Konoha's Academy
Disclaimer : selalu jadi miliknya Kishimoto Sensei…
Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst.
Enjoy It!
#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
.
Eighth Chapter : Game Show
.
Dering telepon kembali terdengar dari salah satu ruangan agensi yang mengurus kontrak artis. Sementara itu, tampak beberapa orang yang sedang beristirahat di ruang santai. Mata mereka terpaku pada layar televisi yang tengah menunjukkan iklan sebuah ponsel yang tengah booming akhir-akhir ini.
Di layar itu terlihat Gaara yang tengah menelpon, kemudian melemparkan ponsel yang digunakannya. Slide berganti dengan Neji yang menangkap lemparan ponsel dari setting yang berbeda. Slide kemudian berganti dan menampilkan Sasuke, lalu berganti lagi menampilkan Kiba, dan berakhir dengan Naruto yang menerima 'lemparan' ponsel lalu mengantonginya.
Kini layar televisi menampilkan sebuah café mini yang tampak ramai oleh anak-anak muda. Beberapa saat kemudian, disaat yang hampir bersamaan, kelima anggota Konoha's Academy datang dari arah yang berbeda. Mereka saling menunjuk dan tertawa lepas. Iklan itu ditutup dengan tampilan kelima pemuda itu yang sedang salling merangkul bahu dan tersenyum.
"Untuk ukuran pemula, kalian tampaknya tidak kaku berhadapan dengan kamera," ucap Kakashi setelah iklan selesai ditayangkan.
"Kami memang tidak kaku berhadapan dengan kamera, tapi kami bukan 'banci tampil' lho ya," tukas Naruto, membuat semua yang ada di ruangan tertawa.
"Oh ya, bagaimana kabar single kami, manager?" tanya Neji.
"Hari ini tepat seminggu setelah single kalian disiarkan di radio, dan kurasa kalian harus mengecek tangga lagu mingguan. Kalau kalian beruntung, single kalian bisa saja ada di daftar new entry," jawab Kakashi santai.
"Aku tidak sabar mengetahui bagaimana respon masyarakat Konoha," tutur Kiba.
"Hanya penasaran respon di Konoha saja?" tanya Kabuto yang juga ada di ruangan.
"Hn? Maksudmu?" Sasuke sedikit mengerutkan dahi.
"Ah, aku lupa memberitahukan kalian kalau lagu kalian sebenarnya sudah diputar di jaringan radio yang ada di Suna, Iwa, dan Kiri." Kakashi menyeruput kopinya.
"APA?" teriak Kiba dan Naruto bersamaan.
"Tsunade-san meminta kami untuk tidak memberitahu kalian. Dia ingin membuat kejutan," Kabuto ikut meneguk kopinya.
Berkat iklan yang mereka bintangi, nama Konoha's Academy mulai terdengar akrab sebagai bahan perbincangan di kalangan remaja. Awalnya mereka hanya dikenal sebagai bintang iklan, namun sejak single mereka dirilis, mereka juga mulai mendapatkan perhatian sebagai boyband dari Konoha Production.
"Ayo siap-siap. Kalian ada pemotretan untuk Konoha Teen Magazine dua jam lagi," ajak Kakashi.
"Osh!" Naruto bangun dari duduknya.
"Ngomong-ngomong Karin-nee mana? Dia tidak menyiapkan kostum kami?" tanya Kiba.
"Dia pasti sudah ada di studio dan sedang ribut disana," tebak Gaara yang langsung mendapat respon anggukan dan tawa pelan Kakashi.
Ya, seiring naiknya popularitas mereka, kini jadwal mereka pun mulai padat. Semua rasa lelah yang mereka rasakan setelah melewati proses 'pematangan' single mereka kini mulai membuahkan hasil. Tsunade ternyata adalah seseorang yang perfeksionis. Wanita itu terus memberikan latihan pada kelima pemuda itu agar lebih menguasai lagu mereka.
.
"Aku ingin mengambil fotomu dengan Sasuke, Naruto. Kau tidak keberatan kan?" tanya Jiraiya, fotografer professional yang bekerja di Konoha Production. Konoha Production dan Konoha Teen Magazine sudah lama bekerja sama, jadi kadang pihak KT mempercayakan pemotretan pada fotografer yang ditunjuk oleh Konoha Production, seperti yang terjadi sekarang.
"Aku dan Sasuke? Berdua?" tanya Naruto.
"Ya, kalian berdua saja."
"Baiklah," Naruto mengangguk dan melangkah memasuki setting yang memang sudah disiapkan sebelumnya.
Sasuke sudah ada di setting dengan Karin yang sibuk membetulkan coat yang dikenakan pemuda itu. Naruto berdiri disamping Sasuke dan menatap sang fotografer.
"Aku dan dia harus bagaimana?" tanya Naruto lagi.
"Emm… Bagaimana kalau..." Jiraiya tampak berfikir. "Ah, Sasuke, kau berdiri menghadap padaku dan buat pose santai. Naruto, kau berdiri menyamping dan bersandar pada sisi tubuh Sasuke," perintahnya.
Keduanya langsung melakukan apa yang sudah mereka dengar. Sasuke berdiri sesantai yang ia bisa, mengabaikan bayangan tentang 'kecupan selamat malam' yang kembali melintas di kepalanya. Naruto sendiri mulai bersandar pada Sasuke dan melipat kedua tangannya di depan dada. Sebelah kakinya menekuk dan hanya menempelkan ujung sepatunya ke lantai. Jiraiya sudah mulai mengambil foto ketika dua orang di hadapannya tampak siap.
Jiraiya memang berbeda dengan fotografer pada umumnya yang selalu memberi aba-aba sebelum menekan tombol kamera. Lelaki itu lebih senang mengambil foto tiba-tiba yang menghasilkan gambar natural.
"Kau tahu, Teme? Kakiku mulai terasa sakit sekarang," bisik Naruto, membuat Sasuke menolehkan wajah.
"Ini yang terakhir kan?" tanya Sasuke yang juga berbisik. Naruto menundukkan wajahnya dan mengangguk.
"Kurasa kakiku lelah karena terlalu lama berdiri," balas Naruto yang kini menolehkan wajahnya agar bisa menatap Sasuke dari ekor matanya.
"Sasuke, bisa kau lingkarkan tanganmu di bahu Naruto?" tanya Jiraiya.
"Apa?" Sasuke berusaha agar pertanyaannya tetap datar walau sesungguhnya ia terkejut dengan permintaan sang fotografer.
"Aku ingin kau melingkarkan sebelah tanganmu itu ke bahu Naruto," Jiraiya mengulangi ucapannya.
"Lakukan saja, Teme. Aku ingin pemotretan ini cepat selesai," bisik Naruto.
"Hn."
Sasuke melingkarkan tangannya di bahu temannya dengan sedikit kaku. Naruto terkikik geli merasakan Sasuke yang sepertinya tidak nyaman.
"Kau takut pacarmu marah karena melihatmu merangkulku seperti ini, Teme?" guraunya.
"Urusai, Dobe!"
Dan Naruto tak bisa menahan tawanya yang sudah diujung bibir. Suara tawa yang begitu menenangkan membuat Sasuke tersenyum simpul. Naruto sedikit merubah posisinya agar bisa melihat sisi wajah Sasuke.
"Kau tenang saja, aku akan membantumu menjelaskan pada gadis itu kalau dia sampai salah paham," bisik Naruto.
"Terserah apa katamu."
# # #
'Akhir pekan yang menenangkan' adalah harapan sederhana yang sama sekali belum didapatkan oleh semua anggota Konoha's Academy selama beberapa minggu terakhir. Single mereka mulai menapak ke dalam tangga lagu radio dan pemberitaan mulai terarah pada mereka. Hari-hari yang biasanya dihabiskan di gedung agensi pun mulai berubah.
Harusnya akhir pekan ini mereka bisa beristirahat sejenak, namun ternyata ada acara game show yang menunggu. Kakashi sebagai manager tampak tenang-tenang saja menghadapi padatnya jadwal, tapi tidak dengan kelima pemuda yang duduk di kursi penumpang.
"Bisakah kita berhenti di minimarket untuk membeli jus?" tanya Neji yang duduk di belakang Kakashi yang sedang menyetir. Mereka sedang dalam perjalanan menuju studio tempat game show diadakan.
"Baiklah. Kita masih punya waktu dua jam sebelum mulai on-air," ucap Kakashi.
Neji kembali merilekskan tubuhnya dan memakai headset yang terhubung dengan televisi kecil yang ada dibalik sandaran kepala Kakashi. Kiba yang duduk di sampingnya masih asyik dengan lagu yang didengarkannya dari ponsel. Gaara yang duduk di kursi paling belakang menopang dagu dan melempar pandangan ke luar jendela, sementara Naruto yang ada disampingnya menutup mata dengan tenang. Sang main vocal yang duduk disamping Kakashi sedang sibuk dengan laptopnya.
"Yak, kita sampai. Kalian mau ikut turun?" tanya Kakashi yang sudah memarkirkan mobil.
"Kau mau kita mendapat 'serangan tak terduga', manager?" sindir Kiba yang sudah melepaskan earphone-nya. Kakashi tertawa ringan.
"Jadi kalian mau pesan apa?" tanya lelaki itu.
"Sebotol jus dingin," jawab Neji cepat.
"Es krim! Aku mau eskrim coklat dan vanilla!" seru Kiba semangat.
"Kau mau pesan apa, Gaara, Sasuke?" tanya Kakashi.
"Aku juga mau jus, samakan saja dengan Neji. Ah, tolong beli beberapa bungkus snack kalau kau tidak keberatan," pinta Gaara.
"Belikan aku jus tomat, manager," tutur Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari layar benda di pangkuannya.
"Oke. Naru—"
"Belikan saja dia air mineral dan roti. Semalaman dia tidak tidur, jadi sebaiknya jangan dibangunkan," ucap Gaara.
"Ya sudah kalau begitu. Kalian duduk manis dan tunggu disini," ucap Kakashi yang langsung dihadiahi tatapan kejam ketiga pemuda yang ada di dalam mobil.
Sasuke merubah posisi duduknya menjadi menyamping. Pemuda itu mengarahkan tatapan ke sudut belakang mobil.
"Memangnya tadi malam dia melakukan apa sampai tidak tidur?" tanya Sasuke.
"Aku tidak tahu. Semalam aku langsung tidur sesampainya di apartemen," Neji angkat bahu.
Tatapan Sasuke mengarah pada Kiba yang malah menggelengkan kepala. Kini matanya tertuju pada Gaara yang sedang memperhatikan pemuda disampingnya.
"Kau tahu dia melakukan apa, Gaara?" tanya Sasuke.
"Dia hanya bilang kalau dia tidak bisa tidur, mungkin insomnia," jawab pemuda berambut merah itu tanpa mengalihkan tatapannya.
.
"Kau yakin kita bisa melawan Akatsuki? Jumlah anggota mereka kan banyak sekali," tanya Kiba yang sibuk merapikan T-shirt yang dikenakannya.
"Kau ini bicara apa? Mereka tidak mungkin memukuli kita, Kiba," Gaara berujar ringan.
"Tapi aku setuju dengan Kiba. Entah kenapa ini rasanya tidak adil. Kita hanya berlima, sedangkan mereka bersepuluh," Neji menambahkan.
"Oh, ayolah," Naruto mengerlingkan matanya. "Kita hanya akan bermain, aku bisa menjamin tidak akan ada yang babak belur selepas acara ini."
Gaara tertawa pelan mendengar ucapan sahabatnya. Setelah selesai bersiap, kelimanya melangkah menuju studio yang sudah disiapkan. Kakashi yang sudah lebih dulu ada di lokasi terlihat sedang berbincang dengan pembawa acara, Kotetsu dan Izumo.
"Tobi-niisan!" panggil Naruto sebelum kemudian menghampiri pemuda berambut raven panjang itu.
Tobi, yang tak lain adalah Uchiha Madara, adik bungsu dari ayah Sasuke, melemparkan senyum simpul ketika mendengar pemuda Uzumaki memanggilnya.
"Kukira kalian tidak akan datang," ucap Tobi.
"Maaf, kami sedikit terlambat," Naruto membungkukkan tubuh.
"Hei, sudahlah, toh acaranya juga belum dimulai kan? Jangan dengarkan ucapan leader kami," tutur Hidan yang tiba-tiba muncul dari belakang Tobi.
"Tapi kalau kalian tidak datang, kami akan sangat senang. Bukankah itu berarti kita akan mendapatkan bayaran dua kali lipat?" tanya Kakuzu yang berdiri disamping Hidan.
"Astaga, bahkan disaat seperti ini kau masih memikirkan masalah uang?" Zetsu menggeleng-gelengkan kepala.
"Kau ini seperti baru mengenal Kakuzu saja, un. Bagaimana kabarmu, Naruto?" Deidara menghampiri leader Konoha's Academy itu.
"Baik, niisan. Dan kurasa kalian semua juga sedang dalam keadaan yang baik," Naruto tersenyum memandang satu persatu anggota Akatsuki di depannya.
"Hei, Tobi, sejak kemarin kau belum memberitahu kami mengenai permainan yang akan kita lakukan sekarang," Kisame tampak penasaran.
"Sudah berapa kali kubilang, aku tidak tahu," Tobi menghela nafas.
"Memangnya manager sama sekali tidak memberi petunjuk apapun, un?" tanya Deidara yang hanya dibalas dengan gelengan kepala Tobi.
Naruto mengobrol ringan dengan senpai-senpai-nya yang tampak ramai seperti biasa. Leader Konoha's Academy ini memang cukup dekat dengan boyband yang sudah merintis karir lebih dulu di hadapannya. Sama seperti Konoha's Academy, Akatsuki pun merupakan kumpulan dari penyanyi solo yang memenangkan kontes vokal. Dan melalui ajang kontes vokal lah Naruto mengenal satu persatu anggota Akatsuki.
Naruto pamit pada 'kakak-kakak'nya sebelum berkumpul dengan timnya yang sendang mengenakan jas berwarna kuning cerah. Semetara itu, anggota Akatsuki mulai memakai jas berwarna biru gelap yang sudah disediakan wardrobe.
.
Kelimabelas pemuda yang tengah menjalani shooting game show serempak menatap tak percaya pada 'sesuatu' yang tersaji di atas piring. Beberapa saat yang lalu Kosetsu, sang pembawa acara, membuka penutup yang ada di atas piring.
"Jadi, ini adalah Jolokia," ucap Izumo, rekan Kotetsu.
"Jo… Jo apa?" Kisame mengerutkan dahi.
"Jolokia. Ini adalah cabai terpedas di dunia yang sudah tercatat di Guinness Book of World Records," Kotetsu berdiri di samping Izumo.
"Cabai? Namanya sama sekali tidak familiar," ungkap Gaara.
"Cabai ini berasal dari India, jadi sangat wajar kalau kalian baru melihatnya," Izumo memberitahu.
"Di-import dari India? Pasti harganya mahal sekali," cetus Kakuzu.
"Lalu, apa yang akan kami lakukan dengan cabai ini, un?" Deidara menunjuk cabai yang ukurannya lebih besar dari cabai 'normal'.
"Permainannya sangat mudah," Izumo mengembangkan senyum.
"Kalian hanya perlu menggigit sedikit cabai itu dan mengunyahnya sebanyak lima kali sebelum kemudian memuntahkannya," Kotetsu menjelaskan.
"Dan kami akan merekam reaksi kalian setelah merasakan cabai ini," Izumo melanjutkan. "Permainan ini akan membuktikan siapa yang bisa melawan rasa pedas dari cabai Jolokia."
"Baiklah, ayo segera kita mulai. Berhubung kalian mempunyai anggota paling banyak, Akatsuki akan bermain lebih dulu." Izumo meminta kesepuluh anggota Akatsuki untuk mendekati meja.
Karena Akatsuki bermain lebih dulu, kelima anggota Konoha's Academy segera menyingkir ke meja yang sudah disiapkan untuk tempat bermain mereka nanti. Izumo mengambil satu cabai, sementara Kotetsu memberikan beberapa mangkuk ukuran besar untuk tempat memuntahkan cabai yang sudah dimakan.
"Sebagai leader, kau tidak keberatan kalau kupilih sebagai pemain yang mencoba pertama kan, Tobi?" tanya Izumo.
Izumo menyodorkan cabai yang ada di tangannya tepat di depan mulut sang Uchiha. Tobi menggigit ujung cabai dan mulai mengunyah. Penonton ikut menghitung kunyahan yang dilakuan pemuda berkulit putih itu. Setelah hitungan lima, Tobi langsung memuntahkan cabai dari mulutnya.
"Oh, sepertinya reaksi pedasnya langsung terasa. Lihat, wajah Tobi mulai memerah," ungkap Kotetsu.
"Dan kurasa matanya mulai berkaca-kaca," timpal Izumo.
Tobi menutup matanya rapat-rapat dan menyandarkan kepalanya di bahu Yahiko yang berdiri tepat di sampingnya.
"Sementara Tobi menikmati rasa pedas cabai ini, ayo kita lanjutkan dengan yang lain," tutur Izumo.
Tobi meremas bahu Yahiko dengan cukup keras, tapi hal itu malah membuat rekannya tertawa.
"Kurasa Tobi benar-benar merasakan pedasnya," ungkap Yahiko, membuat yang lain tertawa.
"Deidara, Hidan, Yuura, dan Kisame, ayo kalian coba." Izumo menyodorkan cabai ke hadapan keempat pemuda yang tadi dipanggilnya.
Satu persatu dari mereka menggigit cabai Jolokia dan mengunyahnya sebanyak lima kali. Deidara langsung menundukkan kepala dan memijit pelipisnya, sementara Yuura membalikkan tubuh untuk menyembunyikan matanya yang sudah berair. Hidan terbatuk beberapa kali karena rasa pedas cabai sukses menyerang bagian hidungnya, dan Kisame berusaha keras menahan diri untuk tidak berteriak.
"Sepertinya cabai ini benar-benar pedas ya?" tanya Kotetsu sambil memberikan botol air mineral pada semua yang sudah 'mencicipi' cabai Jolokia yang disediakan.
"Ah, lihat, mata Sasori bahkan sampai memerah," ucap Izumo.
"Kau baik-baik saja, Itachi?" tanya Kotetsu.
Itachi hanya mengangguk pelan dengan kedua tangan menutupi mulut. Yahiko yang tadi tenang kini mulai merasakan panas akibat pedasnya cabai yang ia makan, dan hal yang sama juga terjadi pada Kakuzu dan Zetsu.
Setelah berhasil meredakan rasa pedas yang seolah membakar lidah disaat iklan berlangsung, kesepuluh anggota Akatsuki kini membuat formasi setengah lingkaran di sekitar meja Konoha's Academy.
"Ya! Setelah semua anggota Akatsuki mencoba cabai Jolokia di sesi pertama tadi, sekarang giliran anggota Konoha's Academy yang mencobanya," Kotetsu membuka acara.
"Untuk yang pertama… Bagaimana kalau kita mulai denganmu, Gaara?" Izumo memberikan sebuah cabai pada sang Sabaku.
Gaara memegang cabai itu dan memperhatikannya. Perlahan ia mengarahkan cabai ke mulutnya, namun belum sampai digigit, ia kembali menjauhkan cabai dari wajahnya.
"Aku benar-benar khawatir sekarang," cetusnya, membuat penonton dan semua yang ada di setting tertawa.
Setelah memantapkan diri, akhirnya Gaara menggigit cabai di tangannya dan mengunyahnya sebanyak lima kali. Deidara langsung menyodorkan mangkuk, dan Gaara memuntahkan hasil kunyahannya.
Gaara membalikkan tubuh dan terbatuk karena aroma cabai yang menusuk indera penciumannya.
"Ayo kita lihat bagaimana keadaan Gaara," Kotetsu membalikkan tubuh si pemuda berambut merah.
"Wah, dia terlihat baik-baik saja!" seru Izumo saat melihat raut wajah Gaara yang tenang.
"Apa perbedaan cabai Jolokia dan cabai lain yang pernah kau makan sebelumnya, Gaara?" tanya Kotetsu.
"Karena ini adalah cabai paling pedas, tentu saja rasanya lebih pedas daripada cabai biasa," ucap Gaara polos, membuat suara tawa kembali terdengar.
Gaara menyingkir dari samping Izumo dan membiarkan sang pembawa acara memberikan perlakuan yang sama pada keempat temannya. Naruto, Neji, Kiba, dan Sasuke mengunyah secara bersamaan.
"Sekarang kita tinggal menunggu reaksi—Ah, sepertinya Gaara mulai merasakan pedasnya," Izumo menunjuk ke arah Gaara yang berdiri diantara Sasuke dan Deidara.
Gaara terlihat menutup mulutnya dengan sebelah tangan, sementara kedua matanya mulai berair. Beberapa saat kemudian, Neji sedikit berteriak ketika rasa pedas dan panas menjalar di lidahnya.
Beberapa anggota Akatsuki tampak melepaskan tawa melihat sikap kedua angota Konoha's Academy yang 'berbeda' dari biasanya.
"Tapi ah, Naruto, Kiba dan Sasuke sepertinya tidak terpengaruh," cetus Izumo.
Kamera mengarah pada Naruto yang berdiri dengan tenang, dan kemudian mengarah pada Kiba yang malah terus mengunyah cabai di mulutnya.
"Hei, bagaimana mungkin mereka bisa setenang itu?" tanya Zetsu.
"Kami jadi seperti sedang bersandiwara di televisi," cetus Hidan, membuat suara tawa kembali terdengar.
"Mereka bertiga sama sekali tidak merubah ekspresi mereka, benar-benar hebat," puji Kotetsu.
"Mungkin itu karena Naruto adalah penyuka makanan pedas, sementara Kiba adalah orang yang hobi makan. Mereka mungkin terbiasa dengan rasa pedas seperti ini. Kalau Sasuke, aku yakin lead vocal Konoha's Academy ini tidak kesulitan menaklukan rasa pedas," Izumo berpendapat.
Kotetsu mengambil cabai yang tadi digigit Naruto dan memperhatikannya dengan seksama.
"Tapi cabai yang mereka makan adalah cabai yang sama seperti yang dimakan anggota Akatsuki. Bagaimana mungkin mereka tidak merasakan pedasnya?"
Semua anggota Akatsuki sama sekali tidak percaya dengan apa yang ada di depan mereka. Bagaimana mungkin Naruto, Kiba dan Sasuke tidak menunjukkan perubahan ekspresi setelah merasakan rasa pedas dari cabai yang mereka makan?
"Ah, cabai ini…" Naruto berucap untuk pertama kalinya setelah ia memakan cabai. "Sepertinya cabai ini bisa membuat masakan yang kita buat menjadi lebih enak," lanjutnya.
Entah bagaimana caranya, semua anggota Akatsuki menyuarakan kata tanya 'Apa?' secara bersamaan. Hidan menatap Naruto dengan mata melebar, dan Deidara menggelengkan kepala.
"Kau pasti sudah gila," Yuura bersuara.
"Bagaimana mungkin cabai ini dijadikan salah satu bahan makanan? Kau mau membunuh seseorang?" tanya Hidan dengan wajah horor.
"Eh? Tapi menurutku cabai ini bisa dimakan," ucap Naruto. "Cabai ini malah terasa lebih manis dari cabai yang lain."
"Apa?" Zetsu dan Hidan menatap junior mereka dengan tatapan tak percaya.
"Manis?" Sasori dan Itachi mengulangi pendapat Naruto.
"Sepertinya ada yang salah dengan kalian," celetuk Yahiko.
"Tapi aku setuju dengan Naruto. Cabai ini punya aroma, seperti buah," Neji mengungkapkan pendapatnya.
"Aku pasti berbohong kalau aku berkata bahwa cabai ini tidak pedas. Tapi ada rasa enak diantara rasa pedasnya," ujar Kiba.
Sementara para anggota Akatsuki meragukan pendapat yang mereka dengar, Naruto dan keempat rekannya meneguk susu dan air mineral yang sudah disediakan.
"Cabai itu memang pedas," ucap Naruto setelah menelan air minumnya.
"Then how come you're not suffering?" tanya Hidan dengan nada iri yang kekanakan, membuat penonton tertawa. "Why are you having so much fun?"
Naruto, Kiba, dan Gaara melepaskan tawa setelah mendengar pertanyaan lawan mereka.
TBC
Author Notes: saya senang-senang lagi di chapter ini~ Mood untuk menulis fic yang serius hilang lagi, jadi inilah hasilnya. Saya memakai nama 'Tobi' untuk Madara, tapi yang dibayangkan sosok Madara-nya ya, jangan sosok Tobi. Oh iya, kalau mau tahu acara makan cabai yang saya ceritakan di atas, silakan cari di YouTube, keyword-nya 'DBSK VS SUPER JUNIOR! eating pepper contest'. Yup, boyband-nya DBSK dan SuJu~ XD
Balasan review:
Vii no Kitsune: masalah pairing sepertinya akan terjawab nanti, tapi saya tidak mau menjanjikan apa-apa, hehee. Chapter ini lebih panjang kah? Semoga bisa bertahan untuk terus mengikuti perkembangan fic ini~ ^^
