Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Summary: Nara Shikamaru, detektif muda. Uchiha Sasuke, juga detektif muda. Uchiha Itachi, artis papan atas. Dan seorang gadis bartender yang tewas mengenaskan.
Warning: Chara death. Deaths, actually. No bashing purpose. Don't like don't read.
-x-
-x-x-x-
=x=x=x=x=x=x=x=
=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=
-x-x-x-
-x-
Hari pemeriksaan. Atau apapun kebanyakan orang menyebutnya. Ini adalah salah satu hari bersejarah dimana kantor kepolisian Konoha dibanjiri ratusan wartawan. Telah jelas benar apa alasan mereka berbondong-bondong mendatangi tempat itu seperti semut mengerubuti gula. Kematian Itachi. Dan entah bagaimana, tanpa dikomando oleh siapapun, para pewarta itu telah sukses menyebarkan isu bahwa terbunuhnya Itachi berkaitan dengan kematian seorang gadis bartender beberapa hari lalu.
"Semuanya sudah datang?" tanya Sasuke pada Sasori.
"Tinggal satu," jawab sang inspektur, "Tapi kurasa dia memang tidak akan datang."
"Deidara?" Shikamaru menebak.
Sasori mengangguk, "Sudah coba kucari kemana-mana. Hasilnya masih nol besar. Pemilik salon tempatnya bekerja menghilang entah kemana karena dua bulan terakhir ini salon itu terlibat sengketa warisan sehingga tidak beroperasi lagi. Sementara pegawai-pegawai yang lain sudah merantau ke luar Konoha. Dan karena Deidara bukan warga Konoha, aku jadi makin kesulitan mencarinya."
Setidaknya satu hal terlihat tak wajar disini. Untuk apa artis sekaliber Itachi memanggil seorang pegawai salon yang salonnya sendiri sudah tidak beroperasi?
"Sudah kau tanyakan ke kantor imigrasi?" Sasuke bertanya lagi.
"Sudah," lanjut Sasori "Dia warga berkependudukan ganda. Iwa dan Suna. Keluarganya sampai sekarangpun belum bisa dihubungi. Entah di Suna atau di Iwa. Jadi makin pusing aku ini."
Shikamaru menoleh ke arah Kurenai, satu-satunya orang yang belum bicara apa-apa di ruang pemeriksaan itu. "Ada yang perlu kau sampaikan?" tanyanya.
Kurenai menyahut, "Hanya satu. Ada bekas luka pukulan di bagian belakang kepala Itachi. Tapi luka itu tidak mematikan. Penyebab kematiannya tetap gorokan benda tajam. Selebihnya kasus ini memang hampir sama dengan kasus gadis bartender itu. Kecuali jejak kaki yang kalian temukan di jendela. Jejak itu kelihatannya ceroboh sekali."
"Gadis bartender itu sebenarnya siapa?" Sasuke bertanya.
"Dia warga konoha," Sasori menjawab "Namanya Tenten. Identitasnya sempat simpang siur karena kependudukannya juga ganda. Konoha dan Taki."
"Bagaimana dengan keluarganya?" Shikamaru ambil giliran.
"Tidak ada keluarga yang bisa dihubungi. Gadis itu sebatang kara," ujar Sasori.
"Apa kau masih berpikir untuk mengaitkan dua kematian ini seperti ocehan para wartawan itu?" Uchiha muda menoleh kepada pemuda Nara.
"Kakakmu bilang dia tahu sesuatu soal kematian gadis itu. Bukankah ini bisa jadi sebuah motif?" Shikamaru menyambung, "Dan untuk suatu alasan yang sampai sekarang kita belum tahu, dia juga sempat bilang takut dipenjara."
"Apa mungkin dia terlibat dalam pembunuhan gadis itu dan kemudian dihabisi oleh komplotannya sendiri?" Sasori mencari kemungkinan.
Sasuke tak terima, "Hentikan itu. Kakakku bukan pembunuh."
Sasori membenahi, "Aku cuma bilang terlibat, bukan ikut membunuh."
"Bisa kita mulai pemeriksaannya sekarang?" Shikamaru bertanya pada inspekturnya.
Sasori menoleh pada Kurenai, "Tolong panggilkan Anko kemari. Minta dia mulai memanggil saksi-saksinya. Dia juga harus mencatat hasil pemeriksaan hari ini. Dan kau, kembalilah ke ruanganmu. Temari punya beberapa pertanyaan tentang fungsi bagian forensik."
Kurenai mengangguk saja. Ia berdiri, melangkah keluar dan digantikan oleh Anko beberapa menit kemudian. Anko tidak datang sendiri. Dia bersama Ayame, saksi pertama.
Ayame dipersilakan duduk, lalu segera mendengarkan pertanyaan pertama untuknya.
"Kau masuk ke kamar Uchiha Itachi setelah Sasuke dan Shikamaru keluar, bukan?" suara Sasori terdengar "Bisa jelaskan tujuanmu? Saat itu belum waktunya makan malam. Untuk apa mengantar makanan?"
"Bukan makan malam, Tuan" si gadis menjawab "Yang saya bawa hanya secangkir teh hijau dan sedikit kudapan, seperti yang diminta Tuan Muda setiap sore."
"Ada lagi yang kau lakukan selain mengantar makanan? Atau kau membawa benda lain selain teh dan kudapan?" kali ini suara Sasuke yang terdengar.
"Tidak, Tuan" lanjut Ayame, "Saya hanya mengetuk pintu, meminta izin masuk dan meletakkan isi nampan saya diatas meja dekat pintu lalu mempersilakan Tuan Muda menyantapnya. Petugas yang datang memeriksa tempat kejadian juga melihat teh dan kudapan yang saya bawa masih ada disana. Saya tidak membawa masuk apa-apa selain itu."
"Petugas bilang teh dan kudapan itu masih utuh," ujar Sasori "Itachi tak menyentuhnya sama sekali."
"Apa ada suatu hal yang terkesan janggal dan tidak biasa sewaktu kau masuk kesana?" pertanyaan ini datang dari Shikamaru, "Atau mungkin Itachi mengucapkan sesuatu?"
Ayame menyangkal lagi, "Tidak. Sama sekali tidak, Tuan. Tuan Muda Itachi tidak mengatakan apa-apa. Saya juga tidak melihat hal-hal yang janggal. Kalau soal jendela yang tidak terkunci itu, bagi saya bukan kejanggalan. Itu biasa."
"Apa kau tidak merasa kalau belakangan ini Itachi bertingkah aneh dan gelisah?" Shikamaru memperjelas maksud pertanyaannya, "Apa kau tahu sebabnya? Atau sejak kapan dia mulai seperti itu?"
"Saya memang merasa Tuan Muda agak murung belakangan ini. Saya tak tahu persisnya sejak kapan karena tidak setiap hari Tuan Muda berada di rumah. Tapi mana mungkin beliau menceritakan masalahnya pada seorang pelayan seperti saya. Saya rasa itu cuma sekedar tekanan pekerjaannya di dunia hiburan."
"Kau kenal seseorang bernama Tenten?" ini adalah pertanyaan Sasori.
"Tidak."
"Hidan?"
"Tidak."
"Deidara?"
"Tidak."
"Apa kau pernah mendengar majikanmu menyebut salah satu nama itu?"
Ayame berpikir sebentar. "Saya rasa tidak," jawabnya "Tapi nama yang ketiga itu –eh- Deidara, saya tidak yakin."
Tiga detik berikutnya dilewatkan dua orang detektif, seorang inspektur dan seorang petugas kepolisian dalam diam didepan seorang saksi.
"Aku rasa cukup. Kau boleh keluar," Sasori memutuskan "Anko, panggil saksi berikutnya."
Ayame membungkuk basa-basi. Kemudian mengikuti Anko yang melangkah keluar dari ruangan. Ketika kakinya hampir mencapai pintu, gadis itu menoleh mendengar panggilan Shikamaru.
"Tunggu dulu, Ayame" Shikamaru menambah satu pertanyaan, "Apa yang sedang dilakukan Itachi saat kau masuk kesana?"
"Menonton TV, Tuan" jawab Ayame.
Ayame keluar. Digantikan oleh Teuchi yang masuk berikutnya. Namun sepertinya pria tua itu tidak bisa berkata banyak. Sepanjang sore waktu kejadian dia hanya berjaga di dekat jalan masuk rumah, tidak tahu menahu mengenai seluk-beluk pembunuhan itu. Sasori tampak kecewa ketika tukang kebun itu tidak bisa memberi banyak keterangan yang jelas.
Sekeluarnya Teuchi dari ruang pemeriksaan, Kakashi dipersilakan masuk. Tapi karena produser film itu bahkan tidak masuk ke kamar Itachi, dia juga tidak bisa memberi banyak keterangan. Shizune juga demikian. Tak satupun bisa dibagi gadis tersebut kepada penyidik. Ketiga orang itu juga tak mengaku mengenal Tenten, Hidan maupun Deidara.
Berikutnya giliran Sakura. Pertanyaan pertama untuk gadis itu diajukan oleh Sasuke. Masih sama seperti ketika pertama kali pulang ke rumahnya, pemuda tersebut menanyakan lagi kenapa rumah keluarga Uchiha bisa begitu ramai sore itu. Mengingat letaknya yang jauh dari pusat kota dan jarangnya Itachi maupun Sasuke pulang ke rumah, itu memang sedikit tidak wajar.
"Aku sudah bilang, itu cuma kebetulan" sanggah Sakura, "Neji datang karena Itachi memintaku memanggilnya. Kakashi datang atas kemauannya sendiri. Tsunade dan Shizune datang karena memang ada yang harus mereka kerjakan. Kiba datang atas panggilanku, tapi Itachi yang memintanya. Sementara Deidara dihubungi sendiri oleh Itachi."
"Kau kenal Deidara?" sepertinya pertanyaan ini memang bagian Sasori.
"Ya."
"Dimana?"
"Di salon."
"Apa menurutmu dia punya urusan tertentu dengan Itachi selain urusan profesi?"
"Kurasa tidak," Sakura menjawab yakin, "Itachi memang sering menghubunginya. Dan belakangan ini makin sering saja. Kau bisa lihat dari daftar panggilan di ponselnya. Tapi aku tak tahu mereka punya urusan apa."
"Apa kau merasa kalau belakangan ini Itachi sedikit gelisah dan ketakutan?" tanya Shikamaru.
"Ya, kurasa."
"Kau tahu penyebabnya?"
"Tidak. Tapi jujur saja, aku khawatir dia berniat mundur dari dunia hiburan. Kalau dia berhenti, aku mau makan apa?"
"Kau kenal Tenten?"
"Tidak."
"Hidan?"
"Tidak."
"Pernah dengar Itachi menyebut salah satu dari dua nama tadi?"
"Tidak."
Sampai disana giliran Sakura pun selesai. Neji dipanggil berikutnya.
"Apa kau tahu kenapa tiba-tiba Itachi merasa membutuhkan konsultan hukum?" Shikamaru bertanya.
"Tidak dengan jelas," jawab Neji diplomatis.
"Kudengar Itachi sempat meneleponmu. Apa yang dikatakannya waktu itu?"
"Maaf, dengan terpaksa saya bilang itu rahasia antara kami dengan klien" Neji berkelit.
"Ini demi kepentingan penyelidikan," Sasori mengancam "Kau katakan atau kutahan?"
Neji diam sejenak, menimbang dan berpikir. Lalu akhirnya menjawab, "Tuan Uchiha bertanya soal beberapa kemungkinan beliau akan dipenjara."
Sasuke mengerutkan dahi, "Kenapa kakakku mesti takut dipenjara?"
"Saya tidak tahu," jawab Neji "Beliau tidak mengatakannya dengan jelas. Sempat terdengar kebingungan beberapa saat sebelum menanyakan kapan saya bisa datang menemuinya."
"Kau kenal Deidara?" ya, ini pertanyaan Sasori.
"Tidak."
"Hidan?"
"Tidak."
"Tenten?"
Entah kenapa Neji mesti menarik jeda sebelum menjawab, "Ya."
"Temanmu?" tanya Shikamaru, "Atau kau juga langganan di bar tempat dia bekerja?"
Getir disembunyikan sang Hyuuga muda ketika berkata, "Tunangan. Maksud saya, sebelum meninggal."
"Apa almarhum tunanganmu mengenal Itachi?" Shikamaru bertanya lagi.
"Setahu saya, tidak."
"Kau yakin?"
"Begitulah."
Neji selesai. Tsunade dipanggil berikutnya. Baru masuk dua menit saja, perancang busana itu sudah menggerutu.
"Aku tidak tahu apa-apa," Tsunade menekankan, "Entah kau percaya atau tidak."
"Aku melihatmu mengomel setelah keluar dari kamar Itachi," lanjut Shikamaru "Apa kalian bertengkar?"
"Tidak," selanjutnya Tsunade meracau sendiri. Marah, tampaknya. "Aku hanya masuk untuk berpamitan. Tapi dasar si Uchiha itu memang sombong! Sombong sekali! Betul-betul sombong! Menyahut saja tidak mau. Menoleh juga tidak. Menyesal aku datang kesana. Tidak heran ada orang yang mau membunuhnya. Apa sich susahnya menyahut? Lagipula acara yang dia tonton itu doramanya sendiri, kan? Kalian pernah lihat dimana lagi orang sesombong dan senarsis itu?"
Sudah dengar? Pertanyaan untuk Tsunade harus segera dihentikan sebelum Sasuke naik darah dan balas memakinya atas ocehan perempuan itu tentang sang kakak. Sasori juga kecewa, pernyataan Tsunade nampaknya tak banyak membantu kasus ini.
Lalu tibalah saksi terakhir, Kiba.
"Kau tidak punya alibi," Sasuke langsung menyerang tanpa basa-basi, "Berjalan-jalan di taman tanpa seorangpun menyaksikan keberadaanmu."
"Aku tahu," jawab Kiba tak peduli.
"Bukankah taman itu ada persis di seberang kamar Itachi?" Shikamaru melanjutkan, "Persis di samping jalan setapak berkerikil itu. Harusnya kau bisa mendengar apa yang terjadi di dalam kamar, kan? Bahkan lebih dari itu, harusnya kau melihat saat ada seseorang yang melompat keluar dari jendela kamarnya."
"Aku berjalan sampai kemana-mana. Ke kebun belakang hingga hampir sampai ke perkebunan. Makanya makan waktu. Itu karena Akamaru berlarian kesana-kemari," Kiba menyanggah.
"Siapa Akamaru?"
"Ini," Kiba menunjukkan anjing putih di pangkuannya, "Jadi aku tak tahu apapun yang terjadi di dalam kamar Itachi ataupun tentang orang yang melompat keluar dari jendela."
"Tapi kau memang tak punya alibi, kan?"
"Sayangnya demikian. Tidak ada yang melihatku berjalan-jalan sejauh itu."
"Kau kenal Deidara?"
"Tidak."
"Hidan?"
"Tidak."
"Tenten?"
"Tidak."
"Kapan kau kembali lagi ke rumah Uchiha?" Shikamaru yang bertanya.
"Sekitar jam enam," jawab Kiba "Jam enam kurang sedikit. Mungkin kurang enam atau tujuh menit. Aku selalu bawa arloji. Dan arlojiku tidak pernah salah."
Dasar sok efisien.
"Karena mendengar teriakan Sakura?"
"Sebelumnya. Sewaktu Sakura berteriak aku sudah sampai di ruang tamu. Oh ya, aku kembali lewat jalan setapak di samping kamar Itachi itu. Dan aku sempat mendengarnya berbicara dengan seseorang."
Yang satu ini benar-benar menarik minat para penyelidik.
"Kapan?" Sasori memasang telinga, "Jam berapa tepatnya? Siapa orang yang berbicara dengan Itachi itu?"
"Sudah kubilang, sekitar pukul 6 kurang enam atau tujuh menit. Soal siapa yang dia ajak bicara itu, mana aku tahu."
"Perkiraan kematiannya antara lima lebih tiga puluh sampai pukul enam sore. Kalau Itachi masih hidup pada jam yang kau sebutkan itu, berarti yang berkesempatan tinggal Sakura, Neji dan Deidara," Sasori langsung menoleh ke arah Anko "Panggilkan lagi Sakura, Ayame dan Tsunade. Sekarang!"
Tak perlu menunggu lama sampai ketiga perempuan itu dipanggil masuk.
"Ayame, katakan sesuatu!" perintah Sasori.
Ayame melongo sesaat, "Katakan sesuatu apa, Tuan?"
"Apa suara Ayame yang kau dengar waktu itu, Kiba?" tanya sang inspektur.
Kiba menggeleng.
"Sakura, katakan sesuatu!" perintah Sasori lagi.
"Apa yang mesti kukatakan?" Sakura bingung.
"Suara Sakura, Kiba?"
Kiba kembali menggeleng.
"Tsunade, katakan sesuatu!" lagi-lagi Sasori memerintah.
Tsunade melotot, "Kau ini tidak waras atau apa?"
"Apa suara Tsunade, Kiba?"
"Aku rasa tidak," jawab si Inuzuka.
"Deidara," kedengarannya Sasori mulai putus asa, "Bukankah kalian bilang suaranya mirip perempuan?"
"Sudah kukatakan, Inspektur" sergah Kiba, "Aku tidak kenal Deidara!"
-x-
-x-
"Antara pukul lima lebih tiga puluh sampai pukul enam," Sasori mengemukakan pertanyaannya pada Kurenai, "Tidak bisakah perkiraan kematiannya sedikit lebih akurat?"
"Tentu bisa," entah apa maksud jawaban Kurenai ini, "Bagaimana kalau pukul lima lebih 59 menit dan 59 detik? Apa itu cukup, Inspektur?"
Sasori mendengus. Untung saja Kurenai seorang perempuan. Kalau tidak, Sasori pasti sudah menjitak kepalanya.
Kurenai menyambung lagi, "Itu bukan salah kami, Inspektur Sasori. Rumah kediaman Uchiha memang jauh dari pusat kota. Sewaktu petugas sampai disana, darah sudah mengering. Kau mau hasil yang bagaimana lagi?"
"Masalahnya, Kurenai" Sasuke memperjelas, "Dalam 30 menit itu ada 7 orang yang keluar masuk kamar kakakku."
"Dan salah satunya malah masih menghilang," Shikamaru menyambung.
Semua orang yang menempati ruang kerja Kurenai kembali diam. Sasori menggumamkan mulutnya tidak jelas. Sasuke diam saja. Shikamaru mencoba berpikir. Temari masih berusaha merangkai semua cerita yang didengarnya. Terlihat sekali kalau hasil pemeriksaan hari ini tidak begitu memuaskan.
"Aku heran," kata Temari tiba-tiba "Kenapa belakangan ini modus pembunuhan jadi seragam begini ya? Beberapa waktu lalu di Suna juga terjadi pembunuhan seperti ini."
"Benarkah?" suara Shikamaru terdengar tertarik.
"Iya. Seorang laki-laki ditemukan tewas dengan luka goresan benda tajam pada bagian leher di dalam kamar mandi sebuah coffee shop," lanjut Temari "Namanya Deidara."
Baiklah. Ini situasinya. Temari belum resmi bergabung dengan kepolisian Suna. Jadi ia tak tahu banyak soal apa yang ditangani para pengayom masyarakat di tempat itu. Dan sejak tiba di Konoha, ia hanya diijinkan melihat persoalan ini dari sudut pandang orang ketiga. Maka belum sekalipun Temari pernah mendengar nama Deidara disebut. Tapi sekalinya gadis itu menyebutkan nama tadi, semua orang memandangnya dengan lemas.
Itachi bukan korban pertama. Bukan pula korban kedua. Dia korban ketiga.
-x-
-x-x-
-x-x-x-
-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-
-x-x-x-
-x-x-
-x-
a/n: haruskah saya meminjam Geass-nya Lelouch agar anda bersedia memberikan review?
