Konoha's Academy
Disclaimer : selalu jadi miliknya Kishimoto Sensei…
Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ!Shounen Ai, Yaoi, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst.
.
Sasuke & Naruto: 23 tahun
Neji & Gaara: 22 tahun
Kiba: 21 tahun
.
Basalan review:
Vii no Kitsune: eh, benarkah? Padahal rancangan fic ini memang seperti ini lho. 'Kami' di bagian itu maksudnya mereka berlima. Sekuel? Saya pikirkan nanti, semoga ada ide dan waktu untuk membuatnya ^^
Keyra: Yep, it's end. Cheonmanaeyo~ Gomawo juga sudah mau membaca dan me-review ^^
Enjoy It!
#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
.
Epilogue : Nothing Will Change, Won't It?
.
Sasuke membuka matanya perlahan sebelum kemudian menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit. Anggota tertua Konoha's Academy itu menghela nafas dan duduk di atas tempat tidurnya.
Untuk pertama kalinya lead vocal Konoha's Academy itu tidak menyukai pagi hari. Sebelum ini pemuda itu sama sekali tidak bermasalah dengan pagi hari, walaupun itu selalu mengingatkannya pada jadwal yang harus diselesaikannya dan juga latihan keras yang sudah disusun sedemikian rupa.
Pemuda berambut raven itu sedikit menghela nafas dan bangkit lalu melangkah menuju kamar mandi. Setelah membersihkan diri, ia kembali ke kamar untuk membangunkan anggota termuda. Dahinya berkerut ketika mendapati tempat tidur Kiba yang kosong, padahal sebelum ia keluar dari kamar, Kiba masih terlelap di sana.
"Kau sudah bangun?" Sasuke menaikkan sebelah alis dengan tatapan mengarah pada sosok berambut coklat berantakan yang sudah ada di ruang makan.
"Aku sudah membuat sarapan," balas Kiba setengah berbisik.
Sasuke menggumamkan 'Hn' andalannya dan membuka kulkas untuk mengambil kotak susu dan menuangkan isinya ke gelas yang sudah digenggamnya terlebih dulu. Ia kemudian duduk berhadapan dengan si bungsu dan mengambil sepotong sandwich yang tersedia.
Sasuke menelan hasil kunyahannya dan menatap wajah Kiba yang tampak lelah. Wajar saja, mereka baru pulang jam dua dini hari tadi. Selain itu, hari ini adalah hari yang cukup mendebarkan bagi si bungsu.
Hari ini adalah tepat lima tahun ia tergabung dalam Konoha's Academy, dan hari ini juga pihak management akan membicarakan masalah kontrak kelimanya; apakah akan diperpanjang dan diperbaharui atau tidak.
Keduanya melanjutkan sarapan mereka dalam diam. Sasuke memang bukan tipe orang yang senang bicara, dan Kiba sedang tidak dalam mood yang baik untuk memulai pembicaraan. Dering telepon terdengar dari ruang tengah yang juga merupakan ruang tamu. Sasuke bangun dari duduknya dan mengangkat telepon.
"Moshi-moshi," sapanya.
"Oh, Sasuke. Kau sudah bersiap? Meeting akan diadakan satu jam lagi," suara Kakashi terdengar dari ujung telepon.
Sasuke mengangkat wajahnya dan menatap jarum jam yang mengarah ke angka enam dan tujuh.
"Ya. Kami akan segera kesana setelah selesai sarapan, kau bisa menjemput kami setengah jam lagi, manager."
"Baiklah." Kakashi memutuskan hubungan komunikasi.
Sasuke meletakkan gagang telepon di tempatnya. Kini pandangannya tertuju pada bingkai foto yang berisi foto Konoha's Academy di rak DVD.
"Kalian tahu? Apartemen akan terasa sangat sepi tanpa kehadiran kalian bertiga," gumamnya.
.
Kiba menatap tiga sosok yang duduk berhadapan dengannya dengan pandangan tak percaya. Sasuke yang duduk disampingnya hanya diam. Lead vocal Konoha's Academy itu sebenarnya sudah lebih dulu mengetahui hal yang dikatakan Naruto beberapa menit yang lalu.
Rapat internal Konoha's Academy baru saja selesai dengan hasil yang mengejutkan. Di satu sisi kelima anggota boyband itu bisa menghembuskan nafas lega karena Konoha Production memutuskan untuk memperpanjang dan memperbaharui kontrak mereka, tapi di sisi lain mereka harus menerima perintah Tsunade untuk vakum selama setengah tahun ke depan.
Vakum.
Tsunade memerintahkan hal itu bukan tanpa alasan. Konoha's Academy memang harus me-manage 'badan' baru mereka sebelum kembali beraktifitas dan meluncurkan single ataupun album baru.
"Maaf, Kiba, tapi aku tidak bisa menjadi leader Konoha's Academy lagi," Naruto memecahkan keheningan.
Kiba masih berusaha untuk mengerti kalau pemuda pirang itu tidak bisa lagi menjadi leader Konoha's Academy, tapi kenapa kakaknya itu harus pergi? Pandangannya kini tertuju pada dua kakaknya yang duduk mengapit Naruto.
"Aku tidak akan bertahan kalau ada salah satu dari kita yang 'tumbang'. Kau masih ingat ucapanku itu kan?"
Kiba mengalihkan pandangan dari pemuda berambut coklat ke pemuda berambut merah yang menatapnya dengan sorot teduh.
"Aku tidak bisa bisa melanjutkan ini, Kiba. Maaf."
Kiba menggeleng, matanya masih menunjukkan sorot tidak percaya. Naruto menarik nafas panjang dan menggerakkan kursi yang didudukinya mendekat pada kursi yang diduduki si anggota termuda.
"Aku sama sekali tidak merencanakan ini, Kiba. Aku tidak ingin menjadi beban untuk kalian. Aku tidak bisa memaksakan diri lebih dari ini," ungkapnya.
Kiba menatap kruk yang bersandar di sisi sofa tak jauh dari tempat kakak favoritnya berada. Matanya kemudian mengarah pada kaki kanan Naruto yang dibalut celana Jeans.
Kiba tahu kalau dibalik kain kaku itu terdapat perban yang cukup tebal dan kuat. Sudah hampir dua tahun Naruto mengalami cidera di kakinya, dan baru seminggu yang lalu pemuda pirang itu melaksanakan operasi.
"Aku tidak bisa memaksakan diri lebih dari ini, Kiba. Kuharap kau mengerti."
Kiba menundukkan kepala. Dia tahu bagaimana perjuangan Naruto melawan rasa sakitnya selama ini. Kakaknya itu memang selalu tampak baik-baik saja, tapi sebenarnya ia menyembunyikan semua penderitaannya di depan publik. Posisinya sebagai leader membuat Naruto selalu berusaha untuk menunjukkan yang terbaik walaupun harus sampai memaksakan diri, sebelum akhirnya ia menyerah seminggu yang lalu.
Seminggu yang lalu, ketika Naruto memaksakan diri –entah untuk yang keberapa kalinya– datang ke sebuah acara televisi menyusul keempat rekannya. Hari itu, untuk pertama kalinya, Kiba menangis di depan umum ketika melihat kedatangan Naruto ke studio. Demi Tuhan, sehari sebelumnya Naruto baru saja dilarikan ke Rumah Sakit, dan malam harinya pemuda berkulit tan itu baru saja melaksanakan operasi. Kiba tidak bisa menebak berapa butir pain killer yang diminum sang kakak saat itu.
"Kalian pasti bercanda," Kiba berbisik pelan.
Naruto mengulurkan kedua tangannya dan memeluk adik bungsunya erat. Tidak pernah sekalipun terbesit di benaknya untuk meninggalkan sang Inuzuka ataupun keluar dari Konoha's Academy. Kalau saja ia masih bisa bertahan untuk terus memaksakan diri, ia tidak akan mengambil keputusan berat ini. Tapi dokter sudah memperingatkannya. Keadaan kakinya tidak akan pernah membaik jika ia tetap melakukan rutinitas berat. Dan hal itulah yang membuatnya membulatkan tekad untuk keluar dari boyband keduanya.
Kiba membalas pelukan Naruto dan terdiam ketika mendengar kata 'Maaf' terlontar berkali-kali dari mulut kakaknya. Sasuke tahu hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Sejak Naruto masuk Rumah Sakit seminggu yang lalu, leader-nya itu sudah memberitahukan kemungkinan kalau karirnya di Konoha's Academy akan berakhir.
Sepasang iris onyx itu kini menatap dua sosok yang duduk tak jauh dari sang leader; Neji dan Gaara. Sejak awal Neji memang mengungkapkan kalau ia tidak akan bertahan di Konoha's Academy jika salah satu dari anggota Konoha's Academy keluar, jadi Sasuke tidak terlalu terkejut ketika mendengar kalau pemuda berambut coklat sebahu itu memutuskan untuk hengkang dan menerima tawaran management untuk menjadi salah satu komposer di Konoha Production.
Sementara Gaara… Pemuda beriris hijau itu memutuskan untuk menerima tawaran management untuk merilis single-nya sendiri sebagai penyanyi solo setelah tahu Naruto mengundurkan diri dari Konoha's Academy. Tidak ada yang salah dengan itu, dan tidak ada yang bisa menyalahkan keputusan sang Sabaku. Masing-masing orang berhak memilih jalannya sendiri kan?
Kiba melepaskan pelukannya dan menatap Naruto, Neji dan Gaara secara bergantian dengan mata memerah dan sedikit sembab.
"Kalau kalian pergi, lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan Konoha's Academy?" tanyanya dengan suara serak. Naruto tersenyum dan mengacak pelan rambut coklat adiknya.
"Kau harus berusaha untuk terus menghidupkan nama Konoha's Academy, Kiba. Kau tidak boleh membiarkan Konoha's Academy mati. Kau harus mempertahankannya."
"Tapi tanpa kalian—"
"Sasuke bersedia untuk menggantikan posisiku sebagai leader. Kalian berdua harus tetap bertahan untuk Konoha's Academy dan menjaga Chrysanths kita, mengerti?"
Kiba memandang iris langit dihadapannya dan menggeleng. Bagaimana mungkin Konoha's Academy berdiri tanpa tiga orang kakaknya ini? Bukankah anggota Konoha's Academy berjumlah lima orang dan bukan dua orang?
Naruto memegang bahu Kiba dengan kedua tangannya, membuat pemuda itu memandangnya lurus dan dalam.
"Aku tidak bisa lagi menjaga Konoha's Academy, Kiba. Dan aku ingin kau membantu Sasuke menjaganya untukku. Kau harus berjanji padaku."
.
Sasuke mengikuti langkah tergesa Kiba. Saat ini keduanya tengah menuju apartemen mereka. Setelah menekan kode password, Kiba segera mendorong pintu dan menghambur menuju kamar. Dengan sedikit kasar diputarnya knob pintu sebelum mendorongnya.
"Tidak," bisiknya.
Sasuke yang berdiri di belakang Kiba hanya terdiam melihat pemandangan di depan matanya. Dua tahun setelah debut Konoha's Academy, pihak management memberikan tempat tinggal baru untuk mereka; sebuah kamar di apartemen ini.
Kakashi berkata kalau apartemen lama mereka kurang luas, dan di apartemen itu kelimanya tidak mempunyai ruang musik ataupun ruang rekreasi untuk melepaskan penat. Maka dari itu, manager mereka memberikan apartemen ini sebagai pengganti apartemen sebelumnya.
Apartemen ini memang lebih luas dengan lima kamar yang cukup besar dan dua kamar mandi utama. Jarak apartemen ini dengan gedung management sendiri tidak terlalu jauh. Dan setelah berunding, kelimanya memutuskan untuk tidur di satu kamar yang sama karena dua kamar akan digunakan sebagai ruang musik, satu kamar digunakan sebagai ruang rekreasi, dan satu kamar lagi digunakan sebagai kamar wardrobe.
Kiba melangkah memasuki kamar mereka dengan langkah sedikit gontai. Matanya terarah pada dua tempat tidur yang ada di sana. Dua tempat tidur, bukan lima.
Si bungsu membalikkan tubuh dan melewati Sasuke yang masih diam. Kini ia menuju ruang rekreasi dan kamar wardrobe yang terletak bersebelahan. Sang Inuzuka menggelengkan kepala saat mendapati rak besar, yang biasanya terisi penuh oleh DVD hadiah fans untuk Neji, kini terlihat kosong.
Kiba kembali menggelengkan kepala ketika mendapati tiga lemari milik Naruto, Neji dan Gaara di kamar wardrobe yang lagi-lagi kosong. Benar-benar kosong.
"Mereka tidak mungkin…"
"Kiba," Sasuke memanggil adiknya perlahan.
Kiba tidak menggubris panggilan Sasuke, ia malah melangkah menuju ruang musik. Dan lagi-lagi ia menggeleng tidak percaya. Ruang musik yang dibaginya bersama Gaara kini tampak luas karena meja, komputer dan semua peralatan aransemen milik Gaara sudah tidak ada di ruangan itu.
Kaki panjang pemuda Inuzuka itu kini membawanya ke kamar di sebelah ruang musiknya yang dijadikan ruang musik Sasuke, Naruto, dan Neji. Ruangan yang baru dimasukinya tampak lebih luas dari ruang musiknya karena kini hanya ada peralatan musik dan benda-benda milik Sasuke.
Kiba mundur dan bersandar di dinding dekat pintu masuk ruangan. Ia merasa kakinya lemas sebelum akhirnya jatuh terduduk di lantai. Sebelah tangannya meremas rambut kecoklatannya, sementara kepalanya tertunduk.
"Kiba," Sasuke mendekati sosok yang tampak lelah dan duduk di sebelahnya dengan satu tangan meremas bahu Kiba.
"Mereka…" Kiba berusaha menahan diri agar tidak meluapkan emosinya, tapi rasa hangat dari pelukan Sasuke malah membuat pertahanannya runtuh. Kiba membalas pelukan Sasuke dan menyandarkan dahinya di bahu tegap kakaknya.
Sasuke makin mempererat pelukannya saat merasa bahunya basah. Mata pemuda Uchiha itu menatap kosong ke ruangan tempatnya berada kini. Sepertinya Naruto, Neji dan Gaara meminta pihak management untuk mengeluarkan semua barang mereka dari apartemen ini saat mereka meeting tadi.
"Katakan padaku kalau semua ini tidak benar-benar terjadi, Sasu-nii," pinta Kiba dengan suara bergetar.
Sasuke hanya membalas dengan menepuk lembut bahu pemuda yang dua tahun lebih muda darinya itu. Ia sendiri ingin menganggap semua ini bukan sebuah kenyataan yang harus dihadapi dan diterimanya. Ia sendiri masih tidak mau percaya kalau ketiga adiknya benar-benar hengkang dan meninggalkan Konoha's Academy. Semuanya terlalu cepat. Lima tahun yang mereka lewati bersama terasa terlalu cepat untuk diakhiri.
# # #
Sasuke membuka matanya. Dahinya tampak sedikit berkerut dan ia terlihat bingung saat menyadari kalau ternyata semalam ia tertidur di sofa ruang keluarga. Pemuda berambut raven itu menggelengkan kepala pelan dan segera bangun.
Sasuke bangun dan melangkah menuju kamar mandi utama yang terletak tak jauh dari kamarnya; kamar mereka berlima, dulu. Adik dari Uchiha Itachi itu berdiri di depan wastafel. Matanya menatap lima sikat gigi yang ada di dalam gelas kaca berwarna biru. Pandangannya kemudian terpaku pada parfum, cairan kumur dan pembersih wajah yang ada di meja wastafel.
'Sepertinya Naruto, Neji dan Gaara lupa merapikan barang-barang mereka ini.'
Sasuke menghela nafas dan memandang cermin di hadapannya. Ia meneliti keadaan wajahnya pagi ini yang terlihat sedikit kacau karena adanya kantung mata. Mungkin akibat kurang tidur, karena sejujurnya ia sendiri lupa jam berapa ia tidur semalam. Dan sejujurnya tidur di sofa sama sekali tidak nyaman.
Setelah mencuci wajahnya dan menggosok gigi, pemuda bertubuh tegap itu melangkah perlahan menuju dapur. Setelah apa yang dihadapinya kemarin, sebenarnya ia ingin diam di kamar seharian ini. Tapi Kakashi memintanya untuk datang ke kantor management untuk membicarakan sesuatu.
Sasuke kembali menghela nafas saat melewati koridor dengan foto Konoha's Academy tertempel di dinding. Ia bisa membayangkan bagaimana luasnya panggung nanti karena tiga anggota yang lain tak lagi berdiri bersamanya dan Kiba.
Ia tak pernah menyangka kalau pada akhirnya Konoha's Academy akan bernasib sama dengan Yottsu Kikou. Tidak, tidak sama, hanya mirip. Tapi tetap saja…
Sasuke menghentikan langkah tepat di depan ruang makan yang langsung berhubungan dengan dapur. Ia kembali menghela nafas. Sepertinya ia harus meminta Kakashi untuk mencari apartemen baru untuknya dan Kiba. Apartemen ini menyimpan terlalu banyak kenangan dan siluet ketiga adiknya.
Sasuke yakin dirinya belum sadar seratus persen. Kalau ia sudah sadar, ia tidak mungkin 'berhalusinasi' melihat sosok yang sedang sibuk menaruh beberapa piring berisikan nasi goreng dan egg roll di atas meja makan itu kan?
Sasuke menyandarkan diri di tembok dan melipat kedua tangannya di depan dada. Pemilik rambut raven itu tahu kalau ia harus menerima kenyataan dan membuyarkan 'halusinasi' di depan matanya itu, tapi entah kenapa hatinya menolak. Ia malah berharap kalau ia bisa terus menatap 'bayangan' pemuda berambut pirang yang tengah menyiapkan sarapan. Ia sama sekali tidak ingin berpaling ataupun berkedip.
"Sedang apa kau di situ? Kau menghalangi jalan."
Sasuke menolehkan kepala sebelum kembali menghela nafas. Matanya kini mengikuti gerak-gerik 'siluet' pemuda berambut coklat panjang yang sudah mengambil tempat duduk di ruang makan.
'Halusinasiku sepertinya benar-benar parah. Aku bahkan mendengar suara sakratis Neji.'
"Pagi semua. Sarapan sudah siap, Naru?"
Sasuke, untuk entah yang keberapa kalinya pagi ini, kembali menghela nafas. Setelah melihat 'siluet' leader-nya, mendengar suara rapper Konoha's Academy, kini ia merasakan tepukan ringan sang Sabaku di bahunya.
'Seharusnya aku mandi dengan air dingin dan bukan hanya mencuci muka tadi. Kalau terus begini aku bisa diminta Kakashi pergi menemui psikiater.'
"Pagi," sapa Kiba dengan nada datar. Pemuda berkulit kecoklatan itu memasuki ruang makan dan duduk di kursinya yang biasa dengan wajah tertunduk. Sejak memasuki ruang makan tadi wajah anggota termuda itu memang sudah menunduk.
Sasuke memperhatikan keadaan adik bungsunya dengan seksama. Kiba terlihat sedikit lemas, dan Sasuke menyimpulkan hal itu mungkin disebabkan oleh kejadian mengejutkan kemarin. Kiba pasti belum bisa menerima keputusan ketiga kakaknya yang memilih keluar dari Konoha's Academy.
Sasuke mengepalkan satu tangannya. Bukan hanya Kiba yang belum bisa menerima keputusan itu, tapi dirinya juga. Sasuke sadar betul kalau ia sendiri pun belum bisa menerima keputusan Naruto, Neji dan Gaara.
Walaupun ketiga rekannya memiliki alasan untuk keluar dari Konoha's Academy, tapi Sasuke masih belum bisa membuka diri untuk menerima kenyataan. Faktanya, kalau ia sudah bisa menerima kenyataan, ia tidak mungkin 'berhalusinasi' dengan melihat sosok tiga anggota Konoha's Academy saat ini.
"Sampai kapan kau mau berdiri di situ, Teme? Cepat duduk dan pimpin doa."
Sasuke mengangkat wajahnya yang entah sejak kapan sudah tertunduk. Ia lalu menatap empat sosok yang duduk di depan meja makan dengan alis bertaut dan dahi berkerut.
"Sepertinya dia masih belum sadar, Naruto," cetus Neji sembari menahan tawa karena melihat ekspresi sang Uchiha.
"Kurasa kau harus mandi dengan air dingin agar kesadaranmu bisa terkumpul seratus persen, Sasuke," Gaara menyarankan.
Sasuke menggelengkan kepala dan menutup mata sebelum menghembuskan nafas panjang. Sepertinya ia benar-benar gila karena terlalu shock dengan apa yang terjadi kemarin—dan sepertinya ia harus segera menemui psikiater sebelum gangguan jiwanya bertambah parah.
"Hei, Teme, kau baik baik saja?"
Sasuke menggelengkan kepala pelan ketika mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya. Matanya langsung terbuka saat merasakan 'sesuatu' menempel di dahinya.
"Kau tidak demam kok."
Sasuke menatap iris langit yang berjarak kurang dari sepuluh senti di depannya. Dan seketika itu juga matanya membulat. Naruto menarik tubuhnya, melepaskan dahinya yang tadi menempel di dahi sang lead vocal.
"Mungkin Sasu-nii kurang enak badan karena kegiatan kita kemarin. Aku juga masih lelah dan mengantuk," cetus Kiba. "Atau mungkin Sasu-nii sakit karena semalam dia tidur di sofa," sambungnya setelah meneguk susu hangatnya.
"Kubilang juga apa, seharusnya kau tidak membiarkannya tidur di sofa, Neji," Gaara menatap pemuda yang duduk di sebelahnya.
"Bukankah kau yang menolak membantuku memindahkannya ke kamar? Aku tidak sanggup kalau harus memapahnya sendiri," Neji membela diri.
"Teme, kau baik-baik saja kan? Ough!" Ucapan si pemuda pirang terputus tiba-tiba.
Hening.
Neji, Gaara dan Kiba memandang dua kakaknya yang sedang berpelukan dengan pandangan heran. Apa keduanya sedang memulai 'drama' mereka? Oh, sekedar informasi. Sasuke dan Naruto kadang senang melakukan 'drama kegilaan' untuk menghidupkan suasana ketika ada salah satu diantara kelimanya yang merasa bosan ataupun penat. Dan 'drama' yang mereka tampilkan selalu berbeda tiap kalinya, tergantung situasi dan mood keduanya.
"Astaga, suamiku, kau tidak boleh melakukan ini di depan anak-anak kita," ucap Naruto yang ditanggapi dengusan geli dan tawa pelan tiga anggota yang ada di meja makan. See? 'Drama' mereka baru saja dimulai.
Sasuke tersenyum tipis setelah mendengar ucapan Naruto dan respon ketiga adiknya. Ia makin mempererat pelukannya dan menyandarkan dagunya di bahu Naruto, ia menikmati wangi parfum sang Uzumaki yang menyapa indera penciumannya. Naruto ada di pelukannya, dan dia nyata.
"Berjanjilah kalau aku tidak akan pernah meninggalkanku dan anak-anak kita, koi."
Naruto tertawa mendengar balasan dari ucapannya. Ia balas memeluk Sasuke dan menepuk-nepuk bahu pemuda itu.
"Kenapa kau berpikiran kalau aku akan meninggalkan kalian? Aku tidak ingin berpisah denganmu. Walaupun kau memaksa, aku tidak akan pernah pergi," ucap Naruto sembari menahan tawa.
Neji, Gaara dan Kiba, yang mendengar ucapan leader mereka dengan sangat jelas, melepaskan tawa dan menepuk-nepuk meja makan. Mendengar Naruto dan Sasuke mengucapkan kata-kata manis seperti itu benar-benar membuat mereka geli.
"Baiklah, kurasa sudah cukup. Kalian berdua cepat kemari dan kita mulai sarapan," ucap Neji yang sudah berhasil meredakan tawa.
"Berani sekali kau menyuruh orang tuamu seperti itu, Neji-kun!" Naruto melepaskan pelukannya dan menatap tajam Neji.
"Kalau kalian meneruskan drama ini, aku tidak akan bisa berhenti tertawa sampai dua jam kedepan," ujar Kiba sembari memegangi perutnya dan berusaha keras meredakan tawa.
Naruto mendengus geli dan melangkah ke tempat duduknya, begitu juga Sasuke. Setelah memastikan semuanya berhenti tertawa, Sasuke memimpin doa dan kelimanya mulai menyantap sarapan mereka.
"Manager akan menjemput kita satu jam lagi," ucap Naruto.
"Aku gugup sekali. Apa kontrak kita akan diperpanjang, Naru-nii?"
"Mereka tidak mempunyai alasan untuk mengakhiri kontrak kita setelah semua kerja keras yang kita lakukan selama lima tahun belakangan ini," Neji meneguk isi gelasnya.
"Sejauh ini kita melakukan semuanya dengan baik, dan aku yakin kita tidak mengecewakan management," Gaara menimpali.
Keadaan kembali hening sebelum akhirnya Naruto kembali buka suara.
"Lain kali aku tidak akan membiarkanmu tidur di sofa lagi, Teme. Kau bertingkah aneh sekali tadi."
"Hu-um," Kiba menelan kunyahannya. "Sasu-nii memandang kita dengan tatapan kosong, dan itu mengkhawatirkan," lanjutnya.
"Yang lebih mengkhawatirkan adalah dia tidak membalas sindiranku tadi pagi," Neji berujar.
"Tidak, tidak. Yang lebih mengkhawatirkan adalah melihatnya memulai drama. Kalian tahu kan kalau biasanya Naruto yang selalu memulai 'kegiatan hiburan' itu?" cetus Gaara.
Sasuke mendengus geli mendengar penuturan ketiga adiknya. Ia memandang sosok-sosok yang lima tahun terakhir ini menemaninya.
"Tapi apa kau yakin kau baik-baik saja, Teme?" Naruto menghentikan makannya dan menatap Sasuke dengan pandangan cemas. Sasuke mendengus geli sebelum menganggukkan kepala.
"Aku baik-baik saja, tapi sepertinya mulai hari ini sebaiknya jangan ada yang tidur di sofa."
"Eh? Kenapa memangnya?" tanya Kiba. Anggota paling muda itu memang sering tidur di sofa kalau ia terlalu malas melangkah ke kamar tidur.
"Karena tidur di sofa membuat tubuhmu sakit, Kiba," Sasuke meneguk minumannya. "Tidur di sofa juga membawa bermimpi buruk dan bisa membuatmu merasa sedang berhalusinasi saat kau bangun," tambahnya, membuat empat rekannya memandangnya dengan sorot bingung dan tidak mengerti.
.
.
End
.
.
Author Notes: bonus kecil dari saya sebelum melabeli fic ini dengan status 'Complete'. Ceritanya bisa dimengerti atau membingungkan? Kalau membingungkan rasanya wajar, karena saya sama sekali tidak membuat plot untuk epilog ini. Jadi, sederhananya, semua yang terjadi sebelum Sasuke bangun dan sadar kalau dia tidur di sofa adalah mimpi. Yep, mimpi. Ah, Sasuke seratus persen OOC sewaktu bagian 'drama' dengan Naruto *ROFL* XD Cerita di epilog ini terinspirasi dari salah satu fic yang saya baca, tapi saya lupa judul dan nama author-nya ==" Sekali lagi saya ucapkan terimakasih untuk yang sudah membaca. Last review for this story, pelase? ^^
