YEYEYE. . . Bong update loh! Yah, walopun telat (banget) *di gampar massa*
Nah sesuai janji, bong update nih fic sesudah tryout ketiga. Masih ada dua TO yang menanti bong, dan juga UAS minggu depan serta UAN bulan depan.
Jadwal bong padat ya? Kekeke. . . Yosh gomen soalnya bong ga bisa bales ripyu minna di chapter ini. Hohoho. . . .
Yonde kudasai
.
.
.
Disclimer : Mbah Tite Kubo
Pair : ICHIRUKI
Rate : T
Genre : Romance, Drama
WARNING : AU, TYPOS{moga gak parah}, OOC, gaje, blablabla
CHAPPIE 5
"Aku dan Rukia-" pemuda itu tampak menggantungkan kalimatnya. Sejenak dia memejamkan mata dan kembali menarik napas dalam-dalam kemudian menghembusknnya pelan. "- Kami saling mencintai."
.
PRANG!
Udara di sekitar Ichigo Kurosaki seakan-akan perlahan mulai menghilang. Pemuda tampan itu menarik napas dalam-dalam, berharap agar udara yang mulai menipis itu masuk ke dalam paru-parunya agar ia tetap bernapas. Dengan napas yang masih tercekat, ia memberanikan diri untuk menengok ke arah sesuatu yang pecah beberapa detik lalu.
Pandangan pemuda itu tertuju pada sang wanita cantik tengah baya yang kini menjadi ibu tirinya. Wanita itu membekap mulutnya dengan ekspresi wajah yang terkejut.
Tenangkan dirimu Ichigo.
Semuanya akan baik-baik saja.
Pemuda tampan itu sedikit melirik ke arah sang ayah yang juga tampak terkejut. Pria itu bahkan tak memedulikan pecahan gelas beserta teh yang berserakan di dekat kaki sang istri.
"Kau bilang, Rukia-"
"Benar, aku mencintai putrimu." ucap Ichigo tanpa ragu. Ia menatap lurus ke arah sang ibu tiri. Wajah sendu wanita itu perlahan membuat sesak dada Ichigo. Wajah wanita itu mengingatkan ia pada kekasih hatinya yang telah banyak ia sakiti. Benar. Mengatakan semuanya dengan jujur adalah jalan terbaik untuk memastikan kelanjutan nasib hubungannya dengan Rukia.
"Jangan bercanda, Ichigo! Dia adikmu." bentak sang ayah dengan suara yang cukup keras. Bagaimana mungkin ia bisa terima dengan fakta yang begitu menyakitkan ini. Putra tunggal yang begitu ia banggakan kenapa bisa melakukan hal menyimpang seperti mencintai adik tirinya sendiri.
"Ayah, Rukia bukan adikku!" bantah sang pemuda dengan suara yang juga keras. "Sampai kapanpu, aku tak akan pernah mengakui Rukia sebagai adikku."
"Jadi kau anggap apa pernikahanku dengan Hisana, hah? Ichigo, kau benar-benar keterlaluan!" geram sang ayah.
"Aku tak peduli pada pernikahan itu. Aku juga tak peduli pada statusku dengan Rukia yang saat ini adalah saudara tiri. Bagiku, Rukia adalah orang asing yang kapan saja bisa aku miliki."
Bagus Ichigo. Kau sudah mengatakan semua isi hatimu yang sesungguhnya.
Pemuda itu menghela napas lega sejenak. Kemudian mulai bergerak untuk melangkah pergi dari ruangan hangat yang kini berubah menjadi ruangan dingin yang mencekam.
"Berapa lama?" suara keras sang ayah berhasil membuat langkah putranya berhenti sejenak kemudian menoleh. "Sudah berapa lama kau menjalin hubungan dengan Rukia?"
Berharap. Ya, pria itu berharap sediki pada jawaban yang akan di lontarkan putranya. Jika hubungan keduanya baru berjalan beberapa bulan, maka ia yakin dapat merobohkan hubungan cinta terlarang itu dengan mudah.
Pria itu melihat ke arah wanita yang di cintainya. Benar. Ia harus menenangkan wanitanya yang pasti tergoncang dengan fakta yang di bawa Ichigo Kurosaki. Ia akan membereskan semua in-
"Dua tahun,"
.
Deg
.
"Aku dan Rukia hidup bersama selama dua tahun,"
Tercekat.
Napas Isshin Kurosaki dan Hisana terasa semakin tercekat. Pupus sudah harapan Isshin untuk dapat merobohkan hubungan putranya dengan putri tirinya. Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk melewatkan hidup bersama.
"Hidup bersama? Maksudmu kau dan Rukia-"
"Ya, kami tinggal dalam satu apartemen." ucap Ichigo memotong perkataan sang ayah dengan nada suara yang tegas.
"Astaga!" Hisana menutup wajah dengan kedua telapak tangannya frustasi. Bagaimana mungkin putri tunggalnya selama dua tahun telah membohonginya.
Isshin Kurosaki bangkit dari kursi yang sedari tadi di dudukinya. Perlahan namun pasti, pria itu mulai melangkah pelan untuk menghampiri putranya.
.
.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Ichigo Kurosaki.
"Kau pikir seorang pemuda dan seorang gadis tinggal dalam satu atap tidak memiliki risiko yang besar, hah?" mata Isshin menatap marah pada putranya. Ia raih kerah kemeja Ichigo lalu berniat untuk kembali memukul pemuda tampan yang begitu ia sayangi. "Kau kemanakan otak jeniusmu, Ichigo Kurosaki?"
"Kumohon jangan pukul dia lagi!" wanita itu menarik tubuh suaminya untuk menjauhi si pemuda tampan. Ia tak mau suaminya menggunakan jalan kekerasan dalam menyelesaikan masalah.
"Beberapa hari ini apakah kalian juga tinggal bersama?" Hisana bertanya dengan suara lemah. Kedua matanya tampak menuntut jawaban dari pemuda di hadapannya.
Ichigo sejenak memandang ragu pada Hisana. Dia tahu bahwa Hisana pasti mengharapkan jawaban 'Tidak' dari dirinya. Sedikit rasa bersalah sejenak melanda hati si pemuda. Tak tega rasanya jika ia kembali meyakiti orang lain. Ia sudah cukup banyak menyakiti gadisnya, dan ia tak mau menyakiti siapapun lagi. Namun, apa mau dikata. Pemuda itu harus jujur apapun risikonya. Ichigo perlahan memejamkan kedua matanya, kemudian ia kembali membukanya. Setelah berhasil meyakinkan dirinya sendirih ia lalu menjawab.
"Benar." jawaban pemuda itu di sambut dengan ekspresi kecewa oleh Hisana. "Dan mengenai risiko yang tadi ayah katakan. Jangan khawatir, kalaupun nanti terjadi hal-hal di luar batas aku dan Rukia pasti akan bertanggung jawab." ucap Ichigo dengan nada tegas dan penuh rasa percaya diri.
"Enyahlah!" seru Isshin. Dia terduduk di sofa putih sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Tak peduli apapun keputusan kalian, aku takan pernah melepaskan Rukia." Ichigo mengucapkan kalimat itu sambil menatap lekat kedua mata sang ayah. Setelah sejenak menunduk guna memberi hormat, pemuda itu langsung melangkahkan kedua kakinya menuju pintu.
Sejenak ia melirik benda yang di jatuhkan oleh ibu tirinya. Sebuah nampan aluminium dalam posisi terbalik beserta kepingan pecahan gelas yang tampak berserakan di lantai yang basah oleh air teh. Setelah itu, dengan langkah cepat ia berjalan keluar dari rumah menuju mobilnya.
Sebelum pemuda itu melajukan mobilnya, ia menyempatkan diri untuk menelfon seseorang. Beberapakali terdengar nada tunggu nomor telefon yang ditujunya, hingga akhirnya sebuah suara menyapanya.
"Ya, Niisan?" sapa suara itu dengan ramah.
"Rukia-"
"Dia sudah bangun." jawab Orihime tetap dengan suara yang ramah.
"Dia sudah makan?" tanya Ichigo dengan nada suara yang terdengar cemas.
"Sudah. Niisan mau kemari?" tanya Orihime.
"Ya, kalau kau mau pulang akan ku telefon Renji untuk menjemputmu."
"Baiklah. Niisan tidak mau bicara dengan Rukia?"
"Tidak."
"Oh, ya sudah." ucap Orihime dengan suara lemah.
"Orihime," panggil Ichigo.
"Hm?"
"Terimakasih."
Entah kenapa hari ini sikap pemuda itu agak berbeda dari biasanya.
"Sama-sama."
Setelah memutuskan sambungan telefonnya dengan Orihime, pemuda itu langsung menelefon sahabatnya.
"Renji, tolong jemput Orihime di apartemenku."
.
.
o0o
.
.
Tik
.
Tik
.
Tik
.
Jarum jam dinding di ruangan tengah kediaman Kurosaki terus berjalan melantunkan nada stabil mengitari angka demi angka yang tertera disana tanpa rasa lelah. Jika jam di ibaratkan sebagai makhluk hidup, alangkah mulia jasanya. Dia terus mendampingi manusia melewati waktu demi waktu dalam kehidupan ini tanpa mengeluh sekalipun. Dan sekarang, jam itu telah menemani keheningan yang tercipta antara dua orang dewasa yang kini terikat status sebagai suami istri. Selama hampir dua jam setelah kepergian pemuda tampan berambut orange dari sana.
Sang suami, Isshin Kurosaki duduk di sofa putih. Kedua matanya memang tertuju pada gambar-gambar bergerak di layar televisi, namun pikirannya masih tetap terfokus pada masalah putra dan putri tirinya. Sedangkan Hisana, sang istri tengah berdiri di depan jendela besar yang menyajikan pemandangan malam gelap. Meski ruangan itu sudah di berikan penghangat, namun nampaknya udara dingin tetap mendominasi.
"Jadi-" Hisana akhirnya membuka mulut. Walaupun dia merasakan bahwa lidahnya terasa kelu untuk membicarakan masalah yang tengah melanda keluarga barunya. "Apa keputusanmu?" ucap Hisana lagi dengan masih bertahan di posisinya.
"Entahlah, ini benar-benar membuatku pusing." sahut Isshin dengan suara datar, wajahnya tampak lelah. Menyadari nada putus asa yang terkandung dalam kalimat sang suami, Hisana memutuskan untuk melangkah mendekati pria yang di cintainya. "Maaf." ucap Isshin lagi setelah Hisana duduk di sebelahnya.
"Untuk apa?" tanya Hisana heran karena suaminya sama sekali tak melakukan kesalahan apapun padanya.
"Putraku-" jawab Isshin kemudian memandang wajah cantik istrinya. "Yang mencintai putrimu." walau tak kentara kedua mata Hisana nampak sayu. Wanita itu pasti juga sangat terkejut dengan kenyataan bahwa putrinya selama dua tahun telah berbohong dan menyembunyikan fakta bahwa Rukia tinggal satu atap dengan seorang pemuda yang tragisnya adalah putra dari pria yang kini menjadi suaminya.
"Dua tahun," ucap Hisana Lirih. "Dua tahun mereka tinggal bersama, saling berbagi dan saling mencintai. Itu bukan waktu yang singkat."
"Aku mengerti hal itu. Hanya saja sekarang status mereka adalah saudara." kata Isshin sambil menghembuskan napas berat.
"Mereka saudara tiri tidak ada ikatan darah, kan?" jemari tangan Hisana perlahan menyentuh jemari besar tangan kanan suaminya yang kini tengah memandangnya.
"Kau-"
.
.
o0o
.
.
Bosan.
Ya, gadis mungil itu kian merasa bosan dengan segala acara televisi yang tengah di lihatnya saat ini. Meskipun sudah berkali-kali ia mengganti chanelnya, tetap saja ia merasa bosan. Menonton televisi memang bukan hal yang menarik baginya.
Mata violet gadis itu melirik jam weker yang berada di atas meja kecil yang mengapit tempat tidurnya. Jam sepuluh malam. Jika ia berada di London, mungkin sekarang ini ia sudah terlelap di pelukan kekasih hatinya.
Matanya kini beralih untuk melihat sang pujaan hati yang tengah duduk di sofa putih.
Kedua mata musim gugur kekasihnya terfokus pada layar laptop yang mungkin berisi tugas-tugas kuliah.
Cukup lama gadis itu memandangi kekasihnya yang begitu rupawan. Ia begitu kagum pada si pemilik mata musim gugur itu. Pemuda itu tak pernah menyombongkan rupa tampan maupun kejeniusannya. Meskipun terkadang kasar dan bersikap dingin, namun tetap saja pemuda itu sangat baik dan perhatian pada dirinya.
Dalam hati gadis itu bersyukur karena ia adalah gadis yang beruntung. Gadis itu dapat menyentuh kekasihnya kapanpun ia mau. Pelukan dan ciuman hangat menjadi makanan sehari-hari. Dan di kala tidurpun ia selalu berada di rengkuhan kekasih hatinya.
Mata gadis manis itu kini mulai memandang mata musim gugur kekasihnya yang terbingkai kacamata. Gadis itu kemudian mulai mengingat saat-saat dimana Ichigo memandangnya dengan begitu lembut dan kemudian pasti pemuda itu akam memberikan senyuman malaikatnya. Sebuah senyuman yang hanya Ichigo berikan pada Rukia seorang.
Mematikan televisi adalah hal terakhir yang gadis itu lakukan sebelum ia beranjak dari tempat tidurnya. Dengan langkah pelan ia melangkah menuju sofa putih yang tengah di duduki kekasihnya.
"Ichi," guman gadis itu sambil memeluk bahu Ichigo Kurosaki dari belakang. Gadis itu menyenderkan kepalanya di bahu Ichigo.
"Kau tidak mengantuk?" bisik Ichigo tepat di telinga kanan gadis mungilnya. Kedua tangan pemuda itu perlahan meletakan laptopnya di atas meja.
"Kau sendiri?" tanya Rukia lembut.
"Hei, kemarilah!" pemuda tampan itu perlahan melepaskan lengan Rukia yang melingkari lehernya, kemudian mulai menarik gadis itu untuk duduk di atas pahanya.
"Tugas kuliah?" tanya Rukia sambil melihat layar laptop yang belum di matikan.
"Begitulah." jawab pemuda itu sambil mengecup pipi kanan sang kekasih yang kini berada di rengkuhannya. Lengan kokoh pemuda itu melingkari pinggang gadisnya yang terbalut piyama.
"Ichi," ucap Rukia sambil menggerakan kedua tangannya untuk menyentuh wajah tampan sang kekasih. Perlahan ia lepaskan kacamata yang membingkai mata kekasihnya. Detik berikutnya ia mulai menggerakan jemari-jemari mungilnya untuk menelusuri garis wajah pemuda tampan itu dengan sangat lembut. "Kapan kau kembali ke London?" tanya Rukia sambil mengecup singkat bibir kekasihnya.
"Lusa," pemuda itu sejenak melihat kesedihan di mata gadisnya.
"Cepat sekali." Rukia tersenyum sedih, kemudian ia kembali mendekatkan wajahnya ke wajah pemuda yang sangat ia cintai. "Aku pasti kesepian." bisiknya pelan.
"Atau kau mau aku kuliah disini?" sang pemuda perlahan menggerakan wajahnya untuk merapatkan bibirnya ke bibir mungil gadisnya. Keduanya saling berbagi kehangatan dalam ciuman hangat yang berlangsung tak begitu lama. "Jika itu maumu, aku akan melakukannya." Ichigo berbisik pelan di telinga Rukia kemudian mengecup pelan leher Rukia.
"Tidak," gadis itu memejamkan kedua mata untuk dapat merasakan ciuman lembut bibir Ichigo di lehernya. Meskipun ia memang ingin pemuda itu terus ada di sampingnya, namun ia tak boleh egois. Ia tak boleh menuruti kehendaknya yang hanya menuruti naluri. Ia harus memikirkan masa depan pemuda itu. "Aku sanggup menunggumu." ucapan itu akhirnya sanggu gadis itu katakan.
Sejenak kedua mata musim gugur itu memandang lembut mata violet indah kekasih hatinya. Gadisnya itu memang kecil dan terkadang rapuh. Namun ia yakin pada kesungguhan hati gadisnya. Ia percaya pada kata hatinya yang mengatakan semuanya akan berakhir bahagia apabila ia bisa menjalani hidup bersama gadis itu.
Jika memang Rukia menginginkan ia tetap kuliah di London, maka apa boleh buat. Terpisah jarak mungkin akan menjadi masalah di awal-awal karena keduanya sudah terbiasa dengan kontak fisik yang selalu hadir dalam kebersamaannya dengan Rukia.
"Aku mencintaimu." ucap Ichigo dengan suara lembut sebelum ia kembali menjamah bibir gadisnya.
.
.
o0o
.
.
Manis.
Wajah tidur gadis itu sangat manis. Dengan mata indahnya yang terhalang kelopak mata, bibir mungilnya yang tertutup rapat dan napas tidurnya yang teratur membuat Ichigo Kurosaki tak tega untuk menjemput tuan putrinya dari dunia mimpi. Meski waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi, pemuda itu tetap membiarkan tubuhnya mendekap tubuh mungil Rukia yang masih terlelap. Biarlah gadis itu merasakan tidur nyamannya lebih lama. Dia pasti lelah. Lagipula hari ini ia libur sekolah.
Satu kecupan mendarat di bibir mungil Rukia. Seakan tak mau sampai gadisnya terbangun. Ichigo Kurosaki memberikan kecupan-kecupan lembutnya pada sang gadis dengan sangat hati-hati.
Ichigo sedikit menarik selimut putih tebalnya untuk menutupi tubuh Rukia yang hanya terbalut piyama. Ia tak mau damainya tidur Rukia akan terganggu dengan udara dingin yang masih hadir menyapa di pagi ini.
Dengan sangat pelan, Ichigo mulai bangkit dari ranjangnya. Meninggalkan tubuh kekasihnya yang masih terlelap nyaman disana. Pemuda tampan itu perlahan melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaian sebelum ia beranjak untuk mandi.
Sekitar lima menit pemuda itu membiarkan tubuhnya di guyur air shower hangat. Setelah itu ia bergegas memakai pakaiannya dan segera mengambil ponsel untuk memesan makanan kesukaan Rukia di restoran yang menyediakan layanan jasa antar.
Setelah menulis memo untuk gadisnya. Ichigo mencium kening Rukia pelan, kemudian mengambil kunci mobilnya.
Banyak hal yang harus ia urus sebelum besok ia kembali ke London. Jika bukan karena kuliahnya, ia tak mungkin mau meninggalkan Rukia tanpa dirinya. Tapi disini, pasti banyak yang akan menjaga gadis itu. Dan hal itu cukup untuk membuat dirinya tenang.
Sekarang yang harus ia lakukan adalah sekali lagi membicarakan tentang hubungannya dengan Rukia pada sang ayah dan juga meminta pada sahabat-sahabatnya dan juga Orihime untuk mau mengawasi Rukia selama ia tidak ada.
Protektif?
Harus. Ia harus benar-benar protektif pada kekasihnya yang terkadang masih bergantung pada orang lain.
Setelah memasuki mobilnya, Ichigo kini melajukan mobilnya dengan cepat menyusuri jalanan yang masih bernuansa putih di sertai hawa dingin yang menusuk tulang.
.
.
o0o
.
.
Rukia memerhatikan refleksi dirinya di cermin kamar mandi. Disana dirinya terlihat lebih segar dari hari sebelumnya. Mungkin benar kemarin ia terlalu lelah sehingga tanpa sadar ia baru bangun tidur saat jam sudah menunjukan pukul sepuluh pagi.
Ia sempat sedikit panik saat mendapati Ichigo sudah tidak berada di dekapannya. Namun setelah membaca memo yang di tinggalkan Ichigo di atas meja belajar, Rukia pun hanya dapat menghela napas sedih.
Ya, Ichigo besok akan kembali ke London dan pasti dia harus mengurus hal-hal yang di perlukan untuk keberangkatannya.
Tidak. Kau tidak boleh sedih Rukia.
Benar. Semuanya akan baik-baik saja meskipun dirinya akan terpisah jarak dengan kekasih hatinya. Yang perlu Rukia lakukan sekarang adalah mempersiapkan hatinya untuk tidak terlalu kesepian di kala Ichigo tidak ada.
Rukia merasakan ponsel di sakunya bergetar pelan. Mungkinkah Ichigo yang menelefon? Entahlah. Gadis itu merogoh saku celana pendeknya untuk mengambil ponsel yang masih bergetar.
Ichigokah?
Bukan.
Yang menelefonnya sekarang adalah Hisana.
"Ya, ibu?" sapa Rukia dengan suara lembut. Sudah dua hari sejak pertemuannya yang terakhir kali dengan sang ibu, yaitu pada saat pesta pernikahan dua hari lalu.
"Keluarlah!"
"Ha?" merasa ada yang tak ia mengerti, Rukia hanya dapat mengerutkan kening sambil keluar dari kamar mandi.
"Ibu ada di depan apartemen. Keluarlah!"
.
Deg
.
"Dimana?" gadis itu merasakan dadanya berdebar kencang. Bagaimana mungkin ibunya tahu ia berada disini. Apa mungkin
ibunya sudah tahu tentang-
Tidak!
Apa yang harus ia katakan?
Setelah mematikan sambungan telefonnya dengan sang ibu, Rukia segera membuka pintu.
"Ibu?"
"Kenapa kaget begitu?" tanya Hisana dengan senyumnya yang mengembang. Wanita cantik itu memeluk putrinya sejenak, lalu mulai melangkah memasuki apartemen. "Jadi kau selama tiga hari tinggal disini?" tanya Hisana lagi sambil mengedarkan pandangannya menyusuri isi apartemen.
"Jadi, ibu sudah tahu tentang aku dan Ichigo?" bukannya menjawab, gadis mungil itu malah balik bertanya dengan suara yang sedikit bergetar.
"Ya, ibu sudah tahu." jawab sang ibu dengan nada suara serius. Wanita itu perlahan menghampiri putri tunggalnya yang begitu ia sayangi. Senyuman di wajahnya perlahan hilang saat kedua tangannya menyentuh pundak Rukia. "Dan ibu mau, kau dan Ichigo berpisah."
.
.
TBC
.
.
GLEK..
.
.
*uhok uhok*
GOMEN MINNA. . .
Feel di chap ini agak raib T.T
*nangis darah*
Oya, boleh bong tanya?
Apa fic bong ini terasa kaya adegan sungguhan? *plak*
Halah, bong mulai ngaco!
Oceh. . . CU next chapter!
