Disclaimer : BoBoiBoy Galaxy milik Monsta Studio, cerita dan karakter original milikku.

Main Genre: Thriller/Action/Mystery

Others : Friendship-Family

Warning! OOC! Elemental as Siblings, humanoid alien and robot, OC etc.

~•~•~


"KAK HALI!"

"Apa?"

Halilintar membalas teriakan itu tenang, lalu berjalan ke arah kursi kosong yang tersisa. Setiap pergerakannya diperhatikan oleh yang lain. Namun, Halilintar tidak peduli dan segera duduk. Saat kepalanya diangkat, satu alisnya naik. Terheran-heran dengan pandangan yang dilayangkan oleh mereka berenam.

"Kenapa kalian malah bengong? Bukannya ini waktunya sarapan ya?" tanya Halilintar.

Solar menggelengkan kepalanya, lalu menatap sang kakak sulung heran. "Aku masih berpikir ini mimpi," ujarnya.

"Ingin ditampar? Siapa tahu bisa membuatku sadar sepenuhnya kalau ini bukan mimpi." Halilintar menyangga dagunya dengan tangan kanan dan sorot mata geli saat Solar melotot padanya. "Apa kepulanganku semengagetkan itu sampai kalian semua seakan tidak percaya kalau aku ada di sini?"

"Aku lebih kaget karena kau masih hidup, Kak."

PLETAK!

"Hehehehe Kak Hali tidak usah pikirin omongan kak Taufan. Tampaknya tendangan dari Blaze bikin kepalanya agak korslet." Gempa tersenyum manis setelah memberikan jitakan kasih sayang pada Taufan. "Nah, sebelum itu ada baiknya kita sarapan dulu. Tidak baik bertengkar di depan makanan oke?" usulnya.

"Mari kita makan!"

Seperti perkataan Gempa, mereka pun mulai sarapan.

Namun masih ada satu orang tampak meluruskan tatapannya pada Halilintar tanpa ada niatan berhenti. Seakan jika dia berpaling sebentar saja pemandangan di depannya akan hilang seketika. Hingga tanpa disadari mata bermanik emerald itu berkaca-kaca dan setetes air mata mulai turun ke pipinya.

Tetesan air mata itu tidak sengaja terkena pada punggung tangan Solar yang akan mengambil paha ayam di depan. Karena penasaran, tatapan matanya segera dialihkan pada orang di sebelahnya. Saat itu pula dia berseru panik.

"Duri, kau kenapa menangis?!"

Pekikan Solar menarik atensi semua kakaknya. Mereka serentak menoleh pada Duri yang memang benar sudah bercucuran air mata.

"Duri, kau baik-baik saja? Katakan padaku kalau ada apa-apa!"

"Kau tidak terluka?"

"Apa masakanku tidak enak? Ingin kubuatkan sesuatu yang lain?"

Di saat yang lain bertanya dalam kepanikan, Ais masih dalam ketenangan yang sama. Sambil memeluk boneka paus kesayangannya, sebuah pertanyaan lolos dari bibirnya.

"Kau menangis karena kak Hali, kan?" Ais bertanya tenang.

Pertanyaannya itu menimbulkan kernyitan bingung di kening yang lain. Baru saja Gempa akan angkat bicara agar Ais tidak berkata sembarangan, tetapi anggukan kepala Duri membuatnya terdiam.

Secara tidak langsung Duri membenarkan pertanyaan Ais.

Mereka serentak menoleh pada Halilintar dengan tatapan menuntut.

Terutama Solar.

Sorot matanya terlihat menyalahkan sang kakak sulung.

Halilintar menghela napas pelan. "Duri, kemari," panggilnya.

Duri masih diam tidak bergerak.

"Boboiboy Duri, kau mendengarku?"

"Kak Hali, sebaiknya kau jangan marah. Jelaskan saja maksud ucapan Ais tadi-" Gempa berhenti bicara ketika Halilintar memberi isyarat dengan mengangkat telapak tangan.

Tatapan mata Halilintar masih tertuju pada Duri yang kini kepalanya tertunduk. Dia terlihat seperti seorang anak yang takut dimarahi. Namun, dia akhirnya menuruti panggilan Halilintar.

Pemuda bermata merah itu memerhatikan adik kelimanya yang kini sudah berdiri di sampingnya dengan kepala tertunduk. Bahunya gemetar menahan isakan yang sengaja ditahan agar tidak terdengar.

Akan tetapi, telinga tajam Halilintar mampu menangkap suara tersebut. Ia berdiri di depan Duri. Kemudian satu tangannya terangkat dan terayun seperti akan menampar. Taufan dan Gempa nyaris saja menahan Halilintar. Namun, ternyata mereka salah.

Halilintar bukan berniat menampar Duri, dia justru memeluknya. Sontak saja hal itu mengejutkan mereka semua, terutama Solar dan tentunya Duri.

Mata emerald Duri membulat dengan pelukan yang didapatnya.

"K-Kak Hali ..." lirihnya pelan, suaranya agak bergetar.

"Kau menjadikanku tersangka karena membuatmu menangis."

"M-maafkan Duri, Kak ..."

Halilintar menggeleng. "Kau tidak salah apa pun, kenapa harus minta maaf? Duri, aku sekarang sudah di sini. Maaf karena tidak memberikan kabar sama sekali ketika aku pergi," ujarnya lembut.

Duri segera mengeratkan pelukannya. Kepalanya dibenamkan pada bahu Halilintar dan menangis di sana, membuat kemeja merah sang kakak basah oleh air mata. Namun, entah sebuah keberuntungan atau memang untuk kali ini saja Halilintar tidak marah. Karena selama ini, siapa pun yang mengacaunya akan kena hukuman. Terutama trio pembuat masalah.

"Aku rindu Kak Hali," gumamnya.

"Mn."

"Jadi itu maksud dari ucapanmu, Ais?" Blaze bertanya pada kembaran malasnya.

"Menurutmu?"

Bukannya menjawab, Ais justru balik bertanya. Selain itu, ekspresi wajahnya benar-benar datar hingga Blaze rasanya ingin menonjok.

Seakan tahu jika akan muncul masalah lain, Gempa selaku kembaran terawas segera melerai. Ia kembali mengingatkan pada mereka untuk lanjut sarapan.

"Dan Duri, kau harusnya bilang juga kalah rindu kak Hali. Kau membuat kami cemas tahu," ujar Gempa.

Duri terkekeh dengan hidung memerah. "Hehehehe Duri minta maaf."

"Dah sana, duduk kembali di kursimu. Blaze, sudah ku bilang jangan habiskan semua ayam gorengnya!"

Blaze yang akan menggigit paha ayam di tangannya tertawa kaku. Ia kembali meletakkan paha ayam itu ke piring lagi. Lalu, terdengar suara tawa tertahan dari arah Solar dan Taufan. "Diam kalian!" ketusnya.

Kemudian pecahlah tawa Solar dan Taufan.

Ais tampak menikmati makanannya dengan lahap tanpa peduli akan kekacauan di sekitarnya. Baginya, mengisi perut dan tidur itu nomor satu.

Sedangkan Duri, ia sudah kembali tenang dan makan juga. Meskipun sesekali matanya melirik pada Halilintar. Memastikan jika sang kakak sulung memang benar adanya dan bukan ilusi semata.

Halilintar menggeleng pelan dengan tingkah semua saudaranya itu. Tidak bersama selama tiga bulan, tidak membuat sifat mereka berubah. Namun, itu yang Halilintar syukuri. Ia senang karena mereka masih sama seperti dulu.

BUGH! BUGH! BUGH!

"ADUH!"

Tiga orang meringis setelah kepala mereka dipukul dengan panci yang entah sejak kapan sudah di tangan Gempa. Anak ketiga itu memasang wajah kesal.

"Berani bergaduh lagi saat makan?" tanya Gempa kesal.

"Tidak, Madam."

"HEH!"

"MAAF!"

Mungkin ini reuni yang menyenangkan. Setidaknya untuk saat ini Halilintar berharap kedamaian keluarganya tetap bertahan.

"AIS JANGAN HABISKAN SEMUA MAKANANNYA!"

Haruskah Halilintar membantu Gempa?

Tapi, ini tontonan yang menarik. Kapan lagi dia melihat semua adiknya bergaduh satu sama lain dan dia jadi penonton? Karena biasanya dia yang ikut terlibat.

Ah, memang terkadang ada hal menarik terjadi.

••••

Setelah acara sarapan penuh drama, akhirnya Halilintar dapat kembali menginjakkan kaki di kamar miliknya. Ia berbaring terlentang di atas ranjang bersprei kelabu sambil menatap langit-langit kamarnya yang berhiaskan miniatur tata surya.

Halilintar bukan maniak astronomi, hanya saja menurutnya memberi hiasan seperti itu cukup membuat kamarnya hidup. Ia malas jika dibilang kamarnya menyakitkan mata karena banyak benda berwarna hitam dan merah saja oleh tiga adik menyebalkannya. Hingga Gempa memberi saran untuk menambahkan beberapa hal baru.

Begitulah akhir dari asal-usul hiasan tata surya itu.

TOK! TOK! TOK!

Baru saja akan memejamkan mata, suara ketukan pintu terdengar. Halilintar mengerutkan keningnya dan menunggu siapa yang mengetuk pintu.

"Kak Hali, ini Solar."

Tumben, pikir Halilintar merasa aneh. "Masuk saja, tidak dikunci."

Pintu kamar terbuka pelan hingga membuat si pemilik menaikkan satu alisnya heran. Di sana, Solar tampak menyembulkan kepalanya dari balik daun pintu dengan ekspresi seakan menimbang-nimbang.

Halilintar tahu jika Solar jarang sekali berkunjung ke kamar untuk bicara. Mungkin sesekali, itu pun dia malah membuat masalah dan berakhir kena amukan. Makanya, Halilintar merasa heran. Terlebih adiknya itu memang ada hal yang ingin dibicarakan serius.

Melihat Solar masih terdiam, Halilintar memutar matanya malas.

"Kalau memang tidak ada yang ingin dibicarakan, jangan berdiri seperti patung di pintu," ujar Halilintar datar.

Solar terbatuk pelan. Ia berjalan masuk ke dalam kamar Halilintar yang didominasi warna monokrom serta merah tua, lalu duduk di kursi santai tanpa izin.

Untuk apa izin? Toh mereka bersaudara, begitu pikir Solar. Kakaknya juga tidak protes. Jadi, itu bukan masalah.

"Kau perlu mengubah warna kamarmu. Terlalu menyakitkan mata," komentar Solar.

"Bukan urusanmu." Halilintar duduk bersila di atas kasurnya. "Sudahlah, kau mau bicara apa?" tandasnya langsung.

Helaan napas dari Solar semakin menaikkan rasa penasannya. Tampaknya itu adalah hal penting.

"Kak Hali," panggil Solar.

"Apa?"

"Kenapa kau masih hidup?"

BUGH!

Sebuah buku tebal melayang dan mendarat tepat di wajah Solar. Pemuda berkaus abu-abu itu meringis. Tangannya mengusap bagian yang terkena lemparan.

"Kau memang ingin mati ya, Solar bin Amato," sinis Halilintar.

Solar berdecak sebal. "Ayolah aku hanya bercanda. Lagi pula, seharusnya kemungkinan itu memang ada kalau ingat dengan pekerjaan dan tempat tugasmu selama tiga bulan ini." Ia menunduk, lalu membaca judul buku di tangannya itu. "Oh? Kau masih membaca ini?"

"Mn."

Seringai kecil muncul di bibir Solar. "Ternyata kau masih menyimpan hadiah pemberiannya ya."

"Begitulah. Sudah, kembali ke awal. Tumben sekali kemari, ada apa?" Halilintar segera meluruskan kembali topik pembicaraan mereka. Ia tidak mau membahas apapun pasal buku itu

"Ini mengenai ..."

Pembahasan panjang pun terjadi. Halilintar yang niat awalnya beristirahat mau tidak mau mendengarkan setiap informasi dari Solar. Juga, sesekali dia menanggapi atau bahkan menyanggah. Hanya saja, kalimat selanjutnya membuat Halilintar terdiam cukup lama.

"Kak Hali, aku harap kau mempertimbangkan. Ini demi kau juga."

"Mn, aku tahu."

Solar berdiri dan bersiap pergi dari kamar Halilintar. Namun sebelum itu, dia bertanya sesuatu. Meskipun terdengar bercanda, Halilintar tahu bahwa dia benar-benar bertanya mmemastikan.

"Ayah belum mati, kan?"

"Sekali lagi kau tanya itu, bukan hanya buku yang melayang, tetapi semua belatiku."

"Dih galak. Sudahlah, aku harus melanjutkan penelitian. Duri memintaku menganalisa tumbuhan obatanya."

Setelah itu, Solar pun pergi meninggalkan kamar sang kakak.

Halilintar kembali membaringkan tubuhnya. Ia kembali teringat dengan pertanyaan Solar barusan. Adiknya itu membalut pertanyaan dengan sebuah candaan. Padahal, dia sebenarnya memang ingin tahu apakah sang ayah, Amato, masih hidup atau tidak. Namun, Halilintar tidak tahu harus menjawab apa. Karena hampir sepuluh tahun ini dia tidak tahu kemana selain pekerjaan.

Iya, Amato dinyatakan hilang ketika menjalankan pekerjaannya. Tidak diketahui masih hidup atau tidak. Karena sejak saat itu pencarian dilakukan guna menemukan keberadaan Amato.

Halilintar kecil saat itu tidak mengerti. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu, akhirnya dia paham akan pekerjaan sang ayah.

"Ayah masih hidup. Aku yakin itu."

••••

To be continued

Halo monstar semuanya!

Akhirnya aku dapat mood buat lanjutin fanfic ini huweeeeeeeee!!

Karena masa liburan udah habis, alias kembali ke masa krusial dunia kerja. Ngeselin banget, tapi aku butuh kerja biar dapat uang wkwkwk

Oh iya, spoiler dikit kalau di isu 27 Abang Hali balik!

Mau nangis aja rasanya saking seneng btw, aku bikin fanart ilustrasi elemental bersaudara di cerita ini. Maaf ya kalau gambarku nggak bagus, masih proses latihan lagi soalnya

Pokoknya see you in next chapter!!