Discalimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Sasuke POV
Malam hari dimana orang-orang masih berisik ditengah pesta kak Itachi, aku mengurung diri dikamar, rasanya pusing sekali menahan marah, memang lebih baik dikeluarkan, tapi tidak mungkin aku marah-marah didepan umum hanya karena cemburu, bisa-bisa harga diriku jatuh. Selagi aku mendinginkan kepalaku, ada seseorang yang mengetuk pintu.
'aargghh…siapa lagi sih' gerutuku dalam hati, tapi ketika aku buka pintu kamarku, gerutuku yang tadi terlintas, sekarang berubah menjadi sennag, karena Sakura sekarang sedang berdiri dihadapanku.
"Mau apa?" tanyaku yang tetap menjaga perasaanku agar tidak terlihat senang.
"Ehm, aku hanya ingin tahu, apa kau baik-baik saja? Karena tiba-tiba kau menghilang ditengah pesta." Dia berbicara seolah mengkhawatirkan aku, ingin sekali aku berterima kasih padanya karena telah mengkhawatirkanku, tapi kalimat yang terucap dari bibirku lain.
"Buat apa kau mengkhawatirkanku? Kenapa tidak kau lanjutkan saja dansamu dengan pria Hyuuga itu." Kataku dengan ketus.
"Ah, maksudmu Neji?" jawab Sakura yang malah menyebut namanya.
"Neji? Sepertinya kau sudah akrab sekali yah dengannya." Aku makin panas mendengar nama Neji keluar dari mulut Sakura.
"Iya, tadi aku sempat berbincang-bincang dengannya, ternyata dia anak yang baik, kau kan bilang padaku, aku harus terbiasa berbicara dengan orang, aku ingin berterima kasih padamu karena telah mengingatkanku." Mendengar Sakura berbicang-bicang dengan Neji membuatku sangat marah.
"Oh, jadi kau berterima kasih padaku, karena berkat aku kau bisa akrab dengan si Hyuuga, jadi kau suka padanya, kalau begitu selamat! Silahkan kau menghabiskan waktumu bersamanya, kau membuatku risih!" Aku tidak bisa mengontrol amarahku, akhirnya aku melimpahkannya pada Sakura. Ternyata omonganku cukup menyakitkan bagi Sakura yang baru belajar ingin bersosialisasi.
"Em, maaf, sepertinya aku mengganggu istirahatmu, aku permisi." Setelah mengucapkan itu dia lari, sepertinya aku telah menyakitinya.
Sakura POV
'aku hanya ingin berterima kasih padanya karena nasehatnya, tapi kenapa dia begitu dingin, omongannya sangat menyakitkan, padahal tadi dia begitu baik padaku.' Aku berjalan menuju bawah dengan menahan air mataku, entah kenapa kalimat Sasuke begitu menyakitkan, aku berdiri ditangga dan melihat ditengah pesta tinggal orang-orang dewasa, aku lelah sekali. Ingin rasanya aku kembali ke kamar dan istirahat. Akhirnya aku memutuskan untuk meminta izin pada paman Fugaku untuk beristirahat lebih dulu, dan bersyukur paman Fugaku mengizinkannya. Akhirnya aku berjalan menuju kamarku, membuka gaunku dan mencuci mukaku, lalu merebahkan tubuhku diatas kasur, kasur yang begitu nyaman sehingga cepat membuatku terlelap.
Normal POV
Sakura bangun dipagi hari, dia pergi ke taman belakang untuk menunggang kuda, karena dia sudah belajar jadi tidak ada kesulitan baginya menunggang kuda sendirian. Sakura menghampiri kandang kuda dan mengambil kuda putih kesayangannya, dan dia menunggangi kudanya, ketika kudanya berjalan menuju danau, dia melihat Sasuke sedang duduk sendiri bersama kudanya di pinggir danau, akhirnya Sakura menghampiri Sasuke.
"Sedang apa pagi-pagi begini?" tanya Sakura lembut terhadap Sasuke.
Sasuke menoleh kearahnya sambil melempar batu ke danau.
"Menghirup udara segar." Jawabnya dengan ketus.
"Boleh aku duduk disampingmu?" tanya Sakura kembali.
Sasuke tidak menjawab, dan Sakura duduk disamping Sasuke. "Hei, memangnya aku mengizinkanmu duduk disampingku?"
"Ah, maaf." Dan Sakura kembali berdiri, tapi tangannya ditarik oleh Sasuke dan itu membuatnya terjatuh duduk lagi disampingnya. "Aku Cuma bercanda." Ucap Sasuke.
Sakura menempatkan dirinya disamping Sasuke dan mengikuti apa yang Sasuke lakukan yaitu melempar batu ke danau.
"Maaf yah, tentang tadi malam…" kata Sasuke yang tiba-tiba bicara.
"Ya, tidak apa, kamu pasti lelah kan, makanya emosi." Jawab Sakura.
"Sepertinya sekarang kau sudah banyak bicara yah." Kata Sasuke pelan.
"Yah, ini berkat kamu, omonganmu terus terngiang dikepalaku, lagipula, aku tidak enak pada paman dan bibi kalau terus menerus seperti itu." Jawab Sakura.
"Oh, begitu." Sahut Sasuke.
Keadaan jadi sunyi, yang terdengar hanyalah suara hembusan angin di pagi hari, Sakura ingin sekali menanyakan siapa sebenarnya Ino itu, begitu pula Sasuke, dia ingin sekali menanyakan apa yang dibicarakan Sakura dan Neji pada malam itu. Tapi mulut mereka seperti ada yang menguncinya, dan tanpa disengaja, jari Sasuke sedikit menyentuh jari Sakura, Sakura menyadarinya, tapi dia berlagak tidak tahu, dia tidak bergerak, dengan memberanikan diri Sasuke menggenggam tangan Sakura perlahan-lahan, dan Sakura pun menjawab genggaman itu dengan mempererat tangannya pada Sasuke, entah disadari atau tidak, keadaan mereka ini seperti sedang jatuh cinta satu sama lain, Sasuke memang mencintai Sakura, tapi Sakura tidak menyadari perasaan Sasuke, maupun perasaannya sendiri.
Sakura POV
Saat dia menggenggam tanganku, jantungku berdegup sangat kencang sehingga rasanya ingin melompat keluar, aku tidak pernah merasakan hal seperti ini pada kak Itachi, sebenarnya ada apa dengan jantungku ini.
'sepertinya aku harus membicarakan hal ini pada kak Itachi.' Pikir Sakura.
Normal POV
Ketika mereka sedang menikmati suasana itu, tiba-tiba seorang pelayan memanggil mereka dari kejauhan, dan itu membuat mereka spontan melepaskan tangan mereka masing-masing.
"Tuan Sasukeee, Nona Sakuraaa, sarapan sudah siaaap" teriak pelayan itu.
Ketika mereka menuju ruang makan mereka, terlihat satu anggota baru yang muncul diruangan itu. Ino.
Dia pun menempati tempat duduk Sakura yang berada disamping Sasuke, yang telah Sakura tempati selama 10 tahun, akhirnya Sakura menempati kursi yang disamping Itachi.
"Kenapa dia disini?" tanya Sasuke ketus.
"Sasuke, jangan begitu kepada Ino, dia menginap disini tadi malam, katanya dia kangen pada kami, makanya dia menginap." Jelas Mikoto.
"Ini Sakura." Kata Itachi mengambilkan minum kepada Sakura.
"Terima kasih kak." Ucap Sakura.
"Waaah, kalian itu mesra sekali yah, aku bisa merasakan auranya." Kata Ino tiba-tiba berkomentar.
Suasana di ruang makan tiba-tiba menjadi canggung karena perkataan Ino, Itachi mencoba untuk mengubah topic, karena dia sadar Sasuke sudah memasang wajah tidak enak.
"Ino, bagaimana suasana di…"
"Hei Itachi, apa kamu ada rencana untuk menikahi Sakura? Berhubung kalian tidak ada hubungan darah, jadi bisa dong kalau kalian menikah, Sakura selain cantik, dia juga pintar dan elegan, sangat pantas untukmu Itachi yang anak sulung keluarga Uchiha." Kata Ino memotong omongan Itachi. "Sakura juga pasti suatu kehormatan kan untuk menerimanya, ya kan Sakura?"
Sakura terkejut Ino menanyakan hal seperti itu didepan paman dan bibi Uchiha, tidak mungkin Sakura mengelak didepan mereka.
"Iya, tentu saja." Kata Sakura tersenyum.
Melihat Sakura yang mengiyakan perkataan Ino membuat Sasuke kembali bad mood.
"Aku sudah kenyang." Ucap Sasuke sambil beranjak dari kursinya.
"Sasuke, kau bahkan tidak menyentuh makananmu." Kata sang Ibu.
Tapi tidak ada tanggapan dari Sasuke, dia pergi ke kamarnya dengan perasaan kesal, baru tadi dia merasakan suasana yang nyaman bersama Sakura, tapi Ino dengan sekejap merusaknya dengan sempurna.
"Kalau begitu, Sakura kau pasti menyukai Itachi kan." Tanya Ino yang masih melanjutkan perkataannya.
"Ah…Aku.." Sakura gugup menjawabnya.
"Sudah pasti, kalau tidak kau tidak mungkin menjawab iya tadi kan.."
"Ino cukup!" bentak Itachi tiba-tiba. Sakura kaget melihat Itachi seperti itu, karena setahunya Itachi adalah orang yang sangat lembut.
Setelah itu Itachi juga kembali ke kamarnya, yang tersisa adalah pasangan suami-istri Uchiha, Sakura dan Ino.
"Apa aku mengucapkan sesuatu yang salah?" tanya Ino sambil menyantap makanannya.
Fugaku dan Mikoto hanya menghela nafas karena sudah tahu sifat Ino. Sakura yang merasa tidak enak terus kepikiran Sasuke dan Itachi, apa yang harus dia lakukan agar mereka bisa kembali seperti semula suasananya.
"Oh iya Sakura, kau berangkat denganku yah, aku juga masuk Konoha academy." Ajak Ino.
"Ah…iya." Jawab Sakura.
"Aku siap-siap dulu yaaah." Kata Ino meninggalkan ruang makan.
"Sakura, jangan dimasukkan dalam hati tentang perkataan Ino yah, dia memang seperti itu." Kata Mikoto.
"Iya, tidak apa bi." Jawab Sakura lembut.
Sakura pun kembali menuju kamarnya, dia bersiap-siap untuk berangkat sekolah, Sakura sangat kepikiran tentang Sasuke dan Itachi, bisa-bisanya Ino mengatakan hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Sakura selama ini. Sakura membuka pintu kamarnya, dan kebetulan sekali Sasuke melewatinya.
"Ah, Sasuke." Tiba-tiba Sakura memanggilnya, dan Sasuke menoleh kearah Sakura. "Ng..anu…kita berangkat bareng kan?" tanya Sakura gugup.
"Hahaha…tentu saja, biasanya juga kan bareng." Kata Sasuke yang tersenyum.
'Ah, Sasuke tersenyum, itu artinya dia tidak marah lagi.' Pikir Sakura.
"Sasukeee.. aku duduk diampingmu yaah." Teriak Ino dari bawah.
"Ck, menyusahkan saja." Gumam Sasuke, ketika Sasuke berjalan melewati Sakura, tanpa disadari Sakura menahan lengan Sasuke.
Sakura POV.
Ketika aku mendengar Ino ingin duduk disampingnya, entah kenapa aku tidak rela, dan tiba-tiba aku menahan lengan Sasuke, dan itu membuat Sasuke berhenti dan memandang aneh padaku.
"Sakura? Kau tidak apa?" dia mendekatkan wajahnya padaku, aku sudah tidak kuat menahan jantungku yang begitu kencang. Akhirnya aku melepaskan genggamanku,
"Ahahahaa..tidak apa, sepertinya aku tidak masuk sekolah, aku tidak enak badan." Aku berbohong padanya.
"Sakura, kau bohong." Dia tahu aku bohong.
"Benar kok, sudah yah, hati-hati dijalan." Kataku gugup dan masuk kembali ke kamarku. Aku memegang dadaku yang berdegup sangat kencang.
'sakit, kenapa sakit sekali membayangkan Ino dan Sasuke pergi berdua? Aku tidak suka rasa sakit ini.' aku berlari menuju kasurku dan membantingkan tubuhku disana. Aku memejamkan mataku sejenak, dan tiba-tiba ada yang mengetuk kamarku.
"Masuk." Kataku memberi izin.
"Anak nakal, kenapa tidak pergi kesekolah?" kak Itachi datang menghampiriku.
"Ah, kak Itachi." Kak Itachi menghampiriku dan duduk disebelahku. "Kakak sendiri tidak sekolah?"
"Mendengar kata Sasuke kau tidak enak badan, aku langsung kesini." Jawab kak Itachi dengan lembut. "Ada apa sebenarnya Sakura?"
Kak Itachi menanyaiku seolah tahu kalau aku sedang merasakan hal yang aneh.
"Ini aneh kak." Kataku sambil memeluk kak Itachi.
"Hahaha…aneh kenapa?" kata kak Itachi sambil mengelus kepalaku.
"Aku tidak tahu, setiap aku bersama Sasuke, jantungku berdebar sangat kencang, aku suka debaran itu, dan juga setiap membayangkan Sasuke berduaan bersama Ino, jantungku juga berdebar kencang, tapi debarannya terasa sakit, aku tidak suka debaran yang itu." Aku menjelaskan isi hatiku pada kak Itachi.
Kak Itachi mendorongku pelan, dia memegang kedua bahuku dan memandangku dengan lembut.
"sakura, aku ingin bertanya padamu, apa yang kau rasakan saat kau bersamaku?" tanya kak Itachi lembut.
"Ng…nyaman, aku senang karena kak Itachi hangat." Jawabku padanya.
"Dan bagaimana perasaanmu saat bersama Sasuke?" tanya kaka Itachi lagi.
"Hhmm… saat aku bersamanya, jantungku berdegup sangat kencang, dan seperti merasakan sesuatu yang…" aku tidak bisa menjelaskan lebih detil.
"Sakura, apa yang kau rasakan pada Sasuke, sama dengan apa yang kurasakan padamu selama 10 tahun ini." Jawab kak Itachi tiba-tiba.
Aku benar-benar tidak mengerti maksud kak Itachi apa.
"Itu artinya, kau mencintai Sasuke." Kata kak Itachi yang akhirnya menjawab kebingunganku.
"Haa? Tidak mungkiin." Aku sangat terkejut mengetahui kalau aku cinta pada Sasuke.
"Kenapa tidak mungkin? Coba kau pikirkan baik-baik, yah…aku berangkat ke sekolah dulu, sampai nanti." Begitu kak Itachi keluar, aku menutup wajahku memakai bantal.
'Aku mencintai Sasuke? Tidak mungkin, aku hanya menganggap Sasuke sebagai kakakku, tidak! Akku menganggap sebagai kakak hanya terhadap kak Itachi.' Aku sangat bingung, aku melihat wajahku ke cermin dan wajahku saat ini sangat merah merona. Bagaimana bisa kak Itachi menyimpulkan kalau aku mencintai Sasuke, bahkan kak Itachi tidak punya pengalaman mencintai seseorang, tapi ada satu kalimat dari kak Itachi yang terlintas di kepalaku.
'Sama dengan apa yang kurasakan padamu selama 10 tahun ini' aku menutup mulutku yang terkjut.
'Tidak mungkin, kak Itachi mencintaiku? Mustahil…bagaimana bisa…' sungguh hal ini membuatku bingung, aku selalu berfikir bahwa aku tidak pantas untuk keluarga Uchiha, karena aku berasal dari keluarga yang biasa saja. Kak Itachi sudah sangat baik padaku, bahkan dia selalu melindungiku. Ketika aku melihat cermin dan memikirkan Sasuke, wajahku kembali merona. Dan aku mengakuinya, aku memang mencintai Sasuke.
Lalu aku harus bagaimana? Apakah Sasuke mencintaiku? Aku tidak boleh berharap.
Normal POV
Itachi berjalan di koridor sekolahan dan menemukan Ino yang sedang berbicara dengan Sasuke.
"Heii…kalian akrab sekali." Goda Itachi.
"Candaanmu tidak lucu." Jawab Sasuke ketus.
"Oh iya, gimana keadaan Sakura?" tanya Ino.
"Sudah membaik, dia sangat manja padaku ketika aku melihatnya tadi," pancing Itachi menatap Sasuke.
"Baguslah, aku pikir dia kenapa." Ucap Sasuke dengan nada dingin.
"waah, kamu sangat memanjakannya yah Itachi, benar-benar calon suami yang baik." Goda Ino.
"Hentikan omonganmu tentang hal seperti itu!" teriak Sasuke kesal.
"Loh, memangnya kenapa? Toh sakura juga tidak mempermasalahkannya kok." Jawab Ino.
"Ah, sudahlah, aku duluan yah, daah." Ucap Itachi.
Sasuke memandang Itachi dari belakang dengan kesal lalu dia menoleh kearah Ino.
"Dengar yah! Aku tidak akan melepaskan Sakura pada kakak!" bentak Sasuke kecil pada Ino.
"Oh ya? Bagaimana kalau ternyata Sakura mencintai kakakmu?" tanya Ino dengan wajah elegannya. Sasuke terdiam dengan pertanyaan Ino, perlahan Ino memegang bahu Sasuke dan membisik ditelinga Sasuke. "yang paling mencintaimu disini adalah. A.K.U…ingat itu." Setelah bicara seperti tiu Ino kembali ke kelasnya dengan wajah tersenyum.
Sasuke menempelkan keningnya ke jendela, dia memikirkan perkataan Ino, bagaimana kalau benar Sakura ternyata mencintai Itachi.
Sepulang sekolah.
"Uchiha." Panggil neji kepada Sasuke.
"Mau apa kau!" jawab Sasuke sewot.
"Sakura, kenapa dia tidak masuk?" tanya Neji.
"Ada apa kau menanyakannya? Tumben sekali." Tanya Sasuke sinis.
"Tidak, sejak pesta dansa itu, aku berbincang-bincang dengannya, jadi, aku sedikit tertarik padanya, bolehkan hari ini aku menjenguknya?" tanya Neji.
"Tentu saja boleeeeh, ayo bareng denganku." Sambung Ino dari belakang Sasuke.
"Aku yang punya rumah, jadi aku yang menentukan tamu yang layak datang atau tidak." Kata Sasuke.
"Aaah…sudahlah, ayo kita berangkat." Tarik Ino.
Ketika sampai dikediaman Uchiha.
"Selamat datang tuan Sasuke." Sambut pelayan rumah.
"Apa Sakura ada?" tanya Sasuke kepada pelayan rumah.
"Ada, Nona sedang ada di kolam renang." Jawab pelayan tersebut.
Neji tanpa basa-basi dia menghampiri Sakura di kolam renang yang letaknya di dalam ruangan.
"Sakura." Sapa Neji.
"Nejii..hai." sapa Sakura kembali.
Melihat Sakura yang begitu akrab dengan Neji, Sasuke merasa kesal, ingin sekali Sasuke mendorong Neji ke kolam sehingga dia terjatuh dan basah semuanya.
"Sepertinya si Hyuuga menyukai Sakura, sainganmu berat-berat yah." Ejek Ino.
Sasuke tidak menanggapi omongan Ino, mereka melihat Neji sedang berbicara pada Sakura.
"kau sakit?" tanya Neji.
"Tidak, hanya sedang malas kesekolah." Jawab Sakura pelan.
"Hei, besok kau meu ikut denganku tidak?" ajak Neji.
"Kemana?" tanya Sakura
"Ke taman bermain." Jawab Neji dengan tersenyum.
"Ng…" Sakura berfikir dan melihat kearah Sasuke seakan meminta izin darinya.
"Tidak ada hubungannya denganku kau mau pergi dengan siapa." Kata Sasuke yang langsung pergi meninggalkan mereka.
"Sasuke, kenapa dia?" tanya Neji.
"Tidak tahu!" jawab Sakura sedikit kesal karena Ino mengikuti Sasuke ke kamarnya. "Baiklah Neji, besok aku mau pergi denganmu."
"Serius? Baiklah, besok sepulang sekolah langsung berangkat yah." Ajak Neji.
"Oke." Jawab Sakura.
"Kalau begitu aku pulang dulu, masih banyak urusan." Pamit Neji.
"Iya hati-hati." Jawab Sakura.
Begitu Neji pergi, Sakura sangat penasaran, sebenarnya apa yang dilakukan oleh Sasuke dan Ino di kamarnya, tapi Sakura tidak mau memikirkannya lebih jauh, itu membuatnya sakit.
'buat apa aku memikirkannya, toh dia juga tidak peduli padaku kan aku mau pergi dengan siapa saja.' Gerutu Sakura dalam hati.
Tapi Sakura tidak bisa membohongin diri sendiri, dia mengakuinya kalau dia cemburu pada Ino yang bisa begitu dekat dengan Sasuke, Sakura memainkan air kolam itu memakai kakinya, dan terus memikirkan Sasuke, seolah Sasuke sudah mengontrol pikirannya.
"Sasuke, kau bodoh." Ucap Sakura sangat pelan.
yeeaayyy...karena malem-malem g bisa tidur, akhirnya terbuat deh chapter 5 ini...hehehehe...
makasih yah reviewnya, maaf kalo aku ngebuat Ino agak nyebelin, tadinya aku mau pake karakter Karin, tapi Karin mukanya ngga elegan...hahahahahaa...
makasih yah udah review...
c u...
luv u..mmuuaaahh
