Ampun!

Ampun, minna! *sembah sujud*

Harusnya aku update fic-ku, tapi malah bikin fic lain.. Hehe *nyengir tanpa dosa*

Gomen banget..
Berhubung aku lagi gak ada duit buat lama-lama bertapa di warnet, jadi aku bales ripyu-nya disini. Gomen(lagi?) karena aku baru bisa bales ripyu minna di chapter ini.. Hehe *di gampar*

Yo wis, Bong mulai ajah sesi balas-balas ripyu. . .

Cui'Pz cherry : Mak, Bong udah update mak! *goyang ngebor* Bong sayang emak, makanya restuin Bong kawin ama Tobi *cium-cium Tobi*

Love Ichiruki : Salam kenal, hehe.. Arigatou udah ingetin aku buat update fic in. Nih aku udah update walopun telat *di hajar massa*

vv dan vivi : wah namanya mirip ya *plak* hahaha.. Nih aku update,, gomen karena telat banget updatenya.

Kurosaki Kuchiki : *sembah sujud* Ini Bong udah update, Ichi emang kejam. Tapi mungkin Bong lebih kejam karena nelantarin fic ini *di lempar*

bl3achtou4ro : Yang nampar? Ah, kamu pasti bisa nebak ko! Hehehe

Minami Kyookai : Uphu? Kau gregetan? Tulung, jangan gigit aku *plakplak*

Jee-eugene : Yuhu, aku udah update, hehe

Ochibi4me : Kyaaa..! *peyukpeyuk* kau baik hati sekali. Arigatou udah ngasih masukan.

Sayuukyo Akira Recievold : Ah, kayaknya chapter ini juga pendek, AMPUNI AKU! *sembah-sembah*

Rio-Lucario : Hahahaha KDRT emang patut di contoh *plak* nih, aku update.

Aizawa Ayumu Oz Vessalius : Ampun! Aku juga heran, bisa-bisanya otak lemotku ini bisa bikin image ruki yang kaya gini. Ah tapi biarlah *di gigit Ruki*

Aisa the Knight Apprentice : Ah, bukan kamu yang lemot. Emang chapter 3 agak-agak bikin mumet. Hehe.. Nih, aku update. Gomen telat banget.

Merai Alxya Kudo : Huah.. Ini update nya. Hehehe

Mamoru Okta-chan Lemonberry : Arigatou udah nge-fav fic gaje ini, hehehe..

Dan arigatou banget buat : choco purple, 2phoenix7, Aidou Yuukihara, Ojou-chan, Meyrin Mikazuki, Sader VectizenIchi, Avia chibi-chan, licob green, Ruki Yagami, yuuna hihara, beby-chan, kiyoe aoi hinamori, mitama 134666,

Dan arigatou juga buat minna yang udah mau mampir baca fic ini.

Nah, ayo kita mulai.
Yonde kudasai. . .

Disclimer : Mbah Tite Kubo
Pair : ICHIRUKI
Rate : T
Genre : Romance, Drama

WARNING : AU, TYPOS{moga gak parah}, OOC, gaje, blablabla

CHAPPIE 4

PLAK!

Gadis bermata violet itu tersenyum miris. Mata indahnya kini menatap lekat telapak tangan kanannya yang baru saja di pakai untuk menampar pipi kiri sang kekasih.
Semua pasang mata di ruangan remang itu memandang penuh rasa tak percaya pada gadis mungil yang perlahan-lahan mulai melangkah ke belakang. Gadis itu tertunduk, tak berani menatap langsung sang pemilik mata musim gugur.

Ichigo Kurosaki, pemuda tampan itu terpaku melihat tingkah gadis mungilnya yang sekarang tengah terisak kecil. Mata musim gugurnya meneliti raut wajah gadisnya yang terlihat pucat. Sesaat pemuda itu menelan ludah. Sampai seperti inikah akibat dari perlakuan kasarnya pada gadis mungil itu. Rukia Kuchiki kini terduduk dengan memeluk kedua lututnya erat sambil terisak. Menghadirkan sebuah perasaan iba bagi siapapun yang melihat keadaannya saat ini.

"Ruki-"

"PERGI!" teriak Rukia memotong perkataan Hisagi membuat pemuda yang hendak mendekati gadis itu tetap berdiam diri di tempatnya. Semua orang disana hanya dapat membisu melihat keadaan Rukia yang terlihat sangat menyedihkan.

"Kau lihat siapa yang paling menderita diantara kalian?" ucap Toushirou pada Ichigo sambil melangkah menuju pintu.

"Kuserahkan dia padamu, teman." Renji tersenyum tipis seolah memberi dukungan pada sahabatnya, lalu dia melangkah mengikuti Toushirou.

Pemuda tampan itu kini mendapatkan tatapan penuh amarah dari salah satu sahabat terbaiknya yang masih tetap berdiri tak jauh dari gadis mungil yang tengah terisak di bawah jendela. Mata musim gugu yang memukau itu hanya membalas dengan tatapan datar pada sahabatnya.

Hisagi melangkah pelan menghampiri Ichigo. Kemudian dia berbisik dengan nada penuh penekanan.
"Akan ku buat perhitungan denganmu!" setelah mengatakan itu, Hisagi melangkah keluar dari ruangan remang itu.

Hening.

Ya, keheningan kini melanda dua insan yang tak kunjung saling membuka mulut. Rukia masih terisak kecil dengan membenamkan kepala di kedua lututnya. Sedangkan Ichigo, dia masih tetap terpaku melihat jantung hatinya yang telah di sakitinya.
Ichigo Kurosaki perlahan melangkah mendekati kekasihnya sambil melepaskan mantel hitam yang ia kenakan. Setelah sampai tepat di hadapan gadisnya, pemuda itu berjongkok lalu menyelimuti tubuh sang kekasih yang terbalut seragam sekolah dengan mantelnya. Gadis itu tak tak memberikan reaksi apapun.
Ichigo tetap berada di posisinya, diam berjongkok dan mengamati tubuh sang kekasih yang tampak menggigil. Perlahan rasa sakit muncul di hatinya. Rasa sakit yang terus menjalar ke seluruh tubuh yang di sebabkan oleh tindakan kasarnya pada gadis yang begitu ia cintai. Dengan ragu, pemuda itu mengangkat tangan kanannya untuk sekadar membelai lembut rambut sebahu sang kekasih. Tetap tak ada reakisi apapun dari gadis itu.

"Jangan seperti ini," bisik pemuda itu. Perlahan di ciumnya puncak kepala si gadis dengan lembut. "Kumohon, bicaralah!" bisiknya lembut. Namun gadis itu tetap tak memberikan reaksi.
Ichigo kemudian mencoba merengkuh tubuh mungil Rukia yang tak kunjung mau bicara dan hanya terus menunduk menyembunyikan wajahnya. Detik demi detik berlalu hingga kesabaran pemuda musim gugur itu pun mulai habis.

"TATAP AKU RUKIA!" teriak pemuda itu sambil mengangkat paksa wajah Rukia agar menatap langsung matanya. Kedua mata musim gugur pemuda itu menatap nanar wajah pucat Rukia yang tengah memejamkan mata. "Buka matamu!" geram pemuda itu.

"Tidak mau," guman gadis itu dengan suara parau.

"RUKIA, BUKA MATAMU!" bentak Ichigo nanar lalu dengan kasar ia melumat bibir mungil kekasihnya. Dan hal yang paling di bencinya pun terjadi. Rukia tak membalas ciumannya. "Jadi ini maumu?" desis Ichigo sambil menatap tajam Rukia. "Baik, kita akhiri saja." pemuda itu berdiri lalu bersiap melangkah, namun baru selangkah pergi, ia merasakan pelukan lembut di punggungnya.

"Jangan putus.. Kita jangan putus"

o0o

Terlelap.

Ya, gadis cantik itu terlelap damai di pangkuan seorang pemuda yang duduk bersandar di kepala ranjangnya. Jemari tangan kanan pemuda tampan berambut orange menyala itu bergerak lembut membelai rambut hitam sebahu milik gadisnya. Sesekali jemari-jemari itu membelai lembut wajah mungil di pangkuannya.

Ichigo mencium kening Rukia untuk kesekian kalinya petang ini di apartemen miliknya. Kecupan-kecupan lembut ia berikan pada sang kekasih yang tengah terlelap. Sungguh, pemuda itu benar-benar mencintai gadis di pangkuannya.
Rasa sakit yang menjalar dalam tubuh pemuda itu tetap belum hilang walaupun gadisnya telah mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Hati pemuda itu tersayat saat Rukia mengatakan tidak mau putus darhnya. Sebuah kalimat yang sderhana namun berhasil membuat hati pemuda itu merasakan sakit luar biasa. Harus di akuinya bahwa Rukia adalah orang paling sabar dalam menghadapi keegoisannya. Sedangkan apa yang telah di lakukannya, dia hanya dapat menyakiti gadis itu.

Ceklek.

Suara kenop pintu yang di buka sejenak mengalihkan perhatian pemuda tampan itu. Sepasang mata musim gugurnya memerhatikan seseorang yang hendak memasuki kamar. Perlahan sesosok gadis berambut orange gelap panjang memasuki ruangan luas itu sambil membawa nampan. "Dia tidur?" ucap gadis itu dengan suara pelan sambil melangkah menuju meja rias. Di letakannya nampan yang terdapat semangkuk bubur dan segelas air putih disana, kemudian gadis itu melihat ke arah Rukia yang tengah terlelap di pangkuan pemuda yang kini sedang melihat kearahnya.
"Maaf sudah merepotkanmu, Orihime." ucap pemuda itu datar namun cukup untuk menciptakan sebuah senyuman di wajah gadis bernama Orihime itu.
"Jangan sungkan. Rukia adalah pacarmu dan dia juga sekarang menjadi saudaraku, Niisan." jawab Orihime dengan senyum kecilnya. "Aku sudah bilang pada wali kelas kalau hari ini Rukia kurang sehat. Dan-" gadis cantik itu memberikan jeda pada kalimatnya, "-mengenai hubungan kalian-"

"Aku akan mengatakannya pada mereka." ucap Ichigo datar. Kedua mata musim gugurnya menatap lembut gadis yang tertidur di pangkuannya.
"Niisan yakin?" gadis itu nampaknya ragu dengan keputusan sang kakak. Dan meskipun mereka di besarkan oleh orangtua yang berbeda selama sepuluh tahun belakangan, dia tetap memahami sifat sang kakak. Dia mengetahui hubungan kakaknya dengan Rukia setahun lalu, saat dia dan kekasihnya, Renji Abarai berkunjung ke apartemen Ichigo di London.
Perlahan gadis itu melangkah menuju jendela kamar yang tertutup tirai. Dia menggeser tirai kain berwarna putih ke arah kanan. Langit senja yang tertutup awan tebal di luar sana tampak semakin gelap.
Ichigo, pemuda tampan itu pelan-pelan menggeser kepala Rukia untuk di pidahkan dari atas pangkuannya ke atas bantal. Dengan gerakan yang pelan pula pemuda itu menyelimuti tubuh gadis yang berumur tiga tahun lebih muda darinya.
"Bisakah kau menemaninya disini selama aku pergi?" kata pemuda itu sambil memakai sepatu putihnya.
"Tentu." jawab Orihime sambil tersenyum tulus.

Setelah memakai sweater putih yang melapisi kemeja birunya, pemuda itu mengambil kunci mnbil dan ponsel yang baru di belinya beberapa jam lalu.
"Beritahu aku kalau Rukia bangun." setelah mengucapkan kalimat itu, Ichigo mengecup pelan dahi kekasihnya kemudian melangkah keluar dari kamar

meninggalkan dua gadis yang bukan hanya memiliki status sebagai teman sekelas namun juga sebagai saudara tiri.

o0o

Sang cahaya kehidupan telah benar-benar tenggelam di ufuk barat dan kini telah di gantikan oleh sang raja kegelapan malam. Udara malam ini terasa begitu menyayat kulit walaupun salju sudah tak nampak berjatuhan dari langit.
Sebuah mobil Mitsubishi evo VI merah melaju dengan kecepatan tinggi melewati jalanan kota yang cukup ramai. Setelah menempuh waktu sekitar lima belas menit dari apartemennya, pemuda berambut orange menyala itu menghentikan laju mobilnya tepat di halaman sebuah rumah bercat putih yang cukup besar.

Si pengemudi, Ichigo Kurosaki keluar dari mobilnya kemudian melangkah cepat menuju pintu yang juga bercat putih. Sejenak pemuda itu menarik napas dalam-dalam sebelum jari telunjuk tangan kanannya menekan bel. Tak lama setelah pemuda itu menekan bel, tampak seorang wanita cantik membuka pintu dan setelah melihat tamu yang datang, wanita itu tersenyum manis.

"Ah, Ichigo ayo masuk." ajak wanita itu dengan nada ramah.
Kedua mata musim gugur Ichigo sejenak mengamati wanita yang kini menjadi ibu tirinya. Meski usia wanita itu sudah menginjak empat puluh tahun, namun wanita itu tetap memiliki kecantikan yang tak pudar termakan usia dan juga memiliki wajah mirip dengan gadis yang di cintai pemuda itu.
"Ayahmu ada di ruang tengah," ucap Hisana saat keduanya melangkah menyusuri ruang tamu. "Temuilah, akan ku buatkan teh."

"Terimakasih." hanya kalimat itu yamg di lontarkan si pemuda tampan untuk dapat menunjukkan sikap sopannya pada sang ibu tiri. Memang hati Ichigo sempat merasakan sakit saat mendengar bahwa ayahnya menikah lagi, yang artinya sang ayah telah melupakan ibunya. Namun dia sendiri menyadari bahwa setiap orang membutuhkan orang lain sebagai pendamping dalam hidupnya. Dan sekarang yang menjadi sumber masalah, wanita yang di nikahi ayahnya adalah ibu dari gadis yang selama dua tahun menemani hari-harinya, dan dua tahun pula menemani dalam tidurnya. Takdir memang kadang suka mempermainkan orang.
"Ichigo, tumben kau datang," seorang pria berumur sekitar emapat puluh enam tahun menyapa si pemuda musim gugur dengan senyuman khasnya. Pria itu tengah duduk di sofa yang menghadap kearah layar televisi yang tengah menayangkan pertandingan bisbol. "Ayo kemari!" ajaknya.

Ichigo yang masih tetap berdiri tak jauh dari sofa yang di duduki ayahnya perlahan melangkah untuk mendekatkan jarak dengan ayahnya. Namun pemuda itu tetap memilih berdiri walaupun dia sudah berada di sebelah ayahnya.
Nampak pemuda itu menarik napas dalam-dalam. Raut wajahnya tampak serius.
"Ayah," pemuda itu mencoba untuk mengalihkan perhatian sang ayah dari layar televisi kepada dirinya.
"Kau ada masalah?" Isshin Kurosaki membuka suaranya setelah melihat air muka serius pada wajah putranya.
"Aku dan Rukia-" pemuda itu tampak menggantungkan kalimatnya. Sejenak dia memejamkan mata dan kembali menarik napas dalam-dalam kemudian menghembusknnya pelan. "- Kami saling mencintai."

PRANG!

~TBC~

Gimana? Gimana?
Tambah gaje kah? Huawah. . . Emak Bong ngumpet aja di dalem inti bumi *gali tanah*

silahkan add FB ku.. *promosi*
imel :

oceh. . . . See you guys next chapter