Konoha's Academy

Disclaimer : selalu jadi miliknya Kishimoto Sensei…

Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst.

Author Notes: Aaaah, maafkan saya karena tidak mencantumkan disclaimer dari game show yang saya gunakan di chapter sebelumnya. Itu adalah salah satu episode EHB, dan EHB jelas bukan milik saya. Saya benar-benar ceroboh kemarin. Untuk selanjutnya, kalau saya membuat kealfaan lain, tolong tegur saya. Dan terimakasih untuk 'Just me' yang sudah mengingatkan ^^ Okay, enjoy your time!

Enjoy It!

#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#

.

Ninth Chapter : Scandal

.

Sasuke memperhatikan sepasang tangan berkulit tan yang sedang sibuk merapikan lipatan lengan kemeja yang dikenakannya. Sementara itu, Naruto tampak serius membantu teman dekatnya merapikan diri.

"Sejak tadi kita sudah menarik banyak perhatian, dan apa yang sedang kau lakukan saat ini sepertinya berhasil membuat kita merebut perhatian semua orang, Dobe," bisik Sasuke dengan suara datarnya.

"Ck, kau masih mempermasalahkan pendapat mereka, Teme? Apa kau tidak bisa sekali saja mengabaikan hal-hal semacam itu?" Naruto menarik kedua tangan Sasuke dan memperhatikan kedua lengan kemeja yang sudah rapi.

"Hn, arigatou."

Setelah 'menikmati' cabai Jolokia dan memaksa dua pembawa acara untuk ikut memakan cabai yang berasal dari India itu, akhirnya acara game show selesai. Neji dan Gaara sedang menemani Kiba membeli makan malam, sementara Naruto dan Sasuke masih di restroom, menunggu manager mereka yang belum juga tampak sejak acara selesai.

Satu tepukan yang singgah di lengannya berhasil membuat pemuda berambut pirang menolehkan kepala. Dan sosok yang kini berhadapan dengannya berhasil membuat sang Uzumaki menahan napas.

Sasuke yang juga memperhatikan sosok pemuda yang berusia dua tahun diatasnya itu hanya diam. Tak ada yang berubah di raut wajahnya, tapi Naruto bisa merasakan intensitas kewaspadaan sang Uchiha meningkat.

"Lama tak jumpa, Uzumaki Naruto."

Naruto terdiam sembari memperhatikan sosok pemuda bertubuh tegap di hadapannya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Kau tidak mau menjawab sapaanku? Jahat sekali," ucap pemuda itu dengan nada merajuk yang dibuat-buat.

"Baka! Aku menghubungimu sejak seminggu yang lalu, dan kau baru muncul sekarang? Kenapa tadi sebelum acara dimulai aku tidak melihatmu bersama Tobi-nii dan yang lain? Jangan katakan kalau sebenarnya kau terlambat datang!" ucap Naruto panjang setelah sebelumnya mendaratkan jitakan di kepala Yahiko, pemuda yang menyapanya.

Yahiko, pemuda yang berusia dua tahun lebih tua dari Naruto, mengusap bagian atas kepalanya sembari menggerutu. Sementara itu Naruto melipat kedua tangannya di depan dada dan memasang mimik wajah kesal.

"Kau tetap kasar seperti biasa. Harusnya kau sopan pada kakakmu ini, tahu!" ucap Yahiko. "Oh, hei, Sasuke."

Sasuke sedikit membungkukkan tubuh untuk memberi hormat, dan hal itu membuat Yahiko melepaskan tawa. Sejak dulu Sasuke selalu bersikap sangat sopan pada siapapun, khas keluarga Uchiha.

"Andai adikku yang satu ini bisa bersikap sebaik kau, Sasuke," tutur Yahiko.

"Shut up!" balas Naruto. "Kau tidak keberatan kalau kutinggal sebentar, Teme? Aku harus menghukum kakakku ini karena mengabaikanku selama seminggu terakhir."

"Hn."

"Baiklah. Ayo kita selesaikan urusan kita, kakakku sayang," ajak Naruto sembari menunjukkan seringaiannya.

Yahiko menelan ludah dengan susah payah. Naruto melewati pemuda berkulit sawo matang itu dan melangkah keluar dari ruangan.

"Ah, hampir saja aku lupa. Itachi sejak tadi mencarimu, sepertinya ada hal yang ingin dia bicarakan," ucap Yahiko sebelum menyusul si Uzumaki meninggalkan ruangan.

Sasuke menghela nafas. Inilah alasan kenapa tingkat kewaspadaannnya meningkat sejak matanya menangkap sosok Yahiko tadi. Kalau Yahiko bisa masuk ke restroom Konoha's Academy, kemungkinan besar kakaknya juga bisa memasuki ruangan ini. Sasuke langsung menolehkan kepala ketika mendengar suara pintu yang terbuka.

"Kau kenapa, Sasuke?" tanya Neji yang heran dengan reaksi rekannya.

Sasuke hanya menghela nafas dan menggelengkan kepala. Neji meninggalkan pintu yang terbuka dan berjalan menuju meja yang ada di ruangan itu untuk mengambil tas yang tadi ditinggalkannya.

"Mana Gaara dan Kiba?"

"Mereka sudah bergabung dengan manager. Aku kemari hanya untuk mengambil barang dan mengajakmu plus Naruto ke restoran."

"Hn."

Sasuke yang sudah bersiap mengikuti Neji terpaksa mengurungkan niatnya ketika mendengar suara yang amat familiar menyapa gendang telinganya. Neji memandang si pemanggil sebelum kemudian menatap lead vocal-nya.

"Sepertinya kau ada urusan, lebih baik aku pergi duluan. Kau bisa menyusul nanti," ujar Neji sebelum meninggalkan dua Uchiha yang ditemuinya.

.

"Lama tidak berjumpa, Kakashi-san," sapa Yahiko sembari membungkukkan tubuh pada manager boyband adiknya. Ia baru saja diseret Naruto ke restoran tempat Konoha's Academy makan malam hari ini.

"Lama tidak berjumpa, Yahiko. Duduklah," Kakashi menunjuk kursi kosong di sebelahnya.

Sementara Yahiko berbincang ringan dengan Kakashi, Naruto tampak asyik memperhatikan suasana sekitar sampai Kiba menyenggol sikunya.

"Ada apa, Kiba?" tanya Naruto tanpa memandang wajah pemuda penyuka anjing itu.

"Kau kenal dengan Yahiko-san sebelum pertemuan kita di game show tadi, Naru-nii?"

"Tentu saja, dia adalah salah satu kakakku."

"Eh? Maksudnya?" Kiba mengerutkan dahi.

"Aku bertemu beberapa kali dengannya dan anggota Akatsuki yang lain saat mengikuti kontes vokal. Terlepas dari itu, Yahiko adalah Haru," jawab Naruto singkat.

Kiba langsung memandang pemuda berambut oranye yang kini tengah melepaskan tawa bersama Kakashi. Inuzuka muda ini sama sekali tidak menyangka bahwa Yahiko Akatsuki adalah salah satu dari keempat anggota Yottsu Kikou.

"Ah, Naru, hampir saja aku lupa memberitahumu. Sasori mengundangmu menginap di apartemen kami kalau kau ada waktu senggang," ujar Yahiko.

"Benarkah?" tanya Naruto dengan mata berbinar. Sasori adalah kakak favoritnya di Akatsuki. Walaupun pendiam, pemuda berambut merah itu adalah kakak terbaik bagi Naruto—selain kakak kandungnya tentu saja.

"Ya. Dia mengundangmu dan juga keempat anggota Konoha's Academy yang lain untuk menginap. Kabari dia secepatnya kalau kau sudah mendapatkan waktu luang."

"Oke!" Naruto mengacungkan ibu jarinya dengan semangat, membuat Yahiko sedikit menggembungkan pipi.

"Kalau aku yang mengajakmu menginap, kau tidak pernah sesenang itu, Naruto," ungkapnya. Naruto mengerlingkan mata bosan.

"Berhenti bersikap seperti anak kecil, Yahiko. Kau harusnya sadar, pemuda berusia duapuluh tahun tidak akan menggembungkan pipi dengan cara kekanakan seperti itu," tegur Naruto.

Kiba menatap Naruto tak percaya. Biasanya, dalam situasi apapun, Naruto selalu memanggil orang lain dengan akhiran '-san' untuk menjaga kesopanan, tapi kenapa dia memanggil Yahiko tanpa akhiran itu? Bukankah Yahiko dua tahun lebih tua darinya?

"It's a habit you know," balas Yahiko. "Kau juga tidak akan bisa menahan diri untuk tidak melakukan kebiasaan macam ini kalau usiamu beranjak duapuluh tahun nanti."

Kini sang Inuzuka mengerutkan dahi. Entah ini hanya perasaannya saja, atau memang Yahiko dan Naruto mempunyai banyak kemiripan?

"Kau kenapa, Kiba?" tanya Naruto.

"Ngg, tidak."

"Kau tidak akan bisa membohongiku," Naruto duduk bersandar. "Katakan padaku apa yang ada di dalam kepalamu itu."

Kiba menghela napas panjang. Kadang ia merasa kalau Naruto mempunyai indera keenam, karena kakaknya itu selalu tahu kalau ada yang disembunyikan darinya.

"Aku hanya heran, rasanya kau dan Yahiko-nii memiliki banyak kemiripan. Kalian benar-benar seperti saudara kandung," ungkap Kiba.

Kakashi tampak mengalihkan pandangan dari bukunya, dan Naruto terlihat bertukar pandang dengan Yahiko dengan alis terangkat.

"Kalian belum memesan makanan? Aku sudah lapar sekali." Gaara mengambil tempat duduk di antara Naruto dan Kiba. Ia menganggukkan kepala ketika matanya bertemu pandang dengan Yahiko.

"Aku setuju denganmu, Gaara," dukung Neji yang baru saja datang dan disusul Sasuke.

"Kenapa kau baru datang, Teme?" tanya Naruto.

"Ada sedikit keperluan," Sasuke duduk di sebelah Yahiko.

"Kukira kau akan langsung kemari," tutur Gaara dengan pandangan terarah pada pemuda berambut coklat panjang.

"Aku menunggu Sasuke menyelesaikan keperluannya," balas Neji.

"Manager, cepat panggil waiter dan pesankan kami makanan. Aku sudah tidak tahan~" pinta Kiba yang tampak lemas dan menempelkan dagu di atas meja.

"Setuju," timpal Gaara singkat.

"Kau harus cepat memesan, manager, kalau tidak, akan ada dua orang yang pingsan karena kelaparan," cetus Naruto.

"Maksudmu apa, leader-kun?" Gaara menatap tajam senpai-nya.

"Tidak bermaksud apa-apa, aku hanya tidak ingin paparazzi menyebarkan foto kalian yang sedang kehabisan tenaga. Bisa-bisa mereka memberitakan kalau aku tidak mengurus kalian dengan baik," papar Naruto asal.

Gaara langsung mencubit lengan tan milik Naruto, sementara Kiba menginjak kaki kakaknya dengan tidak tanggung-tanggung. Sasuke dan Neji hanya tertawa pelan melihat tingkah kekanakan teman-teman mereka. Yahiko memperhatikan interaksi di depannya dan tersenyum.

"Mengingatkanmu pada masa lalu, Yahiko?" tanya Kakashi sedikit berbisik.

"Ya," Yahiko menghela nafas, "Sangat mengingatkanku pada masa lalu," lanjutnya berbisik.

# # #

Seiring berjalannya waktu, kini Konoha's Academy makin dikenal publik. Setelah meluncurkan single, beberapa hari yang lalu, MV "Now or Never" diputar di beberapa acara musik. Dan responnya cukup memuaskan.

"Kukira kita akan langsung terkenal setelah meluncurkan MV, tapi ternyata tidak," celetuk Kiba sembari duduk di sofa panjang yang ada di ruangan santai management. Tangan kirinya sibuk memegang milk shake, sementara tangan kanannya membawa sandwich yang dibuatkan Naruto pagi tadi.

"Persaingan pasar nasional tidak selenggang pasar daerah, Inuzuka. Konoha memang bisa dibilang wilayah pasar entertainment, tapi bukan berarti akses menuju kepopuleran terbuka lebar," Neji meneguk isi kaleng jus miliknya.

"Tapi untuk ukuran pendatang baru, kita termasuk beruntung karena bisa diterima dan disambut dengan baik oleh pasar musik," Naruto angkat bicara.

"Ralat ucapanmu tadi, Naruto. Kurasa kita tak seberuntung itu."

"Apa maksudmu, Gaakun?"

"Oh, great. Welcome to infotaiment world," tutur Sasuke yang berdiri di belakang Gaara.

Secara hampir bersamaan Naruto, Kiba, dan Neji mendekati Gaara yang sejak tadi asyik berduaan dengan laptopnya. Dan apa yang ditampilkan di layar laptop si bungsu Sabaku sukses membuat ketiganya melebarkan mata.

"For the God's sake!" Kiba tak bisa menahan keterkejutannya. "Kalian benar-benar berkencan, Gaara-nii dan Neji-nii?" tanyanya sesaat kemudian.

Dan yang menjawab pertanyaan itu adalah jitakan Neji plus injakan kaki Gaara untuk si bungsu. Sementara Kiba mengaduh kesakitan, Naruto sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari gambar-gambar Neji dan Gaara yang diambil secara diam-diam dan dipublikasikan di salah satu search engine online.

"Ah, sepertinya kalian sudah tahu."

Semua mata kini mengarah pada Kakashi yang baru saja memasuki ruangan. Lelaki berambut perak itu tampak tersenyum dari balik masker yang selalu dikenakannya.

"Tapi perlu kuberitahu kalau berita mengenai 'kencan' Neji dan Gaara sudah tersebar luas di Konoha," lanjutnya.

Kiba segera meraih remot televisi dan memilih channel televisi lokal, sementara Naruto tampak sibuk mengaktifkan radio ponselnya.

"This is really great," ungkap Gaara sakratis.

Sasuke memilih untuk duduk bersisian dengan sang manager dan memperhatikan semua ekspresi yang tampak di wajah keempat rekannya.

"Bagaimana pendapatmu, Sasuke?" tanya Kakashi.

"Nothing."

Saat ini layar televisi sedang menanyangkan video yang diambil diam-diam ketika Neji dan Gaara pergi bersama saat April Fools Day lalu, sementara salah satu stasiun radio sedang menyiarkan rumor mengenai kedekatan dua anggota Konoha's Academy itu.

"Berita ini cukup menyebalkan, tapi anehnya respon para pendengar malah terkesan mendukung hubungan kalian," ucap Naruto yang memutuskan untuk tidak mendengar siaran radio lebih lanjut.

"Sekarang kan memang sedang musim pasangan 'seperti itu', Naru-nii. Jadi wajar saja kalau responnya tidak begitu keras," Kiba mematikan televisi.

"Apa maksudmu dengan 'pasangan seperti itu', Inuzuka? Jelaskan padaku!" tuntut Gaara.

"A—ah, itu… umm…" Kiba menatap Naruto, meminta pertolongan, tapi Naruto hanya menggeleng.

"Ayo cepat jelaskan!" Gaara kembali bersuara.

"Kendalikan kekesalanmu, Sabaku. Kau tahu pasti, itu tidak akan merubah apapun," ungkap Neji tenang.

"Lalu sekarang bagaimana? Aku tidak mau digosipkan mempunyai hubungan khusus denganmu, Hyuuga," Gaara menarik nafas panjang dan memijit pelipisnya.

"Kenapa? Apa aku seburuk itu?" tanya Neji polos.

"Kenapa?" Gaara mengulangi pertanyaan Neji. "Apa kau pikir digosipkan mempunyai hubungan dengan seorang lelaki itu sama sekali tidak buruk?" tanyanya frustasi.

Naruto menepuk bahu Gaara beberapa kali, mencoba menenangkan hati sahabatnya. Hei, reaksi Gaara sama sekali tidak berlebihan kan? Coba bayangkan, bagaimana reaksimu jika ada gosip yang mengatakan kalau kau pergi berkencan dengan seseorang yang ber-gender sama denganmu? Kau pasti akan bereaksi tak jauh berbeda dengan Gaara.

.

Naruto menghapus setetes air mata yang hampir saja meluncur dari sudut matanya. Sementara itu, Kiba, Gaara dan Neji memperhatikan sang leader dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

"Perutmu bisa sakit kalau kau tidak segera menghentikan tawamu itu, Dobe." Sasuke meminum kopi hangatnya perlahan.

"Dan kurasa ketiga rekanmu yang lain sudah mulai berpikiran kalau kau mengalami gangguan mental, Naruto," timpal Kakashi.

Naruto berusaha sebaik yang ia bisa untuk menghentikan tawa yang sudah meluncur dari bibirnya selama hampir sepuluh menit terakhir. Namun ketika matanya melihat foto dirinya yang sedang 'merangkul' Sasuke kemarin, tawanya kembali meledak.

Neji menarik nafas panjang, sementara Kiba dan Gaara menggeleng-gelengkan kepala melihat reaksi Naruto. Setelah dikejutkan dengan foto-foto 'kencan' Neji dan Gaara, beberapa jam yang lalu giliran foto 'kemesraan' Naruto dan Sasuke yang bertebaran di internet.

"Kurasa topik pembicaraan hari ini dan mungkin seminggu kedepan adalah Konoha's Academy couple," ungkap Naruto setelah benar-benar berhenti tertawa.

"Aku heran, kenapa kau bisa tertawa selepas itu padahal kau baru saja digosipkan menjalani hubungan dengan Sasuke?" Gaara tampaknya tak habis pikir.

"Percaya atau tidak, aku dan Sasuke sudah terbiasa 'dipasangkan' seperti itu," ungkap Naruto.

"Pantas saja…" Kiba menganggukkan kepalanya.

Keadaan hening seketika. Sasuke dan Kakashi masih menikmati kopi mereka; Naruto meletakkan laptop milik Gaara ke atas meja; Kiba tampak menikmati makan siangnya; sementara Gaara dan Neji sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

"Jadi," Naruto kembali bersuara, "menurutmu, apa yang harus kami lakukan, manager?"

"Tidak ada," Kakashi sedikit meneguk kopinya. "Biarkan saja dulu. Kalau kalian buru-buru menyangkal, yang ada malah kalian terkesan menutupi sesuatu."

"Kurasa lebih baik kita ikuti permainan pers ini. Kau pasti tidak akan menolak tantangan ini kan, Neji?" tanya Sasuke disertai seringai khasnya.

"Menurutmu?" Neji membalikkan dan ikut menyeringai.

Gaara hanya menghela nafas dan menggelengkan kepala. Ia tak bisa dan tak mau membayangkan bagaimana reaksi keluarga, bahkan kedua kakaknya, tentang kabar ini.

"Aaaah, kalian curang!" Kiba melipat kedua tangannya di depan dada. "Kalian sudah berpasangan, lalu aku dengan siapa? Kenapa kita hanya berlima sih?"

Naruto kembali tertawa, sementara Neji, Gaara dan Sasuke tidak bisa menahan dengusan geli mereka. Kakashi kembali tersenyum dari balik maskernya. Selama beberapa saat matanya terpaku pada Naruto yang saat ini sedang mengacak rambut berantakan milik si bungsu.

"Manager, menurutmu bagaimana tanggapan Tsunade-san tentang ini?" tanya Kiba.

"Hmm, entahlah. Dia adalah orang yang paling sulit ditebak, jadi kurasa kita harus menunggu sampai dia mengatakan apa yang ada di kepalanya pada kita."

"Hei, hei, walaupun begitu, Tsunade-baachan adalah produser dan pelatih terbaik yang sudah berhasil membuat kita sampai ada disini."

"Aku masih tidak mengerti, kenapa kau berani memanggil Tsunade-san 'baachan', Naru-nii? Kau tidak takut dia melepas jabatan leader darimu?" tanya Kiba polos.

Naruto tertawa ringan. "Aku sama sekali tidak keberatan melepaskan jabatan ini. Toh walaupun bukan aku yang memimpin kalian, aku tetap bersama kalian kan?"

"Tapi kalau dipikir ulang, kenapa kau yang dipilih menjadi leader, Naruto? Kurasa Sasuke lebih baik darimu."

"Gaara, you're so mean," Naruto menggembungkan pipi, membuat Kiba dan Neji melepaskan tawa, sementara Sasuke mendengus geli.

TBC

Balasan review:

Just me: sama persis? Rencana awal memang ingin dibuat sama persis, tapi malah bingung ditengah jalan karena sulit menyesuaikan sifat member SuJu dan sifat member Akatsuki, begitu juga dengan member DBSK dan Konoha's Academy. Saya berusaha membuat karakter Naruto dkk tidak terlalu jauh OOC-nya. Dan tentang disclaimer, itu murni kealfaan saya, maaf~ (_._) Neh, saya sudah sering membaca flame, jadi saya bisa membedakan yang mana flame dan yang mana concrete. Terimakasih untuk tegurannya ^^

Keyra: Hahahaha, episode itu terlalu menggoda untuk dibuat versi fanfic-nya X3 Untuk masalah senior-junior, saya menyesuaikan dengan karakter Naruto dkk. Anggota Akatsuki lebih senior daripada Konoha's Academy kan? Osh, terimakasih sudah me-review ^^

Vii no Kitsune: kurang terasa atmosfir kekeluargaannya? Hmm, sepertinya saya harus lebih serius melanjutkan fic ini. Maaf sudah mengecewakan, dan saya akan berusaha untuk membuat chapter selanjutnya lebih baik~ ^^

Uzumaki Chiaki: Yuura itu salah satu anggota Akatsuki. Dia salah satu anggota dewan penasehat Kazekage di Suna, tapi sebenarnya dia mata-mata Akatsuki yang ditugaskan oleh Sasori. Yep, terimakasih sudah me-review ^^