Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Summary: Nara Shikamaru, detektif muda. Uchiha Sasuke, juga detektif muda. Uchiha Itachi, artis papan atas. Dan seorang gadis bartender yang tewas mengenaskan.

Warning: Chara death. Deaths, actually. No bashing purpose. Don't like don't read.

-x-

-x-x-x-

=x=x=x=x=x=x=x=

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=

-x-x-x-

-x-

'tak-tak-tak'

Sasori mengetuk-ngetukkan cangkir kopinya malas-malasan. Isi cangkir itu sendiri sudah kosong. Shikamaru, Sasuke, Temari dan Anko juga sudah mengonsumsi cukup caffeine sepanjang malam ini. Entah bagaimana awalnya sampai Temari yang seharusnya mempelajari kasus ini sebagai orang luar, terpaksa diikutkan ke dalam pertemuan itu. Jam menunjuk pukul sebelas lebih dua menit. Lima kepala masih buntu tanpa suara.

"Tiga korban," suara sang inspektur terdengar pelan "Tanpa satupun tersangka."

"Tadinya kupikir kita punya cukup banyak alasan untuk menahan Deidara," Anko berpendapat "Tapi sekarang kita seperti harus memulai dari awal lagi."

Sasuke membenarkan, "Ya. Mana mungkin kita mau menyeret seseorang yang sudah terkubur di liang lahat sebagai pelaku kejahatan."

Shikamaru bertanya pada Anko, "Apa saja yang dikatakan pihak Suna sewaktu kau meneleponnya?"

"Tidak banyak," jawab Anko "Mereka hanya membenarkan kematian Deidara itu. Selebihnya, mereka juga buntu seperti kita. Pembunuhan itu sangat 'bersih'," lalu Anko menoleh pada Temari "Inspektur Hayate titip salam untukmu."

Sasori menambahkan, "Dilakukan tengah malam, saat coffee shop sudah sepi. Tak banyak saksi. Satu-satunya orang yang melihat Deidara malam itu umurnya sudah sangat tua. Tidak bisa memberikan banyak keterangan."

"Namanya Chiyo. Nenek Chiyo," Temari meneruskan "Coffee shop itu miliknya. Malam itu kebetulan saja seorang pegawainya sedang cuti, dan seorang lagi sudah pulang karena sakit."

"Apa kau keberatan kalau kasus Deidara ini juga ikut dipelajari, Inspektur?" tanya Shikamaru.

"Aku keberatan? Sama sekali tidak. Tapi kalau Hayate, mungkin. Dia bisa mencincang kita kalau perkaranya ketahuan direcoki," lanjut Sasori "Kecuali kalau kalian bisa melakukannya diam-diam."

"Diam-diam kedengarannya bagus," Sasuke menyanggupi "Tak ada salahnya mencari lebih banyak petunjuk."

"Bagaimana dengan Hidan?" Shikamaru menyinggung.

"Nama dan nomor telepon yang kau temukan di dalam laci Itachi itu sudah kuketahui pemiliknya," jawab Anko "Lelaki itu tinggal di sebelah selatan perbatasan Konoha-Kiri. Alamatnya ada padaku. Kira-kira tiga setengah jam perjalanan dari sini. Cukup jauh, memang. Ia seorang perajin tembikar. Entah apa hubungan orang itu dengan perkara ini. Kelihatannya dia bukan tipe orang yang akan terlibat urusan apapun dengan seorang artis seperti Itachi Uchiha."

"Pergilah kesana besok pagi," perintah Sasori "Tanyakan apa saja yang kira-kira berguna."

"Kalau begitu aku tidak bisa ikut," terang Sasuke "Besok kakakku dimakamkan."

"Tak apa," ujar Shikamaru "Biar nanti aku mampir sebentar ke pemakaman sebelum menemui si Hidan itu."

"Tapi itu akan membuat perjalananmu jadi makin jauh," tukas Sasuke.

"Memangnya kenapa?" ujar Shikamaru tak keberatan.

Sasori menyela, "Daripada kau pergi sendirian, ajaklah Temari. Sasuke biar menyusul setelah pemakaman selesai. Malam harinya kalian berkumpul di penginapan yang sudah dipesan oleh Anko. Esoknya, kau dan Sasuke bisa pergi ke Suna mencari petunjuk dari kematian Deidara. Sementara kau, Temari" inspektur berambut merah menoleh pada keponakannya, "Kau harus kembali ke sini setelah menemani Shikamaru menemui Hidan. Jika sampai Hayate dengar, dia akan mencurigai keikutsertaanmu ke Suna."

Temari hanya mengangguk setuju.

"Bagaimana dengan hasil pemeriksaan hari ini?" Sasuke bertanya.

"Ruwet," Sasori menjawab pasti "Sewaktu Tsunade bilang Itachi tak menyahutnya, aku hampir berpikir kalau Itachi sudah meninggal waktu itu. Tapi kenyataannya, Itachi masih hidup. Kiba mendengarnya berbicara pada seseorang sekitar pukul enam kurang sedikit. Sementara pernyataan-pernyataan lainnya makin membingungkanku saja. Terutama yang dikatakan konsultan hukum itu. Apa sebenarnya yang membuat Itachi takut dipenjara?"

"Tidak pernahkah kakakmu menyinggung hal itu, Sasuke?" tanya Temari.

Sasuke menggeleng. "Aku yakin kakakku tidak pernah berbuat melanggar hukum. Apalagi sampai punya musuh."

"Yang paling membingungkan adalah," kata Anko "Siapa yang datang dan mengaku sebagai Deidara sore itu? Kenapa dia tiba-tiba menghilang?"

"Siapapun dia, kuharap bukan setan. Semoga saja dia bisa ditemukan secepatnya. Harusnya seorang pria dengan rambut pirang panjang berkuncir tidak sulit dicari, bukan?"

"Itu kalau rambutnya asli," Temari berpendapat "Pria dengan ciri-ciri seperti itu mungkin tidak banyak, tapi kalau wanita tentu saja tidak sedikit."

"Mengenai hasil pemeriksaan pagi tadi," Shikamaru menyambung setelah jeda "Ada yang tidak beres."

"Tidak beres bagaimana?" tanya Sasuke.

"Entah bagaimana menjelaskannya, aku belum tahu. Tapi aku yakin ada satu dari seluruh pernyataan-pernyataan itu yang tidak sesuai dengan kenyataannya," jawab Shikamaru.

Sasori penasaran, "Maksudmu, ada salah seorang dari mereka yang berbohong?"

-x-

-x-x-x-

-x-

Esoknya

Sudah terbayang dalam benak Shikamaru sebelumnya, tentang seramai apa pemakaman Itachi. Keterlaluan, memang. Tidakkah para wartawan itu punya sedikit toleransi mengenai hari berkabung seseorang?

Shikamaru yang jengah meninggalkan Sasuke tenggelam dikerubuti para pelayat. Jumlahnya tidak sedikit. Relasi Itachi tak terhitung banyaknya. Sejumlah selebriti yang berkeliaran dengan pakaian hitam makin membuat pemburu berita melupakan bahwa mereka pernah punya hati.

Temari menghembuskan nafas lega setelah berhasil menyelamatkan diri dari kerumunan yang menjebaknya. Ia segera mengikuti Shikamaru, masuk ke dalam mobil yang kemudian dikemudikan pemuda itu menuju sisi lain Konoha.

"Tidurlah," Shikamaru menyarankan pada gadis pirang disampingnya "Kita baru akan sampai disana enam jam lagi."

"Aku tak biasa tidur sepagi ini," kata Temari.

"Kedengarannya buruk," sambung Shikamaru "Aku bisa tidur kapan saja dan dimana saja."

"Kalau begitu kau saja yang tidur. Biar kugantikan. Aku cukup pandai menyetir."

"Tapi kau pasti tak paham jalanan Konoha, kan?" lanjut si pemuda, "Dan aku tak mau tidur sementara seorang perempuan menyetir untukku. Itu tidak hormat namanya."

Temari menyeringai di tengah senyumnya, "Itu sopan atau sombong? Aku memang baru dua kali ini datang ke Konoha. Yang pertama sudah lama sekali. Sepuluh tahun lalu kalau tak salah. Apa kau lahir di Konoha?"

Shikamaru mengangguk, "Aku lebih banyak disini daripada di tempat lain. Tapi pernah juga meninggalkan tempat ini selama empat tahun ke Oto bersama Sasuke. Kata ayah kami sekolah menengah disana lebih bagus."

"Sekolah menengah?" Temari menebak, "OHS maksudmu? Itu sekolah menengah terbaik di seluruh negeri! Wah, kau pasti jenius. Salah seorang adikku juga sekolah disana. Sebenarnya, dulu aku juga mendaftar. Tapi kurasa aku tak sepandai itu."

"Kau punya adik?"

Temari ganti mengangguk, "Dua orang. Dua-duanya laki-laki. Yang pernah bersekolah di OHS namanya Gaara. Mungkin dia dua atau tiga angkatan dibawahmu. Yang seorang lagi bernama Kankuro. Dia tidak begitu pandai. Lebih suka membolos dan menghajar orang. Sekolah menengahnya saja makan waktu enam tahun."

Patut dicatat dalam buku rekor dunia. Untuk pertama kalinya seumur hidup, Shikamaru menghabiskan waktunya berbincang dan mengobrol panjang lebar bersama seorang perempuan. Luar biasa!

"Detektif Nara? Kaukah yang meneleponku kemarin?" Hidan menyapa ramah ketika melihat dua orang tamu yang ditunggunya muncul dari pintu depan. Hari sudah sore ketika kedua orang itu sampai di rumah Hidan. Sebuah rumah di pinggiran Konoha yang dipenuhi dengan tembikar-tembikar.

"Terima kasih sudah menerima kedatangan kami," ujar Shikamaru sambil menjabat tangan pria itu.

Niatnya, Temari juga ingin menyalami pria itu. Tapi niat itu runtuh seketika gara-gara mendengar Hidan berkata, "Bukankah kita pernah bertemu?" disertai tatapan-senyum-seringai aneh yang sulit untuk diketahui maksudnya.

Apa Hidan punya kebiasaan berkata begitu pada semua perempuan yang ditemuinya?

Parahnya lagi, kejahilan Hidan tidak berhenti sampai disitu. Ia menatap Temari secara terperinci dari atas ke bawah. Kemudian ganti menatap Shikamaru lalu berujar, "Kalian serasi."

Itu cukup. Sekali lagi ada orang yang mengatakan kalau mereka serasi, Shikamaru bisa naik pitam.

"Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Itachi Uchiha," akhirnya sepuluh menit kemudian pembicaraan ketiganya masuk juga ke jalur yang benar. Hidan melanjutkan, "Aku hanya mengenalnya sebagai seorang artis. Kami memang pernah satu klub saat sekolah dulu. Tapi dia pasti tidak ingat lagi padaku. Kurasa itu saja yang bisa kuceritakan soal dia."

"Itachi menulis nama dan nomor teleponmu pada hari kematiannya," tambah Shikamaru "Apa dia tidak menghubungimu?"

"Tidak," jawab Hidan mantap.

"Kau ada dimana tiga hari lalu itu?" Temari bertanya.

"Disini. Aku tinggal sendiri. Kalau yang kau tanyakan adalah alibi, aku memang tidak punya."

"Kau kenal seseorang bernama Tenten?" Shikamaru mencari celah.

"Tenten?" Hidan terlihat berpikir, "Apa dia seorang gadis cantik? Aku kenal cukup banyak gadis cantik," kemudian ia tampak berpikir lagi "Ya, mungkin aku mengenalnya. Kurasa begitu."

"Kalau Deidara?"

"Apa dia juga perempuan cantik?"

"Deidara seorang laki-laki," Shikamaru nyaris mendengus kesal "Dan soal Tenten, dia sudah bertunangan."

"Wah, kalau begitu aku pasti tidak mengenalnya!"

Itu benar-benar cukup. Berkunjung ke tempat Hidan seperti sebuah kesalahan saja. Perjalanan jauh yang sia-sia. Shikamaru dan Temari bertolak ke penginapan dengan perasaan tidak puas. Sasuke datang menyusul mereka tiga puluh menit sebelum tengah malam. Bungsu Uchiha itu mengeluhkan ketidakberuntungannya yang baru bisa mengelak dari rentetan bela sungkawa verbal sekitar pukul setengah lima. Segera setelah menceritakan detail pertemuannya dengan Hidan, Shikamaru beranjak tidur. Temari dan Sasuke yang juga kelelahan, lantas ambruk diatas kasur.

Esoknya ketiga orang itu pun berpisah. Temari harus kembali ke Konoha seperti yang diperintahkan Sasori, sementara Shikamaru dan Sasuke bertugas mengorek keterangan dengan berpura-pura menjadi pengunjung di coffee shop tempat Deidara terbunuh.

Satu lagi perjalanan jauh. Menuju Suna. Untunglah dari pinggiran Konoha itu ada satu jalan tembus yang hanya makan waktu beberapa jam, bukan setengah hari penuh. Semoga saja perjalanan yang satu ini tidak sia-sia.

Tampaknya memang tidak sia-sia. Coba tebak, siapa yang ditemui Sasuke dan Shikamaru di coffee shop itu?

Neji. Neji Hyuuga.

"Nenek Chiyo adalah nenek saya," Neji menerangkan.

"Waktu pemeriksaan kau bilang tidak kenal Deidara," Shikamaru bersiap mengonfrontasi "Bukankah Deidara meninggal disini?"

"Saya jarang pulang kemari, Detektif Nara" Neji melanjutkan, "Memang saya pun mendengar ada pembunuhan disini. Dan sejak itu tempat ini jadi sepi. Tapi saya tidak tahu siapa yang meninggal itu. Saya betul-betul tidak kenal Deidara."

"Lalu, dimana nenekmu sekarang?" giliran Sasuke yang bertanya, "Dia satu-satunya saksi, kan?"

"Nenek saya sudah sangat tua," Neji menjelaskan "Saya dan sepupu saya sepakat untuk mengirimkannya ke panti jompo minggu lalu. Nenek Chiyo ada disana sekarang."

"Apa kau keberatan kalau kami ingin menemui nenekmu itu?" Shikamaru setengah meminta ijin.

Tentu saja Neji tidak keberatan. Bahkan diantarkannya kedua detektif itu ke panti jompo tempat tinggal Nenek Chiyo sekarang.

Oh, seharusnya ada yang bilang pada ketiga pemuda itu bahwa berbicara kepada seorang nenek tua bukanlah pekerjaan mudah.

"Apa kau berkelahi dengan kedua orang ini, Neji?" tanya Nenek Chiyo sambil memandangi Shikamaru dan Sasuke dengan kedua mata tuanya.

"Tidak, Nek" Neji menyanggah "Aku tidak berkelahi. Mereka datang untuk menanyakan tentang seorang pria yang meninggal di kedai kopi kita beberapa waktu lalu."

"Aku tidak percaya," Nenek Chiyo ngotot "Kau pasti berkelahi. Apa gara-gara Tenten? Oh ya, kenapa Tenten tidak pernah menjengukku sekarang? Kalian bertengkar? Nenek yakin kalian pasti bertengkar. Kau jangan seperti anak kecil, Neji. Kalau Tenten tiba-tiba meninggalkanmu kau pasti sedih sekali. Sejak dulu selalu begitu, bukan? Waktu kau masih sekolah seorang temanmu tewas bunuh diri dan kau mengunci diri di kamarmu selama tiga hari. Siapa ya nama anak itu? Nenek lupa. Tapi kau sedih kan kalau ditinggal? Makanya, jangan bertengkar dengan gadis manis seperti Tenten."

Neji menunduk. Tidakkah dia memberitahu neneknya kalau tunangannya itu sudah meninggal?

"Nenek, kami datang kemari untuk menanyakan seseorang yang meninggal di coffee shop nenek beberapa minggu lalu," Shikamaru mengutarakan tujuannya, "Apa nenek ingat sesuatu?"

"Semua yang kuingat sudah kukatakan pada polisi waktu itu," Nenek Chiyo kelihatan tidak senang "Aku memang melihat seseorang bersama pria berambut pirang itu, dan polisi kelihatan kecewa sekali karena aku tidak mengingatnya dengan jelas."

"Nenek melihat seseorang bersamanya?" Sasuke tertarik, "Orangnya seperti apa?"

"Aku mohon, Nenek. Tolong diingat-ingat sebentar," pinta Shikamaru mencoba sesopannya.

Nenek Chiyo menoleh ke arah Shikamaru. Ekspresinya biasa saja. Lalu perempuan tua itu ganti menoleh ke arah Sasuke. Kemudian raut wajahnya berubah menjadi seperti seorang anak berumur lima tahun yang menemukan sekeping koin di pinggir jalan.

"Orang itu mirip denganmu," ujar Chiyo "Iya. Aku yakin sekali. Tampan sepertimu. Aku sampai merasa seperti pernah melihatnya di TV."

Sasuke mendelik. Shikamaru mengerutkan dahi sambil menyimpulkan, "Itachi?" ulangnya lagi, "Itachi menemui Deidara? Persis di hari kematiannya? Untuk apa?"

Sasuke mulai memelas, "Tolonglah, jangan katakan kalau kakakku kehilangan nyawanya karena terlibat dengan semua ini."

"Ah, Neji! Nenek ingat sekarang," Chiyo berseru girang "Nenek ingat nama temanmu yang meninggal bunuh diri itu. Namanya Naruto. Iya, kan? Naruto, kan? Sungguh kasihan sekali anak itu. Penyebab bunuh dirinya saja tidak ketahuan."

DEGG!

Sasuke mendelik lagi. Shikamaru mengerutkan dahi lagi. Apa-apaan ini? Neji kenal Naruto? Kenal teman kecil mereka itu?

Shikamaru tak sempat bertanya. Sasuke juga belum sempat buka mulut. Ponsel si detektif berambut nanas tiba-tiba bergetar. Segera setelah satu tombol ditekan, telinga Shikamaru berdengung mendengar suara Sasori yang terlampau keras di ujung sana.

"Hey, kalian dimana?" Sasori berteriak, "Cepat kembali ke Konoha! Sekarang! Terutama kau, Shikamaru! Hidan tewas! Kau dengar itu? Hidan tewas! Tewas! Aku dihujani perintah supaya kau segera dikarantina!"

"Hidan tewas?" rupanya keterkejutan Shikamaru belum boleh berhenti sampai disana, "Aku? Dikarantina? Untuk apa?"

Shikamaru menjawab pertanyaan itu sendiri. Setibanya ia di tempat kejadian perkara, pemuda itu melihat Hidan tewas terbujur di atas lantai dengan darah mengalir bersumber dari luka di lehernya. Dan inilah kenapa Shikamaru harus dikarantina. Persis di tempat Hidan tergeletak, dengan darahnya sendiri pria itu sempat menuliskan sesuatu. Sesuatu yang berbunyi 'Save Nara'.

Save Nara.

Selamatkan Nara.

Shikamaru tercekat. Sasuke ternganga. Sasori tampak frustasi. Bahkan seluruh petugas yang sibuk memeriksa tempat kejadian menghentikan kegiatan mereka sejenak. Menoleh ke arah Shikamaru dan memandanginya seakan sedang melihat seorang calon mayat.

-x-

-x-

-x-x-x-

-x-

-x-x-x-

-x-

-x-

a/n: sepertinya Lelouch tidak bersedia meminjami saya Geass-nya. Jadi, review? Ayolah, saya janji tidak akan menulis nama anda pada deathnote. Karena saya memang tidak punya.