Romance – Tragedy – Hurt/Comfort
Axis Power Hetalia - © Hidekaz Himaruya
"My first Hetalia fic, A Triangle love story between Austria, Prussia and Hungary, who'll win Hungary's love? Contains OOC + Death charas."
WARNING
~May contain OOC, AT and Death Charas. Including human names~
Chapter 2 : Der König ist tot
"Mein Gott, wir verlieren…!"
"Apa ini sudah saatnya…?"
"…"
"…Jawab aku!"
"Y-Ya… maafkan aku, ini saatnya."
"…vi-viszlát méz…"
…
Alunan nada piano sudah memenuhi ruangan itu—tepatnya ruang pribadi Austria. Partitur tengah berserakan di kamar itu, mungkin ia sudah memainkan 3 lagu lebih di hari itu—kebanyakan symphony Bethoven. Jari jemarinya tak kunjung berhenti, masih saja terus merangkai nada-nada.
"Fiuh, akhirnya selesai,"
Austria beristirahat sejenak, ia melepas kacamatanya dan menaruhnya diatas piano hitamnya, pria berambut hitam itu bernafas lega. Semenjak ia pulang dari rumah Russia, perkataan Belarus masih terngiang dipikirannya.
"Kau serius… soal Eliza?"
Memang hubungannya dengan Hungary setelah bercerai baik-baik saja, tapi kenapa ia bisa berkata ia akan kawin lagi dengannya? Apa ada hal aneh semalam? Well, ia tak dapat mengingatnya.
"Roddy!"
Prussia datang tepat ke ruang pribadinya via jendela.
"Obaka-san, jangan rusak jendelaku!"
"Kesesese, kau tak bisa diajak bercanda olehku si awesome yah."
"Hei, kau ingat soal semalam?"
"Tentu, soal Elizaveta, kan?"
Dia ingat…
Apa-apaan ini?
"A-Apa?"
"Kau bilang kau mau menantangku yang awesome ini demi mendapat cinta Elizaveta, mana mungkin aku tidak ingat!"
"Lalu, aku berkata apa saja?"
"Kau bilang kau akan menikahinya lagi kalau perlu, tapi yah, ke-awesome-anku akan mengalahkanmu, lihat saja!"
Prussia dengan ringan melangkah pergi setelah menceritakan semua hal itu dengan nadanya yang Austria benci. Ia kini terdiam seribu bahasa, walaupun ia berjanji akan mengalahkan Prussia dan mendapat Elizaveta kembali, apa yang harus ia lakukan?
Austria terus berpikir, serta menumpahkan kekesalannya pada Piano didepannya. Tapi memang semua itu tak ada gunanya.
…
Setelah berkutat nyaris seharian di depan pianonya—frustasi, Roderich dengan kotak biolanya datang lagi ke café tempat Ludwig bekerja—minum kopi sambil main biola di café itu, mencoba membuang semua rasa penat dipikirannya.
"Kau mau main biola disini, Rode?" tanya Ludwig yang sedang mengelap gelas-gelas.
"Ya, boleh kan, Ludwig?"
"Silakan, semua pengunjung café juga senang kalau kau yang bermain biola,"
Roderich sering memainkan biola di café itu, dengan imbalan secangkir kopi gratis. Banyak yang suka dengan permainannya yang menawan, ia bisa membawakan nyaris semua alat musik klasik.
Selesai membawakan dua lagu, pengunjung café memberikan applaus keras dan Roderich duduk di tempat favoritnya dengan kopi yang sudah siap di mejanya.
TING, TING
Pintu café seperti biasa terbuka, kali ini lumayan cepat, dengan banyak costumer yang silih berganti datang.
"…Ludwig, boleh aku minta cappuccino satu?"
Suara itu sangat dikenal Roderich, ia yang penasaran dengan suara itu—yang tadinya fokus pada beberapa lembar partitur di tangannya, mencoba melihat ke arah kasir.
Gadis berpakaian baju apron hijau, berambut kecoklatan panjang dengan bunga yang selalu menghiasi rambutnya—Elizaveta Héderváry, Hungary. Ia membawa kantong belanjaan yang nampaknya berat untuk dilihat. Kebetulan gadis itu membuang pandang kearahnya, Roderich pun mengangkat cangkir kopinya—tanda ajakan untuk minum kopi bersama.
…
Kedua pasangan—tepatnya mantan suami-istri itu duduk di satu meja yang sama. Dengan kopi mereka masih mengepulkan asap saking panasnya. Hubungan Austria dan Hungary memang tidak renggang atau tidak terjadi apa-apa. Ini kesempatan Austria untuk mengatakan apa yang ia katakan.
"Kau habis dari mana, Liza?" tanya Austria dengan senyum simpulnya.
"Aku habis berbelanja dengan Belarus dan Liechestein," jawabnya riang. "Tebak, apa yang terjadi, Roddy?"
"Hmm? Ada apa?"
"Besok, Gil akan mengajakku kencan,"
Nyaris saja kopi yang ia minum tergelincir keluar lagi dari mulutnya. Prussia sudah mendahului dirinya—dia kalah.
"Oh, selamat kalau begitu," senyum pahit Austria nyaris terlihat saat Hungary bilang begitu padanya. "Dimana kalian kencan?"
"Kami janjian nonton di bioskop, kebetulan dia punya tiket. Tumben dia mengajakku," Hungary tampak senang.
"Wah tumben dia punya uang, hahahaha,"
Apa tertawa akan menutupi kesedihanmu, Austria?
Poor you, silly aristocract
Setelah hari sudah senja, Austria pun mengantar Hungary pulang—membawa belanjaannya hingga ke rumah. Kenyataannya, Hungary mungkin lebih kuat disbanding Austria.
"Padahal kau tak usah repot-repot membawanya."
"Arah rumah kita kan sama, jadi sekalian…"
Di depan rumah Hungary, mereka berdua pun berpisah.
"Selamat malam, Roddy~"
"Ya, selamat malam juga Liza…"
JKLEK
Austria menghela nafas panjang, ia mencopot kacamatanya seraya menyusuri jalan ke rumahnya. Orang yang ia sayangi, orang yang sangat dekat dengannya sudah direbut, dan kini ia merasa lebih hampa lagi.
Impiannya untuk kembali dengan Elizaveta harus ia buang jauh-jauh, sejauh beberapa partitur yang ia layangkan di tengah hari senja itu.
…
Keesokan harinya, hari dimana Hungary dan Prussia berkencan.
Roderich bukan tipe yang ingin melakukan stalk atau pencemburu, hari ini ia berencana jalan-jalan di taman dekat café—membuang stressnya. Dengan pakaian semi-casualnya, ia berangkat.
Tidak disangka dan tidak diduga, di bangku taman yang menghadap ke arah jalanan raya itu telah menunggu Elizaveta—dan Gilbert belum terlihat datang!
"Liza…?"
Melihat ada seseorang memanggilnya, Elizaveta pun langsung melihat ke arah Roderich berdiri.
"Roddy? Ada apa?"
Elizaveta berdiri dari bangkunya dan datang ke hadapan Roderich yang terlihat melongo.
"…Ahh, bukan apa-apa kok, aku cuma lagi jalan-jalan, kau menunggu Gilbert kan?"
"Ya, tapi ia belum datang…kenapa ya?"
"Mungkin telat bangun…?"
"Hoooi Roddy! Aku yang awesome ini datang~ dan Liza itu milikku ya!"
Gilbert muncul dari sisi jalan yang berlawanan, berlari ke arah Elizaveta dan Roderich. Kata-kata Gilbert tadi membuat Elizaveta blushing mendadak. Tetapi, diarah ujung jalan, ada truk (tronton mungkin) dengan kecepatan tinggi siap menyambut Gilbert.
"Wha—Obaka-san, awas!"
"…Tunggu, Roderich, Gilbert…!"
Austria dan Hungary mencoba menyelamatkan Gilbert yang tak bergeming.
CIIIIIIIIIIIT!
BRAK!
A/N: Yak, bersambung *author digeplak* Saya ada pengumuman!
Di cerita ini ada 4 ending (empat-empatnya tragic end), saya cuma nampilin true endingnya—alias Austria Ending aja, 3 lagi…kalau ada yang mau ntar saya tampilin jadi omake. Sekali lagi, mohon maaf atas ke-OOC-an saya. Silakan kritik, flame kalo perlu!
GLOSSARY~
Der König ist tot = The King is Dead
"Mein Gott, wir verlieren"My God, we're lose
"viszlát méz"Goodbye, my honey
