Disclaimer: Masashi Kishimoto
Special fic for Mitsuhiko Zahra birthday (yang telat banget. gomen orz)
Warning: AU, OOC, gore.
Presenting :
Shira nai wa rojikku
.
Authors :
Momochi Mimi'san and Tsukimori Raisa
Konan terbangun di pagi hari saat matahari sedang enggan muncul. Konan bisa melihat, awan hitam gelap yang siap mengeluarkan tangisannya kapan saja sudah menggantung di langit sana melalui jendela besar yang ada di ruangan itu.
Ia sadar, ini bukan kamarnya. Ia tak tahu di mana ia berada. Yang ia tahu hanya kepalanya yang sedang pusing, dan ia tak memakai pakaian ketika ia hendak membuka selimut yang melilit tubuhnya. Konan meneguk ludahnya sendiri, kemudian langsung menutup kembali selimut biru itu untuk membalut tubuhnya.
Dingin. Konan mendongak dan melihat semburan asap kecil dari AC yang menempel di dinding di atasnya. Orang gila, di saat dingin seperti ini, menyetel AC dengan suhu yang sedingin ini. Konan memandang ke sekeliling. Ruangan ini bercat putih bersih dan tertata rapih.
Di seberang ranjang besar yang di tempatinya, ada sebuah lemari pakaian besar yang terbuat dari kayu ek dengan ukiran yang sederhana. Di sebelah kanannya, ada sebuah pintu berwarna sama dengan lemarinya, yang sedetik kemudian terbuka tanpa peringatan dan menjawab pertanyaan Konan sedaritadi.
"P-pein-sama?" tanya Konan bingung. "K-kenapa…"
"Kau sudah bangun Konan?" tanya Pein.
"Kenapa aku disini?" Konan balik bertanya.
"Kau tidak ingat?" Pein mengernyitkan dahinya. "Semalam aku mengajakmu ke rumahku dan kau tak menolak. Ingat?"
Konan menggeleng cemas. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya, ekor matanya melirik ke arah selimut yang membelit tubuhnya.
"Kau benar-benar tak ingat ya?" tanya Pein bingung, tapi tak bisa menyembunyikan nada senang dalam suaranya.
"Tidak. Apa yang kau lakukan? Kenapa aku disini?" Konan meninggikan nada suaranya.
"Tenang dulu sayang," kata Pein, berjalan mendekat kemudian duduk di ujung ranjang. "Kau pasti bisa menerka apa yang terjadi semalam. Coba kau ingat lagi."
"Kau.." Konan menggeser posisi duduknya, menjauh dari Pein. Matanya tertancap pada sosok itu, kemudian beralih pada tubuhnya. "Kau memperkosaku!"
"Tentu saja tidak," sahut Pein santai. "Aku tidak memaksamu. Jadi, jelas ini bukan tindak pemerkosaan. Kau melakukannya tanpa terpaksa bukan?"
"Tidak mungkin! Aku bahkan tidak mengenalmu secara keseluruhan!" jeritnya putus asa.
"Tapi kejadian semalam tidak dapat dipung-"
"Tidak‼" Konan menutup kedua telinganya.
"Konan…"
"Jangan mendekat!"
"Jangan begitu sa-"
"Menjauh kau!"
"Aku bisa mempertanggung jawabkan perbuatanku, Konan.."
"Bajingan kau!"
"Dengarkan aku dulu, Konan!"
Konan langsung terdiam. Napasnya terengah. Ia mencoba mencerna apa yang terjadi semalam, tapi hanya sedikit dari serangkaian kejadian yang diingatnya.
"Kalau kau hamil, aku siap menikahimu!" tegas Pein. Tapi bulir air mata yang terjatuh dari pelupuk mata Konan tak bisa dihidari. "Aku berjanji!"
"Kenapa kau melakukan ini, hah?" Konan maju, mencoba menampar Pein, tetapi lengannya dicekal oleh tangan Pein yang lebih besar dari tangannya.
"Karena kau tak menolak tentu," sahut Pein santai tanpa rasa bersalah dalam nada suaranya. Tangannya mencengkram tangan Konan kuat. "Dengar, aku akan menika-"
"Kau kejam! Biadab! Jelek!" Tangan Konan berusaha berontak, tapi usahanya sia-sia.
"Pernikahan berlangsung 3 bulan lagi," kata Pein tenang. "Aku janji."
Konan langsung diam. Mau janji seperti apapun juga, ia tetap tidak percaya dengan apa yang dikatakan lelaki di depannya ini. Terang saja, selama ini ia hanya mengenal lelaki itu sebagai bosnya yang baik. Hanya itu, tak mengenal lebih jauh dari itu.
Tapi mau bagaimanapun, Konan tak bisa menolaknya. Karena 1 bulan kemudian, Konan mulai merasa gejala ibu hamil, mual. Ibu Konan tak tahu apa yang terjadi pada anaknya. Saat Konan tak pulang ke rumah, ia hanya mengatakan pada ibunya kalau ia menginap di rumah salah satu temannya. Dan mulai hari itu, Pein terus berkunjung ke rumah Konan untuk membuat gadis itu percaya padanya.
Suasana di antara Pein dan Konan dingin, Konan sama sekali tidak merasa senang ketika lelaki itu berada di dekatnya. Jelas saja, karena ia masih tak bisa melupakan kejadian malam itu. Kejadian yang membuatnnya muak dengan tampang mesum Pein. Muak dengan mukanya yang penuh dengan pierching.
Begitu juga dengan ibunya, bingung kenapa tiba-tiba lelaki itu datang ke rumahnya dan melamar Konan. Ibunya sempat bingung, kenapa Konan mau menikah dengan orang itu. Tapi melihat tingkah anaknya yang semakin menyebalkan, suka uring-uringan, dan dingin, Tayuya―nama ibu Konan―langsung saja menerima lamaran itu. Walaupun dalam hati ia tak setuju dengan pernikahan yang akan berlangsung kurang dari 2 bulan itu.
Saat Pein membawa Konan ke dokter, ternyata hasilnya possitive, Konan hamil. Gadis itu tak lagi bekerja. Dan rasanya ia ingin sekali membunuh anak yang tidak di harapkannya itu. Ingin sekali rasanya membunuh Pein, mencabiknya, memutilasinya, dan memberikan potongan tubuhnya pada hewan-hewan di hutan sana. Kebenciannya tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, terutama karena kebiasaan buruk pria itu―suka mengupil.
Pein sudah berusaha untuk membuat Konan tersenyum dan bahagia, tapi sia-sia. Semua yang dilakukan Pein, tak ada satupun yang bisa mengubah kebencian Konan menjadi perasaan cinta. Jelas saja, satu-satunya orang yang Konan cintai hanyalah Sai seorang.
Dan belakangan ini, Konan tahu kebiasaan buruk Pein. Membaca majalah dewasa di waktu senggang. Dan itu membuatnya tambah ingin membunuh lelaki itu.
Menjelang kehamilan Konan yang ke 2 bulan, Pein malah pergi meninggalkannya ke Konoha. Kota terkutuk yang membuat kekasih sejatinya pergi meninggalkannya dan tak kembali. Alasan Pein pergi adalah, ingin mengurus pubnya disana yang katanya mengalami kemunduran. Ingin menyusun strategi baru untuk menarik para pengunjung.
Di satu sisi, Konan senang karena tak usah melihat wajah si Pein jelek itu. Tapi di sisi lain, ia cemas kalau-kalau Pein malah kabur dari tanggung jawab. Apa kata para tetangga nantinya, kalau anak dari Ibu Tayuya perutnya melendung tanpa ada seorang lelaki di sisinya sebagai suaminya?
Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya Konan mengijinkan Pein pergi selama seminggu dengan syarat ia menyerahkan kunci rumahnya ke Konan.
Hari-hari Konan tanpa Pein jauh lebih buruk. Ia tak bisa melupakan Sai, terus membayangkan wajah Sai yang tergeletak tak berdaya di atas lantai dengan tubuh yang terbakar. Ketika ia membayangkannya, ia langsung menangis dan muntah.
Konan terpuruk, uring-uringan, sensitif, dan menjadi mudah menangis. Bisa dibilang hampir gila. Namun 1 minggu itu bisa dikatakan waktu yang singkat, apa lagi kalau dibandingkan dengan 2 tahun.
.
.
Pein menyeret kopernya masuk ke dalam kereta. Jas hitamnya membuatnya kepanasan, tapi untungnya kereta yang ia tumpangi ber-AC, membuat rasa panasnya berkurang. Ia meraba saku jasnya, dan menemukan sebuah kotak kecil berisi cincin berlian yang ia beli untuk Konan, agar Konan tak bersikap dingin lagi. Sebenarnya ia masih agak ragu saat mengatakan kalau ia akan menikahi Konan, karena itu akan mempersulit hidupnya. Harus bolak-balik antara Konoha dan Amegakure untuk mengunjungi 2 istrinya secara bergantian.
Ya, Pein memang sudah mempunyai istri, yang kasusnya sama seperti Konan. Menikah denganya karena terpaksa. Dan belakangan ini, Pein mengabaikan istrinya itu.
Namun tampaknya anggapannya kalau pacar Konan sudah meninggal agak keliru. Karena saat ia memasuki kereta, hampir semua tempat duduk sudah penuh. Dan ia menemukan satu tempat duduk kosong di sebelah seorang pemuda pucat yang membawa koper dan ransel besar.
"Boleh aku duduk disini?" tanya Pein pada pemuda itu.
Pemuda itu menoleh. "Oh, tentu saja," jawabnya ramah. Namun wajahnya tak seramah suaranya, karena wajahnya begitu pucat dan kurus seperti orang stress.
"Wah, sepertinya barang bawaanmu banyak sekali ya," kata Pein, mencoba memancing pembicaraan. "Baru pindahan ya?"
"Oh?" Pemuda itu melirik koper dan ransel besarnya, tersenyum canggung. "Ya, tentu saja. Aku ini perantau."
"Perantau? Dari Amegakure? Atau dari Konoha?" tanya Pein, membuka jasnya yang membuat keringat di balik kausnya mengalir.
"Dari Konoha," jawab pemuda itu, lagi-lagi tersenyum canggung dan kaku. "Kau sendiri?"
"Oh, aku hanya jalan-jalan saja." dusta Pein, tersenyum. "Sekalian membelikan hadiah untuk calon istriku."
"Wah, calon pengantin baru ya?" tanya pemuda itu, berusaha ramah.
"Iya," sahut Pein, sedikit salah tingkah. " Eh iya, namaku Pein," lanjutnya seraya mengulurkan tangannya. Sementara kereta sudah mulai bergerak maju dengan perlahan, menimbulkan suara-suara berisik dari roda yang bergesekan di atas rel.
"Aku Sai." Sai menyambut tangan Pein. "Aku juga mau menikah loh, baru mau tunangan sih," lanjut Sai tanpa ditanya.
"Oh ya? Wah, kita sama dong. Sudah beli cincin tunangannya?"
"Tentu," Sai mengangguk cerah seraya mengeluarkan kotak kecil merah dari dalam saku celana jeansnya, "Ini cincinnya."
Wajah Pein menyiratkan sedikit kekagetan saat Sai membuka kotak itu dan memperlihatkan isinya. Cincin yang dibeli Sai sama persis dengan yang dibelinya. Buru-buru ia mengeluarkan cincinnya dari saku jasnya dan memamerkannya pada Sai. "Cincin kita sama!" pekiknya girang.
"Wah iya," mata Sai ikut berbinar memandang cincin itu, "kebetulan sekali."
Mereka sama-sama menatap cincin perak mereka yang berlambang daun perak itu, kemudian tertawa renyah, tenggelam dalam suara bising kereta.
Di sepanjang perjalanan, mereka mengobrol ringan. Sampai perjalanan panjang Konoha-Amegakure tak terasa jauhnya. Turun di stasiun yang sama, menelusuri jalanan yang sama, menuju ke tujuan yang sama, tanpa menyadari jati diri masing-masing.
"Nah, kita berpisah disini kan?" kata Sai akhirnya ketika mereka sampai di pertigaan gang menuju rumah Sai.
"Eh? Tidak, aku ingin mengunjungi pacarku dulu," sahut Pein.
"Wah, sudah tak sabar ingin jumpa rupanya?" goda Sai seraya menonjok kecil lengan sobat barunya itu, seakan-akan mereka sudah bersahabat baik.
Pein hanya nyengir-nyengir salah tingkah kemudian berjalan lurus ke depan, ke arah rumah Konan.
.
.
Konan sedang menyapu teras rumahnya ketika ia mendengar suara besi berdenting dari pintu gerbang kecil di depan rumahnya. Konan mengangkat kepalanya dan melihat kepala Pein yang tersenyum menyembul dari gerbang kecil itu, mengetukkan slot pintu ke pintunya. Gadis itu tersenyum sinis menatapnya. Di satu sisi, ia sebal karena harus melihat tampang buruk rupa dari pacar terpaksanya itu. Tapi di sisi lain ia sedikit senang, mengetahui kalau orang itu memang benar-benar menepati janjinya.
Konan menaruh sapunya di sudut dinding dan sayup-sayup ia mendengar suara yang sangat dikenalnya berkata, "Pein, kau yakin ini rumah pacarmu?" Ada nada tidak senang dalam suara itu. Dan ketika Konan berbalik untuk membukakan pintu, ia syok karena melihat sosok yang juga sudah sangat dikenalnya.
"Sai," bisiknya sangat pelan, menatap wajah Sai yang mengernyit bingung dan tidak senang. "Fatamorgana?"
"Kau kenapa sih Konan?" Pein menatap Konan dengan wajah yang juga kebingungan, kemudian beralih ke Sai. "Oh? Jadi kalian sudah saling kenal?"
"Tentu saja," kata Sai dengan senyuman yang terlihat jelas dipaksakan. "Dia itu tetanggaku." Senyumnya semakin melebar, tapi nada suaranya menyiratkan kebencian.
Pein yang menyadari tingkah aneh mereka berdua langsug menyeletuk, "Tetangga ya? Kok kelihatannya sedang marahan sih?"
Tubuh Konan bergetar, tak memedulikan kehadiran Pein. Matanya terpaku pada sosok yang sudah sangat dinantinya untuk datang dan memeluknya. Tapi hal itu tak terjadi. Yang ada malah Sai berjalan masuk ke rumahnya, dengan mata yang terus tertancap pada mata Konan seakan meminta penjelasan yang sejujur-jujurnya dari gadis itu. Meminta penjelasan kenapa Konan mengkhianatinya.
Begitu juga Konan, matanya meminta penjelasan kenapa Sai masih hidup. Apa Pein berbohong atas perkataannya malam itu, kalau Sai telah mati terbakar di dalam kontrakannya? Konan tidak mengeti dan ia sangat ingin mendengar penjelasan Sai. Maka ia langsung membuka pintu rumahnya dan berlari keluar, hendak masuk ke rumah Sai. Tetapi gerakannya di hentikan oleh tangan Pein yang mencengkram lengan Konan.
"Mau kemana?" tanya Pein.
"Bukan urusanmu," sahut Konan sinis sambil menukas tangan Pein.
"Tentu saja urusanku, kau kan calon istriku," kata Pein, merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kotak merah kecil.
"Sudahlah, kau pulang saja sana. Aku sedang malas melihat mukamu," usir Konan jujur. Ia memang sudah muak melihat wajah hancur Pein yang penuh pierching.
"Kok malah diusir sih?" tanya Pein kecewa. "Aku kan mau memberimu ini." Pein membuka kotak itu dan memperlihatkan cincinnya. Tapi Konan tak pernah melihat cincin itu, karena ia sudah masuk ke dalam rumah Sai ketika Pein berkutat dengan kotaknya.
Pein hanya bisa mengelus dada dan bersabar. Ia hanya perlu bersikap baik seperti ini sampai sebentar lagi, saat ia dan Konan sudah menikah. Setelah itu, ia bisa melepas tanggung jawabnya dari Konan. Pein melangkahkan kakinya menyusuri desa hujan yang sekarang sudah mendung itu. Ia menengadahkan kepalanya dan menatap langit yang keabuan dengan pandangan gelisah. Menyesal karena ia memilih naik kereta ke Konoha, bukannya naik mobilnya sendiri. Karena dari rumah Konan ke rumahnya, tak ada tumpangan seperti taksi seperti di Konoha.
.
.
Sai membanting pintu di belakangnya yang langsung membuka lagi saat Konan masuk ke kamarnya. Ia membanting tubuhnya terduduk di atas ranjangnya yang langsung berbunyi 'kriet'. Tak ada yang menyambutnya dengan wajah bahagia seperti yang diharapkannya. Ibunya sedang bekerja di salah satu sekolah dasar bersama ibu Konan sebagai penjaga kantin.
"Sai," panggil Konan, mendudukkan diri di atas kursi yang tergeletak begitu saja di depan ranjang Sai. "Kenapa kau ti-"
"Kenapa kau malah pacaran dengan orang jelek seperti itu?" Sai bertanya, memotng pertanyaan yang hendak dilontarkan Konan. Tadinya, ia ingin meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada Konan ketika ia tiba di rumah. Tapi rencananya untuk meminta maaf buyar karena keberadaan Pein. Darahnya langsung naik ke kepala dan ia langsung emosi.
"Kau dulu yang seharusnya menjawab pertanyaanku," kata Konan. "Kenapa kau tiba-tiba menghilang, tidak menghubungiku sama sekali, tidak kembali pada waktu yang telah kau tetapkan, tidak ada kepastian sama sekali?"
Sai mengerling Konan dengan ekor matanya. "Aku akan menceritakannya setelah kau menceritakan, kenapa kau malah mau tunangan dengan orang itu?" tanya Sai dingin.
"Karena, err," Konan menunduk, mencari kata-kata yang harus diucapkannya. "Dia bilang kau itu sudah… karena kebakaran," lanjutnya tak jelas.
"Ya, dia bilang aku sudah mati karena kebakaran maksudmu," ulangnya tanpa ada nada kaget dalam suaranya. "Lantas, kau langsung percaya dan mau saja pacaran dengannya?"
"Bukan seperti itu!" tukas Konan dengan nada suara yang ditinggikan. "Aku tak tahu bagaimana bisa," air mata mulai menggenang di pelupuknya yang lemah, "tapi aku diperkosa. Dan sekarang aku mengandung anaknya."
Mata Sai melebar, tetapi alisnya masih tetap bertautan. Ia tetap diam, membiarkan Konan bercerita.
"Dan karena kupikir kau memang benar sudah… Ya kau tahu maksudku. Jadi mau tak mau dia harus menikahiku, agar kelak anak ini lahir, ia punya ayah," kata Konan lagi. Air matanya kini terjatuh ke pipinya, mengalir ke dagu dan menetes ke dasternya.
Sai bangun, membuat ranjang itu mengeluarkan bunyi lagi, kemudian berjalan ke arah Konan, bersimpuh di depannya. Ia memeluk pinggang Konan, merebahkan kepalanya di atas perut Konan dan merasakan perut yang bertambah besar itu sedikit bergerak.
"Maafkan aku," gumamnya. "Ini semua karena kebdohanku. Aku benar-benar bodoh…"
Konan memeluk kepala Sai lembut, merasa kehangatan menjalari tubuhnya yang dingin, merebahkan kepalanya di atas kepala Sai. Ia tak bersua, hanya mengeluarkan sedikit isakan.
"Waktu itu, kontrakanku memang benar kebakaran. Dan tampaknya media yang meliput sama bodohnya dengan aku…"
.
.
Hari ke 646…
Seluruh penghuni kontrakan sedang menunggu kedatangan Sai yang sedang pergi ke minimarket untuk membeli sedikit cemilan. Mereka duduk memenuhi dua sofa pemberian bos mereka sambil menonton piala dunia yang baru mulai beberapa menit yang lalu.
"Kita jadi taruhan tidak?" tanya Suigetsu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
"Tidak usah lah, repot," sahut Shikamaru yang duduk di ujung sofa dengan kepala terkulai malas.
"Kau ini, apa sih yang tidak repot, un?" Deidara yang duduk di sebelahnya menjitak kepala Shikamaru yang hanya meringis pelan sambil memegangi kepalanya.
"Memang, si Shikamaru itu yang tidak repot hanya tidur. Merepotkan," ejek Suigetsu sambil menguap, menirukan gaya Shikamaru.
"Bir ini, kubuka duluan saja ya?" tanya Asuma yang baru keluar dari dapur sambil membawa tiga botol bir besar.
"GOOL‼" seru Deidara heboh sendiri.
"Bir darimana itu?" tanya Suigetsu yang matanya tetap terpaku pada para pemain bola yang kini berpelukan karena berhasil mencetak gol. Ia tidak berteriak seperti Deidara, tentu karena ia tidak memihak pada tim Spanyol yang baru mencetak gol itu.
"Tadi ada orang yang mengantarnya, entah siapa dia. Wajahnya ditindik," sahut Asuma, menaruh botol bir itu di meja kemudian mengalihkan pandangannya ke layar televisi. "Sial, satu gol lagi dan aku kalah taruhan dengan Kakashi," sungutnya sambil menonjok telapak tangannya sendiri, melepaskan rokok dari mulutnya kemudian menaruhya di asbak di atas meja.
Keheningan menyambut, semua serius menonton pertandingan itu―kecuali Shikamaru yang sudah tertidur―sampai Asuma kembali memecah keheningan.
"Sasuke, kau sakit?" tanyanya pada Sasuke yang sedari tadi diam saja sambil memeluk kedua lututnya dan menempelkannya ke dagu.
Sasuke hanya menggeleng.
"Kenapa kau, dari tadi tak bersuara sedikitpun?" tanya Asuma lagi.
"Paman seperti tidak tahu dia saja, padahal sudah tinggal bersama sekitar setahun lebih," celetuk Suigetsu. "Dia kan memang pendiam dingin yang pelit kata dan tidak berbicara kalau tidak penting."
Sasuke mendelik sebal pada Suigetsu, kemudian dalam suara datar yang seperti biasanya ia berkata, "Entahlah, perasaanku sedikit tidak enak."
"Kalau begitu, kita buka dulu saja bir ini. Lama kalau menunggu Sai pulang," kata Asuma tak sabaran, menggenggam botol itu dan memutar-mutar penyumbat botolnya. "Mungkin perasaanmu akan lebih enak setelah minum."
Botol itu terbuka, dan bau alkohol langsung menyerang penciumannya. Dan sedikit bau lain yang tampaknya tak ia sadari. Kumpulan gas yang tak terlihat berbaur dengan asap rokok yang keluar dari ujung rokok, kemudian bertemu dengan api yang menyala di ujung rokok itu. Dan…
.
Sementara itu, Sai sedang bersungut sebal karena harus ketinggalan pertandingan karena disuruh pergi ke minimarket sendirian. Handphonenya ditinggal karena Konan sudah tidur, dan ia tidak bisa berteleponan ria dengan gadis itu lagi. Yang ia bawa hanya dompetnya, dan kantong keresek berisi cemilan. Sai menendang-nendang kaleng minuman kosong di depannya, dan sayup-sayup ia mendengar suara teriakan dari kejauhan―dari arah tempat tinggalnya.
Sai menautkan alisnya bingung, ia menengadahkan kepalanya ke atas dan melihat ada gumpalan asap hitam dari arah tempat teriakan itu terdengar. Sai berlari kecil menyusuri jalanan malam yang diterangi oleh lampu jalanan. Ia berlari semakin kencang saat ia hampir sampai di tempat tujuannya. Jantungnya serasa terpompa dua kali lebih kencang dari biasanya.
Matanya melebar saat ia sampai ke tempat tujuannya. Kerumunan orang sudah sangat ramai, mengelilingi kontrakan yang menjadi tempat tinggalnya selama setahun lebih ini. Tentengannya terjatuh, dan bunyi kalng minuman berkelontangan, keluar dari plastik itu. Rumah itu sudah dilalap oleh kobaran api, juga sekitar tiga rumah di sebelahnya, tempat tinggal para pekerja bangunan seperti Sai yang beerja pada Tuan Jiraiya.
Sai berlari, hendak menerobos kerumunan dan masuk untuk menyelamatkan teman-temannya. Tapi ia tak pernah masuk lagi ke dalam rumah itu, karena Jiraiya datang dan menghentikannya.
"Jangan masuk Sai, biar para petugas pemadam yang mengeluarkan mereka," katanya datar, tak ada senyum yang menghiasi wajahnya seperti biasanya.
"Tapi dimana para petugas itu? Kalau tidak cepat, mereka bisa mati, Tuan!" Sai berusaha berontak, melepaskan cengkraman Jiraiya, tetapi usahanya sia-sia karena badan Jiraiya jauh lebih besar dari badannya.
"Mereka memang sudah mati. Semuanya…" kata Jiraiya, dan itu membuat Sai berhenti berontak dan mengalihkan pandangannya ke arah Jiraiya.
"Apa maksud Tuan?"
"Mereka pasti sudah mati, tak diragukan lagi," katanya yakin. "Kobaran api sudah sebesar itu, mereka tak mungkin selamat. Hanya kau yang selamat."
"Tidak mungkin! Deidara! Suigetsu! Hei kalian semua! Cepat keluar!" teriak Sai putus asa.
"Sudahlah Sai. Mereka sudah pergi. Mereka dibunuh," kata Jiraiya tanpa keraguan sedikitpun.
"Apa maksud Tuan dibunuh?" suara Sai mulai bergetar.
"Pasti ada pemilik pub atau hotel atau apapun yang merasa takut tersaingi," jelas Jiraiya. "Dan mereka melakukan cara kotor seperti ini. Membunuh para pekerja untuk menghambat pembangunan, dengan begitu, mereka tidak kehilangan langganan mereka."
Sai sedikit terkesima dengan jalan pemikiran Jiraiya. Tapi ini bukan saatnya terkesima. "Bagaimana Tuan tahu?"
"Bagaimana aku tahu? Umurku tidak sedikit, nak," katanya datar. "Sekarang lebih baik kau tinggal dirumahku."
"T-tapi, bagaimana dengan mereka?" Sai menoleh cemas ke arah rumah yang masih berkobar itu. Dan kini para petugas pemadam kebakaran baru saja tiba dan sedang menyemprot tiga rumah yang terbakar itu.
"Sudah kubilang mereka mati," katanya, kemudian menarik tangan Sai dan beranjak ke rumahnya.
"Tapi…"
"Tak ada tapi lagi. Hanya kau yang selamat," katanya tegas sambil menjauh dari kerumunan itu. "Biarkan anakku, si Kakashi yang mengurusnya."
Sai rasanya ingin sekali menangis dan meraung, tetapi menangis dan meraung itu bukan pekerjaan laki-laki. Ia masih bisa meneruskan hidupnya, meski kawan-kawan yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri kini telah meninggalkannya.
Barang-barangnya tak ada yang selamat. Tapi untungnya, dompetnya yang berisi kartu ATM dan sejumlah uangnya selamat. Handphonenya tertinggal, mungkin sudah hangus dan tak berfungsi di dalam sana.
Bodohnya, Sai lupa nomor handphone Konan, ia tak bisa menghubungi Konan. Dan setiap kali ia berusaha mengirim surat, pekerjaan melandanya. Mengingat para pekerja yang berkurang karena insiden kebakaran itu, pembangunan memang berjalan menjadi lebih lambat.
Sai terus mengejar target 2 tahun itu. Ia bekerja tak kenal lelah. Sampai-sampai ia tak sempat mengabari Konan tentang hidupnya yang menjadi runyam. Ia tak mengenal tanggal lagi, ia tak menghitung seperti dulu lagi, waktu yang sudah dilewatinya di Konoha sudah sebanyak apa. Sangat bodoh.
.
.
Konan tak bisa menahan sesenggukannya saat mendengar penuturan Sai. Betapa bodohnya dia, bisa terbuai dalam perlakuan manis sesaat Pein. Kini hanya penyesalan yang ada. Namun penyesalan adalah sia-sia, karena penyesalan selalu datang terlambat.
"A…aku tak ma-mau menikah de-dengan dia.." kata Konan di sela sesenggukannya. "Aku ha-hanya mau menikah de-denganmu."
"Begitu juga aku," sahut Sai yang air matanya sudah beleberan di daster Konan. "Hanya kau, satu-satunya orang yang kusuka."
"Kalau begitu jangan pergi lagi," kata Konan, pandangannya kosong.
"Aku takkan pergi lagi," sahut Sai, pandangannya sama kosongnya dengan Konan.
"Lalu kita menikah."
"Takkan lama lagi."
"Dan hidup bahagia selamanya."
"Ya, seperti pasangan Cinderella dan Pangerannya, atau Snow White dan Pangerannya."
"Aku Snow White, dan kau Pangeranku."
"Tentu saja."
"Pein berperan sebagai nenek sihir jahat dalam cerita kita."
"Kau benar."
"Dan dia harus mati."
"Akan kupastikan dia mati."
"Tubuhnya harus hancur berantakan."
"Akan kupastikan tubuhnya hancur berantakan."
"Nyawanya harus berpencar dan tak tenang."
"As you wish-"
"Dan darahnya akan tercetak di lantai untuk selamanya- hoeek!"
"My princess," lanjut Sai yang kata-katanya sempat terpotong, mengakhiri sahut menyahut antara mereka.
Konan yang sedang hamil langsung mengeluarkan isi makan siangnya barusan ke lantai di kamar Sai setelah membayangkan tubuh Pein yang berdarah dan hancur tak karuan. Ada sedikit kesenangan dalam wajahnya, terbukti dari senyum samar yang terpeta di wajahnya.
Sai bergegas ke dapur dan membawakan segelas air minum untuk Konan. Setelah Konan sudah berhenti muntah-muntah, Sai akhirnya bertanya, "Katakan, dimana tempat tinggal Pein?"
"A-aku tak ingat," jawab Konan. "Tapi aku punya kartu namanya." Konan buru-buru menambahkan ketika melihat ekspresi kecewa di wajah Sai.
"Berikan aku kartu namanya," kata Sai tegas, tapi lembut.
"Ada di rumahku," kata Konan, dan akhirnya mereka pergi ke rumah Konan, meninggalkan kamar Sai yang bau muntah Konan.
Konan mencari-cari dalam kamarnya, dan ia menemukan kartu nama itu terhimpit antara meja tulis dengan keranjang sampahnya. Ia menyerahkan kartu nama itu pada Sai, dan Sai langsung pergi.
"Mau kemana Sai?" Konan sedikit berteriak karena Sai berlari.
Sai berbalik lalu balas berteriak, "Aku mau ke toko bahan bangunan!"
"A-apa? Hei! Mau apa kau Sai!" teriak Konan putus asa ketika Sai berlari menjauh. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk percaya pada Sai. Percaya akan langkah apapun yang ditempuh Sai, akan menjadi jalan terbaik bagi mereka berdua.
.
.
To be continued
A/N: Maaf kalau masih ada typo. Maaf kalau alurnya msih kecepetan. Maaf gorenya belum keluar.
Makasih buat Fun-Ny Chan dan Uchiha karin yang udah review chapter satu ^^
Dan Mimizu, MANA REVIEWMU? /plak
Okelah, Review lagi?
