-Knight in The Silver Armor-

By Emi Yoshikuni

2010


Warning : AU, A fantasy fic, GaaSaku and SasuSaku…

Disclaimer : Kishimoto Masashi. 1998

Little bit GaaSaku…


~(oOOOo)~

~O(Chapter Two)O~

Whispers From Heaven

~(oOOOo)~


A whisper. A silent whisper.

It's a coming from everywhere.

But only the chosen one. Only the chosen one.

They will listen the sounds of whisper through a dream.

A future of a new era—a new beginning for a land. A re-birth of that land.

Those whispers.

They are coming from the heaven. It's for sure…

.

.

.

Bisikan.

Sebuah bisikan…

Aku mendengarnya. Samar-samar. Di balik hitam yang gelap itu, sebuah bisikan kian menjadi lullaby merdu di kedua telingaku. Bisikan itu bak melodi sepi yang selalu dinyanyikan oleh para dedaunan di Northern Forest—sebuah hutan pinus di Northern Woods yang konon dihuni oleh berbagai makhluk menakjubkan. Namun, lama hingga aku terdiam dan terkungkung dalam gelap itu, aku yakin bisikan itu adalah sebuah malapetaka bagiku.

Bisikan. A whisper…

Dari balik selimut itu, aku terdiam. Mendengar bait demi bait kata yang teruntai dalam bisikan itu. Dua mata ini terpejam lebih erat saat bisikan itu seakan menarikku masuk ke dalam sebuah memori—tidak, bukan memori, melainkan sebuah mimpi buruk.

'…kau adalah purnama—'

Apa itu? Aku tak mengerti maksud dari bisikan itu. Sungguh! Hentikan, kumohon. Biarkan aku terbangun dari mimpi gelap ini. Biarkan aku merasakan hembusan udara hangat di luar sana. Dan biarkan aku memilih akan mimpiku sendiri. Kumohon…

'—kau hidup untuknya. Hanya untuknya—'

DIAMM!

PRANKKK!

Serpihan kaca berserakan. Pecah oleh kekalutan dan pekikkan sakit oleh suaraku. Aku ingin menghentikan semua ocehan itu. Ya. Ocehan yang membuat lullaby itu berubah menjadi suara-suara iblis. Aku hanya ingin lepas dari belenggu ini…

Bisikan itu berhenti berdengung. Aku pun berdiri dan menengok ke segala arah dan mencari sebuah cahaya. Gelap. Semuanya jadi gelap. Aku benci gelap. Saat gelap, aku pasti akan berteriak. Namun, entah mengapa aku hanya terdiam dalam gelap ini—sungguh bukan diriku saat itu. Gaun yang kukenakan bukanlah milikku. Entah gaun siapa. Aku tidak pernah memiliki gaun mahal macam begini. Sekali lagi, aku terdiam dalam kurungan gelap semu yang mungkin telah melingkar erat sebagai takdir dalam diriku.

Satu titik di ujung sana dan aku bisa melihatnya jelas. Satu titik dan semakin besar—memberi ruang bagi sang cahaya untuk menyusup dan membantuku tuk keluar dari kehampaan ini. Bak sebuah distorsi massa ruang dan waktu—aku seakan tersedot masuk ke dalamnya. Aku menyentuh cahaya itu, memintanya untuk menyinari tubuhku yang gelap…

'—kau adalah purnama… namun gelap akan tetap menerkam dirimu… saat kelopak krisan terakhir lenyap, saat itulah kau akan menghunuskan pedang perak itu tepat di jantung belah pinangmu… maka kau akan hidup abadi… sebagai purnama… bersamanya… bersamanya…'

Bisikan itu masih ada. Aku menutup kedua kelopak mataku—berkonsentrasi menghilangkan bisikan itu dari dalam kepalaku. Aku menggenggam erat kedua tanganku—hingga rasanya aku seperti menyakiti diriku sendiri. Aku tak peduli meski berapa tetes darah keluar dari tangan ini. Aku tak peduli. Aku-tak-peduli…

'—kau adalah dirimu. Hatimu adalah nafasmu. Jantungmu adalah otakmu. Kian mengalun dalam berat cinta yang kau toreh… tapi kau tetaplah dirimu, meski kau memohon pada-Nya, kau tetaplah dirimu dan akan selalu begitu… satu kesempatan tuk membingkai dirimu dalam besi perak itu—'

Aku membuka kedua mata hijauku perlaha—begitu perlahan. Semuanya terlihat miris. Tubuh-tubuh mati berserakan tepat di depan mataku tapi entah mengapa aku tak merasa sedih atau kalut sedikitpun—aku malah merasa senang. Senang? Lalu… itu siapa? Yang di ujung itu? Sepertinya aku melihat seseorang di ujung sana—tepat di ujung sana walau hanya sebuah titik putih yang terang.

Jubah merah. Kudan putih. Topeng…

Dan aku?

'—saat kelopak terakhir krisan terlepas dari belenggunya…'

Aku menatap diriku sendiri. Sebuah refleksi dari kenyataan pahit yang harus kuterima. Bak air keruh yang masih mengalir di medan perang beradarah ini, seperti ingin menjadi penyegar atau penyuci akan darah-darah tak berdosa yang mengalir lebih deras di tanah-tanah putih ini. Aku berada di atas sebuah kuda hitam besi. Pakaian besiku telah penuh dengan darah—merah dan nyata. Tapi, sekali lagi, aku tak takut. Aku menatap lekat-lekat ke titik itu yang semakin mendekat. Jubah merahnya terbawa angin. Sebuah tombak panjang teracung ke angkasa oleh tangan besinya. Kuda putihnya melaju kencang ke arahku. Namun, kini sosok itu tak lagi memakai topengnya. Ia… Ia…

Rambut merah. Mirip sepertiku. Apa ini mimpi? Mimpikah?

"—saling membunuh atau terikat dalam sebuah 'benang merah'. Pilihlah… Pilihlah…"

"—pilihlah, Sakura..."

Aku bergerak. Kuda hitamku melaju dengan kecepatan cahaya. Tak peduli meski 'ia' telah berhasil merobek identitasku. Aku dengan tinta hitam akan jiwaku—yang terus memaksaku tuk menjadi seperti dirinya. Namun, aku tetaplah aku, meski aku terus berusaha tuk melawan takdir. Aku tetap akan terkutuk oleh takdir itu. Terkutuklah aku…

Rambut merah mudaku terkibar layaknya bendera genderang perang. Panjang dan terkena sapuan titik-titik salju. Dingin dan beku. Namun, baju besi ini mampu memberi kehangatan semu bagi tubuh mati ini. Aku menangis dalam diam. Seluruh bagian tubuhku seakan telah mati dimakan oleh dendam—rasa benci yang akan memenjarakanku dalam neraka iblis. Aku menutup mata ini lagi dan berharap bahwa ini adalah mimpi buruk. Tapi… aku masih di sana—dengan pedang perak milik nii-san yang selalu kujaga hingga ia kembali padaku. Padaku. Hanya padaku…

'—Dua purnama. Dua kelopak bunga krisan. Dua kebencian. Dan dua—'

Cinta.'

Hiyaahhh!

Aku tak peduli meski dia belah pinangku yang tak identik. Aku tak peduli meski dalam darahnya mengalir pula darahku. Aku tak peduli meski kami memiliki susunan DNA yang mirip. Aku tak peduli kami terlahir dalam rahim seorang ibu yang sama—seorang ibu yang rela meninggalkan dunia ini demi kami berdua. Dan… Aku tak peduli bila ia menorehkan sebuah cinta terlarang atas namaku di hatinya. Aku… aku akan tetap memilih tuk menghunuskan pedang ini tepat di jantungnya. Terkutuklah aku. Tidak. Sungguh terkutuklah 'kami'…

'—saat 'itu' tiba, kau akan tahu bagaimana rasanya kehilangan dua cinta sekaligus… kau akan merasa seperti hidup dan mati… tubuhmu hidup tapi hatimu mati… tak ada api dalam remang emerald-mu. Kau telah terjebak dalam lingkar takdir yang berat. Kau dan sang putra mahkota—'

Dia. Meskipun dia belah pinangku yang tak identik—

.

.

.

"—KAU MEMBAKAR DESA ITU! DAN KAU—KAU—KAU TELAH MEMBUNUHNYA!"

"…"

"—KAU MEMBUNUHNYA! KAU MEMBUNUH KAKAKKU!"

"—tidak." ia terdiam, "aku tidak membunuhnya. Aku hanya—aku hanya memenjarakan hatinya dalam kegelapan agar kau paham, kau dan dia takkan pernah bisa bersatu."

"—MATI KAU!"

"—saling membunuh atau terikat dalam sebuah 'benang merah'. Pilihlah… Pilihlah…"

"—pilihlah, Sakura..."

.

.

.

Tes… Tes… Tes…

Air mata dan darah bersatu. Entah aku atau dirinya. Tapi, aku tetap tersungkur jatuh di atasnya. Mata emerald-ku membulat—yakin bahwa rasa sakit itu bukanlah miliknya. Tetapi, milikku.

Sakit. Rasanya sakit sekali. Rasa sakit apa ini? Kenapa sakitnya melebihi rasa sakit saat Hatake-sensei mematrikan lambang sosok ksatria di punggung leherku. Sakit sekali. Sungguh sakit…

"Lady Hinata?"

Aku mendengar suaranya. Suara serak yang keluar dari bibir tipisnya yang telah sedikit mengeluarkan darah di sudut-sudutnya—bukti bahwa aku telah memenangkan perang ini. Namun, rasa sakit itu menjalar begitu cepat hingga ke ubun-ubun kepalaku. Sakit itu bak tertusuk ribuan jarum kecil yang tepat mengenai seluruh sistem saraf dalam tubuhku. Darah terciprat dari punggungku. Keluar bersamaan dengan tusukan belati tajam nan beracun itu. Aku tak bisa menahan berat tubuh dan besi ini lebih lama lagi. Aku tersungkur jatuh—jatuh tepat di atas tubuh belah pinangku. Rasanya, entah mengapa, seperti kembali ke masa lalu, saat kami masih berada dalam genggaman hangat ibu kami namun segera terpisahkan oleh lingkar takdir yang dengan kejamnya memisahkan kami berdua. Kejam. Mereka kejam…

"…ma-maaf. Maafkan… maafkan aku…"

"…meski memintamu tuk merebut pria bodoh itu dari hidupnya, tidak berarti aku memintamu tuk MEMBUNUHNYA!"

Sakit. Sakit sekali. Kumohon hentikan. Hentikan…

Kalau aku mati, apakah aku bisa bertemu dengannya? Senang sekali jika bisa seperti itu. Tapi… Sensei dan Itachi-nii pernah bilang padaku, kematian bukanlah jawaban dari keputusasaan seorang ksatria. Seorang ksatria selalu memiliki dua kali kehidupan—kesempata kedua. Itulah makna di balik perkataannya saat itu. Dan aku baru menyadarinya saat ini…

Namun, aku terus saya bertanya dan bertanya. Apa aku mati? Aku sudah mati belum? Cahaya yang terang itu lama-kelamaan menjadi remang dan redup. Aku… ingin hidup… sekali lagi. Aku… ingin menjadi… purnama. Sama seperti yang dikatakan oleh bisikan-bisikan itu. Ya. Sama seperti bisikan itu…

"—Sakura… tetaplah hidup, kumohon. Demi Ares—sang dewa perang, meski kematian adalah suatu kepastian bagi seorang ksatria, aku memohon… tukarlah hidupku, nyawaku, aliran darahku demi gadis ini. Terkutuklah aku dalam lingkar takdir ini. Kumohon… biarkan ia hidup…"

Salju berhenti. Tak lagi turun di langit keabuan ini. Aku menatap dengan senyum. Salju ini. Salju ini telah mengambil banyak jiwa dalam bekunya. Tak ada hangat yang tersimpan di dalam putihnya—hanya ada tangis dan sedih. Tak ada lagi percikan api di tempat ini. Segalanya telah termakan oleh salju. Salju yang beku dan dingin.

"—bila satu dari kita mati, salju di Paravel Count akan menghilang. Itu artinya, takkan ada lagi bunyi sedih dari lonceng kapel yang kau dengar, Sakura."

"Lalu?"

"Tapi… jika kita 'bersama' dan terikat dalam benang merah itu… tak hanya salju yang hilang, kelopak krisan akan bermekaran semakin banyak."

"Kau gila."

"Ya, aku memang gila. Aku gila karena dirimu. Aku gila karena rasa benci akan takdir ini. Karena itu, aku sudah tak bisa berpikir di luar moralitas yang selalu diangung-agungkan oleh orang-orang di luar sana. Kau tahu, sudah berapa nyawa yang lenyap di negeri ini hanya karena salju bodoh yang terus saja turun dari langit Paravel Count? Sejak kelahiranku, aku tahu aku sudah membunuh banyak orang meski tanpa tangan ini. Kau tahu lagi, kita ini pembunuh. Pembunuh paling kejam yang tak tampak…"

Aku bisa merasakan amarah dalam degup jantungnya. Meski tak bisa melihat dengan jelas dari kedua mata hijaunya, aku tahu ia benar-benar marah. Aku tak tahu mengapa. Tapi, tak lama, samar-sama aku bisa mendengar suara-suara mengerikan di sekelilingku. Suara teriakan seorang gadis lemah terdengar kecil di kedua telingaku. Teriakan itu seperti mengingatkanku akan sesuatu. Sesuatu yang begitu nostalgik. Ya. Aku ingat. Itu adalah… Suara teriakan amarahku saat 'ia' membakar desa kami dan membunuhnya. Membunuh pria yang sangat-sangat-sangat kucintai…

Dunia seakan berputar dengan cepat. Aku tak tahan dengan rasa sakit ini. Kemudian, aku tertidur lebih dalam. Jauh lebih dalam… Jauh lebih dalam…

"…Sakura, ada satu hal penting saat kau ingin menjadi sepertiku atau seperti dirinya."

"Apa itu, sensei?"

"Kemampuan. Keberanian. Ketidaktakutan akan kematian. Kesempatan kedua. Dan—"

"Ya?"

"Simbol yang terpatri di kulitmu… Lambang kesetiaanmu pada sesuatu… Melawan rasa sakit seakan seribu pedang terhunus terus-menerus di tubuhmu selama dua puluh empat jam…"

Bisikan. Lagi. Dan lagi. Bukan. Itu bukan bisikan. Itu adalah semua memori. Memori-kah? Kenapa sepertinya aku belum pernah mengalami memori macam itu? Lalu, bisikan itu apa?

Aku kembali membuka mataku. Membukanya perlahan demi perlahan. Kini, aku menemukan sebuah padang rumput hijau dengan semilir angin musim semi yang harum. Kelopak bunga krisan telah kembali ke sarangnya. Aku pun terbangun dari tidurku—memandangi wewangian krisan dan hamparan sunflower tepat di hadapanku. Lalu, aku merasa hangat yang menjalar dari ujung jemariku hingga ke seluruh bagian tubuhku. Aku tak sendiri di sana. Aku dan mimpiku yang ingin kupeluk selamanya.

Aku tersenyum saat melihatnya berada di sampingku. Aku tersenyum karena 'ia' masih ada di sana—masih menyunggingkan senyum sinisnya yang selalu aku rindukan darinya. Aku menangis dalam senyumku. Aku tahu ini adalah mimpi buruk yang akan berakhir bahagia. Tapi, ia di sana hanya menggenggam tanganku meski aku memintanya tuk memelukku dalam kehangatan. Aku…

"—kini kau sudah jadi ksatria, eh?"

Aku mengangguk dan semakin mempererat tarikan di lengan kemeja putihnya.

Ia kembali tersenyum sendu—masih menatap ke arah taman sunflower itu. Dan aku? Aku masih di sini dalam mimpi burukku bersama bisikan-bisikan itu.

'…kembalilah ke duniamu, cherry blossom. Kau dan hatimu yang akan menjadi penuntun bagi sebuah zaman di negeri ini. Bisikan ini adalah anugerah dari-Nya untukmu… Kau… Hanya kau… A Maid From The Heaven…'

.

.

.


~Knight in The Silver Armor~


Keringat terus saja mengucur deras dari pelipis wajah gadis ini. Jam burung hantu yang berbunyi terus-menerus itu pun menambah kesan mengerikan bagi degup jantungnya yang tak mau berhenti berdenyut kencang. Terus saja seperti itu hingga nafas gadis ini memburu dengan sebegitu cepatnya. Keringatnya menetes dari ujung pelipisnya dan memberikan suara tik kecil bak tetes air hujan yang membasahi tanah-tanah subur di Northern Woods.

Tengah malam lebih empat puluh lima detik telah berlalu dengan cepat di hari itu. Gadis ini masih berusaha menjernihkan seluruh perasaan tak enak yang menjalar begitu cepat ke setiap ujung-ujung organ tubuhnya hingga bertumpu di satu poin, yakni jantungnya. A heart. Di mana semua kehidupan bermula. Dari sebuah jantung yang berdetak inilah, maka kehidupan lain bermula.

Ia menegakkan tubuhnya hingga seperti setengah berdiri—menelungkupkan kepalanya dalam lipatan tangannya itu. Gaun tidurnya yang terbuat dari kain satin menjadi sedikit kusut, melihat bagaimana gadis ini terus saja mencengkeram gaunnya itu selama kedua kelopak matanya tertutup. Entah itu mimpi atau kenyataan yang tersimpan dalam memorinya—layaknya Alice in Wonderland yang berusaha memungkiri bahwa ia pernah menjalani sebuah kehidupan lain saat ia masih kecil dan kemudian melupakannya begitu saja. Namun, takdir dengan begitu kejamnya memintanya dan menariknya ke dalam sebuah dunia asing aneh yang hanya bisa dimasuki oleh seekor tikus kecil.

"Itu tadi… itu tadi apa? Kenapa aku merasa sangat lelah? Seperti… aku benar-benar berada dalam mimpi itu dan—"

TOK TOK TOK

Suara pintu yang terketuk membuyarkan lamunan gadis ini. Ia mendongakkan kepalanya dan meminta si pengetuk tuk membuka saja knop pintunya—mengingat ia memang lupa mengunci pintu kamarnya itu.

Maka, sosok yang sudah sangat gadis ini kenal masuk ke dalam kamar kecilnya yang sebagian besar dilapisi dengan dinding-dinding kayu. Uchiha Sasuke.

"Kau belum tidur?" tanya pemuda itu dalam balutan kemeja putih yang dijadikannya sebagai gaun tidur.

Gadis itu menggeleng lemah—kembali menyembunyikan kepalanya dalam pelukannya sendiri. "Aku hanya terbangun karena mimpi buruk yang aneh."

"Mimpi buruk yang aneh?" ulang pemuda itu sembari menyandarkan punggungnya di pintu kayu kamar sang adik. "Kau berkeringat. Memangnya, kau mimpi apa sampai terlihat begitu lelah? Apa… kau berjalan sambil tidur?" tebaknya asal-asalan yang langsung dibalas dengan deathglare oleh gadis itu. "Aku cuma bercanda kok. Jadi?"

"Bukannya aku yang harus bertanya dulu? Apa yang nii-san lakukan di kamarku? Memangnya nii-san juga tidak lelah, kenapa belum tidur?" tanyanya, sedikit memperlihatkan separuh wajahnya ke arah sang kakak.

Pemuda berambut biru dongker itu menoleh—menatap ke arah langit melalui jendela kamar sang adik yang terletak tepat di samping ranjangnya. Langit hitam dengan hiasan bintang-bintang kecil menjadi satu-satunya pemandangan indah di malam yang dingin itu. Awan pun tak terlalu memperlihatkan wujudnya di kala malam seperti ini. Masih memandang ke arah langit itu, Sasuke—begitu gadis ini selalu memanggil sosok pemuda ini, tampak ada beberapa hal yang terlintas di benaknya saat itu.

"Kau ini. Kau benar-benar lupa dengan ulang tahunmu sendiri ya? Dasar imouto yang ceroboh."

"Ulang tahun?" tanya gadis itu dalam hati. Lama. Kemudian, matanya membulat. Ia menoleh cepat ke arah sang kakak yang tengah berdiri menyandar di pintu kamarnya sambil melipat dada di tangan. "Gyaaa!" teriaknya.

"Hahh…" desah pemuda itu sembari memijit keningnya. "Jadi, masih tidak senang aku datang tengah malam begini ke kamarmu, hm?"

"Ngg… gomen…"

Sasuke memutar mata sebelum akhirnya memutuskan tuk melangkah mendekati ranjang sang adik yang tiba-tiba saja jadi lemas kembali setelah berteriak. "Hadiahnya akan kau dapat esok hari."

"Pelit." komen Sakura.

"Hei, hei, mendapatkan hadiah dariku tidak mudah, Sakura. Kau harus bekerja keras terlebih dahulu. Seperti yang nii-san katakan sore tadi kan? Kalau bisa mengambil semua kunai di pohon latihan sambil menaiki Taka, maka kau bisa latihan dengan pedang perak itu."

"Itu sih bukan hadiah namanya." ujar Sakura lemas.

"Hn. Memang bukan. Hadiah sebenarnya akan kau dapatkan setelahnya."

"Tetap saja pelit, wee…" dengus Sakura dengan gaya seperti anak kecil. "Oh ya, alasan nii-san kemari tidak hanya ingin memberiku selamat karena ulang tahunku yang ke-sembilan belas kan?" tiliknya lebih dalam.

"Hn. Nii-san juga terbangun karena… yah, mimpi buruk. Mungkin. Dan tiba-tiba saja, terpikir ingin melihatmu apakah masih terbangun atau sudah tidur. Rupanya, kau juga terbangun karena mimpi buruk. Hn."

Gadis berambut merah muda itu paham ada satu hal di dunia yang membuat sang kakak akan merasa langit tiba-tiba saja runtuh di atas kepalanya. Kalau bukan karena memang dirinya sebagai adik yang kurang ajar atau sebuah kekhawatiran nyata yang seakan ingin memenggal kepalanya di saat itu juga.

"Sasuke-nii…"

"Hn?"

Dua mata yang berbeda warna. Dua warna rambut yang berbeda. Dua sifat yang berbeda. Kini hal-hal itu saling bertautan satu sama lain. Mata onyx itu seakan ingin tenggelam dalam lautan hijau dari permata mulia batu emerald milik para perompak itu. Lelah yang pasti juga terlihat jelas di keempat mata itu. Sang emerald tertutup sebentar sebelum kembali menatap ke arah sang onyx yang entah kenapa meski sedikit, terlihat ada sebuah api kecil yang menyala terang di dalamnya. A passion. A little passion.

"Apa mimpi itu bisa terasa begitu nyata ya?" tanya gadis itu polos. Kedua kaki jenjangnya yang seputih susu diluruskannya—sedikit mengenai punggung sang kakak.

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja tidak, bodoh. Mimpi hanyalah sebuah khayalan dalam tidur seseorang. Ia akan hilang begitu saja dari dalam pikiran dan tergantikan oleh mimpi lainnya." ungkap sang kakak dengan sedikit nada ketus. "Memangnya, mimpi burukmu itu berkisah tentang apa, Sakura?"

"Ngg, entahlah. Tapi, aku merasa begitu lelah saat tiba-tiba saja terbangun tadi. Rasanya, seperti berlari mengelilingi hutan di Northern Woods. Dan… mimpi ini terasa begitu… nyata." ujar gadis itu sembari mengambil bantal dan memeluknya erat.

Mata onyx sang kakak melirik sebentar ke arah adiknya itu. Seperti bukan Sakura saja, pikirnya. Ia menghembuskan nafas perlahan dan mengacak-acak rambut raven miliknya yang terbilang tidak biasa. Sedikit, ada perasaan khawatir yang terselip di hati Uchiha muda ini. Dan ingin rasanya memberi sedikit err—pelukan mungkin? Tapi, segera saja ia menepis hal-hal aneh yang mulai berterbangan di dalam akalnya kala itu.

Diam. Hening. Sungguh aneh. Entah mengapa Sasuke membiarkan keheningan seperti itu terjadi secara tiba-tiba saja di antara kedua Uchiha ini. Sakura masih membiarkan kepalanya terbenam dalam bantal yang dipeluknya. Suara dengkuran kecil terdengar di balik bantal itu—membuat Sasuke sedikit menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.

"Kalau kau lelah, sebaiknya tidur saja, Sakura." kata sang kakak menasehati. Namun, Sakura tampaknya masih sadar dan mengangkat wajahnya tiba-tiba. "Ng, kenapa?"

Tak ada jawaban. Sakura tampak asyik mengamati wajah sang kakak yang sepintas terkena pancaran sinar rembulan dari balik jendela kamarnya itu. Tepat mengenai wajah Uchiha muda ini. Ia terus saja asyik menatap hingga tak sadar kalau noda merah merona yang berbentuk titik kecil terlihat mewarnai kedua pipinya yang putih.

Ia mendekat. Mendekat. Dan semakin mendekati tubuh tegap sang kakak yang masih duduk di sisi ranjangnya. Tangannya menggapai ujung lengan kemeja putihnya. Menariknya perlahan dan terkesan begitu possessive kemudian. Ia meminta Sasuke untuk mendekatinya. Sasuke membulatkan matanya sedikit—bertanya-tanya akan kelakuan sang adik yang tak biasa itu. Maka, ia paham maksudnya. Ia pun bergerak pelan dan menggeser tubuhnya ke kanan, mendekati letak tubuh sang adik yang terlihat begitu lelah.

"Nii-san…"

"Aku di sini, Sakura. Selalu di sini."

Jarak tiga puluh centi sudah menjadi jarak alert bagi Sasuke. Namun, untuk saat ini, kali ini saja, ia ingin berada lebih dekat dengan adiknya. Adik? Kenapa kata itu semakin lama semakin mengabur saja. Seperti ada kata lain yang lebih pantas tuk menggantikannya.

Sakura menyandarkan dahinya di lengan sang kakak. Tak lama, kemudian ia mengganti posisi ke arah yang lebih nyaman dengan memeluk erat lengan kuat milik sosok ksatria itu. Sakura mendongakkan kepalanya menatap ke sisi anak-anak rambut Sasuke yang menutupi punggung lehernya. Penasaran, Sakura menggerakkan jemarinya dan menyapu sisi rambut di bagian itu dan menatap kaget sebuah tato naga berwarna hitam yang terlukis jelas di punggung leher sang kakak.

"Nii-san…"

"Hn? Bukannya kau mau tidur? Tidurlah. Aku akan di sini sampai kau tertidur."

"Ngg… tapi…"

"Ya?"

Sakura menimbang-nimbang apa ia harus bertanya atau tidak. Tapi, rasa penasaran sungguh mengalahkan segalanya.

"Itu apa? Yang di belakang leher nii-san. Mirip seperti gambar naga yang ada di sarung pedang perak nii-san. Kenapa bisa melekat di situ?"

Sasuke menoleh ke kanan—mendapati mata bulat milik Sakura yang berwarna hijau cemerlang. Tak lama, ia berbalik lagi dan menatap ke arah langit hitam. "Itu adalah… lambang kesetiaan seorang ksatria. Setiap ksatria yang terlahir di negeri ini harus memiliki identitas akan kesetiaannya. Kau mungkin baru melihatnya tapi semua ksatria di keluarga kita memilikinya. Bahkan, Itachi-nii juga punya hanya saja letakknya berbeda, tepatnya di bagian pergelangan tangannya sebelah dalam."

"Begitu ya? Ngg…" Rasa penasaran itu kian menjalar menjadi keisengan. Sakura mengalihkan jemarinya dan berpindah ke arah tato naga itu. Ia menggerakan ujung telunjuknya ke seputar ornamen yang terpatri lekat di tengkuk kakaknya itu. Rasa geli pun terasa menjalar begitu cepat di sekitar leher Sasuke. "Kok aku tidak pernah lihat Sasuke-niisan punya lukisan ini ya?"

"Itu karena kau ada di sekolah saat Kakek Madara mematrikannya di tengkuk nii-san, Sakura." jawab Sasuke yang terdengar begitu aneh, seperti menahan rasa geli.

"Eh? Madara-jii-chan yang memberikan lukisan ini di tengkuk nii-san?" tanya Sakura kaget, semakin mempercepat gerak telunjuknya di seputar tato naga itu. Yang ditanya hanya mengangguk pelan. "Sakit ya?"

"Ap-apanya?" tanya Sasuke—berusaha menahan rasa geli.

"Waktu dipatrikan di tengkuknya nii-san. Apakah sakit?"

Sakura berhenti melakukan keisengannya dan kembali mengistirahatkan kepalanya di bahu sang kakak sambil masih memeluk erat lengan kanannya. Gaun satin halus yang dikenakannya terasa begitu nyaman dan lembut di kulit Sasuke meski kain tipis kemeja putihnya masih menjadi penghalang.

"Hn."

"Jadi… sakit ya?"

"…"

"Ungg, nii-san…"

"Rasa sakit itu akan hilang saat kau menyadari arti dari lukisan itu terpatri begitu jelas di kulitmu dan seakan menyatu di tiap saraf dan pembuluh darahmu." sambung Sasuke cepat sembari memperbaiki posisi mereka. Lengan kanannya bergerak mengitari tubuh Sakura hingga tubuh kecil sang adik pun berputar sedikit dan mau tak mau ia harus menjatuhkan tubuhnya itu tepat di atas pangkuan sang kakak. Sasuke meraih bantal yang terus dipeluk Sakura dan meletakkannya sebelum kepala Sakura jatuh tepat di kedua pahanya. Meskipun kaku, Sakura bisa merasakan hangat yang menjalar begitu cepat dari arah telapak tangan Sasuke. Telapak tangan itu lalu mengelus lembut rambut merah muda sang adik—perlahan dan perlahan hingga malam pun kian memakan rasa lelah akibat mimpi buruk itu…

"Sleep well, Sakura… Let the dreams follow your steps… Like a dragon in silver armor…"

.

.

.


~Knight in The Silver Armor~


Butir salju masih membekukan tanah-tanah Paravel Count. Tak pernah berhenti dan terus saja turun seakan langit tak punya hal lain selain salju di dalamnya. Ia memuntahkan terus-menerus bulatan-bulatan kecil itu hingga entah sampai kapan—mungkin hingga the end of the world. Sungguh fenomena alam yang membuat perasan miris.

Langkah-langkah kecil milik kaki-kaki dua ekor anjing peranakan serigala terdengar di koridor marmer istana Cair Paravel. Hari ini, tepat 30 Juli. Sebuah peristiwa besar akan terjadi di istana ini tak lama lagi. Suara-suara langkah besar lainnya juga ikut bersenandung di lantai-lantai bernuansa Europeran Midcentury itu. Gelas-gelas kaca berornamen dedaunan di kaki-kakinya berdentingan seakan menjadi melodi piano tiruan bagi suara jejak-jejak kaki itu. Piring-piring marmer pun menjadi pemanis tersendiri—membuat dua ekor anjing besar itu menyalak riang di samping kiri-kanan sang pelayan.

"Zero dan Ichi, sebaiknya kalian berdua bermain di belakang saja ya. Aku harus membawa gelas-gelas ini ke ruangan utama. Tuan Muda tidak suka bila ada yang tidak teratur dengan baik. Lagipula, kalian berdua belum mandi kan?"

Kedua anjing besar yang bulunya berbeda warna itu—hitam dan putih—semakin menyalak riang dan kian tak ingin lepas dari sisi sang pelayan yang tampak kewalahan membawa nampan besar berisi piring dan gelas-gelas kaca. Maka, sang pelayan berhenti dari langkahnya diikuti dengan langkah-langkah lainnya tepat di belakangnya.

"Matsuri-chan, kenapa berhenti?" tanya salah seorang pelayan tepat di belakang gadis muda berusia lima belas tahun ini.

"Ano… dua anjing milik Gaara-sama terus saja mengikutiku. Aku takut kalau-kalau nampan ini jatuh gara-gara aku mendengar salakan mereka." jawab sang pelayan yang kewalahan itu sembari berusaha menarik rok gaun sederhana ala pelayan yang dikenakannya dari tarikan iseng Zero—anjing berbulu hitam kelam. "Ze-zero… ayo lepas."

"Hh, kau ini memang ceroboh sekali, Matsuri-chan. Yang namanya anjing, tetap saja anjing. Mereka akan pindah dari tuannya saat ada makanan gratis. Hihi." ujar si pelayan lainnya sembari merogoh-rogoh sesuatu dari saku apron miliknya dan melemparkan makanan kaleng anjing berupa daging kering ke arah dua ekor anjing riang itu.

"AUF!"

Sepertinya, Matsuri selamat untuk saat ini. "Ah, Sankyuu Amaru-chan!"

"Ya, ya. Aku tahu, aku tahu. Nah, bisa kita lanjutkan perjalanan panjang ini?" lanjut Amaru—pelayan yang sama seperti Matsuri namun pembawaannya lebih mirip seperti gypsy, mengingat ia menutup separuh bagian rambutnya dengan kain merah dan mengikatnya tepat di tengkuknya.

Matsuri mengangguk dan kembali melangkah penuh perhatian. Para pelayan yang menunggu di belakang juga kembali melangkah dan mengikuti instruksi sang jenderal yang selalu berada di garis depan bila sudah berurusan mengenai masalah selera makan sang putra mahkota. Mereka melewati koridor demi koridor yang sebagian besar dinding-dindingnya dipenuhi dengan berbagai lukisan anggota-anggota keluarga dan para perdana menteri yang pernah menjadi motor penggerak di istana ini.

Dentingan lonceng kecil menjadi penanda sekelompok pelayan itu diperbolehkan memasuki main hall dari sebuah pesta besar yang akan dihadiri oleh banyak orang penting di negeri ini. Tahta emas segera menjadi suguhan besar bagi akhir peristiwa pesta ini. Namun, tampaknya sang penerus seperti tak pernah terlihat muncul di publik istana untuk beberapa hari terakhir ini. Sungguh aneh.

"Ne, ne, kenapa Gaara-sama jarang terlihat ya akhir-akhir ini. Kau tahu kenapa, Matsuri-chan?" celutuk Amaru sembari meletakkan dengan penuh hati-hati sendok-sendok berbagai bentuk di samping-samping piring porselen meja panjang main hall.

"Ngg, sayangnya, aku juga tidak tahu, Amaru-chan. Kata Madam Chiyo, para pelayan yang selalu melayani Gaara-sama dilarang masuk ke ruangan pribadi beliauhingga beliau kembali memintaku tuk mengantarkan makanannya setiap hari. Kupikir, beliau sedang sakit atau apa. Tapi, kurasa beliau baik-baik saja soalnya aku tak pernah melihat ada tabib istana yang bolak-balik ke ruangannya, berbeda dengan kondisi King Tozuka saat ini." jawab pelayan berbadan mungil itu. Ada sedikit gurat kekhawatiran dari nada bicaranya.

"Sou ka? Hmm, kira-kira ada apa ya? Apa yang tengah Gaara-sama lakukan saat ini? Ngg…"

"Sudah. Kita jangan membicarakan hal yang tidak-tidak, Amaru-chan. Yakinlah bahwa Gaara-sama baik-baik saja. Aku percaya itu. Soalnya Madam Chiyo juga mengatakan hal yang demikian padaku. Jadi, tenang saja ya." kini muncul senyum manis di sudut-sudut bibir gadis berambut kecoklatan itu.

"Ng! Iya."

"Oh ya, Amaru-chan." panggil Matsuri kemudian. Ia melirik ke kiri dan kanan—memastikan tak ada yang mengawasinya. "Kudengar, di setiap ulang tahun Gaara-sama, para gypsy akan datang kan? Berarti, anggota keluargamu itu juga akan datang kemari?"

"Hm? Entahlah. Aku juga tidak tahu. Lagipula, aku sebenarnya tidak tertarik dengan dunia para gypsy. Meskipun aku dilahirkan dari komunitas gypsy, entah kenapa aku tidak terlalu menyukai cara mereka berpikir. Soalnya, mereka jago meramal kan? Nah, sedangkan aku? Sampai sekarang pun, ramalanku selalu meleset. Payah…" curhat Amaru sambil membawa nampan-nampan yang telah kosong. "Kau tahu, aku malah ingin melawan takdirku sendiri. Aku bermimpi tuk menjadi seorang penyembuh. Hal ini sudah kuyakini dalam hatiku bahwa suatu saat nanti, aku akan menjadi seorang tabib istana. Iya! Aku yakin itu."

"Hihi. Kau memang penuh percaya diri ya, Amaru-chan."

"Ya, begitulah! Nah! Kurasa sebaiknya, kita kembali ke dapur. Mungkin masih ada beberapa piring yang tertinggal di sana. Ayo!" ajak Amaru sembari menarik pergelangan tangan sahabatnya sejak kecil itu, Matsuri.

"Ehh~ pelan-pelan saja, Amaru-chan~"

Tawa dua orang yang meski hanya seorang pelayan itu, menjadi titik temu akan segalanya. Mimpi. Teruslah bermimpi maka Tuhan akan memeluk mimpimu. Sesuatu yang digariskan bernama takdir memang adalah sesuatu yang sulit tuk ditembus dengan pedang tajam apapun itu. Namun, selama hati ini masih memiliki keyakinan tuk mengubahnya, maka hanya dengan memutarbalikkan telapak tangan saja, maka dunia ini akan mudah tuk dirobohkan. Sangat mudah…

.

.

.

"Gaara-sama, Anda sebaiknya segera keluar. Pesta akan segera dimulai dan para tamu pun telah menunggu Anda."

"Ya. Aku akan segera keluar, Yashamaru-san."

"…"

"Di luar sana, salju masih tetap turun ya?"

"Seperti yang bisa Anda lihat, My Lord."

"Kau tahu, anehnya semalam aku bermimpi. Sungguh sebuah keajaiban dari malam-malam yang kuhabisi hanya dengan menatap ke arah langit gelap dan putih itu, Yashamaru-san."

"Hn?"

"Aku bermimpi… Bertemu dengan'nya'. Ya. Dia. Dari ratusan malam yang kuhabiskan, akhirnya aku mengambil sebuah kesimpulan besar."

"Bolehlah saya tahu hal itu, My Lord?"

"Hn, tentu saja. Kau pasti akan kaget bila aku berkata akan hal ini, Yashamaru-san."

"…"

"…The Baroness, dia-lah kunci dari semua malam lelahku. Kuharap, kau mengerti maksudku, Yashamaru-san."

Baroness. Si gypsy legendaris dari Northern Woods, begitulah pikir sang pelayan yang setia ini.

"Northern Woods?"

"Ya. Cari dia. Bagaimanapun caranya. Hanya dia yang tahu, aku yakin itu. Sangat yakin…"

'…sekarang… 30 Juli. Akhir dari musim salju. Akhir dari rasa dingin yang mencekat ini. Bila satu purnama lenyap, maka kelopak bunga krisan masih akan tumbuh di musim salju berikutnya. Jika tidak, maka takkan ada lagi bunga krisan…'

.

.

.

TSUZUKU


~(oOOOo)~

YAHOO~ Akhirnya update juga chapter dua-nya. Fiuhh… Ada spoiler ya di mimpinya Saku? Hehehe…

Ah ya. Soal tato naga di tengkuk Sasuke itu sebenarnya terinspirasi sama simbol entah-apa-itu yang terpatri di leher Zero Kiryuu di Vampire Knight. Kayaknya keren tuh. Hoho~ *Gyaa! Zero-kunn!*. Akhirnya, jadi deh tato naga di tengkuk. ==a

Ok! Huge thanks untuk semua yang mereview. Semua reviewnya sungguh membantu saya dalam menyelesaikan chapter dua fic ini. ^^

Keep RnR ya Minna~