Konoha's Academy
Disclaimer : selalu jadi miliknya Kishimoto Sensei…
Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Yaoi, Shounen Ai, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst.
Enjoy It!
#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
.
Fifth Chapter : Now or Never
.
Naruto menaikkan sebelah alis ketika Sasuke –entah untuk keberapa kalinya– pergi menghindar. Gaara, Neji dan Kiba yang ada disana pun tampak heran dengan sikap tak biasa lead vocal mereka.
"Apa aku melakukan kesalahan padanya?" tanya Naruto dengan jari telunjuk mengarah pada Sasuke yang kini tengah berbincang dengan sutradara untuk iklan yang sedang mereka bintangi.
"Aku tidak tahu," jawab Kiba.
"Dia aneh sejak sehari setelah kita fitting baju," tutur Neji setelah mengingat-ingat.
"Apa kalian bertengkar setelah itu?" tanya Gaara memastikan.
"Umm… Rasanya kami tidak bertengkar. Kami hanya bicara di ruang tamu," ungkap Naruto.
"Bicara? Kalian bicara apa memang?" tanya Neji penasaran.
"Yah—masalah kami. Kalian tahu lah," cengiran rubah tergambar di wajah pemuda itu.
Ketiga pemuda lainnya hanya diam mendengar jawaban pemuda yang lebih tua dari mereka. Naruto menghembuskan nafas lega di dalam hati. Hampir saja ia mengatakan tentang apa yang sebenarnya dibicarakan olehnya dan Sasuke malam itu.
Ini adalah hari kedua yang juga merupakan hari terakhir shooting iklan. Kelima anggota Konoha's Academy sedang menggunakan pakaian yang mereka fitting waktu itu. Gaara sesekali tampak mengibas-ngibaskan tangannya, mencoba menghasilkan angin semilir untuk menghapus rasa panas.
"Apa shooting ini masih lama?" tanyanya sedikit gusar.
"Sebentar lagi. Setelah ini kita tinggal melakukan take terakhir," ucap Neji sambil mengipasi Gaara.
"Thanks, Neji."
"Yep."
"Hei, Kiba. Kita harus melakukan apa di take terakhir ini?" tanya Naruto.
"Kalau tidak salah sih kita hanya datang berkumpul di setting café sambil menggenggam ponsel itu. And done," Kiba menjelaskan.
"Baiklah. Ini pasti bisa diselesaikan dengan dua atau tiga kali take," ujar Naruto optimis.
Kakashi menepuk bahu Sasuke yang sedang menatap keempat temannya dari jauh. Lelaki itu tersenyum dari balik masker yang selalu menutupi bagian bawah wajahnya. Sasuke hanya menatap manager-nya sekilas, sebelum kembali menatap teman-temannya.
"Kau tidak bergabung dengan mereka, Sasuke?" tanyanya.
"Hn."
"Kau ada masalah dengan mereka?" tanyanya lagi.
"Hn."
"Ya, ya, baiklah," Kakashi menyerah. "Nanti malam kita makan malam bersama sekaligus merayakan selesainya penggarapan iklan hari ini. Beritahu yang lain."
Kakashi melangkah mendekati semua kru yang sedang bertugas dan mengobrol dengan mereka. Sasuke menghembuskan nafas panjang. Hari ini ia memang menghindari teman-temannya, apalagi si pemuda berambut pirang. Sejak kejadian di kamar waktu itu… ketika tubuhnya tanpa sadar mendekati tubuh berkulit kecoklatan dan melakukan 'sesuatu'… Pemuda itu merasa ada yang tidak beres dengannya.
Berkali-kali ia meyakinkan diri kalau tindakan yang dilakukannya pada sang leader hanyalah sebagai pengganti ucapan selamat malam, tapi berkali-kali pula nalarnya menolak hal itu. Kenapa harus melakukan hal itu? Kenapa ia… mencium dahi sahabatnya?
Sasuke kembali menghela nafas dan menggelengkan kepala. Ketika sutradara memanggil dan meminta semua anggota Konoha's Academy untuk berkumpul dan mulai shooting, Sasuke menghembuskan nafas panjang dan mencoba menetralkan pikirannya.
"Baik, jadi begini adegannya," Asuma menunjuk setting sebuah rumah mungil yang sudah didekorasi sedemikian rupa sehingga menyerupai café sederhana yang indah. "Kalian akan datang dari arah berbeda dan bertemu di depan café ini."
"Aku akan memberikan aba-aba kapan waktu kalian masuk nanti," ucap Kurenai, istri Asuma yang menjadi asisten sutradara.
"Kalian hanya perlu melangkah dan bertemu di depan sana dengan saling merangkul bahu, Ah, jangan lupa untuk tersenyum atau tertawa pelan kalau perlu. Tunjukkan keceriaan kalian," ucap Asuma.
"Sasuke, kau ada di tengah dan diapit Kiba dan Neji. Gaara berdiri disebelah Neji dan Naruto disebelah Kiba," papar Kurenai.
"Ah, jangan lupa juga untuk mengenggam dan menunjukkan ponsel ini nanti, oke?" Asuma menambahkan.
Naruto dan Kiba mengangkat jempolnya, sedangkan Gaara, Neji dan Sasuke mengangguk paham. Semuanya langsung mengambil posisi sesuai yang ditentukan oleh Kurenai.
.
"Kau tidak bergabung dengan yang lain, Teme?"
Satu pertanyaan itu membuat Sasuke berusaha keras untuk tidak menghela nafas panjang. Dia sengaja tidak bergabung karena ingin menghindari satu orang yang kini malah menghampirinya.
"Hn." Akhirnya hanya kata 'sakral' itu yang keluar dari mulut sang Uchiha.
"Ck, berhenti membalas kata-kataku dengan dua huruf itu."
"Hn."
"Apa kosakata yang kau miliki hanya dua huruf tanpa makna itu?"
"Hn."
"Sudahlah. Sepertinya kau memang tak mau diganggu."
Naruto kembali membalikkan tubuhnya dan hendak beranjak pergi. Baru hendak, karena detik berikutnya suara datar sampai di telingannya.
"Duduklah, Dobe."
Naruto membalikkan tubuhnya –lagi– dan menarik sebuah kursi untuk diletakkan bersisian dengan kursi yang diduduki Sasuke. Mereka ada di bagian luar café, sementara semua kru dan tiga anggota Konoha's Academy plus manager mereka ada di dalam.
"Apa aku berbuat salah padamu?"
"Tidak."
"Kalau tidak, kenapa kau menghindariku?"
"Aku tidak menghindarimu."
"Oh ya?" Naruto memandang Sasuke yang tampak asyik memandang langit. "Kau tahu? Sejak dulu kau tidak pernah bisa membohongiku, Teme."
"…hn."
Keduanya kembali terdiam. Naruto menyamankan duduknya dan ikut menatap langit yang tampak dihiasi beberapa bintang. Semilir angin malam membuatnya sedikit menggigil. Sejak dulu dia memang tidak tahan dingin.
"Sebaiknya kita masuk. Dingin sekali disini," ucap Naruto yang kini sibuk menggosokkan kedua tangannya, mencoba membuat kehangatan disana.
"Kau selalu mengingatkan Kiba untuk tidak lupa membawa mantel, tapi kau sendiri malah tidak pernah membawa benda itu. Baka Dobe."
"Hei! Kau kan tahu sendiri kalau Kiba gampang terkena flu. Aku hanya ingin memastikan dia tidak jatuh sakit lagi tahu."
Sasuke menghela nafas. Pemuda itu melepas mantel berwarna blue navy yang dikenakannya dan memakaikannya ke tubuh berkulit kecoklatan di sampingnya. Naruto menolehkan kepala dan tertegun ketika menyadari kalau Sasuke sedang bersimpuh di depannya, merapikan mantel yang dipakaikan padanya.
Setelah memastikan mantelnya menutupi tubuh Naruto, Sasuke kembali duduk di kursinya. Naruto memandang tubuhnya yang kini dilindungi mantel yang entah kenapa terasa pas di tubuhnya.
"Teme—"
"Hn, tidak perlu berterimakasih, Dobe."
Kiba menyusup diantara Neji dan Gaara yang sejak tadi berdiri di depan jendela. Matanya membulat ketika melihat Sasuke mengenakan mantelnya kepada kakak kesayangannya.
"Sepertinya masalah mereka saja terselesaikan," ucap Gaara.
"Kalau sedang seperti itu, kadang aku tidak percaya kalau mereka adalah rival," ungkap Neji dengan tangan dilipat di depan dada.
"Pada dasarnya mereka memang memiliki sifat yang berbeda dan bahkan bisa dikategorikan bertolak belakang, jadi rasanya wajar kalau gaya berteman mereka 'agak' berbeda dengan orang pada umumnya," Gaara menjelaskan.
"Kurasa Gaara-nii benar," Kiba mengangguk-anggukkan kepala.
# # #
Tsunade tersenyum melihat lima pemuda yang sedang asyik bernyanyi di dalam studio kedap suara yang berhadapan dengan ruang aransemennya. Dari tempatnya duduk, wanita itu bisa mendengar suara semangat dan gembira kelima anggota Konoha's Academy.
.
Baby it's now or never, this time is right
I got a feelin' it's for good without a doubt
We are forever me and you
Deep in your heart you know it's true
Baby it's now or never yeah, feel so right
.
"Bagaimana menurutmu, produser?" tanya Kakashi yang ternyata sudah berdiri disamping sang pelatih vokal yang juga merangkap sebagai produser album Konoha's Academy.
"Kurasa kita sudah menemukan single yang sesuai, Kakashi," balas Tsunade tanpa memalingkan tatapannya dari lima pemuda yang masih menikmati lagu mereka.
"Apa ini berarti rencana duet batal?"
"Sepertinya ya. Rencana itu sudah tercoret."
"Dan apa ini juga berarti kau setuju untuk menggunakan lagu ini dibandingkan lagu yang kau pilihkan beberapa hari yang lalu?"
"Kau tidak perlu bertanya."
Kakashi tersenyum dari balik maskernya. Matanya mengarah lurus pada kelima anak asuhannya. Dan di saat yang bersamaan, sepasang mata biru juga mengarah padanya. Kakashi mengacungkan ibu jarinya yang langsung dibalas cengiran lebar sang pemilik mata biru.
"Siapa yang memilih lagu ini, Kakashi?" Tsunade kembali membuka percakapan.
"Mereka," jawab Kakashi singkat.
"Benarkah? Tapi kenapa aku merasa anak nakal itu yang memilihnya?"
Kakashi kembali tersenyum mendengar sebutan 'anak nakal' yang terlontar dari mulut sang produser. Lelaki berperawakan tegap itu tahu betul siapa yang dimaksud Tsunade. Ya, 'anak nakal' seorang Tsunade adalah sang Uzumaki.
"Damn, this song is great!" ucap Kiba yang tampak puas.
"Kurasa begitu," sambut Gaara. "Hei, Naru, kau dapat lagu ini darimana?"
"Aku dapat dari Sasuke."
Sebuah jitakan mendarat di kepala Naruto, tak kalah cepat dengan jawaban yang diucapkannya. Naruto langsung mengusap-usap kepalanya dan menatap sadis pemuda yang berdiri tenang di samping kirinya.
"Apa maksudmu itu, Teme?" tanyanya ketus.
"Kau sendiri? Apa maksudmu menjadikanku tameng, heh?" Sasuke balik bertanya dengan nada tak kalah ketus.
"Hei, aku kan memang mendapatkan lagu ini darimu!" Naruto mengacungkan jari telunjuknya.
"Hn, setelah sebelumnya kau 'mencuri' ini dari manager."
"Teme!" sentak Naruto.
"Mencuri? Apa maksudnya?" Kiba dan dua orang lain di studio itu tampak penasaran.
"A—ah, tidak apa-apa. Lupakan saja!" Naruto mengibas-ngibaskan tangannya. "Kami ada urusan sebentar. Ayo, Teme!"
Dan dengan itu, Naruto menyeret Sasuke keluar dari studio. Meninggalkan ketiga anggota lain yang masih tak mengerti. Naruto melepaskan tarikan tangannya ketika kakinya sudah menapaki koridor gedung agensi.
"Kau tidak boleh memberitahu mereka tentang itu, Teme!" serunya.
"Hn?"
"Karena aku tidak mau mereka tahu." Entah bagaimana Naruto tahu arti 'Hn' itu adalah kata tanya 'Kenapa'.
"Memang kenapa kalau mereka tahu itu, Dobe?" Sasuke bersandar di dinding.
"Pokoknya mereka tidak boleh tahu!" Naruto kembali berseru. "Terlebih tentang rencana Tsunade untuk kita. Mereka tidak boleh tahu itu."
Sasuke menatap lawan bicaranya yang kini menghela nafas. Beberapa hari yang lalu Naruto membawa kertas berisi lagu-lagu yang memiliki kemungkinan untuk dijadikan single perdana Konoha's Academy dan meminta bantuannya untuk memilih salah satu lagu yang ada. Awalnya Naruto enggan memberitahu darimana ia mendapatkan semua kertas itu, tapi setelah mendengar ancaman Sasuke yang tak mau membantunya memilih lagu untuk single mereka, akhirnya pemuda itu angkat bicara.
Dan ketika mendengar penjelasan Naruto, Sasuke berusaha keras untuk tidak meneriaki temannya itu. Untungnya ia masih bisa mengendalikan diri saat mendengar bahwa Naruto mengambil kertas lagu-lagu yang tergeletak di meja Kakashi dan mengkopinya. Kertas yang saat itu ada di tangan Sasuke adalah kopian dari kertas asli yang hanya dipegang oleh Tsunade dan Kakashi.
.
"Akhirnya kita tinggal latihan untuk take vocal single pertama kita," ucap Kiba dengan wajah ceria.
"Kukira peluncuran single akan ditunda, karena sampai saat ini kita masih belum berhasil menaklukkan lagu yang diberikan Tsunade-san waktu itu," tutur Neji.
"Sudahlah. Yang jelas, sekarang kita sudah mendapatkan lagu yang cocok," celetuk Naruto yang masih asyik dengan eskrimnya.
"Jujur saja, itu melegakan," Gaara menghela nafas panjang.
Mereka berempat sedang duduk santai di taman dekat apartemen mereka. Berempat? Ya, berempat, karena Sasuke langsung 'diculik' oleh Kakashi dan Tsunade sesaat setelah mereka keluar dari studio.
Dan sebenarnya dibalik wajah tenang dan ceria Naruto, pemuda itu khawatir bukan main pada sang lead vocal. Tsunade dan Kakashi pasti menanyakan prihal bagaimana lagu itu bisa jatuh ke tangan mereka, padahal keduanya tidak pernah merasa memberikannya pada siapapun.
"Aku pulang duluan," ucap Naruto sembari bangun berdiri.
"Eh? Kenapa buru-buru, Naru-nii? Ini kan masih sore." Kiba tampaknya tak rela ditinggalkan salah satu kakaknya itu.
"Aku mau menyiapkan makan malam. Kalian mau makan apa?"
"Terserah kau saja," jawab Gaara dan Neji bersamaan.
"Kau ingin kubuatkan apa, Kiba?"
"Apa saja. Masakan buatan Naru-nii semuanya enak," Kiba nyengir lebar. Naruto hanya tertawa dan mengangguk sebelum akhirnya pergi.
'Apa Teme baik-baik saja ya? Kira-kira dia ditanyai apa oleh Kakashi dan Tsunade-san? Hhh… Seharusnya aku tidak melibatkan siapapun kemarin,' batin Naruto.
Kakinya melangkah masuk ke sebuah minimarket yang ada di lingkungan apartemen untuk membeli beberapa kaleng minuman bersoda dan jus. Pemuda itu juga membeli beberapa bahan makanan yang akan dimasaknya sore ini.
Setelah selesai, ia kembali melangkah memasuki lobi apartemen, menaiki lift, dan terakhir membuka pintu kamar apartemen mereka, kamar apartemen anggota Konoha's Academy.
"Oke. Berhubung waktu makan malam sebentar lagi, aku hanya bisa memasak makanan yang sederhana saja. Hosh!"
Dengan terampil kedua tangan kecoklatan itu mulai melakukan kegiatannya. Dimulai dengan merencanakan makanan yang akan dibuatnya, mencuci semua bahan, memotongnya, hingga mulai memasak.
"Kau sudah pulang, Dobe? Mana yang lain?" tanya Sasuke yang tiba-tiba sudah duduk di kursi meja makan yang memang masih terletak di area dapur.
"Eh? Mereka masih di taman—kurasa. Mereka senang sekali mendengar kabar dari Tsunade-san hari ini," jawab Naruto yang masih sibuk dengan masakan yang sedang diolahnya.
Sasuke hanya membalas dengan 'Hn'-nya. Pemuda itu bangun dan mendekati Naruto, melongok masakan yang sedang dibuat pemuda itu dari balik bahunya. Naruto sedikit menengok dan menemukan wajah Sasuke yang cukup dekat dengan wajahnya.
"Kenapa, Teme? Kau mau mencobanya?" tanya Naruto.
"Kau yakin itu aman?"
"Baka Teme! Tentu saja ini aman!" ucap Naruto sembari mengacung-acungkan sudip di tangannya. Sasuke hanya mendengus geli.
"Kau tahu? Kalau kau sedang memasak, aku merasa kau lebih cocok menjadi seorang 'istri' dibandingkan seorang leader," ungkap Sasuke.
"Hei, hei, yang benar saja. Bagaimana ceritanya aku bisa menjadi seorang 'istri'? Aku ini laki-laki, Teme!"
Sasuke kembali mendengus geli mendengar elakan pemuda yang berdiri dihadapannya. Matanya kembali terfokus pada egg roll yang sudah matang.
"Kalau kau yakin itu aman, aku mau mencobanya."
Naruto membalikkan tubuh untuk mematikan kompor, kemudian meraih sumpit dari tempat sendok yang ada tak jauh darinya. Pemuda itu menjepit sepotong egg roll yang sebelumnya sudah ditiriskan dan menyodorkannya di depan mulut Sasuke. Mereka kembali berdiri dalam posisi berhadapan.
"Buka mulutmu, Teme."
"Aku bisa makan sendiri, Dobe."
"Ck. Kau tinggal membuka mulutmu saja apa susahnya sih?" ucap Naruto gusar. Tangannya masih belum berpindah posisi.
Perlahan Sasuke membuka mulut dan memberikan ijin pada Naruto untuk menyuapinya. Naruto tersenyum senang dan menyuapi Sasuke setelah sebelumnya meniupi egg roll itu agar tidak membakar lidah Sasuke.
"Kalian sedang apa?"
Pertanyaan dengan nada cukup tinggi itu sukses membuat Sasuke tersedak egg roll yang baru beberapa kali dikunyahnya. Naruto langsung beranjak dan mengambilkan segelas air.
"Kau mengejutkan kami, Kiba," ucap Naruto yang kini sedang menepuk-nepuk pundak Sasuke.
'Kegiatan kalian lebih mengejutkan kami,' batin Gaara dan Neji yang berdiri dibelakang Kiba.
"Sasuke sedang mencicipi masakanku," Naruto menjawab pertanyaan Kiba. "Sebaiknya kalian mandi, makan malam sebentar lagi siap."
Setelah batuknya reda, Sasuke menarik nafas panjang. Pemuda itu lalu duduk di salah satu kursi meja makan. Naruto menaikkan sebelah alisnya.
"Kau tidak mandi, Teme?"
"Aku sudah mandi. Tadi manager mengajakku ke onsen."
"Baiklah."
Naruto meletakkan semua makanan yang tadi dibuatnya di atas meja makan. Sasuke memandangi makanan di hadapannya satu persatu, mulai dari egg roll, tumis bokcoy, sampai salad buah sebagai dessert. Saat semuanya sudah berkumpul, acara makan malampun dimulai.
"Kalau sudah rilis nanti, kita pasti tak akan punya waktu luang seperti ini," keluh Kiba.
"Hmm, kau benar," sambung Neji setelah menelan makanannya.
"Waktu istirahat kita juga pasti terpotong." Gaara menggigit egg roll-nya.
"Apa semengerikan itu?" Naruto mengerutkan dahi.
"Bisa saja lebih buruk dari itu, Dobe." Sasuke membenarkan kata-kata semua temannya.
"Yah, mau bagaimana lagi. Itu konsekuensi atas keputusan yang sudah kita ambil kan?" Neji angkat bahu.
"Sepertinya memang mengerikan, tapi lihat sisi baiknya!" seru Naruto.
"Hn? Sisi baik?"
"Hu'um." Naruto mengangguk semangat. "Sisi baiknya, kita bisa menghabiskan banyak waktu bersama, ya kan?"
Kiba menyambut ucapan kakaknya dengan anggukan, sementara Gaara, Neji dan Sasuke hanya tersenyum. Waktu mereka nanti mungkin akan berubah dan berbeda, tapi selama mereka tetap bersama-sama, mereka pasti bisa melewati semuanya kan? Sama seperti sebaris lirik di single mereka; Cause together we can see it through.
# # #
Begitu mendengar kalimat 'libur musim semi', kelima anggota Konoha's Academy langsung menarik nafas lega. Sebenarnya makna 'libur' disini bukanlah saat dimana kelimanya bisa berkumpul dengan keluarga atau menghabiskan waktu semau mereka, karena 'libur' ini adalah waktu bagi mereka untuk membuat MV single "Now or Never".
Walaupun begitu, kelima pemuda itu bisa sedikit bernafas lega, karena selama pembuatan MV, mereka terbebas dari semua jadwal di luar management. Kakashi ternyata sudah mengosongkan jadwal mereka seminggu kedepan agar fokus mereka tidak terpecah.
"Tsunade memberikan ini padaku. Disamping jadwal pemuatan MV, kalian juga akan berlatih selama 'liburan' ini untuk mempersiapkan peluncuran album perdana kalian," ucap Kakashi. Tangannya terulur membagikan selembar kertas pada masing-masing anggota.
Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga apartemen Konoha's Academy dan membahas konsep untuk MV dan sebagainya. Kelima anggota Konoha's Academy membaca kertas yang diberikan sang manager.
"Ini… lagu solo?" Neji menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa lagu solo? Bukannya kami boyband?" tanya Gaara.
"Ini rencana Tsunade. Dia ingin kalian menunjukkan kemampuan vokal kalian masing-masing pada semua orang, baru setelah itu dia akan memberikan lagu grup Konoha's Academy pada kalian."
"Tunggu dulu. Liriknya... Astaga, lagu ini bertolak belakang dengan karakterku," tutur Naruto dengan alis terangkat.
"Punyaku juga," bisik Neji dan Gaara nyaris bersamaan.
"Hee? Sepertinya hanya aku dan Sasu-nii yang tidak punya kendala dengan lagunya," tutur Kiba sembari menatap Sasuke yang sejak tadi tampak tenang.
"Tantangan, hm?" gumam Kakashi dengan seringai yang tak bisa dilihat kelima pemuda di hadapannya.
"Baiklah, aku hanya bertugas memberikan itu pada kalian. Sisanya silakan kalian pikirkan sendiri ya," tutur lelaki itu sembari melangkah meninggalkan ruangan.
"He—hei! Kau tidak mau membantu kami, manager?" panggil Naruto.
"Aku tidak mengerti musik dan sejenisnya, percuma kalau kalian memaksaku turun tangan," balasnya santai.
"Kadang dia menyebalkan!" rutuk Naruto.
"Oh ya, kalau kalian mau mendengar musiknya, aku sudah menaruh CD-nya di rak," teriak Kakashi yang sepertinya sudah sampai di depan pintu apartemen.
Suasana ruangan hening sejenak. Masing-masing menatap horor kertas di tangannya—kecuali Kiba dan Sasuke yang tampak santai dan tenang. Mereka membaca dengan cermat tiap kata yang ada di lirik itu.
"Ini cuma perasaanku saja atau Tsunade-san sengaja menguji kita?" tanya Naruto, entah pada siapa.
TBC
Author Notes: dan kali ini lagu yang ada di atas itu punyanya CN Blue yang berjudul sama dengan judul chapter ini~ Saya tahu saya sangat terlambat meng-update. Jujur, setelah 'keributan' yang terjadi beberapa hari yang lalu, saya malas ke FNI. Jangankan membuka akun dan mem-publish, sekedar menengok pun saya malas :P
Bukannya sok bijak atau bagaimana, saya hanya ingin meminta bantuan teman-teman semua —baik author maupun reader— untuk tidak menanggapi hal-hal semacam itu. Bukannya lebih baik langsung klik opsi RA daripada memberikan review untuk 'fic' semacam itu? Ayolah, jangan buat keadaan fandom ini makin panas dan tidak nyaman.
Balasan review:
Michi Narunaru: akan saya usahakan~ Terimakasih review-nya ^^
Muthiamomogi: romance-nya hanya selingan lho, dan itu pun hanya berupa hints. Genre fic ini kan bukan romance X) Terimakasih review-nya ^^
chrysothemis: terimakasih kembali~ Diusahakan tidak terlalu panjang, tapi sampai sekarang saya belum bisa memastikan jumlah chapter-nya, hahaa. Akan saya usahakan, terimakasih review-nya ^^
akasuna no niar: ada kemungkinan Sasori dan Akatsuki muncul, tapi kalau tanya di chapter berapa, saya tidak bisa memberitahu, fufufufu. Terimakasih review-nya ^^
kuro no shiroi: aih, kenapa ga log-in? (=3=) C-cium waktu Naru-nya bangun? (O.O) Hahahaha~ XD Update kilat? Akan saya usahakan. Terimakasih review-nya ^^
Roxas: 'Sangat suka'? XD Sebenernya ada beberapa typo lho :P Ya, semoga tidak sampai membuat reader bosan Diusahakan~ Terimakasih sudah me-review ^^
