusaha masuk ke dalam kamar Hinata untuk memisahkan dua sejoli itu. Namun, tangannya ditahan oleh Temari yang segera menutup kembali pintu kamar. "Hentikan, Shika. Mereka sudah besar, biarkan saja."

"Tidak, tidak. Tidak boleh!" sekuat tenaga Temari menahan Shikamaru yang memaksa ingin membuka pintu. "Hinata, kalau sudah selesai bersihkan diri dan keluarlah." teriaknya sembari menyeret Shikamaru ke ruang tengah.

"Berani kau menyentuh adikku di rumahku, mati kau, Uchiha!"

Ribut-ribut di depan kamar membuat Hinata tak nyaman. Ia segera bangkit dari kasur dan merapikan rambutnya. "Aku akan keluar." katanya sebelum pergi duluan meninggalkan Sasuke yang tengah menggeleng sembari menghela napas panjang.

.

.

Malam ini kedai ramai sekali. Pesanan terus berdatangan. Paman Teuchi tak berhenti memasak dan para pegawai tak berhenti mengelilingi ruangan kedai yang semakin padat. "Ayame, antarkan pesanan ini pada meja di ujung." Teman kerja Ayame yang berambut gondrong memberikan nampan berisi mangkuk dan gelas.

"Satu porsi miso ramen dan segelas ocha dingin." Ayame menata makanan di atas meja yang ditunjuk oleh rekan kerjanya. "Silakan menikmati!"

"Terima kasih."

Ayame menoleh pada pemilik suara berat itu. Saat pandangan mereka bertemu, mata Ayame melotot ketika menangkap iris segelap malam yang tengah menatapnya. Sasuke Uchiha?!

"Kau terlihat sangat ceria dan masih muda." ucapan Sasuke membuatnya tersadar dari keterkejutan untuk kejutan yang lain. "Maaf?" alis Ayame mengernyit bingung, entah pujian entah apa, jelas ia masih setengah sadar.

"Nona Ayame?" seseorang muncul lagi. Berambut klimis dengan seragam hitam yang sukses membuat Ayame kembali melotot. "Anda ditangkap atas laporan pencemaran nama baik dan penguntitan yang telah Anda lakukan pada Saudara Sasuke Uchiha dan Hinata Hyuuga. Untuk itu, kami akan membawa Anda ke kantor. Anda berhak didampingi oleh pengacara."

Klik. Dengan cepat polisi bernama Hidan memasangkan borgol pada Ayame. "Eh?" Ayame yang masih terbengong tidak tahu musti bagaimana. Suara nampan yang terjatuh menarik perhatian orang-orang. Para pengunjung mulai ramai berbisik, Paman Teuchi pun mulai menyahut dari arah dapur.

Sambil jalan karena tangannya ditarik, Ayame menoleh pada Sasuke yang menatap dingin padanya. Beginikah akhirnya? Pria yang ia puja sudah pasti kini membencinya. Ayame merasa terintimidasi oleh tatapan tajam si pria raven. Sasuke Uchiha, mimpinya yang tinggal angan.

"Tuan Sasuke, mari ikut kami ke kantor untuk mengurus surat-surat laporan." seorang polisi lain bernama Haku mendekat. Sebelum Sasuke bicara, pria beralis tebal muncul dengan setelan jas. "Tidak perlu, Tuan Sasuke. Sebagai pengacara, saya yang akan mewakili Anda dan perusahaan."

Sasuke berdiri dari duduknya, sedikit menciptakan suara. "Tidak papa. Aku akan ikut." Sasuke merogoh sakunya untuk mengambil dompet. Mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar sebelum pergi dari kedai yang sudah ramai.

"Tuan Sasuke, tolong berikan komentar Anda terhadap kasus yang tengah Anda hadapi."

"Tuan Sasuke, apakah benar pelaku penyebar foto itu sudah tertangkap?"

"Tuan Sasuke, bagaimana nasib perusahaan Uchiha dari adanya skandal ini?"

"Tuan Sasuke, kapan kau akan mengenalkan pasanganmu pada publik?"

Begitu tiba di kantor kepolisian, wartawan sudah memenuhi pintu masuk. Sebagian sibuk mendokumentasikan penangkapan pelaku dan sebagian lagi sibuk mengincar Sasuke yang baru turun dari mobil.

Rock Lee maju ke depan Sasuke untuk menghalanginya dari desakan para reporter. "Tolong berhenti mendekat. Untuk pertanyaan-pertanyaan kalian, perusahaan Uchiha sudah membuat statement sebelumnya. Bahwa hubungan pribadi pegawai tidak ada sangkut pautnya dengan kinerja perusahaan. Kami akan mendukung Sasuke Uchiha dan Hinata Hyuuga sebagaimana dedikasi Tuan Sasuke dalam pekerjaan. Oleh karena itu, silakan tunggu berita terbaru dari kami dan pihak kepolisian." Usai bicara, Rock Lee menuntun Sasuke untuk memasuki gedung kepolisian, mengabaikan ricuh para wartawan yang bertanya-tanya.

"Tuan Sasuke, silakan duduk." Opsir polisi mengantar Sasuke di ruangan tunggu yang sudah disiapkan. "Kami akan mengintrogasi tersangka. Mohon menunggu di sini." Opsir muda itu menunduk singkat sebelum meninggalkan Sasuke dan Rock Lee.

Sembari menunggu, Sasuke menerima tawaran Rock Lee yang menawarkan diri untuk membuatkan kopi. Lalu, ia mengutak-atik tab mini-nya, membaca dan menandatangani beberapa laporan perusahaan.

"Tuan Sasuke Uchiha?"

Begitu namanya dipanggil, Sasuke menoleh dan menemukan Hidan yang menghampirinya. "Sesuai hasil penelusuran kami, Ayame adalah pelaku yang mengunggah postingan di grup facebook sebelum menghilangkan akunnya. Tapi, ada masalah lain, Tuan."

Sasuke mengangkat alisnya. Ia menutup layar tab mini dan kembali memasukkannya ke dalam saku jas. "Seorang pemuda mengaku sebagai pelaku dari penyebaran foto Nona Hinata Hyuuga, Tuan." terang Hidan. Dahi Sasuke mengernyit heran, "siapa?"

"Naruto Uzumaki."

.

.

BRAK

Suara tumpukan map yang dilempar ke atas meja terdengar. Opsir polisi muda berdecak keras dengan sebal. "Dengar ya, Tuan. Aku memang masih baru menjadi polisi, tapi apakah kau pikir aku ini bodoh?!" bentaknya. "Kau mengaku menyebarkan foto pemotretan Hinata Hyuuga saat menjadi model lingerie?"

Orang-orang di dalam ruangan utama memerhatikan dua pria, satu berambut coklat dan satu berambut blonde. "Namaku Konohamaru Senju, aku adalah seorang polisi dan rekanku di ruangan sebelah sedang mengintrogasi pelaku penyebaran foto Sasuke Uchiha dan Hinata Hyuuga. Jadi, Tuan Naruto Uzumaki, tolong jangan menambah runyam masalah dengan pengakuan palsumu!"

Konohamaru menghela napas kasar. Beberapa hari ia bekerja dengan penuh tekanan. Berusaha memulihkan dan mencari sosok di balik akun facebook bernama 'Sasu Pyon' dan berusaha menenangkan wartawan yang terus menunggu di depan kantor.

"Lagipula, bohongmu itu terlalu kelewatan. Rumor model lingerie itu sudah dibantah dan kita tahu siapa model sebenarnya, 'kan?" Konohamaru terkekeh pelan. Ia tersenyum remeh pada Naruto yang terkejut. "Tapi, aku..."

"Konohamaru!"

Hidan muncul bersama Sasuke dan Rock Lee yang hendak pergi dari kantor kepolisian. "Pemuda ini masih di sini?" tanya Hidan sembar melirik Naruto. Ia berdecak sebentar sebelum berbalik pada Sasuke. "Tuan Sasuke, ini pemuda yang tadi aku bilang. Bagaimana? Anda ingin memprosesnya juga?"

Sasuke memerhatikan Naruto. Sudah empat hari sejak ia mengunjungi rumah si pirang. Dalam empat hari ini, penampilan Naruto terlihat lebih kacau. Wajahnya semakin kusam dengan kantung mata besar. Dalam hati Sasuke menggerutu, mau apa lagi dia ikut campur?

"Tidak perlu. Sudah cukup menghadapi orang iseng yang ingin terlibat." Sasuke memandang dingin sebelum menatap Hidan. "Tolong kabari timku tentang perkembangan kasus terhadap Ayame." Kemudian, Sasuke melenggang pergi ke luar gedung diikuti oleh Rock Lee. Sebelumnya Hidan menyahut sopan dengan sedikit membungkuk.

.

.

"Astaga, para wartawan itu benar-benar parah!"

Sakura berdecak saat melihat tayangan berita di televisi. Dari layar terlihat Sasuke yang tengah dikerubungi dan diberikan pertanyaan-pertanyaan. "Padahal Sasuke hanya seorang pegawai kantor biasa, tapi pamornya sudah seperti selebriti saja!" Sakura menggeleng-gelengkan kepala sebelum menoleh ke samping. "Hinata, maaf aku tidak membantu langsung. Aku senang pelakunya sudah tertangkap dan kau mau keluar rumah setelah beberapa hari." ucapnya sembari tersenyum.

Di samping sofa, Hinata ikut tersenyum lembut. Jumat sore, ia datang ke kediaman Uchiha setelah empat hari terdiam di tempat tinggalnya. Berkat dukungan orang-orang, ia sudah mulai bisa menerima dan beraktivitas seperti biasa, mengunjungi calon ipar contohnya.

"Tidak papa, Kak. Aku tahu kau juga pasti sibuk dengan semua yang terjadi ini." Sakura tersentuh dengan sifat pengertian Hinata. Padahal selama beberapa hari ini ia hanya mengontrol klinik dan menenangkan Uchiha saat pulang. "Ah, iya. Aku lupa. Sebentar, aku harus mengambil gawaiku dulu."

Sakura bangkit dan pergi ke arah dapur. Sambil menunggu Sakura kembali, Hinata menatap layar televisi yang tengah menayangkan berita selebriti.

"Sebuah berita pengakuan muncul dari model Temari Sabaku. Melalui akun media sosialnya, model Temari mengaku jika rumor foto studio lingerie yang tengah beredar adalah dirinya. Dalam unggahan status yang dipostingnya, ia mengaku pemotretan lingerie yang dilakukannya memang dilakukan rahasia dan sekadar membantu bisnis usaha teman."

Ah, iya. Beberapa hari lalu, Temari juga bicara padanya. Menawarkan diri untuk membantu mengatasi rumor tentang Hinata sebagai model lingerie. Hinata sempat menolaknya. Ia tidak mau merepotkan Temari bahkan sampai membuatnya berbohong. Apalagi Hinata tahu, itu pasti hanya akan menambah masalah lagi bagi Temari dan kakaknya. Jadi, setelah Temari memutuskan untuk membantu Hinata, apa sesuatu yang buruk akan terjadi?

"Temari, aku tidak bisa."

Temari berdeham pada Shikamaru yang duduk di meja makan sementara dirinya tengah memasak di dapur Shikamaru. "Tidak bisa apa?" tanya Temari sembari mengaduk-aduk kari yang tengah ia masak. "Hubungan kita saat ini, aku ingin mengakhrinya."