Konoha's Academy
Disclaimer : selalu jadi miliknya Kishimoto Sensei…
Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst.
Enjoy It!
#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
.
Tenth Chapter : A Plan
.
Sasuke melangkah keluar dari lobi apartemen sendirian. Keempat sahabatnya sudah lebih dulu pergi ke kantor management untuk latihan rutin mereka pagi tadi. Saat kakinya melangkah hendak meninggalkan gedung apartemen, suara riuh mulai terdengar di telinganya.
"Uchiha-san, apa tanggapanmu tentang gosip yang behembus mengenai kedekatanmu dengan Uzumaki-san?" tanya seorang wanita sembari menyodorkan alat rekam.
"Apa benar kalian menjalin hubungan khusus, Uchiha-san?" Kini seorang lelaki yang bertanya.
"Bagaimana pendapat pihak management Anda mengenai berita ini? Kenapa Anda tidak membuat konfrensi pers atau membuat statement?" tanya wartawan lainnya.
Sasuke hanya diam dan terus melangkahkan kaki, berusaha menembus para wartawan yang berkerumun menghalangi langkahnya.
Berkat 'skandal' yang berhembus mengenai hubungan Neji dan Gaara, serta hubungannya dengan Naruto, kini nama Konoha's Academy semakin sering dibicarakan. Keinginan Kiba agar Konoha's Academy populer tercapai, tapi ternyata pemuda itu malah menjadi anggota yang paling uring-uringan karena dimanapun ia berada dan kemanapun ia pergi, wartawan dan paparazzi selalu mengejarnya.
Dan entah karena Konoha's Academy adalah boyband baru atau karena hal lain yang tidak terpikirkan oleh kelima pemuda berbakat itu, pemberitaan mengenai hubungan khusus anggota Konoha's Academy berkembang dengan sangat cepat.
"Maaf, aku harus segera pergi," ucap Sasuke dengan nada sopan dan sedikit mendorong para wartawan agar memberinya jalan.
Sasuke bisa melihat sebuah mobil van dengan label Konoha Production berhenti tak jauh dari tempatnya saat ini.
'Mungkin manager menjemputku karena aku terlambat datang,' pikirnya.
Sasuke membenarkan letak topi yang ia pakai dan mempercepat langkahnya mendekati mobil. Telinganya sudah mulai panas mendengar pertanyaan yang sama terus diulang oleh para pemburu berita.
Sebuah tangan dengan warna kulit kecoklatan tiba-tiba muncul dari kerumunan wartawan dan langsung menggenggam sebelah tangan main vocal Konoha's Academy yang masih kesulitan melangkah itu.
"Ah, Uzumaki-san, bisa tolong berikan konfirmasi Anda?"
"Apa Anda kemari untuk menjemput Uchiha-san?"
"Sebenarnya apa hubungan Anda dan Uchiha-san?"
"Bagaimana dengan Hyuuga-san dan juga Sabaku-san? Apa mereka juga menjalin hubungan?"
Naruto hanya tersenyum sembari terus melangkahkan kakinya dan membimbing Sasuke hingga mereka berhasil masuk ke dalam van dengan selamat. Setelah dua pemuda itu masuk, Kakashi segera membawa mobil meninggalkan apartemen.
"Mereka benar-benar mengerikan," celetuk Naruto sembari menarik nafas lega. "Kau tidak apa-apa, Teme?" tanyanya pada pemuda yang duduk disampingnya.
"Hn."
"Aku sudah mengira hal seperti itu akan terjadi, jadi kuputuskan untuk menjemputmu, Sasuke."
"Terimakasih, manager."
"It's okay."
Naruto mengeluarkan ponselnya dari saku dan mengirimkan pesan singkat pada Kiba, menanyakan keadaan kantor management. Beberapa saat kemudian ia membaca pesan balasan Kiba dan menggelengkan kepala.
"Sepertinya keadaan di kantor juga tidak lebih baik, manager," ucapnya.
"Benarkah? Kurasa kalian benar-benar terkenal sekarang."
Naruto hanya mendengus geli mendengar sindiran Kakashi. Ia menatap Sasuke yang sedang melemparkan pandangan keluar jendela.
"Kau kenapa, Teme?" tanya Naruto tanpa menyembunyikan nada khawatirnya.
"Kurasa apa yang kau lakukan tadi akan langsung diberitakan, Dobe."
"Yang aku lakukan? Memangnya aku melakukan apa?" Naruto sedikit memiringkan kepalanya.
"Kau menggandeng tangan Sasuke, Naruto," jawab Kakashi.
"Lalu?"
"Apanya yang 'lalu'?"
"Lalu apa masalahnya, Teme? Aku melakukan itu kan untuk membantumu keluar dari neraka pertanyaan. Tidak ada yang salah dengan itu kan?" papar Naruto. Sasuke menarik nafas.
"Mungkin menurutmu itu bukan masalah, tapi mereka bisa mengatakan sesuatu yang berbeda mengenai tindakanmu, Dobe."
Naruto menyandarkan punggungnya dan menatap lurus ke depan. Ia sadar kalau apa yang dilakukannya tadi memang bisa membuat pemberitaan mengenai hubungannya dan Sasuke makin mencuat, tapi ia tak peduli.
"Yang penting adalah semua orang yang ada di dekatku tahu kalau tidak ada hubungan semacam itu diantara kita, Sasuke. Masalah pemberitaan di media, aku tidak mau terlalu memusingkannya. Itu urusan manager dan pihak management."
.
Kabuto menatap pemuda berambut merah darah yang sedang berlatih di dalam ruangan koreo. Gaara tampak menikmati waktunya menggerakkan tubuh mengikuti irama santai namun bagus untuk dibuat koreonya.
"Dia berbakat. Sangat berbakat," komentarnya.
"Aku setuju denganmu."
Kabuto menolehkan kepala dan mendapati Neji yang entah sejak kapan berdiri di sebelahnya dan memperhatikan gerakan sang Sabaku.
"Aku tidak tahu kalau dia sehebat itu," ungkap Neji.
"Well—cepat atau lambat sepertinya Naruto akan menemukan saingan barunya."
Neji hanya tertawa pelan dan mengangguk setuju. Kabuto menepuk bahu Neji sekali sebelum memutuskan untuk meninggalkan ruangan. Neji masih mengarahkan sepasang mata lavendernya pada sosok Gaara yang tampak mulai lelah.
"Berhenti menatapnya dengan cara seperti itu, Neji. Bisa gawat kalau ada yang tahu tentang apa yang ada di pikiranmu selain dirimu sendiri dan aku."
"Maksudmu?"
"Oh, ayolah. Kau tidak berpikiran bisa menyembunyikan sesuatu dariku kan? Kau tidak akan bisa melakukannya."
Neji sedikit menyeringai mendengar ucapan pemuda yang menemaninya berdiri di dekat pintu ruang koreo. Gaara mematikan musik dan menolehkan kepala. Sepasang mata beriris hijaunya menangkap dua sosok yang sudah amat dikenalnya.
"Sedang apa kalian berdua disitu? Kalian mau latihan juga?" tanyanya.
"Tidak, tidak. Aku hanya kebetulan lewat setelah bertemu dengan Tsunade-baachan, dan sepertinya aku harus waspada dengan kemampuanmu itu, Gaakun."
"Yang benar saja," Gaara mendengus geli mendengar penuturan sang leader.
Naruto melangkah mendekati Gaara yang duduk sembari meluruskan kaki. Neji pun mengikuti langkah yang diambil sahabatnya dan bergabung dengan keduanya.
"Ada apa Tsunade-san memanggilmu, Naruto?" tanya Gaara yang sibuk menyeka keringatnya.
"Baachan hanya memberitahukan jadwal shooting MV laguku saja, selebihnya tidak ada," jawab Naruto.
"Hmm…" gumam sang Sabaku.
"Apa dia tidak menyinggung masalah gosip itu, Naruto?" Kini Neji yang bicara,
"Tidak. Kurasa dia tidak begitu memikirkan hal itu. Dan kuharap kau juga tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, Gaara. Aku tidak mau konsentrasimu terganggu karena hal macam itu," tutur Naruto sembari menatap Gaara.
Gaara menghela nafas. Ia sama sekali tidak percaya kalau orang-orang di sekelilingnya bisa bersikap setenang ini. Sikap Naruto dan Sasuke malah tidak berubah sama sekali. Mereka tetap bertengkar seperti biasa, dan Naruto tampaknya tidak berniat menurunkan tingkat 'keintiman' mereka setelah gosip berhembus.
Gaara menatap Neji yang sedang membicarakan lagu baru Naruto. Pemuda berkulit putih susu ini juga tidak mengerti, kenapa Neji sama sekali tidak terlihat terganggu karena pemberitaan yang ada. Neji sama sekali tidak mengubah sikapnya; ia tetap jahil, ramah, dan sama seperti Naruto—tidak menurunkan tingkat 'kedekatan' mereka.
"Ah, aku hampir lupa!" Neji berujar. "Apa hari ini kau sudah melihat acara infotaiment, Naru?"
"Hee? Untuk apa aku menonton acara semacam itu?" Naruto mengerutkan dahi.
"Karena berita tentangmu yang menjemput dan menggandeng tangan Sasuke terus diberitakan sejak pagi ini," ungkap Gaara sebelum meneguk air mineralnya.
"Benarkah? Cepat sekali," ucap Naruto takjub.
"Kau ini tidak peduli atau bagaimana? Aku heran, bisa-bisanya kau berkomentar setenang itu," Gaara menhela nafas.
"Kurasa kau tahu kalau aku bukanlah orang yang akan uring-uringan karena kabar burung tidak jelas, Gaakun."
Gaara kembali menghela nafas. Sejak mengenal Naruto di SMP, Gaara tahu benar kalau kakak kelasnya ini memang tidak pernah peduli dengan hal macam ini. 'Hanya buang-buang waktu,' itu yang selalu dikatakan Naruto.
"Tidak akan ada hal buruk yang terjadi, Gaakun. Aku bahkan bisa menjamin kalau sampai hal buruk terjadi, Neji pasti akan selalu berdiri disampingmu," ujar Naruto.
Neji segera menolehkan kepala ketika medengar ucapan Naruto, dan ia berani bersumpah kalau ada seringai tipis terukir di bibir pemuda yang setahun lebih tua darinya itu.
"Apa maksudmu?" tanya Gaara tidak mengerti.
"Neji pasti selalu disampingmu, aku yakin seratus persen. Aku benar kan, Neji?"
Naruto mengarahkan tatapan pada pemuda berambut coklat panjang di sampingnya. Neji merasa nafasnya berat. Gaara memandang Naruto, masih belum paham.
"Neji pasti ada disampingmu karena dia juga terlibat dalam hal ini. Kau harus mempertanyakan loyalitasnya sebagai teman kalau dia membiarkanmu menghadapi semua ini sendiri, Gaakun," papar Naruto.
Neji menahan diri agar tidak menghembuskan nafas lega keras-keras. Gaara menganggukkan kepala tanda mengerti, dan Naruto menatap Neji dengan seringai kemenangan terukir di bibirnya.
# # #
Kakashi mengendarai van Konoha's Academy dengan tenang. Hari sudah hampir tengah malam, dan kelima anggota boyband asuhan Konoha Production itu baru saja menyelesaikan acara wawancara di salah satu stasiun televisi.
"Apa kami harus benar-benar bertemu Tsunade-san sekarang juga, manager?" tanya Kiba yang tampak sangat lelah.
"Kurasa ya, Kiba. Dari nada bicaranya, aku bisa tahu kalau dia ingin membicarakan hal serius dengan kalian, dan harus saat ini juga," jawab Kakashi.
"Memangnya Tsunade-san mau membicarakan apa?" Neji bertanya setelah meneguk air mineralnya.
"Entahlah, dia tidak mau memberitahuku."
"Apa kau juga tidak diberitahu, Dobe?" Sasuke mengarahkan tatapan pada pemuda yang duduk tepat di belakangnya.
"Nope."
"Hhh… Aku hanya berharap pertemuan ini tidak akan lama, karena aku benar-benar butuh tidur. Kepalaku rasanya mau pecah karena selalu mendengar pertanyaan mengenai kebenaran hubungan keempat kakakku ini," ungkap Kiba lemas.
Naruto melepaskan tawanya dan menepuk puncak kepala sang adik. Karena ia, Sasuke, Gaara, dan Neji selalu tidak mau berpendapat lebih jauh mengenai gosip yang tengah hangat, Kiba lah yang menjadi sasaran pertanyaan para wartawan.
Kelima anggota Konoha's Academy tampak duduk di sofa panjang yang ada di ruangan produser mereka. Sang pemilik ruangan sendiri kini duduk di sofa tunggal yang terletak berhadapan dengan kelima artisnya.
"Sebenarnya ada apa, baachan?" Naruto memulai percakapan.
"Aku ingin membicarakan gosip mengenai kedekatan kalian berempat yang sepertinya tak juga reda," jawab Tsunade dengan tatapan mengarah pada keempat sosok yang dimaksud.
"Hn, lalu?" Sasuke bertanya to the point.
"Kalau aku bertanya, apa kalian mau membantuku memajukan Konoha's Academy, apa jawaban kalian?" Tsunade balik bertanya.
"Kurasa kau tidak perlu menanyakan itu, Tsunade-san."
"Tentu saja kami bersedia membantumu. Bagaimanapun juga kita memang harus memajukan grup ini," Kiba melanjutkan perkataan Neji sebelumnya.
"Bagaimana denganmu, Gaara? Apa kau juga setuju dengan perkataan dua rekanmu tadi?" Dua pasang mata beriris hijau saling bertukar pandang.
"Apa maksudmu, produser? Tentu saja aku setuju," ungkap Gaara.
Naruto dan Sasuke saling bertatapan ketika melihat seringai Tsunade setelah mendengar jawaban Gaara. Mereka berdua tahu benar kalau wanita berambut pirang panjang itu mempunyai rencana yang –pastinya– tak terpikirkan mereka jika sudah menunjukkan seringai macam itu.
"Baguslah, itu artinya kalian bisa melakukan fans-service mulai besok."
Dan apa yang diperkirakan Sasuke dan Naruto terbukti sudah. Naruto menatap Gaara yang sepertinya menyesali jawaban yang baru saja dilontarkannya kurang dari lima menit yang lalu.
"Fans-service itu apa, produser?" tanya Kiba polos.
"Itu artinya kau harus berusaha menghibur dan membuat fans tertarik dengan kita melalui kabar yang sedang berhembus, Kiba. Kurasa kurang lebih seperti itu," papar Neji.
"Oooh, membuat fans tertarik dengan kita…" Kiba menganggukkan kepala. "APA? MELALUI KABAR YANG SEDANG BERHEMBUS?" teriaknya sedetik kemudian.
Kiba mengarahkan pandangannya kepada keempat kakaknya dengan raut horor. Gaara, yang menyadari makna fans-service sebelum Neji angkat suara, tampak pucat.
Tsunade mengambil laptopnya dan menaruk alat elektronik itu di depan kelima pemuda dihadapannya. Layar laptop menampilkan halaman web dengan judul 'Chrysanthemum' dengan berbagai posting-an dibawahnya, termasuk album foto yang diambil diam-diam dari dua 'pasangan' Konoha's Academy.
"Itu adalah web resmi fans Konoha's Academy sudah dibuat sejak peluncuran single kalian. Jumlah kunjungan web ini meningkat tajam setelah gosip itu merebak," papar Tsunade.
Tsunade kemudian meng-klik halaman lain yang sebelumnya di-minimize. Gaara membulatkan mata dan Neji mengerutkan dahi ketika melihat tulisan 'NejiGaa Fans Club' tertulis di bagian atas halaman web.
Naruto mengambil laptop milik sang pelatih vokal dan memindahkannya ke pangkuannya. Jari tengahnya bergerak lembut di atas touch pad untuk menggerakkan kursor.
"Wow, mereka bahkan membuat SasuNaruSasu Fans Club," ungkapnya tak percaya.
Sasuke mendekatkan diri ke tubuh si pemuda pirang dan kemudian ikut menyentuh touch pad dan meng-klik-nya dua kali untuk membuka album foto yang ada di layar.
"Mereka benar-benar memata-matai kita," tuturnya setelah melihat banyaknya foto Naruto dan dirinya.
Tsunade menyilangkan kedua lengannya di depan dada dan menatap Gaara yang terus memijit pelipisnya.
.
"Apa kita benar-benar harus melakukan itu, Naruto?"
"Kau tahu pasti apa jawabannya, Gaakun."
"Tapi aku tidak bisa."
"Kau bahkan belum mencobanya."
"Bagaimana mungkin aku mencoba sesuatu yang seperti itu, Uzumaki Naruto!"
Balasan dengan nada sedikit meninggi itu menghentikan percakapan selama beberapa saat. Sejak kembali dari kantor management, kelima pemuda anggota Konoha's Academy duduk dengan canggung di ruang keluarga apartemen mereka. Kiba bahkan sudah lupa kalau sebenarnya ia ingin langsung pergi tidur setelah tiba di apartemen.
Gaara masih terus meremas kedua tangannya, sementara Neji tampak sedikit lebih tenang. Naruto sejak tadi berusaha meredam emosi kouhai-nya walaupun belum menunjukkan tanda-tanda berhasil. Sasuke dan Kiba lebih memilih untuk diam.
"Bagaimana denganmu, Neji? Apa kau tidak keberatan?" Gaara kembali memecah kesunyian.
"Bohong kalau aku tidak keberatan," jawab Neji. "Aku tidak berkata kalau kau buruk untuk dijadikan pasangan, Gaara, tapi aku tidak mau terus menjadi pusat perhatian karena 'hubungan' ini. Yang benar saja."
Mendengar penuturan pemuda berambut coklat panjang tadi, Naruto menghela nafas berat. Matanya kini mengarah pada Sasuke yang duduk di sofa tunggal dekat meja lampu.
"Kau bagaimana, Teme? Ada masalah dengan ini?" tanyanya.
"Aku sudah pernah mengalami hal ini, kau lebih tahu tentang itu," Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada.
Naruto terkekeh geli begitu teringat kabar yang dihembuskan pihak management ketika ia dan Sasuke masih tergabung dalam Yottsu Kikou. Ya, sebelum ini, ia memang pernah 'dipasangkan' dengan Sasuke dalam nama pasangan 'NatsuFuyu'.
"Kalau begitu, kuanggap kau tidak mempermasalahkan ini," Naruto mengalihkan pandangan. "Kau, Kiba?"
"Err… Aku…" Kiba menatap Gaara yang masih menundukkan kepala dan Neji yang bersandar di punggung sofa sembari menengadahkan kepala.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan. Itu akan mempengaruhi rencana ini," ucap Neji.
"Aku sedikit tidak setuju dengan ini. Maksudku, aku tidak bisa membayangkan kalian berempat melakukan fans-service yang dimaksudkan Tsunade-san. Rasanya aneh melihat dua orang pemuda yang saling… Yah—kalian pasti paham apa maksudku." Kiba menggaruk kepalanya, bingung harus menjelaskan bagaimana.
"Aku mengerti," Neji dan Sasuke menanggapi dengan hampir bersamaan.
"Jadi…" Naruto kembali mengarahkan tatapannya kepada Gaara yang baru saja mengangkat kepalanya.
"Aku tidak bisa."
Neji menyandarkan diri ke punggung sofa, sementara Naruto menghela nafas panjang. Leader muda itu tidak begitu terkejut medengar jawaban sang Sabaku. Ia tahu benar bagaimana sifat adiknya yang satu ini.
"Kalau Gaara-kun tidak bisa, lalu bagaimana dengan rencana Tsunade-san? Kita tidak mungkin memberitahunya kalau kita tidak mau melakukan ini kan?" Kiba tampak khawatir.
"Terserah kau mau mengatakan apa pada produser, Naruto. Yang jelas aku tidak bisa melakukan fans-service seperti ini," ungkap Gaara sembari bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamar.
"Jangan memaksanya, Neji," tutur Naruto begitu melihat Neji yang hendak menyusul roommate-nya.
Neji kembali duduk dan menatap Naruto yang tampak sedang berpikir. Matanya kemudian terarah pada Sasuke yang duduk dengan kedua tangan dilipat di depan dada.
"Aku ingin bertanya, Naruto. Kau pernah berkata kalau kau dan Sasuke sudah terbiasa dipasangkan seperti ini, memangnya kalian pernah tergabung dalam sebuah grup sebelum ini?" tanya Neji.
Kiba yang mendengar pertanyaan Neji tampak sedikit tidak nyaman. Naruto sendiri hanya menatap Neji beberapa saat sebelum akhirnya menggelengkan kepala.
"Harusnya aku tidak berkata seperti itu di depanmu ya, Neji," tuturnya.
"Hn? Kenapa memang?" tanya Neji tak mengerti.
"Karena kau pasti mempertanyakannya seperti sekarang," Naruto menghela nafas.
"Aku dan Naruto adalah anggota Yottsu Kikou," ungkap Sasuke.
"Maksudmu?"
"Naruto adalah Natsu dan aku adalah Fuyu."
"Apa?"
"Kau sudah mendengarnya, Hyuuga," Naruto mengerlingkan mata.
Neji memandang Naruto dan Sasuke bergantian, sementara Kiba menatap Sasuke tidak percaya. Ia tidak menyangka Sasuke yang akan memberitahukan ini, bukan Naruto.
"Baiklah, kurasa kita harus melakukan fans service berdua untuk sementara waktu ini, Teme," Naruto mengembalikan arah pembicaraan.
"Lalu bagaimana dengan Gaara-nii, Naru-nii?" Kiba akhirnya bicara.
"Biarkan saja dulu," Sasuke yang menjawab.
"Dia hanya perlu sedikit waktu agar terbiasa, Kiba. Kau tidak perlu khawatir," sambung Naruto.
TBC
Author Notes: jangan tanyakan apa kesibukan yang menyebabkan saya tidak meng-update fic ini tepat waktu, karena saya tidak tahu apa jawabannya *dilempar berjamaah*
Balasan review:
Uzumaki Chiaki: Yup, saya memang belum memasukkan konflik yang berat disini. Nuansa Shou-ai muncul sesuai dengan kebutuhan(?). Jumlah chapter belum bisa saya pastikan, tapi saya usahakan tidak lebih dari duapuluh karena saya tidak mau fic ini terlalu panjang. Terimakasih untuk pendapatnya ^^
Keyra: Nama? O.o Wah, sepertinya banyak episode yang menggoda, hahaa. Kurang panjang? Jumlah word-nya memang rata-rata segitu kok. Osh, hwaiting!
Vii no Kitsune: komflik sedang saya susun, semoga bisa keluar di chapter depan. Terimakasih untuk masukannya~ Ganbatte! .
