Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Summary: "Kalian membunuhnya?"

Warning: Chara death. Deaths, actually. No bashing purpose. Don't like don't read.

-x-

-x-x-x-

=x=x=x=x=x=x=x=

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=

-x-x-x-

-x-

"Apa? Temari?" suara Hayate di seberang sana terdengar heran, "Apa kau mabuk, Sasori sayang?"

"Tidak, Hayate. Aku tidak mabuk," jawab Sasori masih sambil berjalan mondar-mandir dan memegangi ponsel ditangannya "Dan tolong jangan panggil aku dengan sebutan 'sayang' karena aku masih di kantor. Anak buahku bisa mendengar suaramu yang keras itu."

"Aku rasa kau pasti mabuk, Sayang" Hayate tetap berkeras.

Sasori kelimpungan. Entah seperti apa cara yang harus dipakai inspektur itu untuk menerangkan maksudnya.

-x-

-x-

-x-

"Aku harap kau tak keberatan kalau kita mampir dulu ke rumahku sebentar," kata Sasuke pada Temari "Surat-surat kendaraanku tertinggal. Aku tidak berani meninggalkan Konoha tanpanya."

"Kau yakin kita tidak akan terlambat?" tanya Temari.

"Tenanglah, aku tahu jalan pintas" sambung Sasuke, "Lagipula Inspektur Sasori pasti sudah menelepon Inspektur Hayate dan menerangkan alasan yang bagus untuk kita."

Temari mengangguk saja. Gadis itu diam di mobil ketika Sasuke turun untuk membuka pintu gerbang. Rupanya rumah itu sedang kosong. Ayame dan Teuchi diijinkan berlibur setelah kejadian buruk yang menimpa Itachi. Dan pada malam hari seperti ini, daerah itu betul-betul gelap. Sekiranya pasti tak ada siapapun sejauh puluhan mil dari sana.

Sasuke mempersilakan Temari masuk setelah membuka pintu depan rumah dengan kuncinya. Si gadis pirang melenggang tanpa curiga. Namun gadis itu segera membalik badannya dalam setengah hitungan usai mendengar bunyi 'klik' yang menandakan bahwa pintu itu telah terkunci kembali.

"Buat apa dikunci?" Temari bertanya, "Bukankah kita kemari hanya untuk mengambil surat-surat kendaraanmu?"

Sasuke membalas pertanyaan itu dengan sebuah senyuman dingin yang bisa jadi menyiratkan seribu makna. Ia merogohkan tangan ke dalam saku, dan dalam dua detik kemudian Temari melihat sebuah pisau lipat terpegang di tangan pemuda itu. Ada perasaan familiar ketika Temari melihat benda itu. Seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi dimana? Dimana ia pernah melihat sebuah pisau lipat bermata dua dengan ukiran nama N. Uzumaki pada gagangnya?

Tunggu dulu, N. Uzumaki? Naruto Uzumaki?

Sasuke memainkan pisau lipat itu sejenak, lalu menoleh ke arah Temari dan bertanya ditengah senyumnya, "Katakan padaku, Temari. Katakan kenapa kalian harus membunuh Dobeku?"

Oh, tidak.

Inilah situasinya. Ketika Hidan berkata bahwa dia pernah bertemu dengan Temari sebelumnya, pria itu sama sekali tidak bermaksud menggoda. Ia memang merasa pernah bertemu, hanya saja Temari tidak mengingatnya. Seperti halnya dengan Shikamaru. Pemuda itu merasa pernah melihat Temari, tapi tak yakin dimana. Yang benar, Shikamaru melihat Temari di dalam foto yang sepintas lalu dilihatnya ketika memasuki kamar Itachi. Lalu ketika Hidan menuliskan dua kata pada detik-detik terakhir kematiannya, Save Nara, pria itu juga punya alasan. Hidan lupa siapa nama Temari. Dan pada hari itu, Temari datang bersama Shikamaru. Sang detektif muda memasukkan tangan kirinya ke dalam saku sementara di jari tangan Temari melingkar sebuah cincin. Singkatnya, Hidan mengira Temari adalah istri Shikamaru. Ia mengira bahwa Temari adalah seorang Nara.

Kemudian soal telepon yang berdering di kantor Sasori. Bukan Hayate yang menelepon, melainkan Sasuke sendiri. Adalah kelalaian semua orang hingga tak ada yang menyadari bahwa Sasuke mengangkat telepon itu sambil memegang ponselnya yang terlihat menyala.

"Kenapa kau diam, Temari?" suara Sasuke terdengar lagi, menggema di tengah rumah yang remang dan kosong.

Tatapan Temari menyalak dalam ketakutannya sendiri. Pelan-pelan otaknya mulai mencerna dan mengingat kejadian apa saja yang terjadi ketika pertama kali ia datang ke Konoha, sepuluh tahun lalu. Klub drama, festival tahunan, kerja sama antar sekolah, dan Naruto Uzumaki. Naruto Uzumaki yang melompat dari atap gedung sekolah. Bukan, bukan melompat dari atap gedung sekolah. Naruto tidak melompat dengan kemauannya sendiri. Dia...

"A-aku," Temari gelagapan "Aku tidak tahu apa-apa, Sasuke. Aku memang datang ke Konoha pada hari itu. Tanggal sepuluh Oktober. Ulang tahun Naruto Uzumaki. Tapi aku tidak tahu apa-apa. Saat aku tiba disana semua anggota klub drama sedang mengucapkan selamat padanya. Dan Itachi...aku ingat sekarang. Dia yang menyerahkan hadiah pisau lipat itu pada Naruto. Tapi sungguh, aku tak tahu kalau akan begitu jadinya."

Sasuke masih tersenyum. Masih pula memainkan sebilah pisau lipat ditangannya. Kata pemuda itu, "Aku tak peduli lagi, Temari. Kau harus mati seperti yang lainnya, yang telah membiarkan Dobeku tewas begitu saja. Tapi karena sekarang tinggal kau seorang, biarkan aku bersikap sedikit adil. Kuberi kau waktu sepuluh hitungan untuk melarikan diri. Setelah waktu sepuluh hitungan itu lewat, sisanya akan jadi kesenanganku. Bagaimana?"

Nafas Temari megap-megap gemetaran. Belum sempat gadis itu menyampaikan persetujuannya, Sasuke sudah mulai menghitung dari satu.

"Satu, dua..."

Inilah waktunya untuk panik.

Jangan diam saja, Temari! Lari! Selamatkan dirimu! Larilah sekarang juga!

Kedua kaki Temari mulai bergerak menjauhi Sasuke. Lututnya terasa gemetar karena ketakutan hingga laju tubuhnya tak mampu mengimbangi kecepatan detak jantungnya yang kini meloncat jauh diatas normal. Keringat dingin membanjir entah sejak kapan. Otaknya tak mampu memikirkan apa-apa lagi. Derap nafasnya yang terengah-engah tertelan suara Sasuke yang masih terus menyebut barisan angka.

"...empat, lima..."

Jendela. Sekuat tenaganya Temari berusaha mengoyak jendela ruang tamu. Tapi hasilnya nihil. Jendela kaca itu telah terkunci dan dipasangi teralis besi. Si gadis pirang makin panik gelagapan. Pintu samping dihampirinya dengan tergesa-gesa, sementara bungsu Uchiha di dekat pintu sana masih menghitung tak terhentikan.

"...tujuh, delapan..."

'Oh Tuhan, tolong aku!' pekik Temari dalam hatinya. Hitungan Sasuke makin mendekati angka sepuluh. Menyadari waktunya hampir habis, Temari sontak berteriak sambil menggedor-gedor pintu samping dengan putus asa. "Tolong! Siapapun disana, tolong aku! Aku mohon, tolong aku!" teriak gadis itu.

Percuma. Tidak ada seorangpun diluar sana yang mendengar teriakan Temari.

"...sembilan, sepuluh" Sasuke menyelesaikan hitungannya, "Waktumu habis, Temari."

Habislah pula riwayat sang kembang Suna.

Sudut mata Temari mulai berair ketika kepala gadis itu menoleh dan mendapati Sasuke melangkah cepat kearahnya sambil memegang sebilah pisau lipat yang sejauh ini telah menghabisi empat nyawa. Ketakutan Temari meluap tak terkendali, gemetar tubuhnya berlipat menjadi-jadi. Ia pun kembali berlari, berusaha menghindari ajal yang tampak makin jelas di depan mata.

Baru beberapa langkah Temari berlari, Sasuke berhasil meraih lengan bajunya. Temari jatuh tersungkur. Tapi bukan Temari namanya jika gadis itu menyerah begitu saja. Dengan sisa-sisa derap nafasnya yang memburu Temari berusaha bangkit. Namun malang tak bisa ditolak. Sasuke dengan cepat menarik kaki kanan Temari, menyeret gadis itu hingga terdengar suara deritan kuku jarinya yang bergesekan dengan lantai. Bagaikan sebuah harmoni, telinga Sasuke seakan dimanja dengan pekikan dan teriakan yang tak hentinya dilontarkan Temari sembari menendang dan meronta-ronta.

Satu gerakan cepat mengakhiri perlawanan gadis pirang yang tersiksa. Sasuke menangkap kepala Temari, mendongakkannya seraya membungkam mulut gadis itu sekali jadi dengan tangan kiri. Temari tak bisa berbuat apa-apa ketika kedua lutut Sasuke sukses mengunci setengah tubuhnya. Kedua tangan gadis itu lemas dalam sekejap, seolah tak mau berkompromi dengan keinginannya untuk terus hidup.

Sepasang mata tanpa dosa semakin berair, membelalak nanar seakan menolak kehadiran maut yang demi Tuhan betul-betul tak dikehendakinya. Sementara itu pisau di tangan kanan Sasuke makin bergerak mendekat, menghampiri sebentuk leher putih yang terbuka lebar. Peduli setan pada bekas darah, jejak kaki, ataupun alibi. Setelah Temari 'lewat', semua dendamnya selesai.

"Ucapkanlah salam pada malaikat, Temari" masih sempat-sempatnya Sasuke berbicara, terdengar seperti benar-benar menikmati apa yang tengah ia lakukan. "Dan sampaikan pula salam dariku untuk Dobe di surga."

'BRUUAAAAAAAAAAK!'

DORR!

Sasuke tak sempat menoleh ketika mendengar suara pintu depan yang didobrak paksa. Lesatan sebutir peluru mengarah lurus ke tangan kirinya. Persis mengenai punggung telapak tangan pucat yang berujung pada dentingan suara pisau lipat terjatuh di atas lantai.

Pada saat Sasuke sanggup menggerakkan kepalanya secara penuh, Shikamaru telah berdiri tak jauh dari sana. Dengan nafas naik turun yang segera disusul oleh segerombolan petugas bergerak cepat melumpuhkan satu-satunya Uchiha yang masih hidup di dunia. Shikamaru masih memegang pistol di tangan kanannya tanpa banyak bergerak. Tenggorokannya serasa tertahan di satu titik.

Untuk pertama kali sepanjang karirnya, Shikamaru memiliki sebuah momen untuk membanggakan nilai yang ia peroleh dari sesi menembak.

"Padahal kau temanku, Sasuke..." Shikamaru mengeluh lirih, meski tetap terdengar pada akhirnya.

"Kau tidak akan mengerti, Shikamaru!" Sasuke meracau dan memberontak dalam teriakannya, "Kau tidak menyayangi Dobe seperti aku menyayanginya! Harusnya sekarang dia masih hidup, Shikamaru! Dan orang-orang keparat itulah yang seharusnya mati! Mereka merampas Naruto dariku!"

Shikamaru tak menyahut lagi. Lidahnya kelu. Kemampuannya mendebat hanya sampai disini saja. Ia kecewa. Sangat kecewa.

Shikamaru baru bergeming beberapa saat kemudian. Ketika Sasuke telah diamankan dan dibawa pergi oleh petugas, saat itulah Sasori berlarian panik, meraih tubuh keponakannya yang melemas sedari tadi. Demikian eratnya lelaki berambut merah itu memeluk, menciumi dan mengusap-usap rambut Temari sambil berkicau tak karuan.

"Temariku sayang, kau tidak apa-apa 'kan?" sambungnya beruntun, "Maafkan pamanmu yang bodoh ini. Aku memang bodoh sekali. Aku hampir membuatmu mati. Temari, tolong katakan sesuatu. Katakan sesuatu, Manis. Apa kau terluka? Bagian mana yang sakit? Aduh, bagaimana ini? Ayahmu pasti akan menyekapku di dalam kulkas, Karura akan melempariku dengan panci, dan Kankuro akan mengajak Gaara mengeroyokku sampai babak belur. Ayolah, Temari. Aku mohon, katakan sesuatu!"

Temari tak menyahut. Masih shock, tampaknya.

Sasori kebingungan. "Tamatlah riwayatku..." gumamnya pelan.

-x-

-x-

-x-

Kediaman Uchiha mendadak ramai di tengah malam. Sama seperti beberapa hari sebelumnya, rumah itu ramai oleh petugas kepolisian. Kamar tamu kini dihuni beberapa orang manusia.

Selembar selimut tebal tersampir di pundak Temari yang terduduk lesu. Perlahan sekali darah masih mengalir dari sela kuku jarinya. Sasori sibuk meneriaki Anko untuk memanggilkan petugas medis. Akibatnya ia malah balas diteriaki oleh Hayate yang tengah meneleponnya dan mengira dirinyalah yang sedang diteriaki.

Butuh waktu cukup lama bagi Sasori untuk meminta maaf.

"Jujur, aku tidak mengerti" kata Sasori "Bagaimana kau bisa tahu kalau Sasuke pelakunya?"

"Dia punya kesempatan," itulah penjelasan Shikamaru "Sasuke ada di Suna beberapa minggu lalu. Ia punya kesempatan untuk membunuh Deidara. Saat Nenek Chiyo mengatakan bahwa dia melihat seseorang yang mirip dengan Sasuke, perempuan tua itu sedang dibohongi oleh kepikunannya. Kalau yang dilihat Chiyo adalah Itachi, mana mungkin Itachi mengundang Deidara ke rumahnya sore itu? Mestinya kalau itu benar Itachi, berarti Itachi sudah tahu kalau Deidara tewas. Yang Chiyo lihat bukanlah orang yang mirip Sasuke, tapi memang Sasuke sendiri. Dia juga sudah berada di Konoha selama hampir seminggu pada hari kematian Itachi. Yang berarti bahwa dia punya kesempatan untuk membunuh Tenten. Saat Hidan tewas dia juga punya kesempatan. Perjalanan dari sini yang harusnya memakan waktu enam jam molor menjadi tujuh jam. Dia sendiri mengeluhkan soal pemakaman yang baru berakhir pukul setengah lima. Harusnya dia menyusul kami pukul setengah sebelas, bukan setengah dua belas."

"Kalau Itachi?" Sasori penasaran "Bagaimana caranya membunuh saat kau ada disana? Dan lagi, Itachi itu 'kan kakaknya sendiri. Tega benar Sasuke itu. Tidak kusangka."

Tepat sekali. Tidak seorangpun menyangka bahwa ternyata Sasuke lebih menyayangi Naruto daripada Itachi.

"Bisa dibilang dia membunuh Itachi di depan hidungku," jawab Shikamaru "Saat aku keluar mengambil sekaleng bir untuk Itachi."

"Tapi Kiba bilang Itachi masih hidup pada pukul enam kurang sedikit," sela Sasori.

"Pencinta anjing itu? Ingatkan aku untuk menjitak kepalanya, Inspektur."

Dahi Sasori berkerut, "Waktu kau bilang kalau ada satu kesaksian yang tidak sesuai, yang kau maksud adalah kesaksian Kiba?"

Shikamaru mengangguk.

"Dia berbohong?"

"Tidak. Dia tidak punya alasan untuk berbohong."

"Dia salah dengar?"

"Tidak. Itu memang suara Itachi. Pendengarannya bagus."

"Lalu?"

"Itu memang suara Itachi. Tapi bukan Itachi yang bersuara. Suara perempuan yang jadi lawan bicaranya juga aku yakin bukan suara Deidara ataupun Ino."

Sasori makin penasaran, "Maksudmu?"

"Apa Inspektur masih ingat pernyataan Ayame dan Tsunade?"

"Ya."

"Sudah jelas, kan? Bukan Itachi yang bersuara. Itu suara TV."

Sasori diam. Shikamaru menyambung lagi, "Sore itu aku keluar dari kamar Itachi lebih dulu dari Sasuke. Dia membereskan barang-barang yang berserakan diatas meja. Diantaranya ada secarik kertas, pulpen, dan remote TV. Dia yang menyalakan TV itu setelah aku keluar. Itachi sudah tewas. Dan aku juga lalai soal jendela yang dia bilang sudah dikuncinya. Sasuke berbohong. Dia tidak pernah mengunci jendela itu. Tak heran kalau Ino bisa kabur lewat sana begitu cepat."

Betapa lucunya ketika melihat Sasori manggut-manggut sendiri. Pada hari kematian Itachi, Sasuke memang telah membuktikan kemampuan pendengaran Kiba, meski entah dengan sengaja atau tidak. Dan Tsunade jelas mengatakan pada hari pemeriksaan bahwa ketika ia masuk ke kamar Itachi, pemuda itu sedang menonton dorama yang dibintanginya sendiri. Mengenai jendela di kamar Itachi, hanya Sasuke sendirilah yang berkoar bahwa jendela itu telah terkunci, dan tak seorangpun bisa dikonfirmasi atasnya.

Tinggal satu hal yang harus Sasori tanyakan.

Motif.

"Lantas apa motifnya? Jangan katakan padaku kalau ternyata Sasuke itu seorang psikopat."

Shikamaru melirik ke arah Temari sebelum menjawab. Ada sesuatu hingga sedikitpun gadis itu tak berani menatap balik ke arahnya. "Kau mau tahu apa motifnya, Inspektur?"

"Tentu saja!" seru Sasori yakin.

"Kalau begitu tinggalkan kami berdua disini sebentar," pinta Shikamaru, "Biar kucari tahu apa motifnya."

Sudah pasti Sasori berniat memprotes permintaan itu. Kedengarannya seperti Shikamaru sedang mencurigai Temari atau menuduhnya terlibat sesuatu. Namun belum sempat kalimat protes itu keluar dari mulut Sasori, Temari telah menarik pergelangan tangannya.

"Tinggalkan kami sebentar, Paman" kata gadis itu, "Tidak apa-apa."

Butuh tiga detik bagi Sasori untuk menimbang. Pada detik keempat pria berambut merah itu sudah bangkit dan berlalu seiring suara pintu yang menutup.

Cukup. Tidak ada lagi orang lain di kamar itu. Tinggal mereka berdua. Degup jantung Temari mulai kembali berpacu ketika memikirkan percakapan macam apa yang Shikamaru inginkan dengannya. Masih saja gadis itu tak berani menatap balik si genius muda. Temari tetap terduduk lesu ditepi ranjang kamar tamu sementara Shikamaru bersandar pada pinggiran meja rias diseberang ranjang tersebut.

"Hidan salah sangka," Shikamaru memulai "Maafkan aku. Kalau saja aku bisa membaca pesan itu lebih cepat, kau takkan perlu berhadapan dengan Sasuke dalam kondisi seperti tadi."

"Tak apa," sahut Temari basa-basi "Mungkin ini sudah waktunya aku berhenti memakai cincin peninggalan ibu. Biar lain kali kukalungkan saja di leherku."

"Kurasa bukan cincin itu masalah utamanya. Pokok persoalannya adalah karena Hidan lupa siapa namamu."

Temari hanya ber'oh' ria sembari menunduk.

"Apa itu berarti kau membenarkan pernyataanku barusan?"

Kali ini Temari mendongak, "Pernyataan yang mana?"

"Tadi aku bilang Hidan lupa siapa namamu, bukan tidak tahu siapa namamu."

"Apa itu berbeda?"

"Sangat. Kalau dia lupa siapa namamu, berarti dia pernah mengenalmu sebelumnya. Kalau dia tidak tahu siapa namamu, berarti kalian belum pernah saling kenal sama sekali."

Temari diam. Mungkin di lubuk hati gadis itu rasa gelisah mulai menjalarinya.

"Kau bilang sepuluh tahun lalu kau datang ke Konoha," Shikamaru meneruskan "Apakah pada tanggal sepuluh Oktober itu kau ada disini?"

Temari tak menyahut.

"Aku tahu kau paham betul kemana arah pertanyaanku ini," berikutnya Shikamaru menyerang tanpa basa-basi "Naruto tidak mati bunuh diri, kan?"

Sekali lagi, Temari diam tak menyahut.

"Kalian membunuhnya?"

"Tidak!" Temari terlonjak seketika, "Tidak ada yang membunuhnya! Itu kecelakaan!"

"Kalau itu memang kecelakaan, lantas kenapa kalian melaporkannya sebagai tindakan bunuh diri?"

Mati langkah. Demikianlah posisi Temari sekarang.

Terpojok sudah gadis itu. Tak ada pilihan lagi selain menceritakan semuanya dari awal.

"Aku tiba di Konoha tanggal 9," Temari memulai "Kerja sama antar sekolah dan festival tahunan Konoha memaksa sekolahku untuk mengirim seorang siswa kemari. Dan yang dikirimkan itu adalah aku. Hari berikutnya aku datang ke sekolah tersebut. Disana aku dibawa menuju ruang latihan klub drama dan diperkenalkan pada para anggotanya yang kebetulan ada disana hari itu. Di Suna, aku juga seorang anggota klub drama. Aku baru ingat sekarang, mereka yang kutemui disana hari itu adalah Naruto, Itachi, Hidan, Tenten, dan Deidara. Itachi dan Hidan adalah yang paling senior diantara kami."

"Itu hari ulang tahun Naruto," sela Shikamaru.

Temari mengangguk dan meneruskan, "Aku tidak bisa mengingat banyak. Semua orang mengucapkan selamat padanya. Lalu aku ikut-ikutan saja. Kudengar Naruto juga aktif dalam kelompok pencinta alam. Adalah ide Itachi untuk menghadiahinya pisau lipat itu. Pisau lipat bermata dua yang pada gagangnya diukir nama Naruto. Katanya benda itu adalah yang paling berguna ketika kita sedang berkemah di gunung. Beberapa menit setelahnya mereka mengajakku untuk foto bersama."

"Lalu?" Shikamaru kembali menyela karena setelahnya Temari mengambil jeda yang cukup lama.

"Kau tahu permainan truth or dare?"

Shikamaru menebak, "Mereka menyuruh Naruto melakukan sesuatu?"

Temari mengangguk sekali lagi. "Itachi menantangnya untuk memanjat atap sekolah-" nafas Temari seakan tertahan disini, "...padahal dia tahu kalau Naruto takut ketinggian…"

"Dan Naruto jatuh?"

"Ya, dia jatuh. Kami semua panik. Tenten menangis histeris. Hidan mengumpat tak karuan. Deidara mondar-mandir tanpa tujuan. Lalu tiba-tiba saja Itachi mengutarakan idenya untuk melaporkan hal ini sebagai tindakan bunuh diri."

"Karena kalian semua takut dipersalahkan?"

"Begitulah. Tidak ada saksi lain yang melihat kejadian itu. Teriakan Naruto juga teredam aktivitas check sound di sisi lain gedung sekolah. Kami kemudian bersepakat untuk melupakan semuanya. Dan sampai beberapa saat lalu, aku memang sudah benar-benar lupa."

"Lantas darimana Sasuke tahu?"

"Entahlah. Tidakkah seharusnya aku yang bertanya? Bukankah saat itu Sasuke ada di Oto bersamamu? Bagaimana dia bisa tahu?"

"Ya, saat itu dia memang di Oto bersamaku. Dan karena Naruto hidup sebatang kara, Sasuke mewarisi semua yang dia punya. Termasuk pisau lipat itu."

"Mungkinkah Deidara yang memberitahunya? Sebelum dia dibunuh di coffee shop itu?"

"Bisa jadi. Yang namanya pegawai salon dimanapun juga memang selalu banyak bicara."

Ada jeda yang kembali tercipta. Shikamaru berpikir. Entah apa yang dipikirkannya. Sedangkan Temari diam menunggu. Menunggu apa yang akan dikatakan Shikamaru setelah ini.

Tapi sepertinya Temari tak cukup sabar untuk menunggu. Ditanyakannya, "Apa kau akan melaporkanku?"

"Melaporkanmu pada siapa?"

"Polisi," lanjut Temari, "Bahwa aku ikut menutup-nutupi kematian Naruto."

"Saat ini tinggal kau yang masih hidup," sambung Shikamaru "Simpanlah sendiri kenyataan pahit itu sampai kau mati."

"Tapi sekarang kau ikut mengetahuinya."

"Ya. Dan Sasuke juga tahu. Kuharap aku bisa mencari cara agar dia tidak mengatakan motifnya. Tapi itu jelas mustahil" kemudian Shikamaru menemukan celah, "Berapa usiamu saat itu?"

"Kurasa sekitar 18 tahun."

"Tepatnya?"

Temari tampak menghitung dan mengingat-ingat, "Tujuh belas tahun lebih sembilan atau sepuluh bulan."

"Bagus," Shikamaru menyimpulkan "Tindakanmu hanya akan dianggap sebagai kenakalan remaja. Berdoa saja supaya kepolisian Suna tidak mempersoalkan masa lalumu itu. Lagipula Sasuke tak punya bukti bahwa motifnya itu betul-betul beralasan. Semua orang yang bisa mengiyakan tendensinya sudah terbunuh, kecuali kau seorang. Selama memungkinkan, sangkal saja semua yang dikatakannya."

"Kenapa aku terdengar seperti penjahat begitu? Pada kenyataannya aku kan memang tidak tahu apa-apa. Kenal dengan Naruto dan yang lainnya pun cuma beberapa jam saja."

"Sudahlah, jangan protes. Selama kau bisa menyangkal aku juga akan mengubur rahasia ini bersamamu."

"Benarkah? Apa kau tak membenciku? Naruto itu temanmu, kan? Sasuke juga."

Harusnya Temari tahu bahwa Shikamaru adalah orang yang pikirannya cukup bijak. Kata pemuda itu, "Karena seperti yang kau katakan, aku yakin bahwa sebenarnya kau memang tidak bersalah. Bahkan kau tak tahu kalau Naruto takut ketinggian. Keberadaan pisau lipat itu juga tanpa campur tanganmu. Dalam hal ini keterlibatanmu bisa dianggap sebagai collateral damage," kemudian Shikamaru terlihat menarik nafas dalam, "Aku memang tak bisa sepenuhnya membenarkan tindakan yang kalian berlima lakukan. Tapi aku juga tak bisa membenarkan tindakan yang Sasuke lakukan pada mereka."

"Dengan ini aku berhutang budi padamu," ujar Temari.

"Jangan katakan hutang budi. Kau akan menyesal nantinya. Karena berhutang budi pada orang sepertiku bisa sangat mahal ganjarannya."

Dahi Temari berkerut tak mengerti, "Maksudmu?"

Shikamaru menyeringai, "Bagaimana kalau aku memintamu membayar hutang budi itu dengan seluruh sisa hidupmu?"

"Seluruh sisa hidupku?" tanya Temari mengonfirmasi.

"Ya, seluruh sisa hidupmu. Di sisiku."

Disaat Temari belum bisa sepenuhnya mencerna keadaan, disaat itulah Shikamaru bergerak mendekatinya. Jujur, pemuda itu tidak berniat melakukan hal yang aneh-aneh sama sekali. Hanya sebuah kecupan singkat di pipi sebagai tanda peduli. Namun sayang, waktunya tidak tepat. Persis ketika wajah keduanya nyaris tak berjarak lagi, Sasori masuk ke kamar itu tanpa mengetuk pintu ataupun mengucapkan permisi. Seketika itu pula jiwa ke'paman'an Sasori meluap tak terkendali.

"Dasar kambing kau! Shikamaru! Apa yang kaulakukan pada keponakanku?"

Ups, sial.

Tabahkanlah dirimu, Shikamaru. Ini baru pamannya. Bagaimana dengan ayahnya? Lalu ibunya? Dan tidakkah kau ingat, Temari juga punya sepasang adik laki-laki. Bagaimana dengan mereka?

Baiklah. Mungkin ini adalah giliranmu untuk berlari menyelamatkan diri.

-x-

-x-

-x-

-x-x-

-x-x-x-

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

-x-x-x-

-x-x-

-x-

-x-

-x-

a/n: inilah susahnya menulis fict bergenre crime. Saya harus rela menyelipkan a/n yang cukup panjang.

Sebenarnya sejak awal sudah banyak yang bisa menebak bahwa pelakunya adalah Sasuke. Wah, reader-reader saya ternyata cerdas sekali!

Soal cincin yang dipakai Temari, sudah saya sebutkan sejak awal Temari muncul. Jadi jangan salahkan saya soal kesalahpahaman Hidan. Dan waktu sepuluh tahun jelas cukup untuk membuat Hidan lupa nama orang yang dikenalnya selama beberapa jam saja.

Soal kesempatan Sasuke membunuh Tenten dan Deidara, sudah saya singgung juga di chapter I. Sasuke mengakui sendiri kalau dia sudah hampir seminggu di Konoha dan sempat mampir ke Suna beberapa minggu sebelumnya.

Soal jejak kaki di jendela, itu memang jejak Ino. Dia keluar sebelum Neji dan Sakura masuk.Jangan salahkan Masashi Kishimoto-sensei kalau Ino dan Deidara memang mirip. Lalu kenapa Sasuke tidak benar-benar mengunci jendelanya? Untuk memberi kesan seolah pelaku datang dari luar. Yang mana, dalam hal ini lebih banyak orang menjadi berpeluang. Namun sudah saya jelaskan di chapter II, bahwa jejak di jendela itu hanya mengarah keluar kamar, tidak ada jejak yang terbukti mengarah masuk.

Dan soal TV yang menyala, Ayame dan Tsunade adalah saksinya. Yang didengar Kiba adalah suara Itachi ketika berakting dengan lawan mainnya di TV. Saya juga telah menyebutkan di chapter I semua benda yang berserakan di atas meja. Adakah yang berpikir kalau remote TV itu saya sebutkan tanpa tujuan?

Soal kesempatan Sasuke membunuh Hidan, sudah saya singgung di chapter IV. Seperti yang dikatakan Shikamaru, perjalanan makan waktu enam jam. Sasuke menyusul Temari dan Shikamaru pukul setengah dua belas, padahal dia sendiri bilang kalau pemakaman berakhir setengah lima. Harusnya dia tiba disana satu jam lebih cepat. Bahkan bisa jadi lebih cepat lagi, karena logikanya makin malam jalanan pasti makin lengang.

Soal telepon dari Hayate, sudah saya singgung juga soal Sasuke yang mengangkat telepon itu sambil memegang ponselnya yang terlihat menyala.

Dan soal foto bersama enam orang itu...ah, sudahlah. Sudah jelas, kan? Dari chapter I pun sudah saya sebutkan bahwa Temari ada dalam foto itu. Siapa lagi chara Naruto yang berkuncir empat? Ketika pertama kali bertemu Temari, Shikamaru bilang kalau dia merasa pernah melihatnya. Itu memang benar. Shikamaru melihatnya sekilas lewat foto diatas meja. Jadi, Shikamaru tidak pernah bermaksud untuk menggoda Temari.

Saya mohon jangan bantai saya, wahai para penggemar Sasuke. Saya juga menggemari chara yang satu itu. Sungguh. Wajahnya pernah menjadi wallpaper ponsel saya untuk waktu yang cukup lama, sebelum saya ganti dengan si cantik Kallen Stadtfeld beberapa waktu lalu. Meski demikian, saya bersedia memberikan alamat saya di Kudus kalau anda mau datang dan memaki saya.

Last but not least, terima kasih banyak kepada semua yang telah bersedia mengikuti jalannya fict ini dari awal, tengah, maupun akhir. Kesempatan terakhir untuk mereview Save Nara, saya persilakan.

-x-

Mungkin, fict berantakan ini butuh sebuah sekuel.