Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Summary: Nara Shikamaru, detektif muda. Uchiha Sasuke, juga detektif muda. Uchiha Itachi, artis papan atas. Dan seorang gadis bartender yang tewas mengenaskan.
Warning: Chara death. Deaths, actually. No bashing purpose. Don't like don't read.
-x-
-x-x-x-
=x=x=x=x=x=x=x=
=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=
-x-x-x-
-x-
"Iya, ya! Aku tahu!"
BRAAAAK!
Sasori membanting telepon yang dipegangnya usai mengumpat seribu nama. Nama hewan, tentunya. Bunyi 'nguuung' panjang sempat terdengar mengiringi gagang telepon yang kini kabelnya menjuntai bergoyang di tepi meja.
Namun ternyata Sasori belum puas. Ditambahkannya lagi, "Dasar jalang!"
Shikamaru dan Sasuke diam tak berkutik. Temari bergidik melihat amarah pamannya. Tapi bukan Anko namanya kalau wanita muda itu tidak berani menyela.
"Siapa yang jalang, inspektur?"
"Siapa lagi?" jawab Sasori, "Tentu saja perempuan bejat itu! Mei Terumi si mulut beracun!"
"Mei Terumi?" Sasuke mengulang, "Maksudmu kepala biro intelijen?"
"Memangnya ada berapa banyak Mei Terumi di Konoha?" Sasori masih terdengar marah.
"Intelijen punya urusan apa dengan kita?" Shikamaru penasaran.
"Kasus ini mulai meresahkan dan sebentar lagi mungkin akan disinggung oleh parlemen. Pembunuh berantai yang berkeliaran bukan sesuatu yang patut kita banggakan," Sasori susah payah menahan emosinya dan menerangkan, "Biro intelijen memperolok ketidakmampuan kita yang sudah kecolongan empat nyawa. Ya Tuhan, mau ditaruh dimana muka kepolisian ini?"
"Empat nyawa?" Shikamaru meralat, "Kita cuma kecolongan tiga. Deidara terbunuh di Suna."
"Tapi perhatian publik tetap mengarah kepada kita," sambung Anko "Aku berani bertaruh, dalam hitungan jam kepolisian Suna pasti akan berkoar tidak jelas. Mencari semua celah agar tak dipersalahkan."
"Aku tidak memikirkan Suna saat ini," lanjut Sasori "Yang kupikirkan adalah Mei Terumi. Dia mendesakku agar kau diungsikan ke markas besar mereka. Perempuan jalang itu sedang mengusahakan segala cara untuk mencampuri dan mengobok-obok kewenangan kita!"
Shikamaru mencari konfirmasi, "Aku? Aku harus diungsikan ke markas intelijen? Tidak mau!"
"Aku juga tidak mau, Shikamaru" kata Sasori "Karena itu, kau tak kuijinkan pergi kemanapun sampai kasus ini selesai."
"Aku tak boleh meninggalkan Konoha? Bukan masalah," Shikamaru tak berkeberatan.
"Bukan Konoha, Shikamaru" Anko meluruskan maksud Sasori, "Yang dimaksud inspektur, kau tidak boleh meninggalkan markas kita ini sampai kasusnya selesai."
Kali ini Shikamaru melotot tak percaya, "Aku dikurung disini?"
"Tidak ada pilihan lain," Sasori menambahkan "Sudah ada empat korban. Aku tak mau mengambil resiko adanya korban kelima. Terlebih lagi jika yang kelima itu adalah kau. Jika kau sampai benar-benar mati, aku bisa dipecat."
Shikamaru berkecap kesal. Temari mencondongkan posisinya dan bertanya, "Tidakkah kau merinding? Pembunuh itu memburumu."
"Mungkin kita memang sedang berhadapan dengan pembunuh kelas kakap yang sangat berpengalaman. Mungkin. Tapi rasanya keterlaluan sekali kalau dia berhasil membunuh seseorang di kantor kepolisian."
"Aku rasa bukan itu yang dimaksudkan keponakanku, Shikamaru" ujar Sasori "Yang dimaksudnya adalah, kenapa pembunuh itu memburumu?"
Temari mengangguk ketika Shikamaru menoleh sebentar ke arahnya. Sasuke dan Anko juga menoleh seketika itu.
"Jujur saja, aku tidak tahu" jawab Shikamaru, "Aku tak tahu kenapa dia mengincarku."
"Barangkali penyelidikan kita selama ini semakin dekat dengan pembunuh itu," Anko berpendapat "Dan dia berusaha melenyapkanmu."
"Atau mungkin juga," Sasori memiliki pendapat lain "Jangan-jangan tanpa kau sadari kau sebenarnya tersangkut ke dalam persoalan ini."
Shikamaru menyanggah, "Aku tak pernah bermasalah dengan siapapun. Tidak pernah melanggar hukum. Siapa yang mau membunuhku?"
"Apa mungkin kau melihat atau menyaksikan sesuatu yang kau tak sadar betul kalau hal itu penting bagi si pembunuh?" Temari bertanya penuh penasaran.
Shikamaru tampak berpikir. Apa yang baru saja dikemukakan Temari memang bisa jadi alasan yang paling masuk akal saat ini.
'kriiiiiiiiiing...'
Suara telepon terdengar berdering. Tentunya dering itu bukan berasal dari telepon naas yang tadi dibanting oleh Sasori. Ada sebuah telepon lagi yang berada di sudut depan sebelah pintu. Merasa posisinya yang paling dekat, Sasuke beranjak mengangkat telepon yang berdering itu sambil memegang ponselnya yang tampak menyala di tangan kiri.
"Selamat malam. Bisa saya bantu?" sapaan Sasuke terdengar, "Inspektur Hayate?" terdengar sedikit nada keterkejutan disini, "Kami mohon maaf. Iya. Iya, baik. Saya mohon maaf. Tidak masalah, Inspektur Hayate. Akan saya sampaikan. Terima kasih."
Lalu gagang telepon itu diletakkan lagi. Sasori bertanya, "Siapa yang menelepon, Sasuke? Hayate?"
Sasuke mengangguk, "Benar, Inspektur."
Sasori mendengus. Sudah bisa dirasakannya hawa tidak enak ketika nama Hayate disebut oleh Sasuke. Pasti ada sesuatu yang tidak beres."Apa katanya?"
Sasuke menjawab, "Inspektur Hayate minta agar Temari datang ke Suna. Sekarang juga."
Temari menaikkan alis. Shikamaru juga kaget. Sasori bertanya lagi, "Sekarang? Bukankah dia masih harus disini sampai bulan depan?"
Kemudian Sasuke memberikan jawaban yang sama sekali tak ingin didengar Sasori, "Konsultan hukum itu. Neji Hyuuga mengadu pada kepolisian atas kedatanganku dan Shikamaru ke sana. Dari caranya bicara, aku rasa Inspektur Hayate sangat tersinggung."
Lengkaplah sudah penderitaan Sasori. Hayate yang marah bisa saja membawa urusan ini kepada kepala kepolisian Konoha. Inspektur itu mengumpat lagi sebelum berkata, "Kau dengar itu, Temari. Aku tak mau cari masalah saat ini. Pergilah sekarang. Kau akan tiba disana besok pagi."
Temari menurut. Ia baru saja bangkit dari kursi ketika Sasori menambahkan lagi, "Eh, jangan pergi sendiri," ditolehnya pada si bungsu Uchiha "Sasuke, tolong antar keponakanku. Kita bisa diangggap tidak sopan kalau Temari dipulangkan begitu saja. Sebutkan pada Hayate beberapa alasan dan permintaan maaf yang kedengarannya diplomatis. Jangan buat dia marah. Kurasa kau cukup pandai untuk urusan membalik lidah seperti itu. Biar kutelepon dia sebentar lagi. Kucari dulu alasan yang paling mengenakkan."
Sasuke mengangguk saja. Memangnya siapa yang mau membantah disaat seperti ini?
Kira-kira baru beberapa menit setelah Temari mengekor keluar dibelakang Sasuke, seorang petugas kepolisian datang memasuki ruangan itu. Mengetuk pintu, memberi hormat, kemudian melaporkan sesuatu yang kali ini benar-benar ingin didengar semua orang.
"Lapor, Inspektur. Orang itu sudah ditemukan. Wanita yang datang ke kediaman Uchiha dan mengaku sebagai Deidara sudah tertangkap. Dia langsung dibawa ke ruang interogasi."
"Wanita?" Anko melongo mendengarnya.
'Sepertinya Hayate harus menunggu,' pikir Sasori 'Yang ini jauh lebih penting.'
-x-
-x-
-x-
BUUK!
Si Deidara gadungan menghempaskan kepalanya diatas meja setelah diseret paksa oleh Anko. Rambut pirangnya yang panjang terurai tampak kusut dan berantakan. Baik Shikamaru maupun Sasori mungkin memang tak tega berlaku kasar pada perempuan. Karena itulah Anko ada disana. Dia tega memukul sesama.
"Katakan kau siapa!" Sasori membentak keras.
Tak ada jawaban.
"Kenapa kau membunuh Uchiha Itachi?" Anko terdengar tak sabaran, "Kau pasti penggemarnya, kan?"
Gadis yang kedua tangannya diborgol itupun sontak tak terima. "Aku tidak membunuh siapa-siapa!"
"Lantas kenapa sore itu-"
Ucapan Shikamaru segera dipotong oleh sang gadis pirang, "Ya! Aku memang menyamar sebagai Deidara! Dia kakak kembarku! Kepolisian Suna itu payah sekali. Aku tidak sabar menunggu sampai mereka menemukan siapa pembunuh kakakku."
"Jadi, kau pergi ke sana untuk mencari pembunuh itu?" Sasori membaca situasi.
Si gadis tampak mengiyakan, "Dan yang kutemukan malah seonggok mayat lagi!"
"Itachi sudah mati waktu kau masuk ke sana?"
"Kau pikir kenapa aku tiba-tiba panik dan melompat keluar dari jendela?" kasar benar jawaban gadis ini, "Dia sudah mati!"
Jadi yang di jendela itu benar jejak kakinya.
"Bagaimana kalau kami tidak percaya kata-katamu?" Shikamaru menyergah, "Kenapa kau mesti membuka jendela yang terkunci dan bukannya lewat pintu yang jelas terbuka?"
"Lewat pintu?" si gadis mencibir, "Agar penyamaranku terbongkar? Perempuan yang namanya Sakura itu tahu wajah kakakku. Aku harus menghindarinya. Dan lagi, siapa yang bilang jendelanya terkunci?"
Dahi Shikamaru berkerut mendengarnya.
"Katakan siapa namamu," kata Sasori sekali lagi.
Kali ini si gadis pirang menurut. "Ino. Yamanaka Ino," jawabnya.
"Apa yang membuatmu berpikir kalau kematian kakakmu ada hubungannya dengan Itachi Uchiha?" tanya Shikamaru.
"Aku menemukan sebuah foto yang ditinggalkan Deidara di atas bantal sebelum dia pergi hari itu," jawab Ino "Salah satu orang di dalam foto itu adalah Itachi Uchiha. Cuma dia yang bisa kukenali. Lainnya asing."
"Tentu saja, Nona cantik" Anko menyindir, "Yang lainnya pasti bukan artis."
"Dimana foto itu?" Shikamaru meminta, "Boleh aku melihatnya?"
"Di dalam saku. Aku selalu membawanya sejak hari itu," lanjut Ino "Bagaimana aku bisa mengambilnya kalau tanganku diborgol?"
Sasori memberi isyarat pada Anko. Anko mengangguk sebelum bergegas meraba saku celana Ino yang bahunya masih ia cengkeram. Segera setelah Anko merasa menemukan sesuatu di dalam saku celana itu, diambilnya benda tersebut dan sejurus kemudian diberikannya pada Shikamaru. Selembar foto lama yang sudah kucel dan terlipat dua.
Sasori menjulurkan lehernya, melongok ke arah foto yang kini dipelototi Shikamaru.
Foto itu tidak asing. Sama sekali tidak asing.
Jangan tanyakan seberapa tercekatnya Shikamaru. Pemuda itu merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Foto itu adalah foto yang sama. Foto yang dilihat Shikamaru ketika pertama kali memasuki kamar Itachi. Tidakkah terbesit di benak Shikamaru, untuk apa Itachi yang sedang ketakutan tiba-tiba membongkar foto lama semasa sekolahnya?
Kini bersliweran di dalam otak Shikamaru semua kesaksian dan petunjuk yang ia dapat sampai sekarang. Semuanya terjawab. Semuanya cocok. Memorinya memutar kembali kenangan atas benda-benda yang hari itu dilihatnya tergeletak diatas meja.
Shikamaru gemetaran menatap foto ditangannya. Foto Itachi bersama lima orang temannya di klub drama sekolah. Dua orang perempuan dan tiga orang laki-laki.
Dua dari tiga laki-laki itu berambut pirang.
Naruto dan Deidara.
Sedangkan yang satu lagi berambut putih keperakan.
Hidan.
Salah satu dari dua perempuan dalam foto itu berambut gelap dicepol dua.
Tenten.
Dan seorang lagi berambut pirang dikuncir empat.
Temari.
Perlu diulang? Temari. Ya, Sabaku Temari.
Tidakkah Shikamaru ingat pada apa yang disampaikan Hidan?
Firasat Shikamaru memang benar adanya. Ada ketidaksesuaian diantara sejumlah pernyataan yang diutarakan para saksi di hari pemeriksaan. Dan Shikamaru sudah tahu pernyataan siapa yang tak sesuai itu.
-x-
-x-
-x-x-x-x-
-x-
-x-
a/n: Inilah kenapa pada chapter I kemarin saya menggambarkan Deidara sebagai seseorang yang terlihat sangat mirip perempuan. Bagi saya, Deidara adalah Deidara. Meskipun ratusan kali diklaim sebagai banci atau uke Itachi Uchiha, menurut saya Deidara tetap seorang laki-laki.
Well, chapter depan sudah pasti tamat. Semakin cepat anda mereview, semakin cepat saya menguploadnya.
Terima kasih banyak.
