Summary: Matt dan Mello sama-sama menderita brother complex pada near. Mereka berlomba satu sama lain hanya untuk melelehkan hati si putih (you-know-who… yang saya maksud bukan anjingnya Shinchan). Dan ada chapter khusus MxM-nya.

Genre: Romance

Pairing: MxM

MattxNear

MelloxNear (jika yang brother complex juga dimasukkan dalam pairing)

Note: Maaf karena terlambat update (terlambat banget) *sujud-sujud minta maaf*.

UNTOUCHABLE WHITE: Chapter 3 – The Day

Kini sudah genap satu tahun. Hari demi hari, terasa begitu banyak hal yang berubah. Sedikit demi sedikit, mirip dengan benih kecil yang kini sudah tumbuh menjadi bunga yang indah.

Hari yang takkan mungkin kulupakan. Saat pertama kali aku bertemu dengannya, saat tatapan matanya masih sedingin es dan hatinya masih serapuh kertas.

Matt menatap jam digital di atas meja, 13 Oktober tepat pukul 2 siang, tertulis disana.

Hari yang mengingatkannya pada sesuatu yang sekarang sedikit ia sesali. Tapi tanpa hari itu, ia dan Mello tak akan seperti sekarang. Rasa syukur hanya ia pendam dalam hati, terlalu egois untuk berbagi dengan teman sekamarnya. Hal itu hanya akan membuatnya mendapatkan runtutan ejekan dari mulut Mello.

Matt berjalan pelan ke arah jendela, menatap keluar. Tetesan air dingin di luar mengukir embun tebal di jendela. Awan yang kelam menggantung di langit.

Semuanya begitu sempurna. Begitu menggambarkan suasana hari itu, tepat setahun yang lalu.


Seorang bocah belasan tahun dengan jas hujan berwarna hitam didampingi seorang pria paruh baya berjalan di tengah rintik hujan.

Bahu jas pria itu dibasahi oleh tetesan air hujan yang menetes dari ujung-ujung payung berwarna hitamnya.

Mereka berhenti di depan bangunan bergaya inggris tua yang terlihat begitu hangat -entah karena apa. Dengan taman berumput yang luas, dinding bata berlapis cat putih dengan paduan warna abu yang samar.

Pria itu berjalan menuju pintu masuk lalu memencet bel yang menggantung di dinding. Sembari menunggu pintu terbuka, ia sedikit merapikan jasnya dan menepuk-nepuk rambut pirangnya dengan menggunakan tangan.

Sesegera ia menurunkan tangannya ketika pintu mulai terbuka. Seorang pria mempersilahkannya masuk.

Bocah kecil tadi melangkah masuk. Ia melepaskan jas hujannya dan menggantungnya di dekat pintu masuk.

Setelah menjelaskan maksud kedatangannya, pria berambut pirang itu dipersilahkan menunggu di ruang tamu. Ia berhenti sebentar ketika menyadari anak lelaki yang dituntunya tadi tetap diam di depan pintu masuk.

"Mihael... Ayo kemari." pria berambut pirang itu memanggilnya.

"...Tempat ini akan menjadi rumah barumu."


Seorang anak laki-laki berambut merah duduk di tepi tempat tidur sambil menghisap rokok. Ia terlihat begitu menikmatinya. Sementara tangannya asik dengan tombol-tombol game portable.

Ruangan itu begitu hening. Suara dari game portablenya menggema di ruangan itu.

Matt yang sedang asik tiba-tiba dikagetkan oleh bunyi ketukan pintu.

Ia gelagapan mematikan rokoknya lalu menyembunyikannya di dalam laci. Lalu ia mengibas-ngibaskan tangannya keudara agar aroma rokok tidak terlalu tercium. Namun usahanya sia-sia.

Pintu diketuk sekali lagi. Matt memutuskan untuk langsung membuka pintunya, menghadapi apapun yang ada di luar sana.

"B..." Matt bergumam ketika melihat siapa yang ada di depan pintunya. Ternyata hanya Beyond, saudara kembar L. Mereka sangat mirip, namun masih bisa dibedakan. Selain karena bola mata Beyond berwarna merah darah, prilaku mereka pun benar-benar berbeda.

"Aku mengantar anak ini..." Beyond menunjuk anak laki laki -err atau perempuan mungkin, disebelahnya. Anak itu membawa koper besar. Pasti ia akan tinggal disini.

Anak itu melangkah masuk dan mengamati kamar. Matt memperhatikan rambut pirangnya yang berkilau, ia kini punya teman sekamar.

Matt tersenyum, "siapa namamu?"

Anak itu diam tak menjawab. Ia terus mengeluarkan pakaian miliknya dari koper.

"...Namanya Mello" ucap Beyond dari luar kamar. "Sudah ya, aku mau makan selai stroberi lagi" katanya sambil melangkah pergi.

Matt menutup pintu dan kembali ke teman barunya. "Namaku Matt. Senang bertemu denganmu, Mello.." ucapnya ramah.

"Namaku Mihael! Dan jangan panggil aku dengan nama menjijikan itu!" Mello menjawab ketus. Ia langsung berdiri dan meringkuk di atas tempat tidurnya, membelakangi Matt.

Matt agak terkejut dengan sikap teman barunya itu. Namun ia mengacuhkannya, karena dulu saat ia masuk panti, ia pun berikap sama seperti Mello. Arogan dan tak ingin diganggu oleh siapapun.

Matt memandangi punggung Mello dari tempat tidurnya. Ia seperti melihat patulan masa lalu didalamnya. Begitu sama persis.

Matt menghela nafas, mengingat masa lalu selalu membuat perasaannya tak menentu. Diantara ingin menangis atau marah, ia bahkan tak bisa memilih.

Matt memutuskan untuk pergi tidur daripada terus memandangi cermin paralel di sebrangnya yang hanya akan membuatnya bermimpi buruk. Ia menarik selimutnya dan membenamkan kepalanya di atas bantal.

Matt membuka matanya yang masih berat, terus memintanya untuk kembali tidur. Namun telinganya merasa terganggu oleh suara tangisan.

Tangisan? Siapa yang menagis?

Matt bangun lalu menatap Mello yang terisak di sebrang tempat tidurnya. Kepalanya ditutupi oleh bantal, yang berhasil meredam suara tangisnya.

Matt perlahan lahan berdiri dan berjalan mendekati Mello, sebisa mungkin untuk tidak membuat suara berisik dan mengejutkan Mello.

Mello masih terus terisak di bawah bantalnya. "..Maafkan aku...," ia bergumam, namun masih bisa didengar oleh Matt

Perlahan-lahan Matt menyentuh bantal di atas kepala Mello, lalu ia menggesernya hingga wajah Mello terlihat jelas.

"Kau kenapa?" tanya Matt sambil menatap Mello.
Matt bisa melihat mata Mello yang bengkak akibat menangis, rambut pirangnya pun terlihat lembab karena terbasahi oleh air mata. Entah kenapa Matt tertegun. Wajah Mello begitu membuatnya tertarik, apa lagi dari jarak sedekat ini.

Mello diam tak menjawab. Ia terus menagis, air matanya terus mengalir.

Matt berbalik dan mengambil sesuatu dari laci mejanya lalu memberikannya pada Mello, "makanlah..," ujarnya sambil menyodorkan kotak berwarna merah.

Mello bangun lalu menerima kotak itu, "apa ini?" tanyanya sambil menatap Matt dengan matanya yang sembab.

"Cokelat," jawabnya singkat. "Cokelat bisa mengurangi stress, kau tahu?" tambahnya sembari duduk di sebelah Mello.

Mello masih tetap terdiam, ia tertunduk sambil menatap kotak cokelat di tangannya dengan tatapan kosong. Ia terlihat ragu.

Matt mengangkat tangannya dan menyeka air mata di pipi Mello. "Aku tahu kau ketakutan," suaranya begitu lembut, "akupun begitu saat aku pertama kali kesini." Matt tersenyum pada Mello sambil terus memperhatikannya, "tenang saja..," bisiknya. Matt sekali lagi menyentuh pipi Mello, "aku akan melindungimu."

Mello tertegun, selama beberapa detik ia terus menatap mata Matt. Menganalisais apakah ia bersungguh-sunguh atau hanya membual. Mello hanya menemukan keseriusan dan kehangatan di dalam mata Matt.

"Terima kasih..," Mello tersenyum manis dan membuat pipi Matt bersemu merah.

"Siapa namamu?" pertanyaan Mello menyadarkan Matt dari dunianya sendiri.

Wajah Matt masih bersemu merah, "uhm.., aku Mail Jevas. Tapi disini namaku Matt," ia gugup, suaranya sedikit bergetar.

Sekali lagi Mello tersenyum dengan sangat manis. Senyuman yang bahkan menandingi senyuman malaikat di mata Matt. Keindahannya begitu sempurna, tak ada yang mampu menandinginya. Dan senyum itu sekali lagi menyihir Matt.

Mello menyodorkan tangannya, mengajak Matt berjabat tangan, "aku senang bertemu denganmu, Matt… Terima kasih untuk cokelatnya."

Matt meraih tangan Mello, "aku juga, Mel-" ia menghentikan kalimatnya. Takut jika Mello marah padanya karena tidak memanggilnya 'Mihael'.

"Tidak apa apa.. Panggil saja Mello." Mello menggigit sedikit cokelat pemberian Matt, "..Ngomong-ngomong, cokelat ini enak ya? Kau beli dimana?"

"Umm..," Matt sedikit ragu untuk menjelaskannya, "sebenarnya... cokelat itu kuambil dari ruangan milik L... Dia saudara kembar dari Beyond, orang yang tadi mengantarmu kemari."

"..Jadi, kau mencurinya?"

Matt hanya mengangguk.

"Keren! Lain kali kita lakukan bersama, ok!"

Mulai hari itu, muncullah pembuat keonaran yang baru di Wammy House, dan Mello mulai ketagihan dengan sesuatu yang bernama 'cokelat'.


"Matto chaaan~" Mello membuka pintu dan langsung memeluk Matt dari belakang."Aku minta jatah coklatku hari ini doong...," katanya dengan suara dibuat buat, Mello mencoba merayu Matt.

"Le, lepaskan aku, Mello!" Matt mulai gelagapan, wajahnya memerah.

Rasanya ia kehilangan akal sehatnya jika ia berdekatan dengan Mello, apa lagi jika ia hanya berdua dengan Mello. Matt bisa saja kalah dari nafsunya dan dengan satu kali gerakan, Matt bisa langsung mendorong Mello ke kasur dan langsung melucuti pakaiannya satu per satu.

"Matto chaan~ ayolah..," tangan Mello masih terus bergelayut di pinggang Matt.

Terkadang Matt menyesal telah memberi Mello coklat hari itu...

"Baik, baik! Tapi ini yang terakhir untuk hari ini ya."

The days-END