Aphrodite pun bertindak …

Setengah jam kemudian.

Para Gold Saint duduk di karpet ruang tengah untuk mendengarkan berbagai cerita hantu. Suasana temaram—selain cahaya perapian, hanya sinar Jack O' Lantern-lah yang menerangi ruangan. Labu-labu ukir berseringai lebar itu dihiasi topi penyihir, mantel mini, apapun yang membuatnya tampak lebih hidup.

Gold Saints berkumpul untuk mendengarkan berbagai cerita hantu. Deathmask sudah bercerita tentang legenda penunggang kuda tanpa kepala. Aldebaran menceritakan tentang banshee, hantu wanita yang katanya 'bertugas' untuk mengabarkan kematian seseorang. Kini giliran Shaka.

"Saya akan berkisah tentang sebuah cermin," ujarnya, dengan suara tenang seperti biasa.

Pandangan para Gold Saints otomatis terarah pada cermin yang tadi dibawa Camus ke ruangan itu.

Kira-kira setengah jam yang lalu, Camus membawa cerminnya ke ruang tengah dan meletakkannya di atas perapian. Teman-temannya tentu saja bertanya mengapa, namun Camus tidak menjawab. Dia malah langsung pamit untuk pergi ke Sanctuary (yang membuat semuanya semakin bingung).

Camus memang sangat kesal pada sahabatnya, tetapi ia juga tidak ingin meninggalkan Milo sendirian di kamarnya yang gelap. Menurutnya Milo berhak untuk bergabung dalam pesta Halloween yang diadakan teman-temannya; karena itulah ia memindahkan cermin itu ke ruang tengah. Ia memutuskan untuk tidak memberitahu teman-temannya tentang musibah yang menimpa Milo—lagipula pasti tidak akan ada yang percaya.

Dan di sanalah Milo, diam-diam mengintip teman-temannya dengan antusias. Ia tidak menampakkan dirinya karena tidak ingin membuat mereka takut atau cemas. Meskipun sebenarnya menakut-nakuti Deathmask bukan ide yang buruk juga.

"Ketika melihat cermin Camus, saya teringat salah satu cerita dari Jepang," Shaka pun mulai bercerita. "Tepatnya delapan abad yang lalu, hiduplah seorang wanita yang sangat menyayangi cerminnya. Cermin itu diwariskan secara turun-temurun, dan wanita itu selalu rajin merawatnya, juga rutin membersihkan bingkainya yang terbuat dari perunggu.

"Suatu hari, seorang biksu meminta para warga untuk menyumbang cermin mereka ke kuilnya. Cermin-cermin itu akan dilelehkan dan dibentuk menjadi lonceng kuil. Wanita itu pun menyumbang cerminnya, namun hatinya tidak rela. Sepanjang waktu ia selalu memikirkan cermin itu, membayangkan keindahannya, berharap cermin itu bisa ia miliki kembali.

"Karena wanita itu tidak berhati ikhlas, cermin yang ia berikan pun tidak dapat dilelehkan oleh sang biksu. Cermin-cermin lain bisa meleleh, tapi tidak dengan cermin wanita itu. Saat itulah sang biksu sadar, kalau cermin itu diberikan secara terpaksa.

"Hal itu menjadi omongan di mana-mana membuat wanita itu sangat marah dan malu. Ia akhirnya memutuskan untuk bunuh diri dengan menenggelamkan dirinya. Sebelumnya, ia meninggalkan sepucuk surat. 'Setelah aku mati, cermin itu bisa dilelehkan dan bisa dijadikan lonceng. Namun, barangsiapa sanggup menghancurkan lonceng yang terbuat dari cermin itu, arwahku akan sangat berterima kasih dan menghadiahinya dengan ribuan emas.'"

"Lalu?" semuanya bertanya penasaran. "Apakah akhirnya ada yang menghancurkan lonceng itu?"

Shaka tersenyum. "Cerita ini berakhir dengan menggantung. Kalian harus menyimpulkannya sendiri."

"Yaaah …," sahut teman-temannya kecewa.

"Kalau saya yang jadi pengarang cerita itu," gumam Saga, "Saya tidak akan membuat wanita itu bunuh diri. Saya akan membuatnya terkurung dalam cermin selamanya, supaya dia ikut melebur dan berakhir menjadi lonceng."

Tiba-tiba saja terdengar suara dari cermin Camus.

"Booo …."

Bulu kuduk Gold Saints langsung meremang.

Perlahan, mereka menoleh pada cermin itu.

"Cuma angin," kata Kanon menenangkan, walaupun ia sendiri juga merasa ketakutan.

Di dalam cermin, Milo mati-matian menahan tawa gelinya. Menyenangkan juga menakut-nakuti orang …

"Ayo kita cerita lagi," kata Aiolia, berusaha terdengar ceria dan berpura-pura tidak ada suara-suara yang membuatnya ngeri.

"Tolong aku …," suara Milo terdengar lagi, lebih seram dari sebelumnya. "Tolong aku … aku ada dalam cermin … Aku sekarat … tolong aku …"

Para Gold Saint tidak bisa berpura-pura tidak ketakutan lagi.

"Shaka, kelihatannya hantu wanita yang ada dalam ceritamu itu …," bisik Mu merinding.

Dan Aphrodite pun segera bertindak.

Ia berdiri dari duduknya, lalu mengangkat cermin itu.

"Hah?" pekik Deathmask pelan. "Mau dibawa kemana cerminnya?"

"Mau saya hancurkan," kata Aphrodite datar sambil membawa cermin itu ke halaman belakang.

Teman-temannya membelalakkan mata.

Senyuman Milo pun seketika lenyap.

"Kenapa?" tanya Aiolia panik. "Bisa kena sial selama tujuh tahun berturut-turut kamu nanti!"

"Mendengar suara-suara dari cermin juga bisa mendatangkan sial," sahut Aphrodite. "Dan bencana."

"Jangan, Dite!" teman-temannya segera menghambur ke arahnya.

"Saya sangat menghargai cermin," kata Aphrodite sambil menyibakkan rambutnya dengan anggun. "Tapi kalau cermin itu berani macam-macam, saya tidak akan segan menghancurkannya."

Aphrodite mengangkat cermin itu tinggi-tinggi, siap untuk membanting cermin itu hingga pecah berkeping-keping.

"JANGAN, DITE!" Milo berteriak.

-000-