Konoha's Academy

Disclaimer : Naruto dkk selalu jadi miliknya Kishimoto Sensei.

Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst.

Author Notes: seperti judulnya, chapter ini bercerita tentang apa yang terjadi saat Sasuke menemui Kakashi dan menjalankan jadwalnya hari itu. Singkatnya, chapter ini adalah sebuah flashback.

Enjoy It!

#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#

.

Fourteenth Chapter : The Day Before

.

"Yo, Sasuke," sapa Kakashi saat melihat sang lead vocal memasuki ruangannya di kantor management. Sasuke sedikit menganggukkan kepala dan duduk berhadapan dengan manager-nya.

"Kau memanggilku?"

"Ya. Berhubung Naruto sedang tidak di sini, aku memanggilmu. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan."

Kakashi mengeluarkan sebuah map berisikan kertas-kertas dengan label Konoha's Academy di bagian atasnya. Ia memberikan Sasuke beberapa lembar dan memintanya membaca kertas itu.

Setelah hampir satu jam keduanya membicarakan masalah mini konser yang akan diadakan Konoha's Academy, keduanya melangkah keluar ruangan. Setelah kelima anggota Konoha's Academy menyelesaikan pembuatan album perdana Konoha's Academy, mereka langsung mempersiapkan diri untuk melakukan mini konser yang akan diadakan seminggu lagi.

Persiapan akhirnya sendiri sudah dilakukan selama tiga bulan terakhir. Ditengah-tengah jadwal shooting iklan dan variety show, kelimanya melakukan latihan dengan keras. Mereka bahkan harus pulang lewat dari tengah malam untuk memantapkan koreografi mereka.

"Kuharap konser ini berlangsung dengan baik," ucap Kakashi saat keduanya berjalan di koridor menuju studio tempat latihan koreografi dilaksanakan.

"Hn. Aku berani bertaruh Naruto tidak akan mengacaukan ini. Dia tidak sebodoh itu," balas Sasuke.

"Kuharap hubungan kalian juga segera membaik. Neji dan Kiba bersikap sangat aneh hari ini. Gaara juga, dia panik karena kalian tidak pulang semalam."

Sasuke melangkahkan kaki memasuki ruangan yang tiga sisi dindingnya ditutupi cermin—ruang koreo. Kiba dan Gaara yang melihat kedatangan anggota tertua di Konoha's Academy itu langsung bangun dari duduknya dan berjalan mendekat.

"Kau sendiri, Sasu-nii? Mana Naru-nii? Apa dia baik-baik saja? Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi? Kenapa kalian tidak pulang semalam?" tanyanya dalam satu tarikan nafas. Belum sempat Sasuke menjawab rentetan pertanyaan si bungsu, Gaara sudah menarik bahunya.

"Kenapa kau tidak memberi kabar, Uchiha?" tanyanya dengan tatapan tajam, namun Sasuke bisa menangkap nada cemas di nada bicara sang Sabaku.

"Kami baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir. Sebaiknya kita mulai latihan," tutur Sasuke memberi instruksi untuk memulai peregangan.

.

"Jadi kalian tidak akan pulang ke apartemen hari ini?" tanya Gaara saat mereka tengah berada di restroom. Keempat anggota Konoha's Academy itu baru saja menjadi bintang tamu sebuah acara musik disalah satu stasiun televisi.

"Lalu kapan kalian pulang? Kapan Naru-nii mulai latihan lagi?" tanya Kiba.

"Aku belum bisa memastikan kapan dia akan kembali ke apartemen, tapi dia akan memulai rutinitasnya besok. Untuk saat ini, manager memberitahu media kalau Naruto sedang menjalani latihan bersama Akatsuki untuk menutupi alasan sebenarnya kenapa dia tidak bersama kita."

"Jadi dia memilih untuk sembunyi, huh?"

Tiga pasang mata langsung memandang pemuda berambut coklat yang sedang duduk didepan meja rias. Neji sedang membersihkan sisa-sisa make-up di wajahnya. Sasuke mengepalkan tangan dan menghela nafas panjang.

"Jangan mulai, Neji," Gaara merendahkan nada bicaranya.

"Aku tidak mau keadaan kita terus begini, Neji-nii. Sudahlah," Kiba menimpali.

"Aku tidak akan melarang kalian melindunginya, tapi bukankah seharusnya dia yang melindungi kita? Dia leader-nya kan?" tanya Neji yang sudah memutar kursi dan menatap tiga rekannya.

Sasuke bangun dari duduknya dan berdiri di depan si pemuda Hyuuga. Sepasang mata onyx-nya menatap mata lawan bicaranya dengan tajam.

"Kau tahu apa?" tanya Sasuke dengan nada suara yang belum pernah didengar Neji, Gaara dan Kiba sebelumnya.

Kiba bangun dari duduknya dan berjalan cepat ke arah pintu yang belum tertutup rapat. Setelah memastikan pintu terkunci, ia kembali mendekati kakak-kakaknya. Sebelah tangan Sasuke tampak mengepal keras.

"Kau tidak tahu apa-apa, Neji. Kau tidak tahu apa-apa," ucap Sasuke datar. "Aku berani bertaruh kalau kau bahkan tidak tahu siapa Sora."

Neji mengerutkan dahi. Apa maksud Sasuke kalau dia tidak tahu apa-apa? Lalu Sora? Siapa Sora?

Sasuke menarik kerah kemeja Neji dengan sebelah tangan, membuat sang Hyuuga sedikit bangkit dari kursinya. Sepasang mata onyx-nya masih terarah lurus pada sepasang mata lavender milik sang lawan bicara.

"Kau lebih baik diam kalau kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Hyuuga!"

Dan kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat — Sasuke mendaratkan pukulan di pipi kanan Neji dengan telak.

.

"Naruto akan membunuhku kalau dia tahu aku menceritakan ini pada kalian," tutur Kakashi setelah melepaskan helaan nafas. "Sasuke memang memintaku memberitahu kalian, tapi tetap saja aku tidak yakin akan tindakanku ini."

"Kami berhak tahu apa tentang apa yang terjadi sebenarnya, manager," tuntut Neji yang sedang menempelkan haduk berisi es ke pipinya yang lebam.

Kakashi menatap tiga pemuda di depannya satu persatu dan meminta ketiganya untuk duduk sebelum ia mulai bercerita. Manager muda itu sebenarnya tidak terlalu terkejut ketika Neji, Gaara dan Kiba datang ke ruangannya dan menodong penjelasan mengenai Yottsu Kikou. Ia lebih terkejut saat Sasuke memintanya untuk menceritakan semua hal yang terjadi pada Yottsu Kikou pada ketiga anggota Konoha's Academy yang lain, terutama Neji.

"Sebelumnya kalian sudah tahu kalau dua kakak kalian itu pernah tergabung dalam Yottsu Kikou kan?" tanya Kakashi.

"Ya," jawab ketiganya serempak.

"Mereka adalah dua dari empat anggota Yottsu Kikou," Kakashi memaparkan. "Naruto adalah 'Natsu', Sasuke adalah 'Fuyu', dan Yahiko adalah 'Haru'. Lalu 'Aki'? Apa mereka memberitahu kalian siapa 'Aki'?"

"Err… Sora?" tebak Kiba. Kakashi menatap si bungsu dengan dahi berkerut.

"Mereka memberitahumu?" tanyanya.

"Mereka tidak memberitahu kami, tapi tadi Sasuke menyebutkan nama Sora, manager," Gaara menjelaskan.

Keheningan melingkupi suasana ruang santai gedung management selama beberapa saat. Neji mengusap pipinya yang sedikit bengkak akibat bogem mentah 'hadiah' Sasuke. Kakashi menghela nafas dan kembali membuka mulut.

"Aki adalah Sora, pemuda berbakat yang ditemukan management di salah satu audisi. Dia anak yang mudah bergaul dan bisa cepat beradaptasi dengan hal baru disekitarnya," papar Kakashi.

"Manager, sebelum kau mulai, aku ingin memastikan dulu. Apa benar Yottsu Kikou gagal mengeluarkan album?" tanya Gaara.

"Kalau dibilang gagal, sebenarnya tidak. Kalian harus tahu, sebenarnya Yottsu Kikou hanya dikontrak untuk membuat satu mini album, Gaara," Kakashi meluruskan.

"Eh?" Kiba terlihat bingung.

"Kontrak awal mereka memang hanya satu mini album, dan pembicaraan mengenai album baru mereka baru terjadi setelah nama mereka populer. Andai kecelakaan itu tidak terjadi, aku yakin mereka pasti menandatangani kontrak album dan saat ini Naruto tidak akan bersama kalian di Konoha's Academy," ungkap Kakashi.

Tiga pasang mata berbeda warna langsung menatap Kakashi dengan sorot penasaran. Satu kata yang terlontar dari mulut lelaki itu berhasil memancing rasa penasaran mereka lebih jauh.

"Kecelakaan? Kecelakaan apa maksudmu?" Dan nampaknya Gaara yang paling tidak bisa menahan rasa penasaran.

Kakashi kembali menatap satu persatu sosok dihadapannya dan menarik nafas panjang.

"Sora mengalami kecelakaan, dan dia meninggal beberapa minggu setelah Yottsu Kikou merilis mini album."

Raut terkejut terpampang jelas di wajah tiga anggota Konoha's Academy. Apa kecelakaan yang menimpa Sora berkaitan dengan keputusan Naruto keluar dari grup pertamanya?

"Bisa kau ceritakan kecelakaan yang menimpa Sora, manager?" pinta Neji.

"Kau tidak perlu takut Naru-nii akan membunuhmu, manager. Aku akan memasang puppy eyes andalanku dan memintanya mengampunimu nanti," cetus Kiba.

Kakashi mendengus geli mendengar pembelaan sang Inuzuka. Setidaknya celetukan itu membuatnya merasa sedikit rileks.

"Saat itu mereka berlima tinggal di dorm, tidak di apartemen seperti kalian saat ini," ungkap Kakashi. "Hari itu Sora meminta ijin pada Naruto untuk pergi mengunjungi teman-temanya sampai larut. Berhubung Yottsu Kikou sedang tidak ada jadwal, Naruto mengijinkannya pergi. Tapi ternyata Sora tidak pernah kembali ke dorm."

Neji langsung mengarahkan tatapan pada sosok manager-nya. Tidak pernah kembali ke dorm? Apa maksudnya Sora kabur? Pergi meninggalkan ketiga rekannya yang lain, begitu?

"Saat hampir tengah malam, Naruto menghubungi manager-nya dengan suara parau dan panik. Manager Yottsu Kikou yang saat itu sedang bersamaku kemudian bergegas menjemput Naruto, karena Naruto berkata kalau dia sedang ada di Rumah Sakit," ungkap Kakashi.

"Rumah Sakit? Naru-nii kenapa?" tanya Kiba dengan tatapan horor.

"Naruto tidak apa-apa, tapi Sora… Dia mengalami kecelakaan. Dia mengemudi dalam keadaan mabuk dan menabrak pembatas jalan sebelum akhirnya motor yang dikendarainya terguling ke tepi jalan."

Neji membulatkan matanya, sementara Gaara dan Kiba menahan nafas mereka. Kakashi menyandarkan diri di punggung sofa, berusaha menyamankan diri.

"Saat itu Sora tidak bisa langsung ditangani karena tidak ada yang menandatangani formulir Informed Consentuntuk melakukan operasi. Naruto sendiri belum berusia tujuh belas tahun, dia tidak bisa menandatangani kertas itu. Pihak Rumah Sakit tidak bisa melaksanakan tugas mereka karena terhalang masalah prosedural tadi."

Tiga anggota Konoha's Academy yang ada tampak menahan nafas.

"Lalu… apa yang terjadi?" Gaara bertanya dengan nada cemas.

"Naruto meminta Sora menunggunya sementara ia menghubungi manager mereka, tapi ternyata Sora tidak bisa bertahan. Dan Naruto mulai menyalahkan dirinya sendiri karena sudah meninggalkan Sora saat itu."

Kakashi tak akan pernah bisa lupa. Saat itu ia masih menjadi staff, dan ia melihat langsung keadaan Sora saat ia 'tertidur' di ranjang pasien beberapa saat setelah dilarikan ke Rumah Sakit. Dan ia tak akan pernah bisa melupakan bagaimana terguncangnya sang Uzumaki muda.

"Setelah dilakukan otopsi, pihak Rumah Sakit mengatakan kalau ternyata di dalam darah Sora juga ditemukan unsur narkotika. Naruto meminta pihak management untuk tetap menjaga identitas Sora. Dia bahkan memohon pada Tsunade agar tidak ada satu staff pun yang tahu kenyataan ini, karena jika mereka tahu, ada kemungkinan hal ini terendus media dan menghancurkan nama 'Aki' sekaligus nama baik Yottsu Kikou."

Keadaan kembali hening. Gaara menundukkan kepala dan Kiba meremas tangannya sendiri dengan kuat. Kakashi menarik nafas panjang. Ia tidak percaya kalau saat ini dirinya baru saja membicarakan kecelakaan beberapa tahun silam, karena sesungguhnya ia tidak pernah mau menceritakan rahasia ini pada siapapun.

"Itu sebabnya dia berkata kalau saat itu dia bukanlah leader yang baik?" bisik Kiba. Kakashi mengangguk kecil.

"Setelah Sora meninggal, management menawarkan kontrak pada Yottsu Kikou untuk merilis album mereka, dan Naruto adalah anggota pertama yang menolaknya," ungkap Kakashi.

"Kenapa Naru-nii menolak?"

"Jangan katakan hanya karena kepergian Sora, Naruto menolak untuk menandatangani kontrak mereka," Neji menggumam.

"Sebenarnya memang karena itu, Neji. Tebakanmu mendekati kebenaran."

"Kau serius, manager?" tanya Gaara. "Rasanya tidak mungkin Naruto melepaskan Yottsu Kikou kalau hanya dengan alasan itu. Bukankah mereka bisa mencari pengganti Sora?"

"Itulah masalahnya, Gaara," Kakashi menghela nafas. "Naruto sebenarnya sudah memikirkan ke arah sana sebelum mengambil keputusan. Menurutnya terlalu mencurigakan kalau Yottsu Kikou merilis album tanpa main vocal mereka. Naruto berani bertaruh kalau fans mereka pasti bisa langsung menyadari kalau Sora sudah tidak tergabung di Yottsu Kikou lagi. Menurutnya terlalu beresiko jika mereka mengganti main vocal dan mencari anggota baru untuk menggantikan Sora."

"Kurasa aku bisa mengerti. Staff di management pasti langsung menyadari 'hilangnya' Sora kalau Yottsu Kikou mencari penggantinya. Dan kalau mereka sadar, bisa jadi kecelakaan Sora terungkap dan bang!, rusaklah nama mereka," papar Kiba.

Gaara dan Neji, tidak tahu harus bicara apa. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa dibalik sikap semangat dan sifat ceria Naruto, pemuda berkulit tan itu pernah mengalami hal seperti ini.

"Karena itulah Naruto menolak untuk menandatangani kontrak album Yottsu Kikou dan memilih untuk menjadi rekan duet salah satu penyanyi yang saat itu baru diorbitkan management. Sikapnya itulah yang membuat staff management, yang sama sekali tidak tahu tentang kejadian yang sebenarnya, menjelek-jelekkannya. Mereka berkata pada media bahwa Natsu menolak menandatangani kontrak dan memilih untuk bersolo karir setelah kesuksesan yang didapatnya," Kakashi menarik nafas panjang.

"Tapi Naru-nii tidak benar-benar berniat memulai karir solonya kan?" tanya Kiba.

"Tentu saja tidak, Kiba. Kalau dia benar berniat merintis karir solo, lalu kenapa dia bisa tergabung bersama kalian? Aku berani mundur dari pekerjaanku sebagai manager kalau sampai dia tidak sukses menjadi seorang penyanyi solo."

"Kau benar. Kemampuan vokal Naruto memang diatas rata-rata. Dan kalau benar dia merintis karir solo, pasti ada seseorang yang mau memproduserinya," Gaara bergumam.

Neji menundukkan kepala dan meremas handuk berisikan es di tangannya. Otaknya kesulitan mencerna semua kenyataan yang dipaparkan oleh manager-nya. Ia tidak percaya bahwa ia sudah menilai leader-nya seburuk itu. Ia lebih tidak percaya kenapa ia bisa termakan oleh tulisan media dan ucapan staff management yang didengarnya.

"Percaya atau tidak, aku memerlukan waktu hampir setengah tahun untuk membujuk Uzumaki satu itu agar dia mau mengikuti audisi personil Konoha's Academy. Dan kalau saja Sasuke tidak membantuku 'menjinakkan' Naruto, mungkin kalian akan dipimpin Sasuke, karena dia adalah kandidat utama leader Konoha's Academy sebelum Naruto memutuskan untuk ikut bergabung."

Kakashi menatap raut wajah ketiga pemuda didepannya satu persatu. Tatapannya kemudian mengarah pada Neji yang menundukkan kepala dan meremas kompres di tangannya dengan kuat.

"Aku bisa mengerti kenapa Naruto tidak ingin memberitahu kami tentang hal ini, manager. Tapi kenapa kau pura-pura tidak tahu saat kami bertanya ketika Sasuke masuk Rumah Sakit?" tanya Gaara.

"Sama seperti Naruto, aku pun selalu menghindari topik pembicaraan mengenai bubarnya Yottsu Kikou. Alasanku tidak mau membahas hal ini sangat sederhana; aku tidak tahu bagaimana cara membeberkan kenyataan tadi pada orang lain, dan aku tidak bisa menceritakannya pada sembarang orang."

.

Sasuke mempercepat langkah kakinya menuju pintu lift, dia harus segera keluar dari gedung management. Latihan persiapan mini konser baru saja selesai beberapa saat yang lalu, dan waktu kini sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat duapuluh malam.

Selain karena Naruto yang pasti masih menunggunya di apartemen Akatsuki, pemuda berambut raven ini juga mempercepat langkahnya untuk menghindari kesalahan yang bisa diulanginya jika terus berada di gedung megah ini.

"Sasuke, tunggu!"

Suara erangan pelan meluncur dari bibir sang Uchiha begitu mendengar namanya dipanggil. Sungguh, ia masih belum bisa memaafkan dirinya atas kesalahannya siang tadi, dan ia tidak mau kembali mengulangi apa yang dilakukannya itu.

"Uchiha!"

Langukahnya benar-benar terhenti setelah Neji menarik dan meremas bahunya pelan. Sasuke membalikkan tubuh dan memperhatikan sosok yang sedang terengah di depannya.

Sebuah hembusan nafas berat terdengar dari sang Uchiha saat matanya melihat lebam di pipi Neji. Kali ini ia yakin Naruto akan membunuhnya. Bukan hanya karena pulang terlambat, tapi juga karena ia sudah melukai salah satu adiknya.

"Aku sudah tahu semuanya," ucap Neji dengan nafas yang berangsur normal. "Gaara, Kiba, dan aku sudah mengetahui semuanya. Kakashi sudah memberitahu kami," lanjutnya lengkap.

"Bagus kalau begitu," balas Sasuke datar dengan tatapan dingin. Neji menggeram pelan dan menarik tangannya yang tadi berada di bahu Sasuke.

"Aku tahu aku salah. Tidak bisakah kau kembali bersikap seperti biasa padaku?" tanyanya frustasi.

Sasuke memperhatikan Neji yang sekarang sedang menjambak pelan rambut coklatnnya. Sebenarnya ia sama sekali tidak berniat untuk bicara dengan nada datar dan memberikan tatapan dingin pada Neji. Apa yang terjadi adalah hal spontan yang dilakukannya tanpa sadar.

"Aku tidak bisa menghubungi Naruto. Tolong katakan padanya kalau aku meminta maaf dan ingin dia segera kembali," pintanya.

"Aku bukan kurirmu. Kau harus meminta maaf sendiri." Lagi-lagi nada datar itu yang meluncur dari bibir Sasuke.

"Aku sama sekali tidak keberatan untuk meminta maaf, bahkan sudah sepantasnya aku memintanya memaafkan sikap kekanakanku. Yang jadi masalah, bagaimana aku bisa meminta maaf sedangkan aku tidak bisa menghubunginya?" tanya Neji dengan helaan nafas panjang.

"Kau bisa ikut denganku ke apartemen Akatsuki dan menemuinya sekarang."

"Apa kau mau melihatku mati muda, Uchiha Sasuke?"

Sasuke menyeringai mendengar pertanyaan juniornya. Saat ini memang bisa dipastikan kalau semua, atau setidaknya hampir semua anggota Akatsuki mengetahui permasalahan yang melanda leader dan rapper Konoha's Academy. Dan kalau sampai mereka bertemu Neji, bisa dipastikan umur si pemuda Hyuuga tidak akan panjang.

Sasuke membalikkan tubuh dan kembali melangkah mendekati lift yang sedang menunggunya. Neji kembali menggeram frustasi karena lagi-lagi ia diabaikan oleh seniornya satu itu.

"Naruto akan kembali menjalani kegiatannya besok, dan aku akan mengajaknya untuk kembali ke apartemen. Kau punya waktu semalam untuk mempersiapkan diri sebelum meminta maaf padanya," ungkap Sasuke tanpa menghentikan langkah.

Neji terus menatap sosok anggota tertua Konoha's Academy yang baru saja menekan tombol panah yang mengarah ke bawah.

"Aku yakin manager tidak memberitahumu tentang hal ini, bahkan mungkin hanya aku, Shion-san, Sasori-san, dan Yahiko yang mengetahuinya. Tapi kurasa sekarang kau juga harus tahu."

Neji menatap Sasuke dengan dahi berkerut. Sekarang apalagi yang disembunyikan kedua kakaknya itu?

"Alasan utama Naruto keluar dari Yottsu Kikou sebenarnya bukan hanya karena tidak adanya Sora, tapi juga karena dia merasa sudah lalai sekaligus gagal menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang leader."

Pintu lift tampak terbuka perlahan. Sasuke melangkah masuk dan membalikkan tubuh. Matanya menatap lekat iris lavender milik Neji.

"Naruto tidak benar-benar marah padamu. Dia menyembunyikan semua hal ini karena dia ingin menjadi sosok leader yang sempurna di mata kalian. Dan dia masih berusaha mewujudkan hal itu hingga detik ini."

Pintu lift akhirnya menutup sempurna setelah sebelumnya Sasuke menekan tombol bertuliskan angka satu.

.

.

TBC

.

.

Balasan review:

Keyra: wah, ada yang menyadari bagian itu! XD Akan saya usahakan untuk tidak terlambat mgn-update lagi ^^

Vii no Kitsune: saya sengaja membuat chapter kemarin begitu, karena saya sudah membuat chapter ini, semoga bisa dimengerti ^^ Ah, membaca kata 'praktek' membuat saya sedikit tertekan *lirik materi presentasi selama dua minggu ke depan* Amin, semoga nilainya bagus~Yep, ganbarimasu!

Uzumaki Chiaki: saya lebih telat Sasuke saya hilangkan, hahahaha. Bisa mati dia kalau ada disitu *lirik Naru yang sudah siap memberi 'pengarahan'* :p