Disclaimer: Masashi Kishimoto
Special fic for Mitsuhiko Zahra birthday (yang telat banget. gomen orz)
Warning: AU, OOC, gore. Oh iya, buat yang gak tau gore, gore itu semacam yang berdarah-darah dan sadis. Saya gak tau arti concritnya, tapi kira-kira begitulah, pokoknya kejam :)
Presenting :
Shira nai wa rojikku
.
Authors :
Momochi Mimi'san and Tsukimori Raisa
.
.
Sai menatap kartu nama pemberian Konan, memastikan dengan rumah di depannya. Benar, Rumah ini adalah rumah Pein dengan alamat Jalan Muka Sapi nomor 31. Sekarang hari sudah gelap, bulan tak bersinar, angin berhembus kencang-kencang, seakan berusaha merobohkan niat Sai yang kini memakai kostum hitam-hitam yan membalut tubuhnya dengan sempurna. Ditambah dengan sepasang sarung tangan hitam yang menutupi telapak tangannya.
Keringat dingin mulai menetes dari dahinya. Ia gugup, ia tak pernah berpikir akan melakukan sebuah pembunuhan dalam hidupnya. Tapi bila itu yang diinginkan Konan, ia akan melakukannya. Sebenarnya ini juga bukan sepenuhnya karena keinginan Konan, tetapi juga karena emosinya yang tadi siang-meledak-ledak ketika mendengar Konan telah disetubuhi oleh pria tukang ngupil itu.
Kini, setelah mengingat segala yang telah terjadi, Sai memantapkan hati dan pikirannya untuk melanjutkan misinya. Ia membuka sebuah kotak perkakas besar, yang dibelinya tadi di toko bangunan, kemudian mengambil sebuah gergaji mesin dari dalamnya, menyelipkannya dibelakang celananya dengan susah payah, menyeringai jahat, kemudian menenteng kotak perkakas itu masuk ke dalam rumah Pein.
Mengetuk pintu sebentar, kemudian ia langsung membukanya tanpa menunggu dibukakan, tak sabar rupanya. Rumah itu begitu besar dan mewah―bila dibandingkan dengan rumah-rumah lain di Amegakure. Sebuah sofa dengan ukiran di kayu pinggirannya yang menempel dinding berhadapan dengan televisi flat 21 inci. Di belakang televisi, sebuah lemari kayu besar berdiri berdempetan.
Sai dapat mendengar siulan tak merdu dan kucuran shower dari arah kanan, kamar mandi. Sai bergegas menuju ke sana, kemudian sedikit berteriak memanggil, "Pein!"
Pein menghentikan siulannya, serta mematikan showernya. "Ya?" serunya dari dalam kamar mandi.
Jantung Sai berdetak lebih kencang dari sebelumnya. "Oh, ternyata kau ada di dalam. Ini aku Sai, lanjutkan dulu saja mandimu," kata Sai yang sudah meraba punggungnya, merasakan dinginnya besi dari gergaji mesin.
Tetapi pintu kamar mandi terbuka, Pein muncul dari dalamnya hanya dengan sehelai handuk yang melilit tubuhnya yang masih basah. Semua pierchingnya dilepas, dan wajahnya terlihat bolong disana-sini. Buruk.
"Wah, ternyata kau ya. Ada perlu apa Sai?" tanyanya, sambil mengorek telinganya yang basah.
Sai menelan ludahnya, kemudian kembali menyeringai jahat. "Aku hanya ingin memberimu hadiah," katanya seraya mencabut gergaji mesinnya.
"Hadiah apa? Eh iya, mari duduk," kata Pein ramah. Tetapi Sai tak pernah duduk di kursi yang ada di rumah itu, karena ia langsung menyalakan gergaji mesinnya, dan menghantamkannya ke bahu kiri Pein yang basah. Pein menjerit kencang ketika darahnya bercipratan.
"BAKA!" jerit Pein, mendorong Sai sampai Sai terjatuh. "Apa yang kau lakukan?" Ia meringis kesakitan, menatap gergaji mesin yang masih menyala di dekat Sai yang berusaha bangun. Pein merasa saraf-saraf di bahunya terputus dan tubuhnya sedikit meriang. Luka itu tak begitu dalam, dalamnya hanya sekitar 1 senti. Tapi tetap saja, luka itu membuatnya meriang.
Ia memegangi bahunya, kemudian menendang Sai yang hendak meraih gergaji mesin itu kembali. Sai terjatuh ke belakang, tapi ia langsung bangkit kembali. Tampaknya Pein tidak tahu, apa motif di balik perlakuan Sai ini.
Sai melihat Pein sudah hampir mengambil gergaji mesinnya, dan ia berlari menubruk Pein, membuat pria itu menjerit lebih kencang lagi ketika bahu kirinya tergencet ke lantai. Sai yang posisinya masih menubruk Sai berusaha meraih gergaji mesin itu. Tapi ia sedikit ceroboh, karena kaki Pein dengan gesit menendang kejantanannya di bawah sana. Dan itu membuatnya meringis kesakitan, sehingga Pein yang masih meriang, bisa mengambil senjata Sai tadi.
Sai yang menyadari hal itu, tertatih menuju kotak perkakasnya dan membukanya ketika Pein berteriak, "Hentikan! Kenapa kau melakukan ini, hah?" ia menodongkan gergaji mesinnya dari jarak sekitar 5 meter. "Kita bahkan baru berkenalan tadi siang!"
Sekarang Sai sudah memegang sebuah pisau daging di tangan kanan, dan sebuah golok di tangan kirinya. Seringaian kembali terpeta di wajah pucatnya. "Jangan pura-pura bodoh, Pein!"
"Hey!" Pein memekik tertahan ketika sadar kalau kini golok di tangan Sai sedang melayang ke arahnya, membaret halus telinganya, hingga membuat daun telinga Pain sobek. "Brengsek apa salahku hah?" Pein reflek memegangi telinganya yang kini mengucurkan darah. Membuatnya meriang.
"Salahmu kau memperkosa Konan, bajingan!" seru Sai, lalu berlari ke arah pemuda berpiercing ini, mengacungkan pisau daging ke arah bahu kanan Pein.
"BERHENTI—AAAAAAAAAAAKKKHHHH!" Belum sempat Pein menghindar, kini pisau daging itu sudah memotong bagian tangannya hingga terlepas begitu saja dari bahu Pein. Begitu juga dengan gergaji mesin yang sedari tadi ia pegang, jatuh begitu saja ke lantai. Suara gergaji itupun berdesing karena beradu dengan tangan kanan Pein yang sudah putus itu. Mengoyak tulang berselimut gumpalan daging itu, membuat darah dan ceceran daging melompat-lompat ke sana-ke mari.
Wajah Pein pucat pasi, menyaksikan gergaji mesin yang telah memotong tangan kanannya itu. Perlahan, Pein menatap Sai yang kini tersenyum menyeringai, kembali mengacungkan pisau dagingnya ke arah perut Pein.
Pein menghindar ke sebelah kanan dengan brutal, menabrak segala hal yang menghalangi jalannya. Sai terkejut, buru-buru matanya menyapu liar apa yang ada di depannya. Dengan cepat ia meraih gergaji mesin yang berlumur darah, mengangkatnya, kemudian berjalan cepat mengejar Pein yang mulai melempari barang-barang di sekitarnya agar menghalangi jalan pemuda berambut hitam klimis itu. "Apa yang kau lakukan, sobat? Benar-benar perbuatan yang sia-sia.."
"Menjauh dariku, brengsek!" Pein semakin ketakutan, sampai akhirnya punggungnya menabrak sesuatu yang dingin. Tembok. Keringat dingin semakin mengucur deras saat menyadari kalau jarak Sai hanya beberapa meter saja darinya.
"Hey Pein, sudah lari-larinya?" Sai masih mengacungkan gergaji besinya ke atas. "Aku mau main denganmu.."
"Menjauh dariku!" Pein menyalak galak. Sementara tangannya masih meraba-raba permukaan meja di ruang tamunya, berharap ada sesuatu yang bisa melumpuhkan Sai.
Sai tak ambil pusing. Ia kembali menerjang Pein, namun dengan sigap pemuda yang hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian perut ke bawah. Beberapa rambut Pein berterbangan, terpangkas secara paksa oleh gergaji mesin itu.
Sai segera mengarahkan gergaji mesinnya ke kanan, ke arah Pein masih berdiri. Berhasil. Kini gergaji mesin itu sedang berusaha membelelah bagian kepala di atas telinga Pein. Jeritan nyaring terdengar lagi. Sai semakin tak perduli. Akal sehatnya sudah hilang entah kemana.
"Argh!" Lengah, Pein segera menendang bagian kemaluan Sai, membuat pemuda itu berjinggit nyeri, menghentikan aktifitasnya merobek kepala Pein. Menurunkan gergaji mesinnya ke bawah, merasa berat.
Pein memegangi kepalanya, lalu berlari ke arah pisau daging yang semula Sai lempar, kemudian menjadikannya senjata bagianya. "Kau mau Konan, ambillah!"
"Keperawanan Konan, bodoh! Itu yang mau aku ambil!" Sai masih berjinggit, sementara di dapatinya Pein tengan melemparkan sesuatu yang berkilat di bawah sinar lampu.
STAB!
Pisau daging itu menancap di punggung Sai.
Pein tersenyum menyeringai. Sementara Sai terdorong, bersandar pada tembok yang kini ternoda merah. gemetaran, tubuh Sai gemetaran menahan nyeri tak terhingga dari pisau daging tadi. Wajahnya semakin pucat.
Perlahan, Sai meraih pisau daging di punggungnya dengan tangan gemetaran. Sementara Pein mulai mencari benda lain yang ia rasa dapat membuatnya menjadi pemenang dari pertarungan (?) ini.
Sai mencabut pisau daging itu, membuat tubuhnya sedikit meliuk nyeri, kemudian Sai melempar pisau daging itu ke sembarang arah. Tertatih-tatih, pemuda bermata onyx itu berjalan mendekati Pein yang masih asik memilih-milih barang untuk melukai Sai.
Menyadari ada suara familiar mendekat, Pein menoleh. Belum sempat Pein melakukan apa-apa, Sai sudah keburu mengarahkan gergaji mesinnya ke arah punggung Pein. "AAAAAHHHH!"
Dengan kasar gergaji mesin itu mengoyak bagian tubuh Pein. Sementara cairan merah pekat itu mulai bercipratan ke wajah Sai, begitu juga dengan daging yang sudah terpotong dan terpisah dari tuannya. Ujung gergaji mesin itu kini mulai muncul perlahan di bagian sekitar ulu hati Pein. Sai tidak jijik. Ia tersenyum menyeringai. Puas akan hasilnya. Kemudian lidah Sai terjulur, menjilat darah Pein yang menempel di sekitar bibirnya.
Mata Pein meredup, teriakan Pein sudah melemah. Nyawanya sebentar lagi meregang. Sai mencabut gergaji mesinnya, mematikannya, lalu menyimpannya jauh-jauh dari Pein. Sai menghampiri kotak perkakasnya, membawanya ke dekat Pein yang sudah tidak berdaya menahan semua nyeri di sekujur tubunya. Mata Pein masih terbuka setengahnya. Bibirnya pucat pasi, menggumankan kata yang Sai kenali sebagai 'gomen'.
Sai tersenyum manis. "Kenapa kau perkosa Konan? Bukankah dia bilang dia sudah punya kekasih?"
Pein masih terpaku, gemetaran. "Gomen.."
"Apa kau salah makan hingga tega memperkosa gadis lugu seperti Konan?" Sai meraih benda di dalam kotak perkakasnya secara asal. Obeng. Sai melirik benda itu sebentar, kemudian perlahan kembali menatap Pein, kemudian dengan cepat berjongkok di sebelah kiri Pein. "Sini ku periksa apa saja yang kau makan.."
CRASH!
"ARGH!" rintihan yang terdengar keluar dari bibir pucat pasi itu. Pein gemetaran. Kini Obeng itu sudah menancap sempurna di perut sixpack yang selama ini ia banggakan.
"AAARGH! Hentikan!" Pein mengucap susah payah.
Sai merenggut. Dengan cepat mencabut lagi obeng yang menancap di perut Pein. "Kalau begini bagaimana aku bisa melihatnya. Sabar sedikit ya Pein.."
Sai mengacungkan tangan dan obeng penuh darahnya ke atas, bersiap menusuk perut Pein lagi. Pein mengumpulkan semua tenaga yang ia miliki, menggeleng secepat yang ia bisa.
CRASH!
"HENTIKAN BAJINGAN! ARGH!"
Sai tak perduli. Ia bukan orang waras lagi.
"AAAAAAAAAAAAAARGGHHHH BAJINGAN KAU—! ARGH!"
CRASH! CRASH! CRASH!
"Hentikaaaaaaan!"
Begitu suara yang terdengar. Rintihan demi rintihan, suara perut dilubangi, semuanya menjadi satu di ruang tamu rumah Pein.
Sai tersenyum lagi, menatap luka yang ia buat di perut Sai. "Nah, begini agak mudah."
Pein gemetaran. Sebentar lagi, ia tahu, nyawanya akan meregang. Ia malah berharap Sai cepat-cepat menyelesaikan acara membunuhnya. Sai memiringkan kepalanya. "Aku tidak melihat apapun. Ah aku perlu gunting. Sebentar ya.."
Pein menarik nafas, sesak. Sai kembali melirik kotak perkakasnya, menemukan gunting tanaman di dalamnya. Kemudian dengan polosnya ia menunjukannya pada Pein. Mata Pein menggerling lemah, mencoba menatap barang yang di sodorkan Sai. Kembali gemetaran. Degup jantungnya semakin hebat. "Hanya ada ini. Tak apa ya?"
"AAARRRRGGGHHH!" Pein berseru nyaring saat ujung gunting yang dingin itu menyentuh bolong-bolong luka bekas obeng itu.
CRASH!
"SIALAN KAU SAI BANGSAAAAAT!"
Sukses.
Bagian atas perut Sai itu sudah terbuka lebar. Memperlihatkan cairan merah yang menggenanginya.
Sai tersenyum senang. Sementara pemuda yang dijadikan korban, kini tangannya meraih kaki Sai. "Sai.."
Sai segera meraih benda di dalam perut Pein yang dikenalinya sebagai Usus halus itu, tanpa memperdulikan panggilan Pein. Bentuk usus itu memang sudah tidak karuan, bolong dan koyak sana sini. "Wah Pein, pantas. Ususmu rusak begini.."
"Sai.." Pein memanggil lagi. Suaranya lirih. Sai melemparkan usus Pein begitu saja kembali masuk ke dalam perut.
"Apa?" sahut Sai, kini beralih menatap ke arah wajah Pein yang sudah pucat. "Berisik kau."
Sekejap mata, kini gunting tanaman yang ukurannya jauh lebih besar gunting kertas itu sudah menancap di mulut Pein, melewati kerongkongannya. Perih, nyeri. Teriakan Pein menghilang entah kemana. Atau mungkin suaranya.
Sai kembali bekerja. "Sepertinya makananmu tidak salah. Apa yang salah ya? Matamu?" Sai kembali merogoh isi kotak perkakasnya, meraih barang yang ia gapai. Sebuah kunci inggris. Sai melemparkannya ke arah perut Pein, membuat pemuda itu kembali meliukkan badannya, merespon nyeri. Kunci inggris itu kini tenggelam di dalam cairan kental yang sudah meluap.
Sai merogoh kotak perkakasnya lagi, meraih barang yang digapainya. Pisau dapur. Sai tersenyum menyeringai. Dengan cepat ia buka sarung pisaunya dengan tangan kanan, dengan sadisnya menancapkan sarung pisau yang terbuat dari plastik itu ke mata Pein, hingga pemuda itu buta pada mata sebelah kirinya.
"Ohok!" suara batuk itu terdengar. Sai menyeringai. Ia kurang puas. Ia kembali mencabut sarung pisaunya, menusukkan kembali di mata kanan Pein.
Hilang. Tak ada lagi respon dari berarti dari Pein. Sai merasa Pein sudah kehilangan tenaga. Apalagi suaranya sudah hilang gara-gara gunting tanaman yang sudah menancap di kerongkongannya sedari tadi. Sai membiarkan sarung pisau itu menancap di mata kanan Pein.
Sai masih terdiam. Berpikir. "Tak ada yang salah dengan matamu. Bagaimana dengan kepalamu?"
Segera.
Pisau itu sudah menancap di bagian kiri kepala Pein. Tangan Pein yang mencengkram kaki Sai menguat. Sai tak perduli. Dengan cepat, Sai mencabut lagi pisaunya, menancapkan lagi, mencabut lagi, dan menancapkannya kembali. Beberapa kali hingga akhirnya tangan Pein kehilangan tenaganya, dan tergeletak tak berdaya di depan kaki Sai.
Sai tersenyum bahagia. "Hatimu, merasa bagaimana mendapat hadiah dariku, Pein?"
Dalam satu kedipan mata, pemuda beriris onyx itu mencabut pisau dari kepala Pein, menancapkannya cepat di bagian hati, dibawah paru-paru. "Berdebar-debarkah?" Terus, pemuda ini terus menghujami Pein dengan pisau. Suara daging ditusuk-tusuk pun terdengar. Apalagi pisau itu berkali-kali menghantam tulang Pein.
Krak!
Krak!
Terus menerus.
Cipratan darah terus membasahi wajah pucatnya.
Hingga akhirnya Sai berhenti saat pisaunya tanpa sadar sudah bergerak ke arah jantung. Sai menepuk pipi Pein yang sudah turun suhunya menjadi dingin. "Sudah mati ya? Sejak kapan? Kenapa ngga bilang?"
Sai terkekeh sendiri, sementara disekanya keringat bercampur darah yang mulai menetes. Sai mencabut pisaunya, melirik tangan kiri Pein yang masih utuh. "Kau menjamah Konan dengan daging busuk ini kan?"
Tak ada respon. Ya, tentu saja. Pemuda dengan banyak piercing itu sudah tidak bernyawa lagi. Dengan santai, Sai melangkahi Pein, beralih ke sisi yang satu lagi. "Akan ku beri pelajaran pada tanganmu."
Sai meraih tangan Pein, menjauhkannya dari badan Pein, secepat kilat Sai menusuk-nusuknya dengan pisau di tangan kanannya, sementara tangan kirinya mencabut gunting yang menancap di mulut Pein. Secara brutal, Sai memotong jari jemari tangan kiri Pein, hingga menjadi bongkahan kecil. "Ini, hukuman dariku, jika kau menyentuh milik orang lain."
Sai melirik ke arah handuk Pein yang kini sudah berubah corak menjadi bintik-bintik merah. Tersenyum menyeringai. "Eh, penismu itu kan yang merebut keperawanan Konan?" Sai terkekeh, menyingkap sehelai handuk yang menutupi alat kelamin Pein. Sai bergidik jijik melihat penis Pein. "Eh, ini hukuman karena kau telah merebut keperawanan Konan dariku.."
Sai menyentuh penis Pein dengan guntingnya, kemudian ia melirik lagi ke arah wajah Pein yang sudah tidak karuan bentuknya. "Hey, ingat ya, kalau kau mau balas dendam, ingat wajahku."
CRASH!
Penis Pein jatuh begitu saja ke lantai di antara kaki Pein. Sai tersenyum puas. Sangat puas. Pemuda itu berdiri, menatap hasil kerjanya dari atas ke bawah. "Nah, hadiahku baguskan, Pein?"
Tak ada suara. Yang tersisa hanya senyapnya malam, juga mimpi indah di masa depan yang akan Sai jalin bersama Konan.
.
.
Hatake Kakashi, petugas polisi dari Konoha yang sengaja datang jauh-jauh sampai ke Amegakure hanya untuk menyelidiki kasus kebakaran beberapa bulan lalu di Konoha. Ia mencurigai bahwa seorang pria bernama Peinlah dalang dari kebakaran tersebut. Sekarang, dirinya sudah berdiri di depan rumah pria bernama Pein itu.
Baru saja ia hendak mengetuk pintu, terdengar suara langkah kaki di belakangnya yang membuatnya menoleh.
Seorang pria bercadar―yang Kakashi sangat yakin kalau dibalik cadar itu, wajahnya tak lebih tampan dari dirinya―sedang melangkah ke arahnya.
"Siapa kau?" tanya pria bercadar yang sekarang sudah berdiri di hadapannya itu.
"Aku Hatake Kakashi, si polisi tampan yang populer di kalangan wanita maupun pria di Konoha. Lantas, kau siapa?"
Pria itu terbatuk, tampaknya agak mual mendengar perkataan Kakashi barusan. "Aku Kakuzu, rentenir paling baik hati dan kaya raya," balas pria itu sombong.
"Mau menagih hutang, eh?" tanya Kakashi menyelidik.
"Tentu saja. Apa lagi yang mau kulakukan di tempat seperti ini selain menagih hutang?" jawab Kakuzu. "Sudahlah, basa basi denganmu itu membuang waktuku. Dan waktu adalah uang. Kau sudah membuang 2 menit uangku," lanjutnya tak jelas. Kemudian langsung membuka pintu rumah di depannya.
Alih-alih masuk, Kakuzu malah keluar lagi dan membanting pintunya. Menutupi hidungnya yang sudah tertutup cadar.
"Ada apa?" tanya Kakashi bingung, mengerutkan dahinya. Menggapai pegangan pintu dan hendak membukanya.
"Rumahnya bau busuk, kau masuk duluan," usul Kakuzu.
Kakashi membuka pintunya dan langsung membelalakkan matanya yang kuyu. Di hadapannya, sosok hancur seseorang yang dikenalinya sebagai Pein sudah tak bernyawa dengan keadaan yang begitu mengenaskan.
Lengan kirinya tercecer jauh dari tubuhnya yang berlumuran cairan merah yang terlihat indah di mata. Tubuh bagian depannya robek tak karuan. Matanya tertusuk sarung pisau. Jari-jari tangan kirinya berceceran di lantai bersama darah merah yang mengering. Leher dan kepalanya hancur. Dan yang lebih menyedihkan, oh... barang kebanggaannya sudah terpisah dari tempatnya dan tergeletak begitu saja dengan sangat tidak awesome di lantai.
Kakashi mau muntah melihatnya. Entah apa yang harus ia buat dalam laporannya. Oh papa, setelah ini aku mau berhenti saja jadi polisi. Aku lebih suaka bekerja di klub malam papa.
"Dia mati ya? Si Pein?" tanya Kakuzu yang berdiri di belakang Kakashi.
Kakashi hanya mengangguk sambil tertegun. Bingung harus mengatakan apa.
"Wah, rasanya seperti menemukan harta karun," kata Kakuzu lagi. "Bayangkan, kalau rumah ini beserta isinya, berapa banyak uang yang bisa kudapatkan? Astaga, kesempatan ini sama sekali tak boleh dilewatkan."
"What the f-!"
Sedetik kemudian, Kakashi jatuh pingsan saking kagetnya dengan keberadaan orang-orang tidak waras yang tak berperasaan di sekelilingnya.
OWARI
Sampai pada chapter terakhir minna. maafkan saya, gorenya aneh. dan ngga bloody.
saya dan Momo memohonkan ampun apabila banyak kesalahan dalam pengerjaan fic ini.
spesial thanks untuk semuanya yang sudah repot mereview. orz. terimakasih juga untuk seseorang yang nampaknya salah baca fic kami, dikira ada lemonan. gez, ini ga ada lemonan. orz.
yasudah. terimakasih sudah membaca.
.
.
salam,
TsuuandMomo
