Yuhuu… kecebong upDATE…

Minna, saya mohon maaf atas kecerobohan sayah dalam fic yang full typo ini.

Sayah bakal lebih merhatiin lagi masalah typo dan kapitalisasi.

Arigatou buat yang udah bersedia mampir ke fic sayah…

Yang udah nge-ripyu juga… hontouni arigatou…..

Minna, mouichidou arigatou gozaimasu….

Oceh….yonde kudasai…

Disclimer : yang pasti bukan punya bapak sayah.

Pair : ichiruki

Rate : T

CHAPPIE 2

"Kau hanya boleh terlihat cantik di hadapanku." Aku mengangguk.

"Aku mengerti Nii-chan." Ucapku sambil menatap mata musim gugurnya yang begitu mendamaikan hati.

"CIH," Ia berdesis,lalu menyeringai padaku. Entah apa yang akan terjadi aku tak dapat menebaknya. Yang kurasakan saat ini hanyalah belaian jemari-jemari lembutnya di leherku. Aku menatapnya takut di balik kacamataku. "Nii-can…Cih, Nii-chan? NII-CHAN KATAMU?"

"Uh…!" Jemari tangan kanannya berhasil mencekik leherku. "Lepas…Uh…lepaskan aku…"aku hampir kehabisan napas akibat cekikkannya.

"Sekali lagi kau memanggilku dengan sebutan 'menjijikan' itu-" Ia mendekatkan wajahnya dengan wajahku hingga dapat ku rasakan hembusan napasnya di telingaku, lalu ia berbisik dengan nada suara yang penuh penekanan, "-ku bunuh kau!"

Kejam. Mata itu kejam. Mata indah itu telah menghipnotisku. Mata itu membuatku terjerat tanpa mampu melepaskan diri. Ia lepaskan tangannya dari leherku. Ku hirup udara dalam-dalam,karena kejadian barusan hampir saja menghabiskan seluruh nafasku.

Ichigo Kurosaki melangkahkan kakinya melewati tempatku berdiri. Ia meraih kunci mobil Mitsubishi Evo VI merahnya di atas meja rias. Dia tak lagi menatapku. Tega sekali dia. Aku menunduk, berusaha mengumpulkan segenap keberanianku untuk mengatakan kenyataan yang paling ia benci.

"Tapi aku memang adikmu, " Kurasakan kedua mataku mulai berair. "Kumohon, biarkan aku menjadi adikmu." Setetes air mata mengalir di pipiku. Ichigo melangkah perlahan menghampiriku. Jemari-jemari lembutnya bergerak untuk menghapus air mataku. Lembut. Ya, sangat lembut hingga tak kusadari bahwa kelembutan itu kini lenyap.

PLAK!

keras itu terasa teramat menyakitkan. Isakkan tangisku tak dapat lagi ku -bulir air mata telah membasahi kedua pipiku. Tidak. Aku tak sanggup menatap mata lelaki tampan itu.

"Dengar, Rukia!" Aku tetap menunduk. Takut. Ya, aku takut menatapnya. "Rukia…TATAP AKU JIKA AKU SEDANG BICARA!" Bentaknya sambil mengangkat paksa daguku. Amarah. Y,mata musim gugur yang mendamaikan hati itu kini di penuh amarah. "Kau bukan adikku. Kau dengar? KAU BUKA ADIKKU! KAU HANYALAH ANAK DARI WANITA YANG MENIKAH DENGAN AYAHKU!" Teriaknya.

Ia menatapku nanar. Tidak. Aku sudah membuat amarahnya memuncak. Kulihat, ia tersenyum getir lalu melangkah keluar kamar dan menguncinya dari luar. Tidak. Apa yang sedang ia lakukan. Aku harus sakolah. Dan hari ini adalah hari pertamaku pindah di Karakura High.

"Ichi-"

"Kau tak boleh kemanapun! Ini adalah hukumanmu."

oOo

NORMAL POV

Pemuda berambut orange-menyala itu melangkah cepat menju parkiran mobil. Ia masuk ke dalam mobil Mitsubishi Evo VI-nya lalu melajukan mobil itu dengan cepat.

Kacau. Ya, pikiran pemuda itu kacau. Dan yang ia tahu, ia harus segera meninggalkan gadis mungil itu di apartemennya sendirian. Ia takut. Takut. kalau-kalau tangan kanannya itu akan menyakiti gadis tak berdosa itu lebih dari yang telah ia lakukan.

Tak berapa lama, ia parkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah besar yang sudah sangat di kenalnya.

Ia ketuk pintu di hadapannya dengan keras. Dan berdirilah seorang wanita yang tengah membuka daun pintu rumah itu. Mata wanita yang berwarna emas itu berbinar melihat kedatangan Ichigo.

"Ichi-"

Pemuda itu melangkah melewati wanita yang tengah menyambutnya dengan raut wajah yang dingin. Ia malas berbicara pada siapapun. Ia ingin menenangkan diri di kamarnya.

"Kenapa lagi anak itu."

"Yoruichi, siapa yang datang?" Lelaki dengan topi di kepalanya menghampiri wanita itu.

"Ichigo. Dan kelihatannya dia sedang ada masalah." Lelaki di hadapan wanita itu tersenyum lembut lalu membelai pundak wanita yang telah menjadi pandamping hidupnya selama 12 tahun.

"Dia akan baik-baik saja."

oOo

Ichigo melihat pantulan wajahnya di cermin. Ia basuh berkali-kali wajah tampannya,berharap ia dapat sedikit meredakan emosinya.

"AARRGGHHH!"

PRANG!

Buku-buku jemari tangan kanan pemuda itu sukses meninju cermin di hadapannya. Darah segar yang mengalir ia abaikan.

Sakitkah?

Tidak!

Yang terasa teramat sakit adalah , hatinya.

Ia keluar dari kamar mandi, melangkah pelan mendekati ranjangnya, lalu ia rebahkan rasa sakit yang di jemarinya.

Frustasi. Ya, ia frustasi menghadapi kenyataan. Hidupnya yang semula ia anggap telah sempurna, kini di ambang kehancuran. Tidak. Lebih tepatnya telah hancur.

Di pandangnya langit-langit putih kamar megah itu. Pikiran pemuda itu di penuhi oleh gadis mungil yang telah ia kasari. Kasar. Ya, ia terlalu kasar. Namun gadis itu tak pernah mengeluh. Dan ia teramat mencintai gadis itu.

Kehadiran gadis itu mengubah hidupnya yang kelam. Kematian sang ibu saat umurnya 10 tahun, membuatnya bersikap dingin pada semua orang. Bahkan ayahnya, Isshin Kurosaki pun putus asa menghadapi perubahan sikap putranya. Itulah sebabnya 10 tahun yang lalu, ia memberikan hak asuh atas Ichigo pada dua sahabatnya, Urahara dan Yoruichi yang tak dapat memiliki anak.

Sikap Ichigo memang tetap tak berubah. Namun sedikit demi sedikit ia dapat merelakan kepergian sang ibu yang amat ia sayangi, terlebih Yoruichi dan Urahara sangat menyayanginya. Segala fasilitas mewah dapat ia dapatkan tanpa perlu ia minta.

Dan atas kejeniusannya, selepas SMU ia mendapat beasiswa kuliah Kedokteran di London. Ia memang ingin menjadi dokter seperti ayahnya. Tak di sangka disana, ia bertemu dengan gadis mungil yang sangat ceria. Rukia Kuchiki, murid kelas 3 SMP asal Jepang yang mengikuti program pertukaran pelajar. Takdir mempertemukan mereka, Ichigo yang tak memiliki ibu, dan Rukia yang tak memiliki ayah.

Takdir mempertemukan mereka, si kasar dan si ceria. Takdir membiarkan mereka bersama. Dua tahun mereka saling bertengkar, saling berbagi kasih, saling melengkapi, dan saling terjerat dalam ikatan yang di namakan 'cinta'. Takdir membuat hidup mereka terasa sempurna.

Dan lihat sekarang. Takdir mempermainkan mereka. Takdir tertawa melihat penderitaan mereka. Takdir dengan mudahnya mengubah ikatan 'cinta' mereka menjadi ikatan 'saudara' hanya dalam kurun waktu dua hari.

"BRENGESK!"

TBC

KYAAAA….

Gomenasai…

Tambah ancur ajah…..

Ripyu?