A/n: chapter 3 di apdet kilat karena chap berikutnya baru bisa updet abis lebaran. v^_^v

Laziness Day

Warning: OOC N mis tipo

~KakaSaku~

~SasuHina~

Naruto © Masashi Kishimoto

Laziness Day © Novea Hatake & Kawashima Miharu

Thanks for reviews pals:

OraRi HinaRa

Rizu Hatake-hime

Merai Alixya Kudo

Summary:

Sakura sudah malas menjalani hari-hari hidupnya setelah ia berurusan dengan aktor berambut perak yang selalu menyelengsarakan dirinya.

Chapter 3

~Lapangan Olahraga Konoha Gakuen~

Teriknya marahari di hari Kamis tidak menyurutkan langkah Gai sensei untuk mengiring anak kelas x8 yang emang hari itu kebagian jatah jam olahraga.

Lain dengan sang guru yang berteriak penuh semangat masa muda, para murid kelas X8 berlaku sebaliknya dengan artian memasang sikap ogah yang kadar presentasenya hampir mencapai 100%. lain dengan Rock Lee yang semangatnya mengopi gurunya. Yah... mau bagaimana lagi Rock Lee adalah fans fanatik sekaligus satu-satunya dari Gai sensei.

"Aaah kelakuan Lee lama-lama makin mirip dengan Gai sensei MEMUAKKAN" runtuk Ino.

"Biarkan saja Ino mereka memang satu spesies. Dari pada kau memikirkan mereka lebih baik lihat wajahmu sekarang" ucap Sakura seraya menyeringai kepada Ino.

"Memang kenapa? Kenapa mukaku? Ada yang salah Sakura?" balas Ino seraya sibuk mencari cermin mininya di saku seragam olahraga yang sedang dipakainya.

"Dasar kau ini, yang kau pikirkan hanya penampilan saja. Make up luntur saja sudah repot setengah mati, seperti dunia mau kiamat saja" tutur Sakura yang pandangan matanya saat ini tertuju pada ruang kelas Kakashi.

"Hei... penampilan itu penting tauk. Apalagi kita ini wanita. Aku bukan seperti kau yang bisa cuek saja tanpa beban seperti ini. Kau lebih mirip laki-laki dari pada wanita jidat lebar"

Seketika muncul tanda siku di dahi Sakura mendengar pengakuan Ino barusan.

"Sudah kalian jangan bertengkar!" lerai Hinata.

Ino dan Sakura menoleh saat mendengar suara Hinata mendekat. Sesaat mereka berdua lupa akan percekcokan singkat mereka.

Wajah Ino berubah khawatir saat melihat penampakan Hinata yang mukanya nampak berbeda dari biasanya. Lebih kelihatan putih yang menjurus ke arah pucat dan nampak lingkaran hitam keunguan di sekitar matanya (vampir kali). Sehingga mendorong Ino untuk menanyakan keadaan temannya satu ini, "kau tidak apa-apa Hinata? mukamu nampak pucat" .

Sakura pun menanyakan hal yang tidak jauh beda dengan pertanyaan Ino barusan, "kau sakit Hinata? Apa perlu kuantar ke ruang kesehatan?".

"Kalian tidak usah cemas aku tidak apa-apa, hanya saja akhir-akhir ini aku kena insomnia jadi aku tidak bisa tidur, itu saja kalian tidak usah cemas" jelas Hinata dengan muka yang tidak meyakinkan.

Pembicaraan mereka bertiga harus tertunda karena Gai sensei sudah berkoar-koar dari tengah lapangan untuk segera berkumpul. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata onyx yang mengamati pembicaraan ketiganya, terutama pembicaraan seputar Hinata yang terlihat pucat dan tak berdaya itu dan tersirat kekhawatiran yang sangat mendalam dari sorot matanya.

"Nah murid-muridku yang sangat kucintai (lebai gak sich)," Gai sensei mengambil jeda sebentar sebelum melanjutkan. "Kali ini kita akan masuk materi voli," terdengar sura keluh-kesah dri kelompok wanita dan satu orang laki-laki, yang tak lain dan tak bukan cowok berambut nanas yang doyan tidur alias shikamaru(troublesome right shika).

"Dan sebelumnya kita akan melakukan pemananasan terlebih dahulu dengan lari keliling lapangan sepuluh kali"

"UAPAAAAAAAH," seru Naruto dengan mata membelalak besar dan mulut menganga.

"Apa terlalu sedikit Naruto? Kalau begitu bagaimana dengan lima belas kali?" semua tatapan membunuh tertuju pada cowok berambut pirang tersebut.

Naruto yang tak mau terpanggang dengan tatapan penuh 'cinta' dari teman sekelasnya mengeluarkan suara, "Apa sensei mau membuat kami semua masuk ICU? Lapangan ini berdiameter 1000 meter(lapangan ini hanya fiksi belaka memang ada lapangan sekolah dengan diameter satu kilo) sensei tau itu kan?".

'Tumben sekali Naruto pake itung-itungan segala padahal dia tidak tau pasti keliling dan diameter itu apa ...dia asal ceplos saja' pikir seorang cewek berambut merah muda.

"Masa?" hanya kata itu yang terucap dari bibir eer... jontor Gai sensei sembari memasang tampang innocentnya (huexx... kgak usah dibayangin ntar wc penuh).Semuanya langsung sweatdrop except Gai tentunya.

Dan omongan Naruto tebukti, Hinata yang wajahnya tadi pucat di putaran ketiga pingsan di tempat dan sebelum tubuhnya menyentuh tanah seseorang menahan tubuhnya.

Hinata's POV

Ketika pertama kubuka kelopak mataku, yang tervisualisasikan oleh indra pengelihatanku adalah seraut wajah tampan dengan mata onyxnya yang menatapku dengan tatapan tak biasa. Seringnya kulihat tatapan dingin tak berekspresi seperti patung namun ekspresi itu kini tampak lembut dan matanya menyiratkan kekhawatiran yang membuatku sedikit err...(banyak) terpesona.

Entah kanapa aku merasa nyaman di bawah tatapannya, dekapannya... wait a minute! DEKAPAN? Anak baru itu Uchiha Sasuke memelukku lebih tepatnya menggendongku. Tapi.. bagaimana bisa ia menggendongku, memang apa yang terjadi? Jangan bilang aku pingsan lagi oooh tidak jangan lagi. Kenapa Tuhan memberiku fisik yang lemah, tubuh dengan kondisi yang menyedihkan seperti ini.

Dari kecil kondisiku memang seperti ini. Sakit-sakitan, lemah, tidak tahan panas dan payah dalam olahraga. Aku benci keterbatasan ini. Semua ini membuat orang di sekitarku menganggapku remeh dan juga merepotkan.

Sebenarnya ini pemikiranku sendiri, tapi memang mereka berfikir kalau aku memang yah... merepotkan.

Sebenarnya aku iri jika melihat teman sebayaku, mereka bisa bergerak lincah kesana-kemari, berinteraksi dengan orang lain dan ikut pelajaran olahraga. Aku benci keterbatasan ini. Semua ini membuat oarang di sekitarku menganggapku remeh dan juga merepotkan. Sebenarnya ini pemikiranku sendiri, tapi sepertinya memang mereka berfikir kalau aku memang yah... merepotkan.

Sebenarnya aku iri melihat teman sebayaku, mereka bisa bergerak lincah kesana-kemari, berinteraksi dengan orang lain dan ikut pelajaran olahraga. Sedangkan aku, pergerakanku sangat terbatas. Jika anak-anak seumuranku sedang asyik-asyiknya merasakan namanya jatuh cinta dan berpacaran, aku malah menjauhkan diri dari hal-hal seperti itu. Kenapa? Karena setiap aku bertemu dengan orang asing pasti aku tidak akan memulai pembicaraan, karena aku bukan tipe orang seperti itu. Aku ini sangat canggung jika harus memulai percakapan. Dan jika jam pelajaran olahraga seringnya aku berada di pinggir lapangan atau kalau tidak bertapa bersama Shizune sensei. Dan sekarang pada akhirnya setelah aku memaksakan diri dan berkata "Aku baik-baik saja" pada semua orang, aku akan menghabiskan jam olahraga di ruang kesehatan.

Sasuke's POV

Gadis itu tampak pucat pasi, menyedihkan sekali. Entah kenapa dari tadi mataku tak luput untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja. Sejak kapan aku jadi sok perhatian seperti ini. Tidak ada ya dalam sejarah seorang Uchiha jadi sok perhatian seperti ini. Kalau sampai baka aniki tau mau ditaruh dimana mukaku.

Jadi untuk menutupi perasaanku ini aku langsung memasang wajah stoic lagi. Hanya untuk memastikan takkan ada yang tahu perubahanku yang tiba-tiba ini.

Tapi walau bagaimanapun wajah pucatnya itu memang mengganggu pikiranku. Perasanku mengatakan kalau aku tidak menjaganya sedekat mungkin dia bisa saja terjatuh dan akhirnya terluka dan aku tidak mau itu terjadi. Huuh pantaskah seorang Uchiha manjadi sentimentil seperti ini! aku rasa dunia hampir kiamat.

Bhagus sekali... dari ribuan fans girl yang berteriak saat aku berda di dekat mereka dan mereka rela melakukan apapun untuk mendapatkan secuil perhatian dariku. Dan kini aku malah lebih memikirkan gadis yang saat hari pertama di kelas dia mengacuhkanku. Aku rasa otakku benar-benar tidak waras.

Terlebih saat aku akan berlari di putaran ke-4, aku melihat tubuh kurusnya kan jatuh ke tanah, entah refleks atau apa aku langsung saja berlari menerjangnya dan langsung menggendongnya saat ku yakin dia pingsan.

Aku yakin tadi semua orang memperhatikanku saat aku melakukan ini semua. WHAT THE HELL!

Waktu itu aku tak bisa memikirkan apapun dengan logika dan berbagai pertimbangan, tidak juga dengan pemikiran orang akan tindakanku barusan. Yang ada di otakku adalah secepatnya aku berada disisinya , bersamanya.

Dan disinilah aku menggendong gadis itu ala bridal style dan dengan langkah panjang-panjang menuju ke ruang kesehatan demi mendengar Shizune sensei mengatakan bahwa Hinata Hyuga akan baik-baik saja.

NORMAL POV

"Seharusnya kau tidak usah mekakukan ini," itulah sebaris kalimat yang keluar dari bibir mungil Hinata saat ia menjejakkan kakinya di teras rumahnya. "Aku kan bisa pulang sendiri, lagi pula kau cukup baik menungguiku di ruang kesehatan sampai kelas bubar" Hinata mengambil jeda sebentar sebelum melanjutkan omonggannya. Terus terang ini adalah pertama kalinya ia diantar pulang oleh seorang laki-laki yang bisa dibilang.. oke sangat tampan (omg ayam kan kagak tampan tapi enak dimakan wkwk). Dan juga Hinata tidak terbiasa berhadapan dengan orang tidak dikenalnya meskipun Sasuke sudah memperkenalkan dirinya di depan kelas kemarin bukan berarti mereka sudah berkenalan, "... aku .. aku hanya tidak ingin merepotkanmu"

"Hn," hanya itu respon yang keluar dari pria dengan rambut chicken ass itu. Hinata pun tidak mempersoalkan respon dari Sasuke yang irit bin pelit bicara itu, karena sejatinya ia juga tidak ingin terlibat pembicaraan yang cukup jauh. Dan Hinata pun tidak berniat untuk membuka percakapan selanjutnya. Ia hanya bergerak-gerak kikuk dan memainkan kedua jari telunjuknya.

Melihat pergerakan Hinata itu Sasuke menarik sebuah senyum simpul yang terlihat hanya sekilas dan ia yakin Hinata tidak melihat senyumannya barusan. Dengan sebuah gerakan saja Sasuke membuat wajah Hinata yang sebelumnya pucat pasi menjadi merah merona.

Apakah yang dilakukan Uchiha bungsu itu saudara-saudara? Yak akan saya jelaskan dengan sedetail-detailnya.

Sasuke mengangkat tangan kanannya hingga sejajar dengan pipi kiri Hinata dan dengan gerakan yang perlahan tapi pasti tangan itu terulur untuk menyentuh pipi kiri Hinata menggerakkan ibu jarinya untuk mengusap pipi halus yang mulai merona (gue panggilin neji baru tau rasa loe pantat ayam) sembari berkata. "Aku pulang" dan kemudian Sasuke pun berlalu.

Hinata kaku di tempat, otaknya pun dalam keadaan tidak terkoneksi yang mengakibatkan LOLA hingga ia telat memberi respon terhadap perkataan Sasuke. Setelah Sasuke mulai menjauh barulah ia merespon, "I..i..ya.."

Sasuke's POV

Aku kangsung berjalan menuju ke Audi hitamku dan masuk ke dalamnya. Aku tidak langsung menyalakan mesin dan bergegas pergi. Aku hanya termangu tak percaya akan apa yang barusan kulakukan. Dadaku masih berdegup kencang akibat jantung yang memompa darah dengan kecepatan tidak biasa.

Saat melihat Hinata yang terlihat kikuk berhadapan denganku tadi sungguh membuatku terhibur, sangat senang sekali disuguhi pemandangan seperti itu. Dan aku meyakini satu hal bahwa Hinata tidak pernah berhadapan dengan seorang pria dalam situasi seperti ini dan aku puas akan hal itu.

Seolah ingin menggoda aku pun malakukan tindakan tadi untuk melihat reaksi Hinata lebih jauh. Dan buruk bagiku hal tersebut justru membuat jantung di dada kiriku berdetak tidak normal.

Hinata's POV

Ya Tuhan apa yang terjadi padaku. Wajahku rasanya panas sekali dan jantungku berdetak tidak karuan. Baru kali ini aku merasakan perasaan aneh seperti ini. Rasa gugup ini terasa berbeda sekali saat aku merasa malu atau sedang berhadapan dengan banyak orang sedangkan rasa ini sifatnya lebih bagaimana ya menggambarkannya? Aku malu sekaligus senang diperlakukan seperti itu. Apa mungkin aku jatuh cinta?

Tidak Hinata, apa yang kau pikirkan itu terlalu jauh. Mana mungkin kau jatuh cinta secepat ini, itu sangat tidak mungkin. Memangnya kau ini siapa? Sasuke pun tidak akan suka padamu, ia hanya simpati padamu. Lagi pula kau sudah dijodohkan ingat DIJODOHKAN! jadi buang pikiran itu jauh-jauh oke.

Yah aku memang sudah dijodohkan dengan sepihak oleh orangtuaku. Katanya sih dengan anak dari sahabat mereka, entahlah apa yang ada dalam pikiran mereka sehingga di zaman semodern ini masih saja mempraktekkan budaya Siti Nurbaya itu. Sejujurnya aku terbebani dengan kondisi dan statusku sebagai tunangan orang. Terlebih lagi sikap Neji-nii yang terlalu protektif alias posesif padaku berhubungan dengan statusku ini. Dia selalu memblokir semua jalan jika ada seorang cowok mendekatiku. Dengan sikapnya yang sedikit arogan itu jelas semua orang yang merasa tertarik padaku akan berpikir dua kali untuk melanjutkan maksudnya. Terima nasib deh.

~Normal POV~

Kediaman Uchiha

Sasuke segera memparkirkan mobil kesayangannya itu di bagasi. Wajahnya masih menyiratkan kebahagiaan sembari bersiul kecil Sasuke melangkah kecil menuju pintu rumahnya. Jika kedua orang tua dan anikinya melihat hal ini pasti mereka mengira Sasuke sudah tidak waras serta tidak mustahil ayahnya akan memanggil psikiater untuk memeriksa kewarasan anaknya.

Wajah cerianya berubah ketika melihat mobil lain terparkir di samping teras dan ia mengenali mobil itu sebagai mobil ayahnya. Ia langsung memasang wajahnya yang biasa dan segera masuk ke dalam rumah untuk mengetahui mengapa kedua orang tuanya datang ke Konoha yang notabene keduanya sangat sibuk.

"Tadaima." ucap Sasuke sembari menutup pintu di belakangnya.

"Okaeri Sasu-chan kau sudah pulang. Ibu merindukanmu sayang" jawab Mikoto seraya mencium kedua pipi Sasuke, memperlakukannya seperti anak kecil.

"Aku sudah besar ibu aku tidak kecil lagi," gerutu Sasuke. Kemudian ia duduk di salah satu sofa yang tidak diduduki ayahnya yang sedang membaca koran.

"Mana Itachi?" tanyanya.

"Ia sedang di belakang sebentar lagi juga ke sini" jawab Mikoto seraya duduk di sebelah Sasuke dan mengamati anak bungsunya yang sedang mencopot sepatunya.

Tiba-tiba Uchiha Fugaku menutup koran yang dibacanya dan memandang lurus Sasuke. Sasuke yang dilihat seperti itu merasakan firasat buruk 'mati aku' batinnya.

"Nah Sasuke kau sudah datang. Sebaiknya kita mulai pembicaraan ini" Fugaku memulai percakapan. Firasat buruk Sasuke semakin kuat mendengar nada bicara ayahnya ini. Singkat tapi penuh dengan tanda tanya. Iapun hanya bungkam.

"Ayah pikir kau sudah berhak tau kenyataan sebenarnya" jelas Fugaku.

$

Tbc

A/n: Kebenaran apa yang bakal terungkap. Apa mereka akan pindah lagi, Uchiha bangkrut or Fugaku dalam dua bulan akan mati?(amiiiiiin). Bagi yang menantikan seseorang berambut perak sekali lagi maaf dia belum muncul karena kayaknya Vea nggak rela kalau Kakashi keluar di chap ini sekarang aja dia lagi ngasih bimbel kimia ke vea, tunggu KIMIA uwaa besok ulangannnnn!(jangan ditiru tindakan Author)

Oke jangan lupa RnR para reader

pencet tombol di bawah ini

(it's included you silent reader)