Author : yay,yay,yay
Ryou : ih, apaan sich author satu ini, gila kali.
Author : Ryou, kayak kagak tau orang lagi bahagia aja.
Ryou : hehe, mang ada apa?
Author : aku tuh bahagia karena ada yang mau ngreview fic buatanku ini.
Ryou : oh, karena itu to? memang semua itu harus di syukuri.
Author : eh, iya minna, ini Ryou temenku, kali ini dia kuminta untuk jadi narator.
Emm... chap kedua ini kupersembahkan buat yang udah ngreview chap pertama. OK gak usah berlama-lama lagi, silahkan di baca dan jangan lupa review ya. Ryou, cepet bacakan disclaimernya.
Ryou : iya-iya, selamat membaca dan jangan lupa di review OK.
Disclaimer : Naruto tuh punyanya Masashi Kishimoto, bukan punya author.
Summary : Sakura adalah seorang gadis yang kehidupannya selalu di atur oleh ibunya. Suatu ketika dia mengalami hal yang buruk karena melanggar perintah ibunya, dan Sakura akhirnya menyadari apa yang dilakukan ibunya itu demi kebaikannya sendiri. AU, OOC, gaje.
"blablabla" normal talking
italic dalam hati
xxxaYaxxx
Cerita sebelumnya...
"kabur dari rumah?" tanya Orochimaru.
"Aku akan berusaha. Mohon bantuannya." kata Sakura.
". Ayo, masuk dulu"
Present Day
"Silahkan duduk" Orochimaru mempersilahkan Sakura untuk duduk. "Dan tolong tanda tangani surat kontrak ini" katanya lagi sambil menyerahkan sebuah surat kontrak.
"Ha..hai" Sakura pun menandatangani surat itu. "Ini uang administrasinya" kata Sakura.
Orochimaru menerima uang administrasi itu. "Ok, kita mulai pemotretannya. Tunggu sebentar disini" Orochimaru berjalan menuju sebuah lemari dan kemudian membukanya, ditutupnya lemari itu dan menghampiri Sakura kembali. "Ganti bajumu dengan ini. Ruang ganti ada di sebelah sana", katanya sambil menyerahkan sebuah baju yang kelihatannya agak mahal dan menunjuk sebuah ruangan.
Sakura menerima baju itu, lalu berjalan menuju ruang ganti yang ditunjukan Orochimaru. Ruangan yang dituju Sakura terletak paling ujung studio. Sakura sampai ke ruangan yang dia tuju. Di dalam ruangan itu Sakura mengganti pakaiannya. Setelah selesai ganti baju, Sakura memperhatikan pantulan dirinya sendiri di cermin. Baju yang dipakai Sakura adalah gaun yang panjangnya selutut, berwarna merah dan ada renda di beberapa bagian.
Uwaaaa... .kereeenn... Baru sekali ini aku memakai baju sebagus ini
"Baiklah aku akan berusaha keras agar aku bisa jadi model yang terkenal" kata Sakura di depan cermin dengan nada bicara yang penuh semangat. Sakura terus memperhatikan pantulan dirinya. Setelah dirasa sudah siap, Sakura keluar dari ruang ganti itu. Ternyata Orochimaru sudah ada di depan pintu, menunggunya.
"Cocok! Cocok! Ok. Kita ambil foto beberapa frame" Ajak Orochimaru.
Sementara di rumah Sakura
"Sakura, ayo bangun! Jangan dikira karena hari minggu maka kamu bisa malas-malasan ya?" kata ibu Sakura di depan pintu kamar Sakura. "Sakura?" karena tidak ada jawaban juga Ibu Sakura memutuskan untuk langsung masuk. "Sakura" Ibu Sakura membuka selimut di tempat tidur Sakura tetapi yang dicari malah tidak ada. Kemudian ibu Sakura mencari di kamar mandi tapi tetap tidak ditemukannya Sakura. Ibu Sakura mulai merasa khawatir karena tidak biasanya jam segini Sakura sudah tidak ada di rumah. Dia keluar dari kamar Sakura dan menuruni tangga, kemudian menelepon teman-teman Sakura, menanyakan keberadaan Sakura.
"Hallo, bibi Haruno ada apa pagi-pagi sudah menelepon?" kata orang di seberang telepon.
"Nak Ino, apakah Sakura ada di situ?" tanya ibu Sakura. Ino adalah teman baik Sakura.
"Maaf, Sakura tidak ada di sini, bi. Memangnya ada apa, bi?"
"Tidak ada apa-apa, nak Ino. Sudah dulu ya nak" ibu Sakura berbohong agar Ino tidak ikut-ikutan khawatir.
"Baik, bibi Haruno" sambungan telepon pun putus. Ibu Sakura makin panik, akhirnya dia melaporkan hal ini pada kepolisian.
Xxxxxxxxxxxx
Di studio Orochimaru
Saat pemotretan...
Jepret. Jepret. (benar gak sich bunyi kamera kayak gitu? Abis bunyi kamera author gak kayak gitu)
"Tolong miringkan kepalamu sedikit" Sakura melakukan apa yang diintruksikan oleh Orochimaru.
"Begini?" tanya Sakura.
"Yap"
"Ya. Bagus! Cantik! Kamu memang pantas jadi model, hasil pemotretan ini pasti akan diminati banyak orang" Orochimaru berkata di sela-sela pemotretan.
"Berjalanlah dari sebelah sana dengan seanggun mungkin dan fokuskan pandanganmu ke arah kamera"
Hebat...seperti model profesional saja... kata Sakura dalam hati.
"Keluarkan ekspresi alamimu, bergayalah seperti model profesional" "Bagus"
Jepret. Jepret.
"Tolong kamu bersandar ke dinding di belakangmu dan angkat salah satu kakimu"
"Baik. Begini?" Sakura melakukan intruksi Orochimaru.
"Bagus"
.
"Sekarang berekspresilah seperti orang yang sedang mendapat hal yang sangat diinginkannya"
uwaa... keren..
"Bergayalah seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu" intruksinya lagi. "Bagus"
Sakura bergaya layaknya seorang model profesional. Dia amat senang karena akhirnya dia mempunyai kegiatan atau lebih tepatnya pekerjaan lain selain belajar terus-terusan(ryou : emang terusan Suez apa?, author : alah, terserah, ayo cepetan lanjutin).
"Bagus!" kata Orochimaru lagi.
Pemotretan yang awalnya berjalan dengan lancar-lancar saja, seketika berubah, karena intruksi yang diberikan Orochimaru. Intruksi itu membuat kaget Sakura.
"Buka kakimu lebih lebar" Orochimaru mengatakan hal itu dengan memasang wajah yang agak mesum.
Jepret. Eh, tunggu...batin Sakura
"Sekarang, dadanya lebih dibuka"
"Eh, ng..."
"Ayo, cepat!" teriaknya, sepertinya dia sudah habis kesabaran.
"Tung...Tunggu... Kyaaa!"
BRUUKK
"Bagus, Bagus..." kata Orochimaru puas.
Apaa..? tanya Sakura dalam hati karena belum menyadari apa yang terjadi.
"Hentikan! Kenapa jadi begini. Buang foto tadi" kata Sakura setengah berteriak. "Tadi di potret, kan?"
Orochimaru hanya diam saja.
"Buang foto tadi!" sekarang Sakura berteriak cukup keras.
"Foto ABG seperti kalian... laku keras di pasar gelap" kata Orochimaru dengan tenang.
Apa ini? ternyata...
"Aku ingin pulang" kata Sakura pelan.
"Apa katamu?"tanya Orochimaru sambil mencengkram lengan Sakura. "Aku tidak akan mengizinkanmu pulang. Kamu pikir, untuk apa surat kontrak itu?" "Kamu curi uang untuk administrasi dari dompet ibumu,kan? Kamu pikir, ibumu akan memaafkan perbuatanmu itu?" terang Orochimaru dengan wajah yang menyiratkan kemenangan. "Anak-anak seumuran kalian memang mudah tertipu, hanya dengan sedikit bujukan dan kata-kata manis, maka kalian akan langsung tertarik dengan tawaranku"
"Kenapa jadi begini?" tanya Sakura untuk yang kesekian kalinya.
Begitukah..?
"le..lepaskan!" Sakura berusaha melepaskan cengkraman Orochimaru dari lengannya.
"Jangan berontak!" Orochimaru yang sudah kehabisan kesabaran akhirnya menampar Sakura. "Kalau tidak mau menurut, kujual kau?" "Ayo ikut aku!" Orochimaru menarik Sakura.
"Ugh.." Sakura yang syok, tidak sanggup lagi untuk berontak.
xxxxxxxxxxxxxxx
Orochimaru membawa Sakura ke sebuah ruangan lumayan gelap, terletak di belakang studio. Dia membuka pintu dan mendorong Sakura masuk ke ruang itu.
"Itu teman-teman modelmu, baik-baiklah kau disini" kata Orochimaru sambil tersenyum tipis.
"Jangan. Lepaskan aku!" Sakura memohon pada Orochimaru sambil menangis.
"Percuma menangis!"
Setelah mengatakan hal itu, Orochimaru keluar dan mengunci pintu ruangan itu. Sementara Sakura yang ada di dalam ruangan itu hanya bisa menyesali apa yang telah terjadi.
Bagaimana ini? Apa yang akan terjadi padaku setelah ini? Kami-sama tolonglah aku. doa Sakura dalam hati. Aku harus berusaha sendiri agar aku bisa lari dari sini.
Sakura melihat sekelilingnya, berusaha mencari jalan keluar. Dia melihat ada jendela, didekatinya jendela itu dan berusaha untuk memanjatnya.
"Ugh.. jendelanya terlalu tinggi, tidak mungkin aku bisa memanajatnya" Sakura melihat sekelilingnya lagi.
"Ah, iya! Pintu belakang!"
Sakura berlari kearah pintu belakang dan berusaha untuk membukanya, ternyata pintu itu terkunci, akhirnya Sakura memilih cara terakhir yaitu mendobrak pintu itu.
.
"Percuma! Tidak bisa dibuka" Sakura berusaha untuk mendobraknya, tetapi tetap tidak bisa. "Tolong! Tolong! Ibuu!" teriak Sakura sambil memukul-mukul pintu.
Aku sudah memutuskan untuk tidak pulang. Aku harus melakukan sesuatu. Kalau diperhatikan mereka semua seumuran denganku batin Sakura saat melihat teman-teman modelnya. Pasti mereka sama seperti aku, kena tipu. Tak bisa dibiarkan!
"Tolong! Tolong buka!" teriaknya lagi.
"Hentikan!" terdengar suara. "Percuma. Tidak akan ada yang datang. Seumur hidup kita tidak akan bisa keluar dari tempat ini" ternyata itu suara salah seorang teman modelnya. "Nanti kamu juga akan terbiasa" lanjutnya.
Tidak...
xxxaYaxxx
hyaaahhh... akhirnya kelar juga. Maaf pendek, minna. Dah capek nieh ngetiknya dan udah gak ada inspirasi lagi. O..iya, bagian yang pemotretan itu aku ngawur membuatnya, aku gak pernah ikut ataupun liat pemotretan sih, jadi aku minta maaf kalau gak seperti pemotretan asli. OK cukup segini dulu.
N/A : kalau ada misstypo harap dimaklumi karena ini fic pertamaku. Dan jangan ragu-ragu kalau mau mengingatkan adanya kesalahan di fic ini. Sekali lagi mohon bantuannya, minna.
Mind to
R
E
V
I
E
W
