Konoha's Academy

Disclaimer : selalu jadi miliknya Kishimoto Sensei…

Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst.

Enjoy It!

#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#

.

Seventh Chapter : Music Video

.

Naruto menolehkan kepala ketika merasakan sebuah tepukan mampir di bahunya. Kakashi, orang yang mengejutkan si pemuda pirang, tersenyum dari balik maskernya.

"Bagaimana keadaannya?" tanya lelaki jangkung itu sambil mengambil kursi untuk duduk bersisian dengan Naruto.

"Sampai detik ini lancar. Untung saja kami bisa menggunakan koreo yang sebelumnya sudah diberikan Kabuto-san, itu menghemat waktu," ungkap Naruto.

Kakashi mengangguk dan menatap ke arah setting dimana Gaara dan Neji sedang melakukan take. Sementara itu, disisi lain ruangan tampak Kiba yang sedang latihan koreo di bawah pantauan Sasuke.

Hari ini mereka tengah melakukan shooting untuk music video single mereka, "Now or Never". Sudah tiga hari berlalu sejak April Fools Day. Dan seperti yang diprediksikan Sasuke; Neji, Gaara dan Kiba kembali bersikap normal setelah kegiatan mereka di management selesai hari itu.

"Tampaknya kalian berlima sudah benar-benar menjadi 'keluarga' sekarang," cetusnya. Naruto tersenyum lebar.

"Membuat mereka bisa sampai sedekat itu tidak semudah yang kau kira, manager. Kau tidak tahu bagaimana usahaku menahan Sasuke agar tidak menghajar Neji yang hobi menjahili orang."

Terkejut? Ya, dibalik sikapnya yang ramah dan sopan, Neji nyatanya adalah seorang pemuda yang memiliki tingkat keusilan tertinggi di Konoha's Academy. Entah sudah berapa kali keempat anggota boyband itu mendapatkan 'kejutan' dari si pemuda berambut coklat panjang.

"Benarkah? Kukira hanya kau yang sering bertengkar dengan Sasuke."

"Yah, nyatanya bukan hanya aku yang berani melawan Uchiha satu itu," tanggap Naruto disertai dengusan geli.

"Bagaimana dengan Kiba? Apa ada kesulitan mengendalikan 'semangat masa muda'nya?" tanya Kakashi dengan meminjam tiga kata milik Rock Lee.

"Kalau kubilang tidak, kau pasti tidak akan percaya. Tapi tenang saja, dia termasuk Touto yang baik dan penurut," jawab Naruto dengan tatapan mengarah pada si bungsu di Konoha's Academy.

"Syukurlah."

Sejujurnya manager satu itu cukup mengkhawatirkan keadaan Kiba yang notabene adalah anggota termuda di grup ini. Bukannya apa-apa, tapi di masa remaja biasanya seorang anak lelaki mengalami beberapa kesulitan. Tapi melihat Naruto yang bisa memimpin teman-temannya dengan baik, mungkin kini ia bisa bernafas lega.

"Naruto, giliranmu!" seru Neji setelah bagiannya selesai.

"Aku harus pergi, manager," pamit Naruto sembari menepuk bahu Kakashi.

Kakashi menatap pemuda berambut pirang yang sedang mendekati sutradara untuk mendengarkan arahan. Matanya kemudian terarah pada Neji dan Gaara yang tengah duduk di salah satu kursi yang ada.

Gaara menyandarkan punggungnya dan menengadahkan kepala. Pemuda itu kemudian menghembuskan nafas lega. Take-nya hari ini sudah selesai, dan besok bisa dipastikan sebagai hari terakhir shooting diadakan. Ia dan keempat temannya sudah menjalani kegiatan ini selama hampir empat hari. Kalau besok shooting selesai, kelimanya bisa menikmati weekend dengan tenang sebelum kembali memulai aktifitas di awal minggu.

"Thanks," ucapnya ketika Neji menyodorkan botol air mineral.

Gaara segera meneguk minumannya, meredakan tenggorokkannya yang terasa kering karena kelelahan. Kepalanya kembali menengadah ketika merasakan pijatan lembut di bahunya.

"Wow, aku tidak menyangka kalau mereka sedekat itu sekarang," celetuk Kakashi yang takjub dengan hal yang terjadi diantara dua 'objek pengamatan'nya.

Sementara itu, Sasuke tampak memperhatikan leader-nya yang sedang berakting. Naruto bersandar dipagar yang ditumbuhi tanaman rambat dan mengikuti suaranya dari lagu yang tengah diputar.

Kiba melemparkan pandangan keluar setting. Sepasang mata beriris kecoklatannya menangkap beberapa gadis yang tengah berdiri dengan kamera dan ponsel mengarah pada para anggota Konoha's Academy. Salah seorang dari gadis itu secara tidak sengaja balas menatapnya.

"Kyaaa~ Kiba-senpai melihat kesini!" serunya.

"Eh? Benarkah?" tanya temannya yang lain. "Ah, iya, dia menatap kesini!" serunya kemudian.

Kiba mengganggukkan kepala dan melemparkan senyum. Gadis-gadis itu kembali berteriak karena berhasil menarik perhatian pemuda yang mereka kagumi. Kiba langsung menolehkan kepala ketika merasakan bahunya ditepuk pelan.

"Oh, hai, manager!" sapanya disertai senyuman lebar.

"Sepertinya kau sudah mendapatkan penggemar, Kiba," balas Kakashi sembari melirik para gadis yang masih belum beranjak dari tempat mereka.

"Ya—kurasa begitu," Kiba menganggukkan kepala. "Tapi kenapa mereka bisa ada disini? Bukannya kau bilang kau tidak memberitahu siapapun kalau kita akan shooting di tempat ini?"

"Aku memang merahasiakan shooting kalian, tapi kau harus tahu kalau fans selalu punya cara untuk mengetahui semua hal mengenai idola mereka. Kadang kau harus berhati-hati dengan itu."

Kiba menganggukkan kepala dan kembali menatap gadis-gadis yang sekarang mengarahkan pandangan pada Sasuke yang kembali melakukan take. Sebagai main vocal, Sasuke memang selalu mendapatkan bagian suara dan take paling banyak.

"Bagaimana hubunganmu dengan keempat kakakmu itu? Ada masalah?" tanya Kakashi sembari mengajak Kiba duduk di bawah sebuah pohon yang cukup rindang.

"Masalah selalu datang setiap hari, manager. Andai kau tahu bagaimana berisiknya Sasu-nii dan Naru-nii kalau sedang bertengkar," Kiba menghela nafas dan memasang ekspresi frustasi yang dibuat-buat. Kakashi melepaskan tawa.

"Aku tahu betul bagaimana hubungan mereka," ungkap Kakashi dengan mata terarah pada dua sosok yang sedang mereka bicarakan.

"Eh? Kau sudah mengenal mereka sebelum ini, manager?"

"Hm? Apa mereka tidak memberitahumu kalau sebelumnya mereka berdua tergabung di Yottsu Kikou?"

Sepasang mata milik sang Inuzuka melebar sempurna. Pemuda itu kemudian menatap Naruto yang sepertinya sedang menceritakan sesuatu pada Sasuke di setting.

"Apa Yottsu Kikou yang kau maksud adalah boyband yang identitas para personelnya dirahasiakan itu?" tanya Kiba memastikan.

"Memangnya ada berapa boyband yang bernama Yottsu Kikou, hm?"

"Mereka tidak pernah bilang padaku atau yang lain…" bisik Kiba. Ada nada kecewa di dalam suaranya.

.

Naruto melingkarkan sebelah lengannya di bahu Sasuke dengan nyaman, sementara sepasang mata beriris langitnya fokus pada layar monitor di depannya. Take hari ini baru saja selesai, dan keduanya tengah melihat hasil yang mereka dapat.

"Bagaimana pendapatmu, Naruto?" tanya Nagato, sutradara muda berbakat yang dipilih Tsunade untuk menutradarai semua music video milik Konoha's Academy.

"Kau lebih paham daripada aku, senpai," tutur Naruto. "Tapi… Apa bagian itu bisa diulang besok? Rasanya aku kurang bagus disana," pinta Naruto sembari menunjuk pada hasil take-nya di monitor.

"Seperti biasa, tetap perfectionist ya, Uzumaki," cetus Konan, wanita cantik berambut biru gelap, yang bertugas sebagai asisten sutradara.

"Hn, dia memang tidak pernah berubah, Konan-san," tutur Sasuke.

"Hei, hei, aku kan hanya ingin yang terbaik. Kalian ini," Naruto membela diri. Nagato dan Konan tertawa mendengar ucapan sang Uzumaki.

"Oke, kurasa hari ini cukup. Aku bisa memastikan kalau besok adalah hari terakhir kalian melakukan take untuk MV pertama ini. Terimakasih untuk kerjasamanya, ya," Konan membungkukkan tubuh.

"Terimakasih untuk kerjasamanya," Naruto membalas ucapan wanita cantik itu sebelum mengajak keempat rekannya melangkah menuju van.

Naruto menyandarkan diri di jok mobil dan menengadahkan kepala. Sementara itu, Gaara yang duduk di sebelahnya sudah kembali asyik dengan laptop kesayangannya. Sasuke yang duduk di sebelah Kakashi hanya menggeleng pelan melihat sang leader yang tampak kelelahan.

"Untuk pembuatan MV single, apa Tsunade-san sudah memberitahukan urutannya, manager?" tanya Naruto tanpa membuka matanya yang sejak tadi terpejam.

"Ya, dia baru saja memberitahuku siang tadi."

"Siapa yang akan membuat MV lebih dulu?" tanya Neji yang duduk nyaman di samping Kiba.

"Menurutmu siapa yang lebih cocok membuat MV pertama, Neji?" Kakashi balik bertanya.

"Sasuke." Neji menolehkan kepala pada sang penjawab—Gaara. "Kurasa Sasuke cocok jadi yang pertama. Dia kan main vocal kita, single-nya pasti diletakkan di nomor satu," lanjut Gaara tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.

"Naru-nii juga bisa jadi yang pertama. Dia kan leader kita," Kiba memberikan pendapat.

"So, who's the one, manager?" Naruto mengulangi pertanyaannya di awal tadi.

Kakashi menginjak rem perlahan ketika lampu lalu lintas berubah merah. Tsunade memang sudah memberitahukan urutan untuk pembuatan MV single terbaru kelimanya. Take vocal-nya sendiri baru selesai beberapa hari yang lalu.

"Manager," Naruto kembali memanggil.

"Kau yang pertama, Naruto. Persiapkan dirimu," ujar Kakashi sebelum kembali menginjak pedal gas.

Naruto tersenyum tipis dan menarik nafas panjang. Ia tak terlalu terkejut dengan keputusan Tsunade menempatkannya sebagai pion awal. Toh sebelum ini pun Tsunade pernah melakukan hal yang sama.

"Kurasa kalian harus langsung beristirahat. Besok kita akan mulai shooting jam delapan tepat. Kuharap kalian tidak terlambat dan mengecewakan yang lain," ucap Kakashi setelah membiarkan kelima pemuda itu turun dari van.

Naruto hanya melambaikan tangan singkat pertanda mengerti sebelum kemudian berbalik dan masuk ke dalam lift bersama yang lain. Kiba menghela nafas beberapa kali. Perkataan Kakashi mengenai Yottsu Kikou masih berulang di kepalanya.

"Kau kenapa, Kiba?" tanya Gaara yang sejak tadi diam.

"Kurasa ada yang salah denganmu," Neji menambahkan.

Naruto menolehkan kepala dan menatap lekat adik bungsunya, sementara Sasuke bersandar di sisi lift.

"Aku tidak apa-apa, sungguh. Hanya sedikit lelah," jawab Kiba tak sepenuhnya berbohong.

# # #

Kiba duduk di salah satu kursi yang disediakan staff dan sedikit meregangkan tubuh. Ia baru saja menyelesaikan take terakhirnya untuk MV single pertama Konoha's Academy. Pemuda itu menghela nafas panjang ketika ucapan Kakashi pagi tadi tentang jadwal shooting MV untuk single-nya yang akan dimuat di album pertama Konoha's Academy.

"Kau berat, Dobe. Cepat menyingkir!"

Satu gerutu kecil itu langsung membuat sang Inuzuka menolehkan kepala dan mendapati dua anggota tertua Konoha's Academy tengah melangkah mendekatinya.

Naruto tampak berjalan disamping Sasuke dengan lengan kanan melingkar di bahu sang Uchiha, sementara Sasuke menggenggam tangan si pemuda pirang yang ada di bahunya, berusaha untuk melepaskan 'rangkulan' sang leader.

"Kadang aku merasa kalian sebenarnya adalah dua remaja yang terjebak di dalam tubuh pemuda berusia delapanbelas tahun," ungkap Kiba yang langsung mendapat balasan berupa lemparan handuk dari Uzumaki muda.

"Dan kadang aku berfikir kau adalah lelaki berusia duapuluh tahun yang terjebak di dalam tubuh seorang remaja," cibir Naruto. "Aku mungkin lebih tua darimu, tapi bukan berarti aku akan selalu bersikap dewasa setiap saat," tambahnya.

"Tapi akan lebih baik kalau kau bersikap seperti itu, Dobe."

Naruto sedikit menggembungkan pipi mendengar ucapan Sasuke yang langsung disambut anggukan setuju Kiba. Sasuke duduk di kursi yang ada di samping Kiba dan mengedarkan pandangannya.

"Mana Neji dan Gaara?"

"Entahlah, Sasu-nii. Terakhir aku melihat mereka sedang makan siang, setelahnya aku tidak tahu lagi."

"Biarkan saja. Akhir-akhir ini mereka sedang berusaha untuk dekat. Kalian tahu sendiri bagaimana sepinya rumah kalau mereka ditinggal berdua kan?"

Kiba menggangguk pelan. Gaara memang bukan tipe orang yang bisa langsung berbaur jika dihadapkan dengan sosok seperti Neji yang cenderung humble, friendly, dan talkative.

"Kau sedang apa, Dobe?" tanya Sasuke sembari menaikkan alis.

"Duduk. Memangnya apa lagi?" Naruto menjawab santai.

"Kenapa kau duduk di lengan kursiku, hn? Ambil kursimu sendiri!" usir Sasuke.

"Aku malas, Teme~"

Kiba hanya terkikik mendengar pertengkaran kedua kakaknya. Tinggal bersama empat sosok kakak barunya selama setengah tahun terakhir sudah membuatnya terbiasa dengan hal-hal semacam ini, walaupun kadang ia terkejut dengan 'keunikan' semua anggota yang tak pernah terbesit di benaknya.

"Aku harus pergi. Kakashi sepertinya ingin bicara denganku," ungkap Sasuke setelah melihat tatapan Kakashi yang ditujukan padanya.

"Ah, tolong belikan aku minuman kaleng kalau urusanmu sudah selesai dengan manager," pinta Naruto.

"Hn."

Naruto segera duduk di kursi yang sebelumnya ditempati rekannya. Sepasang mata beriris langitnya kini mengarah ke setting yang sudah mulai dibereskan. Take-nya dan Sasuke tadi adalah penutup pembuatan MV kali ini.

"Err, Naru-nii. Boleh aku bertanya sesuatu?" Akhirnya Kiba buka mulut dan menghilangkan kesunyian.

"Hm, tanyakan saja. Kau tidak perlu meminta ijin untuk menanyakan sesuatu, Kiba," tutur Naruto santai.

Kadang pemuda berkulit tan itu heran dengan sikap adik bungsunya satu ini. Bukannya tidak suka, hanya saja bagi sang Uzumaki muda, tingkat kesopanan yang digunakan Kiba untuk berkomunikasi dengannya dan ketiga anggota yang lain terlalu tinggi. Anak ini terlalu sopan.

"Kemarin manager memberitahuku sesuatu. Dia bilang… err… kau adalah salah satu anggota Yottsu Kikou. Kenapa kau tidak pernah memberitahuku dan yang lain?"

Naruto menyandarkan punggungnya dan menghela nafas panjang. Ia tidak berharap ketiga anggota yang lain tahu tentang masa lalunya, terutama masa lalunya yang ini.

"Aku memang sengaja tidak pernah membahasnya. Aku tidak ingin menyinggung tentang grup itu, bahkan dengan Sasuke sekalipun," ungkap Naruto jujur.

Kenangannya ketika ia terpilih menjadi salah satu anggota Yottsu Kikou saat usianya baru menginjak enambelas tahun kembali berkelebat. Naruto sedikit tertawa ketika untuk pertama kalinya ia bertemu dengan ketiga anggota lain yang memang dirahasiakan identitasnya oleh pihak management.

"Bersama Haru, Aki, dan Fuyu adalah pengalaman paling menyenangkan. Maksudku, itu adalah pengalaman pertamaku menjejakkan kaki di dunia musik, dan bertemu dengan empat remaja yang juga memiliki passion yang sama denganku adalah hal yang kuimpikan. Kau tidak tahu betapa gilanya aku pada musik saat itu," ujar Naruto diiringi tawa.

"I can imagine that you're really head-over-heels to music."

"Music is second-to-none for me."

"Kalau saat itu adalah saat yang berkesan untukmu, lalu kenapa kau tidak menceritakan itu padaku dan yang lain, Naru-nii?" tanya Kiba.

"Aku sudah bilang kan kalau aku tidak mau membahasnya? Yottsu Kikou adalah kenangan yang berkesan untukku, sekaligus kenangan yang kadang membuatku merasa bersalah sekaligus kecewa pada diriku sendiri."

Kiba memandang kakak favoritnya, dan ia bisa melihat segurat kesedihan di wajah Naruto. Ia sama sekali tidak bermaksud untuk memojokkan Naruto dengan menanyakan masa lalunya, hanya saja ia merasa Naruto menyembunyikan sesuatu yang penting darinya.

"Andai saat itu aku bisa mengambil keputusan yang benar, mungkin Yottsu Kikou tidak akan bubar setelah meluncurkan mini album."

"Bubar?" Kiba tak bisa menahan rasa kagetnya. "Bukannya Yottsu Kikou dibentuk hanya untuk mengeluarkan satu mini album saja?"

Naruto tersenyum pahit. Yang dihembuskan pihak management memang seperti itu, bahwa Yottsu Kikou adalah boyband yang hanya akan mengeluarkan satu mini album sebagai batu lompatan keempat anggotanya di dunia musik.

"Sepertinya aku harus berterimakasih pada management yang berhasil membuat publik percaya akan hal itu."

"Eh? Maksudmu apa, Naru-nii? Jangan katakan kalau alasan itu hanyalah alasan palsu yang dibuat untuk menutupi masalah yang sebenarnya."

"Well, sayangnya itulah yang terjadi. Saat itu aku tidak cukup baik sebagai seorang leader."

"Kurasa cukup sampai disitu, Dobe."

Kiba merasa tubuhnya kaku seketika. Sasuke hanya bicara dengan nada seperti itu kalau ada sesuatu yang mengganggunya. Ralat. Kalau ada sesuatu yang 'sangat' mengganggunya.

"Ou, Teme! Kapan kau kembali?" Naruto tampak bersikap biasa, sama sekali tidak terpengaruh dengan nada bicara sang main vocal.

"Nagato sudah memberikan kita ijin untuk kembali ke apartemen. Gaara dan Neji sudah ada di mobil, jadi sebaiknya kalian berdua ikut denganku untuk menyusul mereka."

"Oke!" Naruto bangun dari duduknya. "Ayo, Kiba. Kau tidak mau kami tinggal kan?"

Kiba mengangguk dan ikut bangun dari duduknya sebelum melangkah beriringan dengan Naruto. Entah kenapa Kiba bisa merasa Sasuke tengah menatapnya tajam.

TBC

Author Notes: akhirnya saya mulai menapaki tahapan klimaks. Maaf kalau chapter ini justru lebih pendek dari yang sebelumnya. Sejujurnya saya mulai merasakan gejala(?) WB, tapi semoga saja tidak benar-benar mengalami penyakit(?)nya. Bisa gawat kalau saya WB di fic ini =3="

Balasan review:

Vii no Kitsune: kemarin update kilat soalnya saya khawatir ga bisa update setelah hari itu. Ahahahaha, saya kan sudah pernah bilang, hal-hal mengenai pairing hanya akan muncul sedikit dan itupun hanya berupa hints X3 Ganbarimasu~ XD