YAHAAAAA….
KECEBONG SIALAN UpDate nih….
Maaf kalo sayah lelet tip kali update….
Soalnya….
SIBUK dengan tugas sekolah yang bejibun!
Oceh…..
Yonde kudasai…
CHAPPIE 3
Garis-garis putih tampak menutupi birunya langit dengan sempurna. Bahkan sang cahaya kehidupan seolah enggan bersusah payah untuk menyumbangkan kehangatannya di siang hari ini.
Garis-garis putih di atas sana tampak semakin menebal dan menyebabkan hawa yang semula dingin menjadi semakin dingin.
Hawa dingin dengan bangganya memaksa masuk melalui jendela yang terbuka. Bahkan hawa dinginpun dengan suksesnya mengembalikan alam pikiran seorang pemuda tampan dari alam mimpinya ke dalam dunia nyata.
Kedua kelopak mata pemuda itu mengerjap. Perlahan kedua kelopak mata itu menghadirkan sepasang mata musim gugur yang begitu memukau. Warna pertama yang di lihat sepasang mata indahnya adalah putih. Ya, putih. Ia menatap kosong langit-langit putih kamarnya yang megah.
Ia melirik jemari tangan kanannya yang sudah tidak terasa sakit. Jemari tangannya di bebat oleh beberapa lapisan perban putih. Sejenak ia memijit pelipisnya. Entah sudah berapa lama ia terlelap dengan damainya.
"Sudah bangun?" Sepasang mata musim gugur itu mengarahkan pandangannya pada sumber suara. Di lihatnya sebuah senyum lembut dari wanita yang memiliki mata emas yang berbinar cerah.
Pemuda musim gugur itu memilih untuk bangkit dari ranjangnya yang nyaman.
"Jam berapa sekarang?" Tanya pemuda itu sambil memakai kedua sepatu hitamnya.
"Jam setengah dua," Jawab sang wanita, lalu melangkah menghampiri pemuda itu, "Mau makan siang dulu?" Tawarnya lembut.
Mata musim gugur pemuda itu menatap datar mata emas wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. Namun, tak ada jawaban dari mulut si pemuda.
"Kalau memang ada yang ingin kau diskusikan denganku dan pamanmu, katakan saja. Kami akan mendengarkannya." Senyum lembut wanita itu sama sekali di acuhkan oleh si pemuda.
"Aku pergi." Pemuda itu melangkah perlahan menjauhi ranjangnya menuju pintu kamarnya.
"Ichi," Pemuda itu berhenti sesaat. "Temuilah Orihime dan teman-temanmu serimg-sering."
"Hn." Pemuda itu berguman lalu melengang pergi.
oOo
Pemuda dengan raut wajah muram melajukan mobil Mitsubishi Evo VI merahnya dengan cepat. Ia tidak meyadari bahwa ia terlelap hingga jam makan siang. Mobil it terus melaju menyusuri jalanan perkotaan yang cukup sepi akibat temperatur yang rendah. Pandangan mata pemuda itu semakin menajam saat di lihatnya bangunan mewah yang tadi pagi di tiggalkannya.
Di parkirkan mobillnya, lalu dia melangkah cepat memasuki lift.di tekannya tombol angka sembilan. Setelah beberapa saat menunggu, pintu lift pun terbuka. Hanya butuh melewati dua pintu kamar untuk dapat sampai di depan pintu apartemen yang sudah hampir empat tahun menjadi miliknya, namun baru dua hari ini dia tinggali.
Mata musim gugur itu melebar ketika melihat pintu apartemennya tidak tertutup sempurna. Ia segera memasuki dan melangkah cepat menuju kamarnya. Di arahkan pandangannya menyusuri tiap sudut kamar mewahnya.
DAMN!
Gadis itu tidak ada. Gadis itu pergi entah kemana. Dan itu murni kesalahannya yang dua hari lalu memberikan duplikat kunci apartemennya pada gadis itu.
Pemuda itu merogoh saku celananya. Mengambil ponsel dan mengetik beberapa nomor yang ia hafal di luar kepala. Terdengar beberapa kali nada tunggu dan detik berikutnya terdengar suara ceria seorang gadis.
"Orihime, apakah Rukia ada di sekolah?" Kata si pemuda tanpa basa-basi.
"Ti..tidak, Dia-"
Tuuut….tuuut….
Pemuda itu langsung memutuskan sambungan telefonnya.
Kemudian pemuda itu kembali mengetik beberapa nomor. Namun, tidak terdengar apapun kecuali pemberitahuan bahwa nomor yang di tujunya sedang tidak aktif.
BRAK!
Ponsel yang semula di pegang pemuda itu terbang menghantam dinding hingga pecah menjadi beberapa bagian yang kini di tatapnya nanar.
BRUAK!
Pemuda itu membanting pintu kamar, lalu melangkah cepat keluar dari apartemennya.
"Berani-beraninya dia melarikan diri dariku."
oOo
Keheningan sedari tadi telah melanda tiga pemuda yang memerhatikan lekat-lekat objek yang tengah memandang kosong pemandangan serba putih di balik kaca jendela besar di ruangan yang megah yang hanya di sinari oleh lampu mungil. Meskipun tirai dua jendela besar itu terbuka, tetap saja ruangan itu terasa remang. Sesosok tubuh mungil yang berdiri di hadapan salah satu jendela itu diam membisu. Begitupun tiga pemuda yang berusaha bersikap sabar untuk menanti deti-detik dimana mulut sosok mungil itu bergerak dan mengeluarkan suara.
Ketiga pemuda itu saling pandang dengan bingung. Meski jemari-jemari mereka memegang kristal bening berisi whte wine yang berkadar alkohol rendah guna memertahankan suhu tubuh, seteguk bahkan setetes pun, cairan bening itu belum membasahi kerongkongan mereka yang kering. Mereka hanya menunggu. Menunggu sampai sosok yang menjadi objek indera penglihatan mereka menjelaskan tentang apa yang tengah menimpa dirinya.
Gadis bertubuh ringkih itu seolah-olah bisa kapan saja terjatuh pingsan. Wajahnya pucat dengan mata yang terus menatap kosong pada tiap objek yang di lihatnya. Tubuhnya yang hanya terbalut seragam sekolah, seolah tidak menyadari betapa dinginnya temperatur siang ini.
Kaki mungilnya yang terbalut sepasang kaus kaki hitam dan sepatu pantofel hitam terus berdiri menopang tubuhnya tanpa lelah. Jemari-jemari tangan kirinya dia letakkan di permukaan kaca transparan yang terasa dingin. Sementara jemari-jemari tangan kanannya dia gunakan untuk menyelipkan sebatang benda panjang putih yang dari ujungnya meneluarkan kepulan asap.
Gadis itu menempelkan ujng yang lain dari benda putih itu di bibirnya. Sejenak, ia menghisap dalam-dalam benda itu, lalu kepulan asap keluar dari mulut serta hidung mungilnya, menyebabkan aroma khas benda itu menyebar bersama udara ke segala sudut ruangan besar itu. Gadis itu seolah-olah tak peduli pada tiga pemuda yang sedari tadi mengawasi kegiatannya. Ia benar-benar tak peduli.
"Haah….Rukia, sebenarnya kau kenapa?" Salah satu dari tiga pemuda yang tengah tiduran di sofa hijau dalam ruangan itu akhirnya mengelurakan suara untuk membuang rasa bosannya. Rambut merahnya yang di kuncir ke belakang tampak tetap tertata rapi. Gelas bening berisi wine yang di pegannya ia letakkan di atas meja.
"Apakah kau tahu seberapa bahayanya benda yang ada di tanganmu itu?" Suara dingin namun tegas itu tetap tak menarik perhatian gadis yang beginya sudah seperti adiknya sendiri. Pemuda berambut salju itu menyeruput sedikit wine dari kristal bening yang di pegangnya sedari tadi. Mata pemuda itu menatap serius layer televise yang menyajikan gambar-gambar bergerak.
"Tak usah pedulikan aku!" Guman gadis itu. Tangan kirinya ia gerakkan untuk mengambil gelas wine nya, lalu ia teguk habis cairan itu yang semula berisi setengah dari tempatnya.
"Bagaimana bias aku tak peduli padamu?" Teriak pemuda yang berdiri tak jauh dari tempat gadis itu berdiri. Raut wajah pemuda itu tampak kesal. Rahang bawahnya bergerak tanda bahwa ia benar-benar kesal pada tingkah gadis yang ia sayangi. Di tempelkannya kristal bening tepat di pipinya yang memiliki tato dengan angka '69' untuk sebisa mungkin tidak meluapkan amarahnya secara berlebihan.
"Dengar! Kau piker kami tidak bisa menebak apa masalahmu, hah?" Nada bicara pemuda itu mulai meninggi. "Kau bertengkar lagi dengan Ichigo, kan?"
"Hisagi, diam kau!" Bentak gadis itu tanpa menoleh padanya. "Jangan biarkan telingaku mendengar lagi nama itu!"
"Munafik." Umpat pemuda berambut salju dengan penuh penekanan. "Bilang saja kau nasih belum bisa menerima kenyataan bahwa kau dan Ichigo menjadi saudara tiri."
"TOUSHIRO, kau juga diam!" Bentak gadis itu lagi.
""MUNAFIK!"
"DIAM!"
PRANG!
Nafas gadis itu terengah-engah tanda bahwa dia benar-benar mencapai puncak kemarahanny. Mata violet gelap itu menatap nanar pecahan gelas yang tadi di bantingnya ke lantai.
Raut wajah ketiga pemuda itu tampak kaget. Mereka tak pernah melihat wajah penuh amarah gadis mungil yang selama dua tahun ini selalu ceria dan penuh semangat. Hamper dua tahun mereka mengenal baik gadis itu. Mereka tak menyangka, bahwa Ichigo Kurosaki, sang pemuda keras kepala, kasar, dan sangat dingin itu, dua tahun lalu bisa mendapatkan kekasih dengan sifat yang sangat berbeda satu sama lain.
Meskipun awalnya ketiga pemuda itu menganggap Ichigo sebagai lolicon, tapi semakin lama mereka tahu sifat Rukia, mereka akhirnya mengerti apa yang di sukai oleh sahabatnya dari gadis itu.
"Kubilang jangan sebut nama it-"
BRAK!
Geraman Rukia terhenti oleh suara daun pintu yang di buka dengan kasar hingga membentur dinding. Pandanga keempat pasang amta itu tertuju pada sesosok proporsional dengan rambut orange-menyala yang tengah melangkah dengan raut wajah muram menuju tempat gadis mungilnya berdiri.
"Haah…..sekarang apalagi?" Toushiro hanya mengguman bosan.
Langkah pemuda tampan itu berhenti tepat di hadapan si gadis yang tengah menatap kosong mata musim gugur pemuda itu dan tentu saja dengan tetap menghisap rokok yang terselip di antar jari tengah dan jari telunjuknya. Mata violet gelap gadis itu semakin lama semakin terlihan menantang. Dan….
PLAAAKKK!
TBC
NYAHAHAH…
Cukup panjang kan?
RIPYU?
