Hai semua! Maaf nih LIGHT telat again!
Harus belajar sih... Kalau gak belajar, Light gak akan pernah bisa menjadi Light...
Yang namanya Light kan harus menjadi best of the best! ckck, hehehe
Rate : T
ShinRan, HeijiKazuha, ShinichiShiho
PATIENT AGAIN
"Shinichi... Bangunlah... hei...!" seru seorang wanita bersuara merdu tepat di telinga Shinichi. Shinichi menggeliat dan terbangun dari tidurnya.
"Engh... Ran... aku masih ngantuk!" seru Shinichi.
"Bangun SHINICHI!" seru satu suara yang bahkan lebih keras lagi. Karena terkejut, Shinichi segera bangkit dari tidur nyenyaknya.
"Arrgh!" serunya. Wajahnya horror.
"Shinichi! Kamu itu sudah mau jadi ayah tapi sikapmu masih seperti ini? Ayo! Sekarang siap-siap!" seru seorang wanita berambut panjang berwarna pirang.
"Ibu... iya... aku akan bersiap... hah? Bersiap kemana?" tanya Shinichi heran.
"Shinichi... kata ibu kita akan pergi untuk piknik... kau mau ikut?" tanya Ran.
"Oh... hehehe... kau akan ikut kan Ran?" tanya Shinichi balik seraya tersenyum.
"Iya..." jawab Ran membalas senyum Shinichi.
"KALAU BEGITU LEKAS MANDI!" seru Yukiko dengan berkacak pinggang. Shinichi menutup telinganya sambil mengatupkan giginya.
"Iya! Iya!" jawab Shinichi seraya pergi menuju pintu kamar. Dia membuka pintu tersebut. Sebelum melanjutkan jalannya, dia menoleh sebentar ke belakang. Ke arah dua wanita yang paling dia sayangi. Ran dan Yukiko.
"Err... Ran... Mau membantuku menggosok punggung?" tanya Shinichi nakal ke arah Ran. Ran yang ditanya, wajahnya langsung memerah. Sedangkan Yukiko malah cengok dibuatnya. Melihat kejadian tersebut, Shinichi segera pergi melenggang ke arah kamar mandi dengan cengiran menghiasi wajahnya.
"Bos... Hari ini, apa kita akan membunuh direktur yang diperintahkan oleh Big Bos?" tanya seorang pria besar bertopi hitam berkacamata hitam.
"Tidak sekarang, Vodka... aku ada perlu dengan mangsa lama kita..." jawab orang berambut panjang.
"Huh, perlu apa lagi Gin?" tanya seorang wanita cantik berambut panjang yang duduk di kursi belakang jok penumpang mobil porsche 465A itu.
"Aku ada sedikit permainan..." jawabnya dengan seringaian yang menempel di wajahnya.
"Huh, tak lucu. Sebaiknya kau lepaskan dia... toh dia tidak mengganggu kita..." ujar wanita itu lagi.
"Diamlah, Vermouth!" bentak Gin.
"Kenapa? Memang benar kan?" ujar Vermouth.
"Tikus itu memang tidak berbahaya untuk saat ini... Tapi, apa kau bisa menjamin di suatu saat nanti?" tanya Gin dengan dingin. Vermouth dan Vodka hanya bisa terdiam mendengar penuturan Gin.
"Ayo, jalan!" perintah Gin. Vodka pun menjalankan mobil tersebut.
"Sampai!" seru seorang wanita berambut panjang.
"Ibu... jangan terlalu berlebihan..." sahut seorang laki-laki berambut hitam pendek.
"Tak apa kan? Kita sedang piknik Shinichi!" seru Yukiko. Shinichi hanya bisa menutup telinganya.
"Sudahlah kalian..." ujar Yusaku seraya tersenyum.
"Ran... ikut aku deh. Aku tahu tempat menyenangkan disana!" seru Shinichi seraya menarik tubuh Ran. Ran pun menurut dan meninggalkan Yusaku serta Yukiko di tempat semula.
"Shinichi? Mau kemana?" tanya Ran yang dengan susah payah mengimbangi lari Shinichi.
"Hahaha... lihat itu... indah kan?" ujar Shinichi seraya menunjuk danau yang luas dan... indah.
"Waaaaahhh... indah sekali!" seru Ran. Senyumannya melebar. Matanya menatap lurus ke arah danau.
"Hehehe..." Shinichi hanya makin lebar nyengir. Mereka berdua pun menyusuri danau tersebut. Mereka bertemu dengan kawanan angsa dan ikan juga merpati. Air jernih yang mengalir lambat dan menenangkan. Lalu, tour mereka yang singkat tersebut diakhiri dengan istirahatnya mereka disamping danau dibawah pohon besar yang rimbun dan nyaman juga sejuk. Mereka bersandar di pohon itu. Tangan Shinichi dirangkulkan ke pinggang Ran. Dan tangan Ran memegang tangan Shinichi yang merangkulnya. Ran pun menyandarkan kepalanya ke dada Shinichi.
"Shinichi..." sahut Ran ditengah kesunyian mereka.
"Hm?" ucap Shinichi sambil terus mendekap Ran dengan erat.
"Apa... ini semua sudah berakhir?" tanya Ran. Shinichi menatap Ran yang sekarang sedang memejamkan matanya di dada Shinichi.
"Maksudmu?" tanya Shinichi.
"Aku tahu kau tak bodoh Shinichi..." ujar Ran.
"Yeah... kau tenang saja..."jawab Shinichi makin erat mendekap Ran. Ran diam... dan menikamati perlakuan Shinichi.
Wanita berambut seperti daun gingko pendek itu tersenyum hampa dibalik lebatnya rumput. Matanya menatap nanar pemandangan di depannya.
"Benarkah tak ada harapan untukku, Shinichi?" gumamnya.
"Cintamu hanya untuknya?" gumamnya lagi.
"Tak ada tempat untukku di hatimu? Benarkah?" gumamnya. Wajahnya tetap tanpa ekspresi.
"Tak sadarkah rasaku ini untukmu?" tanyanya entah pada siapa.
"Aku mohon jawab aku!" serunya tertahan dalam hatinya. Tubuhnya bergetar. Matanya tertuju pada sepasang kekasih yang sedang bersandar di bawah pohon besar. Disamping danau.
"Benarkah aku tak pantas untukmu?" gumamnya. Wajahnya masih tetap datar.
"Tak bisakah kau berikan sedikit cintamu untukku? Shinichi? Jawab aku!" seru orang itu. Masih tetap dalam hatinya. Akhirnya dia berbalik dan menjauh pergi dari tempatnya semula. Wajanya memerah. Dia menghela nafas. Kakinya melangkah berat. Matanya menerawang.
"shinichi... kalau kau tak mencintaiku, kenapa kau harus memberiku kesempatan? Memberiku celah? Membiarkanku sedikit masuk dalam celah tersebut?" gumamnya. Tersungging senyum kecut di bibirnya.
"Kau tahu? Saat kau menjadi tumpuanku saat menangis, menjadi tempatku berlindung di balik punggung mu... menjadi penyelamatku saat aku pikir aku akan mati. Saat kejadian pemabantaian bus, saat kita pertama bertemu dan saat-saat menyenangkan lainnya, aku kira kau punya rasa lebih untukku..." ujarnya lemah. Jalannya gontai. 'Err? Sekarang hujan?'batinnya. merasakan ada air yang menetes di wajahnya.
"Air mataku... sejak kapan aku mulai menangis? Hahh... sejak itu... sejak dia mengatakan ran hamil... hahahaha" gumamnya datar. Langkahnya terhenti. Tangannya dia pukulkan ke pohon di sebelahnya. Tangan bagian bawah dia sandarkan ke pohon itu. Lengannya dia tekuk. Lalu, kepalanya dia sandarkan ke tangannya yang menyentuh pohon. "Bodoh..." ujarnya. Dia menangis dalam diam. Bibirnya tersenyum. Tapi, matanya menangis.
"Sherry..." sahut suara berat yang semakin mendekati Shiho.
DEEGGG...!
Shiho semakin tak bergerak. Tangisannya terhenti. Matanya mebelalak. Jantungnya berdegup kencang. Dengan langkah berani, dia mencoba untuk menatap orang yang memanggilnya.
Sherry berbalik. Dan tepat saat itu juga, moncong pistol GLOCK 19 dengan manis bertengger di keningnya.
"Mau apa kau?" tanya Shiho dengan nada bergetar.
"Bekerja..." ujar Gin ditambah seringaiannya.
Beberapa hari ini Shiho menghilang. Tak ada yang tahu dia kemana. Semua orang di sekitarnya sangat khawatir. Terutama Shinichi yang memang sangat tahu kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Shiho. Karena dia telah mengenal Shiho jauh lebih dalam disbanding yang lainnya.
"Shinichi..." panggil Ran. Shinichi yang kala itu sedang berpikir dalam tidurnya tentang menghilangnya Shiho pun segera membuka pintu kamarnya. Mendapati istri tercintanya berada di ruang tamu.
"Ada apa?" tanya Shinichi sembari berjalan mendekati Ran. "Eh? Kalian..." sahut Shinichi.
"Hai... hehehe" ucap seorang pria hitam berlogat kansai.
"Heiji? Kazuha? Sonoko? Err, kau... Kaito?" tanya Shinichi pada mereka masing-masing.
"Ya!" seru mereka bersamaan dengan cengiran berhias di wajahnya.
"Ada apa?" tanya Shinichi.
"Shinichi... kau jangan seperti itu pada kami... membuat kami kecewa saja..." ujar Heiji.
"Ya... lalu, kalian kesini kenapa?" tanya Shinichi lagi.
"Kami ingin mengajakmu ke Tropical Land!" seru Kaito dengan cengiran lebarnya.
"Hah? Tidak!" jawab Shinichi.
"Kenapa?" tanya Kaito.
"Ran sedang hamil!" seru Shinichi.
"Jangan marah dong Shinichi... eh? Apa?" ucap Kaito yang bingung.
"Tunggu, kau bilang tadi..." Kazuha ikutan membego.
"Ran... tadi kau bilang... Shinichi tadi kau..." Sonoko ikut-ikutan mikir.
"Kalian lambat, bodoh, idiot! Ran hamil!" seru Heiji pada tiga orang bodoh di dekatnya. Yang dituduh Heiji otomatis mengembungkan pipinya. Tapi, seketika raut wajahnya berubah. Sonoko dan Kazuha mnghampiri Ran.
"Ran!" seru mereka berdua yang segera memeluk Ran. Ran hanya terkekeh geli melihat perilaku sahabatnya. Tidak lama kemudian, dering handphone Shinichi memecah acara peluk-pelukan di ruangan itu. Dia melangkah menjauhi teman dan istrinya. Lalu, menerima teleponnya.
"Halo..." sambut Shinichi.
"Hai... lama tidak berjumpa, Shinichi Kudo!" seru orang yang bersuara di sebrang telepon.
"Kau?" sahut Shinichi. Nadanya cemas.
"Hai... Apa kau masih mengenalku?" tanya orang itu. Shinichi mengerutkan alisnya.
"Mana Shiho?" ucap Shinichi to the point.
"Dia di tangan kami..." jawab suara itu datar. Shinichi mempertajam ingatannya. Siapa orang yang meneleponnya sekarang. Lalu, sebuah suara di sebrang sana membuat shinichi ingat semuanya.
'Gin! Mau kita apakan anak ini?'tanya seorang wanita dalam telepon itu. Sepertinya mereka sedang berbicara.
"Gin..." gumam Shinichi. Terdengar oleh Shinichi. Orang yang dipanggil Gin oleh Shinichi itu mendengus.
"Huh... Ya, apa kabar?" tanya orang itu dingin. Kini amarah Shinichi telah meningkat.
"KAU! MANA SHIHO?" seru Shinichi. Tubuhnya menegang.
"O o ooowww... kau marah?" tanya suara Gin tanpa dosa. Wajah Shinichi memerah. Dia benar-benar marah.
"Katakan padaku... dimana Shiho berada? Kau sembunyikan dimana dia?" tanya Shinichi. Nadanya mendesis membunuh.
"Hahaha... mau ikut permainanku? Yang menang mendapatkan Shiho..." ujar Gin.
"APA?" bentak Shinichi. Gin yang mendengarnya makin tertawa hebat dan keras.
"HAHAHAHA... aku beritahu kau... tapi, nanti. Aku ingin sedikit bersenang-senang dengan Sherry..." ucapnya. Sambungan telepon pun terputus. Shinichi berdecak kesal. Lalu, dia menggebrak meja yang berada di dekatnya. Meja ruang makannya.
"Shinichi? Ada apa?" tanya Ran segera mendatangi Shinichi dengan wajah cemas. Shinichi segera mengalihkan pandangannya pada Ran. Dia menatap Ran. Lalu, memegang kedua pipi Ran.
"Tak apa... hanya ada sedikit masalah.." jawabnya. Lalu, sedikit mengelus rambut Ran.
"Shinichi.. katanya ada kedua orangtuamu? Kemana mereka?" tanya Heiji.
"Oh... mereka sudah pulang dari kemarin..." jawab Shinichi tak fokus.
"Kamu kenapa?" Tanya Heiji. Dia tahu kalau sahabatnya kini bertingkah aneh.
Shinichi yang sempat melamun sedikit langsung tersentak begitu Heiji menggerakan tangannya di depan wajahnya. Matanya membulat dan langsung menatap heiji dengan pandangan yang tak bias diartikan.
"Kazuha, Sonoko, Kaito! Kalian tunggu disini, mengerti? Jaga Ran jangan sampai lepas! Lalu, Heiji ikut aku!" seru Shinichi yang langsung berlari keluar rumah. Heiji yang tak tahu apa-apa, merasa ini sangat penting segera mengikuti Shinichi yang entah kenapa kini lari kesetanan.
Shinichi segera menaiki mobilnya diikuti Heiji yang masuk ke dalam mobil Shinichi. Mereka pun segera meninggalkan kediaman Kudo.
Ditatapnya wajah Shinichi oleh Heiji. Entah kenapa terlihat Shinichi begitu gelisah dan cemas. Caranya menyetir pun ugal-ugalan. Sudah berkali-kali Heiji berteriak namun seolah Shinichi tak mendengarnya. Karena yang dia dengar hanyalah suara Gin yang selalu terngiang di telinganya... "Hahaha... mau ikut permainanku? Yang menang mendapatkan Shiho...".
"SHINICHI! KAU GILA APA? SADARLAH KELAK KAU AKAN MENJADI SEORANG AYAH? KAU MAU ANAKMU HIDUP TANPA AYAH, HAH?" bentak Heiji yang sudah kewalahan menghadapi teman terbaiknya ini. Sejenak Shinichi langsung sadar dengan apa yang diperbuatnya. Tak lama kemudian, dia pelankan laju mobilnya dan membanting stirnya ke pinggir dan memberhentikannya. Begitu mobil berhenti, Heiji sedikit menghela nafas lega. Sedangkan Shinichi? Tangannya terkepal di stir mobilnya. Giginya menggeretak.
"Sebenarnya kita mau kemana? Ada apa sebenarnya?" Tanya Heiji berusaha serileks mungkin. Keadaan Shinichi benar-benar mengkhawatirkan. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
"Heiji, kau tahu? Shiho..." ujar Shinichi akhirnya. Heiji mengerutkan alisnya berusaha mencerna kata-kata sahabatnya itu. Tetap saja, dia tak bisa mencerna lebih dari apa yang dikatakan Shinichi.
"Kenapa dengan Shiho? Dia yang dititipkan di rumah professor Agasa itu kan?" Tanya Heiji. Shinichi mengangguk lemah.
"Dia di tangan jubah hitam..." ucapnya lirih dan lemah. Mata Heiji membulat.
"Harus aku cari dimana dia? Yang aku tahu, dia itu ada di tempat yang seperti basement... saat dia meneleponku tadi..." lanjut Shinichi. Matanya nanar. Heiji yang mendengarnya langsung menyandar pada kursi mobil yang didudukinya.
"Aku kira kita sudah lepas dari organisasi itu..." ucap Heiji. Keringat dingin kembali membasahi pelipisnya.
"Maaf Heiji, bisakah kau kembali pulang dan katakana pada mereka bahwa aku baik-baik saja? Oh ya, jangan lupa katakana pada Ran... Aku akan selalu mencintainya... Tolong jaga Ran dan anak kami..." ujar Shinichi yang masih menatap nanar ke arah kakinya. Heiji ingin menolak, dan memilih ikut Shinichi. Hanya saja, dia juga harus memprioritaskan kehidupan bersama bukan hanya kesenangan semata.
"Baiklah... Aku pergi..." ujar Heiji yang membuka pintu mobil dan segera berlari meninggalkan Shinichi. Sedangkan Shinichi? Dia mati kutu diam seperti zombie di dalam mobilnya. Sampai akhirnya, suara handphone yang berdering membangunkan Shinichi dari mati kutunya.
Dilihatnya layar handphonenya. Tertera dalam layar tersebut 'My Lovely wife : calling'. Shinichi tersenyum miris dan mengangkat telepon itu. Dia menekan tombol 'answer'.
"Shinichi! Apa kau baik-baik saja?" Tanya Ran yang langsung menyerbu dengan nada cemas. Shinichi menghela nafas. Dia rindu suara ini.
"Ya aku baik sayang... tenanglah... tak ada yang sulit. Disini hanya ada kasus saja... tak lama lagi aku akan segera kembali... Tunggulah..." jawab Shinichi dengan lembut. Terdengar di sebrang sana Ran menghela nafas lega.
"Baiklah Shinichi... Aku tunggu kamu kembali ya... Kita makan bersama dengan yang lainnya..." ucap Ran dengan nada ceria. "Hmm.." jawab Shinichi dan dengan itu percakapan dalam telepon tersebut terputus.
"Dan aku tak tahu kapan aku akan kembali lagi..." ujar Shinichi pesimis. Dia sebenarnya bukan karakter seperti itu. Hanya saja, dari pengalaman dia belajar, bahwa bila berurusan dengan jubah hitam, itu artinya kau menarik sendiri kartu kematianmu.
Handphone Shinichi bergetar lagi. Dengan malas dia mengangkat telepon tersebut. Tanpa melihat siapa yang menelepon.
"Hallo..."
"Hai Shinichi... Kau mau tahu dimana tempat kami?" sambut suara menjijikan Gin dari sebrang sana. Mata Shinichi membelalak.
"KATAKAN!" seru Shinichi kasar.
"Dengarkanlah... aku hanya akan sebutkan satu kali..." jawab Gin. Shinichi mendengar dengan baik. Lalu, setelah itu, percakapan telepon ditutup. Shinichi segera tancap gas menuju tempat yang semestinya dia tuju.
-diamondlight96-
Sebuah mobil memarkirkan diri di basement yang kini dipenuhi mobil-mobil berwarna hitam. Seorang laki-laki tampan turun dari mobil itu dan menderapkan kakinya dengan langkah yang berat. Wajahnya amat sangat kusut sekali.
"Selamat datang... Shinichi..." sapa seorang pria berambut panjang, Gin.
"Dimana Shiho?" Tanya Shinichi dengan nada tajam. Gin tertawa dengan dinginnya.
"Kenapa? Kenapa kau datang kesini? BODOH!" seru Shiho yang kini terlihat babak belur.
"Shiho? Kau tak apa-apa? Aku kesini akan menyelamatkanmu... ikutlah denganku..."ujar Shinichi.
"TAK PERLU!" seru Shiho. Air mata merembes keluar dari pelupuk matanya. "Kau itu BODOH! CEPAT PERGI! 'DIA' LEBIH MEMBUTUHKANMU!" bentak Shiho. Nadanya pilu. Shinichi masih tak mendengarkan Shiho. Dia malah makin mendekati Shiho.
"PERGI AKU BILANG!" seru Shiho. Shinichi tetap tak mendengarkannya. Dia tetap berjalan dengan menundukan kepalanya.
"Tch, kisah percintaan remaja yang menginjak dewasa yang tidak romantis... membuat mataku gatal saja..." ujar Gin. Dia menarik pelatuk dari pistol GLOCK 19 nya. Mengarahkannya ke arah kepala Shinichi.
"Bersyukurlah aku akan menembakmu tepat di kepalamu... agar kau tak perlu menderita lagi, Shinichi Kudo..." ujar Gin. Dia segera mengarahkan moncong pistolnya dan DUAAARR!
AKKGGGGGHHHHH!
Seru Shiho. Mata Shinichi membelalak hebat. Dia segera menangkap tubuh Shiho yang oleng dan menangkap Shiho yang hamper terjatuh.
"SHIHO!" seru Shinichi. Darah mengalir dari punggungnya. Shinichi makin mengeratkan pelukannya dan terus mengucapkan nama Shiho. Berharap Shiho akan menjawab panggilannya.
"Ooh... ternyata tidak tepat sasaran ya?" Tanya Gin dingin. Shinichi semakin geram. "Sudah mati kah dia?" Tanya Gin lagi semakin dingin. "Vodka! Korn! Periksa dia!" seru Gin. Mereka berdua segera memeriksa Shiho. "Dia masih hidup..." ujar Vodka.
"Malang sekali nasibmu Sherry... Seandainya kau langsung mati, kau tak akan merasa sakit seperti ini.. Baiklah, bawa mereka berdua ke markas kedua... Masukan mereka dalam kurungan. Berikan saja mereka obat-obatan seadanya dan alat operasi seadanya. Biar mereka sendiri yang menyembuhkan diri mereka. Ayo! Sebelum ada orang yang mengetahui keberadaan kita!" seru Gin. Ingin rasanya Shinichi melawan. Hanya saja, dia harus berpikir lebih kedepan untuk melaksanakan berbagai rencana. Ya... Tunggu saja tanggal mainnya.
PRANGGGG!
*Fic abal apa ini?* ckck, sorry readers... :)
