Summary: Matt dan Mello sama-sama menderita brother complex pada near. Mereka berlomba satu sama lain hanya untuk melelehkan hati si putih (you-know-who… yang saya maksud bukan anjingnya Shinchan). Dan ada chapter khusus MxM-nya.

Genre: Romance

Pairing: MxM

MattxNear

MelloxNear (jika yang brother complex juga dimasukkan dalam pairing)

UNTOUCHABLE WHITE: Chapter 2 –A Present

Kepulan asap rokok mengepul di atas ruangan. Bersatu dengan dari suara game portable. Seorang remaja berumur 15 duduk di bawah jendela kamarnya.

Ia telah merokok pada usia 9 tahun. Dengan google menggantung di lehernya. Rambut merahnya sedikit berkilau terkena sinar matahari yang menerobos jendela.

"Ukh.. Game over lagi.." frustasi, Matt melempar game portablenya ke kasur. Ia bangkit dan berjalan ke luar kamar. Namun ia berhenti karena ia melihat bayangan putih melintas di sela pintu kamarnya.

"Near??" Matt membuka pintu dan menengok keluar. Ternyata benar, Near sedang berjalan di koridor, membawa sesuatu di tangannya.

"Near!" Matt mengejar Near, namun Near langsung berlari.

Matt sedikit kebingungan, tidak biasanya Near bersikap seperti itu. "Apa aku punya salah ya??" Matt sedikit menggaruk kepalanya.

Lagi lagi asap rokok dan bunyi game portable. Kini Matt duduk di bawah pohon willow besar di halaman belakang Whammy House.

"Hey, Matt!!"

"Apa, Mell?" Matt sudah tau itu Mello bahkan tanpa menengok dan melihat wajahnya.

Mello sedikit merengut, "berhenti memanggilku 'Mell'!! Terdengar seperti kau sedang memanggil anak anjing" ucapnya ketus. "Tinggalkan Mario Bross-mu dan cepat bantu aku bawa buku buku ini ke perpustakaan!" ucapnya lagi.

Kini baru Matt menoleh. Dilihatnya Mello membawa tumpukan buku tua di tangannya, bahkan buku buku itu sudah menutupi dagu Mello.

Matt sedikit tersenyum, "need a help, huh??" Matt berdiri dan menyimpan game portablenya ke dalam saku jaketnya. "Lain kali mintalah dengan manis, mell!" ucapnya sembari mengambil buku buku dari tangan Mello.

"Hei! Kau tak perlu membawa semuanya, biar kubawa sebagian!" Mello mengulurkan tangannya.

"Tak usah. Ini pekerjaan laki laki" Ucap Matt sambil berjalan meninggalkan Mello.

"He, Hei!!! Bocah game! Apa maksudmu?! Kau ingin merasakan peluru bazooka mendarat di kepalamu??!"

"Hahaha.. Nampaknya tuan putri marah.."

"Hey! Matt, diam di tempat, atau aku akan membunuhmu sekarang juga!!!"

Near masuk lalu mengunci pintu kamarnya. Tangannya masih membawa sesuatu. Bungkusan kain putih.

Near berjalan dan membuka kotak berwarna cokelat di meja samping tempat tidurnya. Ia memasukkan bungkusan itu kedalamnya. Near diam menunduk. "L-sama.. Maafkan aku..."

Matt berjalan di koridor dengan tumpukan buku di tangannya dan Mello yang mengikutinya dibelakang. Matt memilih memutar ke bangunan barat daripada langsung ke utara. Ia memilih jalan yang lebih sepi.

Mello melihat Matt berbelok, "hei Matt, kau mau kemana?"

"Kau lurus saja. Disana ramai. Aku benci keramaian." Katanya sambil terus berjalan.

Mello tak berkata apapun dan langsung berjalan ke perpustakaan yang letaknya ada di bangunan utara.

Matt berjalan memutar melewati koridor asrama. Biasanya koridor itu kosong jika sedang jam bebas.

Matt berhenti, ia melihat Near keluar dari kamarnya, tanpa benda yang beberapa jam lalu dibawanya. Near berjalan terus, tanpa melihat Matt, walaupun sebenarnya mungkin ia menyadari kehadiran Matt.

"Dia kenapa sih? Sombong sekali hari ini.." ucap Matt pada diri sendiri sesaat setelah Near hilang dari pandangan.

Matt kembali berjalan, namun ia terhenti di depan kamar near. Ia merasakan begitu banyak magnet yang menariknya untuk masuk dan memeriksa--dan akhirnya Matt kalah dan memutuskan untuk masuk setelah ia menaruh tumpukan buku yang dibawanya di sisi koridor.

Matt membuka pintu dan masuk, lalu dengan cepat menutupnya kembali. Begitu banyak mainan di lantai. Dadu-dadu berserakan dan kepingan puzzle bertumpuk di ujung ruangan.

Matt bingung untuk memulai. Bahkan ia tidak tahu apa yang ia cari, sampai ia menemukan benda yang tak pernah dilihatnya di kamar Near.

Kotak cokelat berpita putih di atas meja. Entah kenapa kotak itu lebih mencerminkan Mello daripada Near. Bahkan aromanya pun seperti Mello.

Matt mendekat dan membukanya. Didalamnya terdapat bungkusan kain putih. Itu adalah barang yang dari tadi dibawa oleh near. Matt membuka bungkusan itu.

Sesaat Matt terdiam. "Near..." sekarang ia tahu kenapa Near begitu murung hari ini.

Mello berdiri terdiam di depan perpustakaan dengan kerutan di keningnya. Ia menggigit cokelat dengan bringas. Sesaat melipat tangannya dan mendengus. Bahkan saat marah seperti itu ia masih terlihat seperti perempuan.

"Kalau dia datang, kubunuh dia.." ucapnya, berjanji pada diri sendiri.

Setelah beberapa saat, akhirnya Matt muncul. "Hei!! Googleboy! Kau kemana saja?! Apa kakimu bermasalah?! Kau lambat sekali!!" cerca Mello dalam satu tarikan nafas.

Namun Matt tidak menghiraukannya, ia langsung berjalan ke dalam perpustakaan.

"Hei!!" sergah Mello saat melihat tingkah Matt. "Tunggu!" ia mengikuti Matt memasuki perpustakaan.

Matt menyimpan tumpukan buku yang dibawanya di atas meja. Penjaga perpustakaan yang melihatnya langsung menghampirinya, "Matt, Mello.. Terimakasih sudah membawakan buku buku ini" katanya.

"Tak masalah" jawab Matt singkat.

Ia langsung berbalik dan menyambar lengan Mello yang berdiri dibelakangnya. "Aku ingin bicara, kutunggu di bawah pohon willow" ucapnya. Suaranya terdengar serius, namum mengancam.

Matt melepaskan tanganya dari lengan mello dan langsung keluar dari perpustakaan.

Sementara itu Mello membatu. Dengan wajah merah dan hati berdebar.

Kurasa dia salah paham...

Matt duduk terdiam di bawah pohon willow besar, namun tanpa rokok dan game portable.

Setelah beberapa menit, Mello datang dan menghampiri Matt. Ia berjongkok sehingga tingginya sama dengan Matt.

"Apa yang kau ingin bicarakan?" ucapnya seakan acuh.

"Ini tentang Near..." kata kata yang keluar dari mulut Matt membuat Mello fokus. "Ia terlihat begitu muram akhir akhir ini. Dia juga menjadi lebih penyendiri daripada biasanya" jelasnya.

Matt berhenti sebentar, menatap wajah Mello yang serius lalu melanjutkan pembicaraan "hari ini aku akhirnya tahu apa yang membuatnya seperti itu..."

"Lalu apa maksudmu memanggilku kemari?"

"Aku butuh sedikit bantuan, Mello"

Near kembali terlihat keluar dari kamarnya dengan membawa bungkusan putih di tangannya. Ia berjalan pelan menyusuri lorong.

Di belakangnya Matt dan Mello berjalan mengendap endap sembari merapat ke dinding. Licin seperti belut, merayap masuk ke dalam kamar Near tanpa suara sedikitpun.

Mello hanya menyimpan kotak berbungkus kertas kado motif stripes hitam-merah di sebelah bantal near.

"Ok. Cepat keluar sebelum Near kembali." ucap Matt sambil menarik Mello keluar.

"Fuuh.." Matt dan Mello menghela nafas di dalam kamar mereka.

"Hey Mel!" ucap Matt sambil mengulurkan kepalan tangan kepada Mello yang masih terengah engah. "Mission accomplished, partner!" katanya lagi, sambil tersenyum memamerkan giginya.

Mello membalas kepalan tangan Matt, "yang tadi itu tak akan berhasil tanpaku, Matt!"

Near kembali berjalan di koridor, masih dengan bungkusan putihnya namun tanpa wajah muramnya. Itu kini tergantikan dengan wajah tanpa ekspresi yang sama dengan biasanya.

Ia membuka pintu kamar dan langsung membuka bungkusan putihnya di atas meja.

Ternyata itu adalah robot mainan yang dulu diberikan L pada Near. Di lengan kanan robot itu terlihat lem yang masih basah.

"Kau harus berterimakasih pada Beyond... Ia yang memperbaikimu" Near berbicara kepada robotnya.

Near menaruh robotnya di tempat yang tersinari matahari, supaya lem dilengan robotnya lebih cepat mengering. Di meja kecil di sebelah tempat tidurnya. Tak sengaja ia melihat kotak di sebelah bantalnya. Kotak stripes hitam-merah.

Near mengambilnya sembari duduk di pinggiran tempat tidurnya. Ia membuka kertas kado yang melapisi kotak itu dengan rapi.

Near berhenti ketika melihat benda yang ada di dalamnya. Ia mengangkatnya dan melihat ada surat di dasar kotak.

Near membuka amplop itu dan membacanya.

"Dear Near,

Aku tahu beberapa hari ini kau terlihat begitu murung. Aku tak tahu apa yang terjadi padamu, hingga tadi pagi. Jujur saja aku menyelinap ke dalam kamarmu dan melihat robot pemberian L sudah rusak.. Aku tak bisa membelikan yang sama, karena Thailand jauh dari sini. Oleh karena itu... Aku hanya bisa membuatkanmu robot kayu. Aku berharap kau terhibur, Near...

Matt,

Mail Jeevas"

Terdengar bunyi ketukan pintu dari luar pintu kamar Matt dan Mello. Keduanya yang sedang asik dengan kegiatan masing masing terlihat enggan beranjak untuk membuka pintu.

"Matt.. Buka pintunya." ucap Mello yang sedang memainkan laptopnya sambil mengunyah cokelat batangannya.

"Kau saja yang buka. Aku sedang sibuk." jawab Matt dari sebrang tempat tidurnya. "Nanti kuberi kau coklat saat Valentine..." katanya lagi.

"Benar ya!" Mello langsung beranjak, Matt hanya menangguk.

Mello langsung membuka pintu dengan semangat. Namun ia terdiam saat melihat siapa yang berdiri di depannya. "...Near??"

Near hanya menatap Mello sebentar, lalu menengok ke dalam kamar, melihat Matt yang menatapnya di atas tempat tidurnya.

Near berjalan mendekati Matt. Tangan kecilnya meraih leher Matt lalu memeluknya. "Terimakasih, aku akan menjaganya." ucap near, lalu ia kembali melepaskan pelukannya.

Wajah Matt memerah, melihat wajah Near begitu dekat dengan wajahnya.

Near tidak mengatakan apapun lagi, ia berbalik dan meninggalkan Matt serta Mello yang masih tertegun.

"Kenapa hanya kau yang dapat pelukan dari near!!??" Terdengar teriakan Mello dari dalam kamar.

A Present–END