Halloween yang sepi dan suram …
Halloween, 31 Oktober. Malam hari.
Daun-daun berwarna oranye dan merah memenuhi jalanan Tokyo, tertiup angin di bawah langit mendung. Pejalan kaki ingin cepat-cepat tiba di rumah sore itu. Bahkan anak-anak yang biasa berkeliling kota dengan macam-macam kostum pun tidak banyak terlihat. Jeritan riang Trick or Treat hanya sayup-sayup di kejauhan.
Halloween yang sepi dan suram.
Camus melangkah melewati lentera labu yang tergantung di depan kios-kios kecil dan kafe. Tangannya tenggelam dalam saku mantelnya, syalnya berkibar lembut tertiup angin. Ia tidak pernah merasa kedinginan, tetapi dingin kali ini berbeda dengan yang biasa dialaminya. Ini bukan dingin yang berkenaan dengan udara. Ini adalah jenis dingin yang akan menaikkan bulu roma, membuat kegelisahan menyeruak, dan mengundang aura muram yang tidak dapat dijelaskan.
"Hei," seseorang tiba-tiba menepuk bahunya.
"Aiolia," sapa Camus.
"Ada apa ini?" tanya Aiolia sambil merapatkan mantelnya. "Musim dingin belum berlangsung, tapi udara sudah sedingin ini."
"Saya baru akan menanyakan itu," gumam Camus.
"Mau langsung kembali ke mansion?" tanya Aiolia.
"Ya."
"Saya tadinya ingin mampir membeli kostum Halloween, tapi sebaiknya saya langsung pulang saja. Aiolos sudah khawatir sekali. Sayang …," Aiolia menggumam kecewa. "Semuanya sudah membeli kostum. Hanya saya yang belum."
Camus tersenyum tipis. "Jangan khawatir, saya juga belum membeli kostum."
"Kamu tidak saya hitung karena kamu memang tidak pernah membeli kostum."
Selanjutnya mereka berjalan dalam diam. Ketika mereka melewati tikungan, Camus bertanya, "Hari ini kamu bertemu Milo?"
"Tidak," jawab Aiolia, menggeleng pelan. "Bukannya dia pergi ke Sanctuary dari kemarin lusa dan belum kembali?"
Camus memandang ke arah lain. "Ya …"
Dia memikirkan bayangan di cermin tadi pagi.
Mungkin bayangan itu samasekali bukan halusinasi.
Tetapi ia sangat berharap itu adalah halusinasi. Mana mungkin Milo terjebak dalam cermin …? Tidak, tentu saja Milo tidak terjebak dalam cermin. Ia masih berada di Sanctuary, Camus meyakinkan dirinya sendiri.
Mereka tiba di Kido's Mansion sepuluh menit kemudian. Teman-teman mereka sedang sibuk menyiapkan dekorasi, kue pastel, lentera-lentera labu, dan rangkaian daun mapel tiruan. Camus lebih memilih untuk langsung menaiki tangga dan memasuki kamarnya.
Seharian ini, 'halusinasi' itu sama sekali tidak mengganggunya. Ia tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Inspeksi ke Graud Foundation. Mengajak Hyoga makan siang. Selama seharian ia sama sekali tidak memikirkan cermin dengan bayangan Milo.
Namun, ketika ia dalam perjalanan kembali ke Kido's mansion, cermin itu muncul lagi di pikirannya. Mungkin karena pengaruh sore yang suram. Atau karena ia mulai bertanya-tanya mengapa Milo belum juga kembali dari Sanctuary.
Camus menutup pintu kamarnya, lalu melangkah ke depan cermin. Kamarnya temaram, hanya diterangi sinar bulan. Bayangan-bayangan perabotnya menjulang di dinding, merayap hingga ke langit-langit. Cermin besarnya adalah satu-satunya hal yang cemerlang di kamar itu.
Sejurus kemudian Camus menyadari betapa konyol sikapnya ini. Berdiri di depan cermin, menunggu sahabatnya muncul di sana … konyol sekali, gumamnya dalam hati. Ia tahu ia sudah sering bertemu hal-hal supernatural, bahkan klenik. Tapi bukankah ia sudah melewati semua itu? Perang Hades sudah usai. Ia dan teman-temannya sudah lama memasuki fase hidup normal, tanpa tangan busuk mencuat menggerayangi tubuh mereka atau teriakan-teriakan jurus tak wajar.
Tak ada orang yang muncul tiba-tiba di dalam cermin. Mungkin Camus perlu pergi berlibur untuk menjernihkan pikirannya sekali-sekali.
Dia pun mengangkat cerminnya, bersiap membuangnya. Aquarius Camus sudah terlalu terbiasa menghancurkan hal-hal yang ia anggap tidak berguna. Hyoga yang masih manja. Natassia. Zelos. Dan sekarang, cermin pengganggu ini.
"Mau membawa saya kemana?"
Hampir saja Camus menjatuhkan cermin itu ketika ia mendengar suara dari sana.
Dengan hati-hati Camus meletakkan cerminnya kembali ke tempatnya.
Itu dia. Milo muncul di sana, memandangnya dengan menaikkan kedua alis.
"Kamu harus berhati-hati ketika memegang cermin, Camus. Orang yang memecahkan cermin akan sial selama tujuh tahun berturut-turut," kata Milo.
"Omong kosong," sahut Camus sambil melangkah untuk menghidupkan lampu kamar. Tapi lampu kamarnya tidak menyala ketika ia menekan saklar. Ia menekan saklar itu berulang-ulang. Tidak berguna.
"Ceritakan semuanya," Camus akhirnya menyerah dan duduk di hadapan cermin itu. Mungkin untuk melenyapkan halusinasi ini ia harus meladeninya—dengan begitu dia bisa menemukan cara untuk menyingkirkannya. Jadi dia menatap cermin itu lekat-lekat dan siap mendengarkan dengan seksama.
"Tadi saya sudah cerita, kan?" tanya Milo lelah.
"Cuma sedikit. Lalu kamu langsung hilang."
"Maaf. Saya hanya ingin membuat kamu penasaran," seringai khas itu muncul.
"Ceritakan," kata Camus tidak sabar.
Milo mengulang kembali ceritanya, kendati dengan sangat enggan. Penjelasannya persis seperti sebelumnya: Shion mengurungnya di dalam cermin, Camus harus membebaskannya sebelum hari ulang tahunnya—kalau tidak, Milo akan terkurung dalam cermin selamanya.
Itu masih belum menjawab semua pertanyaan Camus.
"Bagaimana caranya membebaskan kamu?" tanya Camus tidak sabar. "Kenapa Shion mengurung kamu di cermin? Kenapa kamu bisa muncul di cermin saya? Dari semua Gold Saint yang bisa kamu mintai tolong, kenapa kamu memilih untuk menyusahkan saya? Kenapa kamu bisa terkurung dalam cermin selamanya kalau saya tidak membebaskan kamu sebelum hari ulang tahun kamu? Dan Milo, kenapa kamu selalu saja mencari-cari masalah?"
"Lain kali bertanyalah satu-satu, Camus, saya tidak bisa menjawabnya sekaligus," sahut Milo, sama tidak sabarnya. "Ulangi lagi."
Camus menahan keinginan untuk memecahkan cermin itu ketika ia mengulang semua pertanyaannya.
"Kenapa Shion mengurung saya di cermin, saya sudah bilang, saya tidak tahu," jawab Milo setelah Camus selesai. "Kenapa saya bisa muncul di cermin kamu … penjelasannya akan terdengar tidak masuk akal."
"Hari ini saya sudah cukup berhubungan dengan hal yang tidak masuk akal," sahut Camus datar. "Ceritalah, Milo."
"Dunia di dalam cermin seperti labirin," kata Milo. "Saya bisa berkeliling ke mana-mana dan muncul di semua cermin di seluruh dunia. Saya memilih cermin kamu."
"Kenapa harus cermin saya?"
"Hanya kamu satu-satunya orang yang mau mengorbankan apapun demi menyelamatkan saya."
"Jangan terlalu yakin."
"Dan kenapa saya akan terkurung dalam cermin selamanya bila saya tidak bebas sebelum hari ulang tahun saya," Milo mengangkat bahu, berpura-pura tidak mendengar kata-kata Camus barusan. "Saya juga tidak tahu. Itu kan kata Shion. Saya tidak tahu kenapa."
"Pertanyaan terakhir," sahut Camus dengan mata menyipit. "Kenapa kamu selalu saja mencari-cari masalah?"
Milo tertawa pelan. "Saya Scorpio Milo," jelasnya sederhana.
Camus menggeleng putus asa, lalu berdiri dan melangkah menuju jendela. Sinar bulan menerangi sisi wajahnya. Terdengar lolongan panjang di kejauhan; Camus tidak tahu apakah itu benar-benar lolongan binatang atau hanya sound effect dari sebuah pesta Halloween.
"Kamu mau menolong saya atau tidak?" tanya Milo kemudian.
"Pilihan apa lagi yang saya punya?" sahut Camus dingin. Ia menoleh, memandang Milo dengan dahi berkerut. "Kamu dari tadi berbicara dengan tenang sekali. Apa kamu tidak takut?"
"Takut?" kata Milo sambil menaikkan kedua alisnya. "Tentu saja saya takut; saya terkurung di dalam cermin dan kemungkinan besar tidak akan kembali, memangnya saya harus merasa senang?"
"Kamu kelihatan tenang-tenang saja."
"Tadi saya sudah berteriak-teriak panik dan menyumpah-nyumpah. Sekarang saya sudah lelah."
Mata Camus yang berwarna biru gelap memandang mata biru cemerlang sahabatnya.
Akhirnya Camus mulai mengemas barang-barangnya, bersiap melakukan perjalanan menuju Sanctuary.
"Hei," kata Milo setelah beberapa saat.
"Ya?"
"Terima kasih."
"Tidak perlu," sahut Camus. "Toh saya belum tentu bisa menyelamatkan kamu."
-000-
