Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Summary: Nara Shikamaru, detektif muda. Uchiha Sasuke, juga detektif muda. Uchiha Itachi, artis papan atas. Dan seorang gadis bartender yang tewas mengenaskan.
Warning: Chara death. Deaths, actually. No bashing purpose. Don't like don't read.
-x-
-x-x-x-
=x=x=x=x=x=x=x=
=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=
-x-x-x-
-x-
Tanyakan saja pada Sasori bagaimana susahnya menyingkirkan segudang wartawan dari lokasi pembunuhan seorang artis ternama. Ingin sekali lelaki itu melemparkan sepatunya kearah kerumunan pencari berita yang tak kunjung ada habisnya. Tak peduli berapapun banyaknya personel kepolisian yang ia boyong ke rumah keluarga Uchiha, rasanya tetap tak cukup menghadang serbuan pemburu informasi yang sebentar lagi pasti akan memakai segala cara.
Sasuke masih duduk terdiam di sisi tempat tidur kamar Itachi. Samar-samar didengarnya suara ribut para wartawan yang mengelilingi rumah itu. Ditambah dengan kelebat sorot lampu blitz kamera yang mereka pakai untuk mengambil gambar. Pening menyerbu kepala si bungsu Uchiha mengingat sejak kemarin sore ia belum makan apa-apa dan sepanjang malam pun ia tak menutup mata barang sedetik.
Jam menunjuk pukul 6 pagi. Sasuke mengangkat dagunya, sekedar untuk menyapukan pandangan keseluruh penjuru ruangan yang keadaannya belum berubah sedikitpun. Gerakan kedua matanya berhenti ketika tatapan pemuda itu menumbuk sebuah kursi besar berlumur darah di tengah kamar mendiang kakaknya.
Persis saat itulah Shikamaru masuk kesana. Terbayang betul seperti apa rasanya menjadi seorang adik yang pulang ke rumah setelah bertahun-tahun hanya untuk menyaksikan kakak satu-satunya terbunuh mengenaskan.
"Inspektur Sasori sudah datang," ujar Shikamaru "Ia setuju untuk melibatkanmu dalam penyelidikan kasus ini. Atasanmu di Oto juga sudah dihubungi dan beliau tidak keberatan. Aku pun mengerti kalau kau ingin menemukan pembunuh Itachi. Jika aku berada di posisimu aku juga akan langsung meminta ijin untuk terlibat."
Sasuke menoleh, "Terima kasih, Shikamaru."
Tak lama berselang Sasori bergabung dengan kedua detektif muda itu. Dibelakangnya mengekor seorang gadis cantik berambut pirang dikuncir empat. Shikamaru menaikkan alisnya ketika melihat kedatangan si gadis pirang. Ada perasaan seolah ia pernah melihat gadis itu sebelumnya.
Sasori menjabat tangan Sasuke sambil berkata, "Aku ikut berduka cita, Sasuke. Kematian kakakmu disesalkan banyak pihak."
Sasuke menerima jabat tangan itu sembari menyahut, "Terima kasih Inspektur. Aku akan butuh banyak bantuanmu mulai sekarang."
"Oh ya, kenalkan. Ini keponakanku," ujar Sasori memperkenalkan gadis pirang yang diajaknya, "Dia akan membantu kita sebagai pembelajaran sebelum resmi bergabung dengan kepolisian Suna mulai bulan depan. Namanya Sabaku Temari. Sesuai kesepakatan etika, dia hanya akan mempelajari kasus ini dengan sudut pandang orang luar tanpa mengganggu kalian berdua."
Si gadis mengulurkan tangannya kepada Sasuke sambil berkata, "My condolences," kemudian ganti menjabat tangan Shikamaru.
"Apa sebelumnya kita pernah bertemu? Wajah anda rasanya tidak asing, Nona Sa-" Shikamaru mengoreksi ucapannya ketika melirik sebuah cincin yang melingkar di jari manis Temari sewaktu gadis itu menyalaminya, "maksudku, Nyonya Sabaku."
"Nyonya? Oh, cincin ini peninggalan ibuku. Aku sama sekali belum menikah. Panggil saja Temari," sahutnya, "Dan aku rasa kita belum pernah bertemu sebelumnya."
Belum menikah. Kau dengar itu, Shikamaru? Masih ada kesempatan.
"Tapi sepertinya aku sudah pernah melihatmu," Shikamaru ngotot.
Temari mengernyit. Kali ini Sasori yang menimpali, "Ah, kau pasti cuma pernah melihatnya di dalam mimpi. Memangnya dimana lagi kau bisa melihat gadis secantik keponakanku ini?"
Sasuke tersenyum simpul. Ia tahu betul kenapa Sasori berkata demikian. Inspektur itu berpikir kalau Shikamaru mencari alasan untuk mendekati keponakannya.
"Ayo, Temari" Sasori menarik lengan Sabaku muda sambil berbalik, "Kutunjukkan padamu bagaimana caranya meladeni orang-orang yang terlalu banyak ingin tahu di luar sana."
Lalu keduanya menghilang di balik pintu.
"Bagaimana, Sasuke?" tanya Shikamaru.
"Cantik," jawab Sasuke asal "Kalian tampak serasi."
Mata Shikamaru kontan melotot, "Bukan gadis itu, tapi kasusnya."
Sasuke diam sejenak. "Terserah padamu. Aku juga tak ingin kakakku mati misterius terlalu lama."
Shikamaru tak lagi menimpali. Tengkuknya merasakan sapa dingin angin pagi yang menerobos celah kamar. Pemuda itu menengok dan didapatinya tirai yang bergoyang lirih seiring gerakan udara di sela jendela.
"Kapan kau buka jendelanya?" tanya Shikamaru.
"Jendela? Tidak ada yang membuka jendela," jawab Sasuke "Sejak kemarin sore tak seorangpun berani menyentuh apa-apa disini. Kau sendiri yang minta supaya kamar ini dikarantina sampai petugas datang tadi malam. Aku juga baru masuk beberapa menit lalu. Dan kau pasti lihat aku tak mendekati jendela itu sedikitpun."
Terbawa rasa penasaran, Shikamaru berjalan menuju satu-satunya jendela di kamar itu. Diraihnya grendel jendela sambil menoleh ke arah Sasuke yang menghampirinya.
"Bukannya tadi sore waktu kita kemari Itachi memintamu untuk mengunci jendela?"
"Memang," sahut Sasuke, "aku menguncinya."
Shikamaru menggerak-gerakkan bidang jendela ditangannya sambil berkata, "Jendela ini tidak terkunci. Dan tidak ada tanda-tanda dibuka dengan paksa."
Sasuke mendekat. Mata kedua detektif muda itu terbuka lebar ketika samar-samar mereka menemukan bekas jejak kaki diatas kusen jendela itu. Jejak sepatu pria yang mengarah ke luar kamar.
"Apa kau yakin kita sudah mengarantina kamar ini dengan benar, Shikamaru?" tanya Sasuke.
"Aku yakin," jawab Shikamaru "Seperti yang kau bilang, tak seorangpun mengusik kamar ini sejak tadi sore. Aku, kau, dan Teuchi berjaga di depan kamar sampai petugas pemeriksa datang."
"Jadi?"
"Apa jendela ini sudah tak terkunci lagi saat kita menemukan Itachi tewas?"
"Entahlah," jawab Sasuke "Aku panik sampai tak memperhatikannya. Tapi petugas yang memeriksa tempat kejadian pasti tahu, kan?"
"Mereka sudah pergi. Petugas hanya berkewajiban melapor pada inspektur. Tadinya kupikir peristiwa ini juga 'bersih' seperti pembunuhan sebelumnya. Makanya aku tak tertarik untuk bertanya apa-apa."
"Kita bisa tanyakan pada seseorang."
"Siapa?"
"Ayame."
"Kenapa mesti dia?"
"Karena satu-satunya orang yang mungkin sempat memperhatikan hal sekecil itu adalah pelayan rumah," sambung Sasuke "Ayame sudah bekerja pada kami sejak umurnya 15 tahun. Selembar selimut yang ujungnya menjuntai saja tak pernah luput dari penglihatannya. Apalagi jendela."
Kedua detektif muda itu bergerak cepat mencari si gadis pelayan yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Dan untungnya Ayame punya jawaban yang mereka inginkan.
"Seingat saya tidak, Tuan" kata Ayame menjawab pertanyaan Shikamaru, "Jendela itu hanya ditutup, tapi tidak dikunci."
"Kau yakin?" Sasuke mengulang lagi.
Ayame mengangguk. Ditambahkannya, "Sejak dulu Tuan Muda Itachi memang tidak pernah ingat mengunci jendela. Kalaupun beliau kebetulan pulang ke rumah, sayalah yang selalu mengunci jendela kamar itu setiap malam sebelum beliau tidur."
Shikamaru dan Sasuke sama-sama diam.
"Apa ada lagi yang ingin Tuan tanyakan?" tanya Ayame.
"Tidak, Ayame. Terima kasih," jawab Shikamaru, "Nanti saja kami tanya lagi. Sasori sudah menyusun jadwal pemeriksaan. Dia bisa mengamuk kalau aku mendahuluinya."
"Apa kesimpulan sementaramu, Shikamaru?" tanya Sasuke usai keluar dari dapur, meninggalkan Ayame sendirian disana.
"Seseorang membuka jendela itu," sambung Shikamaru "Dan sebuah jendela tidak bisa dibuka dari luar."
"Maksudmu, salah satu dari mereka yang masuk ke kamar Itachi mungkin membuka jendela itu untuk suatu alasan?"
"Bisa jadi," Shikamaru mengoreksi "Tapi bagaimana bisa jejak kaki mereka tertinggal di kusen jendela kalau kita sendiri melihat bahwa mereka semua keluar dari pintu?"
"Tidak semua," Sasuke meralat "Ada seseorang yang tidak ketahuan kapan perginya."
"Pegawai salon itu?"
"Ya."
Shikamaru mengangguk singkat, "Kau benar. Orang bernama Deidara itu tiba-tiba saja datang dan menghilang. Mencurigakan sekali. Rasanya memang dia yang keluar lewat jendela dan meninggalkan jejak disana. Tapi kurasa seorang pembunuh tidak akan berbuat sebodoh itu. Mungkin juga dia sengaja dibayar oleh si pelaku untuk datang dan mengundang kecurigaan."
"Kalau benar begitu, berarti Sakura berpeluang. Dia yang bilang kalau Itachi memanggil seorang pegawai salon, tapi kita tak pernah tahu kebenarannya dari Itachi sendiri. Dan selama hampir seperempat jam dia menyingkir dengan alasan mandi."
"Disamping kamar Itachi ada sebuah jalan setapak, bukan? Seseorang bisa saja melewati tempat itu tanpa sepengetahuan kita."
"Maksudmu," Sasuke membaca arah pemikiran Shikamaru, "Kakakku dengan kerelaannya sendiri membukakan jendela itu untuk seseorang yang kemudian masuk dan menggorok lehernya?"
"Siapapun bisa saja mengemukakan suatu alasan agar Itachi melakukannya tanpa curiga."
Keduanya kembali sampai di kamar Itachi. Ketika melangkahkan kakinya masuk, Shikamaru mendadak teringat pada benda-benda yang berserakan diatas meja. Diantaranya adalah sebuah pena dan juga secarik kertas. Dan memori otak Shikamaru mengatakan bahwa tutup pena itu terbuka, yang berarti Itachi baru saja menggunakannya untuk menulis sesuatu.
"Kau yang kemarin membereskan meja itu, kan?" Shikamaru bertanya sambil menunjuk meja yang ia maksud.
Sasuke mengangguk.
"Dimana kau meletakkan benda-benda itu?"
"Di laci pertama meja lampu dekat tempat tidur," jawab Sasuke sambil menuding meja lampu di sebelah ranjang "Kenapa?"
"Instingku mengatakan bahwa sore tadi Itachi baru saja menulis sesuatu yang bisa kita jadikan petunjuk," lanjut Shikamaru "Tidak mungkin dia menulis hal-hal sepele saat sedang ketakutan seperti itu. Barangkali dia berencana untuk melakukan sesuatu."
Shikamaru ada benarnya. Kalau Itachi tidak berniat melakukan apa-apa, lalu buat apa dia mendadak memanggil seorang konsultan hukum ke rumahnya?
Sasuke beranjak menuju laci yang tadi ia tunjukkan. Shikamaru mengikutinya. Laci meja itu ditarik dan segera tampaklah di depan kedua detektif muda tersebut secarik kertas yang tertindih batang pena dan album foto.
Secarik kertas itu bertuliskan: Hidan/999-35741.
-x-
-x-x-x-
-x-x-x-x-x-x-x-x-x-
-x-x-x-
-x-
a/n: ups, saya harus meminta maaf atas insiden salah ketik yang menyebabkan Kakashi mendapat 'peran ganda' di chapter I.
Adakah yang sadar kalau si 'cantik' pegawai salon kita sudah tidak ada lagi di dalam kamar Itachi sewaktu Sakura dan Neji masuk ke sana?
Entah kenapa saya merasa fict ini akan terpaksa jadi sedikit panjang. Chapter depan adalah waktunya mendengarkan pernyataan para 'saksi'.
Review?
