Konoha's Academy
Disclaimer : selalu jadi miliknya Kishimoto Sensei…
Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst.
Enjoy It!
#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
.
Sixth Chapter : April Fools Day versi Konoha's Academy
.
Suara game dari ruang keluarga sukses membuat keempat anggota Konoha's Academy membatalkan keinginan mereka untuk tidur lebih lama. Kiba, yang pertama keluar dari kamarnya, langsung menggembungkan pipi ketika melihat salah satu kakaknya sudah asyik berduaan dengan laptop di sofa ruang keluarga.
"Kau mengganggu tidurku, Gaara-nii," ungkapnya.
Gaara hanya membalas protes sang adik dengan 'Hn'. Baru saja Kiba berbaring di sofa lain yang ada di ruangan itu, Neji muncul sembari menggerutu pelan.
"Apa kau tidak bisa mematikan suaranya?" tanyanya tanpa menghilangkan nada kesal.
"Tidak."
"Setidaknya kecilkan volumenya kalau begitu."
"Game ini tidak akan seru kalau volume suaranya dikecilkan, Neji."
"Kau mengganggu tidurku, tahu!" kekesalan Neji tampak memuncak. Oh, bagaimana tidak, momen liburannya setelah bulan-bulan awal yang dihabiskan dengan jadwal latihan padat dan bulan-bulan selanjutnya yang dipenuhi dengan kontrak menyanyi, iklan, serta kesibukkan lainnya, kini terusik dengan sempurna.
"Neji, sudahlah. Lagipula ini memang sudah waktunya kita untuk bangun kan?" Suara Naruto terdengar dari ambang pintu ruangan.
"Terserahlah," ucap Neji yang langsung berbalik kembali ke kamarnya.
"Dan kau, Gaakun, kecilkan volume mainanmu itu atau aku sendiri yang akan melakukannya."
Dan dengan ancaman sederhana itu, Gaara segera menuruti perintah sang leader. Kiba tersenyum lebar dan berbaring nyaman di sofa dan kembali memejamkan mata untuk melanjutkan tidur.
Naruto melangkah memasuki kamarnya dan menemukan Sasuke yang tampak sedang mengumpulkan kesadaran.
"Aku tidak menyangka kalau ada yang bisa bangun lebih pagi darimu, Teme," ucapnya menyindir. Ya, hari ini, untuk pertama kalinya, Sasuke bangun sedikit lebih siang.
"Hn, aku tidak mungkin mengalahkan kegilaan Gaara pada semua game-nya," balas Sasuke yang dibalas tawa Naruto. Semua yang ada di rumah ini tahu bagaimana gilanya Gaara pada semua jenis game.
"Aku mau jogging sebentar. Berhubung pipa kamar mandi ini masih rusak, kau harus mandi di kamar Kiba atau Neji," tutur Naruto sembari mengambil jaket olahraga dari dalam lemari.
"Hn."
"Oke, aku pergi sekarang," pamit Naruto setelah sebelumnya berganti pakaian.
Sasuke meregangkan tubuh dan menyambar handuk serta pakaian ganti yang ada di lemarinya sebelum melangkah menuju kamar Neji.
"Aku pinjam kamar mandimu," ujarnya ketika melihat Neji keluar dari kamar.
"Pipanya belum juga dibetulkan?"
"Hn. Aku tidak mau beku karena mandi dengan air sedingin itu," jawab Sasuke. Neji hanya mendengus geli dan meninggalkan si pemuda berambut raven.
"Kau mau kemana, Neji?" tanya Gaara dengan mata melirik pada pemuda yang hendak melangkah ke pintu keluar.
"Aku ingin keluar sebentar, sekedar mencari udara segar," jawab Neji yang sudah memakai pakaian yang sekiranya bisa menutupi identitas. Dia tak mau mengambil resiko diikuti fans-nya ketika ada di luar nanti.
"Aku ikut. Tunggu sebentar."
"Ah, Gaara-nii, boleh aku pinjam laptopmu?" pinta Kiba yang entah sejak kapan sudah bangun dari tidurnya.
"Untuk apa?" tanya Gaara dengan mata penuh selidik.
Mengetahui Gaara yang tidak akan meminjamkan benda elektronik favoritnya pada siapapun dengan mudah, Kiba segera memasang puppy eyes andalannya.
"Aku tidak akan merusaknya, boleh kupinjam?"
Neji yang melihat Gaara menghembuskan nafas hanya tertawa pelan. Sejauh ini memang tidak ada yang bisa mengalahkan puppy eyes milik Kiba yang memang sangat sulit untuk dihindari.
"Baiklah. Tapi kalau sampai sesuatu terjadi pada laptopku, matilah kau, Inuzuka Kiba!" ancam Gaara.
Kiba tersenyum lebar dan mengangguk semangat. Ia segera menerima laptop yang disodorkan sang kakak dan segera membuka file game yang ada di folder khusus.
"Err… Gaara, mungkin sebaiknya kau ganti pakaian di kamar Kiba. Sasuke sedang memakai kamar mandi," ucap Neji sebelum membiarkan Gaara pergi.
"Entah hanya perasaanku saja, atau Neji-nii dan Gaara-nii memang sedang dekat akhir-akhir ini?" tanya Kiba.
"Apa?" Neji menaikkan alis.
"Hmm… Bagaimana ya… Waktu awal-awal kan kalian tidak begitu dekat, jadi aku sadar betul kalau sekarang kalian jadi lebih… err… akrab?" Kiba memperhatikan ekspresi si pemuda Hyuuga.
"Kurasa tidak. Mungkin itu hanya perasaanmu saja," ungkap Neji sembari berbalik dan melangkah.
Kiba yang melihat itu hanya mengerutkan dahi karena bingung. Tak mau ambil pusing, anggota termuda itu kembali mengarahkan konsentrasi pada folder yang sedang dibukanya.
"Mana Neji?" tanya Gaara yang sudah kembali dengan pakaian simple namun bisa membantunya merahasiakan identitas.
"Hee? Bukannya tadi dia ke kamar?"
"Tidak. Aku tidak bertemu dengannya."
Dua pasang mata itu kemudian mengarah pada sosok yang baru saja memasuki ruangan. Kiba langsung menatap Naruto dengan puppy eyes-nya.
"Niisan, aku lapar," ungkapnya. Gaara yang melihat kejadian itu hanya menggelengkan kepala, sementara Naruto yang melihat ekspresi Gaara tertawa pelan.
"Aku akan menyiapkan sarapan sebentar lagi. Kau mau pergi, Gaakun?" Kini Naruto menatap adiknya yang lain.
"Ya."
"Kemana?"
"Mungkin hanya sekedar jalan-jalan di sekitar sini," jawab Gaara sekenanya.
"Oh iya, Neji mana? Apa dia pergi?" tanya Naruto dengan nada panik.
"Entahlah, mungkin ada di kamar. Aku akan menyusulnya."
"Eh, jangan! Biar aku saja," cegah Naruto.
Pemuda yang lebih tua setahun dari Gaara itu langsung melesat melewati koridor dan berhenti tepat di depan pintu kamar Neji dan Gaara. Belum sempat tangannya meraih kenop, pintu di hadapannya sudah terbuka.
"Uwah!" seru Neji yang terkejut dengan sosok yang muncul di depannya.
"Aish, kau membuatku terkejut!" ungkap Naruto dengan sebelah tangan mengelus dada.
'Bukankah seharusnya aku yang bicara begitu?' batin Neji.
"Err, anou, Neji…" Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya. "Umm… Boleh kupinjam remot AC-mu?"
Neji menaikkan alis. Naruto tertawa hambar, sebelah tangannya masih menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Remot AC-ku rusak, mungkin karena sering kujadikan alat pelampiasan kekesalan pada si Teme, jadi… err… boleh kupinjam punyamu?"
Neji meneliti wajah seniornya dan menghela nafas kemudian melangkah memasuki kamarnya. Suara shower masih sampai ke telinganya ketika ia ada di dalam kamar tidurnya yang nyaman.
"Kau memang tidak akan membeku, tapi terlalu lama mandi dengan air panas juga tidak baik, Sasuke," teriaknya dari luar.
"Sasuke masih ada di dalam?" tanya Naruto ketika ia mengikuti langkah Neji menjauhi kamar.
"Ya. Dia terlalu menikmati mandi paginya," jawab Neji sakratis sembari memberikan remot AC miliknya.
"Thanks. Aku akan mengembalikannya ke tempat semula setelah selesai menggunakannya," ucap Naruto yang segera berbelok ke kamarnya.
Neji menatap Gaara yang tampaknya sudah bosan menunggu. Kiba sendiri masih asyik bermain dengan laptop milik sang Sabaku.
"Aarrrggghh! Hyuuga Neji!"
Naruto segera keluar dari kamarnya ketika mendengar teriakan teman sekamarnya, sementara Gaara dan Kiba langsung menolehkan kepala secara bersamaan.
"Aku pergi, ittekimasu," ucap Neji yang segera melepaskan tawa ketika sudah melangkah keluar dari kediamannya.
.
Naruto menatap Sasuke yang masih dikelilingi dengan hawa membunuh. Pagi tadi ia dikejutkan dengan teriakan Sasuke yang disebabkan oleh keusilan Neji menyembunyikan handuk sang main vocal ketika ia sedang mandi. Dan hal itu sangat berhasil menghancurkan mood Sasuke hari ini.
"Oh ayolah, Teme, kau tidak mungkin marah sepanjang hari kan?" tanya Naruto sembari menepuk bahu sahabatnya. Sasuke hanya membalas ucapan Naruto dengan death glare andalannya.
Naruto menelan ludah dengan paksa dan kembali menarik tangannya. Bercanda dengan Sasuke memang tidak selalu menyenangkan, karena kadang Uchiha satu itu tidak bisa menangkap humor yang ditujukan padanya. Namun sayangnya Neji tidak pernah bisa menahan diri untuk tidak menjahili Sasuke walaupun ia sudah tahu apa yang akan terjadi kalau sampai Sasuke geram seperti sekarang.
"Naruto, boleh pinjam ponselmu?" tanya Gaara yang baru saja memasuki ruang keluarga.
"Untuk apa, Gaakun?" tanya Naruto. Sebelah tangannya merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel soft touch putih dari sana.
"Aku harus menghubungi seseorang tapi ponselku mati. Tak masalah kan?"
"Tidak, pakai saja."
"Oke. Aku tidak akan lama."
Naruto mengangguk, Gaara segera melangkah ke kamarnya. Naruto kembali menatap Sasuke dan menghela nafas. Padahal ini adalah hari pertama mereka libur dan Kakashi sudah berbaik hati untuk membiarkan kelimanya beristirahat, tapi ternyata waktu yang ada tidak bisa digunakan untuk bersenang-senang seperti apa yang sudah ia rencanakan.
"Sudah selesai?" tanya Naruto heran ketika Gaara kembali dan menyodorkan ponselnya.
"Sudah kubilang, aku tidak akan lama," Gaara mengerlingkan mata. "Aku pergi, ada yang harus kuselesaikan."
Naruto hanya mengangguk tanda memberi ijin. Leader muda itu menggembungkan pipi ketika melihat Sasuke yang mood-nya sama sekali belum membaik. Jemari tan-nya dengan lincah membuka menu phonebook dan menekan option 'panggil'.
"Moshi-moshi, aku ingin pesan ramen ukuran jumbo dengan kuah yang kental. Ah, aku juga ingin teh hijaunya. Tolong kirimkan masing-masing dua—"
Naruto menghentikan ucapannya dan menunduk pelan. Dengan gerakan lambat ia menurunkan ponsel dari telinganya dan menggenggam benda itu kuat-kuat. Sasuke yang heran karena mendengar sang Uzumaki menghentikan kegiatan memesannya, segera menatap pemuda yang duduk bersebrangan dengannya.
"You're so dead, Sabaku no Gaara~ !"
.
Neji melangkah memasuki kamarnya dengan wajah kesal. Di ruang makan tadi ia sudah bertemu dengan Sasuke, yang ternyata sama sekali tidak menunjukkan raut wajah kesal. Padahal ketika ia mendengar teriakan geram sang Uchiha pagi tadi, ia sudah menebak kalau Sasuke akan menghajarnya seperti biasa ketika ia mengerjai main vocal Konoha's Academy itu.
"Ada yang aneh. Tidak mungkin pemuda minim ekspresi itu tidak marah padaku," gumamnya.
Neji duduk di kursi yang ia sediakan khusus di depan keyboard yang dibawanya dari Suna. Pemuda berambut panjang itu memang sengaja membawa keyboard-nya sendiri dan menolak keyboard yang pernah ditawarkan Kakashi dan Tsunade.
Neji memang memiliki kemampuan menciptakan dan mengaransemen lagu. Keyboard yang ada di depannya ini adalah saksi bisu perjalanan musiknya sejak ia duduk di Sekolah Menengah. Keyboard ini sudah menemaninya melalui semua masa sulit di kehidupan seorang Hyuuga Neji.
"Oke, ayo kita mulai pemanasan," ucap Neji sembari menyalakan keyboard-nya.
Dahi pemuda itu tampak berkerut ketika melihat lampu keyboard-nya tidak menyala. Sedikit menghela nafas ia kemudian bangkit dari duduknya. Mau tidak mau ia harus menggunakan aliran listrik untuk menyalakan keyboard-nya.
'Mungkin Gaara meminjam keyboard-ku dan lupa menge-charge baterainya.'
Setelah memastikan charger-nya sudah terpasang dengan baik, ia kembali ke tempat kursinya dan mencoba menyalakan keyboard-nya lagi. Kini kerutan di dahinya tampak makin jelas—keyboard-nya masih belum menyala.
Neji kembali bangun dari duduknya dan memeriksa charger, tapi charger sudah menempel dengan benar, dan bisa dipastikan aliran listrik sudah tersalurkan. Lalu kenapa keyboard-nya tidak mau menyala?
"Jangan katakan kalau…"
Neji berjongkok dan memeriksa sambungan charger keyboard, dan apa yang diprediksikannya menjadi kenyataan; kabel charger-nya putus.
"Sialan kau, Uchiha!" teriaknya, membuat Sasuke yang masih di ruang makan menyeringai karena usaha balas dendamnya sukses besar.
.
Gaara memangku laptopnya diiringi tawa. Pemuda berkulit putih susu itu baru saja selesai menerima 'kuliah panjang' dari Naruto. Uzumaki satu itu tampaknya sangat kesal dengan apa yang sudah dilakukan juniornya yang satu ini. Bagaimana tidak? Siang tadi Naruto sudah menghubungi tempat yang salah untuk memesan ramen kesukaannya.
"Beraninya kau mengganti nomor kontak Ichiraku dengan nomor kantor kepolisian distrik, Sabaku!"
Gaara kembali melepaskan tawanya. Ia sedikit menyesal karena tidak bisa melihat ekspresi Naruto ketika sadar kalau dia memesan ramen di kantor kepolisian siang tadi. Tapi kalau melihat dari tingkat kekesalan Naruto, ia bisa membayangkan bagaimana ekspresi seniornya itu.
Setelah tawanya reda, Gaara memfokuskan diri ke layar laptopnya. Rencananya sore ini ia akan berusaha menamatkan game yang sudah dimainkannya sejak seminggu yang lalu. Terlalu cepat? Untuk ukuran seorang maniak game macam Gaara, waktu seminggu malah teralu lama untuk menamatkan sebuah permainan. Tapi karena jadwal yang padat, jangankan untuk menyentuh game, untuk mendapatkan waktu tidur yang ideal saja ia kesulitan. Maka dari itu, mumpung hari ini ia libur, ia ingin segera menamatkan game-nya dan beralih ke game lain yang sudah di-download-nya jauh-jauh hari.
"Kau kenapa?" tanya Sasuke yang baru saja memasuki ruang keluarga dan melihat sorot mata Gaara yang tampak tidak tenang.
"Kenapa level-nya…"
"Hn? Level?" Sasuke menaikkan alis.
Jemari putih milik sang Sabaku masih sibuk bermain di atas keyboard laptop selama beberapa saat, sampai akhirnya ia menggeram frustasi. Sepasang mata beriris hijaunya menatap Sasuke dengan tatapan membunuh. Sasuke makin menaikkan alis.
"Mana Kiba?" tanya Gaara dengan nada rendah yang belum pernah didengar Sasuke sebelumnya.
"Dia pergi, katanya dia akan pulang terlambat hari ini," jawab Sasuke.
Gaara kembali menatap layar laptopnya yang menampilkan game yang akan ditamatkannya. Di sudut atas laptop itu tertulis '3rd Level Battle'. Rahang pemuda itu tampak mengeras. Seharusnya yang tertulis di bagian itu adalah 'Final Battle', bukan '3rd Level Battle' yang berarti ia harus menyelesaikan sebelas level selanjutnya sebelum bisa melihat tulisan yang seharusnya ada disana.
"Kubunuh kau, Inuzuka Kiba!"
.
Gaara memasuki kamar dan membanting pintu tak berdosa dengan rasa kesal di titik puncak. Neji yang sedang duduk di atas tempat tidurnya hanya menatap pemuda yang berusia beberapa bulan lebih tua darinya itu dengan heran.
"Jangan bertanya!"
Neji kembali mengatupkan mulut, menahan kalimat 'Ada apa?' yang sudah akan meluncur dari bibirnya. Gaara segera menaiki tangga tempat tidur –Neji dan Gaara tidur menggunakan bunkbeds, ingat?– dan menutupi semua bagian tubuhnya dengan selimut.
"Ingatkan aku untuk membunuh pemuda Inuzuka itu besok pagi!" serunya sebelum memejamkan mata dan memaksakan diri untuk tidur.
Neji hanya menghela nafas dan menggelengkan kepala. Sepertinya Kiba akan benar-benar mendapatkan masalah.
Tak mau memikirkan hal yang tidak perlu, Neji pun membaringkan tubuh dan bersiap tidur. Sebelah tangannya meraih remot AC yang selalu ia simpan di sisi tempat tidur. Neji sudah terbiasa untuk tidur dengan menggunakan AC, sedangkan Gaara tidak begitu menyukai pendingin ruangan satu itu. Dan itulah kenapa Gaara selalu menutupi semua bagian tubuhnya, dari kepala sampai kaki, ketika ia tidur.
Neji menekan tombol remote dan mengarahkannya pada benda persegi panjang yang menempel di salah satu sisi kamar. Mengetahui tidak ada perubahan suhu ruangan, pemuda itu kembali menekan tombol remot. Ternyata sudah ditekan berkali-kali pun AC itu tidak mau menyala. Neji bangun dari posisi berbaringnya dan menatap remot di tangannya. Lampu remot itu mati.
Neji memperhatikan remot AC ditangannya dengan seksama. Dengan kesal, ia bangun dan melangkah ke kamar 'tersangka' yang ia yakini sudah menukar remotnya.
"Naruto, buka pintunya!" teriak Neji dari luar kamar sembari mengetuk pintu dengan 'kelewat semangat'.
Tak ada sahutan yang terdengar.
"Aku tahu kau ada di dalam, cepat buka pintunya dan kembalikan remot AC milikku!" teriak Neji lagi, kali ini sembari memutar kenop pintu, namun ternyata pintu kamar itu sudah dikunci.
Sementara itu di dalam kamar Naruto tengah memeluk bantal yang ia gunakan untuk meredam tawa. Sasuke yang mendengar teriakan kesal Neji pun tampaknya enggan beranjak untuk membukakan pintu. Yah, walaupun ia sudah mengerjai Neji sore tadi, nyatanya ia masih merasa kesal dengan keusilan juniornya satu itu. Dan mengetahui bahwa rekan sekamarnya juga mengerjai si Hyuuga muda, rasa kesalnya sedikit mereda.
# # #
Kakashi mengerutkan dahi melihat Kiba yang sedang merengek di sepanjang koridor kantor management dengan tangan menarik-narik lengan jaket Gaara. Sementara itu, Neji tampak melangkah kearahnya dengan wajah kesal dan gumaman yang gagal ditangkap telinga.
"Ohayou, manager. Bagaimana liburanmu kemarin?" sapa Naruto yang datang bersama Sasuke disebelahnya.
"Liburanku menyenangkan, terlepas dari waktunya yang hanya sehari. Bagaimana liburan kalian?"
"Menyenangkan," jawab Naruto dengan senyum lebar. "Sangat menyenangkan sebenarnya."
Hari ini kelima anggota Konoha's Academy akan kembali memulai aktifitas latihan mereka. Libur musim semi yang mereka dapatkan adalah libur dari semua kegiatan di luar management, dan itu artinya mereka masih harus menyelesaikan latihan vokal dan koreo seperti biasa.
"Kalau kalian mengalami libur yang sangat menyenangkan, ada apa dengan ketiga anak itu?" tanya Kakashi yang melangkah beriringan dengan dua anggota tertua di Konoha's Academy.
Naruto sedikit melirik ke arah Sasuke sebelum tertawa pelan. Apa yang terjadi pada tiga anggota lainnya adalah akibat dari semua 'kegilaan' yang mereka berlima lakukan kemarin.
"Mereka hanya masih merasakan dampak tanggal satu April kemarin, manager," ucap Sasuke kalem.
"Maksudmu?" Kakashi mengerutkan dahi.
"Itu dampak April Fool Day versi Konoha's Academy, manager," Naruto memberi clue. Kakashi menggeleng-gelengkan kepala.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa Kiba terus menempel pada Gaara, dan kenapa mood Neji bisa seburuk itu?" tanyanya dengan tangan yang dilipat di depan dada.
Walaupun Naruto dan Sasuke adalah anggota tertua di grup, tapi ia tahu benar kalau keduanya kadang bisa bersikap lebih kekanakan daripada Kiba yang jelas-jelas masih ada di masa transisi.
'Mati aku!' Naruto menelan ludah paksa.
Leader itu kemudian menceritakan semua keusilan yang dilakukan tiap anggota di April Fools Day kemarin; mulai dari Neji yang menyembunyikan handuk Sasuke, Gaara yang mengganti nomor kontak Ichiraku di ponselnya, Sasuke yang mengganti charger keyboard Neji dengan charger rusak, Kiba yang 'mengakali' game Gaara, hingga tindakannya yang mencuri baterai remot AC milik Neji yang sukses membuat pemuda Hyuuga itu tidak bisa tidur semalaman.
Kakashi menatap sang leader dengan sorot tidak percaya. Apa yang kelimanya lakukan benar-benar jauh dari apa yang dilakukan orang kebanyakan di hari pertama pada bulan April. Naruto hanya menunjukkan senyum canggung.
"Apa tidak apa-apa kita membiarkan ketiga orang itu?" tanya Kakashi sembari menunjuk ke arah Neji yang sudah memulai latihan vokal dan Kiba yang duduk disamping Gaara dengan tatapan puppy eyes.
"Biarkan saja. Percaya padaku, mereka tidak akan bisa bertengkar lebih lama dari setengah hari." Sasuke mendahului Naruto dan mengambil tempat duduk di samping Kiba.
TBC
Author Notes: chapter senang-senang author, hahahaha~ Saya tidak dalam mood membuat cerita yang serius, jadi chapter ini adalah ajang senang-senang saya XP Mulai chapter depan, fic ini sudah mulai menceritakan kegiatan Konoha's Academy. Semoga saya bisa memberikan gambaran yang baik, dan semoga fic ini tidak membuat reader bosan Dan ah, mohon doakan saya supaya ujian saya berjalan lancar~ :D
Balasan review:
Vii no Kitsune: Eeeeh? Kenapa ga bisa? (O.O) Mungkin FFn-nya lagi error kali ya. Hahahaha, adengannya kenapa memang? Osh, ganabarimasu! Terimakasih untuk review-nya~ ^^
