Konoha's Academy
Disclaimer : selalu jadi miliknya Kishimoto Sensei…
Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Yaoi, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst.
Enjoy It!
#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
.
Thirtheenth Chapter : The Reason Why
.
Naruto menggumam kesal. Kedua tangannya langsung menarik selimut yang ia pakai hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya, termasuk kepala. Cahaya matahari yang menerobos dari jendela kamar cukup mengganggu tidurnya.
"Ayo cepat bangun, leader-kun!"
Mendengar suara yang amat akrab di telinganya, si pemuda berkulit tan malah makin merapatkan selimut. Yahiko yang melihat sikap sang junior menggelengkan kepala sebelum kemudian menyeringai.
"Uzumaki Naruto, cepat bangun!" Kali ini Yahiko tidak hanya memanggil, tapi juga mengguncang-guncangkan tempat tidur yang dipakai pemuda yang dua tahun lebih muda darinya itu beristirahat.
"Nggghh, aku masih ingin tidur, niisan," gerutu Naruto.
"Aku tahu hari ini kau tidak ada jadwal apapun, tapi tetap saja kau harus bangun pagi," tutur Yahiko yang duduk di tepi tempat tidur.
"Aku sedang malas," balas Naruto dari dalam selimut.
"Kalau kau tidak bangun, lalu siapa yang akan membuat sarapan, Naru?" tanya Yahiko. Ya, sebenarnya alasan personel Akatsuki itu membangunkan si pirang adalah karena ia lapar.
"Kan ada Deidara-niisan. Sasori-niisan juga kan bisa memasak," jawab Naruto yang masih bergelung di selimut.
"Itulah masalahnya," Yahiko mengambil sebuah bantal dan memeluknya erat. "Deidara sedang di gym, sedangkan Sasori sedang menemani Tobi menemui manager. Ayolah, Naru. Apa kau tega melihat kakakmu kelaparan?" rengek Yahiko.
Naruto menggulingkan diri menjauh dari sang kakak yang terus mengguncang-guncangkan tubuhnya. Karena 'pembicaraan' dengan Neji kemarin, malam tadi Naruto tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Melihat Naruto yang sama sekali tidak merespon permintaannya, Yahiko sedikit memutar otak.
"Ya sudah kalau kau tidak mau membuatkan sarapan, aku terpaksa meminta Hidan dan Yuura untuk memasak," ucapnya sembari meletakkan bantal dipelukannya ke tempat semula.
Tidak sampai semenit kemudian Naruto keluar dari 'persembunyiannya' dan duduk di atas tempat tidur dengan mata yang masih menutup rapat.
"Jangan biarkan mereka masuk ke dapur! Aku tidak mau dapur kacau seperti waktu itu," cetusnya.
Yahiko tertawa mendengar ucapan Naruto. Ia tentu masih mengingat hal yang dimaksud leader Konoha's Academy itu. Sekitar dua tahun yang lalu, ketika anggota Akatsuki masih di-trainee, Hidan dan Yuura pernah hampir menghanguskan seluruh bagian dapur dorm karena mencoba membuat makan siang. Naruto, yang saat itu kebetulan sedang menginap, terlihat pucat saat menapaki ruangan dapur yang sudah tak berbentuk.
"Bagus! Aku dan yang lain akan menunggu di ruang makan," tutur Yahiko sembari melangkah keluar dari kamar.
Naruto membuka matanya perlahan dan meregangkan tubuh sebelum melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah rapi, ia segera pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Kalau tahu begini, harusnya waktu itu aku merekomendasikanmu untuk diikutsertakan menjadi bagian Akatsuki, Naruto," cetus Kisame. Saat ini semua anggota Akatsuki, plus Naruto dan Sasuke, sedang menikmati sarapan.
"Tapi kita beruntung karena memiliki Deidara. Entah apa jadinya Akatsuki tanpa dia," ucap Zetsu.
"Yang jelas pengeluaran kita akan membengkak karena selalu makan di luar," Kakuzu angkat bicara.
Naruto menahan tawa mendengar ucapan salah satu senpai-nya itu. Sejak dulu Kakuzu memang selalu membicarakan masalah keuangan, entah kenapa. Kadang Naruto berpikir kalau Kakuzu tidak seharusnya menjadi anggota boyband karena sikapnya yang satu itu.
"Sasuke, kau diminta datang ke kantor management, tadi manager memberitahuku kalau Kakashi mencarimu," tutur Tobi.
Selama di Konoha, Akatsuki berada di bawah label Konoha Production. Saat ini boyband yang beranggotakan sepuluh orang itu memang sedang menjajal pasar musik Konoha setelah sebelumnya berhasil menaklukkan pasar musik Kirigakure.
"Err… Kau yakin yang dicari Sasuke dan bukan aku, Tobi-nii?" tanya Naruto.
"Manager bilang Sasuke harus datang ke kantor management, dia juga bilang kalau kau diperbolehkan tinggal disini selama yang kau mau walaupun jadwal kegiatanmu kembali dimulai besok," papar Sasori.
Naruto mengalihkan pandangan ke Sasuke yang sedang mengunyah makanannya. Dan saat tatapan mereka bertemu, Sasuke tahu apa yang dipikirkan sahabatnya.
"Aku akan ke kantor management setelah sarapan dan kembali kesini sebelum makan malam," ucapnya. "Aku juga akan memastikan keadaan tiga 'touto kita," tambahnya.
Naruto mengangguk pelan dan kembali menyantap sarapannya. Pemuda itu memang sempat kesal pada 'adik'nya, tapi ia tidak bisa mengacuhkan mereka. Toh apa yang diucapkan Neji bahwa ia adalah penyebab bubarnya Yottsu Kikou memang benar.
.
Deidara menatap pemuda yang sejak tadi duduk bersandar di dinding ruang koreo. Pemuda berusia sembilan belas tahun itu kemudian mengalihkan pandangan pada pemuda lain yang sedang meneguk minumannya.
"Kau tahu? Aku cukup terkejut ketika mereka berdua berdiri di depan pintu apartemen kita tadi malam," ungkap Deidara yang sudah kembali menatap kouhai-nya.
"Aku mengundang Naruto untuk menginap disini ketika kita shooting game show," ungkap Sasori.
"Benarkah? Seharusnya kau memberitahuku, Sasori. Kalau tahu mereka akan menginap kan aku bisa menyiapkan sesuatu," protes Deidara.
"Sebenarnya aku juga tidak tahu kalau mereka akan menginap kemarin. Naruto tidak menghubungiku."
Saat ini Akatsuki sedang berlatih koreo untuk persiapan tampil di salah satu acara musik. Naruto yang enggan ditinggal sendirian di apartemen, mengikuti mereka ke studio ini. Dan sementara menunggu senpai-senpai-nya berlatih, pemuda pirang itu menyibukkan diri dengan memperhatikan gerakan koreo yang dilakukan kakak-kakaknya.
"Kurasa dia sakit, Sasori," Deidara kembali membuka percakapan.
"Sakit?"
"Ya, kurasa dia sedang sakit. Naruto tampak tidak seperti biasanya. Dia sedikit lebih pendiam."
"Dan kau tidak menyukai itu karena kau tidak bisa 'bermain', begitu kan?" Sasori tahu benar kalau pemuda berambut pirang panjang disampingnya ini senang mengerjai Naruto.
"Kau membuatku terdengar seperti seorang kakak yang senang mem-bully adiknya," Deidara mengerlingkan mata. "Coba ajak dia bicara."
"Hn? Kenapa aku?" tanya Sasori.
"Tentu saja karena kau adalah kakak favoritnya—selain Yahiko tentunya. Lagipula, kurasa dia tidak akan bicara jujur kalau aku yang mendekatinya."
Deidara menepuk bahu Sasori sebelum pergi mendekati anggota Akatsuki yang lain. Sasori meraih sekaleng jus dan mendekati adiknya yang masih memperhatikan Hidan yang sedang berlatih.
"You're spacing out," tegurnya dengan tangan menyodorkan kaleng jus pada sang Uzumaki.
"No, I'm not."
"Yes, you are," Sasori duduk di sebelah Naruto. "You're not a good liar."
Naruto menghela nafas dan membuka kaleng jus di tangannya. Ia selalu tahu ketika orang lain menyembunyikan sesuatu darinya, tapi ia pandai menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Ia pandai menyembunyikan sesuatu dari orang lain, kecuali dari lelaki berusia duapuluh tahun disampingnya.
"Aku tahu kau akan bicara kalau kau merasa perlu bicara, tapi Deidara dan yang lain mengkhawatirkanmu."
Sasori kembali meneguk air mineralnya. Lead vocal Akatsuki itu sama sekali tidak berbohong. Sejak Naruto dan Sasuke menginjakkan kaki di apartemen boyband-nya, kesembilan anggota yang lain segera menyadari keanehan leader Konoha's Academy ini.
"Am I that bad? I think I should learn how to be a good pretender, huh?"
"Yeah, but pretending won't solve your problem."
"You're right. Besides, I've already sick to pretend."
"You don't need to pretend, just spill it."
Naruto menghela nafas panjang. Diantara kesepuluh kakaknya di Akatsuki, Sasori adalah kakak yang paling bisa dipercaya. Bukan berarti kesembilan yang lain tidak bisa dipercaya, hanya saja lelaki yang masih memiliki hubungan darah dengan Sabaku no Gaara ini termasuk kategori pendengar dan pemberi saran yang baik. Itulah kenapa Naruto sangat mengagumi Sasori, baik di panggung maupun di kehidupan sehari-hari.
Dan Sasori sendiri menganggap Naruto adalah adik yang menyenangkan. Mungkin ia memang bukan orang yang terbuka dan bisa menunjukkan perhatiannya secara terang-terangan, tapi dengan tindakan sederhananya, ia bisa memastikan Naruto tahu kalau dia tengah diperhatikan.
"Aku hanya ingin kau tidak menyesali keputusan yang sudah kau buat, Naru," ucap Sasori.
Sebenarnya pemuda berkulit putih itu sudah tahu apa yang membuat sikap adiknya berubah beberapa hari ini. Sasuke sudah bercerita padanya dan Yahiko. Diam-diam adik dari Itachi itu ternyata mengkhawatirkan keadaan sang Uzumaki.
"Aku sudah melakukan kesalahan, niisan, tentu saja aku harus menyesal," balas Naruto tanpa memandang sang kakak.
"Tapi penyesalanmu tidak akan merubah apapun. Kalau aku ada di posisimu, mungkin aku juga tidak akan mau bertahan di Yottsu Kikou."
Naruto menolehkan kepala dan menatap Sasori yang sedang memperhatikan Hidan dan Deidara berlatih koreo. Sebenarnya yang disesali Naruto bukan hanya karena ia gagal memperhatikan dan menjaga anggota Yottsu Kikou, tapi ia juga mengambil keputusan untuk keluar dari boyband pertamanya itu.
"Sayangnya kau tidak ada di posisiku, Sasori-nii, jadi kau tidak tahu bagaimana rasanya meninggalkan Yottsu Kikou saat itu." Naruto kembali mengalihkan tatapan.
"Aku memang tidak tahu apa alasanmu meninggalkan Sasuke dan Yahiko, tapi dugaanku, kau merasa tidak lagi menjadi bagian Yottsu Kikou setelah Sora pergi."
Naruto tampak menundukkan kepala. Kedua tangannya memilin ujung sweater rajut yang membungkus tubuh tegapnya. Sasori merubah posisi duduknya menjadi berhadapan dengan sang adik.
"Kau tahu? Dalam satu tahun selalu ada empat musim. Wilayah bumi yang lain mungkin hanya memiliki dua musim, tapi untungnya kita memiliki empat musim disini. Dan tiap-tiap musim memiliki keunikannya masing-masing. Dan dengan menghilangnya satu musim yang ada, keseimbangan tidak akan terwujud."
Penuturan Sasori membuat Naruto mengangkat wajah dan menatap pemuda yang berusia dua tahun diatasnya. Sasori mengangkat sebelah tangannya dan menepuk puncak kepala sang Uzumaki.
"Orang-orang terdekatmu tidak ada yang menyalahkan keputusanmu untuk meniggalkan Yottsu Kikou, Naruto. Dan kalaupun ada, orang itu tidak mengerti apa yang akan terjadi jika Konoha hanya memiliki tiga dari empat musim yang seharusnya ada."
# # #
Neji, Gaara dan Kiba menatap sosok yang duduk dihadapan mereka dalam diam. Awalnya mereka terkejut ketika Kakashi memberitahu kalau ada tamu yang menunggu mereka di apartemen. Mereka sama sekali tidak tahu siapa tamu istimewa yang dimaksud sang manager. Istimewa? Tentu saja istimewa. Kalau tidak, lelaki berambut keperakan itu tidak akan membiarkan tamu mereka masuk kedalam apartemen kan?
" Kita bertemu lagi, Gaakun," ucapnya dengan senyum terkembang. "Aku lega adikku memiliki teman seperti kalian. Kalian tidak seburuk yang kupikirkan," tutur sang tamu, membuat dahi Neji sedikit berkedut kesal.
''Tidak seburuk yang dia pikirkan?' Apa maksudnya itu?'
Gaara dan Kiba saling berpandangan dengan tanda tanya besar di kepala mereka. Sebenarnya mereka bertiga sudah sepakat untuk memesan makanan saat tiba di kediaman mereka ini karena ketiganya belum makan sejak siang tadi, plus saat ini jam sudah menunjukkan waktu hampir tengah malam. Tapi karena mereka kedatangan tamu, rencana itu terpaksa ditunda.
"Mereka berdua kemana sih? Kenapa lama sekali," rutuk sang tamu sembari menggembungkan pipi, kekanakan.
Kali ini Gaara dan Kiba mengerutkan dahi mereka secara hampir bersamaan karena menyadari kemiripan sang tamu dengan salah satu kakak mereka.
"Tadaima."
"Akhirnya!" seru sang tamu ceria. Ia langsung melangkah menuju pintu dan memeluk erat sosok yang sedang melepas sepatunya. "Okaeri~"
"Sesak," keluh Naruto dengan nafas tersenggal.
Namikaze Shion, yang tak lain adalah kakak kandung Uzumaki Naruto, tersenyum lebar dan beralih memeluk sosok disamping sang adik dengan lebih lembut.
"Lama tak berjumpa, Sasuke," sapanya setelah melepaskan pelukan.
"Hn."
"Dan kau sama sekali tidak berubah," tambah Shion setelah melepaskan tawa saat mendengar balasan sapaannya.
"Kau tidak memelukku?" Sosok ketiga yang baru saja memasuki apartemen Konoha's Academy angkat suaranya.
Shion menatap pemuda berambut pirang yang lebih tinggi sepuluh senti darinya itu. Ia lalu angkat bahu dan melangkah kembali ke ruang keluarga.
"Aku tidak punya kewajiban untuk itu," tuturnya ringan.
Naruto melepaskan tawa sementara Sasuke menyeringai mendengar jawaban sang Namikaze. Yahiko melipat kedua tangannya didepan dada dan mengikuti langkah kedua adiknya menyusul Shion. Yahiko mengantar Naruto dan Sasuke ke apartemen mereka setelah dihubungi Kakashi yang memberitahu kalau Shion ada di apartemen Konoha's Academy.
Sebenarnya Yahiko memang sudah berniat mengantarkan kedua adiknya kembali ke apartemen mereka besok pagi, mengingat ini sudah hampir tengah malam. Naruto sendiri memang sudah memaksa untuk kembali ke apartemennya sejak kemarin, tapi tidak dikabulkan oleh anggota Akatsuki yang lain. Naruto memang adik kesayangan kakak-kakaknya itu.
"Tega sekali kau berkata seperti itu pada kekasihmu sendiri, Namikaze Shion," ucap Yahiko yang kini sudah menapaki ruang keluarga.
Ucapan anggota Akatsuki itu sontak membuat Neji, Gaara dan Kiba membulatkan mata karena terkejut. Shion adalah kekasih Yahiko? Namikaze Shion, kakak Uzumaki Naruto, adalah kekasih Yahiko 'Akatsuki'?
"Kalian tidak perlu terkejut. Akupun sama tidak percayanya ketika mengetahui fakta ini," ungkap Naruto yang duduk di lengan sofa tunggal yang ditempati sang lead vocal. Hubungan spesial yang dijalani kakaknya memang sengaja disembunyikan dari publik, jadi wajar saja kalau ketiga anggota Konoha's Academy itu baru mengetahuinya.
"Hei, apa maksudnya itu, Naru? Kau tidak setuju aku menjalin hubungan dengan kakakmu?" tanya Yahiko.
"Bukannya tidak setuju. Aku hanya heran, kenapa dia bisa menerimamu," jawab Naruto yang langsung dibalas lemparan bantal sofa oleh Yahiko. Shion yang melihat pertengkaran keduanya hanya terkikik pelan.
"Kenapa kau tiba-tiba kesini, neechan?" tanya Naruto.
"Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin menjengukmu sekaligus berkenalan dengan teman-temanmu," Shion tersenyum manis.
"Menjengukku tengah malam begini? Yang benar saja," Naruto mengerling.
"Salahkan jadwalku yang mengharuskanku pulang jam sepuluh malam selama hampir satu bulan ini," balas Shion.
"Itu kan memang sudah kewajibanmu. Kau sendiri yang memutuskan untuk membintangi drama itu," Naruto menyandarkan punggungnya. Berbeda dengan adiknya yang terjun ke dunia tarik suara, Shion terjun ke dunia seni peran.
Shion menggembungkan pipi. Lagi-lagi ia kalah berdebat dengan sang adik. Yahiko tertawa pelan dan ber-high five dengan calon adik iparnya.
Sang Namikaze sulung menghela nafas dan berdiri. Tangannya kini membawa bungkusan berbentuk kotak berukuran cukup besar yang sengaja dibawanya ketempat itu.
"Dimana ruang makan kalian?" tanyanya.
Tanpa menjawab, Naruto segera bangkit dan melangkah dengan menggandeng sebelah tangan sang kakak, membawanya ke ruang makan. Shion tersenyum lembut melihat sikap Naruto yang sama sekali tidak berubah. Pemuda beriris langit itu tetaplah adik kecilnya.
Setelah membuka kotak yang ternyata berisi makanan, mereka bertujuh makan dengan lahap. Sesekali Shion menambahkan lauk ke mangkuk Naruto, yang langsung mendapat respon berupa tatapan iri Yahiko. Sasuke tampak menikmati makan malamnya, sementara Neji, Gaara dan Kiba hanya diam dan memperhatikan keakraban kakak beradik itu.
"Kau membuatku ingin bertemu dengan Hana-nee, Naru-nii." Kiba menggigit ujung sumpitnya.
"Shion-nee juga mengingatkanku dengan Temari-nee." Gaara menghela nafas.
Naruto menatap kedua adiknya. Sejak pindah ke apartemen ini, kelimanya memang belum pernah pulang kerumah mereka masing-masing. Jadwal latihan, promosi single, dan beberapa shooting menyapu bersih waktu mereka.
Naruto sudah pernah mendapati ketiga adiknya melamun karena terlalu rindu pada keluarga mereka. Ia bahkan sempat membiarkan Kiba memeluknya erat sambil menangis di awal-awal masa trainee.
"Kenapa kalian memasang wajah seperti itu?" tanya Shion dengan alis bertaut. "Gaakun, sejak dulu kau adalah adikku. Dan Kiba, kau sudah jadi adikku sekarang. Ah, kau juga, Neji," paparnya.
Gaara tersenyum tipis, dan Naruto bisa melihat mata sang Inuzuka berbinar saat Shion mengambil beberapa potongan daging dan menaruhnya di mangkuk Kiba. Sang leader tersenyum melihat suasana kekeluargaan yang sangat kental ini.
'Semoga semuanya bisa terus berjalan seperti ini.'
# # #
Naruto tersenyum begitu melihat Kiba yang masuk ke ruang makan dengan langkah gontai. Mereka baru bisa tidur jam dua pagi, itupun setelah Yahiko 'menyeret' Shion keluar dari apartemen Konoha's Academy. Beruntung hari ini kegiatan mereka dimulai jam sepuluh, jadi kelimanya bisa bangun sedikit lebih siang.
"Pagi, Naru-nii," sapa Kiba yang sudah mengambil tempat di depan meja makan. "Kau masak apa?"
"Aku membuat nasi goreng, Kiba. Makanan yang dibawa Shion-nee semalam masih tersisa banyak, kita bisa menghangatkannya untuk dijadikan makanan pendamping pagi ini," papar Naruto.
Pemuda berkulit tan itu fokus dengan nasi gorengnya, sampai akhirnya suara helaan nafas sampai di telinganya. Ia sedikit melirik kearah pintu.
"Pagi, Gaakun," sapanya singkat. Matanya kembali tertuju pada masakan sederhananya.
"Pagi, Naru," balas Gaara. "Bisa-bisanya dia tidur disini. Kiba, ayo bangun," tuturnya dengan sebelah tangan mengguncang bahu si bungsu.
"Aku akan bangun kalau sarapannya sudah siap," gumam Kiba.
"Biarkan saja, Gaakun. Sepertinya dia masih mengantuk."
Gaara menopang dagu dengan sebelah tangan, sementara tangan sebelahnya lagi mengetuk-ngetuk meja. Perlahan ia memejamkan mata. Pemuda berambut merah itu sendiri juga sebenarnya masih mengantuk.
"Gaara-nii, kau tahu apa yang kita gunakan untuk makan?"
"Hm? Apa?" Gaara balik bertanya dengan nada tidak tertarik.
"Sendok, Gaara-nii," jawab Kiba. "Dan kau tahu apa lagi?" lanjutnya.
"Apa?"
"Garpu."
Naruto yang mendengar percakapan kedua adiknya berusaha untuk menahan tawa.
'Percakapan pagi yang aneh,' batinnya.
"Naru-nii, aku lapar…" ucap Kiba.
"Sebentar lagi selesai. Kau mau makanan pendamping apa, Kiba?" tanya Naruto, namun tidak ada respon.
"Kiba, Naruto bertanya padamu," ujar Gaara.
Tidak mendapatkan jawaban, Gaara membuka matanya dan menolehkan kepala. Ia mendapati sang Inuzuka yang ternyata terlelap tidur.
Naruto meletakkan lima piring diatas meja dan mulai membagi sarapan mereka. Ia juga meletakkan beberapa piring berisikan telur mata sapi dan beberapa makanan semalam yang sudah dihagatkan.
"Sejak kapan dia lelap tidur?" tanya Gaara dengan dahi berkerut.
"Kurasa sejak dia berkata kalau dia akan bangun saat sarapan siap," jawab Naruto.
"Eh?" Gaara tampak bingung. "Lalu yang tadi mengajakku mengobrol siapa?"
Naruto melepaskan tawa. Pantas saja percakapan pagi kedua adiknya terdengar aneh, ternyata yang memulai percakapan ternyata tidak dalam keadaan sadar.
"Pagi," sapa Neji yang langsung duduk disamping Kiba.
"Pagi, Neji. Apa kau melihat Sasuke? Dia sudah tidak ada di kamar saat aku bangun pagi ini," tanya Naruto.
"Tidak. Hari ini dia tidak membangunkanku," jawab Neji sekenanya.
Naruto memutuskan untuk mulai sarapan tanpa menunggu Sasuke. Biarkan saja Teme-nya menyusul nanti. Setelah membangunkan Kiba, mereka berempat mulai menyantap makanan diatas meja.
"Pipimu kenapa, Neji?" tanya Naruto saat keduanya sedang mencuci piring setelah sarapan selesai. Hari ini memang giliran leader dan rapper Konoha's Academy itu memasak dan mencuci piring. Dan karena Naruto sudah memasak, Neji mendapat tugas mencuci piring.
"Tidak apa-apa. Aku hanya kurang hati-hati," balas Neji sekenanya.
Kegiatan sang Hyuuga terhenti saat Naruto mengalihkan wajahnya dengan sebelah tangan. Naruto tidak bodoh. Ia bisa memperkirakan apa penyebab pipi pemuda dihadapannya sedikit membiru dan lebam.
"Siapa yang memukulmu?"
Neji kembali mengalihkan tatapan dan melanjutkan kegiatannya tanpa menjawab pertanyaan lawan bicaranya.
"Apa ada hal yang terjadi saat aku menginap di apartemen Akatsuki kemarin?"
Lagi, tidak ada jawaban. Naruto menghela nafas dan menggeleng pelan. Ia tidak ingin memaksa karena ia tahu benar watak seorang Hyuuga Neji. Kadang pemuda berkulit putih ini bisa jauh lebih keras kepala dibandingkan dirinya.
Tapi walaupun Neji tidak memberitahunya, ia bisa memperkirakan siapa yang berani melayangkan bogem mentah pada sang Hyuuga muda. Hanya ada satu orang yang bisa melakukan hal itu pada Neji, dan perkiraannya tidak akan meleset.
"Apa yang membuat Sasuke memukulmu?"
Neji menyusun piring, gelas, sendok dan garpu ditempatnya. Ia lalu mengeringkan tangannya dengan lap yang digantung di dekat wastafel.
"Aku pantas mendapatkannya, Naruto. Dan Sasuke pantas memukulku atas perkataanku padamu tempo hari." Akhirnya Neji angkat bicara.
Naruto menghela nafas panjang. Ternyata Sasuke masih menggunakan kekerasan untuk melampiaskan kekesalannya. Naruto mengingatkan dirinya sendiri untuk memberi 'pengarahan' pada lead vocal-nya nanti.
"Aku tidak akan membahas hal itu lagi. Sebenarnya aku tidak berhak mengetahui semua hal di masa lalumu. Maafkan aku karena sudah melewati batas privacy-mu," ungkap Neji sambil membungkukkan tubuh.
Naruto menatap sosok di hadapannya beberapa saat sebelum menepuk bahu pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya itu.
"Aku senang kau menyadari kesalahanmu dan meminta maaf secara dewasa. Aku pun akan menyelesaikan masalah ini dengan tak kalah dewasa. Tegakkan tubuhmu," ucap Naruto sembari menarik tangannya.
Neji menuruti perintah pemuda yang setahun lebih tua itu. Tapi, beberapa detik setelah tubuhnya berdiri dengan sempurna, Naruto melayangkan kepalan tangan yang mendarat tepat di perut sang Hyuuga muda.
Neji, yang sama sekali tidak memperkirakan hal yang baru saja terjadi, meringis pelan sebelum mengangkat wajanya dan menatap Naruto yang sedang menunjukkan seringai.
"Dengan itu kuanggap masalah ini selesai, Hyuuga," tuturnya ringan yang langsung dibalas dengusan geli dan anggukan oleh lawan bicaranya. Naruto tersenyum lebar dan memeluk sang adik sekilas.
Naruto sendiri sebenarnya sudah melupakan pertengkarannya dengan Neji, dan ia sama sekali tidak kesal ataupun marah karena Neji menanyakan hal itu. Ia tidak marah pada Neji, ia hanya marah pada dirinya sendiri. Namun amarah itu sendiri sudah lenyap sejak semalam, saat Shion bicara padanya sebelum pergi dari gedung apartemen.
"Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan, Naru. Apa yang terjadi padamu, semuanya sudah direncanakan. Dan semua rencana itu memiliki alasan. Kenapa kau harus keluar dari Yottsu Kikou, kenapa Neji menanyakan alasanmu keluar, dan kenapa kau merasa bersalah atas masa lalu itu. Semuanya memiliki alasan, termasuk kenapa saat ini kau bisa berkumpul dengan keempat rekanmu. Dan kurasa kau sudah tahu kenapa kau ada di Konoha's Academy kan?"
Tak perlu waktu lama bagi Naruto untuk menyadari alasan yang dimaksud kakaknya. Ia sudah menemukan alasan itu beberapa saat setelah ia tergabung dalam Konoha's Academy.
"Karena inilah tempatku. Karena merekalah rumahku. Karena aku tidak tahu dimana lagi seharusnya aku berada selain disini, bersama mereka."
TBC
Balasan review:
Yui-chan d'GoldenSnake: eh?membingungkan ya? Ah, maaf saya tidak bisa meng-update kilat ^^
Hakken: chapter selanjutnya tersedia~ ^^
Vii no Kitsune: irama? Goyang? Dangdut? O.O *dilempar wajan* Terlalu cepat kah? Hmm, padahal ini sesuai dengan plot yang saya buat sebelumnya. Never mind~ Saya malah berterimakasih karena Vii sudah memberikan pendapat^^
Uzumaki Chiaki: sudah mengerti? Syukurlah~ :D Yottsu Kikou itu terinspirasi dari Four Seasons, boyband Yunho dan Jajoong sebelum mereka tergabung di DBSK. Anggota Four Seasons itu sendiri adalah Yunho dan Jaejoong (DBSK), Kangin dan Heechul (Super Junior). Tapi cerita tentang bubarnya Yottsu Kikou murni imajinasi saya. Terimakasih sudah menunggu ^^
