Konoha's Academy

Disclaimer : selalu jadi miliknya Kishimoto Sensei…

Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst.

Enjoy It!

#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#

.

Fourth Chapter : Mix and Match

.

Tsunade mengangkat sebelah tangannya, membuat lima anak muda yang ada di dalam ruangan take vocal kembali menghela nafas. Naruto melepaskan headset-nya dan membiarkan benda itu menggantung di leher.

"Kurasa kalian butuh istirahat sebentar." Suara Tsunade menggema di dalam ruangan kedap suara –dimana kelima pemuda itu sedang berada– setelah sebelumnya disalurkan melalui speaker yang terletak di sudut atas ruangan.

Naruto hanya mengacungkan ibu jarinya tanda setuju kepada wanita anggun berambut pirang itu, karena Tsunade tidak akan mendengar suara mereka.

Setelah Tsunade keluar dari ruangan yang ada di depan ruangan tempat anggota Konoha's Academy berada, Kiba langsung bersandar di dinding dan mendesah.

"Aku tidak menyangka kalau prosesnya akan serumit ini," ucapnya.

"Aku juga tidak menyangka kalau menyatukan suara kita ternyata begitu sulit," tambah Neji.

"Entahlah. Mungkin karena kebiasaan kita sebagai penyanyi solo, kita jadi kesulitan memberikan kesempatan satu sama lain," ungkap Gaara.

Sasuke dan Naruto hanya diam mendengar keluh-kesah teman-teman mereka. Keduanya juga kesulitan, tapi berhubung Sasuke dan Naruto sama-sama pernah tergabung dalam boyband sebelum Konoha's Academy, jadi mereka tinggal membiasakan diri dengan pembagian suara yang sudah diberikan Tsunade.

Setelah mereka bisa membiasakan diri dan menerima keberadaan masing-masing, kali ini mereka mengalami kesulitan untuk menyatukan diri. Bukan hal yang mudah untuk menyatukan diri, karena pada dasarnya masing-masing dari mereka mempunyai perbedaan yang cukup mencolok.

Untuk masalah pakaian grup misalnya, Kiba lebih suka pakaian yang santai dan nyaman dipakai—khas anak muda seusianya, sedangkan Sasuke lebih ingin pakaian yang semi-formal.

"Kami keluar sebentar, kalian mau tetap disini?" tanya Gaara.

"Hn."

"Kalian istirahat saja dulu," ucap Naruto disertai senyumnya.

Kiba, Neji dan Gaara melangkah keluar dari studio. Sasuke kembali membaca kertas lirik miliknya, sementara Naruto sudah duduk dengan gitar yang sudah ada di tangannya, siap dimainkan. Jari-jari tan itu kemudian memetik senar dengan cantik, membuat alat musik sederhana itu menghasilkan harmoni nada yang menenangkan.

Dan ketika suara keluar dari mulut sang Uzumaki, hilang sudah ketertarikan sang Uchiha pada kertas di genggamannya. Dia tahu lagu ini—dia bahkan hafal benar lagu yang tengah dinyanyikan Naruto sekarang. Lagu ini adalah lagu kesukaan kakaknya, dan juga lagu kesukaannya.

Merasa tak akan merusak suasana, pemuda berambut raven itu memutuskan untuk ikut 'bergabung' di bagian selanjutnya; bagian inti lagu ini.

.

And if I ever lose my power to fly, then your love takes me high

I always fiddle to you

Sometimes I think I might lose that all, cause the chances so small

Cause you hold me close, I feel you near

Don't let go, say you always be here

Just hold me tight and I'll be fine, dreaming

You will always be mine...

.

Naruto menatap Sasuke yang juga sedang menatapnya. Pemuda itu cukup terkejut dengan keikutsertaan suara bariton milik temannya, tapi dia sama sekali tidak keberatan, karena ia tetap memetik gitarnya dan melanjutkan lagu yang baru setengah jalan itu hingga selesai.

"Aku tidak tahu kalau sekarang suaramu bisa setenang itu, Dobe," ucap Sasuke ketika Naruto sudah menyelesaikan melodinya.

"Apa maksudmu itu, heh?" tanya Naruto dengan tatapan mata tajam. Sasuke angkat bahu.

"Andai saja saat bicara pun suaramu setenang itu, kau pasti tidak akan membuat keributan seperti sekarang."

"Ugh, kau menyebalkan, Teme!"

Sasuke hanya menyeringai melihat temannya yang tak bisa mengelak lagi. Tanpa mereka sadari, sepasang mata coklat sedang memperhatikan keduanya.

.

Neji duduk di balkon apartemen ditemani segelas cokelat hangat yang baru dibuatnya beberapa saat yang lalu. Sepasang mata beriris lavendernya menatap langit sore yang indah, menenangkan. Bayangan dua orang yang amat dicintainya berkelebat di benaknya; Hinata dan Hanabi.

Sejak bergabung dengan Konoha's Academy, Hyuuga muda itu belum sempat bertemu kedua saudaranya yang masih sibuk dengan sekolah mereka di Iwa. Selama ini Neji tinggal bersama pamannya di Suna untuk melanjutkan pendidikannya, sementara kedua orang tuanya memilih tinggal di Iwa.

Rindu? Tentu saja pemuda itu merindukan keluarganya, terlebih dua saudaranya. Kini dia tidak bisa mendengar teriakan Hanabi tiap pagi dan sikap pemalu Hinata ketika berhadapan dengan orang lain. Neji tersenyum tipis mengingat semua kebersamaannya dengan dua orang terpenting di hidupnya itu.

'Sedang apa mereka sekarang? Apa mereka baik-baik saja?'

Sebelum memutuskan untuk mengambil kesempatan bergabung dengan Konoha's Academy, Neji sadar betul kalau nantinya ia tak akan bisa sering menemui keluarganya. Konsekuensi pekerjaan.

'Apa Hanabi tetap belajar seperti biasa? Siapa yang mengajarinya sekarang?'

Hanabi, gadis yang baru saja menjejakki usia limabelas tahun itu adalah 'adik' favoritnya. Sifatnya yang ceria, cerewet, dan menggemaskan selalu berhasil menghilangkan badmood-nya.

'Hinata… Sudah hampir tiga bulan aku tidak menyantap masakan buatannya.'

Kini pikirannya berpindah pada gadis berusia tujuhbelas tahun yang memiliki warna iris mata serupa dengannya. Hinata adalah adik yang manis dan keibuan, dan sosok itulah yang selalu berhasil menenangkan Neji ketika ia teringat pada orang tuanya.

Setelah menghela nafas panjang dan meyakinkan diri bahwa kedua saudaranya baik-baik saja, pemuda itu bangun dari duduknya dan melangkah meninggalkan balkon. Suara video game langsung menyapa indera pendengarannya di ruang keluarga.

Naruto dan Gaara tampak sedang memainkan game yang baru saja dibelikan Kakashi kemarin—untuk menghilangkan jenuh, katanya.

"Aaaah, kenapa aku mengambil rute ini?" Naruto menjerit frustasi.

"Seharusnya kau baca keterangannya dulu sebelum memilih rute, Naru," komentar Gaara yang tampak serius memperhatikan layar televisi.

Beberapa menit kemudian Kiba datang membawa makan malam mereka. Hari ini Naruto tidak memasak, jadi mereka meminta tolong pada si bungsu untuk membelikan makanan di kafetaria apartemen.

"Aku kan sudah bilang berkali-kali, Teme. Jangan membawa sake ke rumah!" tegur Naruto ketika mendapati Sasuke meletakkan botol sake di atas meja makan. Kelimanya sudah duduk mengitari meja bundar itu sekarang.

"Hn," sahut Sasuke sekenanya.

"Hei, aku serius tahu!"

"Hn."

"Gah! Baka Teme!"

Naruto melipat kedua tangannya di depan dada dan membuang muka, enggan menatap orang yang sudah mengacuhkannya. Setelah semua makanan disajikan, acara makan malam pun dimulai.

"Kau harus makan yang banyak, Kiba. Jangan sampai kau sakit lagi."

"Iya, Gaara-nii. Tanpa diperintah pun aku pasti makan banyak," balas Kiba.

"Ah, ini kan makanan kesukaanmu, Gaakun!" seru Naruto sembari mengambil sepotong tempura dan meletakkannya di piring sahabatnya yang masih kosong. "Sasuke, berhenti meneguk sake dan mulailah makan!" tegur Naruto kemudian.

"Hn."

"Naru-nii, aku sengaja membeli ini untukmu," ungkap Kiba yang tengah menyodorkan mangkuk berisi ramen.

"Ini untukku?" terima Naruto dengan mata berbinar. "Sankyuu, Kiba-kun!"

"Eh? Kenapa kau hanya beli untuk Naruto saja, Kiba? Bagianku mana?" pinta Gaara.

"Hah? Bukannya kau tidak suka makanan cepat saji, Gaara-nii?" Kiba menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Yah, sekali-kali aku juga mau makan ramen, apalagi kalau ramen dari Ichiraku," ucap Gaara.

"Oke, lain kali aku akan mentraktir kalian semua di Ichiraku!" seru Kiba.

"Aku pass," Sasuke mengangkat sebelah tangannya.

"Tidak bisa, kau juga harus makan, Teme."

"Aku tidak mau makanan itu meracuniku, Dobe."

"Gah, ramen tidak akan membuatmu mati tahu!"

"Hn, terserah apa katamu."

Neji tersenyum melihat semua interaksi yang terjadi di hadapannya. Berada jauh dari keluarga memang tidak menyenangkan. Tapi ia lupa bahwa disini, di 'rumah' ini, ia sudah memiliki keluarga yang tak kalah menyenangkan dari keluarganya.

# # #

Seharian ini kelima anggota Konoha's Academy disibukkan oleh acara fitting pakaian untuk iklan yang akan mereka bintangi beberapa hari lagi. Iklan salah satu brand ponsel terkenal itu mengharuskan mereka menggunakan pakaian semi-formal dengan kemeja. Dan karena itu, sejak tadi Kiba tak berhenti merutuk kesal.

"Astaga, mimpi aku semalam?" tanyanya ketika berdiri menghadap cermin.

"Kau tidak tampak buruk, Kiba," ucap Naruto.

"Ya, aku berterimakasih pada Karin yang memperbolehkanku memakai sweater tipis ini." Kiba merapikan kemeja berwarna light blue yang dipakainya dibalik sweater.

"Neji, harusnya kau memakai warna pita yang sesuai dengan warna jasmu tahu!" celetuk Karin, wanita berkacamata yang mengatur kostum Konoha's Academy.

"Pita?" tanya Kiba dan Naruto bersamaan.

"Iya, pita untuk mengikat rambutnya," tegas Karin yang sedang mengacak-acak kotak aksesoris miliknya. "Ah, ini dia!"

Karin menyerahkan seutas pita berwarna perak. Neji yang sedang membereskan blazer putih dan celana dark brown-nya menghentikan kegiatan dan mengambil pita dari tangan Karin. Dengan perlahan pemuda itu mengikat rambut coklatnya yang panjang kemudian menarik pita itu hampir ke ujung rambutnya, membiarkan beberapa helai rambutnya yang lebih pendek tergerai disamping wajah.

"Kenapa?" Neji menaikkan sebelah alisnya ketika menyadari bahwa tiga orang di depannya masih menatapnya.

"Tidak, tidak apa-apa," jawab Naruto.

Kiba kembali merapikan sweaternya, kemudian memutuskan untuk menambahkan dasi indigo panjang yang dimasukkan dibalik sweater V-neck abu-abu yang digulung sesiku olehnya.

"Apa ini tidak berlebihan?" tanya Gaara yang baru keluar dari ruang ganti.

"Gaa… kun…." Naruto merasakan nafasnya tercekat di tenggorokan.

Gaara memakai kemeja hitam-putih berpola kotak-kotak yang dirangkap jaket tak terkancing berwarna abu-abu muda. Pemuda itu tampak stylish dengan celana yang berwarna senada dengan jaketnya. Kemejanya sendiri hanya menggunakan dua kancing terbawah, menampakkan T-shirt hitam sederhana di bagian atas tubuh sang Sabaku.

"Aaaah, kau keren sekali, Gaara-nii!" Kiba mengacungkan dua jempolnya.

"Karena kudengar kau berasal dari Iwa, jadi aku sengaja menyiapkan pakaian itu untukmu, Gaara-kun," papar Karin dengan senyum mengembang.

"Karin, apa dasi kupu-kupu ini tidak bisa diganti dengan dasi formal saja?"

Suara datar itu membuat semua mata menoleh kembali ke arah ruang ganti disamping ruang ganti tempat Gaara keluar tadi. Dan mata keempat anggota Konoha's Academy membulat bersamaan ketika melihat penampilan sang leader.

Sasuke memakai kemeja navy blue beraksen titik-titik putih kecil yang dirangkap sweater abu-abu dengan tiga garis berwarna moon green masing-masing di bagian pingang dan kedua lengannya, sementara bawahannya adalah celana putih sederhana. Di leher sang Uchiha bertengger sebuah dasi kupu-kupu berwarna senada dengan kemejanya beraksen garis hitam dan putih yang saling bersilangan.

Dan semua tampilan itu berhasil membuat Sasuke terlihat... berbeda. Ia terlihat lebih santai dan err... cool mungkin? Atau... charming?

"Kenapa?" tanya Sasuke dengan sebelah alis terangkat, ekspresi juga sempat ditunjukkan Neji tadi.

"Kurasa kau akan punya fans paling banyak, Sasu-nii. Kau-sangat-tampan," ucap Kiba dengan penekanan di tiga kata terakhirnya.

"Hn?" Sasuke menatap cermin besar yang ada di depannya dan memperhatikan penampilannya.

Sepasang mata onyx itu malah terpaku pada pemuda dengan kemeja putih beraksen kotak-kotak kuning yang dirangkap sweater tipis berwarna oranye lembut sederhana dan dasi ramping panjang berwarna abu-abu di lehernya. Celana berwarna abu-abu dan sepatu olahraga simple berwarna putih yang dikenakannya juga tampak cocok dengan sosok itu.

"Kau harusnya melipat bagian lengan kemejamu, Sasuke," ucap Karin yang mulai sibuk melipat bagian lengan kemeja Sasuke yang tampak terlalu panjang dan membuat pemuda itu berhenti menatap pantulan sosok sang leader.

.

Naruto bersandar di meja makan dengan sebelah tangan menggenggam kaleng jus yang setengah kosong. Setelah acara fitting yang baru selesai sore tadi, semua anggota Konoha's Academy langsung kembali ke apartemen karena kelelahan. Dan selepas makan malam, semuanya –kecuali Naruto– langsung masuk ke kamar masing-masing.

"Kau sedang apa gelap-gelapan di dapur?"

"Kau mengejutkanku, Teme!" gusarnya.

Sasuke hanya mendengus dan menyalakan lampu dapur, kemudian mendekati kulkas dan mengeluarkan sebotol air mineral dari dalamnya. Naruto melirik sekilas pada Sasuke sebelum kemudian melangkah menuju ruang keluarga dan menyalakan TV.

"Kau tidak tidur?" tanya Sasuke yang ternyata menyusul si pirang.

"Belum ngantuk. Kau sendiri?" Naruto tetap menatap layar di depannya.

"Aku terbangun."

"Oh."

Keduanya hanya diam. Sasuke duduk di samping Naruto, dan sepertinya Naruto tidak keberatan dengan keberadaan temannya itu.

"Kau sudah mendengar kabar itu dari manager?" tanya Sasuke.

"Kabar apa?" tanya Naruto tanpa menatap lawan bicaranya.

"Kabar tentang single Konoha's Academy."

"Aku tidak diberitahu manager, tapi Tsunade-san sudah menghubungiku."

"Lalu, apa pendapatmu?"

"Entahlah, 'Suke…"

Naruto menarik nafas panjang. Siang tadi, disela-sela kesibukan fitting, Tsunade menghubunginya untuk memberitahu rencana peluncuran single boyband mereka. Awalnya Naruto sangat semangat untuk membahasnya, tapi ketika Tsunade mengatakan keputusannya, pemuda pirang itu tampak kehilangan selera.

"Keputusan Tsunade-san pasti mengecewakan yang lain, Teme," ungkap Naruto. TV sudah kembali mati; tayangan yang disiarkan sudah tak menarik minat si pirang sekarang.

"Hn, kurasa juga begitu."

"Apa tidak ada jalan lain ya? Kenapa juga dia harus berpikiran seperti itu?" Naruto menyandarkan punggungnya pada sisi sofa.

Sasuke tidak menjawab pertanyaan Naruto, karena dia pun tidak mengerti apa yang ada di pikiran pelatih vokalnya itu. Siang tadi Kakashi memberitahu keinginan Tsunade untuk single pertama Konoha's Academy yakni duet antara Naruto dan Sasuke. Ya, duet—tanpa melibatkan ketiga anggota yang lainnya.

"Sepertinya ada yang melihat kita saat latihan di studio waktu itu, Dobe. Dan mengetahui bahwa kita bisa menyatukan suara, orang itu mengusulkan idenya pada Tsunade-san," ucap Sasuke.

Sasuke meneguk lagi isi botol di genggaman tangannya. Pemuda itu belum memberitahu ketiga rekannya tentang keinginan Tsunade, karena dia tidak siap melihat wajah kecewa teman-temannya. Bagaimanapun juga Konoha's Academy memiliki lima anggota, apa jadinya kalau di single perdana hanya ada dua orang dari kelima anggotanya?

"Kapan kau akan memberitahu mereka tentang ini? Aku sama sekali belum memikirkan cara memberitahu mereka," tanya Sasuke dengan kepala menoleh pada Naruto yang ternyata… tertidur.

Sasuke memperhatikan tubuh temannya yang bersandar pada sisi sofa dengan kepala menengadah. Terlihat jelas kalau pemuda ceria itu lelah akibat aktivitas hari ini. Perlahan kepala itu terkulai dan bersandar sepenuhnya pada bahu sang Uchiha.

"Ck, baka Dobe," bisik Sasuke pelan.

Dengan perlahan pemuda itu merendahkan diri di depan tubuh sang leader, kemudian menggerakkan satu tangannya untuk menarik tangan Naruto, membawa tubuh bagian depan si pirang bersandar di punggungnya.

"Sepertinya aku harus memaksamu makan lebih banyak, Dobe," ucapnya ketika mengangkat tubuh Naruto tanpa kesulitan.

Sasuke membawa Naruto menuju kamar, dan membaringkan pemuda itu di tempat tidur bersprei oranye. Setelah menyelimuti tubuh itu, Sasuke memandang sejenak wajah tenang di hadapannya. Pemuda itu membungkukkan tubuh, dan yang terjadi selanjutnya adalah... sang Uchiha mengecup dahi sang Uzumaki.

TBC

Author Notes:oke, rasanya saya sudah mulai memasukkan hints dan sedikit atmosfir romance ke fic ini. Umm… Lagu yang dinyanyikan Naruto dan Sasuke di atas itu lagunya FT Island, Always Be Mine. Dan itu adalah salah satu lagu favorit saya~ XD Bersedia meninggalkan review untuk mendongkrak semangat saya? ^^

Balasan review:

chrysothemis: kependekan? (O.O) Err… biasanya saya membuat cerita per-chapter tidak terlalu panjang. Entah kenapa, kalau panjang, idenya malah jadi melebar kemana-mana (=.=) Ah, tentang pertanyaan berapa chap, saya belum bisa menjawab, soalnya cerita ini bisa berkembang sewaktu-waktu (kalau tiba-tiba saya mendapat ide tambahan). Terimakasih untuk pendapat dan review-nya~ ^^

Ly lee: Shikamaru? Kayaknya Shika ga masuk di fic ini deh, gomen ne… Mungkin ya, mungkin tidak *author ga konsisten* Terimakasih review-nya~ ^^