Konoha's Academy
Disclaimer : selalu jadi miliknya Kishimoto Sensei…
Rated : T
Genre : friendship, family
Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Yaoi, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst.
Enjoy It!
#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
.
Second Chapter : Familiarizing
.
Sudah sebulan Sasuke, Naruto, Neji, Gaara dan Kiba tinggal bersama sebagai anggota Konoha's Academy. Selama itu mereka mulai mengetahui dan membiasakan diri dengan kebiasaan masing-masing; mulai dari Sasuke yang selalu bangun paling pagi dan menjadi 'alarm hidup' anggota yang lain, Naruto yang tidak bisa 'dilepaskan' dari keberadaan cermin, Neji yang selalu menyimpan banyak persediaan makanan dan minuman sehat di kulkas, Gaara yang tidak suka sendirian, dan Kiba yang selalu berteriak 'itadakimasu' ketika menemukan makanan di depan matanya.
Mereka berusaha membiasakan diri dan menerima 'keunikan' masing-masing anggota seperti; jauh-jauh dari Naruto ketika dia sedang dance karena dia punya tenaga berlebih yang 'membahayakan'; jangan sampai mengucapkan kata 'cantik' kepada Sasuke atau kau tidak akan mendapatkan 'cinderamata' dari sang lead vocal; jangan pernah berharap bisa melihat televisi di ruang keluarga kalau salah satu stasiun TV sedang menayangkan pertandingan NBA yang selalu dinantikan Neji; sembunyikan semua snack saat waktu makan tiba agar Gaara mau ikut duduk di ruang makan; dan yang terakhir, jangan duduk di sebelah Kiba ketika pemuda itu sedang serius membaca buku atau kau akan mendapatkan death glare andalannya.
Mereka berusaha untuk memahami dan menerima semua perbedaan yang mereka miliki. Dan tak jarang mereka mengalami bentrok karena sifat mereka masing-masing, seperti yang sedang terjadi saat ini.
"Kau harusnya meminta pendapatku dulu sebelum memutuskan sesuatu, Teme!" ucap Naruto kesal.
"Kita sudah coba membicarakan hal ini tapi tidak membuahkan hasil, Dobe. Apa kau lupa?" tanya Sasuke tak kalah kesal.
"Tidak membuahkan hasil bukan berarti kau bisa mengambil keputusan sendiri!"
"Lalu aku harus bagaimana? Masalah kontrak ini harus segera diputuskan. Pihak management tak bisa menunggu lama untuk hal ini!"
Gaara, yang sejak tadi duduk diantara dua senpai-nya yang tengah duduk berhadapan, diam dan tidak berani menginterupsi pertengkaran mereka. Kiba sedang pergi bersama Kakashi, jadi lelaki berambut berantakan itu terbebas dari ketegangan ini. Sementara itu, Neji yang duduk tak jauh dari sang Sabaku tampak sedang memijit pelipisnya. Lelaki berambut coklat panjang itu sudah mencoba melerai, namun hasilnya nihil.
Beberapa hari yang lalu salah satu label mengajukan kontrak iklan untuk kelimanya pada pihak management sebagai salah satu tahap perkenalan pada masyarakat luas. Mereka sudah merapatkan hal itu, namun belum menemukan titik terang karena belum ada kepastian jadwal shooting, sementara kelimanya harus tetap datang ke akademi untuk berlatih. Dan kemarin Sasuke memberikan keputusan pada management tanpa sepengetahuan keempat anggota yang lain. Hal itu membuat Naruto langsung naik darah dan terjadilah pertengkaran ini.
"Kau dan keegoisanmu, brengsek!"
"Kau dan kelambananmu, idiot!"
"Sudah kubilang, kita adalah keluarga. Mana ada keluarga yang tidak mau mendengar pendapat anggota keluarga lainnnya, Teme!"
"Kita tak bisa terus menggantungkan keputusan, Dobe! Iklan adalah sarana yang baik untuk memperkenalkan diri kita ke publik."
"Damn, Sasuke, I know that! Tapi kau harus ingat, aku bertanggung jawab atas kalian, aku bertanggung jawab atas Konoha's Academy. Aku tidak bisa mengambil keputusan tanpa memikirkan keadaan kita kedepannya. You don't understand!"
"Make me understand then!" Sasuke bangun dan mengcengkram kerah baju Naruto.
"You…" Naruto balas mencengkram kerah kemeja Sasuke.
"Kalian, hentikan!" seru Neji yang kini bangkit dan melepas cengkraman kedua temannya.
Gaara menggigit bibir bawahnya dan menundukkan kepala, tak mau melihat keadaan kedua seniornya. Neji menarik Sasuke menjauh dari Naruto, namun Sasuke malah menepis tangan Neji dengan kasar. Sasuke kembali mencengkram kerah baju Naruto dan menatap iris biru dihadapannya dengan tajam.
"Apa keluarga kita akan bercerai secepat ini?" tanya Gaara pelan dengan suara berat.
"Gaara…" bisik Neji.
"Kalau keluarga kita hancur secepat ini, harusnya keluarga ini tidak usah terbentuk sama sekali!" teriak pemuda beriris hijau itu kemudian.
Cengkraman tangan Sasuke mengendur. Kemarahan Sasuke dan Naruto langsung lenyap ketika melihat butiran kristal meleleh dari sudut mata milik si bungsu Sabaku. Naruto langsung melangkah mendekati sang junior dan memeluknya erat.
"Maafkan aku, Gaakun. Maafkan aku," bisiknya.
# # #
Kelimanya duduk dan sarapan seperti biasa. Entah apa yang terjadi tadi malam, tapi sepertinya Sasuke dan Naruto sudah berhasil menyelesaikan masalah keduanya. Karena apartemen itu hanya menyediakan tiga kamar, Kakashi memutuskan agar Sasuke dan Naruto sekamar, begitu pula dengan Neji dan Gaara. Sebagai anggota paling muda, Kiba dibiarkan memiliki kamarnya sendiri.
"Dahimu kenapa, Neji-nii?" tanya Kiba dengan acungan sendok mengarah pada plester yang ada di dahi Neji.
"Oh, ini. Ada 'hadiah' yang menimpaku tadi malam," jawab Neji disertai tawa ringan.
"Hadiah?" Kiba menaikkan sebelah alisnya.
"Ya, hadiah."
Sepasang mata biru langsung mengarah pada pemuda berkulit porselen yang sejak tadi menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan raut wajahnya. Naruto kemudian tertawa, membuat semua mata mengarah padanya.
"Kurasa aku tahu apa yang terjadi," ucapnya disela tawa.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Sasuke.
"Apa yang kau dapatkan tadi malam, Neji? Walkman, iPod atau novel?" tanya Naruto, sama sekali tidak menggubris pertanyaan Sasuke.
"Walkman. Benar-benar 'hadiah' yang mengejutkan," jawab Neji dengan dengusan geli.
Naruto kembali tertawa. Pemuda berkulit tan itu sudah tahu apa yang terjadi pada Neji semalam, karena dia juga pernah mengalaminya ketika di asrama dulu (Naruto dan Gaara adalah teman sekamar saat mereka tinggal di asrama sekolah). Sasuke dan Kiba memandang heran pada rekan mereka yang mulai meredakan tawa.
"Sebenarnya apa yang kalian maksud?" tanya Sasuke pada akhirnya.
"Itu… kebiasaan Gaakun," jawab Naruto sambil menyeka air mata akibat terlalu banyak tertawa.
"Kebiasaan Gaara-nii?" Kiba langsung menatap pemuda berambut merah yang masih menundukkan kepalanya.
"Gaara selalu tidur dengan salah satu benda favoritnya, seperti walkman, iPod atau novel. Dan dia juga selalu menjatuhkan benda yang menemaninya itu ketika tidur," papar Naruto.
"Maksudnya..." Kiba mencoba mencerna kata-kata Naruto, kemudian menyusul Sasuke yang sudah lebih dulu tertawa pelan ketika dia sudah mendapatkan gambarannya.
"Maafkan aku, Neji. Aku benar-benar tidak sengaja," ucap Gaara.
"Kalau kau mau menyalahkan seseorang, salahkan manager yang menyuruhmu sekamar dengan Gaakun, Neji," tutur Naruto.
"Kau juga bisa menyalahkan si Dobe ini," ungkap Sasuke.
"Hah? Kenapa aku?"
"Karena kau yang meminta mereka menempati kamar dengan bunkbeds itu kan?"
"Hei, hei, aku tidak terbiasa tidur dengan tempat tidur seperti itu. Salah-salah aku yang akan terjun bebas nantinya," sergah Naruto.
"Sudahlah, aku sama sekali tidak marah dan tidak mau menyalahkan siapapun," tutur Neji melerai.
"Kenapa bukan Neji-nii saja yang tidur di bagian atas? Dengan begitu kan tidak ada yang akan jadi korban," tanya Kiba.
"Aku juga sudah mengusulkan begitu, tapi Neji menolak," Gaara menghela nafas.
"Jujur saja, tempat tidur bagian atas itu sedikit lebih sempit. Kalian sendiri tahu kalau badanku sama sekali tidak mungil," Neji menjelaskan.
"Kalau begitu, kau harus siap-siap untuk mendapatkan 'hadiah' dari Gaakun tiap malam, Neji," ucap Naruto, membuat yang lain –kecuali Gaara– tertawa.
.
Karena Kakashi selaku manager belum juga memberikan jadwal kegiatan tetap pada kelimanya, kelima pemuda itu memutuskan untuk menghabiskan siang hari ini dengan mengobrol ringan sebagai salah satu cara mengakrabkan dan mengenal pribadi masing-masing.
"Apa kelemahan kalian?" tanya Neji.
"Kelemahan... Ketakutanku pada serangga menjijikkan bernama kecoa. Hiey!" jawab Naruto sembari menunjukkan raut horor.
"Kelemahanku itu makanan," jawab Kiba polos.
"Entahlah, tapi aku benci sendirian. Apa itu termasuk dalam kategori kelemahan?" Gaara meneguk jus di gelasnya.
"Kelemahanku hujan. Aku selalu malas melakukan apapun kalau hujan turun," papar Sasuke. "Kelemahanmu sendiri apa, Neji?"
"Aku… Kelemahanku adalah semua makanan dan minuman sehat. Entah apa yang terjadi kalau aku tidak membawa salah satu dari dua hal itu."
Naruto dan Kiba terkikik geli mendengar pengakuan Neji. Gaara menggigit muffin buatan Naruto yang ada di atas meja.
"Hal apa yang bisa membuat mood kalian buruk?" tanya pemuda berambut merah itu.
"Kalau aku tidak sengaja menghapus informasi dari laptopku!" Kiba menjawab lantang
"Aku akan badmood kalau waktu makanku terganggu, karena aku akan langsung sakit perut setelahnya," jawab Neji.
"Satu-satunya hal yang bisa membuat mood-ku ada di titik terendah adalah ketika pinggangku sakit," ujar Sasuke.
"Mood-ku akan buruk kalau aku masuk ke toko yang memberikan pelayanan yang tidak memuaskan," ucap Naruto dengan pipi menggembung.
"Mood-ku jelek kalau sudah membeli sebuah benda di suatu tempat, tapi aku menemukan benda yang sama dengan harga yang murah di tempat lain. Itu menyebalkan." Gaara menghabiskan kuenya.
"Bagaimana tipe gadis yang kalian sukai?" tanya Naruto.
Semua mata mengarah pada Naruto dengan tatapan tak percaya. Sejak kapan pemuda itu senang membicarakan hal seperti ini? Naruto membalas semua tatapan yang tertuju padanya dengan alis bertaut.
"Apa aku salah bertanya?" ucapnya. Semuanya menggeleng pelan.
"Wanita yang outgoing, aktif, dan menyukai olahraga tentunya," jawab Neji.
"Aku suka gadis yang girly dan mau mengambil inisiatif, mengingat aku bukanlah lelaki yang pandai mendekati seorang perempuan," jawab Kiba.
"Aku suka gadis berambut panjang dan gadis yang bisa memahamiku dengan baik," tutur Gaara.
"Giliranmu, Teme," tegur Naruto kepada Sasuke yang belum angkat suara.
"Kau sendiri? Bagaimana tipe gadis yang kau sukai?" Sasuke balik bertanya.
"Aku suka gadis yang memiliki tangan dan kaki yang indah," ujar Naruto. "Kalau kau?"
"Hn, aku tidak punya tipe ideal semacam itu."
Dua urat bersilangan di dahi Naruto begitu mendengar jawaban yang tidak diharapkannya itu. Sebelum pertengkaran diantara dua orang berbeda karakter itu pecah, Neji kembali angkat bicara.
"Berapa anak yang kalian inginkan kalau sudah menikah nanti?"
"A—anak?" mata Kiba melebar sempurna. "Aku masih muda, dan belum mau berfikir sejauh itu, Neji-nii!" lanjutnya.
"Aku kan hanya bertanya, Kiba," Neji mengerlingkan matanya. "Kalau aku hanya ingin punya dua anak lelaki dan seorang anak perempuan."
"Kalau aku ingin punya seorang anak perempuan," ucap Gaara.
"Aku kebalikannya Neji; dua anak perempuan dan seorang anak lelaki," ujar Naruto. "Kau harus menjawab bagian ini, Teme!" perintahnya.
"Aku ingin punya lima anak lelaki dan duapuluh anak perempuan," jawab Sasuke kalem.
"APA?" teriak Kiba, Neji, Gaara dan Naruto serempak dengan mata membelalak karena terkejut.
"Pikirkan istrimu, Sasuke!" seru Neji.
"Kau mau membunuh seseorang, Teme?" timpal Naruto dengan nada suara melengking.
# # #
Naruto berteriak girang setelah memenangkan pertarungan hom-pim-pah melawan keempat temannya. Setelah selesai sarapan, kelimanya berkumpul di ruang keluarga. Tadinya mereka sedang menonton TV, tapi karena tidak menemukan acara yang menarik, Kiba mengusulkan untuk bermain Truth or Dare.
Kini kelimanya duduk melingkar di atas karpet dengan sebuah botol berada di tengah-tengah lingkaran itu. Naruto menidurkan botol itu dan bersiap memutarnya untuk mengetahui siapa yang akan menjadi 'korban'nya.
"Oke, aku mulai!" serunya sembari memutar botol itu cepat. "Aha!"
Ujung botol mengarah pada Kiba yang sejak tadi sudah komat-kamit agar tidak terpilih. Neji yang melihat raut kecewa 'adik'nya itu hanya tertawa pelan.
"Truth or Dare, Kiba?" tanya Naruto dengan senyuman manisnya.
"Truth," jawab Kiba pelan.
"Umm... Kapan kau mengalami ciuman pertamamu?" tanya Naruto.
"Aku belum pernah… aku belum pernah berciuman, Naru-nii," jawab Kiba dengan sedikit rona merah di wajahnya karena malu.
"Kau sudah lulus SMA tapi belum pernah berciuman sekalipun? Aku tidak percaya." Neji menggelengkan kepala.
"Terserah kau mau percaya atau tidak," Kiba memalingkan wajahnya yang masih memerah, membuat Naruto terkikik geli.
"Giliranmu, Kiba," ucapnya dengan tangan menyodorkan botol.
Kiba menerima botol itu dan memutarnya sedikit kelewat semangat. Kini ujung botol itu mengarah pada pemuda berambut merah yang duduk bersandar pada kaki sofa di belakangnya.
"Gaara-nii, Truth or Dare?"
"Truth," jawab Gaara tenang.
"Apa yang ingin kau lakukan kalau mendapat libur panjang?"
"Aku ingin jalan-jalan santai berdua dengan Tshu."
"Tshu?" tanya Kiba dengan dahi berkerut.
"Tshu itu anjing peliharaan Gaakun, Kiba," Naruto memberitahu.
Kiba hanya ber-oh-ria sebelum kemudian memberikan botol kepada Gaara. Gaara menatap botol di tangannya sejenak, lalu menaruh dan memutarnya. Botol berhenti dan mengarah pada Naruto.
"Truth, Gaakun," tutur Naruto sebelum Gaara melontarkan pertanyaan.
"Berapa mangkuk ramen yang bisa kau habiskan dalam sekali makan?" tanya Gaara. Naruto menyeringai tipis.
"Tergantung berapa mangkuk yang bisa kau bayar untukku, Gaakun."
"Kalau aku bilang sepuluh, apa kau mampu menghabiskannya?" tantang Gaara ikut menyeringai.
"Tentu saja, asalkan itu di Ichiraku."
Tiga orang yang lain hanya menatap keduanya dengan tatapan tak mengerti. Mereka ini sedang membicarakan apa sih? Ramen? Ichiraku?
"Mungkin kalian tidak tahu kalau Naruto itu maniak ramen," ucap Gaara sambil menunjuk teman pirangnya. "Waktu kami masih SMP dulu, dia bisa menghabiskan lima mangkuk ramen tiap kali kami pergi ke Ichiraku."
"Ichiraku? Kedai ramen yang terkenal itu?" tanya Neji.
"Dulu Ichiraku tidak sepopuler sekarang dan harganya masih terjangkau, jadi aku bisa makan sebanyak yang aku mau, Neji," jawab Naruto. "Ayo kita mulai lagi."
Untuk kedua kalinya Naruto memutar botol itu. Ketika putarannya berhenti, Naruto segera memikirkan pertanyaan yang akan diajukannya pada Neji setelah pemuda bermarga Hyuuga itu memilih Truth.
"Kalau kau diberikan satu permintaan yang pasti terkabul, apa yang kau minta?"
"Aku ingin punya lapangan basket berukuran standar internasional, beserta stadionnya kalau perlu, di halaman rumahku," ucap pemuda dengan rambut coklat panjang itu.
"Astaga, Neji. Itu tidak mungkin!" seru Naruto. Neji hanya tertawa.
Neji mengambil botol itu dan memutarnya. Arah yang ditunjukkan sang botol sama seperti dugaan semua orang yang ada disana; Sasuke. Pemuda berambut raven itu hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Truth or Dare, Sasuke?"
"Truth."
"Oke," Neji berpikir sejenak. "Siapa orang yang paling ingin kau lampaui?" tanyanya kemudian.
"Kakakku, Uchiha Itachi," jawab Sasuke tanpa berfikir.
Semuanya terdiam. Neji, Gaara, Kiba, terlebih Naruto tahu benar ambisi sang Uchiha bungsu itu. Uchiha Itachi adalah salah satu anggota boyband Akatsuki yang terkenal di kota Kirigakure.
"Kau pasti bisa melampaui kakakmu itu, Teme. Konoha's Academy pasti bisa mensejajarkan diri atau bahkan melampaui Akatsuki. Aku yakin," Naruto tersenyum.
"Aku setuju dengan Naru-nii! Kita juga pasti akan jadi boyband yang terkenal," tambah Kiba.
"Kurasa itu bisa terjadi," ucap Gaara singkat.
"Pasti bisa terjadi. Lihat saja nanti," Neji menegaskan.
Sasuke hanya tersenyum tipis melihat dukungan dan sifat optimis teman-teman barunya. Asalkan terus begini, asalkan mereka terus bersatu dan bersama seperti ini, masa depan yang paling baik pasti bisa mereka jelang. Tak ada keraguan akan itu.
TBC
Author Notes: apakah saya terlalu lama meng-update? Kalau iya, mohon dimaklumi~ Banyak hal yang harus saya lakukan dan selesaikan minggu ini, jadi saya harus sedikit mengesampingkan hobi saya yang satu ini. Dan ya, chapter ini saya pakai untuk memperkenalkan karakter kelima presonel Konoha's Academy, karena seperti yang saya katakan di awal, semua karakter yang saya gunakan di fic ini kemungkinan -besar- akan OOC. Kalau ada yang tidak suka dengan keputusan saya, saya hanya akan mengulangi kalimat DON'T LIKE, DON'T READ yang ada di bagian warning. Oke, sekarang saya tinggal menunggu saran, masukan dan komentar Anda di bagian review~ ^^
