Konoha's Academy

Disclaimer : selalu jadi miliknya Kishimoto Sensei…

Rated : T

Genre : friendship, family

Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Yaoi, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst.

Enjoy It!

#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#

.

Third Chapter : New Schedule, New Activities

.

Sasuke sedikit menghela nafas. Mata onyx-nya masih tertumbuk pada kertas partitur di tangannya. Ia dan keempat temannya sudah memulai latihan hari ini, dan mereka baru saja selesai menjalani 'tes' vokal beberapa saat yang lalu.

"Kukira dia yang akan mendapatkan posisi ini," ucapnya dengan sebelah tangan menopang dagunya.

"Hei, Teme."

Satu sapaan itu langsung membuat Sasuke mengangkat kepalanya. Naruto menghempaskan diri di sofa yang ada di ruang kedap suara itu dan menghela nafas panjang.

Sasuke menatap pemuda yang duduk disampingnya dengan teliti. Ia masih belum percaya dengan perkataan yang baru dilontarkan oleh pelatih vokal mereka, Tsunade, bahwa dia mendapatkan posisi sebagai main vocal di Konoha's Academy.

"Kau dapat posisi apa, Teme?" tanya Naruto.

"Main vocal, bariton."

"Aku mau pindah ke posisi tenor saja," ucap Naruto menghela nafas panjang.

"Hn? Ada yang salah dengan posisimu, Dobe?"

"Well… tidak," jawab Naruto sembari menggaruk kepalanya.

Sasuke menghembuskan nafasnya perlahan. Pemuda bertubuh tegap itu meletakkan kertas di tangannya ke atas meja. Dari sudut matanya ia melihat Naruto yang sedang memosisikan kedua tangannya untuk dijadikan bantalan kepala.

"Jangan menatapku seperti itu, mengganggu tahu," tegur Naruto. Sasuke kembali menghembuskan nafas panjang dan menyandarkan punggungnya.

"Apa ada masalah, Teme?" tanya Naruto tanpa memandang sahabatnya.

"Aku…" Sasuke menarik nafas, "Aku masih tidak percaya kalau aku yang mendapatkan posisi main vocal. Kurasa aku sedikit tidak percaya diri."

Naruto mengerutkan dahinya. Dia tidak salah dengar kan? Sejak perkenalannya dengan Sasuke dua tahun yang lalu di sebuah kontes vokal, baru kali ini dia mendengar Sasuke tidak percaya diri seperti sekarang. Bahkan selama mereka berteman, baru sekarang Naruto mendengar nada pesimis keluar dari mulut sang Uchiha.

Sejak pertemuan keduanya itu, mereka sempat bertemu beberapa kali dalam berbagai acara lomba tarik suara. Dan sejak itu pula mereka memulai 'pertemanan' dengan cara yang berbeda dengan 'pertemanan' pada umumnya; berkompetisi. Kompetisi adalah cara mereka untuk berteman, cara mereka untuk saling mengikat diri satu sama lain.

"Kau ragu? Kenapa? Tsunade-san memilihmu bukan tanpa alasan, Teme," ucap Naruto.

"Aku tahu. Aku hanya tidak mengerti. Kenapa aku, bukan yang lain? Kenapa bukan kau?"

"Kenapa bukan aku?" tanya Naruto dengan alis terangkat. "Apa perlu aku ingatkan kalau kau berhasil mengalahkanku dua tahun yang lalu?"

Saat mereka bertemu dua tahun lalu di salah satu kontes vokal yang diadakan sebuah management, sang Uzumaki kalah dari sang Uchiha. Kalah? Ya—Naruto kalah. Uzumaki muda itu kalah, dan dia mengakui kekalahannya.

Naruto sebenarnya bukanlah tipe orang yang mudah menerima kekalahan, terlebih kekalahan dari Sasuke, tapi saat itu... Dia mengakui bahwa kemampuan Sasuke memang melebihi kemampuannya. Sebagai kompetitor yang baik dia harus bisa mengakui kelebihan orang lain kan?

"Tsunade-san memilihmu karena dia percaya kau bisa mengemban posisi itu. Dia percaya padamu, begitu juga kami."

"Itu juga yang membuatku tidak yakin. Aku takut mengecewakan kalian. Aku tidak suka jadi tombak utama dan pusat perhatian, kau pasti tahu itu." Sasuke menatap lawan bicaranya.

"Hei, kau kan tidak sendirian, Teme! Kau tidak akan pernah berdiri sendirian walaupun kau adalah main vocal dalam grup ini."

Ucapan singkat Naruto berhasil membuat Sasuke membulatkan matanya. Naruto sedikit memutar tubuh, membuat posisi mereka kini duduk berhadapan. Pemuda berkulit tan itu pun menjaga kontak mata mereka agar tidak terputus.

Naruto tahu benar bagaimana rasanya menjadi 'orang yang diandalkan'; berada di posisi terdepan dan serasa berdiri sendirian disana. Sebelum memutuskan untuk menerima ajakan Kakashi bergabung dengan Konoha's Academy, dia adalah seorang anak dari keluarga Namikaze, keluarga yang memiliki beberapa perusahaan yang tersebar di berbagai kota.

Dan setelah keputusan kakaknya, Namikaze Shion, untuk terjun ke dunia entertainment, otomatis Naruto yang diandalkan oleh ayahnya untuk meneruskan semua bisnis keluarga mereka. Dia yang menjadi tombak utama kelangsungan 'kerajaan perekonomian' Namikaze.

"Kau memang ada di posisi sentral, tapi bukan berarti kau akan mengemban semuanya sendiri." Naruto mengulurkan sebelah tangannya dan meninju pelan bahu sahabatnya. "Lagipula aku dan yang lain tidak akan membiarkanmu bersenang-senang sendirian, tahu!"

Sasuke hanya mendengus geli mendengar kalimat terakhir Naruto sebelum pemuda itu meninju pelan bahunya dan kemudian melangkah pergi.

.

"Perlambat gerakanmu, Dobe," ucap Sasuke.

Semua anggota Konoha's Academy sedang melakukan latihan dance pertama mereka. Sebelumnya mereka sudah sering latihan bersama –walaupun tak begitu serius– di apartemen mereka. Dan saat ini mereka berlatih di bawah pengawasan koreografer mereka, Kabuto.

Kabuto sudah memberikan satu koreografi penuh untuk lagu pertama Konoha's Academy. Beberapa hari yang lalu Tsunade menghubunginya dan memberikan CD untuk lagu pertama kelima pemuda itu. Berhubung mereka belum take vocal, hanya lagu dasar tanpa lirik yang digunakan untuk mengiringi latihan sementara ini.

"Kau harus menyesuaikan gerakanmu dengan ketukan irama lagunya, Teme. Kalau gerakannya diperlambat, hentakannya tidak akan sesuai," ucap Naruto.

"Aku tahu itu, tapi kalau kau bergerak 'sedinamis' itu, yang lain tak akan bisa mengejarnya."

"Eh? Benarkah?"

Kabuto yang mendengar pertengkaran itu hanya tersenyum sembari duduk bersandar di dinding. Dia ingin tahu bagaimana kelima orang itu mengatasi perbedaan timing mereka.

"Naru-nii, kurasa kau harus sedikit memperlambat gerakanmu di bagian-bagian awal," Kiba mengutarakan pendapatnya.

"Ayo kita mulai lagi, tapi perlahan dan tanpa musik," usul Neji.

"Kita biasakan diri dengan gerakannya dulu, baru nanti kita sesuaikan dengan musiknya," timpal Gaara.

"Baik. Ayo mulai~" Naruto memberi aba-aba.

Kelimanya mengambil posisi sesuai dengan yang sudah ditentukan Kabuto. Naruto memulai hitungannya dan bergerak, begitu pula dengan anggota yang lain. Kabuto melepaskan kacamata berbingkai hitam yang dipakainya dan memperhatikan latihan lima pemuda di depannya.

"Kiba, posisimu kurang tengah," koreksi Neji.

"Ah, maaf."

"Gaakun, kau kurang geser sedikit," ungkap Naruto sembari menatap cermin besar di hadapannya.

Berhubung Naruto yang menjadi leader, Kabuto sengaja menempatkannya di posisi terdepan untuk bagian koreografi. Selain karena alasan itu, kemampuan Naruto yang tanggap dan cepat menangkap gerakan koreografi menjadi alasan utama Kabuto memberikan posisi strategis itu padanya.

"Kita coba sekali—dengan musik," tutur Naruto sembari melangkah mendekati laptop untuk menekan tombol 'enter' agar musiknya mengalun.

"Oke. Kali ini aku pasti bisa mengejar gerakanmu, Naru-nii!" ucap Kiba semangat.

"Prove it," tantang Naruto disertai seringainya.

Dan Kiba membuktikan ucapannya. Walaupun masih sedikit salah-salah, tapi secara keseluruhan anggota termuda itu bisa dikatakan masuk taraf berhasil. Menguasai satu koreografi penuh dalam satu pertemuan bukan hal yang mudah kan?

"Bagaimana menurutmu, Kabuto?" tanya Kakashi yang berdiri disamping sang pelatih.

"Untuk ukuran soloist yang baru pertama kali digabungkan dalam format grup, mereka tidak buruk sama sekali."

"Benarkah?"

"Ya, kurasa begitu. Kalau tebakanku benar, dalam waktu kurang dari sebulan mereka pasti sudah bisa menguasai koreografi ini."

"Hmm, tampaknya kau harus cepat-cepat menyempurnakan gerakan koreografi untuk lagu kedua mereka," ucap Kakashi yang dibalas anggukan dan tawa pelan Kabuto.

# # #

Kegiatan latihan vokal dan koreografi sudah mulai menjadi agenda rutin kelima anggota Konoha's Academy selama dua bulan terakhir. Walaupun mereka selalu bersama saat latihan koreografi, tapi saat latihan vokal mereka mendapat waktu latihan yang berbeda. Masing-masing anggota berlatih intensif dengan Tsunade sesuai dengan waktu yang sudah dijadwalkan wanita cantik berambut pirang panjang itu.

Gaara baru saja keluar dari ruang latihan dan melangkah ringan menuju ruang santai yang ada di gedung agensi itu. Mereka memang melakukan semua kegiatan latihan di gedung besar berlantai lima itu. Kini agensi sudah seperti rumah kedua bagi anggota Konoha's Academy.

"Kau sudah selesai, Gaara-nii?" tanya Kiba yang ternyata sudah lebih dulu menempati ruang yang dituju si pemuda bermata emerald.

"Ya. Kau mau latihan dengan Tsunade-san?"

"Jadwalku nanti siang." Kiba meminum isi botol air mineral yang ada di tangannya.

"Kalau jadwalmu nanti siang, kenapa sekarang kau sudah ada disini?" tanya Gaara yang mengambil tempat duduk di samping juniornya.

"Aku ditinggal di rumah sendirian. Neji-nii dan Naru-nii sedang latihan koreo dengan Sasu-nii, dan kau ada disini."

"Mereka latihan lagi?"

"Hu'um," Kiba mengganggukkan kepalanya. "Mereka masih ingin memantapkan gerakan."

"Kenapa Neji ikut diseret juga?" tanya Gaara heran. Kiba menunjukkan cengirannya.

"Bukannya harus ada 'wasit' untuk mengawasi keduanya, Gaara-nii?"

Gaara mendengus geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban 'adik'nya itu. Keduanya mengobrol ringan sembari menunggu jam latihan Kiba. Gaara yang tadinya berniat untuk istirahat sebentar dan langsung pulang terpaksa mengurungkan keinginannya karena merasakan sesuatu yang berbeda pada Kiba.

"Apa kau yakin tidak apa-apa, Kiba?"

"Eh? Memangnya kenapa, Gaara-nii?"

"Rasanya ada yang aneh denganmu." Gaara sedikit memiringkan kepalanya.

"A—aneh? Rasanya tidak ada yang aneh padaku," Kiba memperhatikan penampilannya.

"Entahlah, aku juga tidak tahu."

Percakapan keduanya terhenti ketika Naruto, Sasuke dan Neji datang dan bergabung. Naruto dan Sasuke langsung duduk bersandar di sofa sembari mengatur nafas.

"Mereka kenapa, Neji-nii?" tanya Kiba sambil menunjuk ke arah kedua 'kakak'nya.

"Kelelahan," jawab Neji singkat.

"Kelelahan? Memangnya kalian habis melakukan apa?" kini Gaara yang bertanya.

"Aku sih hanya berlatih koreo yang kemarin, tapi mereka—"

"Mereka apa?" Kiba menyela.

"Mereka melakukan battle dance."

Kiba dan Gaara hanya menggeleng-gelengkan kepala. Mereka bisa menebak kalau Naruto pasti yang memancing 'pertarungan', karena rasanya tidak mungkin kalau Sasuke yang memulai.

"Kalian berdua sedang apa disini?" tanya Naruto.

"Aku baru selesai latihan," jawab Gaara.

"Dan aku baru mau latihan. Aku ke ruang latihan dulu ya," pamit Kiba yang sudah bangun dan melangkah meninggalkan ruangan.

Beberapa saat setelah kepergian Kiba, Gaara juga bangun dari duduknya.

"Kau mau kemana, Gaakun?"

"Pulang. Latihanku sudah selesai, jadi lebih baik aku pulang. Lagipula waktu latihan koreo nanti sore kan?"

"Aku ikut denganmu," Neji ikut berdiri. "Kalian tidak ikut pulang?"

"Aku mau disini sebentar. Tubuhku masih butuh istirahat," tutur Naruto.

"Aku ikut dengan kalian," ucap Sasuke.

"Ya sudah kalau begitu, kami duluan," pamit Gaara.

Naruto mengangguk dan melambaikan tangan sebagai ganti kata 'sampai jumpa'. Gaara, Sasuke dan Neji kembali ke apartemen yang terletak tak jauh dari gedung agensi. Naruto menyandarkan kepalanya dan menghela nafas panjang.

"Kau kenapa, Naru?" tanya Kakashi yang datang dengan membawa sebuah buku-entah-apa di tangannya.

"Tidak apa-apa, manager, hanya kelelahan sehabis battle dance melawan si Teme," jawab Naruto dengan mata melirik ke arah lelaki yang kini duduk di depannya.

"Kalian ini. Apa tidak bisa sehari saja tidak bertengkar?" Kakashi menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kami tidak bertengkar, manager, tapi berkompetisi," sergah Naruto.

"Ya, ya, ya—terserah kalian menyebutnya apa."

Naruto sedikit mengerucutkan bibirnya kesal. Pemuda pirang itu memejamkan matanya sejenak dan menikmati waktu istirahatnya.

.

Sasuke mengumpat pelan. Acara makan malamnya –yang terlambat– terganggu dengan suara bel pintu. Gaara dan Neji yang tidak terlihat di ruang tamu –yang juga merangkap sebagai ruang keluarga– bisa dipastikan sudah masuk ke kamar mereka.

Setelah melihat siapa yang ada di depan pintu, kekesalannya makin menjadi. Dengan sedikit kasar pemuda itu membuka pintu apartemen.

"Don't tell me if you forget to bring that key again," sindirnya kesal.

"Get off!" seru Naruto tergesa.

Ketika Naruto melewatinya, barulah Sasuke menyadari keberadaan seseorang di punggung pemuda pirang itu. Sasuke lalu mengikuti langkah temannya sampai di depan pintu kamar si bungsu yang digendong di punggung Naruto.

"Bukakan pintunya," perintah Naruto.

Sasuke mati-matian menahan diri untuk tidak menjitak kepala pirang di hadapannya, dan membukakan pintu. Setelah membiasakan diri dengan keadaan kamar yang gelap, Naruto melangkah masuk dan segera membaringkan Kiba di atas tempat tidur.

"Dia kenapa?" tanya Sasuke setelah menyalakan lampu.

"Entahlah. Kurasa dia demam," jawab Naruto yang sedang menyelimuti tubuh 'adik'nya dan menaruh punggung tangannya di dahi Kiba.

"Hn. Akan kuambilkan plester kompres dan obat," ucap Sasuke. "Dia sudah makan?"

"Sudah. Dia tumbang beberapa saat setelah kami selesai makan malam di gedung agensi."

"Hn."

Sasuke melangkah menuju dapur kemudian mengambil kotak P3K dan segelas air mineral. Setelah latihan koreo sore tadi, Naruto dan Kiba memisahkan diri karena mereka ingin jalan-jalan, sementara Neji, Gaara dan Sasuke kembali ke apartemen.

Ketika pemuda itu kembali ke kamar Kiba, anggota termuda itu sudah berganti pakaian dengan piyama.

"Kau sudah sadar?" tanya Sasuke sambil meletakkan benda-benda yang dibawanya di atas meja kecil di samping tempat tidur.

"Ya. Kepalaku sakit," ucap Kiba lemah.

"Aku kan sudah bilang berkali-kali untuk tidak lupa membawa mantelmu, Kiba! Udara di pergantian musim cukup berbahaya untuk orang yang mudah terserang flu sepertimu," tutur Naruto yang duduk di tepi tempat tidur.

"Maafkan aku, Naru-nii," ujar Kiba dengan mata mengarah pada kakaknya itu.

"Sudahlah." Naruto mengambil sebutir obat pereda demam dan gelas berisi air. "Minum obatmu," perintahnya.

Dengan bantuan Sasuke, Kiba duduk dan meminum obatnya. Pemuda berambut coklat berantakan itu kembali berbaring. Naruto membuka plester kompres dan meletakkannya di dahi Kiba.

"Ini akan membantu meredakan demammu."

Kiba menggangguk pelan. Sasuke memberi isyarat pada Naruto untuk meninggalkan kamar dan membiarkan Kiba beristirahat. Baru saja berdiri dari duduknya, sebelah tangannya sudah ditahan Kiba.

"Malam ini saja," bisik Kiba, namun masih bisa di dengar dua orang yang ada disana.

Naruto menatap Sasuke sesaat, sebelum kemudian menatap Kiba yang juga tengah menatapnya. Seulas senyum nampak di wajah karamel itu. Naruto kembali duduk disisi tempat tidur. Kiba balas tersenyum dan mulai memejamkan mata.

"Malam ini aku tidur disini," bisik Naruto pelan, tak mau mengganggu Kiba yang tampaknya sudah terlelap.

"Hn."

Naruto menatap wajah tenang Kiba dan sedikit mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Kiba yang masih menahannya. Dengan tangannya yang bebas, Naruto mengacak rambut adiknya.

"Besok aku akan menemani Kiba. Sampaikan maafku pada Tsunade-san dan Kabuto-senpai karena kealfaan kami," ucap Naruto.

"Hn."

"Tidurlah, ini mulai larut."

Sasuke membalikkan tubuhnya dan melangkah mendekati pintu.

"Tolong matikan lampunya."

"Hn."

Sasuke menekan saklar lampu dan berdiri mematung di depan pintu kamar selama beberapa saat. Saat hendak menutup pintu, Sasuke kembali melempar pandangan kearah sosok Naruto.

TBC

.

.

Author Notes: saya hanya ingin meminta maaf karena chapter ini di-publish dengan sangat terlambat. Tugas makin menumpuk karena mendekati akhir semester, jadi —lagi-lagi— saya harus mengesampingkan hobi. Tapi saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menyempatkan diri terus meng-update fic ini~

Balasan review:

tomatomilk: terimakasih~ Semoga ceritanya tidak membuat Anda (saya bingung manggil apa =.=a ) bosan. Yaoi-annya? Ahahaha, silakan menunggu. Tapi ini bukan fic romance lho, jadi jangan terlalu berharap saya memasukkan banyak scene romance-nya