Summary: Matt dan Mello sama-sama menderita brother complex pada near. Mereka berlomba satu sama lain hanya untuk melelehkan hati si putih (you-know-who… yang saya maksud bukan anjingnya Shinchan). Dan ada chapter khusus MxM-nya.
Genre: Romance
Pairing: MxM
MattxNear
MelloxNear (jika yang brother complex juga dimasukkan dalam pairing)
A/N: Maaf kalau updatenya kelamaan karena Bunny hiatus *sujud* dan maaf juga udah seenaknya dating dan seenaknya pergi dari ffn (TAT). Chapter 4 dipersembahkan untuk para senpai di fandom DN tercinta :D
Untouchable White: Chapter 4 – Valentine Day
14 Februari. Semua gadis pasti sudah bersiap-siap untuk hari ini. Bagi mereka 14 Februari itu kode yang diterjemahkan sebagai 'perang'. Hari terpenting dalam satu tahun itu kini mulai mendekat.
Sudah dari minggu sebelumnya, semua anak perempuan berkutat dengan buku petujuk memasak. Mereka tengah mempersiapkan amunisi perang mereka, bertaruh siapa yang lebih hebat dan memenangkan peperangan.
Di Wammy's House juga terjadi keadaan yang sama. Mereka yang tadinya bersahabat, kini memandang dengan tatapan sinis. Saling berargumen dan menjatuhkan. Hal itu dilakukan hanya untuk satu hal, yaitu : 'memenangkan hati laki-laki pujaannya'. Yah.. Walaupun sebenarnya tidak setiap orang yang coklatnya diterima akan diterima cintanya.
Dan kurasa ada satu lagi yang begitu lengket dari Valentine, hingga tak bisa dilepaskan. Mello.
14 Februari lebih berarti baginya daripada ulang tahunnya sendiri. Mungkin bagi bocah seusianya yang belum paham betul apa arti cinta (sementara gadis seusianya sudah tahu betul, atau mungkin hanya sok tahu), Valentine hanya suatu hari dimana ia akan mendapatkan banyak coklat dari lawan jenisnya.
Tentu saja Mello yang seorang maniak coklat ini tidak akan membuang kesempatan berharga ini bukan?
-Hari yang amat dinantikan Mello, 14 Februari-
Matt memicingkan matanya melihat teman sekamarnya bertingkah begitu aneh pagi ini. Bayangkan saja, bahkan tadi pagi-pagi sekali, ia sudah bangun dan merapihkan dirinya. Bahkan ia tersenyum! Sungguh membuat yang melihatnya merinding.
Kalau kalian ingin tahu apa yang dia lakukan sekarang, kalian tinggal bayangkan seorang bocah dengan rambut pirang sebahu sedang mencoba berbagai baju mulai dari kemeja, jaket, celana pendek, kaca mata, dan bahkan wig. Ia sudah berdiri di depan kaca selama lebih dari 1 jam dan terus menganti pakaian sam bil bergumam "bukan.. Bukan yang ini," atau "hm.. Mungkin ada yang lebih bagus.." Memangnya dia mau kemana sih? Hollywood? Fashion show?
Namun akhirnya Matt keluar dari lamunan panjangnya tentang apa yang sebenarnya Mello lakukan, dan memang ia tidak akan mendapat jawaban kalau tidak bertanya langsung.
"Err.. Mell.. Kau sedang apa?" tanya Matt yang masih diam ditempat.
Mello yang sedang memakai wig afro berwarna hijau muda menengok ke arah Matt. "Kau tidak tahu ini hari apa?" katanya setengah membentak. Memang khasnya Mello berbicara dengan nada tinggi.
Matt berusaha menghiraukan penampilan mello yang terlihat seperti badut di depannya, "...hari selasa kan?" katanya dengan innosen.
Mello tersenyum simpul, "che, kau ini masih kecil ya, Matt!" katanya dengan bangga. "Hari ini adalah perang! Perang dimana kita sebagai laki-laki mempertaruhkan harga diri kita. Siapa yang dapat coklat paling banyak adalah orang nomor satu!" Mello tampak sangat berapi-api, "Jadi kau tau kan sekarang hari apa, Matt?"
Matt menaikkan sebelah alisnya. "...Valentine ya?" jawabnya setelah lama berpikir. "Pantas kau girang sekali hari ini. Dan darimana teori kalau Valentine itu adalah perang? Jangan terlalu banyak mengobrol dengan Linda.. Kau jadi tertular hal-hal girly seperti ini." Matt menaruh satu lengannya di pundak Mello, menunjukan rasa ibanya.
GIRLY? Apa Mello tidak salah dengar? Tadi teman sekamarnya ini bilang kalau dia ini Girly kan?
"Matt.." Mello menatap Matt dengan wajah pembunuh. "Kau siap-siap saja malam ini. Sediakan coklatku dan tunggu di kamar. Oh iya, dan satu lagi... Jangan berharap kau bisa kabur, karena aku akan memberimu HADIAH SPESIAL malam ini."
Mello pergi keluar lalu membanting pintu meninggalkan Matt yang membatu di tengah kamar. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi wajahnya.
Tadi itu apa? Ancaman pembunuhan? Tampaknya Mello marah sekali.. Bagaimana kalau dia merusakkan PSP-ku seperti waktu itu? Atau dia mengincar DS-ku sekarang? Tunggu.. Atau mungkin dia mau ****, ***** lalu ******? Oh Tuhan, aku masih perjaka... Bagaimana ini?
Sementara Matt masih membayangkan hal-hal yang tidak pantas dibayangkan oleh anak seusianya, Mello sedang berjalan di koridor asrama.
Tepat di ujung belokan menuju pintu kamar L, ia mendengar teriakan histeris para gadis yang mungkin saja sedang mengantri untuk memberikan coklat pada L.
"Baiklah! Inilah kesempatanku!" katanya pada diri sendiri. Dengan seluruh keinginannya untuk mendapatkan coklat, ia melompat ke sisi lain koridor itu. "Give me my cho... Err..." saat ia melihat pemandangan di depannya, Mello tidak tahu harus berbuat apa.
Dilihatnya L-Sama yang sangat ia kagumi terkapar di lantai. Dikerubungi oleh gadis-gadis yang entah berasal dari mana-karena beberapa wajah tidak familiar baginya, berteriak 'aku ingin bajunya!','berikan celananya padaku!', 'aku ingin pegang rambutnya!' dan teriakan tak pantas lainnya.
Masih di dalam kamarnya, Matt gelagapan memasukkan barang berharganya ke dalam koper. PSP, NDS, Gameboy, rokok, beberapa helai bajunya, dan CD PS3-nya. Ia tidak tega melihat benda kesayangannya-pencerah hidupnya dirusak untuk yang kesekian kalinya oleh Mello. Ia juga tidak mau 'diapa-apakan' oleh Mello malam ini, karena seharusnya dialah yang menjadi seme.
"Tidak ada waktu.. Aku harus kabur sekarang juga.." katanya sambil menutup paksa kopernya yang kepenuhan. Matt tergesa-gesa membuka jendela lalu mencoba memanjat keluar.
Baru saja ia bersiap untuk melompat, suara bantingan pintu mengejutkannya, membuat seluruh barang bawaannya jatuh berantakan. "Oh God, this is bad.." bisiknya dalam hati sambil menoleh ke arah pintu. Ternyata itu adalah Mello, menatap tajam kearahnya.
"Um.. Aah.. Mello.. Hai.. Hahaha..ha.." terlihat sekali kalau Matt sangat gugup. Kalau dia ketahuan pasti hukumannya akan ditambah berkali-kali lipat. Dan sekarang dia tertangkap basah akan kabur. Malam ini pastilah malam yang paling mengerikan dalam hidupnya.
"Matt.." Mello berhenti untuk mengatur nafasnya yang masih berantakan. "Kau harus membantuku melarikan diri sekarang."
"Apa?" Matt makin tidak mengerti dengan teman sekamarnya ini.
"Perempuan itu monster!" teriak Matt yang tengah berlari di tengah koridor bersama Mello. Sudah 30 menit lebih duo M ini berlari.
"Belok kanan!" Mello memerintahkan parternya. Matt hanya mengikuti sambil terus berlari hingga mereka terperangkap di jalan buntu.
"Sial…" Mello hanya bisa mengumpat sementara para gadis itu mulai bergerumul didepan mereka.
Tidak sengaja Matt melihat Near sedang berjalan santai dibelakang para gadis-monster itu. Tiba-tiba ide cemerlang muncul di otaknya, "lihat! Itu Near!" Matt berteriak sekeras mungkin. Dengan liciknya ia menggunakan Near sebagai umpan.
Ternyata rencananya berhasil, gerombolan itu mulai mengejar Near sekarang.
"Kabur sekarang, Mello!" Matt dan Mello berhasil kabur. "Near… Maafkan aku, aku masih sayang nyawa." Ucapnya pada diri sendiri.
Dua bocah itu akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di gudang lantai 3. Mereka mengunci pintunya dan memastikan semuanya aman.
"Fiuh…" Mello beristirahat di sebuah sofa tua yang berdebu. "Tadi itu parah sekali." Katanya sambil memegangi kepalanya yang rasanya ingin meledak. "Hari Valentine-ku kacau…"
Matt tau kalau Mello sangat menantikan hari ini. Tapi tetap saja Matt tidak suka kalau Mello mengharapkan coklat dari orang lain. Selama ini yang memberi Mello coklat selalu Matt, kalau tidak Mello-lah yang membelinya sendiri.
Matt berjalan mendekati Mello, menjulurkan tangan dengan sekotak coklat yang terbalut pita merah. "Nih, hadiah Valentine." Ucap Matt sambil memalingkan muka. "Tahun depan kau hanya boleh berharap mendapat coklat dariku saja, OK?"
Matt usia 14 tahun, baru mengerti arti sesungguhnya kata 'cemburu'.
Valentine Day – END
Ada typo? Mau nge-flame? Kritik? Saran?
Review !
