~.Lazyness Day.~
Word:2648
Page: 18
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Lazyness Day © Kawashima Miharu & Vea Hatake
Rate:
T
Genre:
Romance/ Humor
Pairing:
KakaSaku
SasuHina
Warning:
AU
Miss type(s)
OOC
Sepertinya matahari sebentar lagi akan terbit dari barat. Bayangkan saja seorang pemuda pantat ayam (iya... iya saia ralat jangan men-deathglare saia) Uchiha Sasuke berangkat pagi-pagi, well biasanya Sasuke berangkat barengan dengan bunyi bel (mrp kaya' author) dan yang bikin aneh adalah do'i pasang senyum cerah ceria yang menyilaukan mata mengalahkan senyum seorang Carlisle Culen a.k.a Peter Facinelli (hug... hug... hug ^0^).
Alhasil, pagi hari itu satu sekolah pada heboh, terutama yang cewek-cewek yang bencong juga kagak mau kalah. Dan yang pada nggak kuat iman udah pada nosebleed berjamaah (bayangin aja yang senyum Hwang Tae Kyung... lol).
Dengan mantap ia-Sasuke, melangkahkan kakinya menuju kelas X8 dengan langkah panjang. Ia ingin segera melihat paras wanita yang menjaji calon istrinya kelak.
Sesampainya di kelsa ia pun langsung menjatuhkan pantatnya ke bangku dan melongokkan kepala mencari Hinata, masih dengan senyumnya XD. Sakura yang yang melihat wajah tak biasa Sasuke, menyerngit heran dan tanpa basa-basi langsung memegang dahi Sasuke.
"Tidak panas kok...," gumam Sakura.
Sasuke sedikit tersinggung dengan sikap Sakura, "Hei kau kira aku kenapa?" sergah Sasuke yang langsung memasang wajah stoicnya.
"Kau tidak sadar ya, hari ini kau bertingkah aneh," jelas Sakura.
"Aneh...? aneh bagamana...?" jawab Sasuke bingung.
"Mengacalah Uchiha... lihat baik-baik wajahmu ...!" kata Sakura yang tiba-tiba membawa kaca segede gaban.
"Memangnya wajahku kenapa...," katanya sambil mengaca, "Masih tetap tampan," Sasuke nersong...( bagi yang tak tahu nersong ... ya udah kagak udah tahu ^o^).
"Dasar narsis," Sakura yang sudah tak tahan dengan dengan kenarsisan Sasuke mulai beranjak pergi namun tertahan oleh Sasuke yang menarik pergelangan tangannya. Kakashi yang bermaksud mencari Sakura melihat semua itu. Bad time..
Kakashi yang tadinya hepi langsung kaku di tempatnya, tangannya mengepal dengan raut wajah murka. Ya iyalah, siapapun yang melihat adegan tadi pasti salah sangka (nggak juga sih tpi yang namanya orang lagi cemuru ya mau gimana lagi).
Tunggu... what! Seorang Kakashi cemburu, ayolah yang benar saja. Terakhir kali perasaan Sakura masih asistennya belum naik pangkat jadi pacar (^_^). Dan ia semakin panas gara-gara pemandangan di depannya menyakitkan, do'i langsung cabut sedangkan yang jadi perhatian malah nggak ngerasa.
"Hei Sakura," tanya Sasuke masih mememgang Sakura.
"Apa-apaan sih, lepas," Sakura mengibaskan tangannya untuk lepas dari cengkraman Sang Raven.
"Hei tak usah galak seperti itu, aku hanya ingin membantumu ... kalau nggak mau ya sudah."
"Tunggu-tunggu kau mau membantu apa?"
"Aku dengar kau mencari pemain baru, aku yang dulunya kapten basket ini mau menawarkan diri masuk tim basket."
Sakura langsung memotong, "Kau diterima Sasuke tanpa syarat apapun, aku tau kau sangat berbakat."
"Tapi aku punya persyaratan."
"Syarat? Apa katakan saja!"
Sedangkan yang ditanya hanya senyam-senyum menyeringai saja.
Kakashi melangkahkan kakinya lebar-lebar di sepanjang koridor. Hatinya merasa kebas setelah melihat pemandangan didapatinya dari ambang pintu kelas Sakura. Moodnya berubah begitu cepat gara-gara insiden tersebut. Padahal tadinya pria itu sedang dalam mood yang bagus. Jarang-jarang ia mesuk sekolah seperti ini. Dia lebih suka menghabiskan waktu dengan tidur sembari menunggu waktu kerjanya dari pada ke sekolah. 'Toh otaknya encer' begitu pikirnya.
Kakashi menuji ke kafetaria, sepertinya ia butuh air dingin untuk menyegarkan pikirannya. Dan bertepatan saat ia mendudukkan tubuhnya di kursi terdekat, datang Naruto dari arah berlawanan lengkap dengan cengiran khasnya.
"Yo... kapten," sapa Naruto ceria.
"Berhenti memanggilku seperti itu Naruto kita sedang tidak di lapangan," seru Kakashi masih dengan tampang seramnya.
Naruto tidak ambil pusing dan segera duduk di samping Kakashi dan berteriak , "Paman Miso Ramen porsi jumbonya satu."
Kakashi's POV
Sebenarnya apa yang aku lakukan, aku bahkan tidak sedikitpun menyentuh jus di depanku yang kupesan tadi. Tentu berbeda dengan Naruto, dengan lahapnya dia menghabiskan mangkuk ramen keduanya. Dia kemudian melihatku yang diam tidak menyentuh minumanku langsung tanpa basa-basi berkata, "Kapten... kau tidak suka jus jeruk ya...?" aku hanya diam tanpa meliriknya, "Kalau begitu untukku saja ya" serunya dan langsung melahap jusku tanpa tersisa.
Dari yang kulihat dan kusimpulkan sendiri, sepertinya bocah hiperaktif ini memiliki hubungan cukup dekat dengan Sakura. Dan untuk mengtasi rasa penasaran tak tertahankan ini, maka denga PD-nya aku bertanya padanya, " Naruto, sepertinya kau dekat dengan Sakura?"
"Hmm tentu, dia itu sahabatku dari kecil. Kami dulu sering menghabiskan waktu bersama, makan bersama, main bersama, belajar bersama bahkan aku pernah mandi bersamanya."
"NARUTO, aku tidak membutuhkan informasi seperti itu."
Cih dia bahkan pernah mandi bersama memalukan. Kemudian aku membenarkan letak poni rambutku yang pangjang ini dengan mengibaskannya ke kanan dan ke kiri (Lihat gaya ala Juastin Bieber kalo ngibas-ngibasin rambut). Ini memang kebiasaanku sejak kecil memang rambutku sudah dipanjangkan seperti ini.
"Lalu apa hubungan Sakura dengan Uchiha itu?" sebenarnya hal ini yang ingin kutanyakan, pertanyaan sebelumnya hanya basa-basi saja.
"Hmm maksud kapten?" ujar Naruto yang kini sudah menyelesaikan sarapan.
"Apa dia punya hubungan spesial dengan Uchiha?"
"Umm seingatku Sakura calon istrinya." (ingat peristiwa Sakura nglamar Itachi)
Lapangan basket outdoor
Normal's POV ~
Sampai saat ini belum terdengar suara pantulan bola ke seluruh penjuru lapangan. Keadaan masih sepi karena waktu latihan memang masih 10 menit lagi. Berbeda dengan para managernya, Sakura dkk sibuk menyiapkan air minum serta peralatan basket yang lain bersama manager tak resmi club basket(Hinata & Ino).
Beberapa saat kemudian anggota yang lain mulai menampakkan batang hidungnya. Naruto dengan cengirannya, Shika dengan tampang malasnya, Kiba dengan headphone di telinga, dan Sai semboyan keep smille dan tak ketinggalan, anggota baru kita yang tampan Uchiha Sasuke.
Mereka belum segera memulai latihan tetapi masih asyik nyantai ngobrol sembari sesekali menggoda manager resmi dan tak resmi mereka. Serta Sasuke yang menatap Hinata dari awal kedatangannya dan belum mengalihkan perhatian sampai seseorang menepuk bahunya.
"Jangan melihatnya seperti itu, kau tak lihat dia jadi ketakutan," bisik Sakura dengan mendekatkan kepalanya ke telinga Sasuke.
Dan disengaja atau tidak Kakashi yang baru saja datang melihat peristiwa tersebut. Hatinya pun memanas kembali. Jelas sekali do'i kesal, hanya dengan melihat ekspresi wajahnya pun kita bisa tau.
"Sakura..." seru Kakashi tajam. Sedangkan yang dipanggil hanya menoleh dengan wajah innocent yang terpasang di wajahnya.
"Ya, kau memanggilku Ka- maksudku master." Yup sejak kemarin dia diharuskan memanggil Kakashi dengan sebutan master.
"Aku. Tidak. Latihan. Hari. Ini," kata Kakashi penuh penekanan di setiap kata. Lalu langsung beranjak pergi.
Sakura yang memang belum loading, baru mengerti maksud Kakashi saat pria itu telah menjauh. Tanpa berfikir panjang dia langsung mengejar sosok masternya tersebut.
"Hah..hah.. kenapa kau tidak latihan?" tanya Sakura dengan napas yang masih terputus-putus akibat berlari mengejar Kakashi.
"Aku malas." Jawab Kakashi pendek.
"Kenapa kau malas?" tanya Sakura yang belum puas dengan jawaban yang di dapatnya barusan.
"Aku bosan tau" Kakashi semakin risih dengan pertanyaan beruntun yang diajuakan Sakura.
"Kenapa kau bosan" Sakura merasaakan de javu, 'sepertinya aku pernah mengalami peristiwa seperti ini' batinnya namun tidak mau memikirkan lebih jauh lagi.
"Karena aku marah." Kini tampak dengan jelas emosi yang disembunyikannya sejak tadi.
"Kenapa harus marah?" ini sudah pertanyaan yang diajukannya namun Sakura belum mendapatkan penjelasan yang dapat diterima akal sehat.
"Ini semua karena KAU!" seru Kakashi. 'kenapa dia tidak mengacuhkanku saja dan membiarkan aku pergi' batin Kakashi.
"Kenapa ak..." sebelum sempat melanjutkan ucapannya, Kakashi menyela.
"Berhenti menanyaiku kenapa dan kenapa. Kau jangan bertindak seolah kau tidak tau kalau kau yang menyebabkan semua ini" ucap Kakashi yang langsung pergi begitu saja.
"Dia itu kenapa sih?" gumam Sakura tak mengerti.
Weekend at Namikaze's Vila
Hinata's POV
Kulangkahkan kakiku keluar kamar meninggalkan Sakura dan Ino yang masih tidur. Sebenarnya ini terlalu pagi untuk bangun namun beginilah aku, dari dulu aku memang tidak bisa tidur selain di kamarku sendiri, My bad.
Meskipoun ini kesekian kalinya aku menginap di sini, tapi tetap saja aku belum terbiasa. Berbeda dengan Sakura, sahabatku ini memang gampang sekali tidur.
Aku yakin dari 7 orang yang yang ikut berlibur di vila ini pasti belum ada yang terjaga sepagi ini. Setelah peristiwa beberapa hari yang lalu, aku memang butuh refresing. Rasanya beban berat di pundakku jadi semakin berat. Beruntung aku punya teman-teman yang sangat pengertian. Mereka menawarkan libur akhir pekan dengan menghabiskan waktu di Vila milik keluarga Namikaze. Ino, Tenten dan Sakura yang mengusulkan pergi ke sini karena dekat dan juga suasananya yang menyenangkan, maklum di puncak. Sebenarnya Sakura yang ngotot ngajak liburan karena apa, dia ingin lepas dari Kakashi barang sejanak. Sakura bilang dia disiksa, tapi aku kurang percaya dengan Sakura karena kelihatannya Kakashi itu orang baik.
Aku masih berkutat dalam pikiranku, sebelum ada suara pintu terbuka dan seseorang yang kukenal mengagetkanku.
"Hinata" panggil orang itu.
Normal's POV
Dari tadi tidak ada sapatah katapun yang keluar dari keduanya. Mereka lebih memilih diam dan menikmati suasana yang ada. Sasuke tidak tau cara yang harus diucapkannya untuk memecah kehengan yang tercipta sejak tadi. Pria berambut biru kehitaman tersebut memang tipe orang yang cenderung mendengarkan dari pada didengarkan berbeda dengan Naruto yang nyerocos tanpa pikir situasi dan kondisi.
Sama halnya dengan Hinata, gadis itu juga tidak berani buka suara karena saat ini ia sedang sibuk dengan jantungnya yang uncontroled. Kenapa Hinata bisa deg-degan kayak gini yah? Padahal kan dia Cuma jalan berdua sama Sasuke. Ada yang kurang kayaknya.
Hmm...(author pegang sambil sok mikir *geplaked*) sebenarnya Sasuke bukan Cuma jalan dengan Hinata tapi mereka gandengan tangan. Sekali lagi saya tekankan gandengn tangan. Kala masih belum jelas saya jelaskan saat ini Sasuke menggenggam tangan Hinata. Digenggam bukan disentuh ingat sekali lagi ...*taboked* sorry maklum semangat masa muda.
Setelah sekian lama tidak bersuara satu sama lain akhirnya Sasuke inisiatif buka suara.
"Hinata." Merasa dipanggil Hinata yang tadinya melamun langsung gelagapan.
"Ii..i..ya, ada apa Sasuke-san?" sedangkan disini Sasuke hanya senyam-senyum (ingat di sini dia senyum ganteng bukan senyum gaje).
Tanganmu berkeringat, kau gugup ya?" tanya Sasuke lengkap dengan seringaian andalannya yang mampu melelehkan hati jutaan wanita.
Hinata yang dipandang begitu malah makin gelagapan, "Eeeh... iitu... aku tidak gugup..." belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Sasuke sudah melancarkan serangan lagi.
"Yakin? Wajahmu memerah tuh," masih dengan seringaiannya yang semakin lebar.
"Tt..tidak," Hinata ngotot.
"Semakin menyangkal semakin terlihat kalau kau bohong. Tapi kalau dilihat-lihat kau lebih manis kalau merona seperti ini." Kalimat terakhir tadi tepat diucapkan Sasuke di telinga Hinata. Alhasil wajah Hinata kini lebih merah dari pada warna tomat, buah kesukaan Sasuke (jangan protes menurut ahli yaitu author sendiri tomat adalah buah bukan sayuran).
Hinata asyik mengutuki dirinya sendiri, sedangkan Sasuke kini senyam-senyum hepi. Jarang-jarangkan Sasuke ganteng senyum (author langsung ambil Hp buat foto Sasu nanti bakal diaplut di pesbuk atau mungkin dijual di eBay pasti laku keras).
Dan sampailah mereka di puncak bukit terdekat, terlihat matahari yang akan terbit dan hal tersebut sangat menarik perhatian Hianata. Ia langsung berlari ke dekat pagar pembatas untuk melihat sunrise lebih jelas, meninggalkan Sasuke di belakangnya.
"Waah... indah sekali!" seru Hinata dengan wajah berseri-seri menikmari matahari yang mulai memampakkan sinarnya tersebut.
"Kau lebih indah," bisik Sasuke di belakang Hinata yang kini melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Hinata, memberikan kehangatan pada tubuh Hinata di pagi yang cukup dingin tersebut.
Sedangkan di posisi Hinata, gadis itu cukup cukup kaget dengan apa yang yang dilakukan Sasuke. Ia merasakan kehangatan dan kenyamanan sekaligus dari pelukan yang didapatnya. Hal tersebut malah membuatnya menginginkan lebih dan tak ingin melepasnya. Maka ia menumpukan berat badannya ke belakang agar ditopang Sasuke dan meremas tangan yang melingkari pinggangnya perlahan Sasuke pun mempererat pelukannya. Keduanya sangat menikmati suasana tersebut, hangat yang dirasakan dari tubuh satu sama lain dengan pemandangan matahari terbit yang terpampang jelas sebagai lukisan Tuhan yang indah. Sungguh kombinasi yang pas.
"Woi... rambut strowberry, kapan ku pulang?" itulah suara pertama yang didengar Sakura saat ia mengangkat ponselnya yang berdering membuat dia terbangunkan dari mimpi indahnya.
"Aku baru di sini sepuluh jam, dan kau sudah bertanya kapan aku pulang? Pertanyaan macam apa itu Tuan. Muda. Kakashi!" balas Sakura penuh penekanan pada kata-kata terakhir.
Tak terdengar suara di seberang sana. Sepertinya si pemilik suara sedang beruasaha merangkai kata-kata untuk membalas ucapan gadis pink barusan.
'Argh sial, kenapa aku kehabisan kata-kata begini' batin Kakashi sebal.
"Ya pokoknya kau harus cepat pulang. Tugasmu sudah menumpuk di sini. Cucian banyak!" ucap Kakashi nggak nyambung.
"Jadi kau meneleponku hanya untuk mencuci baju!" terdengar guratan-guratan kecewa dari suara Sakura. "Tega sekali kau, mencemaskan aku saja tidak, kau bahkan lebih perhatian dengan bejumu."
Mendengar jawaban Sakura yang seperti itu membuat Kakashi merutuki ucapannya tadi. Sepertinya dia sudah keterlaluan pada Sakura.
"Ya sudah selamat bersenang-senang," Kakashi langsng menutup teleponnya takut kalau pembicaraan diteruskan malah makn memperkeruh hubungannya dengan Sakura(?).
Sebenarnya Kakashi tidak memikirkan tugas Sakura ataupun cucian yang katanya banyak itu. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam (cieleh) yang ada di pikiran Kakashi hanyalah Sakura, Sakura, dan Sakura.
Padahal baru tidak bertemu beberaa jam ia sudah kangen setengah mampus pada gadis berambut bubble gum itu. Kangen senyumnya, wajahnya saat marah bahkan ia merindukan bentakan maha dasyat Sakura. Hanya ia tidak mampu mengekspresikan rasa itu pada Sakura, karena ia takut kalau perasaannya tidak terbalas walau itu hanya opininya sih. Kakashi berpendapat seperti itu karena ia melihat kedekatan antara Sasuke dan Sakura, apalagi ditambah adegan beberapa hari lalu. Hal yang sempat membuatnya panas. Rasa rindunya sedikit terobati saat mendengar suara Sakura barusan walaupun yang ada juga mereka bertengkar seperti biasanya, meributkan hal yang tidak penting. Kakashi menelepon Sakura dengan berkedok cucian yang menumpuk dan terang saja membuat Sakura kesal. Karena ia berpikir cucian lebih berharga ditimbang dirinya dimata Kakashi. Mungkin jika Kakashi bersikap sedikit manis padanya tidak mustahil mereka memiliki hubungan, ya semacam pacaran gitu.
Namun kalau kedua insan itu bertemu seringnya mereka berdebat. Malahan itu sudah menjadi kebiasaan bagi mereka.
Dan ini menjadi puncak dari rasa kerinduan Kakashi, dia sudah tidak tahan jika tidak bertemu Sakura. Maka dia beranjak dari kursinya kemudian mengambil kunci mobil dan menyambar jaket dari almari pakaiannya. Ia ingin segera bertemu Sakura. Tentang alasan, urusan belakanganyang penting rindunya kini terobati. Kalau berangkat sekarang mungkin masih sempar ke villa Namikaze sebelum sore.
Para penghuni villa sedang berkumpul di ruang makan, merekasedang makan siang dengan masakan para gadis.
"Woy... Teme, tadi pagi kau dari mana? Waktu aku bangun kau sudah tak ada d kamar," kata Naruto sembari menyeduh cup ramen instannya.
Sasuke yang di tanya seperti itu membatu di tempat sedangkan Hinata merona merah.
"Hanya jalan-jalan di sekitar sini, memang kenapa?" jawab Sasuke yang kini sudah kembali ke mode poker face untuk menyembunyikan rasa kagetnya barusan.
"Ya tidak apa-apa. Hanya saja kau tidak berkelakuan seperti biasanya, bukan gayamu sekali berjalan-jalan di pagi buta tuan Uchiha." Ucap Naruto sembari menyeringai licik.
"Apa maksudmu Naruto."
"Tidak ada maksud apa-apa," jawab Naruto dengan mengulum senyum.
'Aku tahu apa yang kau lakuakan Sasuke, memangnya aku tidak tahu apa yang kau lakukan dengan Hinata,' gumam Naruto sambil asyik melahap ramennya.
Sakura yang sedang nyantai di taman depan villa dikagetkan oleh kedatangan seseorang yang tadi pagi membangunkannya dengan cara tidak lazim.
"Kakashi apa yang kau lakukan di sinii" ucap Sakura yang masih kaget dengan kedatangan orang di depannya.
"Ehm... aku... aku," tampaknya Kakashi belum menemukan alasan untuk kedangannya yang tiba-tiba.
"Kau kenapa?" tanya Sakura yang agak bingung plus khawatir. Tiba-tiba Kakashi mendekap Sakura erat. Sakura yang masih kaget tidak mampu berbuat apapun. Lidahnya kelu tidak mampu bersuara.
Ia kemudian mendengar Kakashi berbisik, "Kumohon biarkan seperti ini sebentar saja" pinta Kakashi yang semakin mengeratkan pelukannya.
Mereka tidak tahu saja kalau sedang dilihat oleh banyak orang di dalam villa.
"Si jidat lebar benar-benar beruntung." Ucap Ino yang kini berada dalam dunianya sendiri memimpikan sang Prince charmingnya.
"Mendokusei."
"Kau sekarang jadi mirip si kepala nanas, Kiba." Komentar Naruto yang juga ikut menyaksikan adegan film romance di depan villa keluarganya.
"Ku tak tau apa yang dilihat kapten dari si manager jelek itu." Seandainya Sakura ada di sini mungkin Sai tak akan bernyawa lagi.
"Wah, sepertinya akan ada tambahan pasangan baru nih. Benarkan Teme," kata Naruto sembari berbalik dan menepuk bahu Sasuke.
"Memangnya apa hubungannya denganku, Dobe." Jawab Saske kesal karena seperti ada yang disembunyikan oleh Naruto.
Kemudian Naruto berbisik di telinga Sasuke, "Aku tahu semua yang kau lakukan tadi pagi Teme."
Sasuke kini kaku di tempat dengan wajah konyol dan Naruto pergi meninggalkan teman-temannya sambil asyik bersmirk-smirk ria.
Tbc
~.~ ~.~ ~.~ ~.~ ~.~ ~.~ ~.~
Carrot is orange and sky is blue
Don't forget to review
l l
ll
\/
