A marionette shift …
Keesokan harinya.
Camus—yang tidak tahu apa-apa mengenai kejadian di Kido's mansion—tiba di Sanctuary keesokan harinya.
Ia segera berlari ke Pope Hall, melewati kuil-kuil teman-temannya tanpa berpikir tentang apapun selain bagaimana caranya membebaskan Milo.
Setibanya di Pope Hall, ia melihat Shion duduk di tahtanya. Pria 'muda' berusia 243 tahun itu terlihat murung. Di pangkuannya terdapat sebuah cermin bulat bergagang yang diletakkan terbalik.
"Pope Shion," Camus membungkuk sebelum melangkah mendekati Shion.
Shion memandangnya sambil menaikkan alis. Kelihatannya dia sudah tahu tujuan Camus ke sini.
"Milo terperangkap dalam cermin, dan dia bilang Anda mengurungnya," kata Camus tanpa basa-basi.
Mata Shion menyipit.
"Saya mengurungnya?" tanyanya beberapa saat kemudian, dengan suara rendah.
"Ya … kata Milo …"
"Anak bodoh," gumam Shion, berbicara seakan Milo baru berusia dua tahun. "Dia tidak mengatakan yang sebenarnya pada kamu karena dia takut kamu tidak akan mau menolongnya."
"Yang sebenarnya?" tanya Camus sambil mengerutkan dahi.
"Dia terperangkap di cermin karena kesalahannya sendiri," Shion turun dari tahtanya sambil membawa cermin yang tadi ada di pangkuannya. Namun ia hanya menunjukkan punggung cermin itu. Punggung cermin itu berlapis perak dan bertatahkan intan berbentuk bunga bakung mungil. Cermin yang sangat indah. Camus tidak bisa memungkiri ia ingin melihat permukaan di baliknya.
"Beberapa waktu lalu, Athena menitipkan banyak benda pada saya," kata Shion. "Semua benda berbahaya yang ia sita dari Gunung Olympus. Salah satunya adalah cermin ini. Ini adalah cermin Narcissus."
"Cermin Narcissus?"
Shion terdiam sejenak sebelum menceritakan semuanya.
"Narcissus hidup di era mitologi. Dia adalah orang yang suka bercermin dan memandang dirinya sendiri; dia bahkan jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Selama bertahun-tahun, dia bercermin pada kolam sambil memuji-muji diri, sampai akhirnya dewa mengutuknya dan mengubahnya menjadi bunga bakung.
"Bahkan ketika jiwanya sudah berada di underworld pun, Narcissus masih suka bercermin di Sungai Styx, sungai yang membatasi dunia manusia dan underworld. Hades, yang sangat marah padanya, menghukumnya dengan lebih kejam. Merasa sedih dan dendam, Narcissus pun menciptakan cermin terkutuk ini. Barangsiapa yang memandang cermin ini dalam waktu lama, ia akan terperangkap di dalam cermin dan tidak akan bisa keluar sebelum mengucapkan sebuah mantra.
"Narcissus mencoba menipu Hades dengan memberikan cermin ini padanya. Namun Hades bukanlah dewa yang muda ditipu. Ia menyingkirkan cermin ini dari underworld, lalu membuangnya ke Gunung Olympus."
Shion menghela napas. "Sahabatmu yang jahil itu melihat-lihat cermin ini ketika dia mengunjungi kuil saya. Dia memandang cermin ini lama sekali, sampai akhirnya dia terperangkap. Saya tidak tahu kenapa dia menjadi seperti Aphrodite, yang betah sekali memandang bayangannya di dalam cermin," ia menunjukkan punggung cermin itu. "Saya tidak berani memandang sisi cerminnya lagi. Sejak tadi saya membalik cermin ini dan mengamati punggungnya. Lihatlah, ada tulisan berbahasa Inggris di sini. Saya rasa ini adalah mantra agar Milo bisa keluar dari cermin."
Camus membaca tulisan itu.
A Marionette Shift
"A Marionette Shift?" gumam Camus tidak mengerti ketika ia mengambil cermin itu.
"Ya. Saya sudah menyuruh Milo untuk membaca kalimat ini keras-keras, tetapi tidak ada yang terjadi. Dia tetap tidak bisa keluar."
"Mungkin ini bukan mantranya," kata Camus seraya duduk dan memandang cermin itu dengan lelah. Tangannya yang lain ia letakkan di dahinya, membuat poninya bergeser ke belakang. "Mungkin ini cuma kode."
"Kode?"
"Ya," jawab Camus. "Ngomong-ngomong, Milo bilang, kalau dia tidak bisa keluar dari cermin ini sebelum hari ulang tahunnya, dia akan terkurung dalam cermin ini selamanya."
Shion memutar bola matanya dan duduk di sebelah Camus. "Dia bohong lagi. Dia berkata begitu supaya kamu cepat-cepat membebaskannya."
Sekarang Camus merasa kesal sekali. Si kalajengking tidak tahu diri itu sudah menipunya dan membuatnya cemas setengah mati. Kurang ajar …, rutuknya dalam hati.
"Apakah mitos Narcissus ada hubungannya dengan marionette?" tanya Camus kemudian.
"Tidak. Kamu tahu sendiri hanya Minos-lah yang berhubungan erat dengan marionette."
"Hmmmh …," gumam Camus. Kelopak matanya turun.
"Kamu kelihatan lelah, Camus," kata Shion dengan wajah prihatin. "Perlu saya ambilkan minum? Atau apa?"
"Tidak. Terima kasih," kata Camus, mengerjap untuk mencegah kantuk mendatanginya. "Saya hanya butuh kertas dan pulpen."
"Baiklah."
Camus meneruskan memandang punggung cermin Narcissus, sementara Shion mengambilkan pulpen dan kertas untuknya.
Lalu Camus membalik cermin itu.
Tiba-tiba saja dia didera keinginan kuat untuk memandang bayangannya sendiri.
Kaca cermin itu sungguh bening, memantulkan bayangannya dengan sangat sempurna. Alisnya yang berbentuk khas. Matanya yang berwarna biru dalam. Kulitnya yang kecokelatan. Hidung dan bibirnya yang akan membuat siapapun terpana.
Dia tampan sekali.
Mengapa dia baru menyadarinya …?
Tanpa sadar ia tersenyum. Dia ingin seperti ini selamanya. Dia ingin memandang dirinya sendiri selamanya.
Pour toujours …
Selamanya …
Selamanya...
Ia mengerjap ketika Shion merampas cermin itu darinya.
"Sadarlah," kata Shion. Suaranya tenang, namun sangat tegas.
Camus memandangnya.
Dia merasa seakan baru bangun dari tidur yang panjang, seakan baru disiram air dingin hingga matanya terbuka lebar dan melihat kenyataan.
"Pantas saja Milo terperangkap," bisik Camus setelah memahami semuanya. "Cermin itu menghipnotis. Ketika memandangnya, saya sama sekali tidak bisa memalingkan wajah saya darinya."
"Benar," Shion memberikan pulpen dan kertas yang tadi diminta Camus. "Secara otomatis kamu akan memuji-muji dirimu sendiri, mengakui bahwa dirimu cantik, tampan, berkuasa, dan membanggakan."
Camus masih terpaku untuk beberapa saat.
Dalam hati ia menyesal karena telah kesal pada Milo. Bukan salah Milo bila ia terperangkap dalam cermin itu; cermin itu terkutuk dan membuat orang yang memandangnya tidak bisa menghindar darinya.
Camus berjanji akan melakukan apapun agar Milo bisa bebas, bahkan bila ia harus mengorbankan keselamatannya sendiri.
Dia mulai mencoret-coret di atas kertas, mencoba memahami arti A Marionette Shift. Semakin ia membaca kata-kata itu, semakin ia menyadari betapa tidak masuk akalnya kata-kata itu terdengar.
"A Marionette Shift …," gumamnya berulang-ulang. "Pilihan kata yang aneh sekali …"
"Oh ya?" tanya Shion penasaran. "Saya tidak terlalu paham bahasa Inggris," katanya, lalu tersenyum. "Mereka bilang, orang Perancis juga tidak terlalu paham bahasa Inggris karena terlalu mengagungkan bahasanya sendiri."
Camus tersenyum tipis. Senyum langka yang selalu dinanti Milo dan Hyoga. "Tidak semuanya," katanya.
"Jadi kenapa kamu berpikir kata-kata A Marionette Shift ini aneh?" tanya Shion kemudian.
"Arti kata-kata ini adalah 'Gerakan Marionette'. Sama sekali tidak merujuk pada apapun yang berhubungan dengan Narcissus," kata Camus. "Lagipula, kata 'shift' terdengar tidak cocok disandingkan dengan kata 'marionette'. Kata 'marionette' lebih cocok disandingkan dengan kata yang lebih enak didengar, seperti 'swing' … A Marionette Swing … atau yang lebih puitik." Ia menghela napas. "Mungkin A Marionette Shift adalah anagram," katanya.
"Anagram?"
"Kata-kata yang dibentuk dari kata-kata yang sudah ada," Camus menjelaskan dengan mata nanar. "Mungkin mantranya memang terdiri dari huruf-huruf yang ada di dalam kata A Marionette Shift. Tetapi mantranya sendiri bukan A Marionette Shift. Karena itulah kata-kata A Marionette Shift terdengar aneh, karena ini bukanlah kata-kata yang sebenarnya, melainkan kata-kata yang dibentuk ulang."
"Saya tidak mengerti."
"Seperti ini … " Camus menuliskan sesuatu di atas kertas, mencoba menjelaskan dengan cara yang lebih sederhana.
"Has die," Shion menggumam ketika membaca tulisan Camus. "Artinya, 'sudah mati'. Tetapi kata-kata ini janggal—tidak ada subjeknya."
"Ya. Karena kata-kata ini adalah anagram. Coba buat kata baru dari huruf-huruf dalam kata 'has die' ini," pinta Camus.
Shion mencoret-coret di atas kertas, merangkai kata baru dari huruf-huruf h-a-s-d-i-e.
Ia tertegun setelah ia berhasil membuat kata baru.
Has die
menjadi
Haides
"Haides," Camus membenarkan. "Dalam beberapa karya sastra, Hades ditulis dengan Haides."
"Hooo …," Shion tersenyum lebar. "Jadi mantra cermin ini kemungkinan besar adalah kata-kata baru yang dirangkai dari huruf a-m-a-r-i-o-n-e-t-t-e-s-h-i-f-t, sama seperti 'has die' yang dibentuk dari kata 'Haides'."
"Benar."
Camus dan Shion pun mulai bekerja keras untuk menemukan mantra cermin itu. Mereka menggabungkan huruf-huruf dalam kata A Marionette Shift, mencoret, menghapus, merangkai lagi, begitu terus hingga dua jam berlalu.
Akhirnya Camus berhasil membentuk kata-kata yang ia yakin bisa membebaskan Milo dari cermin itu. Kata-kata yang berhubungan dengan Narcissus.
"Lihat ini, Pope," kata Camus dengan mata redup. Sekarang ia benar-benar mengantuk—dia memang sama sekali tidak tidur dalam perjalanan dari Jepang ke Yunani.
Shion memandang tulisan Camus dengan takjub.
A Marionette Shift
menjadi
I am not the fairest
"I am not the fairest …," bisik Shion. "Bagus sekali, Camus. 'I am not the fairest' berarti 'aku bukanlah yang tercantik/ tertampan'. Orang yang terperangkap dalam cermin Narcissus harus mengakui bahwa dia bukanlah yang tercantik atau tertampan, agar dia bisa bebas dari cermin itu."
"Benar," kata Camus.
"Milo," Shion memanggil Milo di cermin itu dengan bersemangat. "Kemarilah, Camus sudah menemukan mantranya."
Tetapi Milo tidak muncul.
"Aneh sekali," kata Shion heran setelah beberapa saat. "Kemarin-kemarin dia selalu muncul ketika saya memanggilnya."
"Jangan khawatir, Pope, saya akan kembali ke Kido's mansion," gumam Camus. "Saya akan membebaskannya."
-000-
