Yey...Phie's come back..Hi reader.. kangen ya ama aku.. *jiah pede nih* ahaha bercanda

Sorry ya saiya baru update.. Kelamaan yah?

Sora: BANGET! Baru nyadar chuy?

Phie: Ye~ kan saiya habis UTS... kan lagi konsen ke pelajaran donk..

Riku: Tumben belajar

Phie: Sembarangan aja.. dah deh basa basinya..

Semuanya: RnR yaw...


Don't Leave Me Alone

Chapter 2

Esok paginya, Riku duduk di ruang tamu sendirian. Barang barang di rumah itu telah dibawa ke Twilight Town sehari sebelumnya. Hari ini dia dan keluarganya akan meninggalkan Destiny island dan pergi ke Twilight Town .

~Riku POV~

Aku memandangi rumahku yang kosong. Perabotan rumahku telah dibawa ke Twilight Town. Yeah, kecuali barang asli rumah ini yang statusnya bukan punya kami. Pandanganku yang semula menatapi rumahku, beralih ke langit-langit ruang tamu. Walau badanku di sini, tapi pikiranku melayang layang. Pikiranku hanya dipenuhi oleh wajah merasa sangat bersalah, karena aku menghindarinya dan sekarang... aku akan pergi meninggalkannya. Hari ini pun rasa bersalahku berlipat ganda, aku pergi tanpa salam perpisahan.

'Tapi, mungkin ini yang terbaik untukmu Sora, dengan ini kamu bisa melupakanku dan tidak sedih jika aku pergi.' pikirku sambil menutup mata. Tiba-tiba, ibuku menepuk pundaku

"Riku,ayo kita berangkat," kata ibuku dengan tersenyum. Sepertinya ibuku mengira bahwa aku tertidur, karena beliau menepuk pundakku dengan lembut.

"Baiklah kaa-san,"kataku sambil beranjak danmengambil ransel di meja depanku. Aku berjalan ke luar rumah, sedangkan Kaa-san mengunci pintu. Aku melihat Rumahku yang kosong ini dengan pandangan sedih. Kaa-san yang melihatku tersenyum sedih.

"Jangan sedih sayang, kita akan pindah ke tempat yang lebih bagus lagi." Kata Kaa-san menyemangatiku. Tetapi Kaa-san tidak tahu apa yang membuatku sedih. Aku sedih karena akan meninggalkan Destiny Island. Tempat dimana petualangan di pulau kecil dan menemukan gua bersama orang yang paling berharga. Sora, dialah orang yang berharg buatku. Dan sebentar lagi aku akan meninggalkan dia dan pegi ke tempat yang jauh. Kaa-san yang melihatku tambah sedih, menghela nafas. Kaa-san menepuk pundaku untuk menyadarkanku dari lamunanku. Aku masuk ke dalam mobi. Kulihat Tou-san dan Kadaj sudah siap berangkat. Kadaj sedang memainkan PSPnya, sedangkan Tou-san sedang melihat ponselnya Aku dan Kaa-san masuk ke dalam mobil.

'Selamat tinggal Sora,' kataku dalam hati. Aku menutup mataku dan menahan air mataku. Mobilku melaju menuju bandara.


~Normal POV~

Sementara di kelas X F, Sora memasuki kelasnya dengan uring-uringan(1). Dia duduk dan meletakan ranselnya di atas meja lalu membaringkan kepalanya diatas ranselnya. Dia duduk di pojok belakang dekat jendela. Beberapa saat setelah Sora duduk, tiba-tiba kelasnya menjadi ribut. Sora tidak mengacuhkan keadaan kelasnya karena lagi ada masalah.

'BRAK!'

Tiba-tiba, pintu terbuka dengan kasar.

"KAIRI!" Teriak semua anak di kelas X F (kecuali Sora). Tetapi kairi tidak menghiraukan teriakan dan protesan teman-temannya. Dia berlari mendakati Sora yang sedang tidur di bangkunya.

"SORA, bangun!" terak Kairi sambil memukul mejanya Sora

"Ung.. uh, Kairi ada apa sih? Pagi-pagi dah sudah ribut."kata Sora sedikit protes

"Hah.. sebenarnya kamu tahu tidak sih?" tanya Kairi yang sedikit marah karena respon Sora yang tidak sesuai dengan harapannya.

"Huh? Tahu tentang apa?" tanya Sora dengan setengah sadar.

"Hah, dasar. Si Riku akan berangkat ke Twilight Town pagi !" kata Kairi dengan nada teriak di kata "sekarang".


~Sora POV~

'Riku akan pergi ke Twiligt Town sekarang!' kata-kata Kairi terus terngiang di kepalaku. Aku terpaku di kursi, lalu beranjak menuju meja Heyner yang ada di dekat pintu depan(2). Mereka sedang tertawa bersama Roxas, Pance, dan Ollete. Karena perasaanku sedang kacau, aku pun terbawa emosi sehingga memukul meja Heyner. Mereka berhenti tertawa dan menatapku dengan kesaal.

"Apa sih maumu?" tanya Heyner dengan nada membentak dan memukul meja yang sama.

"Ganggu aja," kata Roxas ketus

"Apaan sih? Jangan pukul meja bisa kan?"tanya Ollete marah karena kelakuanku yang tidak sopan. Pance hanya mengangguk karena tidak bisa bicara. Mulutnya terise penuh dengan kripik singkong rasa barbeque.

"Sorry aku ganggu kalian, tapi aku ada permintaan," kataku dengan nada sedikit tergesa-gesa.

" Memang apa maumu?" tanya Heyner ketus.

"Aku pinjam motormu." Jawabku singkat

"Motorku? Memang kamu mau kemana?" tanya Heyner heran karena sebentar lagi bel masuk sekolah akan berbunyi(3).

"Aku ada urusan penting dengan Riku," jawabku dengan serius. Melihat ekspresiku yang berubah menjadi serius, Heyner langsung mengambil kuncinya di saku celananya.

"Tapi..."

"Thank's Heyney," kataku memotong kata-kata Heyner dan langsung berlari mengambil ranles dan keluar kelas.

"Woi ketua kelas, Aku izin pulang, aku ada urusan dengan seseorang," teriakku kepada Wakka, ketua kelas X F sambil berlari ke luar.

"Tapi, bensinnya di Isi sendiri!" teriak Heyner kepadaku.

"YA..."


~Kairi POV~

Karena teriakan Sora barusan, aku tersadar dari lamunanku. Kemudian aku mengambil tasku yang ada di atas mejanya Sora.

"Ketua Kelas, aku juga izinpulang. Aku dan Sora ada urusan dengan Riku." Kataku kepada Wakka dan Wakka hanya mengangguk karena dia sedang sibuk menyalin PR milik Sephine bersama Tidus.

"Ollete, aku pinjam helmmu ya... Thank's" teiakku sambil berlari ke luar kelas

"What the.. KAIRI, aku kan balum kasih jawaban" Teriak Ollete yang tidak kalah keras dengan Toa(4), dan sudah pasti aku bisa mendengarnya dengan jelas, tetapi aku mengacuhkannya dan terus berlari mengejar Sora.

'Riku mengapa sih kamu harus pergi dari Destiny Island. Disini ada yangg sangat terpuruk karena kepergianmu. Sora, dialah orang yang paling terpuruk. Tapi kau tega meninggalkan kami Riku. Mengapa?" pikirku dengan heran karena tingkah Riku. Sebenarnya aku ingin menangis, tetapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk menangis. Aku menghapus air mataku dan membuka pintu gerbang sekolah ku. Kulihat Sora sedang memanasi motor Heyner.

'Hah, untung Sora belum pergi' pikirku. Aku berjalan mendekatinya.


~Sora POV~

Setelah aku melihat motor Heyner, aku segera memanasi motornya dengan cepat. Perasaanku sekarang sangat kacau. Bercampur dengan perasaan sedih, bingung, dan marah. Sedih karena Riku akan meinggalkan Destiny Island, bingung karena tingkah lakunya yang selama ini menghindariku, dan marah karena dia pergi tanpa memberitahuku.

'Pergi tanpa membaritahuku itu sangat membuatku marah. Apa kau tahu itu Riu?' tanyaku dalam hati.

"Hey, jangan sampai kau melupakanku Sora," kata seseorrang perempuan berambut merah. Yeah, dia adalah Kairi.

"Oh, jadi kau mau ikut?" tanyaku dengan memasang muka innocent kepadanya dengan tersenyum sinis. Diapun tersenym sinis kepadaku, karena mengira aku mengejeknya.

""Huh, tentu saja bodoh. Memang hanya kau yang peduli dengan Riku?"jawabnya dan berjalan mendekatiku sambil mengambil helm orange milik Ollete. Dia menepuk bahuku. "apa lagi yang kau tunggu Sora?"tanyanya.

"Ukh, jangan panggil aku bodoh!" kataku sambil menaiki motor Heyner.

"ya, ya, ya,"katanya sambil tertawa.

"Kay~ ayo kita berangkat. Siap Kai~"kataku kepada Kairi. Dia naik ke motor Heyner . "Pegangang yang kuat ya, kita akan ngebut." Kataku sambil tersenyum sinis.

"Okay" jawabnya sambil memelukku.

'Riku, tunggu aku'

To Be Continued


Fiuwh.. akhirnya selese juga nih... *jungkir balik*. EKH, aku di sini pake bahasa sehari hari yaw, kalau aku pake bahasa yang diatas *bahasa yang sopan dan sesuai EYD* susah nih.. OKOK.

Well reader bisa lihat kan ada kalimat yang saiya kasih tanda... nah maksud saiya, itu sebagai point yang akan saiya jelaskan :

(1) Sebenarnya aku tuh bingung dengan kata-kata uring-uringan.. Kata orang itu malas malasan, ada yang bilang marah-marah. Karena aku bingung mau pake yang mana jadi aku tetap pake istiah uring-uringan ya..

(2) Aku sengaja membuat kelas Sora mempunyai 2 pintu . Eh salah bukan hanya kelasnya Sora, tapi semua kelas. Nah, pintu depan itu untuk masuk keluar guru-guru. Pintu belakang untuk murid.

(3) Kalo bel sekolah di dunia nyata*weis bahasanya* kan pukul 7 sudah bel. Tapi ini aku buat pukul 8. Jadi dijarakin 1 jam deh.. hehe

(4) Ano.. kayaknya sih reader tahu yang namanya Toa kan.. aku kasih point di sini, soalnya ada temenku yang gak tahu Toa *di tindles*. Toa itu pengeras suara.*betul gak?*

Nah sekian sekilas info dari saiya.^^

Oh ya.. reader bingung gak sama chapy 2 saiya.. soalnnya aku keseringan pndah POV.. WAAHHH gimana nih... maaf ya aku buat reader bingung.. soalnya yang chapy 2 yang dulu kehapus sama Bokap, jadi aku ngetik lagi. Capek nih *jiah..curhat nih..*

Sora: Gitu aja ngeluh. Updatenya kelamaan lagi..

Phie: Ya maaf T_T Ekh loh, kok? Kok kamu jadi dinging banget sih sama aku? *rasanya seperti di kutub* -plak-

Sora: Kamu sendiri misahin aku sama Riku.. huh

Phie: Ekh, memangnya aku belum kasih tahu kamu yah? Sinih ku bisikin *psstt Psstt*

Sora: WAHT! Sungguhan? Nih? *blushing"

Phie: Yuph.. itu khusus untuk mu ^^
Sora: WAAA PHIEBAIK BANGET... *hug me*

Phie: *ikutan blushing* ano.. kalau mau tau apa yang aku katakan ke Sora, baca chapy selanjutnya yah! Betul gak Kai~...

Kairi: Mana ku tahu, kalian kan gak kasih tahu aku...

Phie n Sora: aha aha aha *ketawa garing*

Heyner: WOOIIIII KEMBALIKAN MOTOR GUE *teriak bareng Ollete

Ollete: KEMBALIKAN HELMKU... *teriak bareng Heyner

Phie, Sora, n Kairi : ngacir ke suatu tempat yang aman

Heyner n Ollete: Sialan

Phie: .. ahaha sudah deh basa basinya.. bay the way anyway, busbaw way,way,way,way

All: REPIUW prikitiew yaw...^^.. -ga nyambung-

Kairi: Kalo Flame.. kasih yang pedes banget Phie juga tahan kok.. biasa makan cabe *bohong dink..XD