"Pagi semuanya!" sapa Alfred sepenjuru kantor menyelidikkan itu

"Pagi juga Letnan Jones." jawab anggota lainnya

"Alfred," sapa sebuah suara yang halus

"Maylen!" balas Alfred melihat yang menyapanya adalah adik tercintanya

"Aku telah mengoutopsi mayat dari Jeanne d'Arc." jelas Maylen tanpa basa-basi. "Dia mengidap penyakit tumor otak yang cukup-tidak-sangat parah. Sisa hidupnya hanya 1-2 bulan lagi. Paling lama 3 bulan. Lalu, pistol kaliber 70mm itu menghancurkan lambungnya."

"Pasti mati kehabisan darah." tebak Alfred

"Sayang sekali kau salah, Alfred." Maylen tersenyum semu, "Dia mati karena jantungnya di hancurkan oleh pisau yang sangat tajam."

Flashback

Di lab autopsi itu terdapat satu perempuan dan satu laki-laki yang sedang memeriksa korban yang kemarin ditemukan tak bernyawa di sebuah real estate, Jeanne d'Arc. Mereka berdua benar-bar serius dan bersunguh-sungguh mengautopsi mayat itu, sampai akhirnya, salah satu perempuan berambut hitam dan berkulit sawo matang itu membelakakkan matanya kaget,

"Demi apapun, Tuhan!" pekiknya

"Ada apa, Ayu?" tanya yang laki-laki pada perempuan bernama Ayu itu

"Rio, Jeanne d'Arc bukan mati kehabisan darah karena lambungnya hancur, tapi dia mati karena jantungnya terkoyak, hingga hancur, maksudku setengah hancur." jelas Ayu pada laki-laki yang bernama Rio yang sebenarnya adalah adiknya

"Demi?" kata Rio juga kaget

Seseorang membuka pintu lab itu, "Aku menemukan fakta baru tentang korban kita,"

"Maylen?" kata Ayu menyebutkan nama perempuan yang memasuki lab itu, Maylen. Maylen adalah, bisa dibilang kepela lab autopsi di kantor detektif itu.

"Dia, Jeanne d'Arc, mengidap penyakit tumor otak yang sangat parah-sudah stadium akhir-dan hidupnya hanya 1-2 bulan lagi. Paling lama 3 bulan."

End of Flashback

"Alfred, aku bisa menyimpulakan kronologis kasus ini," kata Maylen pada kakaknya sambil berjalan beriringan dengannya menuju lab

"Apa?" tanya Alfred tanpa mengurangi kecepatan langkah kakinya

"Kita sampai disana, mayat masih baru-belum kaku, terdapat handgun kaliber 70 tergeletak disamping mayat dengan bekas benturan. Arthur menyimpulkan pelaku membunuh Jeanne dan langsung kabur begitu mendengar sirine mobil polisi. Saat dia kabur, handgunnya terjatuh. Kalau memang dia menembak korban dari jarak dekat, setidaknya jarak jatuhnya lebih jauh dari mayat, tapi ini tepat disamping mayat."

"Berarti pelaku membunuh Jeanne dari tempat yang cukup jauh?" tebak Alfred

"Begitulah. Lalu luka dijantungnya, maupun luka di perutnya, sama-sama dibuat kurang dari 30 menit sebelum kematian."

"Berarti, pertama dia menghancurkan jantung Jeanne d'Arc, lalu memenbaknya dari jauh, kemudian kaget mendengar sirine mobil polisi, dan kabur dengan menjatuhkan pistolnya dengan tak sengaja?" jelas Alfred

"Tepat." kata Maylen. "Tapi, bagaimana cara pelaku melakukan tembakkan tapi Jeanne d'Arc sudah mati?" tanya Maylen pada diri sendiri

"Maksudmu?" kata Alfred tak paham

"Mungkin bisa saja pelaku menghancurkan jantung Jeanne secara tiba-tiba saat Jeanne sedang berdiri. Tapi, kalau dia sudah menghancurkan jantung Jeanne, dia pasti mati dan posisinya pasti berbaring di lantai. Sedangkan posisi tembak pelaku kira-kira dari ambang pintu. Untuk melakukan itu setidak posisi Jeanne harus berdiri, tapi itu tak mungkin karena Jeanne sudah mati saat itu." jelas Maylen

"Satu-satunya cara adalah, pembunuhnya ada dua orang." kata Alfred. "Satunya mengoyak jantung Jeanne sampai mati. Lalu dia memposisikan Jeanne menjadi berdiri, lalu di bunuh oleh yang satunya lagi." ucap Alfred,

"Aku juga memikirkan kemungkinan itu." kata Maylen sambil mengangguk

"Nah, Maylen, kau urus kasus ini dulu. Aku ada perlu dengan salah satu temanku." Alfred mengecup singkat kening adiknya. "Bye."

ASDFGHJKL! Ini kelewat abal ya Allah! Maaf karena chapter kemaren udah abal sekarang abal lagi ya Readresku tercinta =3=... Gomene, gomene, gomene!

Mau bales review!

YuukiNa 255:

Entah kenapa saya tak terkesan kamu yang nge-review Nis TT _ TT tapi makasih deh reviewnya. Nih dah gw Lanjutin~